p-Index From 2021 - 2026
8.893
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Inspiratif Pendidikan Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Jurnal Psikologi Perseptual INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental Biopsikososial: Jurnal Ilmiah Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Jakarta Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (JMPIS) CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Panjar: Pengabdian Bidang Pembelajaran Jurnal Psikologi Mandala International Journal of Science and Society (IJSOC) Psyche 165 Journal Journal of Social And Economics Research YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya Innovative: Journal Of Social Science Research Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Riwayat: Educational Journal of History and Humanities PUSAKO : Jurnal Pengabdian Psikologi Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Jurnal Kesehatan Republik Indonesia El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Merpsy Journal Jurnal Serina Abdimas Jurnal Intensi (Integrasi Riset Psikologi)
Claim Missing Document
Check
Articles

Loneliness dan Binge Watching pada Dewasa Awal: Peranan FOMO sebagai Moderator SAHRANI, RIANA
JURNAL PSIKOLOGI MANDALA Vol. 9 No. 1 (2025): JURNAL PSIKOLOGI MANDALA
Publisher : Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jpm.v9i1.3075

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran kesepian (loneliness) dalam perilaku menonton maraton (binge-watching) pada dewasa awal, dengan Fear of Missing Out (FoMO) sebagai moderator. Penelitian ini melibatkan 355 partisipan (28 pria dan 327 wanita) berusia 20-30 tahun yang melakukan binge-watching, yang didefinisikan sebagai menonton dua atau lebih episode serial TV dalam satu sesi selama setidaknya dua jam di platform streaming seperti Netflix, Viu, dan Disney+. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif non-eksperimental dengan purposive sampling. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah Binge Watching Engagement and Symptoms Questionnaire (BWESQ), UCLA Loneliness Scale, dan Fear of Missing Out Scale (FoMOs). Analisis data dilakukan menggunakan Analisis Regresi Berganda (MRA) pada program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi signifikan antara loneliness dan binge-watching, namun FoMO tidak memoderasi hubungan diantara kedua variabel tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa loneliness dapat menjadi penyebab orang melakukan perilaku binge-watching, terutama pada orang dewasa awal. Namun FoMO tidak secara signifikan mempengaruhi perilaku ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat faktor lain yang mungkin berperan.
GAMBARAN PEMULIHAN KEPERCAYAAN INDIVIDU DEWASA AWAL YANG MENGALAMI PERSELINGKUHAN DALAM HUBUNGAN ROMANTIS Marfine; Riana Sahrani
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 04 (2024): Volume 09 No. 04, Desember 2024.
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i04.20637

Abstract

Infidelity in romantic relationships often causes significant damage to trust between partners. Restoring broken trust requires substantial effort, a process known as trust repair. This study aims to explore the trust repair process in early adulthood individuals who have experienced infidelity in romantic relationships. Using a qualitative approach, in-depth interviews were conducted with five participants who experienced infidelity. The findings show that trust repair involves several stages, including acknowledgment of mistakes, apology, compensation, and forgiveness. Key factors supporting the success of trust repair include honest communication, consistent behavioral change, and commitment to restoring the relationship. This study contributes to a deeper understanding of how to repair trust broken by infidelity in romantic relationships.
The mediating effect of forgiveness on the relationship between spirituality and psychological well-being in adults with history of childhood bullying Theodora, Michelle; Sahrani, Riana; Roswiyani, Roswiyani
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Faculty of Psychology and Health - Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/pjpp.v8i2.17829

