Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Pembelajaran Berbasis Steam (Science, Technology, Engineering, Art, And Mathemathics) Dalam Upaya Peningkatan Kompetensi Guru Sd Gugus Iii Gunungsari, Lombok Barat Hayati, Laila; Azmi, Syahrul; Turmuzi, Muhammad; Junaidi; Yulis Tyaningsih, Ratna
KREASI : Jurnal Inovasi dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2023): Desember
Publisher : BALE LITERASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kreasi.v3i3.759

Abstract

Sebagian besar guru di SD Gugus III Gunungsari belum memahami konsep Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) serta implementasinya untuk meningkatkan suasana pembelajaran yang bermakna serta mengasyikkan. Sebagian besar guru masih memakai model serta pendekatan konvensional di kelas. Tujuan pengabdian ini adalah untuk memberikan pelatihan tentang konsep STEAM serta contoh implementasinya dalam pembelajaran di SD. Melalui aktivitas-aktivitas dalam pengabdian ini, dapat meningkatkan kompetensi serta profesionalisme guru- guru SD Gugus III Gunungsari, Lombok Barat. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini telah efektif meningkatkan pengetahuan dan kemampuan guru-guru Gugus III Gunungsari, Lombok Barat dalam merancang pembelajaran STEAM, khususnya di SD. Guru-guru sangat antusias mengikuti kegiatan aktivitas peserta pengabdian dalam diskusi, dan berlangsung sangat komunikatif.
Bukti yang Membuktikan dan Bukti yang Menjelaskan dalam Kelas Matematika Hamdani, Deni; Junaidi, J.; Novitasari, Dwi; Salsabila, Nilza Humaira; Tyaningsih, Ratna Yulis
Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmu Pendidikan: e-Saintika Vol. 4 No. 2: July 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/e-saintika.v4i2.253

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan secara komprehensif perbedaan bukti yang membuktikan dan bukti yang menjelaskan berdasarkan pertimbangan implikasi kedua bukti tersebut sebagai dasar konstruksi penalaran dan bukti dalam matematika. Kajian dijalani dengan kegiatan menguraikan perbedaan spesifik antara keduanya serta memberikan contoh kasus kedua bukti, dan memberikan justifikasi atas pentingnya pengenalan kedua bukti dalam kelas matematika. Kedua bukti digambarkan dengan permasalahan konsep barisan bilangan ganjil. Bukti yang membuktikan hanya menunjukkan dengan menggunakan induksi matematis, sementara bukti yang menjelaskan menunjukkan dengan bukti Gauss, representasi geometrik bangun titik, dan garis zig-zag. Perbedaan antara keduanya tampak pada pemberian alasan yang berasal dari bukti itu sendiri. Hasil kajian mengindikasikan bahwa peran bukti dalam kelas matematika pada tingkat perguruan tinggi adalah membuktikan/meyakinkan, pada tingkat menengah atas adalah membuktikan dan menjelaskan, dan pada tingkat sekolah menengah pertama dan dasar peran utamanya adalah menjelaskan. Akibatnya bukti matematis tidak hanya membuktikan/menyakinkan, melainkan juga menjelaskan. Karenanya penting mempertimbangkan implikasi bukti dalam kurikulum matematika di sekolah, serta perlunya menyajikan bab materi kepada mahasiswa pendidikan matematika tidak hanya bukti yang membuktikan, melainkan juga bukti yang menjelaskan.Proofs that Prove and Proofs that Explain in Mathematics ClassroomAbstractThe purpose of this study was to comprehensively describe the differences of the proofs that prove and proofs that explain based on the consideration of the implications of the two proofs as the basis for the construction reasoning and proofs in mathematics. The study was undertaken with the activity of describing the specific differences between the two and providing examples of cases of both proofs; and provide justification for the importance of introducing both proofs in mathematics classrooms. Both proofs are illustrated by the problem of the odd number sequence concept. Proofs that prove is only shown using mathematical induction, while proofs that explain shows with Gaussian proof, a geometric representation of point shape, and zigzag line. The difference between the two appears to be the reasoning that comes from the proof itself. The results of the study indicate that the role of proof in mathematics classes at the tertiary level is proving/convincing, at the senior secondary level it is proving and explaining, and at the junior and elementary school level its main role is explaining. As a result, mathematical proof does not only prove/convince, but also explain. It is therefore important to consider the implications of proof in the mathematics curriculum in schools, as well as the need to present chapter materials to mathematics education students not only proofs that prove but also proof that explain.
FAKTOR-FAKTOR AFEKTIF YANG MEMPENGARUHI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA SEKOLAH MENENGAH Lu'luilmaknun, Ulfa; Salsabila, Nilza Humaira; Tyaningsih, Ratna Yulis
Mathematics Education And Application Journal (META) Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.126 KB) | DOI: 10.35334/meta.v3i2.2398

