Claim Missing Document
Check
Articles

The Effectiveness of Apu Wood Plants (Pistia stratiotes) in Reducing Detergents in Water Suwardy, Moch; Sambali, Hariyani; Rumampuk, Natalie Detty C.; Pangemanan, Novie Pankie Lukas; Sumilat, Deiske A.; Singkoh, Marina Flora Oktavine
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 13 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v13i2.65931

Abstract

This study aims to (1) evaluate the concentration of detergents in the water of the Dayanan River, (2) analyze the ability of Pistia stratiotes to reduce detergents, and (3) evaluate the effect of phytoremediation media on the physiological response of carp (Cyprinus carpio). The study used a Complete Random Design (RAL) with a plant contact time treatment of 3 and 6 days on two types of media (river water and well water + 10 mg/L detergent), as well as three replicas. Detergent analysis was carried out using the SNI 06-6989.51-2005 spectrophotometry method. The results showed that the highest concentration of detergent in the Dayanan River was found in the middle (0.0497 mg/L). Pistia stratiotes effectively reduced detergent significantly (p = 0.025) with optimal time on the third day. The fish response showed an increase in the frequency of operculum opening on the third day (p = 0.004) and no mortality was found for 48 hours. These results prove that Pistia stratiotes is effectively used as a natural biofilter to reduce the detergent content in waters. Keywords: detergent, Pistia stratiotes, phytoremediation, common carp (Cyprinus carpio), Dayanan River Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi konsentrasi detergen dalam air Sungai Dayanan, (2) menganalisis kemampuan Pistia stratiotes dalam mereduksi detergen, dan (3) mengevaluasi efek media hasil fitoremediasi terhadap respon fisiologis ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan waktu kontak tanaman 3 dan 6 hari pada dua jenis media (air sungai dan air sumur + detergen 10 mg/L), serta tiga ulangan. Analisis detergen dilakukan menggunakan metode spektrofotometri SNI 06-6989.51-2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi detergen tertinggi di Sungai Dayanan terdapat pada bagian tengah (0,0497 mg/L). Pistia stratiotes efektif mereduksi detergen secara signifikan (p = 0,025) dengan waktu optimal pada hari ketiga. Respon ikan menunjukkan peningkatan frekuensi bukaan operkulum pada hari ketiga (p = 0,004) dan tidak ditemukan mortalitas selama 48 jam. Hasil ini membuktikan bahwa Pistia stratiotes efektif digunakan sebagai biofilter alami untuk menurunkan kandungan detergen di perairan. Kata kunci: detergen, Pistia stratiotes, fitoremediasi, ikan mas (Cyprinus carpio), Sungai Dayanan
Proximate composition of tilapia feed formulated with varying levels of moringa (Moringa oleifera) leaf flour Talunga, Junianto; Kreckhoff, Reni Lucia; Lintang, Rosita A. J.; Sambali, Hariyani; Pangemanan, Novie Pankie Lukas; Salaki, Christina Leta; Sumilat, Deiske Adeliene
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol. 13 No. 2 (2025): OCTOBER
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.v13i2.64291

Abstract

This study evaluated the effect of incorporating moringa leaf flour (Moringa oleifera) at varying concentrations into feed formulations on the proximate composition of tilapia (Oreochromis niloticus) feed. Five experimental treatments were tested, with moringa leaf flour inclusion levels of 0% (control), 10%, 20%, 30%, and 40%. A proximate analysis was conducted to determine moisture, ash, fat, protein, and crude fiber content. The results indicated that only the control feed (0%) and the feed containing 10% moringa leaf flour met the required protein standards for formulated feed, at 30% and 25%, respectively. Feeds with higher inclusion levels had protein content below the minimum threshold. The lowest crude fiber content (14.98%) was recorded in the 10% treatment, which was lower than that of the control. Ash, fat, and moisture contents remained relatively stable across all treatments and within acceptable ranges for fish feed. The formulation with 10% moringa leaf flour provided the optimal nutritional profile, delivering adequate protein (25%) and the lowest crude fiber (14.98%), thereby meeting nutritional requirements without compromising digestibility. Based on proximate analysis, moringa leaf flour shows potential as an efficient alternative feed ingredient for tilapia aquaculture.
Pengaruh Waktu Penyimpanan terhadap Mutu Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L.) Asap yang Diberi Pigmen Fikoeritrin dari Alga Halymenia durvillei: Effect of the addition of phycoerythrin pigment from the algae Halymenia durvillei on the quality of smoked skipjack (Katsuwonus pelamis L.) at cold temperatures Gerung, Marselino Stevano; Mantiri, Desy Maria Helena; Taher, Nurmeilita; Salindeho, Netty; Kemer, Kurniati; Sumilat, Deiske Adeliene; Kadang, Nurfadillah
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.13.2.2025.65464

