p-Index From 2021 - 2026
12.807
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Al-Risalah : Jurnal Imu Syariah dan Hukum Islam Futura AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Kamaya: Jurnal Ilmu Agama KABILAH : Journal of Social Community Islamika : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman AL-MUQARANAH-Jurnal Program Studi Perbandingan Mazhab Al-Usrah : Jurnal Al-Ahwal As-Syakhsiyah AS-SÂIS (JURNAL HUKUM TATA NEGARA ISLAM/SIYASAH) At-Tafkir Unes Law Review Journal of Humanities and Social Studies MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial AL-Ishlah : Jurnal Ilmiah Hukum Jurnal Darma Agung Al-Qadha: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-Undangan Al-Manhaj: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam LEGAL BRIEF INTERNATIONAL JOURNAL OF CULTURAL AND SOCIAL SCIENCE Edusoshum: Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Humaniora Al-MIKRAJ: Jurnal studi Islam dan Humaniora Journal Of Human And Education (JAHE) Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Jurnal Fuaduna: Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Al-Istinbath: Jurnal Hukum Islam Journal of Student Research Jurnal Al-Wasith : Jurnal Studi Hukum Islam Jurnal Ilmiah Dan Karya Mahasiswa Jurnal Kajian dan Penelitian Umum Sufiya Journal Of Islamic Studies Kultura: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Mutiara: Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Eksekusi: Jurnal Ilmu Hukum dan Administrasi Negara Student Research Journal Nian Tana Sikka: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Jurnal Sains Student Research IIJSE Mandub: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Aksioreligia : Jurnal Studi Keislaman Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum Jurnal AL-MAQASID: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Journal of Innovative and Creativity Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Jurnal Budi Pekerti Agama Islam JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Tabayyun : Journal of Islamic Studies Tabayyanu : Journal of Islamic Law Jurnal AL-MAQASID: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Civilia: Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan Fatih: Journal of Contemporary Research Mesada: Journal of Innovative Research Albayan : Journal of Islam and Muslim Societies Ahlana: Jurnal Hukum dan Hukum Keluarga Islam Jurnal Teologi Islam At-Tadris: Journal of Islamic Education Kertha Semaya : Journal Ilmu Hukum
Claim Missing Document
Check
Articles

KHULU' DALAM PERSPEKTIF FIKIH KLASIK DAN IMPLEMENTASINYA DALAM HUKUM POSITIF INDONESIA Siti khodijah; Heri Firmansyah
Albayan Journal of Islam and Muslim Societies Vol. 2 No. 02 (2025)
Publisher : Albayan Journal of Islam and Muslim Societies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Khulūʿ, as a divorce mechanism initiated by the wife through the payment of iwāḍ (compensation) to the husband, is a legal institution deeply rooted in classical Islamic jurisprudence, yet it has undergone significant transformation when adopted into modern legal systems, including that of Indonesia. This study reassesses the concept of khulūʿ across the four Sunni schools of law and compares these doctrinal formulations with its judicial implementation within the Indonesian legal system, particularly through the Kompilasi Hukum Islam (KHI) and the practices of the Religious Courts. Employing a qualitative, library-based research approach combined with doctrinal and comparative legal analysis, this research finds that although the fundamental elements of khulūʿ—such as the requirement of iwāḍ, the absence of the husband’s right to revoke the divorce, the prescribed ʿiddah, and the centrality of mutual consent—are maintained, the Indonesian legal system has formally institutionalized khulūʿ by mandating judicial proceedings, requiring specific grounds for divorce, authorizing judicial intervention in determining iwāḍ when no agreement is reached, and introducing administrative procedures absent from classical fiqh discourse. The study concludes that the Indonesian model of khulūʿ reflects a process of Islamic legal adaptation shaped by the demands of modernity, the administrative needs of the state, and the imperative of protecting women, thereby producing a dialectical relationship between fiqh orthodoxy and contemporary family law regulation.
Kaidah Al-Massaqah Tajlibut Taysir: Pengertian, Dalil, Asal Kaidah, Contoh dalam Hukum Keluarga Islam dan Pengecualian Kaidah Zainul Aziz Nasution; Muhammad Amar Adly; Heri Firmansyah
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 2 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/sck3yc81

