Claim Missing Document
Check
Articles

Sistem Pakar Identifikasi Varietas Ikan Mas (Cyprinus carpio) Berdasarkan Karakteristik Morfologi dan Tingkah Laku Asterika Prawesti; Toto Haryanto; Irzal Effendi
Jurnal Ilmu Komputer & Agri-Informatika Vol. 4 No. 1 (2015)
Publisher : Departemen Ilmu Komputer - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.089 KB) | DOI: 10.29244/jika.4.1.6-13

Abstract

Penelitian ini mengidentifikasi 6 varietas ikan mas menggunakan 8 parameter input yang meliputi karakteristik morfologi dan tingkah laku. Pembagian data latih dan data uji dilakukan menggunakan metode k-fold cross validation. Variabel yang bersifat nominal diolah menggunakan jarak nominal, sedangkan variabel numerik dan ordinal diolah dengan menggunakan jarak Euclid. Sebelum menghitung jarak Euclid, metode normalisasi min-max diterapkan pada variabel numerik dan ordinal. Hasil perhitungan jarak Euclid dan jarak nominal digabung dengan menggunakan rumus agregat. Metode klasifikasi yang digunakan untuk identifikasi ialah metode k-nearest neighbour (KNN). Akurasi rata-rata terbaik untuk percobaan tanpa normalisasi ialah 94.58% dan untuk percobaan dengan normalisasi ialah 98.54% saat k = 3. Sistem ini dapat diakses pada alamat http://apps.cs.ipb.ac.id/spivim.Kata kunci: ikan mas, jarak Euclidean, k-nearest neighbour, nominal distance, normalisasi min-max.
Rancang Bangun Sistem Pemantauan Lingkungan Laut Pendukung Aplikasi Marikultur Cerdas K1000 dengan Protokol MQTT Irman Hermadi; Aji Fajar Nugraha; Sri Wahjuni; Irzal Effendi; Auzi Asfarian
Jurnal Ilmu Komputer & Agri-Informatika Vol. 8 No. 1 (2021)
Publisher : Departemen Ilmu Komputer - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jika.8.1.20-30

Abstract

Kelompok Sea Farming merupakan sebuah kelompok masyarakat yang menerapkan kegiatan marikultur. Kelompok Sea Farming sangat membutuhkan sistem yang dapat memantau lingkungan laut. Variabel lingkungan laut yang mereka butuhkan ialah suhu dan kelembaban udara, suhu air laut dan kadar oksigen terlarut. Pemantau lingkungan laut memiliki tugas untuk menentukan waktu pencucian ikan berdasarkan perubahan suhu, kelembaban udara, suhu air, dan kadar oksigen terlarut. Penelitian ini dilakukan untuk merancang dan membangun arsitektur internet of things (IoT) menggunakan protokol the message queuing telemetry transport (MQTT) untuk memantau lingkungan laut pada keramba dengan menggunakan sensor yang terhubung dengan internet dan ditampilkan pada aplikasi secara waktu nyata. Sistem yang dibuat diharapkan dapat membantu nelayan dalam memantau dan menyimpan data dari perubahan lingkungan laut serta mendukung pengembangan aplikasi Marikultur Cerdas Kepulauan Seribu (K1000). Hasil Penelitian ini telah berhasil dalam merancang dan membangun sistem pemantauan lingkungan laut dengan arsitektur IoT, mulai dari pengambilan data dari sensor hingga pengiriman data masuk ke basis data dan menampilkannya sebagai grafik. Selain itu, keseluruhan pengujian kunci dan kebijakan IoT menunjukkan komunikasi data IoT menggunakan layanan AWS terjamin keamanannya. Dengan delay 0.005 detik, paket loss 0%, dan overhead sebesar 36.8%. Kata Kunci: internet of things, marikultur, MQTT, pemantauan, pencucian ikan.
Analisis Spasial Beban Limbah Budidaya Tambak Terhadap Lingkungan Perairan Pesisir Holtekamp Kota Jayapura, Provinsi Papua Barnabas Bara'padang; Achmad Fahrudin; Irzal Effendi
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.441 KB) | DOI: 10.31957/acr.v2i2.1069

