Claim Missing Document
Check
Articles

MODIFIKASI TRADISI KAMOMOOSE PADA MASYARAKAT BONEOGE KECAMATAN LAKUDO KABUPATEN BUTON TENGAH Musyarafatul Musyarafatul; La Ode Topo Jers; Rahmat Sewa Suraya
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 2 (2021): Volume 5, Nomor 2, Desember 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v5i2.1266

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi kamomoose, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kamomoose serta bentuk-bentuk tradisi kamomoose pada masyarakat Boneoge Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah. Penelitian ini menggunakan teori Evolusi Sosial (Herbert Spencer). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan penelitian lapangan. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data, yakni: pengamatan (observation) dan wawancara (interview). Untuk menjawab permasalahan dilakukan analisis data, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Analisis data yang dilakukan sejak pengumpulan data sampai akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat Boneoge masih melaksanakan tradisi kamomoose. Proses pelaksanaan tardisi kamomoose ada dua tahap yaitu tahap persiapan dan pelaksanaan, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kamomoose berupa nilai spiritual, nilai pendidikan dan nilai estetika dan modifikasi tradisi kamomoose dari uang logam ke kacang tanah, lampu pelita ke lampu listrik, pakaian adat ke pakaian muslimah dan ucapan yang keluar/nazar (limba’anogau) ke pencarian dana masjid atau ajang silaturahmi.
ISTRI PERANTAU DI DESA WAKADAWU KECAMATAN WAWONII TIMUR KABUPATEN KONAWE KEPULAUAN Ervania Ervania; Rahmat Sewa Suraya
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 6 No 1 (2022): Volume 6, Nomor 1, Juni 2022
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v6i1.1441

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui aktivitas keseharian istri perantau dan Untuk mengetahui bagaimana cara istri dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga di Desa Wakadawu Kecamatan Wawonii Timur Kabupaten Konawe Kepulauan. MenggunakanTeori fenomenologi Edmunt Husserl, metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara melalui pengamatan dan wawancara. Hasil dalam penelitian ini menujukkan bahwa Aktivitas yang dilakukan istri para perantau dalam kehidupan sehari-harinya seperti para istri pada umumnya hanya saja dia memiliki peran yang ganda selain dia bertugas sebagai ibu rumah tangga para istri juga berperan membantu perekonomian keluarga. Adapun cara istri perantau dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya selain menunggu kiriman dari suami para istri perantau melakukan berbagai cara dan mencari berbagai pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarga seperti berkebun, berjualan dan menjadi perangkat Desa seperti kader serta mencari hasil laut seperti gurita dari hasil inilah ibu-ibu atau istri perantau mendapatkan tambahan penghasilan selama suami mereka merantau.
Dampak Pembangunan Jalan Poros Pariwisata Kendari-Toronipa Terhadap Masyarakat Bajo di Desa Leppe Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe Muhammad Olland Efendi; Rahmat Sewa Suraya
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 7 No 1 (2023): Volume 7, Nomor 1, Juni 2023
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v7i1.2074

Abstract

The purpose of this research is to identify and describe the ecological impact that has occurred on the Bajo community in Leppe Village, Soropia District, Konawe District with the construction of the Kendari-Toronipa tourism axis road and to describe or determine the social impact that has occurred on the Bajo community in Leppe Village, Soropia District, Konawe District. using a qualitative approach with three ways of triangulation, namely conducting observations directly involved in the field, interviewing informants and field notes to obtain as much data as possible. Based on the results of the research, the ecological and social impacts on the Bajo community are due to the construction of the Kendari-Toronipa tourism axis road. Both of these impacts affect the activities of the Bajo community due to environmental changes and the lack of government policies in managing the resources of the fishing community so that it affects the fishing community and the social community of the Bajo. The benefits of the Kendari-Toronipa tourism axis road are superior tourism development and mobility.
Kafurui Sebagai Pengobatan Alternatif Patah Tulang pada Masyarakat Muna di Desa Liangkabori Nur Kisa; Rahmat Sewa Suraya
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 7 No 2 (2023): Volume 7, Nomor 2, Desember 2023
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v7i2.2414

