Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM NOVEL AYAH KARYA ANDREA HIRATA Desma Yuliadi Saputra
MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing Vol. 2 No. 3 (2024): MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/memace.v2i3.6680

Abstract

Bahasa merupakan sarana utama komunikasi yang digunakan manusia untuk menyampaikan gagasan, perasaan, dan tujuan tertentu dalam kehidupan sosial. Dalam praktik komunikasi, tuturan tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga melakukan tindakan tertentu yang dikenal sebagai tindak tutur. Novel sebagai karya sastra yang memuat berbagai dialog antartokoh menjadi objek yang relevan untuk mengkaji penggunaan tindak tutur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi yang terdapat dalam novel Ayah karya Andrea Hirata. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Sumber data penelitian adalah novel Ayah karya Andrea Hirata yang diterbitkan pada tahun 2015. Data berupa tuturan para tokoh yang mengandung tindak tutur ilokusi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat, sedangkan teknik analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan data berdasarkan teori tindak tutur John R. Searle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Ayah mengandung lima jenis tindak tutur ilokusi, yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Tindak tutur asertif ditemukan dalam bentuk menyatakan, menjelaskan, menginformasikan, dan mengeluh. Tindak tutur direktif ditemukan dalam bentuk memerintah, meminta, menyarankan, dan mengajak. Tindak tutur komisif meliputi berjanji dan menyatakan kesanggupan. Tindak tutur ekspresif berupa ucapan terima kasih, pujian, permintaan maaf, serta ungkapan kesedihan. Adapun tindak tutur deklaratif ditemukan dalam bentuk penetapan status tertentu. Tindak tutur asertif dan direktif menjadi jenis yang paling dominan karena berkaitan erat dengan pembangunan konflik dan hubungan sosial antartokoh. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tindak tutur dalam novel berfungsi membangun karakterisasi tokoh, mengembangkan alur cerita, serta menyampaikan pesan moral kepada pembaca.
CAMPUR KODE TOKOH MARLINA DALAM FILM AGAK LAEN KARYA MUHADKLY ACHO Iftahul Farihah; Desma Yuliadi Saputra; Rina Andriani
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.13515

Abstract

ABSTRACT The phenomenon of code-mixing in Indonesian films has grown alongside the increasing representation of bilingual communities and digital culture. However, previous studies have primarily focused on identifying the forms of code-mixing, while limited attention has been given to its role in constructing film characters. This study enriches sociolinguistic research by examining code-mixing as a strategy for character development. It aims to identify the types of code-mixing used by the character Marlina in the film Agak Laen, directed by Muhadkly Acho, and to explain their contribution to character construction. A descriptive qualitative method was employed using Marlina’s utterances as the primary data source, collected through observation, dialogue transcription, and note-taking. Data were analyzed based on Suandi’s classification of inner and outer code-mixing. The findings reveal 11 instances of code-mixing, consisting of three cases of inner code-mixing and eight cases of outer code-mixing. The predominance of outer code-mixing portrays Marlina as a young character who adapts to digital culture while maintaining her local identity. These findings demonstrate that code-mixing functions as an effective narrative device for character construction in contemporary Indonesian cinema. ABSTRAK Fenomena campur kode dalam film Indonesia semakin berkembang seiring meningkatnya representasi masyarakat bilingual dan budaya digital. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya masih berfokus pada identifikasi bentuk campur kode secara umum, sementara kajian yang menghubungkan penggunaan campur kode dengan konstruksi karakter tokoh masih terbatas. Penelitian ini penting untuk memperkaya kajian sosiolinguistik film sekaligus menjelaskan fungsi campur kode sebagai strategi pembentukan karakter. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis campur kode yang digunakan tokoh Marlina dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho serta menjelaskan perannya dalam membangun karakter tokoh. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa tuturan tokoh Marlina yang diperoleh melalui teknik simak, transkripsi, dan pencatatan dialog. Analisis data mengacu pada klasifikasi campur kode Suandi yang meliputi campur kode ke dalam dan campur kode ke luar. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 data campur kode, terdiri atas 3 campur kode ke dalam dan 8 campur kode ke luar. Dominasi campur kode ke luar memperlihatkan karakter Marlina sebagai representasi generasi muda yang adaptif terhadap budaya digital tanpa meninggalkan identitas lokal. Temuan ini menegaskan bahwa campur kode berfungsi sebagai perangkat naratif dalam pembentukan karakter film.
The Representation of Slavery of the Characters in the Beautiful Novel is Luka by Eka Kurniawan Vidya Vidya; Desma Yuliadi Saputra; Diana Romdhoningsih
EDUJAVARE: International Journal of Educational Research Vol. 4 No. 02 (2026): EDUJAVARE: International Journal of Educational Research
Publisher : CV. Edujavare Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/edujavare.1677

