p-Index From 2021 - 2026
12.464
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Al-Risalah : Jurnal Imu Syariah dan Hukum Islam Futura AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Kamaya: Jurnal Ilmu Agama KABILAH : Journal of Social Community Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman AL-MUQARANAH-Jurnal Program Studi Perbandingan Mazhab Al-Usrah : Jurnal Al-Ahwal As-Syakhsiyah AS-SÂIS (JURNAL HUKUM TATA NEGARA ISLAM/SIYASAH) At-Tafkir Unes Law Review Journal of Humanities and Social Studies MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial AL-Ishlah : Jurnal Ilmiah Hukum Jurnal Darma Agung Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan Al-Manhaj: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam LEGAL BRIEF INTERNATIONAL JOURNAL OF CULTURAL AND SOCIAL SCIENCE Al-MIKRAJ: Jurnal studi Islam dan Humaniora Journal Of Human And Education (JAHE) Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Jurnal Fuaduna: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Al-Istinbath: Jurnal Hukum Islam Journal of Student Research QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Jurnal Ilmiah Dan Karya Mahasiswa Jurnal Kajian dan Penelitian Umum Sufiya Journal Of Islamic Studies Kultura: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Mutiara: Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Eksekusi: Jurnal Ilmu Hukum dan Administrasi Negara Student Research Journal Aladalah: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Nian Tana Sikka: Jurnal Ilmiah Mahasiswa IIJSE Mandub: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Aksioreligia : Jurnal Studi Keislaman Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum Jurnal AL-MAQASID: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Journal of Innovative and Creativity Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Tabayyun : Journal of Islamic Studies Tabayyanu : Journal of Islamic Law Jurnal AL-MAQASID: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Civilia: Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan Fatih: Journal of Contemporary Research Mesada: Journal of Innovative Research Albayan : Journal of Islam and Muslim Societies Jurnal Hukum Keluarga Ahlana: Jurnal Hukum dan Hukum Keluarga Islam Jurnal Teologi Islam At-Tadris: Journal of Islamic Education Kertha Semaya : Journal Ilmu Hukum
Claim Missing Document
Check
Articles

Konsep Kafaah dalam Hukum Perkawinan Islam: Telaah dari Kitab Fathul Muin Manalu, Agus Salim Boang; Firmansyah, Heri
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/p8wh2y17

Abstract

Konsep kafā’ah (kesetaraan atau kecocokan) dalam hukum perkawinan Islam merupakan prinsip normatif yang bertujuan menjaga keharmonisan dan keberlangsungan rumah tangga. Namun demikian, penafsiran dan penerapannya kerap menimbulkan perdebatan, terutama dalam konteks masyarakat modern yang menekankan kesetaraan gender dan perubahan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kafā’ah dalam hukum perkawinan Islam berdasarkan perspektif fikih klasik, khususnya dalam kitab Fath al-Mu‘īn karya al-Imām al-Ramlī, serta menelaah relevansinya dalam konteks hukum dan sosial masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer diperoleh dari kitab-kitab fikih klasik, terutama Fath al-Mu‘īn, sedangkan data sekunder bersumber dari literatur ilmiah kontemporer, artikel jurnal, dan peraturan perundang-undangan terkait hukum keluarga Islam. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, kemudian dianalisis dengan metode deskriptif-analitis untuk mengungkap makna normatif dan kontekstual dari konsep kafā’ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kafā’ah dalam hukum perkawinan Islam menekankan kesetaraan dalam aspek agama, akhlak, nasab, status sosial, dan kualitas pribadi guna mencegah terjadinya konflik dalam perkawinan. Namun, penerapan kafā’ah tidak bersifat mutlak dan perlu dipahami secara kontekstual. Dalam praktik kontemporer di Indonesia, kafā’ah lebih berfungsi sebagai pertimbangan etis daripada syarat hukum yang kaku, seiring dengan berkembangnya perspektif mengenai hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep kafā’ah tetap relevan dalam hukum perkawinan Islam, namun penerapannya perlu disesuaikan dengan dinamika sosial modern agar tetap mencerminkan keadilan, keharmonisan, dan perlindungan hak individu dalam perkawinan.
Nusyuz dan Gugurnya Hak Istri: Analisis Fiqh Syafi’iyyah dan Implikasi dalam Hukum Modern Zulfadly, Muhammad Ichwan; Firmansyah, Heri
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/rzjy1w78