Abstract

  This study aims to discuss several research results regarding the understanding of mathematical concepts that are influenced by affective factors possessed by high school students. Sources of data obtained from 9 research results consisting of 3 results of research on the effect of independent learning on students' understanding of mathematical concepts, and 3 results of research on the effect of self-confidence on students' understanding of mathematical concepts. From several research results, it can be concluded that motivation, learning independence, and self-confidence partially affect the understanding of high school students' mathematical concepts.Keywords: Mathematic Concept Understanding, Motivation, Self-regulated Learning, Self-confidence Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk membahas beberapa hasil penelitian mengenai pemahaman konsep matematika yang dipengaruhi oleh beberapa faktor afektif yang dimiliki oleh siswa sekolah menengah. Sumber data diperoleh dari 9 hasil penelitian yang terdiri dari 3 hasil penelitian mengenai pengaruh motivasi belajar terhadap pemaham konsep matematika siswa, 3 hasil penelitian mengenai pengaruh kemandirian belajar terhadap pemaham konsep matematika siswa, dan 3 hasil penelitian mengenai pengaruh kepercayaan diri terhadap pemaham konsep matematika siswa. Dari beberapa hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar, kemandirian belajar, dan kepercayaan diri berpengaruh secara parsial terhadap pemahaman konsep matematika siswa sekolah menengah. Kata kunci: Pemahaman Konsep Matematika, Motivasi Belajar, Kemandirian Belajar, Kepercayaan Diri
GAME EDUKASI PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA: TANGGAPAN SISWA SMP BERDASARKAN GENDER Salsabila, Nilza Humaira; Lu'luilmaknun, Ulfa; Novitasari, Dwi; Tyaningsih, Ratna Yulis; Ardani, Riska Ayu
Mathematics Education And Application Journal (META) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.324 KB) | DOI: 10.35334/meta.v2i1.1632

Abstract

AbstractThe use of media in mathematics learning can help students to learn more easily. One of them is educational game media. The study aims to describe the responses of junior high school students based on gender to learn mathematics by using educational game media. The subjects of this study were 7thand 8thgrade of junior high school students in Mataram-West Nusa Tenggara, a total of 101 students. Study data were obtained from a questionnaire about the use of educational games in mathematics classes. Study data processing using descriptive statistics, qualitative methods. The results of the study show that there are differences in responses between male and female students, towards: fun learning and increased motivation using media games and missions in educational games.Keywords: Edukasi, Game, Gender, MathematicsAbstrakPenggunaan media pada pembelajaran matematika dapat membantu siswa untuk lebih mudah belajar. Salah satunya media game edukasi. Adapun studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan tanggapan siswa SMP berdasarkan gender terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan media game edukasi. Subjek penelitianini adalah siswaSMP kelas 7 dan 8 di Mataram-Nusa Tenggara Barat sebanyak 101 siswa. Data studi diperoleh dari kuesioner tentang penggunaan game edukasi di kelas matematika.Pengolahan data studi menggunakan statistic deskriptif ,metode kualitatif. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tanggapan antara siswa laki-laki dan perempuan, terkait: pembelajaran yang menyenangkan dan motivasi yang meningkatdenganmenggunakan media game, serta misi pada game edukasi.Kata kunci: Education, Game, Gender, Matematika
Optimalisasi Pemanfaatan Media GeoGebra dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk Meningkatkan Pemahaman Materi Dimesi Tiga Sari, Noviana Puspita; Tyaningsih, Ratna Yulis
Griya Journal of Mathematics Education and Application Vol. 4 No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/griya.v4i2.463