Abstract

The issue of slavery is still one of the serious problems that reflects the dark side of social life in Indonesia. This phenomenon still continues to take root from the colonial to postcolonial periods. This research aims to represent the slavery of the characters in the novel Cantik itu Luka by Eka Kurniawan using the perspective of Spivak's subaltern. The research uses a qualitative descriptive method with reading and recording techniques. The results of the study show that there are 15 data that represent physical, economic, and sexual slavery. The three forms of slavery show the loss of agency, freedom, and voice of the characters in the novel Cantik itu Luka by Eka Kurniawan due to hegemonic or colonial power relations. The results of the analysis using Spivak's subaltern perspective, it can be concluded that the novel Cantik itu Luka by Eka Kurniawan represents 15 data on slavery practices that cross the Dutch colonial era, Japanese occupation, and post-independence.
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) terhadap Keterampilan Menulis Teks Eksplanasi Siswa Kelas XI SMK Pasundan 1 Kota Serang Iftahul Farihah; Desma Yuliadi Saputra; Diana Romdhoningsih
BLAZE : Jurnal Bahasa dan Sastra dalam Pendidikan Linguistik dan Pengembangan Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus : BLAZE:Jurnal Bahasa dan Sastra dalam Pendidikan Linguistik dan Pengem
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/blaze.v4i3.3859

Abstract

This study was motivated by the students' persistently low skills in developing ideas, systematically structuring texts, and using effective language when writing explanatory texts. The study aimed to analyze the explanatory text writing skills of Grade XI students at SMK Pasundan 1 Serang City before and after the implementation of the Think Pair Share (TPS) cooperative learning model, as well as to analyze the model's impact on these skills. A true experimental design specifically a pretest-posttest control group design was employed. The research sample consisted of 34 students from the Office Administration 2 class (control group) and 34 students from the Accounting 1 class (experimental group). Inferential statistics were used for data analysis. Prior to hypothesis testing, prerequisite analysis tests-namely normality and homogeneity tests were conducted. The results indicated that while the explanatory text writing skills of students in the control group (taught using the conventional lecture method) improved, they remained in the "poor" category. In contrast, students in the experimental group demonstrated greater improvement in their writing skills following the implementation of the Think Pair Share (TPS) model. The results of the mean difference test regarding explanatory text writing skills indicate that the implementation of the Think Pair Share (TPS) cooperative learning model had a significant effect on the writing skills of Grade XI students at SMK Pasundan 1 Serang City.
BENTUK KRITIK SOSIAL DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Sri Rahayu; Diana Romdhoningsih; Desma Yuliadi Saputra
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.14815

Abstract

Social problems such as educational inequality, poverty, legal injustice, abuse of power, and moral decline continue to occur in society and are frequently represented in literary works. This study aims to describe the forms of social criticism contained in Andrea Hirata’s novel Orang-Orang Biasa through a sociology of literature approach. The study employed a qualitative descriptive design. The data source was the novel Orang-Orang Biasa, while the research data consisted of words, phrases, sentences, dialogues, and narrative passages containing social criticism. Data were collected through intensive reading and note-taking techniques and analyzed through identification, classification, interpretation, and conclusion drawing. The findings reveal five forms of social criticism, consisting of 19 data on education, 12 on economics, 7 on law, 9 on power, and 10 on morality, with a total of 57 data. The criticism is represented through characters, conflicts, dialogues, and events depicting unequal access to education, economic hardship, legal injustice, abuse of power, and moral problems. The findings demonstrate that Orang-Orang Biasa functions not only as a literary work with aesthetic value but also as a medium for reflecting and criticizing social realities. The novel therefore provides relevant material for critical literary studies and learning activities that encourage readers to understand social inequality, justice, responsibility, and humanity. ABSTRAK Persoalan sosial seperti ketimpangan pendidikan, kemiskinan, ketidakadilan hukum, penyalahgunaan kekuasaan, dan kemerosotan moral masih menjadi persoalan dalam kehidupan masyarakat dan banyak direpresentasikan dalam karya sastra. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk kritik sosial yang terdapat dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata melalui pendekatan sosiologi sastra. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian berupa novel Orang-Orang Biasa, sedangkan data penelitian berupa kata, frasa, kalimat, dialog, dan bagian narasi yang mengandung kritik sosial. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat secara intensif, kemudian dianalisis melalui tahap identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan lima bentuk kritik sosial, yaitu kritik terhadap pendidikan sebanyak 19 data, ekonomi sebanyak 12 data, hukum sebanyak 7 data, kekuasaan sebanyak 9 data, dan moral sebanyak 10 data, dengan jumlah keseluruhan 57 data. Kritik tersebut direpresentasikan melalui tokoh, konflik, dialog, dan peristiwa yang menggambarkan ketidakmerataan akses pendidikan, kesulitan ekonomi, ketidakadilan hukum, penyalahgunaan kekuasaan, dan persoalan moral. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Orang-Orang Biasa tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra yang memiliki nilai estetis, tetapi juga sebagai media refleksi dan kritik terhadap realitas sosial. Novel tersebut relevan digunakan sebagai bahan kajian sastra kritis yang mendorong pembaca memahami persoalan ketimpangan, keadilan, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR BERBANTUAN GENERATE GAMBAR DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS DESKRIPSI Riska Imelda Sari; Desma Yuliadi Saputra; Rina Andriyani
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.14880

