Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN OPERASI DENGAN MENGGUNAKAN ANASTESI UMUM PROPOFOL DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR Wardana, Riqah Nefiyanti Putri; Sommeng, Faisal; Ikram, Dzul; Dwimartyono, Fendy; Purnamasari, Reeny
Wal'afiat Hospital Journal Vol 1 No 1 (2020): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2782.868 KB) | DOI: 10.33096/whj.v1i1.9

Abstract

Latar Belakang : Perhatian utama pada anestesi umum adalah keamanan dan keselamatan pasien. Efek fisiologis yang ditimbulkan tubuh seseorang dalam menjalani operasi berbeda-beda, tergantung dari kondisi fisik pasien, jenis bedah yang dilakukan, jenis anestesi yang dipakai, jenis obat yang diberikan, dan juga banyaknya dosis obat yang diberikan. Semua hal itu dapat berpengaruh terhadap waktu pulih sadar pasien post operasi. Beberapa obat anestesi diberikan secara intravena, baik tersendiri maupun dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya, untuk mempercepat tercapainya stadium anestesi ataupun obat penenang pasien. Obat-obat ini termasuk barbiturat, benzodiazepin, propofol, ketamin, analgesik opioid, dan berbagai hipnotik-sedatif. Propofol sering digunakan karena memiliki onset cepat, durasi pendek dan waktu pemulihan kesadaran cepat dengan resiko terjadinya mual muntah lebih kecil dari obat induksi lainnya. Propofol digunakan baik untuk anestesi induksi maupun pemeliharaan sebagai bagian dari teknik anestesi intravena total atau anestesi berimbang, dan merupakan anestetik terpilih untuk bedah rawat jalan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pulih sadar pada pasien operasi dengan menggunakan anastesi umum propofol di rumah sakit ibnu sina makassar. Metode : Penelitian ini adalah penelitian deskriptif numerik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien operasi dengan menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar sebanyak 26 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Dimana data diperoleh dari hasil observasi secara langsung kepada sampel. Hasil : Dari 26 sampel menunjukkan bahwa distribusi waktu pulih sadar pada pasien operasi menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar didapatkan waktu pulih sadar yaitu 7 menit dengan jumlah 11 orang (42,3%), kemudian diikuti dengan waktu pulih sadar 8 menit sebanyak 6 orang (23%), waktu pulih sadar 9 menit sebanyak 5 orang (19,2%), waktu pulih sadar 10 menit sebanyak 2 orang (7,7%), dan waktu pulih sadar 11 menit dan 12 menit masing-masing sebanyak 1 orang (3,9%). Nilai rata-rata dari waktu pulih sadar pasien dengan menggunakan anastesi umum propofol 8,19±1,38 menit. Dengan nilai minimum 7 menit dan nilai maksimum 12 menit. Kesimpulan : Rata-rata waktu pulih sadar pada pasien operasi menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar didapatkan 8,19±1,38 menit dan memiliki rentang waktu antara 7 menit sampai 12 menit.
Pemantauan Oksigen Otak Dengan Pengukuran Saturasi Oksigen Vena Jugularis (SjvO2) Sebelum Ekstubasi Pada Pasien Cedera Otak Traumatik Sommeng, Faisal; Arif, Syafri Kamsul
Wal'afiat Hospital Journal Vol 3 No 1 (2022): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v0i0.62

Abstract

In the group of serious injuries due to traffic accidents, head injury ranks highest, and the discussion of injuries in Indonesia and America is extreme. head injury can cause shock or shock to the brain due to an accident or assault that causes impaired brain function and results in death or death. The main monitoring in the neurointensive care of head injury is the measurement of intracranial pressure (ICP) to combine cerebral perfusion pressure (CPP) and cerebral blood flow (CBF). Moderate to severe brain injury (TBI) will require treatment in an intensive care unit (ICU) with continued monitoring. The primary goal of monitoring is to detect and treat cerebral hypoperfusion for secondary disorders. SjvO2 is a method of monitoring brain perfusion by measuring cerebral venous saturation in the jugular bulb. Monitoring brain perfusion is a guide in managing head injuries, including ventilator weaning and extubation.
Perbandingan Efek Diazepam 5 MG P.O dan Alprazolam 0,5 MG P.O Sebagai Premedikasi Pra Bedah Pada Pasien Operasi Ca Mammae Sommeng, Faisal; Faisal Syamsu, Rachmat; Dwimartyono, Fendy; Fathiyyah Arifin, Arina; Avrilya, Reghita
Journals of Ners Community Vol 13 No 5 (2022): Jurnal of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i5.2130