Abstract

Suatu hukum terkadang tidak ditemukan di dalam Al-QUR’AN dan Hadits, penafsiran dan pemikiran dengan ijtihad sering kali digunakan untuk menggali suatu hukum. Pemikiran dengan ijtihad harus dikondisikan dengan perubahan zaman dan tuntutan masyarakat. Hal ini harus sesuai dengan maqasid syari’ah, yaitu menjaga tujuan syari’at untuk mengatasi masalah hukum yang diperlukan individu (mukallaf). Syariah telah menjamin kesejahteraan setiap orang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Islam adalah agama yang mudah dan menekankan pentingnya kemudahan dalam mengatasi masalah hukum. Menurut kaedah المشقة تجلب التيسر yang berarti kepayahan itu mendatangkan kemudahan, kaedah ini sangat memudahkan untuk menangani kesusahan dalam ibadah dan bertransaksi. Metode yang digunakan adalah metode normatif deskritif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah data sekunder dan bahan pustaka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengertian kaidah Al-Massaqah Tajlibut Taysir, dalil dan asal kaidah, contoh kaidah dalam hukum keluarga dan pengecualian kaidah. Hasil penelitian ini adalah Al-Massaqah Tajlibut Taysir adalah untuk meringankan kesulitan dalam penerapan hukum keluarga Islam sehingga orang dapat memenuhi kewajiban mereka tanpa mengalami kesulitan yang semestinya.
Mahar dalam Akad Nikah Menurut Perspektif Fikih Syafi’iyyah Bagus Wahyuda Utama; Heri Firmansyah
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 2 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/gy0cb534

Abstract

Mahar (ṣadāq) merupakan salah satu konsekuensi hukum yang melekat pada akad nikah dalam Islam dan berfungsi sebagai hak ekonomi istri yang wajib dipenuhi oleh suami. Dalam fikih mazhab Syafi‘i, mahar memiliki kedudukan strategis meskipun tidak termasuk rukun nikah. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep mahar dalam akad nikah menurut perspektif fikih Syafi‘iyyah dengan menelaah landasan normatif, kedudukan hukum, bentuk dan kadar mahar, serta implikasi hukumnya terhadap relasi suami istri. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan normatif-doktrinal. Sumber data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, serta kitab-kitab fikih mazhab Syafi‘i yang mu‘tabar, didukung oleh literatur hukum Islam berbahasa Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa mahar dalam fikih Syafi‘iyyah dipahami sebagai hak absolut istri yang lahir secara otomatis akibat akad nikah atau hubungan suami istri yang sah. Fleksibilitas penentuan mahar, pengaturan mahar mitsil, serta perlindungan hak istri dalam pelaksanaannya mencerminkan orientasi keadilan dan perlindungan perempuan dalam hukum keluarga Islam. Konsep mahar dalam mazhab Syafi‘i juga memiliki relevansi yang kuat dengan sistem hukum perkawinan Islam di Indonesia.
Konsep Kafaah dalam Hukum Perkawinan Islam: Telaah dari Kitab Fathul Muin Agus Salim Boang Manalu; Heri Firmansyah
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/p8wh2y17

Abstract

Konsep kafā’ah (kesetaraan atau kecocokan) dalam hukum perkawinan Islam merupakan prinsip normatif yang bertujuan menjaga keharmonisan dan keberlangsungan rumah tangga. Namun demikian, penafsiran dan penerapannya kerap menimbulkan perdebatan, terutama dalam konteks masyarakat modern yang menekankan kesetaraan gender dan perubahan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kafā’ah dalam hukum perkawinan Islam berdasarkan perspektif fikih klasik, khususnya dalam kitab Fath al-Mu‘īn karya al-Imām al-Ramlī, serta menelaah relevansinya dalam konteks hukum dan sosial masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer diperoleh dari kitab-kitab fikih klasik, terutama Fath al-Mu‘īn, sedangkan data sekunder bersumber dari literatur ilmiah kontemporer, artikel jurnal, dan peraturan perundang-undangan terkait hukum keluarga Islam. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, kemudian dianalisis dengan metode deskriptif-analitis untuk mengungkap makna normatif dan kontekstual dari konsep kafā’ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kafā’ah dalam hukum perkawinan Islam menekankan kesetaraan dalam aspek agama, akhlak, nasab, status sosial, dan kualitas pribadi guna mencegah terjadinya konflik dalam perkawinan. Namun, penerapan kafā’ah tidak bersifat mutlak dan perlu dipahami secara kontekstual. Dalam praktik kontemporer di Indonesia, kafā’ah lebih berfungsi sebagai pertimbangan etis daripada syarat hukum yang kaku, seiring dengan berkembangnya perspektif mengenai hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep kafā’ah tetap relevan dalam hukum perkawinan Islam, namun penerapannya perlu disesuaikan dengan dinamika sosial modern agar tetap mencerminkan keadilan, keharmonisan, dan perlindungan hak individu dalam perkawinan.
Nusyuz dan Gugurnya Hak Istri: Analisis Fiqh Syafi’iyyah dan Implikasi dalam Hukum Modern Muhammad Ichwan Zulfadly; Heri Firmansyah
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/rzjy1w78

