Claim Missing Document
Check
Articles

Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 17 No. 3, Mei 2021 Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Indonesian Journal of Phytopathology, JFI Vol. 17 No. 3, Mei 2021.
Distribusi dan Identifikasi Pepper yellow leaf curl Indonesia virus yang Menginfeksi Tanaman Cabai di Pulau Bali Dewa Gede Wiryangga Selangga; Suryo Wiyono; Anas Dinurrohman Susila; Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 6 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.6.217-224

Abstract

Gejala daun keriting kuning pada cabai telah dilaporkan di Pulau Bali sejak awal tahun 2012 dan saat ini semakin meluas. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab penyakit dan daerah sebarnya di Pulau Bali. Penelitian diawali dengan pengamatan keparahan penyakit dan pengambilan sampel lapangan dari beberapa daerah penanaman cabai di Bali (Karangasem, Bangli, Tabanan, dan Gianyar). Identifikasi Begomovirus dari sampel lapangan dilakukan dengan metode polymerase chain reaction menggunakan primer universal SPG1/SPG2 dan dilanjutkan dengan analisis sikuen DNA target yang telah diamplifikasi. Insidensi penyakit daun keriting kuning cabai mencapai 100% pada semua lokasi pengamatan dan keparahan penyakit berkisar antara 18%−87%. Fragmen DNA spesifik Begomovirus berukuran 912 pb berhasil diamplifikasi dari 12 sampel lapangan. Analisis sikuen fragmen DNA menunjukkan homologi tertinggi dengan Pepper yellow leaf curl Indonesia virus (PYLCIV). Analisis filogenetik lebih lanjut mengonfirmasi hubungan kekerabatan antara isolat-isolat PYLCIV dari Bali dengan berbagai isolat PYLCIV dari Indonesia.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 17 No. 4, Juli 2021 Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.4.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Indonesian Journal of Phytopathology, JFI Vol. 17 No. 4, July 2021.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 17 No. 5, September 2021 Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 5 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.5.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Indonesian Journal of Phytopathology, Vol. 17 No. 5, September 2021
Eliminasi Onion yellow dwarf virus melalui Kultur Meristem Tip pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Aqlima ,; Bambang S. Purwoko; Sri Hendrastuti Hidayat; Diny Dinarti
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.098 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.1.22-30