Abstract

Smoked skipjack tuna (cakalang fufu) is a traditional fishery product from North Sulawesi with strong cultural and economic value. Typically, its natural color ranges from reddish to brownish. However, to enhance visual appeal, some producers add synthetic dyes, including Rhodamine-B, which poses potential health risks to consumers. This study aims to evaluate the potential of phycoerythrin pigment derived from the red alga Halymenia durvillei as a safe and functional natural colorant for smoked skipjack tuna, assessed through physicochemical, microbiological, and organoleptic characteristics during cold storage. The research employed a completely randomized design (CRD) with four treatment factors: phycoerythrin concentration, soaking duration, smoking temperature, and smoking duration. Parameters analyzed included moisture content, pH, Total Plate Count (TPC), and organoleptic attributes. Analyses were conducted on day 0 and day 7 of cold storage in vacuum packs. Results showed that moisture content decreased during storage. pH values also declined but did not differ significantly among treatments. TPC tended to increase over storage time but remained far below the maximum allowable microbial limits. Organoleptic evaluation indicated that phycoerythrin addition significantly improved product appearance without reducing acceptance of aroma, taste, or texture. The best overall sensory performance was observed in treatments incorporating phycoerythrin pigment. This study demonstrates that phycoerythrin has strong potential as a safe and effective natural colorant for smoked skipjack tuna, enhancing visual quality while maintaining product stability during storage.Kata kunci: moisture content, pH, phycoerythrin, smoked skipjack tuna, Total Plate Count (TPC)Cakalang asap (cakalang fufu) merupakan produk perikanan tradisional khas Sulawesi Utara yang memiliki nilai budaya dan ekonomi tinggi. Pada umumnya warna yang dihasilkan dari produk cafu merah kecoklatan, untuk meningkatkan minat pembeli para pelaku usaha menggunakan pewarna sintetis. Salah satu pewarna sintetis yang digunakan yaitu Rhodamin-B. Namun, praktik penambahan pewarna sintetis seperti Rhodamin-B untuk memperkuat warna produk berpotensi membahayakan kesehatan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi pigmen fikoeritrin dari alga merah Halymenia durvillei sebagai pewarna alami fungsional pada cakalang asap ditinjau dari karakteristik fisikokimia, mikrobiologis, dan organoleptik selama penyimpanan dingin. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu konsentrasi pigmen fikoeritrin, lama perendaman, suhu pengasapan, dan lama pengasapan. Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, derajat keasaman (pH), Angka Lempeng Total (ALT), serta uji organoleptik. Pengujian dilakukan pada hari ke-0 dan hari ke-7 penyimpanan suhu dingin dalam kemasan vakum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air mengalami penurunan selama penyimpanan. Nilai pH mengalami penurunan namun tidak menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan. ALT menunjukkan kecenderungan meningkat selama penyimpanan, tetapi masih berada jauh di bawah batas maksimum cemaran mikroba yang ditetapkan. Uji organoleptik menunjukkan bahwa penambahan pigmen fikoeritrin meningkatkan kenampakan produk secara signifikan tanpa menurunkan tingkat penerimaan terhadap aroma, rasa, dan tekstur. Kombinasi penambahan pigmen fikoeritrin terhadap cakalang asap menunjukkan hasil terbaik berdasarkan penilaian sensori baik. Penelitian ini, penambahan pigmen fikoeritrin berpotensi digunakan sebagai pewarna alami yang aman dan efektif pada cakalang asap serta mampu meningkatkan mutu visual dan mempertahankan stabilitas kualitas selama penyimpanan.Kata kunci: angka lempeng total (ALT), cakalang asap, derajat kesamaan (pH), fikoeritrin, kadar air
Coral and Reef Fish Biodiversity in the Waters of Bangka Island, North Sulawesi Mantiri, Rose O. S. E.; Septianto, Andarum; Ridwan, Moh.; Suputri, Putu Ayu; Podung, Thania Theresia; Kalmareuro, Vennda Uno; Sumilat, Deiske A.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 14 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v14i1.66620