Abstract

This study was conducted to determine water quality conditions and the carrying capacity of Holtekamp coastal, to identify the aquaculture activities that contribute waste on coastal and impact of aquaculture waste load. Water and plankton samples were collected from fish ponds (tambak), Kali Buaya channel and sea. Questionnaires were administered to 25 farmers. Results of water quality analyses showed that Holtekamp coastal water is characterized with higher concentration of BOD5 (Biological oxygen demand), N-total, COD (chemical oxygen demand) and TOM (total organic matter) 4.96 mg/l, 4.19 mg/l, 33.53 mg/l, and 22.18 mg/l, turbidity (7.02 NTU) and TSS (total suspended solids) 201.67 mg/l were higher in Kali Buaya chanal and PO4-P (2.08) in fishpond. The carrying capacity of coastal water is 10.452.915 m3 and a maximum of effluents 104.529 m3, respectively.Key Words: Ponds; Effluents; Water quality; Carrying capacity; Holtekamp
Production performance and business analysis of clown loach Chromobotia macracanthus (Bleeker 1852) in recirculating systems with different stocking densities and water discharge Riska Puluhulawa; Tatag Budiardi; Iis Diatin; Irzal Effendi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 2 (2021): June 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i2.573

Abstract

Efforts to improve the production performance of clown loach in recirculate aquaculture system can be done by increasing stocking density and water discharge. This study aimed to analyze the effect of increasing stocking density and water discharge on production performance, stress response and water quality in order to obtain the best stocking density and water discharge to obtain maximum profit in a short time. A factorial completely randomized design with two factors, i.e. the stocking density of 1, 2, and 3 fish L-1 and the water discharge of 0,05; 0,10; 0,15 L s-1 was performed. The volume of water used in each aquarium was 48 L and using a ½ inch faucet stop to regulate the water discharge from the inlet pipe. Clown fish fed Tubifex sp. with a feeding frequency of two times a day according to the treatment for 60 days. The result indicates that there was no interaction between the two factors on production performance, payback period, and R/C ratio. Stocking density has a significant effect on specific growth rate, absolute growth rate of individual weight, feeding consumption rate and R/C ratio of clown loach. Stocking density and water discharge had an interaction on the visual color of pectoral and caudal fins of clown loach. Different stocking densities with the combination of water discharge in this study resulted that the water quality were within tolerable range for clown loach so that they did not experience stress, as well as high production and business performance. It is recommended to intensify clown loach with a stocking density of 3 fish L-1 and 0,15 L s-1‑ of water discharge. Abstrak Upaya intensifikasi ikan botia melalui peningkatan padat tebar dilakukan untuk meningkatkan kinerja produksinya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh peningkatan padat tebar dan debit air terhadap kinerja produksi, respons stres dan kualitas air, guna mendapatkan padat tebar dan debit air terbaik sehingga diperoleh keuntungan maksimal dalam waktu yang singkat. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor, yaitu padat tebar 1, 2, dan 3 ekor L-1 serta debit air 005; 0,10; dan 0,15 L s-1. Volume air yang digunakan pada masing-masing akuarium sebanyak 48 L dan menggunakan stop keran ½ inci untuk mengatur debit air pada pipa inlet. Pakan Tubifex sp. diberikan sebanyak dua kali sehari sesuai dengan perlakuan selama pemeliharaan 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara faktor perlakuan padat tebar dan debit air terhadap seluruh parameter kinerja produksi, payback period, dan R/C ratio. Faktor perlakuan padat tebar berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan bobot spesifik, laju pertumbuhan mutlak bobot individu, nisbah konversi pakan dan R/C ratio. Padat tebar dan debit memiliki interaksi terhadap warna visual sirip dada dan sirip ekor ikan botia. Kombinasi padat tebar dan debit air berbeda dalam penelitian ini menghasilkan kualitas air yang dapat ditoleransi ikan botia sehingga tidak mengalami stres dan meningkatkan kinerja produksi serta analisis usaha. Berdasarkan penelitian, direkomendasikan untuk melakukan upaya intensifikasi ikan botia dengan padat tebar 3 ekor L-1 dan debit air 0,15 L s-1.
Pengembangan Akuakultur pada Lahan Suboptimal Menuju Agromaritim 4.0 Irzal Effendi
Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2019: Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal “Smart Farming yang Berwawasan Lingkungan untuk Ke
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1240.483 KB)

