Proceeding of International Conference on Cultures & Languages
The International Conference on Cultures & Languages (ICCL) provides an interdisciplinary forum for scholars, researchers, educators, practitioners, and cultural professionals to examine the dynamic relationships between language, culture, society, identity, knowledge, and technological transformation. The conference welcomes theoretical, empirical, comparative, and interdisciplinary studies that explore how languages and cultures evolve, interact, and contribute to addressing contemporary global challenges. Its scope encompasses research on language and linguistics, literature and cultural studies, language education and pedagogy, translation and interpreting, communication and media, cultural heritage and preservation, anthropology and society, intercultural communication, digital humanities and emerging technologies, globalization and cultural diversity, religious and cultural traditions, creative industries and the arts, multilingualism, migration and identity, indigenous and local knowledge, and language and culture in sustainable development. The conference also encourages innovative research connecting language and cultural studies with education, technology, social transformation, environmental sustainability, and global citizenship. Through interdisciplinary dialogue and international collaboration, ICCL seeks to advance new perspectives on how language and culture can foster mutual understanding, cultural resilience, inclusive knowledge production, and sustainable global communities.
Articles
248 Documents
PEMIKIRAN SOSIAL-KEISLAMAN KH. HASYIM ASY'ARI DAN RELEVANSINYA TERHADAP KONSEP KETAHANAN BUDAYA PADA MASYARAKAT DIGITAL
Muzaiyana;
Hurin Hayati Alin
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 1044-1064
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Transformasi sosial pada era digital telah memberikan perubahan penting terhadap kebiasaan dan corak hidup, nilai budaya, serta pola hubungan sosial masyarakat Muslim Indonesia. Dalam konteks ini, ketahanan budaya menjadi aspek krusial untuk menjaga identitas keislaman dan kearifan lokal dari ancaman disrupsi nilai akibat globalisasi digital. Artikel ini mengkaji pemikiran sosial-keislaman KH. Hasyim Asy’ari, seorang ulama kharismatik pendiri Nahdlatul Ulama, yang memiliki kontribusi besar dalam pembentukan karakter keislaman dan keindonesiaan. Artikel ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis literatur, dengan penelusuran nilai-nilai sosial yang terkandung dalam karya-karyanya. Diantaranya kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah, dan Muqaddimah Qanun Asasi NU. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemikiran KH. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya adab, ukhuwah, keilmuan, serta tanggung jawab sosial sebagai fondasi moral masyarakat. Nilai-nilai tersebut terbukti relevan untuk membangun ketahanan budaya di era digital, khususnya dalam menghadapi tantangan seperti disinformasi, krisis identitas, dan polarisasi sosial di media digital. Argumentasi artikel ini bahwa pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dapat direkontekstualisasi sebagai basis etika digital Islam Nusantara yang moderat, toleran, dan berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, warisan intelektual beliau tidak hanya penting dalam sejarah, tetapi juga strategis untuk memperkuat identitas budaya Islam di tengah dinamika digital yang semakin kompleks.
POTRET INTERNALISASI MODERASI BERAGAMA DALAM PUISI JALALUDDIN RUMI PADA FILOSOFI PEMBACAAN SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENCIPTAAN PUISI MAHASISWA
Sri Lestari;
Eko Triono;
Hubbi Saufan Hilmi
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 978-996
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kajian apresiasi puisi memerlukan internalisasi moderasi beragama untuk mendukung kelangsungan pembelajaran sastra di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Salah satu cara untuk menginternalisasi hal ini yaitu melalui perkuliahan moderasi beragama yang diambil dari pendapat tokoh-tokoh moderat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan potret internalisasi moderasi beragama dalam ajaran Jalaluddin Rumi sebagaimana disampaikan oleh Fahrudin Faiz melalui filosofi Al-Qur'an dalam mata kuliah apresiasi puisi pada Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, UIN Raden Mas Said Surakarta. Potret internalisasi ini dilihat dari sudut pandang makna puisi yang disampaikan di YouTube, yang kemudian direfleksikan dalam puisi-puisi yang diciptakan oleh mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, analisis konten, dan dokumentasi. Data dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan YouTube Fahrudin Faiz tentang penafsiran ajaran tasawuf, khususnya moderasi beragama Jalaluddin Rumi, serta puisi-puisi mahasiswa yang diciptakan berdasarkan inspirasi dari tayangan tersebut. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, teknik validasi data menggunakan triangulasi teori dan metode, serta teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama melalui saluran YouTube Fahrudin Faiz menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: (1) Kajian semiotik Pierce, (2) Pemahaman mahasiswa tentang moderasi beragama, dan (3) Internalisasi moderasi beragama dalam perkuliahan studi puisi.
