Claim Missing Document
Check
Articles

DAMPAK PEMBANGUNAN JALAN POROS PARIWISATA KENDARI-TORONIPA TERHADAP MASYARAKAT BAJO DI DESA LEPPE KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE Muhammad Olland Efendi; Rahmat Sewa Suraya
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol. 7 No. 1 (2023): Volume 7, Nomor 1, Juni 2023
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan dampak ekologis yang terjadi pada masyarakat Bajo di Desa Leppe Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe dengan adanya pembangunan jalan poros pariwisata Kendari-Toronipa dan mendeskripsikan atau mengetahui dampak Sosial yang terjadi pada masyarakat Bajo di Desa Leppe Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. menggunakan pendekatan kualitatif dengan tiga cara trigulasi yakni melakukan pengamatan terlibat langsung di lapangan, wawancara terhadap informan dan catatan lapangan untuk memperoleh data sebanyak-banyaknya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, bentuk dampak ekologis dan sosial pada masyarakat bajo bahwa dapat diketahui hal ini disebapkan akibat pembangunan jalan porospariwisata Kendari-Toronipa. Kedua dampak tersebut mempengarugi aktivitas masyarakat bajo karena terjadinya perubahan lingkungan serta kurangnya kebijakan pemerintah dalam mengelolah sumber daya masyarakat nelayan sehingga berefek pada masyarakatnelayandansosialmasyarakatbajo. Adapun manfaat jalan poros pariwisata Kendari-Toronipa yakni sebagai pengembangan wisata unggulan dan mobilitas.
BERBAGI PENGALAMAN BERSAMA MASYARAKAT BUTON UTARA TENTANG PENGETAHUAN LOKAL DALAM PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI JAMBU METE Syahrun Syahrun; La Niampe; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Topo Jers; Laxmi Laxmi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023): Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i4.20554

Abstract

Pengetahuan lokal memiliki peran penting dalam praktik pertanian. Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk berbagi pengalaman bersama masyarakat Buton Utara tentang pengetahuan lokal masyarakat tentang penggunaan organik dalam meningkatkan produksi jambu mete di Kabupaten Buton Utara. Metode dalam PKM ini adalah diskusi secara berkelompok yang di dahului dengan pengumpulan data wawancara dan dilanjutkan diskusi bersama masyarakat terhadap pengalaman yang dimiliki dalam mengelola perkebunan jambu mete. Hasil PKM menunjukkan bahwa masyarakat petani di wilayah ini memiliki pengetahuan lokal yang mendalam tentang cara membuat dan menerapkan pupuk organik yang efektif yang bersumber dari lingkungan alam sekitarnya. Kemudahan masyarakat dalam mengelola jambu mete berhubungan erat dengan hasil yang diperoleh dengan menerapkan cara penggunaan pupuk organik secara luas. PKM ini juga merekomendasikan penguatan program edukasi dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan petani dalam menggunakan pupuk organik secara berkelanjutan.
KAFURUI SEBAGAI PENGOBATAN ALTERNATIF PATAH TULANG PADA MASYARAKAT MUNA DI DESA LIANGKABORI Nur Kisa; Rahmat Sewa Suraya
KABANTI : Jurnal Kerabat Antropologi Vol. 7 No. 2 (2023): Volume. 7 Nomor 2. Desember 2023
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kafurui (massage) is a traditional healing or health therapy method, by applying pressure to the body either in a structured, unstructured, sedentary or moving place by applying pressure and done manually.This study aims to find out and describe the reasons why people choose Kafurui as an alternative treatment for fractures and to find out the process carried out by shamans in treating fracture patients in Liangkabori Village.The data collection technique used in this research is field research technique using two methods, namely involved observation and in-depth interviews. The results of this study indicate that people choose Kafurui as an alternative treatment due to several factors, namely habit factors, economic factors, experience factors and easy-to-reach factors. The process of treating fracture patients depends on the type of fracture, the process of treating mild fractures, the shaman touches the broken part while saying two sentences of shahada after which the patient begins to be sequenced (kafurui). Severe fractures that are accompanied by wounds are not massaged at the beginning of treatment, but only blown with mantras, until the wounds begin to heal, then the sequencing process begins. The first step taken by the shaman is to reposition the bones or rearrange the bones that have been crushed so that they can return to their previous arrangement by sequencing. In this sugar cane fracture, since the patient came for treatment, the sequencing process has begun because there is no wound so that infection will not occur.
RITUAL KASAMBUNO WITE PADA TRADISI PERLADANGAN MASYARAKAT MUNA Mirna Yanti; La Ode Ali Basri; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 1 No 1 (2018): Volume 1 Nomor 1, Januari - Juni 2018
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v1i1.844