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep nusyuz dan implikasinya terhadap gugurnya hak istri dalam perspektif fikih mazhab Syafi’iyyah serta relevansinya dalam hukum keluarga Islam modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis batasan normatif nusyuz, khususnya terkait penghentian sementara hak istri seperti nafkah dan pembagian giliran (qism), serta menelaah penerapannya dalam konteks hukum keluarga kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, dengan menelaah kitab-kitab fikih klasik mazhab Syafi’iyyah sebagai sumber primer, serta peraturan perundang-undangan dan literatur ilmiah modern sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam fikih Syafi’iyyah, gugurnya hak istri akibat nusyuz bersifat sementara, proporsional, dan bertujuan edukatif, bukan represif. Dalam konteks hukum keluarga Islam modern, konsep nusyuz perlu ditafsirkan secara kontekstual agar selaras dengan prinsip keadilan dan perlindungan hak perempuan. Penelitian ini menegaskan bahwa fikih Syafi’iyyah tetap relevan sepanjang diinterpretasikan secara dinamis sesuai dengan perkembangan sosial dan hukum kontemporer.
Implikasi Yuridis dan Dampak Psikologis Perkawinan Beda Agama Terhadap Tumbuh Kembang Anak Wike Sundari; Heri Firmansyah
Ahlana: Jurnal Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol 3, No 1 (2026): Ahlana: Jurnal Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jhki.v1i1.30447

Abstract

This study examines the legal implications and psychological impacts of interfaith marriage on children’s growth and development in Indonesia. Interfaith marriage is a phenomenon that emerges within a plural society as a result of increasing cross-religious social interactions. However, its regulation within Indonesian positive law remains debatable, particularly after the issuance of Supreme Court Circular Letter (SEMA) No. 2 of 2023, which significantly restricts the legal recognition of interfaith marriages. This situation creates a tension between legal certainty and social reality, and it also affects the legal status of children, who may be categorized as children born out of wedlock, thereby limiting their civil rights protection. From a psychological perspective, children raised in interfaith families face challenges in identity formation, especially in understanding differing religious values received from both parents. Based on Cognitive Dissonance Theory and Erik Erikson’s psychosocial development theory, value differences within the family, along with social pressure from the surrounding environment, may lead to internal conflict, spiritual identity crisis, anxiety, and feelings of alienation. Different parenting styles and social stigma further intensify the psychological burden experienced by children during their developmental process. The research employs a normative-empirical legal method using statutory, conceptual, and sociological approaches. Data were collected through literature review and interviews with relevant informants, and analyzed qualitatively. The findings indicate that although interfaith marriage generates complex legal and psychological consequences, these impacts can be minimized when effective family communication, mutual respect, and supportive social environments are present. This study emphasizes the importance of a legal approach that not only prioritizes legal certainty but also considers humanitarian aspects and the protection of the best interests of the child.
BATASAN KONSEP QIWAMAH DALAM RELASI SUAMI ISTRI: ANALISIS KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB SUAMI BERDASARKAN PASAL 79 KOMPILASI HUKUM ISLAM Harapan Simamora; Amar Adly; Heri Firmansyah
Jurnal Al-Wasith : Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Al-Wasith: Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52802/wst.v11i1.2171