Abstract

This study documents and identifies the diversity of coral reefs and reef fish species in the waters of Bangka Island, North Sulawesi, a coastal area rich in marine biodiversity and ecologically and economically important to the local community. The Underwater Visual Census (UVC) method was used through snorkeling and diving at depths of less than 18 meters at three locations (Coral Eye house reef, Tanjung Husi, and Linggua) from March 14 to April 4, 2025. Visual data were collected and identified in the Coral Eye Library. The results indicate that the coral reef ecosystem around Coral Eye is dominated by branching corals (Acropora) and stony corals (massive), which are important habitats for reef fish. The reef fish community is dominated by the families Pomacentridae and Chaetodontidae at depths of less than 20 meters. Fish were grouped into indicator fish (family Chaetodontidae with 6 species), target fish (5 families with 10 species, including Serranidae, Mullidae, Siganidae, Labridae, and Scaridae), and major groups (14 families with 34 species). This study provides strategic recommendations for maintaining and preserving coral reef ecosystems and reef fish diversity on Bangka Island. Keywords: Coral reefs; Reef fish; Bangka Island Abstrak.  Penelitian ini mendokumentasikan dan mengidentifikasi keanekaragaman terumbu karang dan spesies ikan karang di perairan Pulau Bangka, Sulawesi Utara, sebuah kawasan pesisir yang kaya akan keanekaragaman hayati laut dan penting secara ekologis serta ekonomis bagi masyarakat setempat. Menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC) melalui snorkeling dan penyelaman pada kedalaman kurang dari 18 meter di tiga lokasi (Coral Eye house reef, Tanjung Husi, dan Linggua) dari 14 Maret hingga 4 April 2025. Data visual dikumpulkan dan diidentifikasi di Perpustakaan Coral Eye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang di sekitar Coral Eye didominasi oleh terumbu karang bercabang (Acropora) dan terumbu karang batu (massive), yang merupakan habitat penting bagi ikan karang. Komunitas ikan karang didominasi oleh famili Pomacentridae dan Chaetodontidae pada kedalaman kurang dari 20 meter. Ikan dikelompokkan menjadi ikan indikator (famili Chaetodontidae dengan 6 spesies), ikan target (5 famili dengan 10 spesies seperti Serranidae, Mullidae, Siganidae, Labridae, dan Scaridae), dan kelompok major group (14 famili dengan 34 spesies). Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis untuk menjaga dan melestarikan ekosistem terumbu karang dan keanekaragaman ikan karang di Pulau Bangka. Kata kunci: Terumbu karang; Ikan karang; Pulau Bangka
Species and Density of Limpets (Patellogastropoda) in The Intertidal Rocky Shore Akaiwa Poluan, Irene; Rumengan, Inneke F.M.; Paruntu, Carolus P.; Bara, Robert A.; Sumilat, Deiske A.; Boneka, Farnis B.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.66339

Abstract

Rocky intertidal shores are dynamic coastal ecosystems characterized by strong environmental gradients that generate distinct patterns of organism zonation. Limpets (Patellogastropoda) play a crucial role as primary herbivores and ecological indicators in these habitats. This study aimed to examine species composition and density of limpets in the upper and lower intertidal zones of the rocky intertidal shore of Akaiwa, Tomioka, Amakusa, Japan. The research was conducted from February to March 2025. Sampling was conducted using a quadrat sampling method with quadrats measuring 25 cm × 25 cm, randomly placed within a 10 m × 15 m study area across the upper and lower intertidal zones. Limpet specimens were identified based on shell morphological characteristics, and species density was calculated and statistically compared between zones using a t-student test. The results recorded eight limpet species belonging to the families Lottidae and Nacellidae, with seven species occurring in the upper zone and six species in the lower zone. Limpet density in the upper intertidal zone ranged from 1.60 to 20.80 ind/m² and was dominated by Lottia tenuisculpta, whereas the lower zone exhibited higher densities ranging from 1.60 to 28.80 ind/m², with a significant dominance of Cellana toreuma. The study concludes that limpet community structure is strongly influenced by vertical intertidal zonation. Further long-term studies are recommended to elucidate temporal dynamics of limpet communities in relation to seasonal variation and environmental change. Keywords: Amakusa, density, limpet, Akaiwa rocky shore, intertidal zonation   Abstrak Pantai intertidal berbatu merupakan ekosistem pesisir yang dinamis dengan gradien lingkungan yang kuat, sehingga membentuk pola zonasi organisme yang khas. Limpet (Patellogastropoda) berperan penting sebagai herbivora utama dan indikator ekologis pada ekosistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi jenis dan kepadatan limpet pada zona atas dan zona bawah pantai rocky intertidal Akaiwa, Tomioka, Amakusa, Jepang. Penelitian ini dilaksanakan pada Februari-Maret 2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode quadrat sampling menggunakan kuadrat berukuran 25 cm × 25 cm yang ditempatkan secara acak di area 10 m × 15 m pada zonasi intertidal bagian atas dan bawah. Spesimen limpet diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi cangkang, kemudian dianalisis kepadatan jenis dan diuji perbedaannya antar zona menggunakan uji t-student. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan spesies limpet dari famili Lottidae dan Nacellidae teridentifikasi, dengan tujuh spesies pada zona atas dan enam spesies pada zona bawah. Kepadatan limpet di zona atas berkisar antara 1,60-20,80 ind/m² dan didominasi oleh Lottia tenuisculpta, sedangkan zona bawah memiliki kepadatan lebih tinggi, yaitu 1,60-28,80 ind/m², dengan dominasi Cellana toreuma yang berbeda nyata secara statistik. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa struktur komunitas limpet dipengaruhi kuat oleh zonasi vertikal intertidal. Disarankan penelitian lanjutan dilakukan secara temporal untuk memahami dinamika komunitas limpet terhadap variasi musim dan perubahan lingkungan. Kata kunci: Amakusa, kepadatan, limpet, pantai berbatu Akaiwa, zonasi intertidal
Comparison of Zooplankton Abundance Vertically and Horizontally in The Waters of Boulevard II, Manado City Utomo, Victoria O.S.E.; Rimper, Joice R.T.S.L; Bara, Robert A.; Mamuaja, Jane M.; Wagey, Billy T.; Sumilat, Deiske A.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.65009