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah, (1) Untuk mengetahui mengapa masyarakat Muna di Desa Lupia selalu melakukan Ritual Kasambuno Wite, (2) Untuk mengetahui proses pelaksanaan Ritual Kasambuno Wite pada masyarakat Muna di Desa Lupia, (3) Serta untuk mengetahui makna yang terkandung dalam Ritual Kasambuno Wite di Desa Lupia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data, dilakukan dengan teknik pengamatan partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, serta perekaman/video. Data dianalisis dengan tekhnik sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan ritual Kasambuno Wite selalu dilaksanakan oleh masyarakat Muna di Desa Lupia karena didasari oleh beberapa alasan: (1) Untuk melestarikan tradisi, (2) Adanya keyakinan masyarakat bahwa ritual Kasambuno Wite dapat mencegah hama pada tanaman, (3) Upaya menghindari gangguan makhluk gaib. Pelaksanaan Ritual Kasambuno Wite dilakukan melalui beberapa tahap pelaksanaan, yakni: (1) Pelaksanaan pada saat pra-upacara (2) Pelaksanaan upacara, yakni proses pelaksanaan Ritual Kasambuno Wite. Makna dalam pelaksanaan Ritual Kasambuno Wite, terdiri atas dua, yaitu (1) Makna religi (2) Makna ekonomi.
UPACARA HAROA BHANTEA PADA MASYARAKAT KULISUSU Naswati Naswati; La Ode Dirman; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 1 No 2 (2018): Volume 1 Nomor 2, Juli-Desember 2018
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v1i2.854

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses, fungsi dan makna dalam pelaksanaan upacara haroa bhantea pada masyarakat Kulisusu di desa Tomoahi Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini dihadirkan informan yang berasal dari pemimpin upacara (Moji), dan tokoh masyarakat, yang diambil secara sengaja (purposive sampling). Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan Haroa Bhantea pada masyarakat Tomoahi, masih melakukan Haroa Bhantea dengan menyiapkan sesajen seperti ketupat, rokok, kapur, daun sirih, buah pinang, dan salea, untuk dipersembahkan kepada rumah jaga (Bhantea) dan para Sangia. Serta fungsi upacara sebagai bentuk sosialisasi antara sesama masyarakat Tomoahi maupun Moji dengan roh-roh halus Sedangkan makna upacara terdiri dari tiga cakupan yaitu makna religi yang percaya kepada adanya roh-roh halus yang memiliki kesaktian, makna sosial sebagai bentuk terjalinnya sosialisasi antara satu dengan yang lain, dan makna simbolik yang terdapat dalam setiap sesajen maupun benda-benda dalam Haroa Bhantea.
TRADISI PENGOBATAN SAPULEI PADA MASYARAKAT DESA GUNUNG SEJUK: KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN EKSISTENSI PENGOBATAN Ayyuh S Ayyuh S; La Ode Dirman; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 1 (2021): Volume 4 Nomor 1, Januari-Juni 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v4i1.1172

Abstract

Tradisi sapulei adalah tradisi yang berasal dari Desa Gunung Sejuk yang digunakan untuk mengobati penyakit kulit yang disebut humendeno. Adapun bentuk dari humendeno yaitu kalumera, kukusewa, dan kawincu yang disebabkan olweh pergantian musim dan rewu (kesalahan atau kotoran) orang tua di masa lalu atau saat mengandung si pasien selama Sembilan bulan, dengan tujuan untuk mengeluarkan penyakit dari tubuh pasien sehingga tidak menetap dalam tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan menganalisis eksistensi pengobatan sapulei pada masyarakat Desa Gunung Sejuk Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pengobatan sapulei yaitu pelaksanaannya menggunakan beberapa media seperti air (e’e), santan kelapa (santa kunde’e), dan minyak tawon (mina goso). Eksistensi sapulei memiliki aspek bertahan yaitu fungsi solidaritas dan fungsi religi yang menjadi faktor sapulei dapat bertahan. Aspek terancam punah yaitu adanya sistem pengobatan modern yang menyebabkan perubahan pola pikir masyarakat.
Poghiraha Adhara (Perkelahian Kuda) pada Masyarakat Muna La Ode Usman; Wa Ode Sifatu; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 6 No 1 (2023): Volume 6 No 1, Juni 2023
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v6i1.1203

