Proceeding of International Conference on Cultures & Languages
The International Conference on Cultures & Languages (ICCL) provides an interdisciplinary forum for scholars, researchers, educators, practitioners, and cultural professionals to examine the dynamic relationships between language, culture, society, identity, knowledge, and technological transformation. The conference welcomes theoretical, empirical, comparative, and interdisciplinary studies that explore how languages and cultures evolve, interact, and contribute to addressing contemporary global challenges. Its scope encompasses research on language and linguistics, literature and cultural studies, language education and pedagogy, translation and interpreting, communication and media, cultural heritage and preservation, anthropology and society, intercultural communication, digital humanities and emerging technologies, globalization and cultural diversity, religious and cultural traditions, creative industries and the arts, multilingualism, migration and identity, indigenous and local knowledge, and language and culture in sustainable development. The conference also encourages innovative research connecting language and cultural studies with education, technology, social transformation, environmental sustainability, and global citizenship. Through interdisciplinary dialogue and international collaboration, ICCL seeks to advance new perspectives on how language and culture can foster mutual understanding, cultural resilience, inclusive knowledge production, and sustainable global communities.
Articles
248 Documents
Peran Analisis Retorika Semit dalam Studi Al-Qur’an dan Penguatan Toleransi Beragama
Mohammad Yusuf Setyawan
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 749-763
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/bkv5xj57
The emergence of Semitic rhetoric is based on two opposing orientations in assessing the unity of the language structure of the Qur'an. Classical and modern Islamic studies argue that the structure of the Qur'an contains unity and harmony. Meanwhile, most orientalism studies consider that the structure of the Qur'an contains disintegration and is incoherent so that it is necessary to reorder it to fit the logic. Cuypers assumes that the reason for the orientalists' judgments is that they measure the structure of the Qur'an with Greek rhetoric that does not match the structure of the language of the Qur'an. According to him, the structure of the Qur'an needs to be studied through an analysis of Semitic rhetoric. This article aims to reveal the role of Semitic rhetoric analysis on the coherence of the verses of the Qur'an as well as strengthening religious tolerance between religious communities, especially Islam, Christianity, and Judaism. This analysis is used to understand the variations in rhetorical style and language structure of the Qur'an in the historical context of the revelation of the holy book. At first this method was used as an approach to Torah and Bible texts. This research is a qualitative type using analytical descriptive method. Through this research, the researcher finds that Semitic rhetoric can be a new alternative in interpreting the verses of the Qur'an, as this analysis has been previously applied to the holy books of Jews and Christians. In addition, the use of analysis can also be used as a medium for strengthening tolerance between the three religious communities because it is based on the similarity of the structure of each holy book that is in the Semitic language family. This Cuypres study can be used as an important capital to strengthen religious tolerance after the COVID-19 pandemic.
An Analysis of Religious Tolerances as Found from Instagram Comment Section
Sugesti Pratiwi;
Nia Maesaroh;
Rika Uswatun Hasanah;
Erika Indriyani
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 773-779
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/cmvywt44
In the era of society 5.0 where everything can be digitized, social media is one of the important things in human life. Through social media, humans can do communication, sharing experiences, express their feeling, and showing an act about certain thing. Social media is a place to express and share all scopes of life, including religious tolerance. Religious tolerance can be found in human interactions on social media, seen from comments and engagements in social media’s post about an issue related to religion. By the research that will be conducted by the social media interactions, especially on instagram. Research formulation would be: How does Instagram promote the value of religious tolerance in Indonesia and how does it affect social interaction virtually?. This research aims to analyse value of religious tolerance in Indonesia and comment section in Instagram. This study used content Instagram and comment section to analyze value of religious tolerance in Indonesia and affect social interaction virtually.