Abstract

ABSTRACTMeristem tip culture is culture of isolated meristem with 1-2 leaf primordia on suitable medium. This method is generally used to obtain free virus plant. Optimation of plant growth regulators (PGRs) was done to accelerate explant growth without callus formation and to avoid somaclonal variation in meristem tip culture. The aims of this study were to achieve the best combination of PGR for meristem tip growth and to evaluate meristem tip culture potential for Onion yellow dwarf virus (OYDV) elimination in shallot. This study used combination of PGRs 0.25 mg L-1 (2-ip, BAP, GA3, kinetin) with or without 0.1 mg L-1 IAA and medium without PGR. This research consisted of two experiments conducted separately. In experiment I, cv. Bima Brebes was used and experiment II cv. Tiron was used. Each experiment was arranged in completely randomized block design with single factor (PGR combination) that has 8 combination levels and 3 replications. The result showed that medium without PGR was the most efficient for meristem tip growth. Primary shoot was growing without callus formation. RT-PCR analysis showed that all of the tested samples were still infected by OYDV. Meristem tip culture method did not eliminate OYDV in both cultivars.Keywords: Auxin, cytokinin, GA3, OYDV, RT-PCRABSTRAKKultur meristem tip merupakan kultur meristem yang diisolasi 1-2 primordia daun dan pada media yang sesuai. Metode ini umum digunakan untuk mendapatkan tanaman bebas virus. Optimasi terhadap zat pengatur tumbuh (ZPT) dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan eksplan tanpa disertai pembentukan kalus untuk menghindari terjadinya variasi somaklonal pada kultur meristem tip. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi ZPT terbaik bagi pertumbuhan meristem tip dan untuk mengevaluasi potensi kultur meristem tip dalam mengeliminasi virus Onion yellow dwarf virus (OYDV) pada tanaman bawang merah. Penelitian ini menggunakan 0.25 mg L-1 (2-ip, BAP, GA3, kinetin) dengan penambahan atau tanpa 0.1 mg L-1 IAA serta media tanpa ZPT. Penelitian ini terdiri atas 2 percobaan terpisah. Percobaan 1 menggunakan cv. Bima Brebes dan Percobaan 2 menggunakan cv. Tiron. Masing-masing percobaan disusun berdasarkan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan 1 faktor, yaitu kombinasi ZPT yang terdiri atas 8 taraf kombinasi dan 3 ulangan. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa media tanpa penambahan ZPTmerupakan media yang paling efisien untuk pertumbuhan tunas meristem tip. Tunas utama tumbuh tanpa disertai pembentukan kalus. Hasil analisis RT-PCR menunjukkan bahwa seluruh sampel yang dideteksi masih terinfeksi OYDV. Metode kultur meristem tip belum dapat mengeliminasi virus OYDV pada kedua kultivar bawang merah.Kata kunci: Auksin, GA3, OYDV, RT-PCR, sitokinin
It has been known that phytoplasma inducing witches broom disease can infect various kind of leguminous plants in Indonesia, among others soybean. Information on the resistance of various kind of soybean varieties to the phytoplasma is still limited. Experiments were conducted to eveluate the resistance of ten soybean varieties/lines to the phytoplasma. The evaluation was carried out by inoculation method through Orosius argentatus Evans, with two days of acquisition feeding period, ten days lat Asniwita Asniwita; Rusmilah Suseno; Sri Hendrastuti Hidayat; Budi Tjahjono
Buletin Hama dan Penyakit Tumbuhan Vol. 11 No. 2 (1999): Buletin Hama dan Penyakit Tanaman
Publisher : Buletin Hama dan Penyakit Tumbuhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

It has been known that phytoplasma inducing witches broom disease can infect various kind of leguminous plants in Indonesia, among others soybean. Information on the resistance of various kind of soybean varieties to the phytoplasma is still limited. Experiments were conducted to eveluate the resistance of ten soybean varieties/lines to the phytoplasma. The evaluation was carried out by inoculation method through Orosius argentatus Evans, with two days of acquisition feeding period, ten days latent period and two days inoculation feeding period. Observation was conducted on the presence of phytoplasma, incubation period, symptom and number & weight of seed. The result indicated that line Malang 3474 was resistant, Sindiro and Sriono were tolerant, while the other tested varieties/lines, i.e. Galunggung, Orba, Ringgit, Wilis, Malang 2999, Malang 2805 and Sicinang were susceptible
Identifikasi Gejala dan Kisaran Inang Enam Isolat Begomovirus Cabai di Indonesia (Symptom and Host Range Identification of Six Chilli Begomovirus Isolate in Indonesia) Redy Gaswanto; Muhamad Syukur; Sri Hendrastuti Hidayat; Neni Gunaeni
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n2.2016.p223-234