Abstract

The purpose of this study is (1) to find out or analyze how the Muna people's oral form towards horses in West Muna Regency (2) what is the meaning of horse fighting in the Muna community in West Muna Regency. The method used in this study is qualitative research. Data collection was carried out using observation techniques (observation) in-depth interviews and documentation. The technique of determining informants in this study was carried out purposively. Data analysis techniques are as follows: data collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this study indicate that (1) The oral form of the Muna people in Latugho Village in the Pogiraha Adhara Tradition (Horse Fighting) in West Muna Regency. (2) The meaning of horse fighting in the Muna community in West Muna Regency contains moral messages about the courage of a man to maintain his dignity if his property rights are violated by others. In preparation, we as horse handlers must also understand what horses must participate in the arena, because it is not only about the existence of horses but also a high self-esteem value of the horse handler himself. In horse fighting, there is a special technique in defeating the opponent's horse, and that is why before being shown in the arena, a horse trainer usually trains the parts of the horse that can quickly defeat its opponent, including training the back legs as support when facing, training the front legs to push and also injure until the most fatal part is using its mouth to bite its opponent, usually the parts of the body that make the opponent give up quickly are the neck and also the genitals of the opponent's horse.
TARI MOMAANI DALAM PROSESI ADAT METIWAWA PADA ETNIK MORONENE DI KECAMATAN RUMBIA KABUPATEN BOMBANA iman saputra; Rahmat Sewa Suraya; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1346

Abstract

Tari momaani merupakan salah satu jenis tari tradisional yang dimiliki oleh masyarakat moronene dan berbentuk tari perang sekaligus tari penyambutan. Tujuan dalam penelitian ini adalah, (1) Untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari momaani dalam prosesi metiwawa pada etnik moronene di Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana, (2) Untuk menganalisis makna gerak tari momaani dalam prosesi metiwawa pada etnik moronene di Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana, (3) Untuk mengetahui fungsi tari momaani dalam prosesi metiwawa pada etnik moronene di Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana. Penelitian ini dilakukan mulai bulan april sampai mei pada tahapan pra-observasi dan penelitian secara utuh mulai bulan juni sampai juli, yang dilaksanakan bertempat di Kelurahan Doule Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung, wawancara terhadap informan dan dokumentasi, penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling, analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikkan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua bentuk penyajian tari Momaani, pertama digunakan sebagai pengawal raja (mokole), yang kedua digunakan sebagai pengawal tinaniwawa atau mempelai wanita pada saat prosesi metiwawa atau tradisi pengataran mempelai wanita menuju kediaman mempelai pria untuk melakukan proses pernikahan atau akad nikah, selain perubahan yang terjadi pada media pelaksaannya, terdapat juga perubahan dalam bentuk tahapan pelaksanaan tari yaitu pada saat melakukan pengawalan terhadap raja, penari terlebih dahulu melakukan ritual mebaho kabala (mandi kebal), sedangkan pada saat metiwawa para penari tidak melakukan ritual pemandian tersebut, akan tetapi makna gerak dan fungsi tari momaani masih dipercaya dan diterapkan oleh masyarakat moronene,berdasarkan hasil penelitian tersebut tari momaani yang dilakukan pada saat ini termasuk dalam tari tradisional yang telah dikreasikan dalam bentuk yang lebih modern yang meyebabkan hilangnya sebagian nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tari momaani tersebut.
RITUAL SINGKU SARIGAPADA MASYARAKAT KELURAHAN KADOLOKATAPI KECAMATAN WOLIO KOTA BAUBAU adrita adrita; La Ode Dirman; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 3 No 2 (2020): Volume 3 Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v3i2.1347

Abstract

ADRITA (N1E1 16 003 ): telah melakukan penelitian deangan judul “Ritual Singku Sariga (doa selamat ) pada mayarakat Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Baubau”. Dibimbing oleh Bapak Dr. La Ode Dirman.,M.Si dan Rahmat Sewa Suraya, S.Sos., M.Si Penelitian dilakukan di Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Baubau dengan tujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan dan makna simbolik yang terkandung dalam ritual singku sariga pada suku buton di Kelurahan Kadolokatapi Kecamatan Wolio Kota Baubau Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskripsi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pelaksanaan ritual singku sariga memiliki beberapa tahap yaitu (1) tahap persiapan bahan ritual singku sariga (2) tahap pelaksanaan (3) tahap akhir. Makna simbolok dalam ritual singku sariga yaitu makna alat dan bahan sesajin berupa dupa,telur,waje,cucur,pisang,tuli-tuli. Secara umum makna ritual singku sariga yaitu meminta perlindungan kepada Allah SWT, supaya dilindungi dari gangguan mahluk hajus/ mahluk gaib serta memudahkan pertumbuhan bayi. Makna yang terkandung dalam pelaksanaan singku sariga (doa selamat) adalah harapan lahirnya bayi bisa tumbuh dengan normal dan sempurna seperti anak lainya serta di berikan umur pannjang dan kesehatan
POLA PEWARISAN KEPEMIMPINAN PUUTOBU PADA MASYARAKAT TOLAKI DI DESA TIRAOSU KECAMATAN KOLONO KABUPATEN KONAWE SELATAN Alfi Seftiawan; Abdul Alim; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 4 No 2 (2021): Volume 4 Nomor 2, Juli-Desember 2021
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v4i2.1379

