p-Index From 2021 - 2026
9.635
P-Index
This Author published in this journals
All Journal HAYATI Journal of Biosciences Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Jurnal Akuakultur Indonesia Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Jurnal Kebijakan Publik Jurnal Ilmu Komputer dan Agri-Informatika Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Jurnal Perikanan dan Kelautan Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Squalen Bulletin of Marine and Fisheries Postharvest and Biotechnology Indonesian Aquaculture Journal Jurnal Riset Akuakultur Media Akuakultur Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) Seminar Nasional Lahan Suboptimal Journal of Aquaculture and Fish Health Jurnal Abdi Insani Jurnal Syntax Transformation JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis Jurnal Media Akuakultur Indonesia ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Journal of Fish Health Jurnal Pepadu Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Manfish Journal Jurnal Salamata Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Journal of Fisheries & Marine Jurnal Perikanan JARI : Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Berita Biologi Biodiversitas Journal of Biological Diversity
Claim Missing Document
Check
Articles

Performance of mud crab farming in natural seed-based apartment systems with various pre-transportation holding durations Atul Hayati, Mira; Effendi, Irzal; Hadiroseyani, Yani; Budiardi, Tatag
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.32-42

Abstract

Farming mud crabs (Scylla serrata) in Indonesia generally use seeds from natural habitats, which are caught, held, and transported dry to the farming location. The crabs are held for several days while waiting for consumers. This study analyzed the impact of pre-transport holding times (one, three, and five days) with four replications and an average initial weight of 73.60 ± 12.53 g on the physiological condition and production performance of farming mud crabs in an apartment system. The crabs were transported dry from Muara Gembong, Bekasi Regency, West Java, to the IPB Fisheries and Marine Observation Station (IFMOS) Ancol, North Jakarta, DKI Jakarta, for three hours. The crabs were farming in apartment boxes with a recirculation system for 14 days. The results showed that the crabs experienced severe gill damage indicated by the lysis of gill cuticles and low survival rates, especially after five days of pre-transport holding. The crabs experienced stress in all treatments, as indicated by high glucose levels above 30 mg/dL. The best survival rate was found in the one-day pre-transport holding time, with a value of 87.50% at the holding location and 95% at the farming location. In conclusion, a one-day pre-transport holding time provides better physiological conditions and production performance for mud crab farming in an apartment system. Keywords: crab, gills, natural catch, stress ABSTRAK Budidaya kepiting bakau (Scylla serrata) di Indonesia umumnya menggunakan benih dari alam, yang ditangkap, ditampung, dan kemudian di transportasi kering ke lokasi budidaya. Penampungan kepiting berlangsung beberapa hari sambil menunggu konsumen. Penelitian ini menganalisis dampak lama waktu penampungan pratransportasi (satu, tiga, dan lima hari) dengan empat ulangan dan bobot rata-rata awal 73,60 ± 12,53 g, terhadap kondisi fisiologi dan kinerja produksi kepiting bakau yang dibudidayakan dalam sistem apartemen. Kepiting di transportasi kering dari Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ke IPB fisheries and marine observation station (IFMOS) Ancol, Jakarta Utara, DKI Jakarta, selama tiga jam. Kepiting dibudidayakan pada boks apartemen dengan sistem resirkulasi selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepiting mengalami kerusakan insang yang parah ditunjukkan dengan lisisnya kutikula insang dan tingkat kelangsungan hidup rendah, terutama setelah lima hari lama penampungan. Kepiting mengalami stres dalam semua perlakuan, yang ditunjukkan oleh tingginya kadar glukosa di atas 30 mg/dL. Tingkat kelangsungan hidup terbaik yakni pada lama waktu penampungan satu hari, dengan nilai 87,50% di lokasi penampungan dan 95% di lokasi budidaya. Kesimpulannya, lama waktu penampungan satu hari pratransportasi memberikan kondisi fisiologi dan kinerja produksi budidaya kepiting bakau sistem apartemen yang lebih baik. Kata kunci: insang, kepiting, stres, tangkapan alam
Strategi Pengembangan Usaha Budidaya Kepiting Bakau Berkelanjutan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Sapanli, Kastana; Kusumastanto, Tridoyo; Effendi, Irzal; Trilaksani, Wini; Wisudo, Sugeng Hari; Kurniawan, Fery; Asfarian, Auzi
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 6 No 3 (2024): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0603.972-976