Abstract

Effendi I. 2019. Development of aquaculture on suboptimal land towards agromaritime 4.0. In: Herlinda S et al. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2019, Palembang 4-5 September 2019. pp. 9-19.  Palembang: Unsri Press.Aquaculture or fish farming is a fisheries production system that has an important role in providing food now and especially in the future, together with agriculture and animal husbandry in the agrimaritime context. The system that can apply in freshwater on land, brackish water and sea waters, including suboptimal land area, is predicted will supprass the production of capture fisheries in providing fish for the community. In line with the development of industry 4.0, aquaculture began and is developing an instrumentation, integration and automation strategy that leads to smart farming, both on-farm and off-farm levels, as aquaculture 4.0. At the on-farm level, aquaculture 4.0 can apply to the entire production process since site selection, pond or cage construction and preparation, seed stocking, feeding, water quality management, biomass monitoring, harvesting and postharvest handling, and integrating them with off-farm levels such as marketing, processing, financing, develompement and so on. On a broader scope can be created integration between aquaculture with agriculture and animal husbandry as integrated agriculture. This paper discusses the concept, implementation and future development of aquaculture 4.0 in responding to the challenges of the times that is increasing productivity and production efficiency as well as market demand suitability and competitiveness, in order to improve the welfare of aquaculture actors and the community.Keywords: aquaculture,efficiency, production, productivity
PEMIJAHAN SEMI-BUATAN SIPUT GONGGONG, Laevistrombus turturella DENGAN INDUKSI KOMBINASI HORMON LHRH-a DAN ANTIDOPAMIN Muzahar - Muzahar; Muhammad Zairin Jr.; Fredinan Yulianda; Muhammad Agus Suprayudi; Alimuddin Alimuddin; Irzal Effendi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.045 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.4.2019.225-232