TRADISI REWANGAN SEBAGAI MEDIA PELESTARIAN BAHASA DAERAH DAN PENGUATAN BUDAYA LOKAL DI TENGAH ARUS DIGITALISASI: STUDI DI DUSUN ROGOMULYO, DESA TERAS, KABUPATEN BOYOLALI
Ika Martanti Mulyawati
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 1065-1071
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan mengkaji peran tradisi rewangan sebagai sarana pelestarian bahasa daerah dan penguatan budaya lokal di tengah gelombang digitalisasi, dengan fokus studi di Desa Rogomulyo, Kabupaten Boyolali. Tradisi rewangan, yakni kegiatan gotong royong yang dilaksanakan ibu-ibu saat hajatan, merupakan ruang sosial yang berpotensi besar dalam mempertahankan penggunaan bahasa Jawa serta mewariskan nilai-nilai budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa tradisi rewangan masih aktif dijalankan dan menjadi wadah alami penggunaan bahasa Jawa ngoko dan krama secara kontekstual. Tradisi ini juga berperan sebagai media edukasi nilai-nilai seperti gotong royong, sopan santun, dan kekeluargaan. Namun, partisipasi generasi muda cenderung menurun akibat pengaruh media digital dan perubahan gaya hidup. Kendati demikian, dokumentasi digital terhadap kegiatan rewangan melalui media sosial menghadirkan peluang baru untuk melestarikan tradisi dan bahasa secara adaptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rewangan memiliki nilai strategis dalam menjaga kelangsungan bahasa daerah dan budaya lokal, serta dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi digital secara kreatif.
COPING WITH LANGUAGE BARRIERS: A NARRATIVE STUDY OF TEACHING ENGLISH AT A THAI SCHOOL
Vioni Putri Ismida;
Atin Kurniawati
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 1072-1086
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Language barriers are significant issues that can hinder clear communication between individuals. They are major sources of many problems or challenges in the fields of business, education, aviation, maritime, and healthcare. In education, language barriers pose a challenge for a pre-service English teacher involved in cross-cultural teaching activities. This study aims to analyze the different types of language barriers that may occur and explore strategies that can be used to overcome these language barriers. This study used a narrative inquiry research strategy to explore the pre- service English teacher's experiences and perspectives on the phenomenon under study. The data in this study were obtained from a pre-service English teacher by conducting open-ended questionnaires and interviews. The data analysis used the theory of Miles and Huberman which includes three main stages: data reduction, data display or data presentation, and drawing a conclusion or verification. The data findings revealed that a pre-service English teacher faced significant language barriers, such as mispronunciation, grammar errors, and vocabulary limitations. Despite these language barriers, the pre-service English teacher also found some strategies such as effective communication strategies, automatic translation technology, and translator assistance. It implies that a pre-service English teacher needs to equip themselves with strategies to cope with communication barriers for any situation during their teaching context.
EKSPLORASI KEARIFAN LOKAL DALAM LAGU HIP-HOP: STUDI ETNOPEDAGOGIK UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA DAN BUDAYA BERBASIS DIGITAL BAGI MAHASISWA ASING
Dian Uswatun Hasanah;
Rahmad Nanda Viky Susanto;
Alif Aji Ramadhana
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 1087-1103
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
In this era of digital transformation, learning Indonesian for Foreign Speakers (BIPA) faces new challenges and opportunities. Foreign students need language learning experiences that incorporate local wisdom. Local wisdom-based BIPA learning is essential to help BIPA learners adapt to Indonesian culture and society. On the other hand, Indonesia's diverse cultural heritage has not been comprehensively utilized for BIPA learning, one of which is local hip-hop music. Hip-hop, as a contemporary music genre and easily accessible through digital platforms, can effectively communicate regional cultural narratives and values, making the learning process engaging and relevant for foreign students learning Indonesian. This study aims to explore the cultural values or local wisdom in hip-hop lyrics and relate them as teaching media for advanced BIPA learning. The research method used is descriptive qualitative and adopts an ethnopedagogical approach. The data sources are hip-hop lyrics developed in Central Java. Data was collected using content analysis techniques. Data validity and analysis techniques employed researcher triangulation and an interactive analysis model. The results of the study show that hip-hop songs are rich in local wisdom values that reflect the identity, philosophy, and spirit of the Javanese people. The local wisdom contained in these songs includes theological, ethical, aesthetic, logical, physical-physiological, and theological values. Hip-hop songs can be used as a means to promote local wisdom values and as a medium for language and cultural learning for foreign students. The results of this study contribute to facilitating the understanding of local wisdom in the social and cultural context of Indonesia in an enjoyable way for BIPA learners.