Abstract

The long-term effects of childhood bullying on psychological well-being in adulthood have recently gained attention in research. This study examines the complex dynamics of the phenomenon by investigating the role of forgiveness as a mediator in the relationship between spirituality and psychological well-being among individuals who experienced bullying during their childhood. A purposive sample of 202 participants aged 19-40, who were bullied between the ages of 6-18, were recruited. The measurements used in the study included the Ryff Psychological Well-Being Scale (⍺ = .77) to measure psychological well-being; the Heartland Forgiveness Scale (⍺ = .82) to measure forgiveness; the Daily Spiritual Experiences Scale (⍺ = .94) to measure the spirituality of the participants; and the Olweus Bully/Victim Questionnaire (⍺ = .71) as a screening tool to confirm participants' experiences of bullying. Through mediation regression analysis with 5000 bootstrap samples using Macro PROCESS by Hayes, forgiveness emerged as a significant full mediator (β = .318, p < .05, 95% CI:  .212, .438). The study provides evidence that forgiveness enhances psychological well-being, suggesting that implementing a forgiveness program could reduce the long-term effect of childhood bullying.
Loneliness dan binge watching pada dewasa awal: Peranan FOMO sebagai moderator Fernanda , Brigitta Nicola; Sahrani, Riana
Jurnal Integrasi Riset Psikologi Vol 3 No 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena di masyarakat menunjukkan bahwa makin banyak bermunculan platform streaming untuk menonton, serta semakin banyak orang menonton film yang memiliki banyak episode dalam satu waktu. Penelitian ini mengkaji peran kesepian (loneliness) dalam perilaku menonton maraton (binge-watching) pada dewasa awal, dengan Fear of Missing Out (FoMO) sebagai moderator. Penelitian ini melibatkan 355 partisipan (28 pria dan 327 wanita) berusia 20-30 tahun yang melakukan binge-watching, yang didefinisikan sebagai menonton dua atau lebih episode serial TV dalam satu sesi selama setidaknya dua jam di platform streaming seperti Netflix, Viu, dan Disney+. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan teknik purposive sampling. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah Binge Watching Engagement and Symptoms Questionnaire (BWESQ), UCLA Loneliness Scale, dan Fear of Missing Out Scale (FoMOs). Analisis data dilakukan menggunakan Analisis Regresi Berganda (MRA) pada program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi signifikan antara loneliness dan binge-watching, namun FoMO tidak memoderasi hubungan diantara kedua variabel tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa loneliness dapat menjadi penyebab orang melakukan perilaku binge-watching, terutama pada orang dewasa awal. Namun FoMO tidak secara signifikan mempengaruhi perilaku ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat faktor lain yang  mungkin berperan. Implikasi dan kontribusi penelitian ini adalah pentingnya membuat intervensi kepada Masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, dengan cara mencari kegiatan positif dan mengatur diri. Kata Kunci: Binge-watching, dewasa awal, fear of missing out (FoMO), loneliness
RESILIENSI: KUNCI SUKSES FULL-TIME MOM Kirana, Liuciana Handoyo; Fransisca Iriani Roesmala Dewi; Riana Sahrani
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 4 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i4.33643

