Claim Missing Document
Check
Articles

PELATIHAN KULINER DALAM TRADISI HAROA PADA ETNIS MUNA DI KOTA KENDARI Suraya, Rahmat Sewa; Jers, La Ode Topo; Rustiani, Komang Wahyu; Nurtikawati, Nurtikawati; Resen, Putu Titah Kawitri
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i3.30329

Abstract

Haroa merupakan salah satu tradisi yang selalu dilaksanakan ketika ada peringatan penting pada etnis Muna di Sulawesi Tenggara seperti selametan, akikah, pembukaan lahan (kering/ basah), peringatan Isra Mi’raj, Maulid Nabi Muhammad SAW, maupun hari penting lainnya. Ketika melaksanakan Tradisi Haroa biasanya ada makanan yang disajikan dalam nampan, di dalamnya terdapat daun pisang sebagai pengalasnya. Aneka makanan dalam nampan tersebut merupakan kuliner khas tradisional masyarakat Muna. Makanan yang wajib tersaji seperti Cucur, Waje, Sirikaya, Lapa-Lapa, dan lainnya. Kuliner tersebut tidak pernah diganti dengan makanan lainnya, sebab masing-masing dari makanan tersebut sudah memiliki makna dan nilai filosofi tersendiri. Namun, belakangan ini masyarakat khususnya yang tinggal di Kota Kendari mengalami kesulitan dalam meramu dan menyajikan kuliner tersebut dan sangat jarang dijumpai di pasaran. Berdasarkan fenomena di atas maka, pelatihan pembuatan kuliner yang berkaitan dengan pelaksanaan tradisi haroa dirasa sangat penting demi keberlangsungan dan kebertahanan pelaksanaan tradisi haroa di Kota Kendari khususnya di Kelurahan Anduonohu. Pengabdian ini menggunakan metode ceramah, demonstrasi, pelatihan dan evaluasi hasil pelatihan agar masyarakat yang tinggal di kota mampu memahami jenis haroa, nilai filosofisnya serta mampu membuat dan menyajikan kuliner yang digunakan dalam tradisi haroa. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa adanya pemahaman baru yang diterima oleh warga khususnya di Kelurahan Andunohu terkait tradisi haroa cara mulai dari pembuatan hingga penyajian kuliner dalam tradisi haroa. Setelah dilaksanakan pengabdian, kini Etnis Muna mulai mewarisi kembali makanan tradisional Etnis Muna.
PELATIHAN OBSERVASI SAMPAH DAPUR Salniwati, Salniwati; Pradnyan, I Gusti Made Swastya Dharma; Suraya, Rahmat Sewa; Rustiani, Komang Wahyu; Sofia, Sofia; Safitri, Elsa Mayora; Wicaksono, Arif
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 4 (2024): Volume 5 No. 4 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i4.31510

Abstract

Kegiatan observasi merupakan salah satu teknik yang penting dalam melakukan penelitian. Kesalahan melakukan observasi akan berdampak pada kesalahan hasil penelitian. Pengabdian ini bertujuan untuk mengatahui manfaat yang diperoleh peserta pelatihan observasi sampah dapur setelah mengikuti pelatihan. Metode yang direalisasikan dalam kegatan ini adalah pelatihan obervasi dan praktik observasi dengan objek sampah dapur. Hasil kegiatan pengabdian menunjukan banyak manfaat yang diperoleh peserta kegiatan seperti memperoleh banyak pengetahuan dan ilmu baru tentang tata cara observasi, menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat, mampu mengidentifikasi sampah dapur, dan mampu mengkasifikasikan jenis sampah dapur. Pelatihan observasi pada sampah dapur dapat membuka cakrawala berfikit peserta untuk mengidentifkasi objek yang diobservasi, pengenalan terhadap realitas masyarakat dan ide baru untuk solusi masalah masyarakat, khususnya pada masalah sampah dapur.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PEMBUATAN BULETIN PURBAKALA EDISI DESEMBER 2023 Salniwati, Salniwati; Burhan, Faika; Suraya, Rahmat Sewa; Suseno, Sandy; Rustiani, Komang Wahyu; Pradnyan, I Gusti Made Swastya Dharma; Jaimun, Jaimun; Thevistha, Visthalya; Hikmah, Nurul
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.42947

