Claim Missing Document
Check
Articles

Characteristics of Heart Failure Patients Undergoing Intensive Care at Ibnu Sina YW-Umi Makassar Hospital in 2023 Darussalam, A. Muh Nurdiansyah; Sommeng, Faisal; Abdullah, Rezky Putri Indarwati
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 3 (2024): July - September
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i3.7287

Abstract

Heart failure is a non-communicable disease which is the number one cause of death every year. Heart failure is caused by several avoidable and unavoidable factors. The prevalence of heart failure patients fluctuates from year to year. Considering the high incidence of heart failure, this research was conducted to identify the characteristics of heart failure patients at Ibnu Sina Hospital Makassar in 2023. The type of research is descriptive observational. Data were analyzed via Microsoft EXCEL and presented in table form. The research results showed that the majority of heart failure patients were aged 46 – 65 years in the adult category and were male. Heart failure patients have no history of smoking, no history of diabetes mellitus, and no hypertension. The majority of patients have a history of the cause category Coronary Artery Desease (CAD). Description of the death rate in heart failure patients as many as 9 people. The conclusion is that heart failure occurs at the age of 46 – 65 years and the majority are male with factors causing Coronary Artery Disease (CAD). Further studies need to be carried out in order to obtain fairly representative data.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN POST-OPERATIVE DELIRIUM (POD) PADA PASIEN YANG MENJALANI OPERASI DENGAN GENERAL ANESTHESIA Dewanty, Ashita Mary; Sommeng, Faisal; Karim, Abdul Mubdi Ardiansar Arifuddin; Dwimartyono, Fendy; Harahap, Muhammad Wirawan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.31957

Abstract

Post-operative delirium (POD) adalah kondisi yang ditandai dengan perubahan status mental, kognisi, perhatian, dan peningkatan stres. Terbagi dalam berbagai subtipe motorik, seperti hiperaktif, hipoaktif, campuran. POD tergantung pada demografi pasien, status, dan jenis operasi. Delirium dapat disebabkan oleh peningkatan faktor risiko seperti infeksi, pneumonia, dan kerusakan organ. POD dapat menyebabkan peningkatan tingkat morbiditas dan mortalitas. Faktor yang berkontribusi pada POD termasuk gangguan kognitif, gangguan fungsional, komorbiditas, penggunaan alkohol, dan kondisi kesehatan. Delirium dapat berkembang pada pasien sehat setelah operasi, tetapi juga bisa berkembang pada orang tua. Keparahan delirium tergantung pada jenis operasi, kondisi pasien, dan jenis operasi yang dilakukan. POD merupakan kondisi serius yang membutuhkan manajemen dan evaluasi yang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor-faktor yang memengaruhi kejadian Post-operative Delirium (POD) pada pasien yang menjalani operasi dengan General Anasthesia. Metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, sampel penelitian ini sebanyak 47 subjek. Didapatkan jumlah responden yang menderita POD sebanyak 12 orang (25,5%) dan yang tidak menderita POD sebanyak 35 orang (74,5%). Pada uji Multiple Logistic Regression nilai R2, ketamin merupakan variabel yang paling signifikan berhubungan dengan outcome, dengan nilai OR=15,5% menunjukkan bahwa subjek dengan ketamin mempunyai efek perlindungan 15,5% kali terhadap kejadian POD dibandingkan dengan subjek yang tidak menggunakan ketamin.  Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian POD adalah agen anastesi ketamin, yang mempunyai dampak protektif terhadap POD.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN IBUPROFEN DAN PARACETAMOL SEBAGAI PRE EMPTIVE ANALGESIA TERHADAP NYERI AKUT PASCA BEDAH MODIFIED RADICAL MASTECTOMY KANKER PAYUDARA Siregar, Lenni Sari; Sommeng, Faisal; Gunawan, Muh Irwan
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 1 (2024): MARET 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i1.26455