Abstract

Zooplankton are microscopic organisms that play an important role in the marine food chain as primary consumers and as a food source for other organisms. Their presence and composition can serve as indicators of the health of aquatic ecosystems. This study was conducted in the waters of Boulevard II, Manado City, using a plankton net equipped with a cod end. Samples were collected vertically at a depth of 5 m and horizontally along a 10 m transect. Physico-chemical parameters such as temperature, salinity, and dissolved oxygen (DO) were measured in situ at each station using a Water Quality Monitor. Zooplankton identification was carried out at the Bio-Ecology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Science, using a microscope and referring to Illustrations of the Marine Planktons of Japan (Yamaji, 1979) and WoRMS data. The results showed that the zooplankton found belonged to the class Copepoda, e.g. Nauplii, Acartia sp., Oithona sp., and Paracalanus sp.. The highest vertical abundance was recorded at station 1 with 11.51 Ind/L, while the lowest was at station 2 with 6.99 Ind/L. Horizontally, the highest abundance occurred at station 2 with 6.04 Ind/L and the lowest at station 1 with 3.21 Ind/L. These variations were influenced by temperature, salinity, and dissolved oxygen, which affect the distribution of zooplankton. Keywords : comparison, horizontal, vertical, zooplankton   Abstrak Zooplankton merupakan organisme mikroskopis yang berperan penting dalam rantai makanan laut sebagai konsumen primer dan sumber makanan bagi organisme lain. Kehadiran serta komposisi zooplankton dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem perairan. Penelitian ini dilakukan di Perairan Boulevard II, Kota Manado, menggunakan plankton net yang dilengkapi cod end. Pengambilan sampel dilakukan secara vertikal pada kedalaman 5 m dan horizontal sepanjang 10 m. Parameter fisika-kimia seperti suhu, salinitas, dan oksigen terlarut (DO) diukur secara in situ menggunakan Water Quality Monitor di setiap stasiun. Identifikasi zooplankton dilakukan di Laboratorium Bio-Ekologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan menggunakan mikroskop dengan acuan Illustrations of the Marine Planktons of Japan (Yamaji, 1979) dan data WoRMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zooplankton yang ditemukan berasal dari kelas Copepoda, yaitu Nauplii, Acartia sp., Oithona sp., dan Paracalanus sp.. Kelimpahan vertikal tertinggi terdapat di stasiun 1 sebesar 11,51 Ind/L dan terendah di stasiun 2 sebesar 6,99 Ind/L. Secara horizontal, kelimpahan tertinggi terdapat di stasiun 2 sebesar 6,04 Ind/L dan terendah di stasiun 1 sebesar 3,21 Ind/L. Variasi kelimpahan ini dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan oksigen terlarut yang memengaruhi penyebaran zooplankton. Kata kunci: perbandingan, horizontal, vertikal, zooplankton
Evaluasi Perlakuan Pemasakan bertekanan dan Kukusan pada Karajteristik Organoleptik, Perubahan Nilai Gizi, dan Logam Berat pada Ikan Tindarung Perairan Sulawesi Utara : Evaluation of Pressure Cooking and Steaming on the Sensory Characteristics, Changes in Nutritional Value, and Heavy Metal Content of Tindarung Fish in North Sulawesi Waters Pratiwi, Aprilia Eka; Rumengan, Inneke Fenny Melke; Sumilat, Deiske Adeline; Lintang, Rosita Anggreiny; Rengkung, Leonardus Ricky; Salindeho, Netty
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.14.1.2026.66297