Abstract

Kafurui (massage) is a traditional healing or health therapy method, by applying pressure to the body either in a structured, unstructured, sedentary or moving place by applying pressure and done manually.This study aims to find out and describe the reasons why people choose Kafurui as an alternative treatment for fractures and to find out the process carried out by shamans in treating fracture patients in Liangkabori Village.The data collection technique used in this research is field research technique using two methods, namely involved observation and in-depth interviews. The results of this study indicate that people choose Kafurui as an alternative treatment due to several factors, namely habit factors, economic factors, experience factors and easy-to-reach factors. The process of treating fracture patients depends on the type of fracture, the process of treating mild fractures, the shaman touches the broken part while saying two sentences of shahada after which the patient begins to be sequenced (kafurui). Severe fractures that are accompanied by wounds are not massaged at the beginning of treatment, but only blown with mantras, until the wounds begin to heal, then the sequencing process begins. The first step taken by the shaman is to reposition the bones or rearrange the bones that have been crushed so that they can return to their previous arrangement by sequencing. In this sugar cane fracture, since the patient came for treatment, the sequencing process has begun because there is no wound so that infection will not occur.
Nilai-Nilai Luhur bagi Orang Bajo di Desa Tapi-Tapi Kecamatan Marobo Kabupaten Muna Feni Feni; Rahmat Sewa Suraya; Almarsaban Almarsaban
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 8 No 1 (2024): Volume 8, Nomor 1, Juni 2024
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v8i1.2838

Abstract

This study aims to determine and describe the Bajo people's views on noble values, and how the implementation of noble values for Bajo people in Tapi-Tapi Village, Marobo District, Muna Regency. The method used in the research is ethnographic method, researchers try to describe, describe and explain how the Bajo people view noble values-using in-depth observation and interview techniques. The data collected was then analyzed using Koentjaraningrat's theory of cultural values (1984). The Bajo people who live in Tapi-Tapi Village, Marobo District, Muna Regency are a fishing community that upholds noble values that have been passed down from generation to generation in the value of responsibility, namely: (a) Sipakkulong (supporting each other), (b) Mapulus jamaah itu dolo modi bunang (completing the work given), in the value of social care, namely: (a) Nggai kole sikalasa kadadarua (there should be no misunderstanding of others), (b) Sitabangang (helping each other in work), (c) Nggai kole mangasora'dialo (should not damage the sea), in the value of honesty, namely: (a) Nggai kole malaponggang aha sadiri (do not like to lie), in the value of independence, namely: (a) Ngajama diriang (work independently). The implementation of noble values for Bajo people is realized in several values, namely: (a) Si tuluh (helping), (b) Dianggo (mutual respect), (c) Sitabangang (cooperation) d Bapongka (group fishing activities).
Recontextualizing the Dynamics of Kembar Buncing Custom In the Bali Aga Villages of Buleleng Rustiani, Komang Wahyu; Suarka, I Nyoman; Darma Putra, I Nyoman; Suraya, Rahmat Sewa; Resen, Putu Titah Kawitri
International Journal of Multidisciplinary Sciences Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ijms.v3i2.4531

Abstract

This study explores the evolving perception of the kembar buncing custom among the Bali Aga community, where the birth of unlike sex twins was traditionally considered a taboo, believed to bring misfortune and resulting in social stigma, exile, and financial burdens for affected families. In recent years, however, the perception has shifted toward greater inclusivity, with such births increasingly viewed as symbolic representations of harmony between good and evil. The study aims to understand the dynamics of this cultural transformation and its broader implications for preserving Bali Aga identity amid the pressures of modernity. Using a qualitative approach, data were collected through observation, non-participatory interviews, document analysis, and focus group discussions (FGDs). The analysis followed the Miles and Huberman model, involving data reduction, data display, and verification to ensure systematic interpretation. The theoretical framework is informed by Pierre Bourdieu’s theory of habitus, which provides tools for analyzing how social dispositions evolve through interactions with structural forces and through the strategic use of various forms of capital: economic, social, cultural, and symbolic. The findings reveal that the transformation of the kembar buncing custom is driven by regulatory adaptation, cultural negotiation, hegemonic resistance, and symbolic reconstruction. Changes in community habitus, shaped by the strategic mobilization of capital by key social actors, have contributed to a shift in customary paradigms. This transformation suggests the need to recontextualize traditional customs within contemporary frameworks, not only to ensure cultural sustainability but also to advance human rights and social inclusion within the Bali Aga society.
EKSISTENSI BENTENG KONTARA TANGKOMBUNO DI PULAU WAWONII ABAD KE-17 Syahrun, Syahrun; Melamba, Basrin; Suraya, Rahmat Sewa; Suseno, Sandi; Sarman, Sarman; Alias, Alias
Journal Idea of History Vol 8 No 1 (2025): Volume 8, Nomor 1, Januari-Juni 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/8z5fvk17