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep nusyuz dan implikasinya terhadap gugurnya hak istri dalam perspektif fikih mazhab Syafi’iyyah serta relevansinya dalam hukum keluarga Islam modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis batasan normatif nusyuz, khususnya terkait penghentian sementara hak istri seperti nafkah dan pembagian giliran (qism), serta menelaah penerapannya dalam konteks hukum keluarga kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, dengan menelaah kitab-kitab fikih klasik mazhab Syafi’iyyah sebagai sumber primer, serta peraturan perundang-undangan dan literatur ilmiah modern sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam fikih Syafi’iyyah, gugurnya hak istri akibat nusyuz bersifat sementara, proporsional, dan bertujuan edukatif, bukan represif. Dalam konteks hukum keluarga Islam modern, konsep nusyuz perlu ditafsirkan secara kontekstual agar selaras dengan prinsip keadilan dan perlindungan hak perempuan. Penelitian ini menegaskan bahwa fikih Syafi’iyyah tetap relevan sepanjang diinterpretasikan secara dinamis sesuai dengan perkembangan sosial dan hukum kontemporer.
Social Construction of Gender Equality in the Family of Working Couples in Tanjungbalai Indonesia: An Analysis of Marriage Law and a Compilation of Islamic Law Heri Firmansyah; Ahmad Fathan Aniq; Rezkia Zahara Lubis
Tabayyanu : Journal Of Islamic Law Vol. 2 No. 02 (2025)
Publisher : Yayasan Dar Arrisyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gender inequality in working families remains a structural problem in Indonesia. In Tanjungbalai, despite Law No. 1 of 1974 on Marriage and the Compilation of Islamic Law (KHI) affirming the equality of husband and wife, patriarchal practices continue to impose multiple domestic responsibilities on women. This study employed a qualitative approach under the paradigm of social definition, using Peter L. Berger’s theory of social construction. Data were gathered through semi-structured interviews with three working families in Tanjungbalai, supplemented by legal document analysis. The findings reveal that the social construction of gender roles is shaped through externalization, objectivation, and internalization institutionalized within community norms. Women continue to shoulder domestic work despite contributing to family income. Meanwhile, the articles within the Marriage Law and KHI are often interpreted in patriarchal terms, thereby reinforcing inequality. The study underscores the need for a gender-responsive reinterpretation of family law and the mainstreaming of gender justice values in household practices. The novelty of this research lies in its integration of Berger’s social construction theory with the legal analysis of Indonesian marriage and Islamic family law, applied to the empirical case of Tanjungbalai—an approach rarely explored in previous scholarship.
Konsep Nafkah Dan Hak Istri Atas Pendapatan Suami Dalam Hukum Keluarga Islam Meifiani Ritonga; Heri firmansyah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7122

Abstract

Konsep nafkah dan hak istri atas pendapatan suami merupakan isu fundamental dalam hukum keluarga Islam yang terus mengalami dinamika seiring perubahan struktur sosial dan ekonomi keluarga Muslim. Dalam fikih klasik, nafkah diposisikan sebagai kewajiban mutlak suami sebagai konsekuensi akad nikah, sementara pendapatan suami dipandang sebagai harta milik pribadi yang dibatasi oleh kewajiban syar‘i. Namun, perkembangan masyarakat kontemporer, termasuk meningkatnya partisipasi ekonomi istri, menimbulkan persoalan baru mengenai batasan hak istri atas pendapatan suami serta relevansi konsep nafkah dalam relasi keluarga modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep nafkah dan kedudukan hak istri atas pendapatan suami dalam hukum keluarga Islam melalui perspektif klasik dan kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan perbandingan, melalui kajian terhadap Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab fikih klasik, serta regulasi dan pemikiran hukum Islam kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hukum keluarga Islam, hak istri atas pendapatan suami tidak dimaknai sebagai hak kepemilikan absolut, melainkan sebagai hak nafkah yang wajib dipenuhi secara adil dan layak. Perspektif kontemporer menegaskan pentingnya penafsiran kontekstual terhadap konsep nafkah tanpa menghilangkan prinsip dasar kewajiban suami. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan integratif antara fikih klasik dan pemikiran hukum Islam kontemporer diperlukan untuk menjaga relevansi konsep nafkah serta mewujudkan keadilan dan keharmonisan dalam relasi suami istri di tengah dinamika sosial modern.
Konsep Nafkah Dan Hak Istri Atas Pendapatan Suami Dalam Hukum Keluarga Islam Meifiani Ritonga; Heri firmansyah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7920