Abstract

North Sulawesi is one of Indonesia’s major fisheries regions, where large pelagic tuna-like species are widely consumed and commonly marketed in minimally processed forms. However, fish quality can deteriorate rapidly when post-harvest handling and thermal processing are not properly controlled. This study evaluated the effects of steam cooking and pressure-based cooking (presto) on the sensory quality, proximate composition, selected minerals, and heavy-metal levels of tindarung fish muscle collected from the Bitung Fishing Port, North Sulawesi. Fresh fish were subjected to steam cooking (15–20 min at approximately 60–100 °C) or pressure-based cooking (15 min at approximately 115 °C) and compared with fresh, untreated samples. Sensory attributes (appearance, odor, taste, and texture) were assessed in accordance with Indonesian National Standards, while proximate composition, mineral content (Ca and P), and heavy metals (Cd and Hg) were determined using standardized laboratory methods. All treatments exhibited acceptable sensory quality, with scores exceeding 6. Steam-cooked fish showed lower moisture content (63.31%) and higher protein content (27.32%) than pressure-based cooked fish (65.41% moisture; 18.65% protein). In contrast, fat content was slightly higher in pressure-based cooked fish (8.48%) than in steam-cooked fish (7.66%). Cadmium concentrations were low (0.005–0.008 mg/kg), and calcium levels in muscle were below the detection limit (<1.19 mg/kg). Total mercury concentrations ranged from 0.55 to 0.76 mg/kg, indicating that product-safety assessment should consider regulatory limits applicable to large predatory fish species. Overall, steam cooking better preserved the nutritional profile of tindarung fish and is recommended as a practical processing method, accompanied by routine mercury monitoring to ensure consumer safety. Kata kunci:  tindarung fish, organoleptics, steam and pressure-based cooking, proximate composition, mineral and heavy metal level   Sulawesi Utara adalah salah satu wilayah penting perikanan tangkap di Indonesia, dengan bahan pelagis besar bertipe tuna (tuna‑like species) yang banyak dikonsumsi, termasuk ikan tindarung. Mutu ikan mudah menurun apabila penanganan pascapanen dan proses perlakuan termal tidak dilakukan secara tepat. Studi ini mengevaluasi pengaruh pendekatan proses pengukusan dan pemasakan bertekanan (pemasakan bertekanan) pada mutu sensori, komposisi proksimat, mineral terpilih, dan juga kadar logam berat pada daging ikan tindarung yang diperoleh dari Pelabuhan Perikanan Bitung, Sulawesi Utara. Ikan segar diproses dengan proses pengukusan (15–20 menit; ~60–100 °C) atau pemasakan bertekanan (15 menit; ~115 °C), lalu dibandingkan dengan kontrol segar. Uji organoleptik (kenampakan, bau, rasa, tekstur) mengacu pada SNI, sedangkan analisis proksimat, mineral (Ca dan P), dan logam berat (Cd dan Hg) dilakukan menggunakan pendekatan uji laboratorium terstandar. Seluruh perlakuan memperlihatkan mutu organoleptik yang baik (skor >6). Ikan kukus memiliki kadar air 63,31%, abu 1,35%, lemak 7,66%, protein 27,32%, karbohidrat 0,37%, dan serat kasar 0,12%, sedangkan ikan pemasakan bertekanan memiliki kadar air 65,41%, abu 0,91%, lemak 8,48%, protein 18,65%, karbohidrat 6,55%, dan serat kasar 0,11%. Kadar Cd rendah (0,005–0,008 mg/kg), kalsium pada jaringan otot berada di bawah batas deteksi (<1,19 mg/kg), dan fosfor meningkat secara relatif sesudah pemasakan. Kadar Hg total berada pada rentang 0,55–0,76 mg/kg, dengan demikian interpretasi keamanan produk perlu mempertimbangkan kategori regulasi guna ikan predator besar dan juga kebutuhan pemantauan berkala. Pada umumnya, proses pengukusan memberikan profil gizi yang lebih menguntungkan dibandingkan pemasakan bertekanan dan direkomendasikan sebagai pendekatan perlakuan yang lebih optimal dengan tetap memperhatikan aspek keamanan, khususnya merkuri. Kata kunci:  ikan tindarung, logam berat, kukus, organoleptik, pemasakan bertekanan, komposisi proksimat, kadar mineral
Effects of Tidal Dynamics on the Variation of Physicochemical Parameters in Bitung Port Waters Suputri, Putu Ayu; Rumampuk, Natalie Detty C.; Sumilat, Deiske A.; Pelle, Wilmy E.; Gerung, Grevo S.; Darmawan, Putu Deny; Niode, Burhan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 14 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v14i1.67605