Internalisasi Moderasi Beragama Dalam Budaya Malam Selikuran Masyarakat Jawa
Noviana Putri Ndah Sari
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 780-793
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/s2630w63
Ramadhan merupakan bulan istimewa karena di dalamnya terdapat Lailatul Qodar. Ketika bicara tentang Lailatul Qodar atau malam kemuliaan , masyarakat jawa memiliki tradisi dalam menyambutnya tradisi ini bernama Malam Selikuran. Tujuan tulisan ini membahas tentang kondisi Massyarakat Jawa, Tradisi Malam Selikuran, dan pengintegrasian Moderasi Beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka baik secara offline maupun online . hasil penelitian ini adalah bahwa dalam kehidupa multicultural diperlukan pemahaman dan kesadaran multi budaya yang menghargai perbedaan, kemajemukan dalam hal ini adanya tradisi Malam Selikuran dalam masyarakat Jawa, kemudian pengintegrasian Penerapan moderasi beragama dalam tradisi Malam Selikuran di Jawa. Mengingat banyak sekali keberagaman yang ada di jawa permasalahan akan muncul tentang waktu penyambutannya dan juga masyarakat yang berbeda agama dalam mememandang adanya tradisi malam selikuran yang ada di Jawa maka moderasi beragama amat sangat penting di terapkan guna menjaga persatuan dan kesatuan dan mewujudkan lingkungan yang harmonis.
Religious Tolerance Limits: A Semiotic Linguistics Analysis of Al-Kᾱfirūn Chapter
Supardi Supardi
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 794-808
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/zjg89b86
This article aims to find the demarcation limit lines of religious tolerance from Surah al-Kafirun and response to some Indonesian issues. This study is based on an exploratory analysis of semiotic linguistic meanings of an al-Quran chapter of al-Kāfirūn as an intention to respond to Indonesian Issues regarding to the practices of religious greeting of the opening public speech, congratulating other religious celebrations, and Muslim students’ singing performance and food sharing in the church as cases in point. This study finds that the religious tolerance limits are “the belief’’ and “the rituals”. Three activities are considered to go beyond the religious tolerance limits drawn from Q.S. al-Kāfirūn, namely: (1) compromising religious belief; (2) mixing religious ritual activities; and (3) imposing religion on others. These three are, among others, the measurement of the activities considered tolerance or intolerance.
POTRET TOLERANSI MASYARAKAT BANYUWANGI PADA MASA KOLONIAL
Hervina Nurullita
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 809-815
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/jttmjb21
Penelitian ini berawal dari sebuah data statistik pada masa kolonial yang biasa disebut dengan istilah volkstelling. Pada volkstelling 1930 terlihat komposisi penduduk Banyuwangi yang beragam; agama, suku dan ras. Sejarah panjang Banyuwangi menunjukkan bahwa telah terjadi persentuhan antara orang-orang Banyuwangi dengan orang-orang dari daerah lain. Sehingga dapat dikatakan pluralisme Banyuwangi telah mengakar seiring dengan perjalanan sejarahnya. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui dan menganalisis akar toleransi di Banyuwangi yang telah terjadi sejak masa kolonial hingga sekarang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari empat langkah; heuristik, kritik, interprestasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perjalanan sejarah Banyuwangi adalah modal dasar toleransi beragama masyarakat Banyuwangi yang terjaga hingga saat ini.
Toleransi dalam Tradisi Ruwahan di Puro Mangkunegaran
Irma Ayu Kartika Dewi
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 816-831
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/ebpekj33
Ruwahan merupakan salah satu tradisi yang masih dijaga dan dilestarikan oleh Puro Mangkunegaran. Dalam pelaksanaannya diikuti oleh kerabat, abdi dalem dan masyarakat. Beberapa memiliki keyakinan yang berbeda, tetapi melakukan tradisi Ruwahan di tempat yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas tradisi Ruwahan di Puro Mangkunegaran dan nilai yang terkandung di dalamnya, untuk mengetahui toleransi beragama dalam pelaksanaan Ruwahan di Puro Mangkunegaran serta dampak toleransi beragama dalam pelaksanaan Ruwahan di Puro Mangkunegaran. Metode yang dilakukan adalah literature review, observasi serta wawancara langsung dengan kerabat, abdi dalem dan masyarakat di sekitar Puro Mangkunegaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ruwahan merupakan ritual yang memiliki maksud dan tujuan yang sama dengan ritual selametan. Dalam hal ini kegiatan ruwahan juga identik dengan kegiatan ziarah kubur yaitu mendoakan dan mengenang para leluhur. Puro Mangkunegaran biasanya melakukan