Abstract

Perkembangan infeksi Begomovirus pada cabai di Indonesia tidak menutup kemungkinan adanya isolat baru yang berbeda gejala dan kisaran inangnya. Tujuan penelitian adalah melakukan identifikasi isolat Begomovirus cabai dari beberapa sentra produksi di Indonesia berdasarkan gejala dan kisaran inangnya. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa Virologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, dari Bulan Mei 2013 sampai dengan Agustus 2013. Isolat Begomovirus cabai diperoleh dari enam daerah, yaitu Leuwikopo-Bogor, Brebes, Magelang, Kediri, Blitar, dan Karangploso-Malang. Isolat Begomovirus cabai tersebut diisolasi dan dipelihara pada benih tanaman cabai sehat varietas Tanjung-2 dengan cara ditularkan melalui serangga vektor Bemisia tabaci nonviruliferous. Deteksi isolat Begomovirus cabai secara polymerase chain reaction (PCR) menggunakan sepasang primer universal pAL1v1978/pAR1c715. Identifikasi gejala dan kisaran inang dilakukan pada sembilan jenis tanaman indikator, yaitu cabai, tomat, terung, kacang panjang, buncis, mentimun, babadotan, caisim, dan bayam duri. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Amplifikasi PCR menggunakan primer universal pAL1v1978/pAR1c715 terhadap enam isolat Begomovirus cabai berhasil memperoleh fragmen DNA berukuran 1.600 kb. Isolat Begomovirus cabai asal Brebes, Magelang, Kediri, Blitar, dan Karangploso berhasil ditularkan pada tanaman indikator cabai, tomat, terung, mentimun, kacang buncis, kacang panjang, dan babadotan, namun tidak berhasil ditularkan pada tanaman caisim dan bayam duri. Pada tanaman cabai, isolat Begomovirus asal Brebes lebih virulen 3,3–10% untuk tingkat kejadian penyakit dengan masa inkubasi lebih cepat 2,7–3,7 hari dibandingkan isolat Begomovirus asal Bogor, Magelang, Kediri, Blitar, dan Malang. Untuk kepastian perbedaan enam isolat Begomovirus cabai secara molekuler, disarankan untuk analisis perunutan DNA.KeywordsBegomovirus; Gejala; Kisaran inang; VirulenAbstractPossibility Begomovirus infection on chilli in Indonesia continually could appear a new isolate. The research was aimed at identifying chilli Begomovirus isolate from some chilli area in Indonesia according to their symptom dan host range. The research was conducted at virology’s Laboratory and Screen Net House of the Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), from May to August 2013. Chilli Begomovirus isolates from six area were collected, namely: Leuwikopo-Bogor, Brebes, Magelang, Kediri, Blitar, and Karangploso-Malang. All isolates were isolated and maintained to the healthy chilli seedling of Tanjung-2 variety transmitted by insect vector B. tabaci nonviruliferous. The molecular isolate detection by polymerase chain reaction (PCR) using a pair of universal primers pAL1v1978/pAR1c715. Nine indicator plants were used to identify their symptom and host range, namely chilli, tomato, eggplant, yardlong bean, bean, cucumber, ageratum, caisim, and wild spinach. A randomized block design was used with three replications. Amplification on six chilli Begomovirus isolates. Isolates from Brebes, Magelang, Kediri, Blitar, and Karangploso were succesfully transmitted to various indicator plants, i.e chilli, tomato, eggplant, cucumber, bean, yardlong bean, and ageratum weed, but failed on caisim and wild spinach. Isolate from Brebes was 3.3–10.0% more virulent (disease incident parameter) and 2.7–3.7% days shorter (incubation time parameter) than isolate from Bogor, Magelang, Kediri, Blitar, and Malang. DNA sequencing analysis is recommended to be done. Further DNA sequencing was recommended to confirm the moleculer diffferences among the six chilli Begomovirus isolates.
Identifikasi Isolat Khamir Berpotensi sebagai Agens Antagonis dan Uji Produksi Toksin Hemolisin Sri Hartati; Suryo Wiyono; Sri Hendrastuti Hidayat; Meity Suradji Sinaga
Agrikultura Vol 32, No 2 (2021): Agustus, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i2.33849