Abstract

Carcinoma Mammae (kanker payudara) merupakan penyakitkeganasan yang paling banyak terjadi di negara berkembang dan merupakan penyebab kematian wanita kedua di Amerika Serikat. Pada tahun 2014 terdapat 232.000 kasus baru kanker payudara pada wanita di Amerika Serikat dan angka kematian sebanyak 40.000 kasus. Menurut Brunner dan Suddarth tidak ada satupunpenyebab spesifik dari Ca Mammae, sebaliknya serangkaian faktor genetik, hormonal, steroid endogen apabila mengalami perubahan dalam lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi Ca mammae. Mengetahui bagaimana efek pemberian diazepam 5 mg p.o dan alprazolam0,5 mg p.o terhadap premedikasi pra bedah pada pasien operasi Ca Mammae di RSIbnu Sina Makassar. Penelitian ini menggunakan metode clinical trial dengan pendekatan Cross- Sectional, dengan menggunakan jenis data primer berupa kuisioner penelitiandengan menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale(HARS) dan kuisioner efek samping obat. Terdapat perbedaan bermakna antara perbandingan efek tingkat kecemasanyang dihasilkan dari kedua kelompok penelitian, Alprazolam lebih baik dalammenghasilkan level kecemasan dibanding diazepam dengan nilai p = 0,003, kelompok premedikasi menggunakan alprazolam juga memiliki efek samping lebih sedikit dibanding dengan kelompok diazepam dengan perbandingan sebesar 1:3. Kesimpulan penelitian ini, Pemberian Premedikasi Alprazolam 0,5 mg p.o lebih baik dalam menghasilkan level kecemasan dibanding Diazepam 5 mg p.o.
Sepsis Pseudomonas Aeruginosa pada Pasien Chronic Kidney Disease: A Case Report Angriani, Novita; Sommeng, Faisal; Wahab, Iswan
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.18486

Abstract

Sepsis is a life-threatening condition resulting from the body's systemic response to infection that causes organ dysfunction. Early diagnosis and prompt treatment are essential to improve patient outcomes. This case report aims to describe the management of sepsis in a 55-year-old male patient diagnosed with antibiotic-resistant Pseudomonas aeruginosa infection. This retrospective study analyzed the patient's clinical and laboratory data, including blood culture, SOFA score, and therapeutic interventions given. The patient was given hemodialysis, broad-spectrum antibiotics, vasopressors, intravenous fluids, and supportive care. The results showed significant improvement in the patient's clinical status, supporting the importance of early recognition, appropriate antibiotic therapy, and a multidisciplinary approach in the management of sepsis. This case highlights the challenges of managing infections caused by multidrug-resistant pathogens and the importance of effective treatment strategies and judicious antibiotic management.
Pengaruh Murottal Al-Qur’an tehadap Dosis Obat Anestesi Umum dan Waktu Pulih Sadar pada Pasien Operasi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Abdullah, Rezky Putri Indarwati; Amkar, Musvirah Safitri; Pranomo, Sigit Dwi; Sommeng, Faisal; K, Irna Diyana Kartika
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 24, No 2 (2024): Juli
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v24i2.4757

Abstract

General anesthesia is used to facilitate surgery by providing hypnotic effects, analgesic effects, and muscle relaxation effects. To provide an adequate hypnotic, analgesia and relaxation effect, an adequate dose is needed. The time to recover consciousness after anesthesia is determined by the volume of fluid in the body, drug metabolism, half-life of the drug, age, and pre-anesthesia status. Murottal Al-Qur'an is a non-pharmacological therapy that can reduce stress hormones, increase feelings of relaxation, divert feelings of fear, improve the body's chemical balance thereby reducing hemodynamics. The aim of this study was to determine the effect of murottal Al-Qur'an on the dose of general anesthesia and the time to recover consciously in surgical patients at Ibnu Sina Hospital, Makassar. The research method is cross sectional with a quantitative approach. Each group measured the level of sedation using a Ramsay score of 3 or 4, then calculated the time to recover consciousness. The control group was given 1 mg ± 2 mg midazolam until they reached a Ramsay score of 3 or 4, the treatment group was given Al-Qur'an murottal and 1 mg ± 2 mg midazolam until they reached a Ramsay score of 3 or 4. So the time to recover consciousness and the onset of sedation was fast. These results show the influence of murottal Al-Qur'an on the dose of general anesthesia and the time to recover consciousness in surgical patients at Ibnu Sina Hospital Makassar.
EFFECT OF EPIDURAL AND GENERAL ANESTHESIA ON PERIOPERATIVE NEUTROPHIL LYMPHOCYTE RATIO CHANGES IN MASTECTOMY PATIENTS Damayanti, Fina; Harahap, Muhammad Wirawan; Karim, Abdul Mubdi Ardiansar Arifuddin; Sommeng, Faisal; Swarga, Tirta
International Journal of Health Science & Medical Research Vol 5, No 1 (2026): February 2026
Publisher : UNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/ijhsmr.v5i1.36603