Abstract

Kanker payudara disebut juga dengan Carcinoma Mammae adalah sebuah tumor ganas yang tumbuh dalam jaringan payudara. Tumor ini dapat tumbuh dalam kelenjar susu, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara (jaringan lemak, maupun jaringan ikat payudara). Kanker payudara adalah kanker yang paling sering didiagnosis pada wanita di seluruh dunia dengan 2,26 juta (2,24-2,79 juta) kasus baru pada tahun 2020. Penelitian ini menggunakan metode Literature Review dengan desain Narrative Review untuk mengidentifikasi dan merangkum artikel yang telah diterbitkan sebelumnya mengenai efektivitas pemberian ibuprofen dan paracetamol sebagai pre emptive analgesia terhadap nyeri akut pasca bedah modified radical mastectomy kanker payudara. Dari hasil didapatkan bahwa Pemberian preemptive analgesia dengan ibuprofen memberikan efek yang lebih baik dalam menatalaksana nyeri pascaoperasi. Namun ada beberapa literature yang mengatakan bahwa obat kombinasi preemptive analgesia ibuprofen dan parasetamol per oral memiliki efek analgesik yang lebih lama dibanding dengan parasetamol dosis tunggal. Dibutuhkan uji klinis acak tersamar ganda dengan jumlah sampel besar yang secara spesifik mempelajari tentang efek pemberian preemptive analgesia ibuprofen dan paracetamol dalam menatalaksana nyeri pasca operasi pada pasien yang menjalani bedah mastektomi. Kanker payudara disebut juga dengan Carcinoma Mammae adalah sebuah tumor ganas yang tumbuh dalam jaringan payudara. Tumor ini dapat tumbuh dalam kelenjar susu, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara (jaringan lemak, maupun jaringan ikat payudara). Kanker payudara adalah kanker yang paling sering didiagnosis pada wanita di seluruh dunia dengan 2,26 juta (2,24-2,79 juta) kasus baru pada tahun 2020. Penelitian ini menggunakan metode Literature Review dengan desain Narrative Review untuk mengidentifikasi dan merangkum artikel yang telah diterbitkan sebelumnya mengenai efektivitas pemberian ibuprofen dan paracetamol sebagai pre emptive analgesia terhadap nyeri akut pasca bedah modified radical mastectomy kanker payudara. Dari hasil didapatkan bahwa Pemberian preemptive analgesia dengan ibuprofen memberikan efek yang lebih baik dalam menatalaksana nyeri pascaoperasi. Namun ada beberapa literature yang mengatakan bahwa obat kombinasi preemptive analgesia ibuprofen dan parasetamol per oral memiliki efek analgesik yang lebih lama dibanding dengan parasetamol dosis tunggal. Dibutuhkan uji klinis acak tersamar ganda dengan jumlah sampel besar yang secara spesifik mempelajari tentang efek pemberian preemptive analgesia ibuprofen dan paracetamol dalam menatalaksana nyeri pasca operasi pada pasien yang menjalani bedah mastektomi.
WAKTU PULIH SADAR PADA PASIEN OPERASI DENGAN MENGGUNAKAN ANASTESI UMUM PROPOFOL DI RUMAH SAKIT IBNU SINA MAKASSAR Wardana, Riqah Nefiyanti Putri; Sommeng, Faisal; Ikram, Dzul; Dwimartyono, Fendy; Purnamasari, Reeny
Wal'afiat Hospital Journal Vol 1 No 1 (2020): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2782.868 KB) | DOI: 10.33096/whj.v1i1.9

Abstract

Latar Belakang : Perhatian utama pada anestesi umum adalah keamanan dan keselamatan pasien. Efek fisiologis yang ditimbulkan tubuh seseorang dalam menjalani operasi berbeda-beda, tergantung dari kondisi fisik pasien, jenis bedah yang dilakukan, jenis anestesi yang dipakai, jenis obat yang diberikan, dan juga banyaknya dosis obat yang diberikan. Semua hal itu dapat berpengaruh terhadap waktu pulih sadar pasien post operasi. Beberapa obat anestesi diberikan secara intravena, baik tersendiri maupun dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya, untuk mempercepat tercapainya stadium anestesi ataupun obat penenang pasien. Obat-obat ini termasuk barbiturat, benzodiazepin, propofol, ketamin, analgesik opioid, dan berbagai hipnotik-sedatif. Propofol sering digunakan karena memiliki onset cepat, durasi pendek dan waktu pemulihan kesadaran cepat dengan resiko terjadinya mual muntah lebih kecil dari obat induksi lainnya. Propofol digunakan baik untuk anestesi induksi maupun pemeliharaan sebagai bagian dari teknik anestesi intravena total atau anestesi berimbang, dan merupakan anestetik terpilih untuk bedah rawat jalan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pulih sadar pada pasien operasi dengan menggunakan anastesi umum propofol di rumah sakit ibnu sina makassar. Metode : Penelitian ini adalah penelitian deskriptif numerik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien operasi dengan menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar sebanyak 26 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Dimana data diperoleh dari hasil observasi secara langsung kepada sampel. Hasil : Dari 26 sampel menunjukkan bahwa distribusi waktu pulih sadar pada pasien operasi menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar didapatkan waktu pulih sadar yaitu 7 menit dengan jumlah 11 orang (42,3%), kemudian diikuti dengan waktu pulih sadar 8 menit sebanyak 6 orang (23%), waktu pulih sadar 9 menit sebanyak 5 orang (19,2%), waktu pulih sadar 10 menit sebanyak 2 orang (7,7%), dan waktu pulih sadar 11 menit dan 12 menit masing-masing sebanyak 1 orang (3,9%). Nilai rata-rata dari waktu pulih sadar pasien dengan menggunakan anastesi umum propofol 8,19±1,38 menit. Dengan nilai minimum 7 menit dan nilai maksimum 12 menit. Kesimpulan : Rata-rata waktu pulih sadar pada pasien operasi menggunakan anastesi umum propofol di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar didapatkan 8,19±1,38 menit dan memiliki rentang waktu antara 7 menit sampai 12 menit.
Pemantauan Oksigen Otak Dengan Pengukuran Saturasi Oksigen Vena Jugularis (SjvO2) Sebelum Ekstubasi Pada Pasien Cedera Otak Traumatik Sommeng, Faisal; Arif, Syafri Kamsul
Wal'afiat Hospital Journal Vol 3 No 1 (2022): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v0i0.62