Abstract

Pengembangan usaha kepiting bakau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat. Provinsi ini memiliki luas hutan mangrove yang cukup besar, memberikan habitat alami bagi kepiting bakau. Dari aspek pasar, permintaan pasar untuk kepiting bakau terus meningkat, baik di pasar domestik maupun internasional. Terdapat juga potensi pengembangan wisata ekowisata mangrove yang dapat dikombinasikan dengan usaha kepiting bakau. Namun terdapat permasalahan adanya kerusakan ekosistem mangrove akibat aktivitas manusia seperti penebangan liar dan konversi lahan. Selain itu, kurangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat lokal dalam budidaya kepiting bakau yang berkelanjutan serta adanya keterbatasan akses terhadap modal dan teknologi modern. Diperlukan strategi yang tepat dari hulu hingga hilir melalui pemberdayaan masyarakat, rekomendasi kebijakan yang dapat diusulkan di antaranya peningkatan teknologi usaha, peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat, peningkatan sarana prasarana, peningkatan nilai tambah produk, dan peningkatan akses pasar serta skema pendanaan. Usaha ini dapat menjadi model bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Implementasi yang konsisten dan evaluasi yang berkelanjutan adalah kunci keberhasilan dari strategi ini.
EVALUASI PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypopthalmus) DI UPTD CURUG BARANG, PENDEGLANG, BANTEN Achmad Putra; Yogi Al Munji; Irzal Effendi
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v14i2.29287

Abstract

Ikan patin adalah komoditas ekonomi tinggi dan telah dibudidayakan di Unit Pelaksana Teknis Daerah Produksi Perikanan Budidaya Air Payau dan Laut (UPTD PPBAPL) Curug Barang, Pandeglang, Banten. Pembenihan ikan patin memiliki peran yang sangat penting dalam menjamin ketersedian benih untuk menunjang produksi budidaya ikan patin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aspek teknis dari pembenihan ikan patin di UPTD PPBAPL Curug Barang. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Maret 2023, berupa pengambilan data berupa observasi dan wawancara. Kegiatan pembenihan ikan patin yang dilakukan di UPTD PPBAPL Curug Barang meliputi kegiatan seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih. Lima pasang induk ikan patin yang matang gonad disuntik dengan ovaprim untuk menginduksi ovulasi dan spermiasi. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa nilai rata-rata fekunditas, derajat pembuahan dan penetasan telur pada penelitian ini secara berurutan adalah 128.571 butir/kg, 80,35±0,54% dan 80,84±3,02%. Sedangkan nilai pertumbuhan mutlak larva ikan patin adalah sebesar 40,77 mm dan nilai SR sebesar 80,52%. Nilai kualitas air pada media penetasan telur, pemeliharaan larva dan benih berada pada kisaran normal nilai kualitas air pada pemeliharaan ikan patin. Secara umum nilai fekunditas, penetasan telur dan SR larva ikan patin di UPTD PPBAPL Curug Barang masih dalam kategori baik karena masih sesuai dengan SNI pembenihan ikan patin.
Breeding of Sand Goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr'), Broodstock in Earthen and Concrete Pond Sumawidjaja, Kusman; Effendi, Irzal; Enywati, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.601 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.1-5

Abstract

ABSTRACTAnexperiment to asses breeding performance of sand goby was conducted in earthen and concrete pond.  Broodstock (125 - 500 g per fish) of similar levels at maturing were fed trash fish 7% of biomass everyday.  In the rainy season, sand goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr.), spawned 31 and 30 times per month producing an average of 38.300 and 36.855 eggs per nest, respectively.  In the dry sesason, howeve only fish in earthen ond bred 36 times per month with an average of 39.170 eggs per nest.Key words :  breeding, sand goby fish, Oxyeleotris marmorata ABSTRAKPercobaan ini bertujuan untuk mengetahui pemijahan ikan betutu di kolain tanah dan kolarn beton.  Ikan betutu (125 - 500 g per ekor) dipelihara selarna musim hujan dan musim kemarau dan diberi makan ikan teri sebanyak 7% setiap hari.  Pada musim penghujan, pada kolam tanah dan kolam beton terjadi masingmasing 31 dan 30 kali pemijahan ikan betutu, Oxyeleotris marmorata (Blkr.), per sarang.  Pada musim kemarau, hanya ikan betutu yang di kolam tanah saja yang memijah sebanyak 36 kali dengan rata-rata 39.170 butir per tahun per sarang.Kata kunci :  pemijahan, ikan betutu, Oxyeleotris marmorata
Enhancing the Survival Rate of Sand Goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr.), Larvae with Antibiotics Effendi, Irzal; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.825 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.15-22