Abstract

Mastectomy induces a systemic inflammatory response that may be influenced by the anesthetic technique, as reflected by changes in the neutrophil–lymphocyte ratio (NLR). Unlike previous studies that assessed mixed breast surgeries, broadly evaluated regional anesthesia, or focused on combined general–epidural techniques and cytokine markers, this study uniquely compares perioperative pre–post changes in NLR (ΔNLR) between epidural anesthesia alone and general anesthesia alone in mastectomy patients using a routinely available biomarker. This quantitative experimental study was conducted at Ibnu Sina YW-UMI Hospital, Makassar, from August 2025, involving 30 mastectomy patients recruited consecutively and allocated into two independent groups (15 epidural, 15 general anesthesia). Venous blood samples were collected preoperatively and 24 hours postoperatively to calculate NLR, with ΔNLR as the primary outcome. Within-group analysis using the Wilcoxon test showed significant postoperative increases in NLR in both the epidural group (5.13 ± 5.42 to 7.65 ± 5.99; p0.001) and the general anesthesia group (4.12 ± 4.59 to 14.72 ± 8.43; p0.001). Between-group comparison using the Mann–Whitney test demonstrated that ΔNLR was significantly higher in the general anesthesia group (10.60 ± 7.23) than in the epidural group (2.52 ± 2.36; p0.001). These findings indicate that epidural anesthesia is associated with a smaller postoperative increase in NLR, suggesting better attenuation of the systemic inflammatory response after mastectomy. Further randomized studies with larger samples, additional inflammatory biomarkers, and clinical outcomes are recommended to enhance evidence strength and generalisability.
NURSES KNOWLEDGE OF THE CODE BLUE SYSTEM IN EMERGENCY RESPONSE AT IBNU SINA HOSPITAL, MAKASSAR Sahrul, Ralf Radithya; Tanra, A. Husni; Handayani, Kartika; Sommeng, Faisal; harahap, Muh. Wirawan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.54120

Abstract

Keberhasilan penanganan kegawatdaruratan di rumah sakit, khususnya henti jantung, sangat bergantung pada pengetahuan perawat tentang sistem Code Blue. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan perawat mengenai Code Blue System di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar YW Umi. Penelitian menggunakan desain survei deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan November–Desember 2025. Sampel penelitian sebanyak 130 perawat dipilih dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup kriteria aktivasi, cara aktivasi, fungsi, dan sistem peringatan dini Code Blue, kemudian dianalisis secara univariat menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki pengetahuan baik tentang kriteria aktivasi Code Blue (56,92%), cara aktivasi (94,62%), fungsi Code Blue (91,54%), sistem peringatan dini (84,62%), dan keseluruhan sistem Code Blue (82,30%). Nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,804 menunjukkan instrumen penelitian memiliki reliabilitas yang baik. Kesimpulannya, perawat di RS Ibnu Sina Makassar secara umum memiliki tingkat pengetahuan baik mengenai sistem Code Blue, yang mendukung respons cepat dan tepat dalam situasi kegawatdaruratan.
Gambaran Penggunaan Antibiotik pada Kasus Sepsis di Ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar Butang, Dwiputri Djaya; Irwan, Andi Alamanda; Pramono, Sigit Dwi; Sommeng, Faisal; Harahap, Muhammad Wirawan
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.1838