Abstract

Identifikasi khamir dapat dilakukan secara konvensional maupun molekuler. Identifikasi secara konvensional membutuhkan waktu yang lama dan interpretasi hasilnya seringkali bersifat subyektif. Sementara identifikasi khamir dengan metode molekuler dapat memberikan hasil yang lebih akurat dan cepat. Khamir yang berperan sebagai agens antagonis harus aman terhadap organisme nontarget agar dapat diaplikasikan di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi isolat-isolat khamir berpotensi antagonis dengan metode molekuler dan mengetahui kemampuan khamir dalam menghasilkan hemolisin sebagai salah satu indikator potensi resiko terhadap mamalia. Identifikasi dan pengujian kemampuan khamir dalam menghasilkan hemolisin dilakukan pada 15 isolat khamir berpotensi antagonis terhadap patogen antraknosa cabai (Colletotrichum acutatum). Identifikasi khamir dilakukan secara molekuler dengan PCR menggunakan primer ITS1 dan ITS4. Penyediaan khamir menggunakan mediaYeast Malt Extract Broth (YMB) dan Potato Dextrose Agar (PDA). Pengujian kemampuan khamir dalam menghasilkan hemolisin menggunakan media blood agar base (Oxoid CM55) ditambah darah domba 5%. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa isolat khamir dapat teramplifikasi dengan primer ITS1 dan ITS4 dengan ukuran  fragmen   produk   antara  500-800 pb. Hasil analisis sekuensing didapatkan 6 spesies khamir yaitu Candida tropicalis, Rhodotorula minuta, Aureobasidium pullulans, Pseudozyma hubeiensis, Pseudozyma aphidis, dan Pseudozyma shanxiensis. Uji kemampuan khamir dalam menghasilkan hemolisin menunjukkan bahwa seluruh khamir yang diuji tidak menghasilkan toksin hemolisin sehingga diduga isolat-isolat tersebut tidak patogenik terhadap manusia.
ELIMINASI Potyvirus PENYEBAB PENYAKIT MOSAIK PADA TANAMAN NILAM DENGAN KULTUR MERISTEM APIKAL DAN PERLAKUAN AIR PANAS PADA SETEK BATANG RITA NOVERIZA; GEDE SUASTIKA; SRI HENDRASTUTI HIDAYAT; UTOMO KARTOSUWONDO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n3.2012.107-114

Abstract

ABSTRAKMinyak nilam merupakan salah satu bahan baku parfum multifungsiyang bernilai tinggi. Budidaya dan pengembangan tanaman nilamterkendala oleh serangan Potyvirus yang menyebabkan penyakit mosaik.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan benih nilam bebas virusdengan metode kultur meristem apikal dan perlakuan air panas pada setekbatang. Penelitian dilaksanakan mulai Januari sampai Desember 2010 diLaboratorium Virologi Tumbuhan, Institut Pertanian Bogor dan RumahKasa Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik(Balittro) di Bogor. Bahan tanaman yang digunakan adalah tiga varietasnilam (Sidikalang, Lhokseumawe, Tapak Tuan). Penelitian terdiri atas (1)Eliminasi Potyvirus pada tanaman nilam menggunakan kultur meristemapikal dan (2) Eliminasi Potyvirus pada setek batang nilam denganperlakuan air panas. Percobaan pertama disusun menggunakan rancanganacak lengkap dengan perlakuan 3 varietas nilam dan 2 tipe eksplan(meristem apikal dan batang terminal), dan diulang 10 kali. Parameteryang diamati adalah persentase pertumbuhan, waktu inisiasi, tinggi, danwarna tunas, serta persentase tanaman yang terinfeksi Potyvirus.Percobaan kedua menggunakan air panas pada tiga tingkatan suhu (50, 55,dan 60 o C) dan tingkatan waktu perendaman (10, 20, dan 30 menit).Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan 10perlakuan dan 10 ulangan. Tanaman nilam dipelihara selama 8 minggu dandilakukan pengamatan tinggi setek yang tumbuh dan daun yang bergejalamosaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman nilam, yangdiperbanyak dari kultur meristem apikal ukuran 0,5-1 mm, menghasilkan33,3-99,9% tanaman bebas virus. Perendaman setek batang nilam di dalamair panas pada suhu 50-60 o C selama 10-30 menit tidak dapatmengeliminasi Potyvirus yang menginfeksi ketiga varietas nilam yangdiuji. Setek batang nilam varietas Tapak Tuan dan Lhokseumawe lebihtoleran terhadap air panas dibandingkan Sidikalang tetapi daya tumbuhyasemakin menurun seiring semakin lama waktu perendaman. Teknik kulturmeristem apikal berpotensi untuk menghasilkan setek nilam yang bebasvirus.Kata kunci : kultur meristem apikal, perlakuan air panas, Pogostemoncablin, PotyvirusABSTRACTPatchouli oil produced by patchouli plant is one of multifunctioningperfume’s raw materials and has high economic value. One importantconstraint during its cultivation is infection by Potyvirus causing seriousmosaic disease. This study was conducted to develop a technique toproduce virus-free cutting seeds using apical meristem culture and hotwater treatment on stem cutting. The study was carried out from January toDecember 2010 in Plant Virology Laboratory of Bogor AgriculturalUniversity and Pest and Diseases screen house of Indonesian Medicinaland Aromatic Crops Research Institute (Balittro) in Bogor. Three varietiesof patchouli plant, i.e. Sidikalang, Lhokseumawe, and Tapak Tuan, wereused in this study. The study consisted of (1) Elimination Potyvirus incuttings of patchouli through apical meristem culture and (2) EliminationPotyvirus in stem cuttings of patchouli with hot water treatment. The firstexperiment was arranged using completely randomized design withtreatments of three patchouli varieties and two explant types (apicalmeristem and stem terminal), and it was replicated 10 times. Parametersobserved were bud growth percentage, initiation time, height, and color,and also percentage of plant infected by Potyvirus. The second experimentapplied hot water at three temperature levels (50, 55, and 60 o C) andsubmersion periods (10, 20, and 30 minutes). It was arranged usingrandomized complete design, consisting of 10 treatments with 10 plantsfor each treatment. The patchouli plants were maintained for 8 weeks andobservations were made for height of growing cuttings and leaves withmosaic symptoms. The results showed that the patchouli plants propagatedfrom apical meristem culture of 0.5-1 mm in sizes yielded 33.3-99.9%virus-free plants. Submersion of patchouli stem cutting seeds in hot waterof 50-60 o C and soaking period of 10-30 minutes could not eliminated theinfecting Potyvirus on patchouli the three tested varieties. Cutting seeds ofLhokseumawe and Tapak Tuan varieties were more tolerant to hot waterthan Sidikalang one. However, their ability to grow decreased in line withlonger submersion time period. Apical meristem culture technique ispotential to produce virus-free cutting seeds of patchouli.Key words: apical meristem culture, hot water treatment, Pogostemoncablin, Potyvirus
PENGARUH INFEKSI VIRUS MOSAIK TERHADAP PRODUKSI DAN KADAR MINYAK TIGA VARIETAS NILAM Rita Noveriza; Gede Suastika; Sri Hendrastuti Hidayat; Utomo Kartosuwondo
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 23, No 1 (2012): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v23n1.2012.%p