Abstract

ABSTRACTPenicillin G and streptomycin sulphate were administered for 18 days of rearing of sand goby larvae. 7'wo-days larvae (3,37-3,41 mm) were reared in 160 1 aerated water at stocking density of 50 fish/1.  Until 17 days of rearing period, the larvae were fed plankton (50-300 gm) at stocking density of 20-30 individual/mi, and at day 13-I8, were fed Artemia sp. (1-2 individual/ml).  During first seven days, penicillin G and streptomycin sulphate (1.000 IU/1 and 10 mg/1, respectively) were applied daily, and there after once every three days.  The fry which reared in media containing antibiotics exhibited higher survival rate (28,09%, compared to 3,3 1 %), than the control, whereas their growth was similar (1,09-1,53 mm). Keywords :  Antibiotics, survival rate, sand goby fish, Oxyeleotris marmorata  ABSTRAKAntibiotik penisilin G dan streptomisin sulfat telah digunakan dalam pemeliharaan larva ikan betutu selama 18 hari.  Larva umur 2 hari (3,37-3,41 mm) dipelihara dalain tangki berisi air sebanyak 160 1 yang diaerasi halus, dengan kepadatan 50 ekor/1.  Antibiotik diberikan kepada media pemeliharaan larva setiap hari pada 7 hari pertarna pemeliharaan dan selanjutnya setiap 3 hari sekaii hingga akhir pemeliharaan, sebanyak 1.000 IU/1 dan 10 mg/1 masing-masing untuk penisilin G dan streptomisin sulfat.  Pada hari pertama hingga ke- 1 7, larva diberi makan plankton berukuran 50-300 gm sebanyak 20-30 individu/ml, hari ke- 13 sampai 18 diberi Artemia sp. sebanyak 1-2 ekor/ml.  Larva yang dipelihara pada media berantibiotik memiliki kelangsungan hidup (28,09%) lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa antibiotik (3,31%), sedangkan pertumbuhan panjang mutlaknya sama yaitu 1,09-1,53 mm.Kata kunci :  Antibiotik, kelangsungan hidup, ikan betutu, Oxyeleotris marmorata
Rearing of Milkfish, Chanos Chanos, in Net Cages at Sea at Various Stocking Densities Sumawidjaja, Kusman; Yusdiana, T.; Effendi, Irzal; Dharmadi, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.661 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.53-56

Abstract

ABSTRACTStocking rate of milkfish, Chanos chanos, from 75 to 225 fish/m3  or from 1,33 to 3,98 kg/m3  did not affect the growth rate, survival rate, feeding efficiency, and final length and weight of fish, each at 2,32%/day, 81,8%, 63,8%, and 185,2 mm and 64,0 g respectively. Final biomass (Y) increased from 3,66 to 12,05 kg/m3 with the increase of stocking rate (X) with Y = 0,056 X-0,45 (p<0,05).Key words :   Milkfish, Chanos chanos, floating net cage, stocking density. ABSTRAKPadat penebaran ikan bandeng, Chanos chanos, dari 75 hingga 225 ekor/m3 atau dari 1,33 hingga 3,98 kg/m3 tidak mempengaruhi laju pertumbuhan, kelangsungan hidup, efisiensi pemberian pakan serta panjang dan bobot ikan akhir, masing-masing dengan rata-rata 2,32%/hari, 81,8%, 63,8%, 185,2 mm dan 64,0 g. Biomasa akhir (Y) meningkat dari 3,66 hingga 12,05 kg/m3 dengan meningkatnya padat penebaran (X) dengan persamaan Y = 0,056 X -0,45 (p<0,05).Kata kunci :  Ikan bandeng, Chanos chanos, keramba jaring apung, padat penebaran
Feeding of Marbled Goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr.), Larvae in the Two Weeks of Their Early Life Effendi, Irzal; Sumawidjaja, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.147 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.101-108