Abstract

The role of a mother has a big influence in creating family happiness and prosperity. Most highly educated women are willing to leave office jobs and decide to become full-time mothers. However, as time went by, this full-time moms experienced parental burnout because of the new routine. Parental burnout is a fatigue syndrome caused by excessive chronic stress in carrying out one's role. This is caused by household work and childcare that are never completed in everyday life. As a result, full-time moms will feel physically and psychologically bored and exhausted. Resilience is resilience in facing challenges. Full-time moms who have resilience will be able to face parental burnout and achieve family well-being. Family well-being includes emotional and physical well-being within a family. The intervention in the form of a psychoeducational webinar with the theme "RESILIENCE: THE KEY TO FULL-TIME MOM SUCCESS" aims to open insight and provide knowledge to full-time moms who can have resilience in dealing with feelings of parental burnout and become strong mothers. Full-time moms will be equipped with the concept of self-resilience to increase resilience using the online webinar method via zoom media. The results of the difference test between pre-test and post-test scores show a high significant comparison, so it can be concluded that the psychoeducational webinar in Community Service is said to be effective because of the high percentage difference in the knowledge that participants have between before and after attending this webinar. ABSTRAK Peran seorang ibu sangat berpengaruh besar dalam menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga. Sebagian besar wanita berpendidikan tinggi rela meninggalkan pekerjaan kantor dan mengambil keputusan menjadi ibu rumah tangga (IRT) penuh waktu. Namun seiring berjalannya waktu, IRT penuh waktu ini mengalami parental burnout karena rutinitas yang baru. Parental burnout adalah sindrom kelelahan yang diakibatkan oleh stres kronis berlebihan dalam menjalankan peran. Hal ini disebabkan oleh pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak yang tak kunjung selesai dalam keseharian. Akibatnya IRT penuh waktu akan merasakan kejenuhan serta kelelahan secara fisik dan psikologis. Resiliensi adalah daya lenting dalam menghadapi tantangan. IRT penuh waktu yang memiliki resiliensi maka akan dapat menghadapi parental burnout dan mencapai kesejahteraan keluarganya. Kesejahteraan keluarga mencakup kesejahteraan emosional dan fisik di dalam sebuah keluarga. Intervensi dalam bentuk webinar psikoedukasi dengan tema “RESILIENSI: KUNCI SUKSES FULL-TIME MOM” bertujuan untuk membuka wawasan dan memberikan bekal pengetahuan kepada IRT penuh waktu dapat memiliki resiliensi dalam menghadapi perasaan parental burnout dan menjadi ibu yang tangguh. IRT penuh waktu akan diperlengkapi dengan konsep resiliensi diri untuk meningkatkan daya lenting dengan metode webinar secara daring melalui media zoom. Hasil uji perbedaan terhadap skor pre-test dan post-test menunjukkan perbandingan yang signifikan tinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa webinar psikoedukasi dalam Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dikatakan efektif karena perbedaan presentase yang tinggi tentang pengetahuan yang dimiliki peserta antara sebelum dan setelah mengikuti webinar ini.
PSIKO-EDUKASI PENCEGAHAN KEKERASAN SIBER REMAJA PEREMPUAN DALAM BERMEDIA SOSIAL Basel, Wiwin Charolina Putri; Fransisca Iriani Roesmala Dewi; Riana Sahrani
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 1 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i1.33666

Abstract