Abstract

Penyakit mosaik tercatat sebagai salah satu faktor pembatas dalam produksi tanaman nilam (Pogostemon cablin). Penelitian ini dilakukan untuk mengukur pengaruh infeksi virus penyebab penyakit mosaik terhadap produksi dan kadar minyak tanaman nilam. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tiga varietas unggul tanaman nilam yaitu Sidikalang, Lhokseumawe dan Tapak Tuan. Infeksi Potyvirus berhasil dideteksi pada varietas Tapak Tuan dan Lhok-seumawe berdasarkan hasil metode ELISA. Pengukuran berat terna basah, terna kering, kadar minyak dan kadar patchouli alcohol (PA) yang dilakukan pada tanaman berumur enam bulan menunjukkan terjadinya penurunan produksi dan kadar minyak. Penurunan tertinggi berat terna basah, terna kering, kadar minyak dan kadar PA berturut-turut dapat mencapai 34,65, 40,42, 9,09 dan 5,06%.
Co-Authors . SUDARSONO Abdul Muin Adnan ABDUL MUNIF ALI NURMANSYAH Amelia Feryna Bulan Dini Ana Septiana Saputri Anas Dinurrohman Susila Aqlima , Aqlima, nFN Arifin Tasrif Asmar Hasan Asniwita Asniwita Astri Windia Wulandari Wulandari ATI SRI DURIAT Awang Maharijaya Ayu Kartini Parawansa Bambang S. Purwoko Bambang Sapta Purwoko Bonny Poernomo Wahyu Soekarno Bonny Poernomo Wahyu Soekarno Bonny Purnomo Wahyu Soekarno Bonny Purnomo Wahyu Soekarno Budi Tjahjono Darni Rambu D. Siala Dewa Gede Wiryangga Selangga Dewa Gede Wiryangga Selangga Diny Dinarti Dono Wahyuno Dono Wahyuno Dwi Astuti Dwi Subekti DWI SUBEKTI Dwi Wiyati Nurul Septariani Dwiwiyati Nurul Septariani Efendi, Darda Efi Toding Tondok Eliza Suryati Rusli Endang Nurhayati Endang Nurhayati Evan P. Ramdan Farida, Naimatul Fitrianingrum Kurniawati, Fitrianingrum Gede Suastika Gede Suastika GEDE SUASTIKA GEDE SUASTIKA Gede Suastika Gede Suastika Giyanto Giyanto Giyanto Hamdayanty Hamdayanty Hanif, Andini Hari Priwiratama Harwan Susetio Heriyanto Syafutra I Wayan Winasa Ifa Manzila Ifa Manzila Ika Mariska Ika Mariska Irsan Nuhantoro Ishak Manti ISHAK MANTI Isti Wulandari Jamsari Jamsari Jati Adiputra John Thomas, John Joni Hidayat, Joni JUMANTO HARJOSUDARMO Jumanto Harjosudarmo Jumanto Harjosudarmo Jumsu Trisno Kadwati Kadwati Kikin H Mutaqin KIKIN HAMZAH MUTAQIN Ladja, Fausiah T. Laksono Trisnantoro Listihani, Listihani Mawarni, Sofi Meity S Sinaga Meity S. Sinaga MEITY S. SINAGA, MEITY S. Meity Suradji Sinaga Meity Suradji Sinaga Meity Suradji Sinaga Meity Suradji Sinaga Melinda . Meliyana Memen Surahman Miftakhurohmah Miftakhurohmah Miftakhurohmah Mimi Sutrawati Muh. Taufik Muhamad Syukur Muhammad Herman Muhammad Taufik Muhammad Taufik MUHAMMAD TAUFIK Nada, Azmi Khoirin Neni Gunaeni Niken Nur Kasim, Niken Nur Nissa Fawwaz Adilah NOOR AIDAWATI ORAWAN CHATCHAWANKAN PANICH Prabawati Hyunita Putri Puji Lestari PURNAMA HIDAYAT Purwoko, Bambang Sapto Purwono Purwono Rahayuwati, Sat RAHMI YUNIANTI Ramdan, Evan Purnama RAUF, AUNU Redy Gaswanto Redy Gaswanto, Redy Refa Yulianingsih Reymas M.R. Ruimassa Rina Rachmawati Rita Noveriza Rita Noveriza RITA NOVERIZA Rita Noveriza Rizqiyah, Sakinah Inayatur Rokhana Faizah Roy Ibrahim RR. Ella Evrita Hestiandari Rusmilah Suseno RUSMILAH SUSENO Rustiani, Ummu S. Saiful Akhyar Lubis Sari Nurulita Sari Nurulita Sari, Rahmah Dian Sarsidi S astrosumarjo Sarsidi Sastrosumarjo Satya Nugroho Sayekti, Tri Wahono Dyah Ayu Sherli Anggraini Sientje Mandang Sumaraw Siregar, Ivan Arif Rachman Martua Siti Hafsah Siti Shofiya Nasution Slamet Susanto Sobir Sobir Soemartono Sosromarsono Soemartono Sosromarsono Sri Hartati Sri Hartati Sri Hartati Sri Sulandari Sri Sulandari Sri Sulandari Sriani Sujiprihati Sriani Sujiprihati Sriani Sujiprihati SRIANI SUJIPRIHATI Sugeng Santoso Supramana Suryo Wiyono Susanti Mugi Lestari Tega Kintasari Titiek YULIANTI TRI ASMIRA DAMAYANTI TRI JOKO SANTOSO Trikoesoemaningtyas Trimuri Habazar TRIMURTI HABAZAR Triyani Dumaria Tutik Harmiyati, Tutik Ummu S. Rustiani Ummu Salamah Rustiani Utomo Kartosuwondo UTOMO KARTOSUWONDO Utomo Kartosuwondo UTOMO KARTOSUWONDO UTOMO KARTOSUWONDO Vinsen Willi Wardhana Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Willing Bagariang Zahratul Millah