Abstract

ABSTRACTThe experiment was carried out at the Laboratory of Aquaculture System and Technology, Faculty of Fisheries, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Factorial arrangement in randomised block design was used in this experiment with two factors: kind of feed and feed density for sand goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr.) larvae. There were 3 kinds of feed: rotifer, enriched-rotifer, and egg yolk-premix. Rotifer density of 20, 30, and 40 individuals/ml were maintained troughout the experiment. Egg yolk-premix were given per day in equivalent quantity as those rotifers in the treatment. Larvae of 40 individuals/l were kept in the 250 l plastic tanks, filled with 200 l of aerated ground water for 15 days indoor. Larvae fed rotifer showed better survival and growth rate than those fed egg yolk-premix. Increased rotifer density tended to increase survival and growth rate of larvae.Key words :  marbled goby, Oxyeleotris marmorata, larvae, feeding, rotifers ABSTRAKPercobaan ini dilakukan di Kolam Percobaan Babakan, Laboratorium Bogor, Bogor, dan dirancang berbentuk factorial dalam rancangan acak kelompok, dengan faktor: (1) jenis pakan dan (2) kepadatan pakan. Jenis pakan dibedakan menjadi: rotifera, rotifera-diperkaya, dan kuning telur-premiks, sedangkan kepadatan rotifera dibedakan menjadi : 20,30, dan 40 individu/ml, dipertahankan setiap hari. Kuning telur-premiks diberikan kepada larva ikan betutu, Oxyeleotris marmorata setiap hari yang setara dengan bobot rotifera setiap perlakuan, berdasarkan bobot kering keduanya. Larva sebanyak 40 ekor/l dipelihara dalam tangki plastik bervolume 250 l yang diisi air 200 l selama 15 hari dalam ruangan. Larva yang diberi rotifera cenderung memiliki kelangsungan hidup dan pertumbuhan lebih besar daripada kuning telur-premiks. Kepadatan rotifera yang semakin tinggi cenderung dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva.Kata kunci :  ikan betutu, Oxyeleotris marmorata, larva, pemberian pakan, rotifera
Feeding with Artificial Feed on Sand Goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr.), Fry Sudrajat, Agus Oman; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.916 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.109-118

Abstract

ABSTRACTThe influence of feed shape and protein resource of artificial feed on the growth and survival rate of sand goby, Oxyeleotris marmorata (Blkr.), fry were evaluated in this experiment. This experiment purposed to determine growth rate, survival rate, feeding efficiency, protein retention, lypid retention and look for the suitable artificial feed for sand goby. This experiment was carried out at the Laboratory of Aquaculture System and Technology, Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University in Bogor. Factorial design was used in this experiment with two factors: feed shape and protein resource. There were two kinds of feed shape: dry pellet and moist pellet. Protein resource consisted: fish, squid, and shrimp. The sand goby juveniles were kept in aquarium 60x30x40 cm was filled 40 litre of aerated. The fish were fed of 7% (dry weight based) of body weight in three time of feeding (10:00, 14:00, 18:00 WIB), 30, 30, 40% total feed/day respectively. The amount of feed was adjusted every 7 days with sampling. The juveniles feeding with shrimp-moist showed better survival rate, growth rate, feeding efficiency, protein retention, lypid retention than those fed shrimp-dry, squid-dry, squid-moist, fish-dry, and fish-moist. Dry pellet and moist pellet can be used for sand goby feeding. The artificial feed for sand goby juvenile suggested contain attractant and had highly water stability. Shrimp and squid can be used as main protein resources in artificial feed for sand goby. Key Word :  Feeding, artificial feed, sand goby, Oxyeleotris  marmorata, fry. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bentuk pakan dan sumber protein dari pakan buatan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan betutu, Oxyeleotris marmorata (Blkr.). Rancangan faktorial dengan 2 faktor, bentuk pakan (pelet basah dan pelet kering) dan sumber protein (ikan, cumi dan udang) digunakan dalam penelitian ini. Ikan diberi pakan 7% bobot badan basah yang diberikan dalam 3 kali per hari. Ikan yang diberi pakan dengan kombinasi bentuk pelet basah dan sumber protein udang (pelet basah-udang) menunjukkan kelangsungan hidup, pertumbuhan, efisiensi pemberian pakan dan retensi protein terbaik dari perlakuan lainnya. Udang dan cumi dapat digunakan sebagai sumber protein utama dalam pakan buatan untuk ikan betutu. Pakan buatan untuk benih ikan betutu disarankan mengandung atraktan dan memiliki stabilitas dalam air yang tinggi.Kata kunci :  Pemberian pakan, pakan buatan, ikan betutu, Oxyeleotris marmorata, benih.
PERKEMBANGAN ENZIM PENCERNAAN LARVA IKAN PATIN, Pangasius hypophthalmus sp. Effendi, Irzal; Widanarni, .; Augustine, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.744 KB) | DOI: 10.19027/jai.2.13-20