Abstract

This research discusses the design and implementation of GeoGebra media and Student Worksheets (LKPD) for three-dimensional material. The main focus is to explore the potential use of media, such as 3D simulations, learning videos, and mathematical modeling applications, in increasing students' understanding of complex concepts. This research aims to analyze the benefits of using media in LKPD, including increasing student involvement, facilitating abstract understanding, and developing critical thinking skills. The research method used is Research and Development (R&D), which involves the needs analysis, design, development, implementation and evaluation stages. The research subjects consisted of 30 students taking the Mathematics Teaching Materials course. Data was collected through a questionnaire on student responses to the media used in the LKPD. The research results show that the use of media in LKPD significantly increases understanding of three-dimensional concepts. In addition, students responded positively to the use of media, which was considered to help visualize concepts and increase interest in learning. Media implementation strategies in LKPD, such as demonstrations, group assignments and class discussions, have proven effective in overcoming the challenges of three-dimensional mathematics learning. Thus, media integration in LKPD is recommended as an effective strategy to increase students' understanding and involvement in mathematics learning.
Efektivitas Penggunaan Kahoot dan Ispring Suite Sebagai Media Evaluasi Hasil belajar Siswa Pada Pembelajaran Matematika Kelas XI Bisnis Ritel Apriliani, Febi; Amrullah; Tyaningsih, Ratna Yulis; Hayati, Laila
Journal of Classroom Action Research Vol. 6 No. 3 (2024): Agustus 2024
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan IPA, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jcar.v6i3.8543

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektivan dan kelayakan Kahoot dan Ispring Suite sebagai media evaluasi hasil belajar peserta didik. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu angket dan tes. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis data kuantitatif yang terdiri dari analisis efektivitas dan kelayakan media evaluasi. Penelitian ini dilaksanakan setelah instrumen dan media yang digunakan melalui uji validitas oleh ahli. Hasil uji validitas media evaluasi memperoleh skor rata-rata 0,87 dengan kategori Sangat Valid dan Validitas angket memperoleh skor rata-rata 0,82 dengan kategori Sangat Valid. Untuk menguji efektivitas media digunakan ketuntasan belajar klasikal yang diperoleh dari hasil evaluasi peserta didik menggunakan media. Analisis hasil evaluasi peserta didik yang menggunakan Kahoot diperoleh hasil bahwa terdapat 28 peserta didik yang berhasil tuntas dalam evaluasi sehingga mendapatkan ketuntasan klasikal sebesar 90,3% dengan kategori sangat efektif dan yang menggunakan Ispring Suite terdapat 26 peserta didik yang berhasil tuntas dalam evaluasi ehingga mendpatkan ketuntasan klasikal sebesar 83,9% dengan kategori efektif, Untuk menguji kelayakan media yang dihasilkan digunakan angket respon peserta didik. Berdasarkan analisis data diperoleh untuk kelayakan media Kahoot sebesar 86,38% dengan kategori sangat layak dan media Ispring Suite sebesar 81,32% dengan kategori sangat layak. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kahoot lebih layak dan efektif digunakan sebagai media evaluasi dibandingkan dengan Ispring Suite.
Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas VIII dalam Menyelesaikan Soal Adaptasi PISA Ditinjau dari Gaya Belajar Puput Salsabilah; Soeprianto, Harry; Yulis Tyaningsih, Ratna; Subarinah, Sri
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol 14 No 4 (2024): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v14i4.2074

Abstract

Capaian literasi matematika yang rendah di Indonesia, terutama pada konten shape and space, mendapat perhatian khusus dalam bidang pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan literasi matematika siswa dengan gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik dalam menyelesaikan soal-soal adaptasi PISA pada konten shape and space. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII-A SMPN 7 Mataram dengan 11 siswa visual, 11 siswa auditorial, dan 11 siswa kinestetik. Instrumen penelitian adalah angket gaya belajar, tes tertulis kemampuan literasi matematika, dan pedoman wawancara. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Indikator kemampuan literasi matematika yaitu: 1) merumuskan situasi secara matematis (formulate), 2) menerapkan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika (employ), 3) menafsirkan, menerapkan dan mengevaluasi hasil matematika (interpret). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan gaya belajar visual memiliki kemampuan literasi matematika yang baik, mampu melalui semua tahap literasi matematika dengan teliti namun sedikit kesulitan dalam menafsirkan kembali hasil yang diperoleh ke permasalahan yang ada. Siswa dengan gaya belajar auditorial mampu merumuskan masalah secara matematis dan menerapkan konsep, namun masih kurang lengkap menuliskan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal. Sedangkan siswa dengan gaya belajar kinestetik hanya mampu merumuskan masalah secara matematis namun kesulitan dalam menerapkan konsep dan menafsirkan hasil yang diperoleh ke permasalahan yang ada.
Analisis Kesalahan Siswa Berdasarkan Metode Newman dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau dari Kemampuan Matematis Siswa Dina, Yana Roza; Hayati, Laila; Tyaningsih, Ratna Yulis; Kurniati, Nani
Journal of Classroom Action Research Vol. 6 No. 3 (2024): Agustus 2024
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan IPA, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jcar.v6i3.8574