Abstract

This study aimed to evaluate the influence of tidal dynamics on the spatial and temporal variability of physicochemical parameters in Bitung Port waters. Sampling was conducted at three representative sites under high and low tide conditions. Parameters including temperature, pH, salinity, turbidity, DO, TDS, and conductivity were measured in situ, while TSS and heavy metals (Cu, Pb, Zn, Cd, and Ni) were analysed in the laboratory. Descriptive statistics, Kruskal-Wallis test, and Linear Mixed Model (LMM) were applied. Results showed that DO and pH were significantly higher during high tide, while turbidity, TDS, salinity, and conductivity were significantly higher during low tide. Spatial variability was low during high tide but increased significantly during low tide, indicating stronger local influence. The integration of interquartile range (IQR) analysis revealed higher variability of dissolved and suspended parameters during low tide, while DO exhibits higher variability during high tide due to intensified mixing processes. These findings highlight that tidal dynamics act as a key regulator of water quality distribution in semi-enclosed port systems. Incorporating tidal phase into monitoring strategies is essential for effective environmental management and supports the implementation of sustainable green port practices. Keywords: tidal dynamics, seawater quality, Bitung Port, physicochemical parameters, LMM Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dinamika pasang surut memengaruhi variasi parameter fisika-kimia air laut, baik secara ruang maupun waktu, di perairan Pelabuhan Bitung. Pengambilan sampel dilakukan di tiga lokasi yang dianggap mewakili kondisi perairan, dengan mempertimbangkan fase pasang dan surut. Parameter yang diukur langsung di lapangan meliputi suhu, pH, salinitas, kekeruhan, DO, TDS, serta konduktivitas. Sementara itu, parameter seperti TSS dan kandungan logam berat (Cu, Pb, Zn, Cd, dan Ni) dianalisis di laboratorium. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Kruskal-Wallis, dan Linear Mixed Model (LMM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai DO dan pH secara signifikan lebih tinggi pada saat pasang. Sebaliknya, kekeruhan, TDS, salinitas, dan konduktivitas cenderung meningkat pada saat surut. Dari sisi spasial, variasi parameter relatif kecil ketika pasang, namun meningkat saat surut, yang mengindikasikan kuatnya pengaruh faktor lokal. Analisis Interquartile Range (IQR) juga memperlihatkan bahwa parameter terlarut dan tersuspensi lebih bervariasi saat surut, sedangkan DO menunjukkan variasi lebih besar saat pasang akibat proses pencampuran yang lebih intens. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa dinamika pasang surut berperan penting dalam mengatur distribusi kualitas air di perairan pelabuhan semi-tertutup. Oleh karena itu, fase pasang surut perlu dipertimbangkan dalam kegiatan pemantauan lingkungan guna mendukung pengelolaan pelabuhan yang berkelanjutan. Kata kunci: pasang surut, kualitas air laut, pelabuhan Bitung, parameter fisika-kimia, LMM
Identification and Modeling of Illegal Fishing Violations in WPPNRI 715 Using Vessel Monitoring System Data Paulus, Teddy Feky; Manoppo, Lefrand; Kalangi, Patrice Nelson I; Sumilat, Deiske A.; Schaduw, Joshian Nicolas William; Budiman, Johnny; Mamahit, Juliet Merry Eva
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 14 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v14i1.67681