Abstract

Development of digestive enzymes; protease, lipase and amylase were observed in patin catfish, Pangasius hypophthalmus, larvae.  The 1 day old larvae (day after hatching), with 3,37-3,97 mm length and 0,62-0,79 mg weight, were reared in aquarium 60x50x40 cm with stocking  density of 20 fish/l.  Larvae were fed  Artemia dan tubificid worms 2-8 dan 7-15 days after hatching (dAH),  respectively (schedule I);  2-6 and  5-15 dAH (schedule II); and 2-4 and 5-15 dAH (schedule III).  Chlorella was ready to eat by larvae at the entirely rearing.  For enzyme assay, larvae were sampled from each aquarium at stages of 1, 2, 3, 5, 7, 10 and 15 dAH.    Protease and lipase activity were detected in digestive tract of  1 dAH larvae.   Digestive enzymes development have a similar pattern in larvae for all feeding schedules.  Protease activity  decreased with the increasing of age until 3 dAH, then increased  until the larvae reached 7 dAH, and sharply decreased until 10 dAH and then slowly decreased thereafter. Lipase activity tended to increase slowly with age up to 3 dAH, and increased sharply until 5 dAH, and then decreased sharply until 7 dAH  before decreased again up to the end of rearing.  Amylase activity in larvae increased slowly with the increasing of age up to 5 dAH, then increased sharply until 7 dAH, and decreased thereafter.  In dimly lighted larvae, amylase activity decreased before increased up to 12 d AH, then decreased thereafter.  The amount of food organisms in larval gut, body weight and length, and survival rate of larvae were also measured and discussed.Key Words:  Digestive enzymes, development, larvae, patin catfish, Pangasius hypophthalmus ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan enzim protease, lipase dan amilase saluran pencernaan larva ikan patin akibat perubahan skedul pemberian pakan.  Larva ikan patin (panjang 3,77–3,97 mm dan bobot 0,62-0,79 mg) berumur 1 hari dipelihara di akuarium 60x50x40 cm dengan kepadatan 20 ekor/l.  Larva diberi pakan dengan tiga skedul pemberian; skedul I, Artemia dan cacing diberikan ketika larva ikan patin berumur masing-masing 2-8 dan 7-15 hari; skedul II, Artemia 2-6 hari dan cacing 5-15 hari; skedul III, Artemia 2-4 hari dan cacing 5-15 hari. Chlorella diberikan sepanjang pemeliharaan larva. Contoh larva umur 1, 2, 3, 5, 7, 10 dan 15 hari diambil sebanyak 0,5 g setelah dipuasakan selama 4 jam.  Asai protease, lipase dan amilase terhadap homogenate larva  dilakukan dengan menggunakan masing-masing substrat kasein 1%,  minyak kelapa sawit dan pati 1%.  Anatomi, isi saluran pencernaan, pertumbuhan bobot dan kelangsungan hidup larva juga diamati.  Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan larva yang diberi pakan dengan skedul berbeda, namun larva yang diberi Artemia lebih lama (skedul I) memiliki kelangsungan hidup lebih baik.  Larva ikan patin umur 1 hari setelah menetas ternyata sudah mengandung enzim protease dan lipase di saluran pencernaannya.  Perkembangan enzim pencernaan memiliki pola yang hampir sama pada setiap skedul pemberian pakan.  Aktivitas protease menurun pada larva umur 3 hari, selanjutnya meningkat tajam hingga larva umur 7 hari, kemudian menurun tajam hingga larva umur 10 hari dan akhirnya menurun landai.  Aktivitas lipase meningkat lambat hingga larva umur 3 hari, kemudian meningkat tajam hingga larva umur 5 hari, selanjutnya menurun tajam hingga larva umur 7 hari dan akhirnya menurun landai.  Aktivitas amilase semakin meningkat lambat dengan bertambahnya umur larva hingga 5 hari, selanjutnya meningkat tajam hingga larva berumur 7 hari dan kemudian menurun.  Perkembangan enzim pencernaan larva ikan patin ini sejalan dengan perkembangan (diferensiasi) anatomi saluran pencernaan.  Saluran pencernaan larva berisi Artemia, cacing dan plankton dengan jumlah yang semakin meningkat dengan bertambahnya umur larva.  Kata kunci:  Enzim pencernaan, perkembangan, larva, ikan patin, Pangasius hypophthalmus
Gonad Maturation of Clown Loach (Botia macracanthus) in Pond Effendi, Irzal; Prasetya, T.; Sudrajat, Agus Oman; Suhenda, N.; Sumawidjaja, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.129 KB) | DOI: 10.19027/jai.2.51-54