Abstract

Gonggong adalah sejenis siput laut yang merupakan makanan laut (seafood) favorit dan ikon Kota Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Gonggong mengandung protein tinggi, yaitu sekitar 46,65%. Tidak ada laporan tentang produksi budidaya dan upaya konservasi gonggong. Teknologi produksi benih buatan gonggong belum berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pemberian kombinasi hormon LHRH-a dan antidopamin untuk menginduksi proses pemijahan. Evaluasi pemberian hormon LHRH-a dan antidopamin pada pemijahan siput gonggong dilakukan dengan empat dosis: 0,5 ìLgι bobot badan lunak (BB) (P1); 0,7 ìLgι BB; dan 0,9 ìLgι BB (P2); dan tanpa suntikan (TS). Siput gonggong pascasuntikan dipelihara di akuarium selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kombinasi hormon LHRH-a dan antidopamin mampu merangsang pemijahan gonggong. Dosis rendah hormon LHRH-a dan antidopamin (P-1) menghasilkan induk betina yang memijah paling banyak, yaitu 34,48%; lebih tinggi dari P-2 (27,59%), P-3 (20,69%); dan TS (17,24%); (2) jumlah telur yang dikeluarkan oleh induk betina berbeda secara signifikan antar perlakuan (P<0,05). Jumlah telur yang dikeluarkan oleh masing-masing induk berkisar antara 10.874-63.489 butir/ekor dengan rata-rata 39.347 ± 16.667 butir/ekor.The gonggong is a species of sea conch which is a favourite seafood and an icon of Tanjungpinang City, capital of Kepulauan Riau (Kepri) Province. Gonggong contains high protein, about 46.65%. There were no reports on aquaculture production and conservation effort of gonggong. The technology on artificial seed production of gonggong has not yet developed. The aim of this study was to evaluate the administration of LHRH-a hormone and anti-dopamine to induce the spawning process. Evaluation of the administration of LHRH-a hormone and anti-dopamine on the gonggong conch’s spawning was carried out with four doses: 0.5 ìLgι soft body weight (BW) (P-1), 0.7 ìLgι BW; and 0.9 ìLgι BW (P-2); and without injections (TS). The gonggong conchs after injection were reared in aquarium for 14 days. The results showed that (1) a combination of LHRH-a hormone and anti-dopamine was able to stimulate gonggong spawning. The lower dose of LHRH-a hormone and anti-dopamine (P-1) produced the highest number of spawned female broodstock, which was 34.48%, higher than P-2 (27.59%), P-3 (20.69%), and TS (17.24%); (2) the number of eggs released by female broodstock was significantly different among the treatments (P<0.05). The number of eggs released by each female broodstock ranges between 10,874-63,489 grains/ind. with an average of 39,347±16,667 grains/ind. 
EMBRIOGENESIS DAN PERKEMBANGAN LARVA SIPUT GONGGONG, Laevistrombus turturella PADA SUHU INKUBASI BERBEDA Muzahar Muzahar; Muhammad Zairin Jr.; Fredinan Yulianda; Muhammad Agus Suprayudi; Alimuddin Alimuddin; Irzal Effendi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.3.2020.159-164

Abstract

Fase larva pada siput gonggong sebagaimana pada biota akuatik lain adalah fase yang peka dan rawan kematian. Penyerapan kuning telur untuk pembentukan organ dalam terjadi pada fase ini. Suhu air memengaruhi perkembangan embrionik dan metabolisme dalam tubuh biota. Informasi tentang pengaruh suhu inkubasi terhadap embriogenesis dan perkembangan larva siput gonggong masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu berbeda terhadap embriogenesis dan perkembangan larva siput gonggong. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan dua ulangan. Tiga perlakuan perbedaan suhu yang diberikan yaitu 27°C, 29°C, dan 31°C. Sampel telur yang digunakan berasal dari hasil pemijahan semibuatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inkubasi pada suhu air 31°C memberikan stimulasi tercepat pada embriogenesis dan perkembangan larva siput gonggong daripada perlakuan lainnya. Larva siput gonggong menetas dan berenang bebas pada jam ke-94 pasca-inkubasi. Penelitian dengan perlakuan yang sama perlu dilanjutkan untuk dapat menghasilkan benih siput gonggong.Similar to most of the other aquatic biota, the larval phase of gonggong conch is considered a sensitive and death-prone life stage. The absorption of egg yolk to form the internal organs occurs in this phase. Certain external factors, particularly water temperature, play a significant influence on the embryonic development and metabolic processes of gonggong conch larvae. However, the extent of the effects of incubation temperature on the embryogenesis and larval development of gonggong conch has not been determined or thoroughly studied. This study aimed to determine the effects of different temperatures on the embryogenesis and larval development of gonggong conch. The experiment used a completely randomized design with three treatments and two replicates. The temperature treatments were 27°C, 29°C, and 31°C. The egg samples used were collected from the semi-artificial spawnings of gonggong conch. The results showed that the egg incubation using the water temperature of 31°C provided the fastest stimulation in the embryogenesis and development of gonggong conch larvae than the other treatments. Gonggong conch larvae hatched and swam freely in the 94th hours post-incubation. Research with the same treatment needs to be continued to be able to produce gonggong conch seeds.
KINERJA PRODUKSI KEPITING BAKAU, Scylla tranquebarica PADA KETINGGIAN AIR DAN UKURAN WADAH BERBEDA Muhlis Muhlis; Tatag Budiardi; Irzal Effendi; Yani Hadiroseyani
Media Akuakultur Vol 16, No 2 (2021): (Desember, 2021)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.034 KB) | DOI: 10.15578/ma.16.2.2021.79-86