Ruwahan pada malam hari setelah tanggal 1 bulan Ruwah, diawali dengan wilujengan dilanjutkan dengan ziarah kubur. Tradisi ziarah kubur mengajarkan kita untuk menghargai jasa-jasa dan menghormati para leluhur yang telah tiada dengan mendoakan agar memperoleh ketenangan dialamnya. Selanjutnya dalam tradisi ziarah kubur mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat yang telah kita peroleh dan mengajarkan kita untuk berbagi antar sesama. Dalam pelaksanaan tradisi Ruwahan di Puro Mangkunegaran dapat dilihat tidak ada perbedaan atau perlakuan khusus. Semua kerabat, abdi dalem, serta masyarakat yang hadir menjalankan tradisi sesuai dengan urutan-urutan prosesi Ruwahan. Meskipun terdapat perbedaan agama, hal tersebut tidak mengurangi makna dan kekhusukan dalam melakukan tradisi Ruwahan. Hal tersebut terjadi karena kerabat, abdi dalem maupun masyarakat saling menjaga toleransi beragama dan karena kebersamaan itulah maka pelaksanaan tradisi Ruwahan berjalan dengan lancar. Dampak toleransi beragama tersebut mampu membentuk karakter manusia yang lebih baik. Karakter yang baik itu dapat ditunjukkan dengan tindakan-tindakan yang bernilai moral terhadap Tuhan, bernilai moral terhadap sesama manusia berupa sikap toleransi.
ANALYSIS OF THE VALUES OF RELIGIOUS TOLERANCE CONTAINED IN THE GOVERNMENT INTEGRATED THEMATIC COMPANY BOOK IN THE FRAMEWORK OF CIVIC EDUCATION LEARNING
Pepsi Febriyanti;
Sindi Prasetyani
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 832-839
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/b2095f85
This research analyzes the value of religious tolerance contained in an integrated thematic companion book for grade 2 within the scope of Civics Education learning based on Tillman D (2004) in Values Education for Young Adults. Risa Pratono's translation). Jakarta: Grasindo. This study uses a descriptive qualitative method with the instrument in the form of documentation. The data source used is a document: "Buku Penauntuk SD/MI Kelas 2 within the scope of Civic Education material". The results of the study indicate that a tolerance attitude is taught in the KD content that has been arranged in the book. Of course, the teacher is obliged to teach students the material that has been contained in it. The values of tolerance found include (1) peace is the goal; (2) tolerance is open and receptive to the beauty of difference; (3) tolerance respects individuals and differences; (4) tolerance is mutual respect for one another; (5) the seeds of intolerance are fear and indifference; (6) the seed of tolerance is love; (7) if there is no love, there is no tolerance; (8) who know to appreciate the goodness in others and situations have tolerance; (9) tolerance means dealing with difficult situations; and (10) tolerance for the discomforts of life by letting go, lighten up, and let others down.
Intoleransi Beragama di Media Sosial: Analisis Narasi Hoaks dan Interaksi Netizen
Anita Sartika;
Wahyu Hidayat
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 840-863
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/x6qedb88
Hoaks adalah ancaman bagi toleransi beragama, khususnya hoaks yang berkaitan dengan isu agama. Hoaks terkait agama sangat berbahaya karena sifatnya yang lebih sensitif. Hoaks ini biasanya mengunggulkan agama sendiri dan menyerang paham atau agama yang berseberangan. Selain itu, hoaks terkait agama juga biasa menyajikan petunjuk yang keliru, kesalahan dalam menginterpretasikan ayat Al-Qur’an, menghadirkan ketakutan dan membangkitkan emosional, serta mengatasnamakan otoritas agama. Di Indonesia, hoaks terkait agama (dalam hal ini SARA) menduduki posisi ke-dua sebagai hoaks paling banyak tersebar setelah politik di tingkat pertama. Di sisi lain, netizen Indonesia juga dikenal sebagai netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara karena tingginya risiko terpapar hoaks, ujaran kebencian, dan diskriminasi (Microsoft, 2020). Oleh karena itu, untuk meneguhkan toleransi beragama di masa pasca-pandemi, maka perhatian dan usaha ekstra perlu dilakukan dalam menangkal hoaks terkait agama. Artikel ini bertujuan menganalisis keterkaitan hoaks terkait agama dan intoleransi beragama. Rumusan masalah artikel ini adalah; pertama, bagaimana perbedaan agama dinarasikan dalam hoaks? Kedua, bagaimana interaksi netizen menyikapi hoaks tersebut? Artikel ini menggunakan metode Analisis Media Siber, yakni menganalisis pada level ruang media, level dokumen media, level objek media, dan level pengalaman. Adapun objek penelitian artikel ini adalah hoaks terkait Covid-19 dan Islam di masa awal pandemi Covid-19 (Januari-Maret 2020. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperjelas keterkaitan hoaks agama dengan intoleransi beragama di media sosial.