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada aspek medis dan sosial ekonomi penderita. Meskipun pengobatan TB disediakan secara gratis oleh pemerintah, pasien tetap menanggung biaya langsung non-medis dan biaya tidak langsung selama proses pengobatan. Di Kota Kupang, tingginya proporsi pekerja sektor informal serta penduduk dengan pendapatan di bawah Upah Minimum Regional (UMR) diduga berkontribusi terhadap beban ekonomi yang dialami penderita TB. Menganalisis beban ekonomi penderita tuberkulosis berdasarkan status pekerjaan dan tingkat pendapatan di Kota Kupang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 90 penderita TB yang telah menjalani pengobatan minimal satu bulan dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner survei pembiayaan pasien TB yang mencakup biaya langsung non-medis dan biaya tidak langsung. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Mann-Whitney. Median total beban ekonomi penderita TB berdasarkan status pekerjaan adalah Rp50.000,00 dengan rentang Rp5.000,00 hingga Rp5.020.000,00. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok pekerjaan formal dan informal (p = 0,358). Median total beban ekonomi berdasarkan tingkat pendapatan adalah Rp64.000,00 dengan rentang yang sama, dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok pendapatan di bawah UMR dan ≥UMR (p = 0,208). Analisis bivariat terhadap biaya langsung non-medis dan biaya tidak langsung juga menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna baik berdasarkan status pekerjaan maupun tingkat pendapatan (p > 0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara beban ekonomi penderita tuberkulosis berdasarkan status pekerjaan dan tingkat pendapatan di Kota Kupang.
IMPLICATIONS OF TRANSGENDER ON MARITAL STATUS FROM THE PERSPECTIVE OF MEDAN CITY SCHOLARS Rambe, Rachmat Husein; Syam, Syafruddin; Firmansyah, Heri
International Journal of Cultural and Social Science Vol. 7 No. 1 (2026): International Journal of Cultural and Social Science
Publisher : Pena Cendekia Insani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53806/ijcss.v7i1.1302

Abstract

The phenomenon of gender reassignment (transgender) presents complex legal issues, particularly concerning marital status from an Islamic legal perspective. This research examines the Islamic view on gender reassignment, the validity of marriage post-reassignment, and the implications on marital status according to scholars in Medan City. Using a qualitative method with a normative-sociological approach, data was gathered through a literature review and interviews with scholars from the Indonesian Ulema Council (MUI), Muhammadiyah, and Al-Washliyah. The findings show that Islamic law views intentional sex reassignment, without medical reasons, as contrary to human nature and impermissible. While the marriage contract remains valid, gender reassignment disrupts the marital essence, rendering the marriage unsustainable. Medan scholars believe that gender reassignment does not invalidate the marriage but provides a strong basis for ending it through Islamic legal mechanisms, with fasakh being the most just solution. This research contributes to Islamic family law studies, emphasizing the Sharia-oriented approach in addressing transgender issues.
Penipuan Status Lajang Suami sebagai Bentuk Dharar dan Implikasinya terhadap Gugatan Cerai Istri: Analisis Kompilasi Hukum Islam Sundari, Wike; Firmansyah, Heri
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Takuana (January-March)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v4i4.340