Social media is a platform that is actively used in everyday life to establish communication, especially among teenagers. The development of social media use has been followed by misuse of internet access such as cyber violence. Cyber violence is negative behavior and harms others in cyberspace, causing serious impacts on victims. Cyber violence in social media, especially gender-based, has become a mental health issue that needs to be considered by the community. Regarding the phenomenon of cyber violence, the PKM team took the initiative to conduct psycho-education to prevent cyber violence among adolescent girls in social media. The purpose of psycho-education is to empower women, fight for welfare and gender equality, and increase awareness of the dangers of cyber violence. The implementation of the psycho-education program uses a Webinar format that is conducted online. The main participants of the Webinar are adolescent girls who use social media. The results of the Community Service Webinar showed enthusiasm from adolescent girls and the community regarding this psycho-education. The Community Service Team realizes that there are still many people who need to be educated about the dangers of cyber violence and how to handle it. In this Webinar activity, participants were also able to receive and understand the material presented well, so that the psycho-educational Webinar was quite effective for the participating adolescent girls and the community. This shows that psycho-education help increase public awareness, especially among adolescent girls and victims of cyber violence to protect themselves, treat and provide support to victims of cyber violence. ABSTRAK Media sosial merupakan platform yang aktif digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjalin komunikasi, terutama di kalangan remaja. Perkembangan penggunaan media sosial ternyata diikuti dengan penyalahgunaan dalam akses internet seperti kekerasan siber. Kekerasan siber merupakan perilaku negatif dan merugikan orang lain di dunia maya sehingga menimbulkan dampak yang serius bagi korban. Kekerasan siber dalam bermedia sosial, khususnya berbasis gender telah menjadi isu kesehatan mental yang perlu diperhatikan masyarakat. Terkait fenomena kekerasan siber, tim PKM berinisiatif melakukan psiko-edukasi pencegahan kekerasan siber pada remaja perempuan dalam bermedia sosial. Tujuan psiko-edukasi untuk memberdayakan perempuan, memperjuangkan kesejahteraan dan kesetaraan gender, serta meningkatkan kesadaran akan bahaya kekerasan siber. Pelaksanaan program psiko-edukasi menggunakan format Webinar yang dilakukan secara daring. Peserta utama webinar merupakan remaja perempuan pengguna media sosial. Hasil dari webinar Pengabdian Kepada Masyarakat menunjukkan antusiasme dari remaja perempuan dan masyarakat terkait psiko-edukasi ini. Tim Pengabdian Kepada Masyarakat menyadari bahwa masih banyak masyarakat yang perlu diedukasi terkait bahaya kekerasan siber dan cara menanganannya. Pada kegiatan webinar ini peserta juga dapat menerima dan memahami materi yang disampaikan dengan baik, sehingga webinar psiko-edukasi sudah cukup efektif bagi remaja perempuan dan masyarakat yang berpartisipasi. Hal ini menunjukkan bahwa psiko-edukasi membantu meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama pada remaja perempuan dan korban kekerasan siber untuk menjaga diri, mengobati maupun memberi dukungan kepada korban kekerasan siber.
Keterkaitan presenteeism dan job satisfaction pada pekerja pra-lansia: Menguji peran mediator resilience dan work-health balance: The relationship between presenteeism and job satisfaction in pre-elderly workers: Testing the mediating role of resilience and work-health balance Listanto, Melvin; Budiarto, Yohanes; Sahrani, Riana
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 14 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v14i1.132002