Abstract

Latar Belakang: Sepsis adalah masalah kesehatan global yang signifikan, terutama di unit perawatan intensif (ICU), dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pengobatan sepsis yang tepat waktu sangat penting, tetapi penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik pada pasien sepsis di ICU Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar, dengan fokus pada karakteristik pasien, organ yang bermasalah, penyakit penyerta, hasil kultur, dan jenis yang resisten dan resisten terhadap antibiotik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis pasien sepsis di ICU Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar selama periode Januari-Mei 2024. Subjek penelitian adalah pasien sepsis yang telah diberikan terapi antibiotik dan memiliki hasil kultur. Data dikumpulkan kemudian diolah untuk menarik kesimpulan tentang pola penggunaan antibiotik. Hasil: Dari 32 rekam medis, 13 pasien memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas pasien adalah laki-laki (77%) dan berusia di atas 55 tahun (38%). Disfungsi organ gastrointestinal ditemukan pada 46% pasien, dan diabetes melitus adalah kondisi komorbiditas yang paling umum (31%). Hasil kultur menunjukkan Salmonella typhii (38%) sebagai patogen utama. Antibiotik yang paling resisten adalah amikasin, levofloksasin, ofloksasin, dan tetrasiklin (masing-masing 10%), sedangkan sefiksim (24%) dan ampisilin (16%) menunjukkan resistensi yang tinggi. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa sepsis di ICU Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar didominasi oleh pasien laki-laki dengan gangguan fungsi organ pencernaan. Resistensi antibiotik merupakan masalah yang serius, terutama untuk sefiksim dan ampisilin. Peningkatan praktik pengumpulan kultur bakteri dan pemantauan resistensi diperlukan untuk memastikan terapi yang lebih efektif dan mengurangi mortalitas sepsis.
Literature review: Prinsip dasar anestesi pada pasien eklampsia Hidayat, Lujna Adharani; Sommeng, Faisal; Aman, Abadi; Rakhmah, Nur; Hasir, Julia
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2862

Abstract

Background: Eclampsia is a life-threatening obstetric complication associated with high maternal and perinatal morbidity and mortality. Anesthetic management in eclampsia is challenging due to endothelial dysfunction, severe hypertension, seizure risk, and systemic complications affecting maternal and fetal outcomes. Objective: To review and summarize the basic principles of anesthetic management in patients with eclampsia based on current scientific evidence. Methods: This study employed a narrative literature review approach. Data were obtained from electronic databases including PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, and Cochrane Library. Included studies were published in English and Indonesian, focusing on eclampsia and anesthetic management, with study designs such as systematic reviews, meta-analyses, cohort studies, and case reports. Literature selection followed inclusion–exclusion criteria and PRISMA guidelines. Results: The main principles of anesthetic management in eclampsia include initial stabilization (ABCDE), seizure control with magnesium sulfate, gradual blood pressure control, and restrictive fluid management. The choice of anesthetic technique should be individualized; regional anesthesia is preferred in stable patients without coagulopathy, while general anesthesia is indicated in emergency situations or when regional anesthesia is contraindicated. Close intraoperative monitoring and intensive postoperative care are essential to prevent complications. Conclusion: Anesthetic management in eclampsia requires a comprehensive and individualized approach.   Keywords: Eclampsia; Obstetric Anesthesia; Magnesium Sulfate; Hypertensive Disorders Of Pregnancy; Perioperative Management.   Pendahuluan: Eklampsia merupakan komplikasi obstetri yang mengancam jiwa dengan morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal yang tinggi. Penatalaksanaan anestesi pada pasien eklampsia menjadi tantangan karena adanya disfungsi endotel, hipertensi berat, risiko kejang, serta komplikasi sistemik yang dapat memengaruhi outcome ibu dan janin. Tujuan: Meninjau dan merangkum prinsip dasar manajemen anestesi pada pasien eklampsia berdasarkan bukti ilmiah terkini. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan naratif. Data diperoleh dari berbagai basis data elektronik seperti PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan Cochrane Library. Artikel yang disertakan adalah penelitian dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang membahas eklampsia dan manajemen anestesi, dengan desain studi seperti systematic review, meta-analisis, cohort, dan laporan kasus. Seleksi literatur dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta mengikuti pedoman PRISMA. Hasil: Prinsip utama manajemen anestesi pada eklampsia meliputi stabilisasi awal (ABCDE), kontrol kejang menggunakan magnesium sulfat, pengendalian tekanan darah secara bertahap, serta manajemen cairan yang restriktif. Pemilihan teknik anestesi harus individual; anestesi regional lebih disarankan pada pasien stabil tanpa gangguan koagulasi, sedangkan anestesi umum digunakan pada kondisi emergensi atau kontraindikasi regional. Monitoring intraoperatif dan perawatan pascaoperatif yang ketat berperan penting dalam mencegah komplikasi. Simpulan: Manajemen anestesi pada pasien eklampsia memerlukan pendekatan komprehensif dan individualisasi berdasarkan kondisi klinis pasien.   Kata Kunci: Anestesi Obstetri; Eklampsia; Magnesium Sulfat; Hipertensi Kehamilan; Manajemen Perioperatif.
The Effect of Murottal Al-Quran on the Level of Anxiety in Breast Cancer Patients Undergoing Chemotherapy at Ibnu Sina Hospital Makassar Arliana Arlin; Faisal Sommeng; Sigit Dwi Pramono; Reeny Purnamasari; Febie Irsandy Syahrudin
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 10 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i10.6148