Abstract

Wadah pemeliharaan merupakan hal yang perlu diperhatikan dan salah satu kunci dalam pertumbuhan, perkembangan, dan produksi kepiting bakau. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam budidaya kepiting bakau adalah kurang tepatnya wadah budidaya yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ukuran wadah dan ketinggian air yang tepat untuk budidaya kepiting bakau, Scylla tranquebarica dilihat dari laju pertumbuhan harian dan periode molting. Penelitian dilakukan di tambak masyarakat Desa Mulaeno Kecamatan Poleang Tengah Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Hewan Uji berupa kepiting bakau ukuran 57,89 ± 2,18 g ekor-1 sebanyak 54 ekor. Pemeliharaan dilakukan selama 60 hari pada wadah single room (1 ekor/wadah) pada ketinggian air berbeda 30, 50, dan 70 cm dengan ukuran wadah yang berbeda yakni 30 cm x 30 cm, 40 cm x 40 cm, dan 50 cm x 50 cm. Wadah pemeliharaan yang digunakan sebanyak 54 unit terbuat dari bambu yang berbentuk seperti kandang (kerangkeng) ditempatkan scara acak pada tambak. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah sebanyak 5% dari bobot tubuh dan diberikan pada pagi dan sore hari. Terdapat sembilan perlakuan dan diulang sebanyak enam kali, yakni P33 (ketinggian air 30 cm, ukuran wadah 30 cm x 30 cm), P35 (ketinggian air 50 cm, ukuran wadah 30 cm x 30 cm), P37 (ketinggian air 70 cm, ukuran wadah 30 cm x 30 cm), P43 (ketinggian air 30 cm, ukuran wadah 40 cm x 40 cm), P45 (ketinggian air 50 cm, ukuran wadah 40 cm x 40 cm), P47 (ketinggian air 70 cm, ukuran wadah 40 cm x 40 cm), P53 (ketinggian air 30 cm, ukuran wadah 50 cm x 50 cm), P55 (ketinggian air 50 cm, ukuran wadah 50 cm x 50 cm), P57 (ketinggian air 70 cm, ukuran wadah 50 cm x 50 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara ukuran wadah dan ketinggian air, serta tidak ada pengaruh nyata terhadap kinerja produksi kepiting bakau. Ukuran wadah 30 cm x 30 cm, ketinggian air 30 cm (P33) lebih efektif dan efisien digunakan pada budidaya kepiting bakau menggunakan sistem single room.Specifications of cage farming plays important roles in the growth, suvival, and expected harvest of farmed mud crab. One of the constraints in mud crab farming is that the cages used are not suitable or preferred for the species. The research aimed to determine the proper cage size and water depth for mud crab culture using the growth rate and molting period as the observed parameters. This research was conducted in a pond located in Mulaeno Village, Bombana Regency Central Poleang, Southeast Sulawesi province. The experiment used 54 mud crabs sized between 50 – 70 g. Each crab was kept in a cage sized 30 cm x 30 cm, 40 cm x 40 cm or 50 cm x 50 cm with a stocking density of 1 ind./cage. The cages were positioned at different water levels (30 cm, 50 cm, and 70 cm). The cages were constructed from bamboo , rectangular in shape, and placed randomly in the pond. The feed (trash fish) was given twice daily (morning and afternoon) as much as 5% of the crab body weight. There were nine treatments and each treatment had six replications, i.e, T33 (water depth 30 cm, cage size 30 x 30 cm), T35 (water depth 50 cm, cage size 30 x 30 cm), T37 (water depth 70 cm, cage size 30 x 30 cm), T43 (water depth 30 cm , cage size 40 x 40 cm), T45 (water depth 50 cm, cage size 40 x 40 cm), T47 (water depth 70 cm, cage size 40 x 40 cm), T53 (water depth 30 cm, cage size 50 x 50 cm), T55 (water depth 50 cm, cage size 50 x 50 cm) , T57 (water depth 70 cm, cage size 50 x 50 cm). The results showed that there were no significant influence of the cage sizes and water depths on the production performance of the mud crab. The cage size 30 x 30 cm, and water depth 30 cm (T33) is more effective and efficient in mud crab farm using a single room system.
Analysis of Water Quality for Marinculture in Moro, Karimun, Riau Islands with Principal Component Analysis Wiyoto Wiyoto; Irzal Effendi
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 9 No. 2 (2020): JAFH Vol. 9 No. 2 June 2020
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.283 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v9i2.17192