Abstract

The high level of job satisfaction in Indonesia does not necessarily indicate the same perception of work across all age groups, especially among pre-elderly workers (aged 45–59 years). This research aims to investigate the relationship between presenteeism and job satisfaction among pre-elderly workers, while also testing the mediating roles of resilience and work- health balance. This research uses a quantitative correlational approach and Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) analysis technique on data from 146 pre- elderly workers who have experienced presenteeism due to minor illnesses. The findings show that neither dimensions of presenteeism are not directly related to job satisfaction. Although the completing work is positively associated to resilience, resilience was not found to mediate the relationship between presenteeism and job satisfaction. On the other hand, both presenteeism dimensions were related with work-health balance. Work-health balance was found to be a significant mediator only in the relationship between completing work and job satisfaction. These findings highlight the importance role of work-health balance in supporting job satisfaction among pre-elderly workers who practice presenteeism.
MODERASI KEBIJAKSANAAN DALAM HUBUNGAN IDENTITAS DIGITAL DAN PERBANDINGAN SOSIAL PADA GENERASI Z PENGGUNA LINKEDIN Sahrani, Riana; Setiawan, Cherry Delfina; Chandra, Callista; Harto, Ivania Rachel; Putri, Raisya Anaya
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i1.8256

Abstract

ABSTRACT Digital identity is a self-representation built through online activities and has become a crucial aspect for Generation Z, who grew up amidst technological advancements. One widely used platform is LinkedIn, which functions not only to expand professional networks but also as a means of building self-image. However, exposure to other people's profiles on LinkedIn, which tend to be perceived as better and more attractive than one's own self-image, can trigger social comparison, potentially reducing an individual's psychological well-being. This study aims to examine the relationship between digital identity and social comparison among Generation Z LinkedIn users, as well as the moderating role of wisdom in this relationship. This study used a quantitative method, with 404 Generation Z LinkedIn employee participants aged 18–25 years old. The instruments used included the Digital Identity Scale to measure digital identity, the IOWA Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) to measure social comparison, and the Brief Self-Assessed Wisdom Scale (BSAWS) to measure wisdom. Data analysis was conducted using correlation tests and multiple linear regression. The results showed that digital identity had a positive and significant effect on social comparison (? = 0.711, p < 0.001). Meanwhile, wisdom did not significantly moderate the relationship (p = 0.608). Additional findings showed significant differences in wisdom based on age and employment status, but not by gender. ABSTRAK Digital identity (identitas digital) merupakan representasi diri yang dibangun melalui aktivitas daring dan menjadi aspek penting bagi Generasi Z yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi. Salah satu platform yang banyak digunakan adalah LinkedIn, yang difungsikan bukan hanya untuk memperluas jaringan kerja profesional tetapi juga sebagai sarana pembentukan citra diri. Namun, paparan terhadap profil orang lain di media sosial LinkedIn, yang cenderung dianggap lebih baik dan menarik dibandingkan dengan citra diri sendiri, dapat memicu social comparison (perbandingan sosial) yang berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis individu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara identitas digital dan perbandingan sosial pada Generasi Z pengguna LinkedIn, serta menguji peran moderasi wisdom (kebijaksanaan) dalam hubungan tersebut. Metode penelitian ini adalah kuantitatif, dengan responden 404 partisipan karyawan Generasi Z pengguna LinkedIn, berusia 18–25 tahun. Instrumen yang digunakan meliputi Digital Identity Scale untuk mengukur identitas digital, IOWA Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) untuk mengukur perbandingan sosial, serta Brief Self-Assessed Wisdom Scale (BSAWS) untuk mengukur kebijaksanaan. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap perbandingan sosial (? = 0.711, p < 0.001). Sementara itu, kebijaksanaan tidak memoderasi hubungan tersebut secara signifikan (p = 0.608). Temuan tambahan menunjukkan perbedaan kebijaksanaan yang signifikan berdasarkan usia dan status pekerjaan, namun tidak berdasarkan jenis kelamin.
KONTRIBUSI KEMANDIRIAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR DALAM KESIAPAN KERJA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Harto, Ivania Rachel; Sahrani, Riana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8971

Abstract

The increasing competitiveness of the job market and the high unemployment rate among young adults, including university graduates, require final-year students to develop adequate work readiness before transitioning into the professional world. One important factor in shaping this readiness is the ability to make career decisions, which must be supported by autonomy and responsibility toward chosen career paths. This study employed a quantitative approach with purposive sampling, and the data were analyzed using multiple regression. A total of 301 final-year students from public and private universities participated in the study. The instruments used included the autonomy dimension of the Basic Psychological Need Satisfaction and Frustration Scale (BPNSNF), the Career Decision-Making Difficulties Questionnaire (CDDQ), and the Work Readiness Scale (WRS). The findings indicate that autonomy and career decision-making ability positively contribute to work readiness, accounting for 65.4 percent of the variance. The study also revealed gender differences, where male students demonstrated higher levels of career decision-making ability and work readiness compared to female students. ABSTRAK Persaingan dunia kerja yang semakin ketat serta tingginya tingkat pengangguran pada kelompok usia muda, termasuk lulusan perguruan tinggi, menuntut mahasiswa semester akhir memiliki kesiapan kerja yang optimal sebelum memasuki fase transisi menuju dunia profesional. Salah satu faktor awal yang diperlukan dalam proses kesiapan tersebut adalah kemampuan dalam mengambil keputusan karir. Kemampuan ini perlu dibangun melalui sikap mandiri dan tanggung jawab terhadap pilihan karir yang ditetapkan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling, dan analisis dilakukan dengan regresi berganda. Partisipan terdiri dari 301 mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Alat ukur penelitian mencakup dimensi autonomy dari Basic Psychological Need Satisfaction and Frustration Scale (BPNSNF), Career Decision-Making Difficulties Questionnaire (CDDQ), serta Work Readiness Scale (WRS). Hasil analisis menunjukkan bahwa kemandirian dan pengambilan keputusan karir berkontribusi positif terhadap kesiapan kerja dengan nilai kontribusi sebesar 65,4%. Penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa laki-laki menunjukkan tingkat pengambilan keputusan karir dan kesiapan kerja yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa perempuan.  
HUBUNGAN RELATION BOREDOM PRONENESS DAN KECENDERUNGAN BERSELINGKUH PADA DEWASA AWAL YANG MENJALANI LDR Sartica, Tasya; Sahrani, Riana
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.40112

