Claim Missing Document
Check
Articles

Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 18 No. 1, Januari 2022 Hidayat, Sri Hendrastuti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.1.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Indonesian Journal of Phytopathology Vol. 18 No. 1, Januari 2022
Insect Vector and Seedborne Transmission of Papaya ringspot virus Hidayat, Sri Hendrastuti; Harmiyati, Tutik; Adnan, Abdul Muin
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.3.101-106

Abstract

Insect Vector and Seedborne Transmission of Papaya ringspot virus Ringspot disease of papaya caused by Papaya ringspot virus (PRSV) is widely spread in Indonesia. Dissemination of this disease is known to occur through infected seedlings and aphid vectors. This study was conducted to determine transmission efficiency of PRSV through two aphid species, i.e. Aphis gossypii and Myzus persicae and to confirm that PRSV cannot be transmitted through seeds. Aphid transmission of PRSV isolate from Medan was carried out in papaya var. California with an acquisition feeding period and an inoculation feeding period of 10 minutes each. A minimum of 5 A. gossypii and 10 M. persicae were required for successful PRSV transmission. Transmission of PRSV by A. gossypii resulted higher disease incidence and more severe disease symptoms than transmission by M. persicae. Disease symptoms was not observed in all papaya seedlings grown from seeds extracted from fruits showing ringspot symptoms. Detection of PRSV by reverse transcription polymerase chain reaction method showed no amplification of specific DNA fragment of PRSV. The results of this study confirmed the potential of aphids as PRSV vectors and proved that PRSV was not seed borne.
Infrared Thermography for Early Detection of Pepper yellow leaf curl virus on Chili Plants Triyani Dumaria; Sri Hendrastuti Hidayat; Purnama Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.1.1-10

Abstract

Infrared Thermography for Early Detection of Pepper yellow leaf curl virus on Chili Plants Observations of plant pests and diseases are generally carried out by looking for visual symptoms for each disease target. Agricultural technology 4.0 began to be used for the development of plant disease detection methods. It was reported that there were differences in color and temperature between diseased and healthy plants which could be recorded by a thermal camera. This study aimed to determine the potential of the FLIR One Pro-IOS thermal camera to record differences in color and temperature between viral-infected and healthy chili plants. Chili plants in the greenhouse that were inoculated with Pepper yellow leaf curl virus (PYLCV) experienced an increase in temperature 3 days after inoculation (28.62 ℃) compared to plants that were not inoculated with PYLCV (27.32 ℃). Digital image recording of chili leaf samples from the field showed that plants infected by multiple viruses (Chilli veinal mottle virus, Pepper mottle virus and PYLCV) has higher temperature than those infected with a single virus. The lowest and highest mean temperatures were recorded in plant samples infected with PepMV (17.74 ℃) and mixed infected by PYLCV and ChiVMV (25.68 ℃). Digital images of virus-infected plants tend to show a predominance of bright yellow, while virus-free plants showed a predominance of dark purple. Further analysis confirmed higher digital numbers for diseased plant images than healthy plants. The thermography method has the potential to be an early detection method because it can detect viral infection before visual symptoms appear.
Korelasi Keparahan Penyakit Belang dan Kelimpahan Serangga Vektor Terhadap Hasil Panen Lada Miftakhurohmah; Wahyuno, Dono; Hidayat, Sri Hendrastuti; Mutaqin, Kikin Hamzah; Soekarno, Bonny Poernomo Wahyu
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.3.127-132