PERAN YAYASAN SASTRA LESTARI DALAM PENYEBARAN INFORMASI BUDAYA DI ERA DIGITAL
Diana Khoirunnisa;
Madda Fadhila Ramadhani
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 1104-1115
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini mengkaji Yayasan Sastra Lestari sebagai organisasi yang berdedikasi pada penyebaran informasi budaya, khususnya sastra kuno, serta bagaimana yayasan ini mengimplementasikan peran tersebut di era digital. Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat menuntut adanya strategi baru dalam pelestarian dan diseminasi warisan budaya. Digitalisasi naskah kuno, alih aksara, dan pemanfaatan situs web menjadi langkah penting untuk menjangkau masyarakat luas dan generasi muda. Tujuan penelitian ini untuk memahami pentingnya peran dalam penyebaran informasi budaya di era digital, serta peningkatan aksesibilitas budaya lokal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dalam peran menelaah secara mendalam strategi ke dalam situs web. Penelitian ini mengacu pada konsep pelestarian budaya berbasis digital dan teori difusi inovasi untuk memahami strategi distribusi konten budaya. Analisis difokuskan pada aktivitas digitalisasi, alih aksara, dan penyebaran melalui website. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan digital yang dilakukan Yayasan Sastra Lestari berhasil meningkatkan akses publik terhadap naskah kuno, serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam memahami warisan budaya.
PEMANFAATAN MODEL DIGITAL STORYTELLING (DST) SEBAGAI INOVASI PEMBELAJARAN MAHARAH KALAM PADA PEMBELAJAR BAHASA ARAB GENERASI Z
Isniyatun Niswah MZ;
Nurul Hanani;
Lailatul Qomariyah;
Nurul Hidayah
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 1116-1129
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Language is the door to knowing other sciences, and these language skills will not be achieved through repetitive education without paying attention to the needs of students in learning. Today's students are students who are called millennials and generation Z, where they live in the age of digital technology. Of the many proficiencies that must be achieved in learning Arabic, this is a scourge for students who have a non-Pakistani background. They feel that learning Arabic is quite complicated and difficult. Not only that, the difficulties that occur are also caused by traditional learning models and tend to be monotonous. Therefore, the presence of technology is expected to provide solutions in learning Arabic that are fun and innovative. One of the technology models that can be applied Digital Story Telling is a practice that combines personal stories with multimedia in the form of images, audio and text. From the description above, the researcher focuses on how the implementation of the Digital Story Telling (DST) model in learning maharah kalam for students majoring in Arabic Language Education at Hasyim Asy'ari University. The method in this research is descriptive qualitative research with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. As well as data analysis techniques with data reduction, data presentation and drawing conclusions.
BAHASA, IDENTITAS, DAN KITAB SUCI: TERJEMAHAN AL-QUR’AN DALAM BAHASA PALEMBANG DAN MANDAR SOSIOLINGUISTIK BENCHMARKING
Darsita Suparno;
Siti Amsariah;
Fajriaty Jamiyl;
Akbar Amanah Illahi Chairul
Vol. 3 No. 2 (2025): Special Issue: Cultural Resilience and Digital Literacy for a Diverse Society 1130-1160
Publisher :
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The translation of the Qur’an into local languages plays a strategic role in strengthening local linguistic identities in Indonesia and facilitating access to the holy text’s comprehension amidst the dominance of the national and global languages. However, studies on the translation of the Qur’an in the contexts of Palembang and Mandar in South Sulawesi remain limited, particularly concerning the dynamics of language identity, language attitudes, and the preservation of local languages. This study aims to examine the challenges and strategies in translating the Qur’an into Indonesian, Palembang, and Mandar, using a sociolinguistic approach to explore how these translations reflect the construction of linguistic identity among native speakers of these local languages. This study employs a qualitative method with a document analysis approach focusing on the official Qur’an translation texts published by the Ministry of Religious Affairs, along with critical discourse analysis to identify translation strategies and ideological representations within the texts. The findings indicate that the translation of the Qur’an into local languages not only faces sociolinguistic, and theological challenges but also serves as a site for constructing linguistic identity that strengthens ethnolinguistic solidarity. The translation strategies employed, including cultural adaptation and communicative approaches, effectively enhance local communities’ comprehension of the holy text while simultaneously fostering a sense of belonging to their local languages. This study highlights the importance of language policies that support the sustainable translation of sacred texts into local languages as a means of preserving linguistic diversity and reinforcing cultural identity within the context of globalization.