Abstract

This study aims to examine the relationship between relation boredom proneness and infidelity tendency among emerging adults who are in long-distance relationships (LDR). Long-distance relationships often limit direct interaction and shared experiences, which may increase feelings of boredom and potentially encourage infidelity tendencies. This study employed a quantitative correlational design using purposive sampling. Participants consisted of 405 emerging adults aged 21–40 years who were currently involved in long-distance romantic relationships. Data were collected using the Relation Boredom Proneness Scale and the Infidelity Tendency Scale, both of which demonstrated adequate validity and reliability. Data analysis was conducted using Spearman’s correlation test. The results revealed a positive and significant relationship between relation boredom proneness and infidelity tendency (r = 0.459, p < 0.001). This finding indicates that higher levels of boredom within romantic relationships are associated with a greater tendency to engage in infidelity. Additional analyses showed significant differences based on age and relationship duration, while no significant differences were found based on gender or relationship status. Overall, the findings suggest that relation boredom proneness is an important psychological factor that contributes to infidelity tendencies among emerging adults in long-distance relationships. Keywords: Relation Boredom Proneness, Infidelity Tendency, Emerging Adults, Long Distance Relationship
Co-Authors Anastasia Putri Leleng Wilis Anaya Putri, Raisya Andri Setia Dharma Anyelir, Nanda Putri Ari Kristiyanto, Andreas Audy, Ervina Aulia Kirana Basel, Wiwin Charolina Putri Bianca Marella Chandra, Callista Cherry Delfina Setiawan Christy, Christy Cindy Amelia, Cindy Deasy Suparman Debora Basaria Dewanto, Hajar Dwi Puspita Satriana, Dwi Puspita Dzahabiya, Farras Aisha Ekawardhani, Nadya Puspita Elizabeth Nasya Fadila, Nurul Farren Septania Audrey Febriani, Oki Kartika Febriyanti, Cindy Fernanda , Brigitta Nicola Fidrian, Natasha Febriani Fransisca I. R. Dewi Fransisca Iriani R. Dewi Fransisca Iriani Roesmala Dewi Harto, Ivania Rachel Heryanti Satyadi Hody Denilson Hungsie, Olivia Grace Imanuel , Dastin Intania Mutiasari, Argea Iriani Roesmala Dewi, Fransisca Isnaeni Marhani Jessica Jessica Jolanda Chatarina Wibawa Kaseger, Gracia Emmanuelle Venezzia Khou, Meryl Adelyn Kirana, Liuciana Handoyo Koesma, Rismiyati E. Kristiana, Dessy Lahdji, Mona Lianna, Amanda Lidwina Priscilia Listanto, Melvin Lukman, Agnes Victoria Mailani, Indah Mar’at, Samsunuwiyati Marella, Bianca Marfine Mathilda V. Bolang, Caroline Milleny Caca Mona Lahdji Monika, Sesilia Monty P Satiadarma Muis, Jecika Aprillia Mursalim, Tania Nadine, Nadine Febrina Najla Nada Muslimah Nelsen, Kevin Leo Novita*, Regina Sharen P. Tommy Y. S. Suyasa Pamela Hendra Heng Pebrianti, Sarah Phung, Mulan Prihardini, Irni Putri, Raisya Anaya Rahmah Hastuti Rasyidi, Ahmad Wahyu Roswiyani Roswiyani, Roswiyani Saputra, Mikhael Adam Saraswati, Laksmiari Sartica, Tasya Satyadi, Heryanti Senjani, Dita Permata Setiawan, Cherry Delfina Sharron Dharmawati Sholihah, Dinda Nabila Soemiarti Patmonodewo Sri Tiatri Stefanny, Stefanny Stephanie Angelina Stephanie Angelina Sulaeman, Budi Tamala, Novi Tasdin, Willy Theodora, Michelle Tiofani, Fionelyssa Tommy Y. S. Suyasa, P. Tumanggor, Raja Oloan Vandhika, Samuel Viani, Theresia Patria Victory, Joan Widiasih, Triani Widiasih Willy Tasdin Willy, Angelina Yantina, Maisi Yohanes Budiarto Yunithree, Meiske Zahra Kayla Sudrajat