Abstract

Tujuan kegiatan penegbdian ini yaitu untuk mendeskripsikan tahapan pelaksanaan kegiatan pelatihan dan pendampingan pembuatan Buletin Purbakala Edisi Desember 2023 dan mendeskripsikan Buletin Purbakala Edisi Desember 2023 yang dihasilkan oleh peserta kegiatan. Metode pengabdian ini dilakukan dengan 3 (tiga) tahapan yaitu tutorial, pelatihan dan pendampingan. Hasil kegiatan pengabdian ini menunjukan bahwa tahapan pelaksanaan kegiatan meliputi tutorial tentang konsep jurnalistk, produk jurnalistik, konsep buletin dan tata cara pembuatan buletin serta pembentukan tim redaksi. Tahap selanjutnya adalah pelatihan desain cover bulletin, desain layout, penentuan tema dan topik, tata cara menarasikan isi rubrik dan penyusunan daftar pustaka.  Tahap terakhir adalah pendampingan yang merupakan tindaklanjut pelatihan yang meliputi pendampingan finalisasi desain cover Buletin Purbakala Edisi Desember 2023, desain dan inovasi tampilan gambar, menarasikan gambar dalam rubrik, serta penyusunan daftar pustaka dengan style dan font tertentu. Selanjutnya, buletin yang dihasilkan oleh peserta kegiatan berupa buletin ilmiah dengan tema, “Arkeologi Islam” dan topiknya, “Memahami Jejak Peradaban Islam: Penelusuran Arkeologi Islam di Sulawesi Tenggara”. Buletin yang dihasilkan juga dilengkapi dengan cover, tim redaksi, desain layout, rubrik, narasi rubrik, halaman, dan daftar pustaka. Kegiatan pengabdian ini membawa dampak positif, baik dalam bidang ilmiah, skill maupun psikologis yang berupa dorongan dan antusias untuk berkarya, khususnya pada generasi muda yang merupaka peserta kegiatan.
THE BALINESE DIASPORA IN THE MULTICULTURAL SOCIETY OF SOUTHEAST SULAWESI Suraya, Rahmat Sewa; Rosnon, Mohd Roslan; Rustiani, Komang Wahyu; Salniwati, Salniwati; Kadek Arni Suwedawati, Gusti Ayu
Al-Qalam Vol. 30 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v30i1.1354

Abstract

Multiculturalism can generally affect cultural degradation and serve as a basis forconflict. However, the Balinese tribe in Southeast Sulawesi is different. This research aims to discuss the existence of transmigrants in Jati Bali Village, West Ranometo Subdistrict, South Konawe Regency, and the existence of the Balinese amidmulticulturalism in Southeast Sulawesi society. Semiotic, existential, and symbolicinteractionism theories were used to reveal the problems. The data were analyzed using a critical approach with a qualitative descriptive method. The results showed that the Balinese were able to adapt, which was characterized by social interactions such as religious, socially oriented, food security-oriented, and security and order oriented.To maintain the existence of the Balinese, they preserveBalinese customs and traditions, as evidenced by the Narayanan construction, the Balinese houses architecture, and the Ogoh-ogoh procession.
Simbol Stratifikasi Sosial orang Muna dalam Tradisi Karia (Pingitan) di Desa Kafoo-Foo, Kecamatan KontukowunaOWUNA,KAB.MUNA Nuria, Siti; Suraya, Rahmat Sewa; Rahman, Abdul; Almarsaban, Almarsaban
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 9 No 2 (2025): Volume 9, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/ysjd9j07

Abstract

This study is entitled “symbols of social stratification of Muna people in the karia (pingitan) tradition”. The purpose of this study is to find out the symbols of social stratification of muna people in the karia (pingitan) tradition and to describe the meaning contained in the karia (pingitan) tradition. Data collection in this study is direct research in the field using ordinary,observation methdos, ordinary interviews, and in-depth interfiews to data tracing. The result of this study indicate that the karia (pingitan) tradition contains symbols of markers between kaomu,walaka and maradika. where these markes can be seen at the time of kafoluku where there is a pitara. In the pitara there are parts that distinguish the groups, namely the kaomu group has two eggs on the head and two eggs on the feet. The walaka group has two eggs on the head and one egg on the foot and the maradika group has one egg on the head and one egg on the foot. Apart from that, in the karia (seclusion) tradition there are meanings contained such as  the meaning of pitara, facial makeup and bhoka (dowry)
Makna Simbolik Tradisi Were Baru Setelah Panen Suku Bugis di Desa Puu Waeya Kecamatan Mata Oleo Kabupaten Bombana Abdul Jalil; Rahmat Sewa Suraya; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2973

Abstract

Tradisi Were Baru adalah tradisi pascapanen padi yang dilaksanakan oleh Suku Bugis di Desa Puu Waeya, Kecamatan Mata Oleo, Kabupaten Bombana. Tradisi ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, namun sebagian warga mulai meninggalkannya akibat kurangnya pemahaman terhadap maknanya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi Were Baru serta menganalisis makna simbolik alat dan bahan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Were Baru melibatkan tiga tahapan utama: persiapan, pelaksanaan, dan penutupan. Selain itu, setiap benda yang digunakan, seperti bangkung (parang), uring (periuk), penne (piring), dupa, beras, telur, kemenyan, bumbu dapur, dan lauk pauk, memiliki makna simbolik yang merefleksikan nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Bugis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian tradisi Were Baru sebagai bagian dari warisan budaya lokal.
Pewarisan Tari Pajogi Pada Masyarakat Desa Patuno Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi Nur Iman; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2978