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan (1) sejarah Benteng Kontara Tangkombuno diPulau Wawonii, dan (2) fungsi pembangunan benteng tersebut pada masa lampau. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber,interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Benteng Kontara Tangkombunomerupakan benteng utama masyarakat etnis Wawonii yang dibangun dengan memanfaatkan konturalam serta susunan batu besar sebagai sarana pertahanan. Sejarah benteng terbagi dalam dua periode,yaitu masa praaksara dan masa kerajaan tradisional (Mokole). Di dalam area benteng terdapat GuaUpasi dan Gua Jin yang berfungsi sebagai tempat pertemuan, serta ditemukan tinggalan arkeologisseperti makam, sisa dapur, dan tengkorak manusia maupun hewan. Fungsi utama benteng ini adalahsebagai tempat perlindungan dari ancaman luar, termasuk dari kelompok bajak laut yang disebutberasal dari Tobelo. Meskipun secara geografis letak benteng tidak berada di bibir pantai, posisinyayang strategis di dataran tinggi memberikan perlindungan alami. Akses masyarakat ke pantai melaluialiran sungai yang cukup deras juga menunjukkan adaptasi lingkungan yang kompleks dankemampuan mereka mengelola medan untuk tetap terhubung dengan wilayah pesisir tanpamengorbankan aspek keamanan.
POFILEIGHOO (KAWIN LARI) PADA ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT MUNA DI DESA LINDO, KECAMATAN WADAGA KABUPATEN MUNA BARAT Agfar, Yasmi; Hapsah, Wa Ode Sitti; Suraya, Rahmat Sewa
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 5 No 1 (2021): Volume 5, Nomor 1, Juni 2021
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/kabanti.v5i1.1113

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah proses kawin lari (pofileighoo) pada adat perkawinan masyarakat Muna di Desa Lindo? dan bagaimanakah simbol/tanda yang mengisyaratkan kawin lari (pofileighoo) pada adat perkawinan masyarakat Muna di Desa Lindo? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses pofileighoo pada adat perkawinan masyrakat muna di Desa Lindo dan untuk mengetahui symbol/tanda yang mengisaratkan pofileighoo pada adat perkawinan masyarakat Muna di Desa Lindo. Teori yang digunakan adalah teori kebudayaan dan simbol Clifford Greertz. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana dilakukan bersama dengan proses pengumpulan data melalui pengamatan dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Proses pofileighoo (kawin lari) ada lima tahapan ; a). hukumu (penerimaan kedua calon mempelai) b). polele (untuk pemberitahuan kepada pihak perempuan) c)dengkoragho adhati (musyawarah adat) d) kafotangkano agama e).kakawi (akad nikah). (2). Adapun symbol atau tanda dalam adat perkawinan pofileighoo di Desa Lindo ada 6 tahapan diantarnya ; a) dogaa doangka foninto bhalano b) dogaa doangka nekalonga c) dogaa doangka weghabu d) dogaa doangka wekaa e) kafena (penghargaan) f) matano kenta.
Ritual Kampua Bagi Orang Muna di Desa Waara Kecamatan Lohia Kabupaten Muna Devianti, Devianti; Jers, La Ode Topo; Suraya, Rahmat Sewa
JURNAL KABANTI: Kerabat Antropologi Vol 9 No 1 (2025): Volume 9, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/xgh8ck46