Abstract

Korelasi Keparahan Penyakit Belang dan Kelimpahan Serangga Vektor Terhadap Hasil Panen Lada Epidemi penyakit virus tular serangga dipengaruhi oleh interaksi antara tanaman inang, virus dan vektornya serta kondisi lingkungan. Dua spesies kutuputih yaitu Planococcus minor dan Ferrisia virgata diketahui sebagai vektor virus belang pada tanaman lada (Piper nigrum). Penelitian dilakukan untuk menentukan faktor utama yang berpengaruh terhadap penyebaran penyakit belang di lapangan. Pengamatan dilakukan terhadap 30 tanaman lada umur produktif di kebun Sukabumi, Jawa Barat. Peubah yang diamati ialah kelimpahan kutuputih, keparahan penyakit, dan produksi lada. Keparahan penyakit dan produksi lada diamati selama tiga musim berturut-turut, sedangkan jumlah kutuputih dihitung selama satu tahun dengan interval dua bulan sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan kutuputih tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat keparahan penyakit dan produksi lada. Hal ini mengindikasikan bahwa serangga vektor bukan menjadi faktor utama yang terlibat dalam penyebaran penyakit. Regresi linear sederhana antara keparahan penyakit dan produksi lada menunjukkan korelasi negatif dengan koefisien determinasi R2 sebesar 0.4351 mengindikasikan efek yang berlawanan antara keparahan penyakit dan produksi lada. Peningkatan keparahan penyakit akan menurunkan produksi lada dengan kategori sedang. Penggunaan bibit bebas virus dan praktik budi daya lada yang baik akan menghambat perkembangan dan penyebaran penyakit di lapangan yang akan berpengaruh terhadap produksi optimal yang berkesinambungan.
Intensity of Main Disease in Several Superior Sugarcane Clones at Krebet Baru Sugar Factory, Malang Rizqiyah, Sakinah Inayatur; Yulianti, Titiek; Hidayat, Sri Hendrastuti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.6.231-238

Abstract

Tebu (Saccharum officinarum) merupakan tanaman perkebunan penting sebagai penghasil utama gula di Indonesia. Penurunan produksi gula tebu dalam beberapa tahun terakhir tidak sejalan dengan permintaan gula tebu yang kian meningkat. Pemuliaan tanaman diarahkan untuk mendapatkan varietas-varietas tebu unggul yang diharapkan memiliki produktivitas tinggi dan tahan terhadap faktor-faktor gangguan yang dapat menurunkan produktivitas tanaman. Pengamatan penyakit mosaik bergaris (Sugarcane streak mosaic virus/SCSMV), pokahbung (Fusarium moniliforme), dan luka api (Sporisorium scitamineum) dilakukan pada 14 klon tebu unggul di PG Krebet Baru, Malang. Pengamatan intensitas penyakit dilakukan setiap 2 minggu selama 3 bulan dan sampel tanaman yang menunjukkan gejala penyakit dideteksi penyebab penyakitnya di laboratorium. Gejala penyakit mosaik bergaris terjadi pada tiga klon tebu dengan intensitas antara 8.33% dan 63.89%; sedangkan gejala penyakit pokahbung dan luka api ditemukan pada 11 dan 14 klon tebu dengan intensitas berturut-turut 2.78% sampai 22.22% dan 11.11% sampai 25%. Konfirmasi keberadaan SCSMV diperiksa dengan metode polymerase chain reaction; sedangkan cendawan F. moniliforme dan S. scitamineum melalui isolasi jaringan dan pengamatan jaringan meristem. Secara umum insidensi penyakit tergolong rendah pada klon 8 dan 12 sehingga klon tersebut dapat direkomendasikan sebagai klon potensial yang digunakan dalam mengendalikan penyakit utama tebu.
Mass Rearing of Foliar Nematode Aphlenchoides fragariae on Fungal Culture: Mass Rearing of Foliar Nematode Aphlenchoides fragariae on Fungal Culture Kurniawati, Fitrianingrum; Supramana; Hidayat, Sri Hendrastuti; Tondok, Efi Toding; Syafutra, Heriyanto
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.1.24-31

Abstract

Nematoda daun Aphelenchoides fragariae mempunyai inang yang luas dan dapat berperan sebagai parasit tumbuhan maupun pemakan cendawan. Belum ada informasi terkait teknik perbanyakan A. fragariae di Indonesia. Penelitian untuk memperoleh jumlah nematoda A. fragariae yang murni perlu dilakukan untuk mendukung penelitian di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk memperbanyak A. fragariae menggunakan biakan cendawan pada tiga suhu yang berbeda dan menghitung jumlah nematoda. Biakan cendawan yang digunakan ialah, Alternaria porri, Botrytis cinerea, Fusarium oxysporum f. sp. cepae, Pythium sp., dan Rhizopus sp. Lima spesies cendawan tersebut diinkubasikan pada tiga suhu. Untuk memperoleh kondisi yang sesuai, biakan cendawan diinkubasi pada tiga suhu yang berbeda. Sebelum ditumbuhkan dalam biakan cendawan, nematoda dicelupkan ke dalam larutan streptomisin sulfat 0.1%, kemudian dicuci menggunakan air steril. Selanjutnya, 20 nematoda steril diinfestasikan pada biakan cendawan berumur 7 hari dan diinkubasi pada suhu 16, 28, dan 37 ℃. Setelah 28 hari, nematoda dipanen dan dihitung jumlahnya. Di antara spesies cendawan yang diuji sebagai media pemeliharaan, biakan terbaik untuk reproduksi A. fragariae ialah Alternaria porri pada suhu 28 ℃, dengan jumlah nematoda akhir rata-rata hingga 407.8 per cawan petri Pada suhu 37 ℃ A. fragariae gagal bereproduksi di semua biakan cendawan yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa di antara ketiga suhu tersebut, yang paling mendukung pertumbuhan dan perkembangan nematoda ialah 16 dan 28 ℃, yang paling tidak mendukung adalah 37 ℃.
Potensi Mikrob Endofit dalam Menekan Penyakit Busuk Umbi pada Tanaman Bawang Merah: Potential of Endophytic Microbes in Suppressing Basal Rot Disease in Shallot Plants Sari, Rahmah Dian; Tondok, Efi Toding; Dinarti, Diny; Hidayat, Sri Hendrastuti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.3.115-125