Abstract

In the group of serious injuries due to traffic accidents, head injury ranks highest, and the discussion of injuries in Indonesia and America is extreme. head injury can cause shock or shock to the brain due to an accident or assault that causes impaired brain function and results in death or death. The main monitoring in the neurointensive care of head injury is the measurement of intracranial pressure (ICP) to combine cerebral perfusion pressure (CPP) and cerebral blood flow (CBF). Moderate to severe brain injury (TBI) will require treatment in an intensive care unit (ICU) with continued monitoring. The primary goal of monitoring is to detect and treat cerebral hypoperfusion for secondary disorders. SjvO2 is a method of monitoring brain perfusion by measuring cerebral venous saturation in the jugular bulb. Monitoring brain perfusion is a guide in managing head injuries, including ventilator weaning and extubation.
Perbandingan Efek Diazepam 5 MG P.O dan Alprazolam 0,5 MG P.O Sebagai Premedikasi Pra Bedah Pada Pasien Operasi Ca Mammae Sommeng, Faisal; Faisal Syamsu, Rachmat; Dwimartyono, Fendy; Fathiyyah Arifin, Arina; Avrilya, Reghita
Journals of Ners Community Vol 13 No 5 (2022): Jurnal of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i5.2130

Abstract

Carcinoma Mammae (kanker payudara) merupakan penyakitkeganasan yang paling banyak terjadi di negara berkembang dan merupakan penyebab kematian wanita kedua di Amerika Serikat. Pada tahun 2014 terdapat 232.000 kasus baru kanker payudara pada wanita di Amerika Serikat dan angka kematian sebanyak 40.000 kasus. Menurut Brunner dan Suddarth tidak ada satupunpenyebab spesifik dari Ca Mammae, sebaliknya serangkaian faktor genetik, hormonal, steroid endogen apabila mengalami perubahan dalam lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi Ca mammae. Mengetahui bagaimana efek pemberian diazepam 5 mg p.o dan alprazolam0,5 mg p.o terhadap premedikasi pra bedah pada pasien operasi Ca Mammae di RSIbnu Sina Makassar. Penelitian ini menggunakan metode clinical trial dengan pendekatan Cross- Sectional, dengan menggunakan jenis data primer berupa kuisioner penelitiandengan menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale(HARS) dan kuisioner efek samping obat. Terdapat perbedaan bermakna antara perbandingan efek tingkat kecemasanyang dihasilkan dari kedua kelompok penelitian, Alprazolam lebih baik dalammenghasilkan level kecemasan dibanding diazepam dengan nilai p = 0,003, kelompok premedikasi menggunakan alprazolam juga memiliki efek samping lebih sedikit dibanding dengan kelompok diazepam dengan perbandingan sebesar 1:3. Kesimpulan penelitian ini, Pemberian Premedikasi Alprazolam 0,5 mg p.o lebih baik dalam menghasilkan level kecemasan dibanding Diazepam 5 mg p.o.
Sepsis Pseudomonas Aeruginosa pada Pasien Chronic Kidney Disease: A Case Report Angriani, Novita; Sommeng, Faisal; Wahab, Iswan
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.18486

