Latar Belakang Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) telah menjadi tulang punggung diagnostik modern, namun dalam praktiknya menghadapi dua tantangan klinis yang saling berkaitan dan kerap menghambat keberhasilan pemeriksaan, yaitu terjadinya motion artifact akibat gerakan pasien dan tingginya prevalensi kecemasan pasien yang mencapai 25–65% dari seluruh populasi pasien MRI, kondisi yang secara langsung menurunkan kualitas citra diagnostik dan berpotensi menyebabkan pengulangan pemeriksaan. Radiografer sebagai tenaga kesehatan yang bertanggung jawab langsung terhadap pelaksanaan pemeriksaan MRI memegang peran strategis dalam mengatasi kedua permasalahan tersebut melalui berbagai bentuk intervensi teknis maupun non-teknis. Tujuan Penelitian ini bertujuan mengkaji secara komprehensif peran intervensi radiografer dalam meminimalkan motion artifact dan mengelola kecemasan pasien pada pemeriksaan MRI. Metode Penelitian menggunakan pendekatan literature review naratif terhadap sumber pustaka ilmiah yang diterbitkan tahun 2014–2024, diperoleh melalui basis data PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, dan Scopus. Hasil Kajian menunjukkan bahwa intervensi teknis, meliputi optimasi sekuens, respiratory gating, dan parallel imaging, terbukti mereduksi motion artifact secara signifikan, sedangkan intervensi non-teknis berupa edukasi pra-pemeriksaan, komunikasi terapeutik, dan strategi distraksi terbukti menurunkan kecemasan pasien serta meningkatkan kualitas citra secara diagnostik. Kesimpulan Penguatan kompetensi radiografer secara holistik, mencakup dimensi teknis dan interpersonal, merupakan investasi strategis yang esensial dalam meningkatkan mutu pelayanan pemeriksaan MRI secara menyeluruh.