Abstract

Bawang merah adalah salah satu komoditas hortikultura unggulan di Indonesia. Salah satu kendala produksi bawang merah di Indonesia adalah penyakit busuk pangkal yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Beberapa mikrob endofit telah dilaporkan perannya sebagai agens hayati dan efektif menekan penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan Bacillus siamensis, Chaetomium sp., Cuvularia lunata, dan Trichoderma asperellum dalam menekan pertumbuhan F. oxysporum. Mikrob endofit merupakan koleksi Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor. Pengujian secara in vitro dilakukan dengan metode uji koloni ganda dan uji produksi senyawa organik volatil (SOV) anticendawan dengan metode tangkup. Pengujian SOV dilakukan pada medium ADK dan TSA dengan tingkat konsentrasi, yaitu 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Uji in vivo dilakukan dengan menanam umbi bawang merah setelah direndam dalam suspensi mikrob endofit, kemudian dilakukan inokulasi F. oxysporum pada 1 minggu setelah tanam. Hasil uji koloni ganda menunjukkan hambatan sebesar 51.41% (B. siamensis), 71.04% (Chaetomium sp.), 69.45% (C. lunata), dan 74.55% (T. asperellum), sedangkan uji produksi SOV menunjukkan nilai THR yaitu 34.45% (B. siamensis), 14.53% (Chaetomium sp.), 35.23% (C. lunata), dan 42.57% (T. asperellum). Penghambatan insidensi penyakit oleh mikrob endofit pada uji in vivo berkisar 60.00% sampai dengan 73.33%.
Diversity of Colletotrichum Species Assosiated with Imported Citrus Fruits, and their Potential to Infect Chili, Rubber, and Cacao Trees in Indonesia: Diversity of Colletotrichum Species Assosiated with Imported Citrus Fruits, and their Potential to Infect Chili, Rubber, and Cacao Trees in Indonesia Hidayat, Joni; Hidayat, Sri Hendrastuti; Wiyono, Suryo; Widodo
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.3.140-153

Abstract

Spesies Colletotrichum telah banyak dilaporkan sebagai agens penyebab penyakit antraknosa pada tanaman jeruk. Importasi buah jeruk dari beberapa negara produsen ke Indonesia berpotensi membawa masuk spesies Colletotrichum yang belum dilaporkan terdapat di Indonesia. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi spesies Colletotrichum yang terbawa melalui impor jeruk dan mengevaluasi potensinya menginfeksi tanaman hortikultura dan perkebunan penting di Indonesia. Sebanyak 7 isolat Colletotrichum diisolasi dari buah jeruk impor asal Cina, Pakistan dan jeruk lokal asal Indonesia. Isolat-isolat Colletotrichum tersebut diamati karakter morfologi dan molekulernya serta patogenisitasnya pada tanaman jeruk, cabai, karet, dan kakao. Analisis filogenetik dilakukan dengan metode analisis multilokus gen (multilocus sequence analysis) dengan mengombinasikan lokus gen ITS, ACT, TUB2, dan GAPDH. Identifikasi isolat Colletotrichum menghasilkan satu spesies grup C. boninense kompleks spesies (C. karstii), 3 spesies grup C. gloeosporioides kompleks spesies (C. fructicola, C. gloeosporioides sensu stricto, dan C. siamense). Isolat Colletotrichum asal jeruk Indonesia diidentifikasi sebagai C. gloeosporioides s.s. Strain C. fructicola mampu menginfeksi cabai, sedangkan strain C. karstii menginfeksi cabai, dan kakao. Strain C. gloeosporioides s.s. dan C. siamense memiliki kisaran inang yang lebih luas yaitu cabai, karet, dan kakao. Beberapa spesies Colletotrichum yang terbawa oleh buah jeruk impor berpeluang menjadi patogen pada beberapa tanaman penting di Indonesia, yaitu cabai, karet, dan kakao.
Tar spot disease of sorghum plants caused by Phyllachora sp. in Bogor, Gunung Kidul and West Lombok, Indonesia Astuti, Dwi; Wiyono, Suryo; Hidayat, Sri Hendrastuti; Trikoesoemaningtyas, Trikoesoemaningtyas; Nugroho, Satya
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika Vol. 23 No. 1 (2023): MARCH, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA: JOURNAL OF TROPICAL PLANT PE
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhptt.12338-46