Abstract

Puutobu merupakan salah satu jabatan tradisional yang memiliki pengaruh sangat besar dalam urusan adat dan budaya pada masyarakat Suku Tolaki. Tujuanpenelitian ini adalah untuk menjelaskan pola pewarisan dan manfaat kepemimpinan Puutobu bagi masyarakat Tolaki di Desa Tiraosu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola pewarisan kepemimpinan Puutobu pada masyarakat Tolaki memiliki pewarisan melalui beberapa tahap belajar diantaranya bimbingan langsung dari Puutobu terdahulu, menghadiri kegiatan pelaksanaan adat di masyarakat, dan melaksanakan Kegiatan Adat Melalui Bimbingan Puutobu. Manfaat kepemimpinan puutobu bagi masyarakat Tolaki diantaranya Sebagai suri teladan, sebagai generasi tua yang ahli di bidang adat, sebagai pemimpin yang dihormati dan dicintai, serta Puutobu sebagai penegak hukum adat Tolaki.
Co-Authors A.A. Ngurah Anom Kumbara Abdul Alim Abdul jalil adrita adrita Agfar, Yasmi Agus Rihu Agus Rihu Agus Rihu Agus Rihu` Akhmad Marhadi Akhmad Marhadi Alfi Seftiawan Alias Alias Alias Alias Alias, Alias Almarsaban Almarsaban Andi Sinarwati Arfan Arfan Arif Wicaksono Arman Arman Ashmarita, - Ayyuh S Ayyuh S Ayyuh S Ayyuh S Basri, La Ode Ali Basrin Melamba Bilal Akbar Muhammad Arsad Boymin Burhan, Faika Damhuri Damhuri Dessiria Devianti, Devianti Elmy Selfiana Malik Erens Elvianus Ekoodoh Ervania Ervania Feni Feni Firmayanti Firmayanti Hamnianti Hamnianti Handriyani Sulastri Hapsah, Wa Ode Sitti Hazlan Heniman Heniman Herlina Haluru Hilwa Salsabila I Gusti Made Swastya Dharma Pradnyan I Ketut Suardika I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suarka Ida Bagus Gde Pujaastawa Ida Juliani iman saputra Irawati Tapasi Irfan Rahmad Husain Irma Magara Jaimun, Jaimun Jers, La Ode Topo Jusman Jusman Kadek Arni Suwedawati, Gusti Ayu Kiki Reski Wulandari Komang Wahyu Rustiani La Ino La Niampe La Niampe La Niampe La Ode Ali Basri La Ode Alwi La Ode Dirman La Ode Dirman La Ode Marhini La Ode Marhini La Ode Marhini La Ode Muhammad Ruspan Takasi La Ode Tarsani La Ode Topo Jers La Ode Topo Jers La Ode Usman lala andriani lestari Laras Mahardika Laxmi Laxmi Laxmi, Laxmi Lili Darlian lisna yani Lita Irnasari Marhini, La Ode Meldawati Mirna Yanti Muh Roy Muhammad Alkausar Muhammad Olland Efendi Muhammad Olland Efendi Mursin Musyarafatul Musyarafatul Naswati Naswati Ni Made Wiasti Nirmalasari Nirmalasari Nur Iman Nur Kisa Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati, Nurtikawati Nurul Hikmah Paramitha, Ni Made Ayu Susanthi Pradnya Pradnyan, I Gusti Made Swastya Dharma Putri Purnama Sari, Putri Purnama Putri Yani Putu Titah Kawitri Resen Rommy Rio Kauntu Rosnon, Mohd Roslan RR. Ella Evrita Hestiandari Rudy Kurniawan Rustiani, Komang Wahyu Safitri, Elsa Mayora Saldin S Salniwati Salniwati Salniwati, Salniwati Samsul Sandy Suseno Saputri, Shinta Arjunita Sarman Sarman Shinta Arjunita Saputri Shinta Arjunita Saputri Sidik, Wa Ode Islamia Sofia Sofia, Sofia Sri Wulandari Suseno, Sandi Suseno, Sandy Syahrun , Syahrun Syahrun, Syahrun Syahrun, Syahrun Syam sumarlin Thevistha, Visthalya Titin Hartini Topo Jers, La Ode Wa Eni Wa Ode Sifatu Wa Ode Siti Hafsah Wa Ode Sitti Hafsah Wa Ode Sitti Hapsah Wa Ode Suharti Wilda Wilda Yasmi Agfar Yusrifani, Yusrifani Zulfa Zulfa Zulfa Zulfa