Abstract

Sepsis is a life-threatening condition resulting from the body's systemic response to infection that causes organ dysfunction. Early diagnosis and prompt treatment are essential to improve patient outcomes. This case report aims to describe the management of sepsis in a 55-year-old male patient diagnosed with antibiotic-resistant Pseudomonas aeruginosa infection. This retrospective study analyzed the patient's clinical and laboratory data, including blood culture, SOFA score, and therapeutic interventions given. The patient was given hemodialysis, broad-spectrum antibiotics, vasopressors, intravenous fluids, and supportive care. The results showed significant improvement in the patient's clinical status, supporting the importance of early recognition, appropriate antibiotic therapy, and a multidisciplinary approach in the management of sepsis. This case highlights the challenges of managing infections caused by multidrug-resistant pathogens and the importance of effective treatment strategies and judicious antibiotic management.
Pengaruh Murottal Al-Qur’an tehadap Dosis Obat Anestesi Umum dan Waktu Pulih Sadar pada Pasien Operasi di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Abdullah, Rezky Putri Indarwati; Amkar, Musvirah Safitri; Pranomo, Sigit Dwi; Sommeng, Faisal; K, Irna Diyana Kartika
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 24, No 2 (2024): Juli
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v24i2.4757

Abstract

General anesthesia is used to facilitate surgery by providing hypnotic effects, analgesic effects, and muscle relaxation effects. To provide an adequate hypnotic, analgesia and relaxation effect, an adequate dose is needed. The time to recover consciousness after anesthesia is determined by the volume of fluid in the body, drug metabolism, half-life of the drug, age, and pre-anesthesia status. Murottal Al-Qur'an is a non-pharmacological therapy that can reduce stress hormones, increase feelings of relaxation, divert feelings of fear, improve the body's chemical balance thereby reducing hemodynamics. The aim of this study was to determine the effect of murottal Al-Qur'an on the dose of general anesthesia and the time to recover consciously in surgical patients at Ibnu Sina Hospital, Makassar. The research method is cross sectional with a quantitative approach. Each group measured the level of sedation using a Ramsay score of 3 or 4, then calculated the time to recover consciousness. The control group was given 1 mg ± 2 mg midazolam until they reached a Ramsay score of 3 or 4, the treatment group was given Al-Qur'an murottal and 1 mg ± 2 mg midazolam until they reached a Ramsay score of 3 or 4. So the time to recover consciousness and the onset of sedation was fast. These results show the influence of murottal Al-Qur'an on the dose of general anesthesia and the time to recover consciousness in surgical patients at Ibnu Sina Hospital Makassar.
Polypharmacy Profile in Geriatric Patients Rifa'at, Syahrul; Makmun, Armanto; Nurmadilla, Nesyana; Liaury, Kristian; Sommeng, Faisal; DK, Indah Lestari
Journal La Medihealtico Vol. 6 No. 5 (2025): Journal La Medihealtico
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallamedihealtico.v6i5.2636