Abstract

Descriptive text writing is an essential competency in Indonesian language learning, requiring students to observe objects, develop ideas, select appropriate diction, and organize information coherently. However, many students still encounter difficulties in generating ideas and developing detailed descriptions. This study aimed to analyze the effectiveness of AI-assisted image media through Google Gemini in improving the descriptive text writing skills of eleventh-grade students at SMK Negeri 1 Kragilan. The study employed a quantitative approach using a pre-experimental method with a One Group Pretest-Posttest design. The sample consisted of 30 students from class XI TJKT selected through purposive sampling. Data were collected through descriptive writing tests administered before and after the treatment and were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro–Wilk normality test, a Paired Sample t-Test, and N-Gain analysis. The results indicated that the use of AI-assisted image media was accompanied by an improvement in students’ descriptive writing skills. The mean score increased from 34.83 in the pretest to 83.60 in the posttest, with improvements observed across all assessment aspects, including content relevance, text structure, diction, spelling and punctuation, as well as coherence and creativity. The Paired Sample t-Test revealed a significant difference between the pretest and posttest scores (p < 0.001), while the N-Gain score of 0.75 was categorized as high. These findings suggest that AI-assisted image media has the potential to serve as an effective instructional medium for helping students generate ideas and compose descriptive texts more systematically. ABSTRAK Keterampilan menulis teks deskripsi merupakan salah satu kompetensi penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang menuntut kemampuan siswa mengamati objek, mengembangkan gagasan, memilih diksi yang tepat, serta menyusun tulisan secara runtut. Namun, banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam menemukan ide dan mengembangkan deskripsi secara rinci. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan media gambar berbantuan Artificial Intelligence (AI) melalui Google Gemini dalam meningkatkan keterampilan menulis teks deskripsi siswa kelas XI SMK Negeri 1 Kragilan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-experimental dan desain One Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 siswa kelas XI TJKT yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui tes menulis teks deskripsi sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro–Wilk, Paired Sample t-Test, dan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar berbantuan AI diikuti oleh peningkatan keterampilan menulis teks deskripsi siswa. Nilai rata-rata meningkat dari 34,83 pada pretest menjadi 83,60 pada posttest, disertai peningkatan pada seluruh aspek penilaian, yaitu kesesuaian isi, struktur teks, penggunaan diksi, ejaan dan tanda baca, serta keruntutan dan kreativitas tulisan. Hasil Paired Sample t-Test menunjukkan perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest (p < 0,001), sedangkan nilai N-Gain sebesar 0,75 berada pada kategori tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa media gambar berbantuan AI berpotensi menjadi alternatif media pembelajaran yang efektif untuk membantu siswa mengembangkan ide dan menyusun teks deskripsi secara lebih terarah.
Penggunaan Huruf Kapital dalam Antologi Cerpen A Pandemic of Love: Antara Ketidaksesuaian EYD V dan Foregrounding Tipografis Tsania Syafira Putri; Diana Romdhoningsih; Desma Yuliadi Saputra
BLAZE : Jurnal Bahasa dan Sastra dalam Pendidikan Linguistik dan Pengembangan Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus : BLAZE:Jurnal Bahasa dan Sastra dalam Pendidikan Linguistik dan Pengem
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/blaze.v4i3.3921

Abstract

This study examines typographically marked capitalization in the short-story anthology A Pandemic of Love by combining two analytical layers: the Fifth Edition of the Enhanced Indonesian Spelling System (EYD V) and a stylistic perspective. Indonesian spelling-error studies commonly treat unconventional capitalization as a normative deviation, whereas literary texts may deliberately employ graphological deviation to create visual salience and meaning effects. This qualitative descriptive-interpretive study analyzes six marked forms found in the narrative text: DI, MENYAYANGImu, PAGI, CHLOE, AKU, and AWAN. Data were collected through close reading, note-taking, and documentation. Each form was mapped against EYD V capitalization rules, normalized into its standard form, and subsequently interpreted using the concept of typographic foregrounding. The findings show that five of the six data (83.3%) involve full capitalization of a lexical unit, while one datum (16.7%) combines uppercase and lowercase letters within a single word. Normatively, these forms differ from standard Indonesian orthographic realization, which assigns capitalization to specific positions rather than entire lexical units. Nevertheless, the recurring visual salience of capitalization in a literary text may also function to emphasize expressions, intensify emotional force, and direct readers’ attention. The study therefore argues that capitalization analysis in literary prose should distinguish orthographic nonconformity from potentially intentional typographic deviation. This dual perspective constitutes the study’s contribution to Indonesian spelling-error research and literary stylistics.