Abstract

The objective of this research is to know the gonad maturation of clown loach {Botia macracanthus) reared in pond. Two groups contain 4 female broodstock; I) carried and II) non-carried egg broodstock were reared in two separated hapas which placed in pond. Each hapa was also stocked nine males. The fish were fed pellet (32,33% protein) 10% biomass, daily in three times. After 20 days, the broodstocks were implanted by LHRH-a 100 u.g/kg of body weight. In the group I, diameter of egg in gonad were developed from 1,028 mm at the beginning of implantation to 1,071 and 1,106 mm at day of 15 and 30 after implantation respectively. In the group II, only one female has developed her gonad successfully. The egg was developed to 0,937 and 1,026 mm after 15 and 30 day implantation respectively. Key words : Gonad maturation, clown loach, Botia macracanthus, pond   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pematangan gonad induk ikan botia (Botia macracanthus) yang dipelihara di kolam. Dua kelompok induk betina; I) sudah mengandung telur dan II) belum mengandung telur masing-masing sebanyak 4 ekor dipelihara masing-masing dalam 2 hapa. Ke dalam setiap hapa juga ditempatkan induk jantan sebanyak 9 ekor. Induk diberi pakan berupa pelet (protein, 32,33%) sebanyak 10% dari bobot biomasa per hari, 3 kali sehari, dan diberi LHRH-a dengan dosis 100 ng/kg bobot tubuh secara implantasi pada hari ke 20 pemeliharaan. Induk dalam kelompok pertama telurnya berkembang dari rata-rata 1,028 pada saat pemberian LHRH-a menjadi rata-rata 1,071 dan 1,106 mm masing-masing pada hari ke 15 dan 30 setelah pemberian. Pada kelompok kedua hanya satu ekor induk yang berkembang gonadnya setelah diberi LHRH-a. telur induk ikan tersebut berkembang dari 0,937 menjadi 1,026 mm masing pada hari ke 15 dan 30 setelah implantasi. Kata kunci : Pematangan gonad, ikan botia, Botia macracanthus, kolam
Co-Authors . Enywati A.I. Nirwana Achmad Fahrudin Achmad Putra Adiguna, Ipong ADNI OKTAVIANA Agnis Murti Rahayu Agus Oman Sudrajat Agustinus Tri Aryanto, Agustinus Tri Aji Fajar Nugraha Akbar Marzuki Tahya Aldi Huda Verdian Aldy Mulyadin Ali Mashar Alimuddin Alimuddin Alimuddin Amalia E. Maulana Apriana Vinasyiam Aprianta, I Ketut Bimbo Ardana Kurniaji Asep Sopian Astari, Belinda Asterika Prawesti Atul Hayati, Mira Auzi Asfarian Awaluddin, Muhammad Iswan Bagus Ansani Takwin Barnabas Bara&#039;padang Betutu Senggagau, Betutu Brata Pantjara Budidardi, Tatag D. Augustine Daffa Nuradzani Dea Fauzia Lestari, Dea Fauzia DEDI JUSADI Dendi Hidayatullah, Dendi Dharmadi, , Diah Ayu Lestari, Diah Ayu Dian Febriani Diana