RELIGIOUS TOLERANCE IN MULTICULTURAL COMMUNITIES : ENGLISH LEARNING AMONG PAPUAN STUDENTS IN JAYAPURA
Linda Safitri
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 864-871
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This research discusses the phenomenon of the religious tolerance learning in multicultural communities : English among Papuan students, especially in the Jayapura university. Many tribes from various cultures have inhabited in the Jayapura city. The purpose of this research was to find out and understanding the religious tolerance in multicultural communities in English learning among Papuan students in University of Jayapura. The approach used was a quantitative approach with a descriptive method. The data collection technique used were observation, interviews, documentation study, with data collection tools in the form of observation, questioner, interview, and documentation. Research findings showed that the religious tolerance in learning English among Papuan students is quite high, it can be seen from the students did not discriminate in making friends even though different of ethnicity, beside that the students gave the time for prayer in each religion . Based on the observations, interviews and documentations that the researcher carried out proved that Papuan students and students of other ethnic community is good relation. They were able to show the creation of a mutual religious tolerance religion freedom. The existence of religion was not make a difference but it was a integrity of religious harmony.
Toleransi Beragama Dalam Pendidikan Bahasa Inggris Sekolah Dasar Kelas 1: Analisis Kurikulum KTSP, Kurikulum 2013, dan Kurikulum Merdeka
Shedy Amalia Rozzaqi;
Ade Septiana;
Naura Fairuz Syifa
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 873-893
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22515/ykx54f69
Mengenalkan toleransi beragama sejak kelas 1 sekolah dasar merupakan aspek penting dan perlu diperhatikan. Menurut definisi yang dirumuskan A. Zaki Baidawiy, tasamuh (toleransi) adalah pendirian atau sikap yang termanifestasi pada kesedian untuk menerima berbagai pandangan dan pendirian yang beranekaragam, meskipun tidak sependapat dengannya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa toleransi ini erat kaitannya dengan masalah kebebasan atau kemerdekaan hak asasi dalam tata kehidupan bermasyarakat, sehingga mengizinkan berlapang dada terhadap adanya perbedaan pendapat dan keyakinan dari setiap individu[1]. Dengan memiliki rasa toleransi, siswa dapat berpegang teguh dalam menghargai dan menghormati kemajemukan di sekitarnya, sehingga tidak terjerumus dalam kefanatikan, rasisme, dan egosentris. Hal tersebut perlu diimplementasikan dalam kurikulum yang menjadi pedoman pembelajaran untuk mencapai salah satu tujuan pendidikan. Studi ini akan menganalisis perkembangan materi toleransi beragama pada buku Basic English kurikulum KTSP, buku Grow With English kurikulum 2013, dan buku My Next Words pada kurikulum merdeka. Berdasarkan analisis yang dilakukan, penulis menggabungkan metode literatur dan kepustakaan. Dari hasil studi ini menyatakan bahwa toleransi beragama sudah diajarkan sejak sekolah dasar yang sesuai dengan perkembangan kurikulum. Pada buku literatur kurikulum KTSP tidak membahas mengenai toleransi beragama, sedangkan pada kurikulum 2013 mulai menyisipkan toleransi beragama menggunakan ilustrasi visual dan diidentifikasi sesuai dengan sukunya. Sementara itu, pada buku literatur kurikulum merdeka memberi gambaran secara lebih spesifik mengenai toleransi beragama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkembangan kurikulum berbanding lurus dengan berkembangnya zaman dan kesadaran sosial di lingkungan pendidikan. Maka melalui studi ini diharapkan pengimplementasian toleransi beragama dapat dimuat di setiap perkembangan kurikulum.