Abstract

Finding a good location is of important aspects in mariculture. This can be done by evaluating the water quality data. The aims of the study were to evaluate the seawater quality at Moro, Karimun, Riau Islands and to analyze its compatibility for mariculture by using principal component analysis (PCA) and multiple linear regressions. Generally, seawater qualities in the study area were in the tolerance range for mariculture. Surface water samples were collected from five different sampling points around Moro Sea. PCA results demonstrated that there were eleven variation factors which explained 95.4% of the total variance. In addition, based on PCA and multiple linear regressions, four water quality predictors for environmental quality could be identified, that is nitrite (NO2), temperature, pH and dissolved oxygen. Multiple linear regressions showed that the contribution of each parameter to the water quality was significant (R2=1, P < 0.05).
Analisis Kesesuaian Perairan Untuk Pengembangan Tambak Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Kelurahan Sungai Geniot Kota Dumai Haris luthfi; Kukuh Nirmala; Irzal Effendi; Yuni Puji Hastuti
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 17, No 1 (2022): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v17i2.8036

Abstract

Kelurahan Sungai Geniot merupakan salah satu Kelurahan di Kecamatan Sungai Sembilan Kota Dumai yang memiliki potensi perikanan budidaya yang besar untuk dikembangkan khususnya udang vaname dengan tradisional dan semi intensif. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji dan menganalisis kesesuaian lahan dan kesesuaian perairan pada pengembangan tambak udang vaname (Litopenaeus vannamei) di Kelurahan Sungai Geniot. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah scoring dalam penilaian tingkat kesesuaian perairan untuk budidaya udang vaname, Kemudian penilaian kualitas perairan menggunakan metode matching untuk membandingkan karakteristik fisika, kimia, dan biologi perairan suatu lokasi dengan kriteria kesesuaian yang diinginkan untuk budidaya udang vaname. Hasil penelitian menunjukan kondisi kualitas perairan muara sungai maupun di bibir pantai berada dalam kondisi optimal dan masih sesuai untuk budidaya udang vaname. Status kesesuaian lahan untuk pengembangan tambak udang vaname di Kelurahan Sungai Geniot, Kota Dumai sangat berpotensi untuk kegiatan budidaya udang vaname dan pemanfaatan lahan untuk tambak dapat ditingkatkan dari 110,6 Ha menjadi 627 Ha dengan mengoptimalisasi pemanfaatan lahan yang ada. Kesesuaian lahan di Kelurahan Sungai Geniot dalam kelas sesuai yaitu dengan kisaran 48 – 51 sehingga layak dalam kegiatan pengembangan kawasan tambak udang vaname dan memiliki kontur tanah lempung liat berpasir.