Putri Renitasari Dinamella Wahjuningrum Dinamella Wahyuningrum Dinar Tri Soelistyowati Eddy Supriyono Efianda, Teuku Reza Enang Harris Surawidjaja Eva Prasetiyono Fadlilah, Rizqy Aditya Fauzan, Agung Lutfi Fauzan, Agung Luthfi Febrianto, Muhammad Riza Hanief Fery Kurniawan Fredinan Yulianda Gloria I. Satriani Gloria Ika Satriani Gloria Ika Satriani Hamzah, Aris Sando Hanif, Iik Muslihul Haris luthfi Harton Arfah Hary Krettiawan Helena Sahusilawane Heni Sela Arianty Herdhata Agusta Hernanda, Virta Rizki Hylda Khairah Putri I Wayan Nurjaya Iis Diatin Irman Hermadi Isti'anah, Ismi Isti'anah, Ismi - Ita Apriani Jannah, Uthary Rahmathul Joni Haryadi, Joni Jr., Muhammad Zairin K. Sumawidjaja Kevin Dony Kesuma Khairah, Hylda Khoirul Umam Kholidin, Edy Barkat Kukuh Nirmala Kusman Sumawidjaja Kustiariyah Tarman Lastriliah, Mira Lee, Wen-Chien Ligaya I. T. A. Tumbelaka Liubana, Debora Victoria M. Idham Shilman M. Nasir M. Zairin Junior Manja Meyky Bond, Manja Meyky Martinez, Stepahnie J. Maulana, Fajar Meri Alvina Taufik Mia Setiawati MIA SETIAWATI Mochamad Tri Hartanto Mohammad Aghistni Rahman Muhammad Abduh MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Arif Mulya Muhammad Iswan Awaluddin MUHAMMAD QUSTAM SAHIBUDDIN Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhlis Muhlis MUNTI YUHANA Muzahar N. Suhenda Nidwidyanthi, Nidwidyanthi Nina Nurmalia Dewi Novitasari, Septi Liana Nur Bambang Priyoutomo Nurbayasari, Rodiah Nuri Muahiddah Nurul Fatimah Pratama, Ahmad Trio Puradiredja, Sena Pasha Putri Utami, Putri Raismin Kotta Rangga Idris Affandi Rastina Renitasari, Diana Putri RIDWAN AFFANDI Riska Puluhulawa Risma Amelia Putri Riyan Maulana Riza Rahman Hakim Rizki, Rani Ria Rizky Regina Kawirian Roni Nugraha Ruku Ratu Borut Rumondang, Anne Salsabila, Afviya Santi Susanti, Santi sapanli, kastana Shavika Miranti Sophia N. M. Fendjalang Sri Hariati Sri Nuryati Sri Warastuti Sugeng Heri Suseno Sukenda, Sukenda, Suko Ismi Sumarwan, Zatricia Yustiresta Salsabila Sunarti Suprianto, Dedi Supryady Supryady Supryady, Supryady Surya Saputra, Surya Suwarto Suwarto T. Prasetya T. Yusdiana T.M. Haja Almuqaramah Tanbiyaskur, Tanbiyaskur Tatag Budiardi Tatag Budidardi Taufiq Abdullah, Taufiq Thavasimuthu Citarasu Toto Haryanto TRI ASTUTI Tri Prartono Tridoyo Kusumastanto Tulas Aprilia Vinasyam, Apriana Wahjuni, Sri Wahyudin Wahyudin WIDANARNI WIDANARNI Wijianto Wijianto Wildan Nurussalam Wini - Trilaksani Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yani Haderoseyani Yogi Al Munji Yonvitner - Yunarty Yunarty Yunarty Yunarty, Yunarty Yuni Puji Hastuti Yusuf, Muh. Amri Zaki, Nurul Hidayah Mat