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan penyebab terjadinya kesalahan dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan metode Newman ditinjau dari kemampuan matematis siswa. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Akuntansi-1 SMKN 1 Mataram. Teknik pengumpulan data meliputi tes tulis dalam bentuk essay dan wawancara. Teknik analisis data kualitatif meliputi data reduction, data display dan conclusion drawing/verification. Siswa dengan kemampuan matematis tinggi melakukan kesalahan pada tahap encoding error 50%, comprehension error 40,48%. Siswa dengan kemampuan matematis sedang melakukan kesalahan pada tahap comprehension error 59,09%, encoding error 83,33%. Siswa kemampuan matematis rendah melakukan kesalahan pada tahap reading error 54,17%, comprehension error 76,04%, transformation error 47,91%, process skill error 58,33%, encoding error 88,54% . Penyebab siswa melakukan kesalahan pada reading error ialah kesalahan dalam menangkap informasi yang terdapat pada soal; comprehension error disebabkan siswa lupa menuliskan diketahui dan ditanyakan, tidak terbiasa menuliskan diketahui dan ditanyakan, salah dalam menjabarkan informasi yang terdapat pada soal; transformation error disebabkan siswa ingin cepat menyelesaikan soal yang diberikan; process skill error disebabkan siswa salah memahami informasi dalam tahap reading error; encoding error disebabkan siswa terburu-buru dalam mengerjakan soal sehingga tidak menuliskan kesimpulan, siswa melakukan kesalahan dalam proses perhitungan sehingga jawaban akhir salah, tidak menuliskan kesimpulan dari pertanyaan di soal dikarenakan siswa terburu-buru dalam mengerjakan soal dan tidak terbiasa menuliskan kesimpulan dalam mengerjakan soal. Diharapkan dapat memberikan informasi bagi guru tentang kesalahan yang dialami siswa dalam menyelesaikan  masalah matematika dalam bentuk soal cerita.
Analisis Proses Berpikir Dalam Memecahkan Masalah Matematika Siswa Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Introvert Dan Extrovert Hastuti, Lia puji; Sarjana, Ketut; Tyaningsih, Ratna Yulis; Soepriyanto, Harry
Journal of Classroom Action Research Vol. 6 No. 4 (2024): November 2024
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan IPA, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jcar.v6i4.9500

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrifsikan proses berpikir dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari tipe kepribadian introvert dan extrovert siswa kelas IX MTsN 1 Mataram tahun ajaran 2024/2025. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX MTsN 1 Mataram tahun ajaran 2024/2025 dan sample penelitian ini kelas IX-4  berukuran 30 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan angket/kuesioner, tes, dan wawancara dengan instrument yang telah valid. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis  kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan proses berpikir dalam memecahka masalah siswa dengan tipe kepribadian introvert sebesar 52,11% dengan kategori rendah; sedangkan kemampuan proses berpikir dalam memecahkan masalah siswa dengan tipe kepribadian extrovert sebesar 56.09% dengan kategori cukup. hal ini menunjukkan bahwa kemampuan proses berpikir dalam memecahkan masalah siswa dengan tipe kepribadian extrovert lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memiliki tipe kepribadian introvert.
Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau dari Kecemasan Matematis Siswa Fadila, Laila; Arjudin; Tyaningsih, Ratna Yulis; Kurniati, Nani
Journal of Classroom Action Research Vol. 6 No. 4 (2024): November 2024
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan IPA, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jcar.v6i4.9521

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari kecemasan matematis siswa. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini melibatkan 35 siswa kelas XI AKL 2 SMK Negeri 2 Mataram tahun ajaran 2024/2025. Kemudian dipilih 6 siswa sebagai subjek penelitian dengan ketentuan yaitu 2 siswa dengan kecemasan matematis rendah, 2 siswa dengan kecemasan matematis sedang, dan 2 siswa dengan kecemasan matematis tinggi. Instrumen dalam penelitian ini yaitu kuesioner kecemasan matematis, tes kemampuan pemecahan masalah matematika, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kecemasan matematis rendah mampu melalui semua tahapan pemecahan masalah yaitu mampu memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali. Siswa dengan kecemasan matematis sedang hanya mampu melalui tiga tahapan pemecahan masalah yaitu memahami masalah, menyusun rencana, dan melaksanakan rencana. Sedangkan tahap memeriksa kembali siswa belum mampu melaluinya. Siswa dengan kecemasan matematis tinggi tidak dapat melalui semua tahapan pemecahan masalah yaitu belum mampu dalam memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, sampai memeriksa kembali.