Tantangan pendidikan sains Abad 21 menuntut pembelajaran yang kontekstual, relevan secara ekologis, dan mampu membangun literasi ilmiah serta kepedulian terhadap keberlanjutan. Penelitian ini mengkaji implementasi pembelajaran IPA melalui kegiatan ekowisata mangrove di Pantai Cemara, Lombok, dengan meninjau aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis untuk melihat relevansinya terhadap penguatan pendidikan sains masa kini. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan potensi lokal ekosistem mangrove sebagai sumber belajar IPA; (2) menjelaskan proses konstruksi pengetahuan peserta didik melalui pengalaman empiris dan aktivitas ilmiah; serta (3) mengungkap nilai, sikap, dan orientasi keberlanjutan yang terbentuk melalui kegiatan pembelajaran berbasis ekowisata. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek peserta didik yang terlibat dalam kegiatan lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis, ekosistem mangrove menyediakan objek nyata yang merepresentasikan konsep-konsep ekologi pesisir dan dapat dijadikan laboratorium alam bagi pembelajaran IPA. Secara epistemologis, peserta didik membangun pengetahuan melalui kegiatan penyelidikan ilmiah, pengamatan langsung, dan refleksi kritis. Secara aksiologis, kegiatan ekowisata mangrove menumbuhkan eco-literacy, kesadaran keberlanjutan, dan tanggung jawab ekologis. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran IPA berbasis potensi lokal dan ekowisata mendukung prinsip Education for Sustainable Development (ESD) serta memperkuat pembelajaran kontekstual yang bermakna bagi peserta didik.