Abstract

Marriage in Islam is a mitsaqan ghalizhan grounded in honesty and transparency. However, some husbands fraudulently claim to be “single” to conceal an existing marriage, facilitate siri marriages, or evade responsibilities. This study examines the legal construction of such fraud through the concepts of dharar and dhirar, and its implications for a wife’s divorce claim under the Compilation of Islamic Law (KHI). Using normative legal research with statutory and conceptual approaches, the study analyzes relevant legal norms and Islamic legal principles through a literature review. The findings indicate that false single-status claims are not merely administrative violations, but constitute dharar ma‘nawi (psychological and moral harm) that undermines marital integrity and violates the wife’s rights. In Islamic legal reasoning, this conduct falls under the maxim la dharar wa la dhirar. Juridically, it supports divorce claims through an expanded interpretation of Article 116 (f) and 116 (g) KHI.
Relevansi Qawā‘id Fiqhiyyah dalam Menyelesaikan Problematika Hukum Islam di Era Modern: Studi Pendekatan Normatif terhadap Isu Sosial dan Teknologi Muhammad Iqbal Hanafi Nasution; Muhammad Amar Adly; Heri Firmansyah
Tabayyun : Journal Of Islamic Studies Vol. 3 No. 02 (2025)
Publisher : Yayasan Dar Arrisyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66174/r463zv55

Abstract

This study discusses the implementation of Qawā‘id Fiqhiyyah (Islamic legal maxims) in addressing and resolving increasingly complex contemporary issues in line with the advancement of time, particularly in the social, economic, and technological domains. Qawā‘id Fiqhiyyah serve as foundational principles in Islamic law that are universal and flexible, enabling them to be applied in response to new problems not explicitly regulated in the scriptural sources (nash). Maxims such as al-‘ādah muḥakkamah (custom is authoritative), al-maṣlaḥah al-mursalah (unrestricted public interest), al-ḍarar yuzāl (harm must be eliminated), and al-mashaqqah tajlib al-taysīr (hardship begets ease) form essential foundations for formulating contextual and beneficial Islamic legal solutions. This research is normative juridical in nature, using a statute approach. Data were obtained from primary legal sources such as the Qur’an, Hadith, and classical texts on uṣūl al-fiqh and qawā‘id fiqhiyyah, supported by secondary and tertiary legal materials. The data analysis technique used is qualitative, with a descriptive-analytical approach. The results of the study indicate that Qawā‘id Fiqhiyyah are capable of serving as adaptive guidelines in establishing Islamic legal rulings on modern phenomena such as digital transactions, sharia-compliant fintech, and contemporary social issues. These maxims provide both theoretical and practical foundations for scholars and academics to perform legal ijtihad, ensuring that Islamic law remains relevant and solution-oriented across eras
Kaidah Fiqhiyyah dan Aplikasinya dalam Hukum Keluarga Tentang Radha’ah (Menyusui) Heriandi; Muhammad Amar Adly; Heri Firmansyah; Rahmad Hidayat
Tabayyun : Journal Of Islamic Studies Vol. 3 No. 02 (2025)
Publisher : Yayasan Dar Arrisyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66174/2aarq097