Abstract

Tari Pajogi merupakan tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Tarian ini dilaksanakan sebagai bentuk hiburan bagi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui bentuk pertunjukan Tari Pajogi pada masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi; dan 2) Mengetahui cara pewarisan Tari Pajogi pada masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep, yaitu konsep tradisi lisan, konsep pewarisan, konsep tari tradisional, dan konsep Tari Pajogi. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Pajogi merupakan salah satu tarian hiburan di masyarakat Desa Patuno, Kecamatan Wangi-Wangi. Pertunjukan Tari Pajogi biasanya dilakukan oleh 3 hingga 6 penari. Tarian ini terdiri dari tiga gerakan utama, yaitu: 1) Gerakan Umba Peku-Peku, 2) Gerakan Biasa, dan 3) Gerakan Mangu-Mangu. Pewarisan Tari Pajogi di Desa Patuno dilakukan melalui dua cara, yaitu: 1) Pewarisan formal, yang dilakukan melalui pertunjukan dalam perlombaan kebudayaan dan acara perpisahan sekolah; dan 2) Pewarisan nonformal, yang dilakukan melalui pertunjukan pada acara adat seperti Karia serta lingkungan keluarga, di mana orang tua yang memiliki pengetahuan tentang Tari Pajogi mengajarkannya kepada anak-anak mereka.
Tradisi Wandile Pada Masyarakat Wolio di Desa Lambusango Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton Putri Purnama Sari; Rahmat Sewa Suraya; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2980

Abstract

Tradisi Wandile merupakan tradisi khas masyarakat Lambusango yang secara khusus dilaksanakan untuk anak pertama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan dan makna yang terkandung dalam tradisi Wandile. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan tradisi Wandile terdiri atas tiga tahapan: (1) tahap persiapan, meliputi penentuan hari baik serta persiapan alat dan bahan; (2) tahap pelaksanaan, yang berlangsung di rumah pelaku tradisi dan dipimpin oleh bisa (dukun); dan (3) tahap akhir, yaitu pembacaan doa selamat. Tradisi Wandile memiliki makna simbolis di setiap tahapannya, yakni sebagai upaya menjauhkan anak yang diwandile dari hal-hal buruk menurut kepercayaan masyarakat Lambusango. Hingga saat ini, tradisi Wandile masih dilestarikan dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Lambusango.
Falia Nokoangkafio Berkebun pada Masyarakat Muna di Desa Kontunaga Kecamatan Kontunaga Yusrifani Yusrifani; Rahmat Sewa Suraya; Shinta Arjunita Saputri
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2981

Abstract

Falia Nokoangkafio merupakan pantangan yang berlaku dalam masyarakat Muna, khususnya saat berkebun. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan bentuk-bentuk ungkapan Falia Nokoangkafio saat berkebun dalam masyarakat Muna di Desa Kontunaga, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna; dan (2) memahami makna dari ungkapan tersebut. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis melalui proses pengumpulan, reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa bentuk Falia Nokoangkafio saat berkebun yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat Muna, yaitu memuji tanaman jagung, memanjat pagar kebun, berlari-lari dalam kebun, melangkahi alat tugal jagung, dan menangis di dalam kebun. Setiap bentuk Falia Nokoangkafio memiliki makna simbolis yang diyakini oleh masyarakat sebagai konsekuensi dari tindakan atau ucapan tertentu saat berkebun. Keyakinan ini merefleksikan nilai-nilai budaya lokal masyarakat Muna yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Fotala: Penyajian Makanan Pada Tradisi Pesta Adat Masyarakat Muna di Desa Parida Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna Melisa; La Niampe La Niampe; Rahmat Sewa Suraya
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/mbqqth33