Abstract

The purposes of this study were (1) to analyze the reasons for using goats as a complete custom in the Kampua ritual in Waara Village, Lohia District, Muna Regency. (2) To describe the meaning of goat slaughter in the Kampua ritual for muna people in Waara Village, Lohia District, Muna Regency. This study uses the theory of symbols from Geertz. The data collection technique is field research using ethnographic methods of involved observation and interviews. The data analysis technique used is descriptive qualitative.The results of the study show that (1) Kampua ritual for the Muna people is one of the most important religious rituals among the Muna people. So that the Muna people consider this ritual as a sacred ritual that has been passed down from their ancestors for generations. In the Kampua ritual, there is also the slaughter of goats, which is a hereditary tradition that is still maintained today and is carried out repeatedly. (2) The process of carrying out the Kampua ritual for muna people in Waara Village, Lohia District, Muna Regency has several stages, namely (a) Katununo incense (burning incense) (b) Kabasano Bharasandi (barsanji reading) (c) Kaalano Wulu (hair cutting) (d) ) katanda Wite (laying the ground) (e) Kabasano Haroa (reading the haroa prayer), the prayer is intended as one of the activities to ask for peace and comfort in the life of children in Kampua. 
Masyarakat Di Buton Utara Dalam Penerapan Pengetahuan Lokal Di Bidang Perkebunan Suraya, Rahmat Sewa; Niampe, La; Syahrun , Syahrun; Topo Jers, La Ode; Laxmi, Laxmi
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 5 (2023): Innovative: Journal of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat pengelola jambu mete di Kabupaten Buton Utara memiliki pengetahuan lokal dalam menjaga dan meningkatkan produksi. Sejak lama masyarakat telah mengenal beberapa pengetahuan lokal dalam bidang pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk penerapan pengetahuan lokal masyarakat untuk peningkatan produksi jambu mete di Kabupaten Buton Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif. Pengumpulan data penelitian di lakukan dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pengetahuan lokal masyarakat dalam sektor pertanian jambu mete meliputi tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. pupuk organik yang digunakan didapatkan dari lingkungan alam sekitarnya. Saat membabat rumput kebun, rumput sisa babatan itu di biarkan menumpuk dan lapuk di bahwa pohon jambu sebagai upaya pemupukan organik. Selain itu juga bagi para petani di wilayah pesisir menggunakan sisa-sisa pembersihan ikan sebagai bahan pupuk organik. Kemudian untuk membasmi hama tanaman jambu mete dilakukan dengan cara membakar ikan lure dicampur garam di bawah pohon jambu mete, juga digunakan ramuan tradisional daun Tantaule, rumput laut (Konse), Gigi sotong (cumi-cumi) untuk membasmi hama di pohon jambu mete.
Co-Authors A.A. Ngurah Anom Kumbara Abdul Alim Abdul Rahman adrita adrita Agfar, Yasmi Agus Rihu Agus Rihu Agus Rihu Agus Rihu` Akhmad Marhadi Akhmad Marhadi Alfi Seftiawan Alias Alias Alias Alias Alias, Alias Almarsaban Almarsaban Almarsaban, Almarsaban Alvira Olivia Saputri Andi Sinarwati Arfan Arfan Arif Wicaksono Arman Arman Ashmarita, - Ayyuh S Ayyuh S Ayyuh S Ayyuh S Baehaqi Basri, La Ode Ali Basrin Melamba Bilal Akbar Muhammad Arsad Boymin Burhan, Faika Damhuri Damhuri Dessiria Devianti, Devianti Elmy Selfiana Malik Erens Elvianus Ekoodoh Ervania Ervania Feni Feni Firmayanti Firmayanti Hamnianti Hamnianti Handriyani Sulastri Hapsah, Wa Ode Sitti Hazlan Heniman Heniman Herlina Haluru Hilwa Salsabila I Gusti Made Swastya Dharma Pradnyan I Ketut Suardika I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suarka Ida Bagus Gde Pujaastawa Ida Juliani iman saputra Irawati Irawati Tapasi Irfan Rahmad Husain Irma Magara Irma Magara Jaimun, Jaimun Jalil, Abdul Jers, La Ode Topo Kadek Arni Suwedawati, Gusti Ayu Kiki Reski Wulandari Komang Wahyu Rustiani La Ino La Niampe La Niampe La Niampe La Niampe La Niampe La Ode Ali Basri La Ode Alwi La Ode Dirman La Ode Dirman La Ode Marhini La Ode Marhini La Ode Marhini La Ode Muhammad Ruspan Takasi La Ode Muhammad Sardin Sardin La Ode Tarsani La Ode Topo Jers La Ode Topo Jers La Ode Usman La Tiara lala andriani lestari Laras Mahardika Laxmi Laxmi Laxmi, Laxmi Lili Darlian lisna yani Lita Irnasari Meldawati Melisa Mirna Yanti Muh Roy Muhamad Hidayat Muhammad Alkausar Muhammad Olland Efendi Muhammad Olland Efendi Muhktia Nur Fadilla Mursin Musyarafatul Musyarafatul Naswati Naswati Ni Made Wiasti Nirmalasari Nirmalasari Nur Iman Nur Kisa Nuria, Siti Nurtikawati Nurtikawati Nurtikawati, Nurtikawati Nurul Hikmah Ottman, Olsen Paramitha, Ni Made Ayu Susanthi Pradnya Pradnyan, I Gusti Made Swastya Dharma Putri Purnama Sari Putri Yani Putu Titah Kawitri Resen Rommy Rio Kauntu Rosnon, Mohd Roslan RR. Ella Evrita Hestiandari Rudy Kurniawan Rustiani, Komang Wahyu Safitri, Elsa Mayora Saldin S Salniwati Samsul Samsul Sandy Suseno Sarman Sarman Sartika Ningsih Shinta Arjunita Saputri Shinta Arjunita Saputri Shinta Arjunita Saputri Sidik, Wa Ode Islamia Siti Nurhalisa Sofia Sofia, Sofia Sri Wulandari Suseno, Sandi Suseno, Sandy Syahrun , Syahrun Syahrun, Syahrun Syahrun, Syahrun Syam sumarlin Taufiq Said Thevistha, Visthalya Titin Hartini Topo Jers, La Ode Wa Eni Wa Ode Sifatu Wa Ode Siti Hafsah Wa Ode Sitti Hafsah Wa Ode Sitti Hapsah Wa Ode Suharti Wahyu Rustiani Komang Wilda Wilda Yasmi Agfar Yusrifani Yusrifani Zulfa Zulfa Zulfa Zulfa