Abstract

This study investigates the Islamic legal principles governing radha’ah (breastfeeding) and its implications in family law, particularly in defining mahram (non-marriageable kinship) relationships. Rooted in classical and contemporary Islamic jurisprudence, this qualitative, library-based research identifies the foundational legal maxims: “What is prohibited by lineage is also prohibited by breastfeeding,” “The husband’s milk is the cause of prohibition,” and “Nutrition is the legal cause (‘illah) of prohibition in breastfeeding.” The study emphasizes that radha’ah establishes a familial bond equivalent to nasab (bloodline) and is effective when a child under two years of age is breastfed at least five times. Using sources such as the Qur’an, Prophetic traditions, juristic consensus (ijma’), and classical texts from various madhahib (schools of thought), the research reveals that both the breastfeeding woman and her husband (as the source of the milk) establish mahram ties with the breastfed child. Furthermore, it underscores the biological basis of Islamic rulings by demonstrating that nutritional transmission through milk forms the basis for legal prohibition, reflecting the maqāṣid al-sharī‘ah (objectives of Islamic law). This work offers vital insight into the intersection of biological function, legal normativity, and socio-religious ethics in Islamic family jurisprudence.
Co-Authors Adly , M Amar Adly , M. Amar Adly , Mhd Amar Adly, Amar Adly, M. Amar Adly, Mhd Amar Adly, Muhammad Amar Adly, Muhammad Amar Ahmad Fathan Aniq Ahmad Fathan Aniq Ahmad Yasir Sinulingga Ahmad Zaky Nauval Amar Adly Amar Adly, Muhammad Amar Adly, Muhammad Anna Muwaffika Ardiansyah Ardiansyah Ardiansyah Ardiansyah ARDIANSYAH ARDIANSYAH Ayu Permata Sar Sari Azwani Lubis Dahanum, Wani Dalimunthe, Said Hasan Al-Khindawi Delvira, Shania Diki Ardian Saputra Diniyati Diniyati, Diniyati Faisar Ananda Arfa Faishal Faishal Fathurrahman, M. FATIMAH FATIMAH Fillah , Zamzam Al-Fathoni Ghafar, Taufik Haidir, Haidir Hamid, Ikmal hamsah hudafi Hanan, Aulia Fahira Harahap, Hasyim Thahara Hasibuan, Ahmad Ridoan Heriamsyah Simanjuntak Heriandi Hidayah, Erika Nurul Ibnu Radwan Siddik Turnip Imam Yazid Indah Amani Lubis Irham Dongoran Irwan Irwan Isman Nuddin Ritonga Jumita Riska Juni Arnisa Napitupulu Kasanova, Aldi Khairatun Nisa Kumala, Wati Laila Suhada Laila Syuhada MA , Dr. M. Amar Adly Manalu, Agus Salim Boang Mardina Ratna Sari Ritonga Marpaung, Mukhlis Tri Mulya Masniari Munthe Meifiani Ritonga Mhd Amar Adly Mhd. Amar Adly Milhan Milhan MUHAMMAD ABIDIN Muhammad Amar Adly Muhammad Amar Adly Muhammad Amar Adly Muhammad Amar Adly, Muhammad Amar Muhammad Arif Muhammad Fadli Nasution Muhammad Hajatoleslam Siregar Muhammad Hizbullah Muhammad Iqbal Hanafi Nasution Muhammad Muhazzir Muhammad Rusydi Muhammad Saputra Muhammad Sya’ban Siregar Mulyatno, Mulyatno Munthe, Masniari Nas, Zulkifli Nasution, Saphira Husna Nazlyany Hasibuan Noer Zaini Khalis Nur Asrima NUR FATIMAH Nur Suci Alawiyah Nurmala Dewi Lubis Pagar, Pagar Prasetia, Adji Rachmat Husein Rambe Rahmad Fauzi Rahmad Hidayat Rahmadhani Simatupang Rahmadi, Fuji Rahmah Aulia Ramadhan, M. Khairi Rambe, Rachmat Husein Reza, Muhammad Fahmi Rezkia Zahara Lubis Rima Rahmayani Tanjung Rizka, Jamilah Rizki Syahputra Nasution Rudi Pratama Salsa Selfiani Nasution Saphira Husna Nasution Sarah Aulia Br. Ginting Simanjuntak, Heriamsyah Simatupang, Rahmadhani Sinulingga, Achmad Yasir Sinulingga, Achmad Yazid SITI KHODIJAH Sofwan Atsauri Sukiati Sukiati Sulastri Daulay Sundari, Wike Syafruddin Syam Syafruddin Syam Syahputra, Akmaluddin Syahril Efendi Tara, Nurmalia Taufik Ghafar Taufikh Umar Umar Umar Umar Uswatun Hasanah Utama, Bagus Wahyuda Wahyuni Syahfitri Willy Zulfan Wiranto, Wiranto Yahya, Mariati Yansyah, Muhammad Syafri Yenni Samri Juliati Nasution Yosi Syahfitri Siahaan Z, M Yakub Zainul Aziz Nasution Zikri, Muhammad Zulfadly, Muhammad Ichwan