Abstract

The sorghum (Sorghum bicolor) plant is highly tolerant and adapted to drought. It has the potential to be developed and planted on marginal land in Indonesia. Tar spot disease is one of the obstacles to sorghum cultivation. In Indonesia, there is no report yet about this disease, especially on sorghum. To achieve optimal disease management, information on disease incidence and severity levels, as well as pathogen tar spot disease identification, are required. The aims of this study were to morphologically identify the pathogen and determine the level of incidence and severity of tar spot in sorghum cultivation areas in Bogor Regency, Gunung Kidul Regency, and West Lombok Regency. The disease observations were carried out on 17 sorghum varieties from the three areas with no experimental design. The results of the observation of the tar spot disease incidence in 17 varieties of sorghum from Bogor, Gunung Kidul, and West Lombok were 100%. The level of tar spot disease severity varied from 32.4% in the Latu Keta sorghum variety to the highest of 87.9% in the Samurai sorghum variety. The macroscopic and microscopic observation results of tar spot on sorghum plants showed that the cause of the tar spot disease was the Phyllachora fungi. This is the first report of a tar spot on sorghum caused by Phyllachora sp. in Indonesia.
Incidence of main viruses infecting local garlic in Java, Indonesia Hidayat, Sri Hendrastuti; Meliyana; Refa Yulianingsih; Diny Dinarti; Sari Nurulita
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika Vol. 23 No. 2 (2023): SEPTEMBER, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA: JOURNAL OF TROPICAL PLAN
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhptt.2237-15