Abstract

This study aimed to analyze fishing activity characteristics based on Vessel Monitoring System (VMS) data, identify spatial patterns and hotspots of fishing violations in Fisheries Management Area of the Republic of Indonesia (WPPNRI) 715, and develop a VMS- and hotspot-based fisheries surveillance model. A quantitative descriptive method with a Geographic Information System-based spatial analysis approach was applied. The dataset consisted of fishing vessel VMS records and fishing violation data from 2022 to 2025 in WPPNRI 715. The analysis included data cleaning and validation, characterization by area, fishing gear, vessel size, and violation type, Kernel Density Estimation, Moran’s I spatial autocorrelation, Getis-Ord Gi* hotspot analysis, and risk-based surveillance modelling using Multi-Criteria Decision Analysis. The results identified 388 violation events concentrated mainly in Maluku, North Maluku, and North Sulawesi waters. The highest number of violations occurred in 2024, with 193 cases. Violations were dominated by small pelagic purse seine vessels with one boat (208 cases), while vessel size was dominated by 30-50 GT (149 cases) and 50-100 GT (123 cases). The most common violation types were fishing-lane violations (203 cases) and fishing-ground violations (156 cases). Moran’s I analysis produced a value of 0.1694, z-score of 2.3733, and pseudo p-value of 0.0237, indicating a statistically significant clustered pattern. Getis-Ord Gi* analysis identified significant hotspots in Maluku and North Maluku waters at the 95-99% confidence levels. The integration of hotspot analysis and MCDA classified Maluku and North Maluku waters as high-priority surveillance zones, North Sulawesi as a medium-priority zone, and West Papua as a low-priority zone. This study concludes that VMS data can support the identification of violation characteristics, hotspot mapping, and the development of risk-based fisheries surveillance in WPPNRI 715. Keywords: fisheries surveillance; Getis-Ord Gi*; IUU fishing; MCDA; Vessel Monitoring System; WPPNRI 715. Abstract.  Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik aktivitas penangkapan ikan berbasis data Vessel Monitoring System (VMS), mengidentifikasi pola spasial dan hotspot pelanggaran penangkapan ikan di WPPNRI 715, serta menyusun model pengelolaan pengawasan perikanan berbasis VMS dan hotspot pelanggaran. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis. Data yang dianalisis meliputi data VMS kapal penangkap ikan dan data pelanggaran penangkapan ikan periode 2022-2025 di WPPNRI 715. Tahapan analisis mencakup pembersihan dan validasi data, analisis karakteristik aktivitas berdasarkan wilayah, alat tangkap, ukuran kapal, dan jenis pelanggaran, analisis kepadatan Kernel Density Estimation, autokorelasi spasial Moran’s I, analisis hotspot Getis-Ord Gi*, serta penyusunan model pengawasan berbasis risiko dengan pendekatan Multi-Criteria Decision Analysis. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 388 kejadian pelanggaran yang terkonsentrasi terutama di Perairan Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara. Pelanggaran tertinggi terjadi pada 2024 sebanyak 193 kasus. Berdasarkan alat tangkap, pelanggaran didominasi pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal sebanyak 208 kasus, sedangkan berdasarkan ukuran kapal didominasi kapal 30-50 GT sebanyak 149 kasus dan 50-100 GT sebanyak 123 kasus. Jenis pelanggaran terbanyak adalah pelanggaran jalur penangkapan sebanyak 203 kasus dan daerah penangkapan ikan sebanyak 156 kasus. Analisis Moran’s I menghasilkan nilai 0,1694, z-score 2,3733, dan pseudo p-value 0,0237, yang menunjukkan pola pelanggaran mengelompok secara signifikan. Analisis Getis-Ord Gi* mengidentifikasi hotspot signifikan pada Perairan Maluku dan Maluku Utara dengan tingkat kepercayaan 95-99%. Integrasi hotspot dan MCDA menghasilkan prioritas pengawasan tinggi pada Perairan Maluku dan Maluku Utara, sedang pada Perairan Sulawesi Utara, dan rendah pada Perairan Papua Barat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa data VMS dapat digunakan sebagai dasar identifikasi karakteristik pelanggaran, pemetaan hotspot, dan penyusunan model pengawasan perikanan berbasis risiko di WPPNRI 715. Kata kunci: Getis-Ord Gi*; IUU fishing; MCDA; pengawasan perikanan; Vessel Monitoring System; WPPNRI 715.