Abstract

Fotala merupakan salah satu bentuk penyajian makanan dalam tradisi makan bersama yang lazim dilakukan oleh masyarakat Munadalam berbagai upacara adat, seperti kagaa (perkawinan), katoba (pengislaman anak), dan kampua (pengislaman orang dewasa). Dalam upacara adat perkawinan, tradisi fotala dilaksanakan sebagai upaya untuk memudahkan para orang tua adat, khususnya kaum perempuan yang mengenakan pakaian adat (kabhantapi), dalam mengambil makanan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan pelaksanaan fotala serta menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaannya di Desa Parida, Kecamatan Lasalepa, KabupatenMuna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan fotala terdiri atas tiga tahapan, yaitu: Tahap persiapan, yakni mempersiapkan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan fotala, Tahap pelaksanaan, yang dimulai dengan penyampaian dari tokoh adat bahwa makanan akan disajikan. Setelah itu, pihak yang bertugas menyajikan makanan akan masuk danduduk di tengah-tengah para orang tua adat, kemudian memulai proses penyajian secara berurutan, dimulai dari oe kawanu (air cucitangan), lauk-pauk, kadada (sayur), oghoti (nasi), hingga yang terakhir yaitu opiri kafumaha (piring untuk makan), Tahap akhir, yaitu proses pembersihan area makan setelah acara selesai, Dalam pelaksanaan fotala terkandung berbagai nilai, antara lain nilai gotong royong,nilai etika, nilai kebersamaan, dan nilai komunikatif.
Co-Authors A.A. Ngurah Anom Kumbara Abdul Alim Abdul Rahman adrita adrita Agfar, Yasmi Agus Rihu Agus Rihu Agus Rihu Agus Rihu` Akhmad Marhadi Akhmad Marhadi Alfi Seftiawan Alias Alias Alias Alias Alias, Alias Almarsaban Almarsaban Almarsaban, Almarsaban Alvira Olivia Saputri Andi Sinarwati Arfan Arfan Arif Wicaksono Arman Arman Ashmarita, - Ayyuh S Ayyuh S Ayyuh S Ayyuh S Baehaqi Basri, La Ode Ali Basrin Melamba Bilal Akbar Muhammad Arsad Boymin Burhan, Faika Damhuri Damhuri Dessiria Devianti, Devianti Elmy Selfiana Malik Erens Elvianus Ekoodoh Ervania Ervania Feni Feni Firmayanti Firmayanti Hamnianti Hamnianti Handriyani Sulastri Hapsah, Wa Ode Sitti Hazlan Heniman Heniman Herlina Haluru Hilwa Salsabila I Gusti Made Swastya Dharma Pradnyan I Ketut Suardika I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suarka Ida Bagus Gde Pujaastawa Ida Juliani iman saputra Irawati Irawati Tapasi Irfan Rahmad Husain Irma Magara Irma Magara Jaimun, Jaimun Jalil, Abdul Jers, La Ode Topo Kadek Arni Suwedawati, Gusti Ayu Kiki Reski Wulandari Komang Wahyu Rustiani La Ino La Niampe La Niampe La Niampe La Niampe La Niampe La Ode Ali Basri La Ode Alwi La Ode Dirman La Ode Dirman La Ode Marhini La Ode Marhini La Ode Marhini La Ode Muhammad Ruspan Takasi La Ode Muhammad Sardin Sardin La Ode Tarsani La Ode Topo Jers La Ode Topo Jers La Ode Usman La Tiara lala andriani lestari Laras Mahardika Laxmi Laxmi Laxmi, Laxmi Lili Darlian lisna yani Lita Irnasari Meldawati Melisa Mirna Yanti Muh Roy Muhamad Hidayat Muhammad Alkausar Muhammad Olland Efendi Muhammad Olland Efendi Muhktia Nur Fadilla Mursin Musyarafatul Musyarafatul Naswati Naswati Ni Made Wiasti Nirmalasari Nirmalasari Nur Iman Nur Kisa Nuria, Siti Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati, Nurtikawati Nurul Hikmah Ottman, Olsen Paramitha, Ni Made Ayu Susanthi Pradnya Pradnyan, I Gusti Made Swastya Dharma Putri Purnama Sari Putri Yani Putu Titah Kawitri Resen Rommy Rio Kauntu Rosnon, Mohd Roslan RR. Ella Evrita Hestiandari Rudy Kurniawan Rustiani, Komang Wahyu Safitri, Elsa Mayora Saldin S Salniwati Samsul Samsul Sandy Suseno Sarman Sarman Sartika Ningsih Shinta Arjunita Saputri Shinta Arjunita Saputri Shinta Arjunita Saputri Sidik, Wa Ode Islamia Siti Nurhalisa Sofia Sofia, Sofia Sri Wulandari Suseno, Sandi Suseno, Sandy Syahrun , Syahrun Syahrun, Syahrun Syahrun, Syahrun Syam sumarlin Taufiq Said Thevistha, Visthalya Titin Hartini Topo Jers, La Ode Wa Eni Wa Ode Sifatu Wa Ode Siti Hafsah Wa Ode Sitti Hafsah Wa Ode Sitti Hapsah Wa Ode Suharti Wahyu Rustiani Komang Wilda Wilda Yasmi Agfar Yusrifani Yusrifani Zulfa Zulfa Zulfa Zulfa