Abstract

Introduction: Anxiety is a serious problem in cancer patient’s sufferers, especially breast cancer undergoing chemotherapy. It has an impact on reducing the quality of life and the success of treatment. A breast cancer sufferer start to experience psychological disorders from the diagnosis is established, undergoing treatment, during and after treatment, both surgery and chemotherapy. Anxiety is generally develop base on fearness about bad future, such as losing family support or even death. Listening to murrotal chanting will stimulate the brain to release Gamma Amino Butyric Acid (GABA), encephalin, or beta endorphin which lead to eliminate anxiety, depression and stress neurotransmitters, resulting in calmness feeling. Method: This research is a case control study with quasi-experimental design. Total of 30 respondents who were breast cancer chemotherapy patients at Ibnu Sina Hospital of Makassar, divided into two groups. The first group received voice recording of the Murrotal Al-Quran for 30 minutes with the same Qori and surah (Al-Ikhlas, Al-Falaq and An-nas) while the other group were treated with 0,5 mg alprazolam tablets. Interviews and measurements of anxiety level were measured using the Hamilton Anxiety Rating Scale carried out before and 60 minutes after treatment in both groups. Purposive sampling technique were used to collect data and analysed with Wilcoxon test. Result: Significant anxiety levels improvements take place in both treatment groups (p<0.05), without any significant differences (p=0,13). Murrotal listening has the same effect as anti-anxiety drugs. The advantage of murrotal listening compared with medication are: easy administration method, no side effects and does not require a doctor's prescription, and get a spiritual reward. Conclusion: Murrotal listening has a good inpact in improving anxiety level of breast cancer patients undergoing chemotherapy.
Co-Authors A. Husni Tanra Abdul Muthalib Abdul Raqib Rahman Abdullah, Rezky Putri Indarwati Abidin, Nuraini Aisyah, Windy Nurul Alamanda Irwan, A. Alya Nabila, Andi Aman, Abadi Amkar, Musvirah Safitri Anggita, Dwi Angriani, Novita Arina Fathiyyah Arifin Arliana Arlin Avrilya, Reghita Bangsawan, Israfil Raya Butang, Dwiputri Djaya Dahliah Dahliah Dahliah, Dahliah Damayanti, Fina Darariani Iskandar Darussalam, A. Muh Nurdiansyah Dewanty, Ashita Mary Ema Magfirah Faisal Syamsu, Rachmat Fathiyyah Arifin, Arina Febie Irsandy Syahrudin Fendy Dwimartyono Fendy Dwimartyono Gunawan, Muh Irwan Haizah Nurdin Hamza, Pratiwi Nasir Harahap, Muh. Wirawan Harahap, Muhammad Wirawan Harahap, Wirawan Hasbi, Berry Erida Hasir, Julia Hidayat, Lujna Adharani Hisbullah Hisbullah Husni Tanra, A. Ichsan, Muh. Nur Ikram, Dzul Imran Safei Imran Safei, Imran Irna Diyana Kartika Irwan, Andi Alamanda Ismail, Muhammad Wirasto Juhamran, Reeny Purnamasari K, Irna Diyana Kartika Karim, Abdul Mubdi Ardiansar Arifuddin Karim, Marzelina Kartika Handayani Kharisma Saeraya Lestari Daeng Kanang, Indah M. Iswan Wahab Magfirah, Ema Maharani, Ratih Natasha Maulidya, Dhinda Lunizar Muh. Nur Abadi Muhajir, Agung Muhammad Asrul Apris Muhammad Ikhsan Muhammad Rum Mulyadi, Farah Ekawati N, Hermiaty Nevi sulvita karsa Nur, Muh. Jabal Nurhikmawati, Nurhikmawati Pramono, Sigit Dwi Pranomo, Sigit Dwi Purnamasari, Reeny Putri, Andi Iin T.C Rachmat Faisal Syamsu Radithya Sahrul, Ralf Rahil Annisyah Putri D Rahmi Utami Rakhmah, Nur Ramadhani, Karlinda Novira Reeny Purnamasari Reghita Avrilya Romy Hefta Mulya Rusdam, Sulfikar Sahrul, Ralf Radithya Sam, A. Dhedie Prasatia Sigit Dwi Pramono Siregar, Lenni Sari Swarga, Tirta Syafi, Talita Syadia Syafri K. Arif Syafri Kamsul Arif Tanra, A. Husni Triananda, Dhini Cesaria Wahab, Iswan Wardana, Riqah Nefiyanti Putri Wiriansya, Edward Pandu Yanti, Andi Kartini Eka