Co-Authors Adnan Wantasen Alfret Luasunaung Andarum Septianto Angela, Gabriella Caristy Angeline Ngantung, Angeline Angkouw , Esther Dellayani Angkouw, Esther Angmalisang, Ping Astony Annisaqois, Manikmayang Ansar, Azhar Ariansyah Ari Berty Rondonuwu Asthisa, Dias Billy Theodorus Wagey Buana, Muhammad Candra Budiman, Johnny - Burhan Niode Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus Paulus Paruntu Damongilala, Lena J. Darmawan, Putu Deny Darmono, Oktaviano P. Darwasito, Suria Dedy Octavian Siahaan, Dedy Octavian Defny Silvia Wewengkang Deysy M. Puansalaing dumas, Davis Wijaksana Extrada Durand, Swenekhe S. Edwin D Ngangi Farnis B. Boneka Fintarji, Rian Fitje Losung Frangky E. Kaparang Gerung, Marselino Stevano Ginting, Elvy Like Grace Sanger, Grace Grevo S Gerung Henki Rotinsulu, Henki Henneke Pangkey Henny A Dien Hens Onibala Hidayat, Andre Alfian Ilham Syah, Bahrul Yusuf Nasruddin Indra R. N. Salindeho Indra R.N. Salindeho Indri Manembu Inneke F. M Rumengan Ixchel F Mandagi Janny D. Kusen Johnny Budiman Joice R.T.S.L Rimper Joshian N.W. Schaduw Joula Kusen, Diane Junianto Talunga, Junianto Kadang, Nurfadillah Kalangi, Patrice Nelson I Kalmareuro, Vennda Uno Kaparang , Frangky Erens Kaparang, Frangky Erens Khristin I. F. Kondoy, Khristin I. F. Kreckhoff, Reni L. Kreckhoff, Reni Lucia Kudato, Vania Kurniati Kemer Kusen, Diane Joula Kusuma, Ni Putu Dian Kusumaningrum, Arianda Lasut, Astrid Y. Lawrence J. L Lumingas Lawrence J.L. Lumingas, Lawrence J.L. Lefrand Manoppo Leonardus Ricky Rengkung Lintang, Rosita AJ Lintang, Rosita Anggreiny Luasunaung, Alfrets Lumingas, Lawrence L.J. Luringunusa, Ekklesia Makaluas, Marselino M. Makapedua, Daisy M Makapedua, Daisy M. Mamahit, Juliet Merry Eva Mamangkey, Noldy G.F Mamuaja, Jane M. Mandagi, Stephanus Mandagi, Stephanus V. Mandagi, Stephanus Vianny Manoppo, Lefran Manoppo, Lefrand - Mantiri, Desy M. H Mantiri, Rose Mantiri, Rose O.S.E. Markus T. Lasut Maryen, Yakob Oskar Masengi, Akira W. R. Masengi, E. I. K.G. Masengi, K.W.A Menajang, Febry I. S. Mentang, Fenny Mewengkang, Theresia Tessa Modaso, Vivanda O.J Moh. Ridwan, Moh. Mokolensang, Jeffrie Fredrik Molle, Ben Arther Mopay, Maratade Musak, Putra Natalie D Rumampuk Nego E. Bataragoa, Nego E. Ngangi, Edwin Leonardo Apolonio Nistiarni Zebua Nity, Elroi Nowin, Edgar Nurmeilita Taher Ockstan Kalesaran Opa, Samuel Pamikiran, Revols Dolfi Ch Pangemanan, Novie Pankie Lukas Pasodung, Aditya Patra, Frian Paulus, James Paulus, Teddy Feky Pelle, Wilmy E. Pesoth, Christianto Podung, Thania Theresia Poluan, Irene Pratiwi, Aprilia Eka Purba, Dhebby Putra, Debriga Rangan, Jety K. Rene Charles Kepel, Rene Charles Ridwan Lasabuda Robert A. Bara Roeroe, Kakaskasen Andreas Roike Iwan Montolalu Rompas, Rizal M. Rompas, Rizald Rondonuwu, Arie B. Rose O. S. E. Mantiri, Rose O. S. E. Rumampuk, N.D. Rumampuk, Natalie Detty C. Rumengan, Antonius Petrus S. S. Malalantang Salaki, Christina Leta Salindeho, Netty Sambali, Hariyani Sambali, Haryani Sambali, M.Sc, Hariyani Sandra Tilaar Saragih, Debby Dyanessa Sarif Hidayat, Sarif Simangunsong, Martua Pinondang Singkoh, Marina Flora Oktavine Sinjal, Annita Ch. Sipriana S. Tumembouw Stenly Wullur Suputri, Putu Ayu Suria Darwisito, Suria Suwardy, Moch Suzanne L Undap Tangkudung, Maureen J. N. N. Tuyu, Adel M. Ulus, Frangky Octavian Undap , Suzanne Lydia Undap, Nani I.J Utomo, Victoria O.S.E. Veibe Warouw Verly Dotulong, Verly Victoria E. N. Manoppo Wenseslaus Fransiscus Makawaehe, Wenseslaus Fransiscus Wilhelmina Patty Wulur, Stenly