Abstract

This study aims to analyze the concept of qiwāmah from the perspective of Islamic law, examine the legal position of the husband as the head of the family under Article 79 of the Compilation of Islamic Law (Kompilasi Hukum Islam), and identify the limits of the husband's authority and responsibilities within marital relations. This research employs normative legal research using statutory and conceptual approaches. The data were collected through library research on the Qur'an, Hadith, the Compilation of Islamic Law, and relevant scholarly literature, and were analyzed qualitatively using a descriptive-analytical method. The findings reveal that qiwamah constitutes a mandate of leadership based on the husband's responsibility to provide financial support, protection, guidance, and care for the family. Article 79 of the Compilation of Islamic Law does not grant the husband absolute authority; rather, it places his leadership within the framework of balanced rights and obligation.
Co-Authors Adly , M Amar Adly , M. Amar Adly , Mhd Amar Adly, Amar Adly, M. Amar Adly, Mhd Amar Adly, Muhammad Amar Adly, Muhammad Amar Agung Taufik Wahyuda Agus Salim Boang Manalu Ahmad Fathan Aniq Ahmad Yasir Sinulingga Ahmad Zaky Nauval Amar Adly Amar Adly Amar Adly, Muhammad Amar Adly, Muhammad Anna Muwaffika Ardiansyah Ardiansyah Ardiansyah Ardiansyah ARDIANSYAH ARDIANSYAH Ayu Permata Sar Sari Azwani Lubis Bagus Wahyuda Utama Dahanum, Wani Dalimunthe, Said Hasan Al-Khindawi Delvira, Shania Diki Ardian Saputra Diniyati Diniyati, Diniyati Faisar Ananda Arfa Faishal Faishal Fathurrahman, M. FATIMAH FATIMAH Fauziah Hanum Ghafar, Taufik Haidir, Haidir Hamid, Ikmal hamsah hudafi Hanan, Aulia Fahira Harapan Simamora Hasibuan, Ahmad Ridoan Heriamsyah Simanjuntak Heriandi Hidayah, Erika Nurul Ibnu Radwan Siddik Turnip Imam Yazid Indah Amani Lubis Irham Dongoran Isman Nuddin Ritonga Jumita Riska Juni Arnisa Napitupulu Kasanova, Aldi Khairatun Nisa Kumala, Wati Laila Suhada Laila Syuhada MA , Dr. M. Amar Adly Mardina Ratna Sari Ritonga Masniari Munthe Meifiani Ritonga Mhd Amar Adly Mhd. Amar Adly Milhan Milhan MUHAMMAD ABIDIN Muhammad Amar Adly Muhammad Amar Adly Muhammad Amar Adly Muhammad Amar Adly, Muhammad Amar Muhammad Arif Muhammad Fadli Nasution Muhammad Hajatoleslam Siregar Muhammad Hizbullah Muhammad Ichwan Zulfadly Muhammad Iqbal Hanafi Nasution Muhammad Muhazzir Muhammad Saputra Muhammad Sya’ban Siregar Mukhlis Tri Mulya Marpaung Munthe, Masniari Nas, Zulkifli Nasution, Saphira Husna Nazlyany Hasibuan Nur Asrima NUR FATIMAH Nur Suci Alawiyah Nurcahaya Nurcahaya Nurmala Dewi Lubis Pagar, Pagar Prasetia, Adji Rachmat Husein Rambe Rahmad Fauzi Rahmad Hidayat Rahmadhani Simatupang Rahmadhani Simatupang Rahmadi, Fuji Rahmah Aulia Ramadhan, M. Khairi Rambe, Rachmat Husein Rasyid Siddiq Reza, Muhammad Fahmi Rima Rahmayani Tanjung Rizka, Jamilah Rizki Syahputra Nasution Rudi Pratama Salsa Selfiani Nasution Saphira Husna Nasution Sarah Aulia Br. Ginting Simanjuntak, Heriamsyah Simatupang, Rahmadhani Sinulingga, Achmad Yasir Sinulingga, Achmad Yazid Siti Khodijah Sofwan Atsauri Sukiati Sukiati Sulastri Daulay Syafruddin Syam Syafruddin Syam Syahputra, Akmaluddin Syahril Efendi Tara, Nurmalia Taufik Ghafar Taufikh Umar Umar Umar Umar Uswatun Hasanah Wahyuni Syahfitri Wike Sundari Wike Sundari Willy Zulfan Wiranto, Wiranto Yansyah, Muhammad Syafri Yenni Samri Juliati Nasution Yosi Syahfitri Siahaan Z, M Yakub Zainul Aziz Nasution Zikri, Muhammad