Abstract

Virus infection is one of the challenges in garlic production due to it perpetuates from one generation to the next and its infection caused huge yield reduction. There was still few information regarding virus status on Indonesian local garlic cultivars. This study was aimed to detect four major viruses infecting local garlic in Indonesia, they were members of genus Potyvirus (Onion yellow dwarf virus/OYDV, Leek yellow stripe virus/LYSV), and Carlavirus (Garlic common laten virus/ GCLV and Shallot latent virus/SLV). Garlic samples were obtained from IPB University collection and field survey in Tegal and Karanganyar (Central Java Province). Dot immuno-binding assay (DIBA) was done for initial virus indexing on non-commercial and commercial cultivars. Reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) using four specific primers was done to detect virus on commercial cultivars. DIBA from leaf samples showed that virus incidence of OYDV was relatively higher (92.3 to 100%) than GCLV and SLV (84.6 to 100%) from all tested cultivars. On average, ‘Lumbu Hijau’ has the lowest level of virus titter (severity) than other cultivars. The virus incidence of both bulbil and single clover was similar (97 – 100%) while virus titter of OYDV, GCLV, and SLV on bulbil was the lowest than other propagation materials. Detection by RT-PCR from two commercial cultivars showed that ‘Lumbu Hijau’ has less virus incidence than ‘Jawa Lama’. LYSV, OYDV, GCLV were detected on both cultivars but SLV was not found. Further virus indexing using larger number of samples and involving more virus targets needs to be done.
Co-Authors . SUDARSONO Abdul Muin Adnan ABDUL MUNIF ALI NURMANSYAH Amelia Feryna Bulan Dini Ana Septiana Saputri Anas Dinurrohman Susila Aqlima , Aqlima, nFN Arifin Tasrif Asmar Hasan Asniwita Asniwita Astri Windia Wulandari Wulandari ATI SRI DURIAT Awang Maharijaya Ayu Kartini Parawansa Bambang S. Purwoko Bambang Sapta Purwoko Bonny Poernomo Wahyu Soekarno Bonny Poernomo Wahyu Soekarno Bonny Purnomo Wahyu Soekarno Bonny Purnomo Wahyu Soekarno Budi Tjahjono Darni Rambu D. Siala Dewa Gede Wiryangga Selangga Dewa Gede Wiryangga Selangga Diny Dinarti Dono Wahyuno Dono Wahyuno Dwi Astuti DWI SUBEKTI Dwi Subekti Dwi Wiyati Nurul Septariani Dwiwiyati Nurul Septariani Efendi, Darda Efi Toding Tondok Eliza Suryati Rusli Endang Nurhayati Endang Nurhayati Evan P. Ramdan Farida, Naimatul Fitrianingrum Kurniawati, Fitrianingrum Gede Suastika Gede Suastika GEDE SUASTIKA GEDE SUASTIKA Gede Suastika Gede Suastika Giyanto Giyanto Giyanto Hamdayanty Hamdayanty Hanif, Andini Hari Priwiratama Harwan Susetio Heriyanto Syafutra I Wayan Winasa Ifa Manzila Ifa Manzila Ika Mariska Ika Mariska Irsan Nuhantoro Ishak Manti ISHAK MANTI Isti Wulandari Jamsari Jamsari Jati Adiputra John Thomas, John Joni Hidayat, Joni Jumanto Harjosudarmo Jumanto Harjosudarmo JUMANTO HARJOSUDARMO Jumsu Trisno Kadwati Kadwati Kikin H Mutaqin KIKIN HAMZAH MUTAQIN Ladja, Fausiah T. Laksono Trisnantoro Listihani, Listihani Mawarni, Sofi Meity S Sinaga Meity S. Sinaga MEITY S. SINAGA, MEITY S. Meity Suradji Sinaga Meity Suradji Sinaga Meity Suradji Sinaga Meity Suradji Sinaga Melinda . Meliyana Memen Surahman Miftakhurohmah Miftakhurohmah Miftakhurohmah Mimi Sutrawati Muh. Taufik Muhamad Syukur Muhammad Herman MUHAMMAD TAUFIK Muhammad Taufik Muhammad Taufik Nada, Azmi Khoirin Neni Gunaeni Niken Nur Kasim, Niken Nur Nissa Fawwaz Adilah NOOR AIDAWATI ORAWAN CHATCHAWANKAN PANICH Prabawati Hyunita Putri Puji Lestari PURNAMA HIDAYAT Purwoko, Bambang Sapto Purwono Purwono Rahayuwati, Sat RAHMI YUNIANTI Ramdan, Evan Purnama RAUF, AUNU Redy Gaswanto Redy Gaswanto, Redy Refa Yulianingsih Reymas M.R. Ruimassa Rina Rachmawati Rita Noveriza Rita Noveriza RITA NOVERIZA Rita Noveriza Rizqiyah, Sakinah Inayatur Rokhana Faizah Roy Ibrahim RR. Ella Evrita Hestiandari Rusmilah Suseno RUSMILAH SUSENO Rustiani, Ummu S. Saiful Akhyar Lubis Sari Nurulita Sari Nurulita Sari, Rahmah Dian Sarsidi S astrosumarjo Sarsidi Sastrosumarjo Satya Nugroho Sayekti, Tri Wahono Dyah Ayu Sherli Anggraini Sientje Mandang Sumaraw Siregar, Ivan Arif Rachman Martua Siti Hafsah Siti Shofiya Nasution Slamet Susanto Sobir Sobir Soemartono Sosromarsono Soemartono Sosromarsono Sri Hartati Sri Hartati Sri Hartati Sri Sulandari Sri Sulandari Sri Sulandari Sriani Sujiprihati Sriani Sujiprihati Sriani Sujiprihati SRIANI SUJIPRIHATI Sugeng Santoso Supramana Suryo Wiyono Susanti Mugi Lestari Tega Kintasari Titiek YULIANTI TRI ASMIRA DAMAYANTI TRI JOKO SANTOSO Trikoesoemaningtyas Trimuri Habazar TRIMURTI HABAZAR Triyani Dumaria Tutik Harmiyati, Tutik Ummu S. Rustiani Ummu Salamah Rustiani Utomo Kartosuwondo UTOMO KARTOSUWONDO Utomo Kartosuwondo UTOMO KARTOSUWONDO UTOMO KARTOSUWONDO Vinsen Willi Wardhana Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Widodo Willing Bagariang Zahratul Millah