Abstract

Polypharmacy is a common phenomenon in geriatric patients and is strongly associated with aging and the presence of multiple comorbidities. In the elderly population, the simultaneous use of several medications increases the risk of negative outcomes, including higher healthcare costs, adverse drug reactions, drug–drug interactions, poor medication adherence, functional decline, and geriatric syndromes. Older adults are particularly prone to polypharmacy, which considerably heightens the risk of drug interactions, especially among those with multiple chronic conditions. The probability of drug–drug interactions escalates in direct proportion to the number of medications prescribed, as geriatric patients generally receive more prescriptions compared to younger populations. This study employed a Literature Review approach with a Narrative Review design. Polypharmacy is highly prevalent among geriatric patients and is significantly linked to disease burden, adverse effects, drug interactions, and increased treatment costs. Elderly patients with multiple comorbidities taking several medications concurrently are at heightened risk of harmful drug interactions, with the likelihood rising alongside the number of medications consumed. Geriatric patients are particularly vulnerable to polypharmacy, which substantially increases the risk of drug–drug interactions. The greater the number of medications prescribed, the higher the potential for adverse outcomes.
Factors Related to Length of Intensive Stay in Patients Post-Lower Gi Tract Operation: Literature Review Annisa Nurmayanti S; Sommeng, Faisal; Hasir, Julia; Kurniawan, Agung; Andi Irwansyah Ahmad
Jurnal Info Sains : Informatika dan Sains Vol. 16 No. 01 (2026): Info sains, 2026
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Duration of stay in the Intensive Care Unit (ICU) after lower gastrointestinal surgery is an important prognostic parameter that influences patient outcomes and the burden on hospital resources. Its determinants are multifactorial and complex, requiring identification through a systematic literature review. Objective: To identify and synthesize factors associated with the length of intensive care stay in patients after lower gastrointestinal surgery. Method: A systematic review using a narrative design was conducted. A literature search was conducted in the Google Scholar, Semantic Scholar, and PubMed NCBI databases (2015-2024). Articles were selected based on inclusion-exclusion criteria, assessed for quality, and data were extracted for thematic analysis. Results: From the 20 selected articles, the determining factors were grouped into four domains: (1) Patient Factors (comorbidity, frailty, malnutrition, psychocognitive disorders); (2) Procedure Factors (emergency surgery, anastomotic complications, long anesthesia duration, open surgical techniques); (3) Complications (nosocomial infections, delirium, renal and multiorgan dysfunction); and (4) Management & System Factors (ERAS protocols, goal-directed fluid therapy, early enteral nutrition, high-volume institutional experience). Conclusion: The length of intensive care stay after lower gastrointestinal surgery is determined by the dynamic interaction of patient factors, procedures, complications, and quality of management. Effective strategies to shorten it require a holistic approach that includes preoperative optimization, complication prevention, implementation of evidence-based protocols, and multidisciplinary collaboration.
Co-Authors A. Husni Tanra Abdul Muthalib Abdul Raqib Rahman Abdullah, Rezky Putri Indarwati Abidin, Nuraini Agung Kurniawan Aisyah, Windy Nurul Alamanda Irwan, A. Alya Nabila, Andi Amkar, Musvirah Safitri Andi Irwansyah Ahmad Anggita, Dwi Angriani, Novita Annisa Nurmayanti S Arina Fathiyyah Arifin Arliana Arlin Avrilya, Reghita Bangsawan, Israfil Raya Butang, Dwiputri Djaya Dahlia Dahliah Dahliah Dahliah, Dahliah Damayanti, Fina Darariani Iskandar Darussalam, A. Muh Nurdiansyah Dewanty, Ashita Mary DK, Indah Lestari Ema Magfirah Faisal Syamsu, Rachmat Fathiyyah Arifin, Arina Fendy Dwimartyono Fendy Dwimartyono Gunawan, Muh Irwan Haizah Nurdin Hamza, Pratiwi Nasir Harahap, Muh. Wirawan Harahap, Muhammad Wirawan Harahap, Wirawan Hasbi, Berry Erida Hasir, Julia Hidayat, Lujna Adharani Hisbullah Hisbullah Husni Tanra, A. Ichsan, Muh. Nur Ikram, Dzul Imran Safei Imran Safei, Imran Irna Diyana Kartika Irsandy Syahrudin, Febie Irwan, Andi Alamanda Ismail, Muhammad Wirasto Juhamran, Reeny Purnamasari K, Irna Diyana Kartika Karim, Abdul Mubdi Ardiansar Arifuddin Karim, Marzelina Kartika Handayani Kharisma Saeraya Lestari Daeng Kanang, Indah Liaury, Kristian M. Iswan Wahab Magfirah, Ema Maharani, Ratih Natasha Makmun, Armanto Maulidya, Dhinda Lunizar Muh. Nur Abadi Muhajir, Agung Muhammad Asrul Apris Muhammad Ikhsan Muhammad Rum Mulyadi, Farah Ekawati N, Hermiaty Nevi sulvita karsa Novriansyah, Zulfikri Khalil Nur, Muh. Jabal Nurhikmawati, Nurhikmawati Nurmadilla, Nesyana Pramono, Sigit Dwi Pranomo, Sigit Dwi Purnamasari, Reeny Putri, Andi Iin T.C Rachmat Faisal Syamsu Radithya Sahrul, Ralf Rahil Annisyah Putri D Rahmi Utami Ramadhani, Karlinda Novira Reeny Purnamasari Reghita Avrilya Rifa'at, Syahrul Romy Hefta Mulya Rusdam, Sulfikar Sahrul, Ralf Radithya Sam, A. Dhedie Prasatia Sigit Dwi Pramono Siregar, Lenni Sari Swarga, Tirta Syafi, Talita Syadia Syafri K. Arif Syafri Kamsul Arif Tanra, A. Husni Triananda, Dhini Cesaria Wahab, Iswan Wardana, Riqah Nefiyanti Putri Wiriansya, Edward Pandu Yanti, Andi Kartini Eka Zulfa, Atria Putri