Co-Authors . Enywati . Sukenda A.I. Nirwana Achmad Fahrudin Adiguna, Ipong Agnis Murti Rahayu Agus Oman Sudrajat Agustinus Tri Aryanto, Agustinus Tri Aji Fajar Nugraha Ali Mashar Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Alimuddin Amalia E. Maulana Apriana Vinasyiam Ardana Kurniaji Asep Sopian Astari, Belinda Asterika Prawesti Atul Hayati, Mira Auzi Asfarian Awaluddin, Muhammad Iswan Barnabas Bara&#039;padang Betutu Senggagau, Betutu Brata Pantjara Budidardi, Tatag D. Augustine Daffa Nuradzani Dea Fauzia Lestari, Dea Fauzia DEDI JUSADI Dendi Hidayatullah, Dendi Dewi, Nina Nurmalia Dharmadi, , Diah Ayu Lestari, Diah Ayu Diana Putri Renitasari Dinamella Wahjuningrum Dinamella Wahyuningrum Dinar Tri Soelistyowati Eddy Supriyono Efianda, Teuku Reza Enang Harris Surawidjaja Eva Prasetiyono Fadlilah, Rizqy Aditya Fauzan, Agung Lutfi Fauzan, Agung Luthfi Febrianto, Muhammad Riza Hanief Fery Kurniawan Fredinan Yulianda Gloria Ika Satriani Gloria Ika Satriani Hamzah, Aris Sando Hanif, Iik Muslihul Haris luthfi Hartanto, Mochamad Tri Harton Arfah Hary Krettiawan Helena Sahusilawane Heni Sela Arianty Herdhata Agusta Hernanda, Virta Rizki I Wayan Nurjaya Iis Diatin Irman Hermadi Isti'anah, Ismi Ita Apriani Jannah, Uthary Rahmathul Joni Haryadi, Joni Jr., Muhammad Zairin K. Sumawidjaja Khairah, Hylda Khoirul Umam Kholidin, Edy Barkat Kukuh Nirmala Kusman Sumawidjaja Kustiariyah Tarman Lastriliah, Mira Ligaya I. T. A. Tumbelaka Liubana, Debora Victoria M. Nasir M. Zairin Junior Manja Meyky Bond, Manja Meyky Martinez, Stepahnie J. Maulana, Fajar Mia Setiawati Muhammad Abduh MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Iswan Awaluddin Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhlis Muhlis Muhmmad Agus Suprayudi Mulyadin, Aldy MUNTI YUHANA Muzahar N. Suhenda Nidwidyanthi, Nidwidyanthi Novitasari, Septi Liana Nur Bambang Priyoutomo Nuri Muahiddah Pratama, Ahmad Trio Puji Hastuti, Yuni Puradiredja, Sena Pasha Putri Utami, Putri Rahman, Muhammad Aghistni Rangga Idris Affandi Rastina Renitasari, Diana Putri RIDWAN AFFANDI Riska Puluhulawa Riza Rahman Hakim Rizki, Rani Ria Rizky Regina Kawirian Roni Nugraha Ruku Ratu Borut Salsabila, Afviya Santi Susanti, Santi sapanli, kastana Satriani, Gloria I. Shavika Miranti Sophia N. M. Fendjalang Sri Hariati Sri Nuryati Sugeng Heri Suseno Sukenda . Suko Ismi Sumarwan, Zatricia Yustiresta Salsabila Suprianto, Dedi Supryady Supryady Supryady, Supryady Surya Saputra, Surya Suwarto Suwarto T. Prasetya T. Yusdiana T.M. Haja Almuqaramah Tanbiyaskur, Tanbiyaskur Tatag Budiardi Tatag Budidardi Taufiq Abdullah, Taufiq Toto Haryanto TRI ASTUTI Tri Prartono Tridoyo Kusumastanto Vinasyam, Apriana Wahjuni, Sri Wahyudin Wahyudin WIDANARNI WIDANARNI Wijianto Wijianto Wildan Nurussalam Wini - Trilaksani Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yani Haderoseyani Yonvitner - Yunarty Yunarty Yunarty Yunarty, Yunarty Yuni Puji Hastuti Yusuf, Muh. Amri Zaki, Nurul Hidayah Mat