Claim Missing Document
Check
Articles

Bioactive compounds, antidiabetic and antimicrobial potential of pinang seeds extract (Areca catechu l) Suryowati, Trini; Siagian, Forman Erwin; Maheshwari, Hera; Diani, Yusias Hikmat; Kusuma, Rini Anjarwati
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No 3: September 2023
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v8i3.2060

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder affecting people of all ages. The critical aspect of fruits is that rich sources of antioxidants may act in combination with each other phytochemicals to provide their protective effect. Pinang (Areca catechu L.) fruit is edible as the local indigenous plant from West Irian Jaya (Papua) Indonesia. This study was aimed at investigating the biologically active compounds of seeds, fruits, and leaves, the a-glucosidase inhibitory and antibacterial activity of seeds of Pinang against Gram-positive bacteria Staphylococcus aureus ATCC 25923, and Gram-negative bacteria Escherichia coli ATCC 25922. Pinang fruits were extracted by using the maceration method and ethanol solvent. Identify the chemical compounds in seeds by GC-MS technique, test to a-glycosidase inhibitory effect was measured with spectrophotometric. Well, the diffusion method was employed in evaluating the antimicrobial property of extracts. The evaluation of the bioactive compound of Pinang fruits revealed the presence of Vitamin E (0.20%). The inhibition of a-glucosidase of seeds extract of IC50 values was 82.74 ppm, and the global standard was 0.34 ppm. This study confirmed that Pinang seeds contain glucosidase activity that has the potency to inhibit glucose. The antimicrobial activity was performed against bacteria as it showed zone inhibition. These results indicated that Pinang seed extracts exerted potent inhibitory effects against a-glucosidase and inhibited the proliferation of Gram-negative microorganisms.
APLIKASI FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR) DAN PENGAMATAN PEMBENGKAKAN GENITAL PADA SPESIES PRIMATA, LUTUNG JAWA (Trachypithecus auratus) UNTUK MENDETEKSI MASA SUBUR Sjahfirdi, Luthfiralda; Aldi, Nikki; Maheshwari, Hera; Astuti, Pudji
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2837

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gugus fungsi penanda yang merepresentasikaan hormon metabolit E1C dan PdG serta bilangan gelombangnya pada urine yang didukung dengan pengamatan genitalia untuk memastikan pendeteksian masa subur pada lutung jawa (Trachypithecus auratus). Sampel urine dan pengamatan genitalia diperoleh dari 2 (dua) ekor lutung jawa betina di Pusat Primata Schmutzer, Kebun Binatang Ragunan, Jakarta. Sampel urin diambil setiap hari dan dilengkapi dengan pengamatan genitalia. Hasil menunjukkan bahwa gugus fungsi penanda yang merepresentasikan E1C dan PdG pada lutung jawa sama dengan yang teridentifikasi pada tikus namun dengan bilangan gelombang berbeda. Hormon metabolit E1C direpresentasikan melalui gugus fungsi alkil, aromatik, dan hidroksil pada bilangan gelombang 596 cm-1, 698 cm-1, 3599 cm-1, dan PdG direpresentasikan melalui gugus fungsi alkil dan aldehid pada bilangan gelombang 1450 dan 1699 cm-1. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gugus fungsi penanda yang teridentifikasi oleh fourier transform infrared (FTIR) dapat berlaku secara universal, namun bilangan gelombang yang merepresentasikannya bersifat spesifik spesies.
KINERJA REPRODUKSI TIKUS BUNTING AKIBAT PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL PURWOCEN Satyaningtijas, Aryani Sismin; Maheshwari, Hera; Achmadi, Pudji; Pribadi, Wisnugroho Agung; Hapsari, Sandra; Jondriatno, Divo; Bustaman, Isdoni; Kiranadi, Bambang
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1253

Abstract

Pada penelitian ini, purwoceng diberikan pada tikus betina bunting umur 1-13 hari dengan tujuan mengetahui bobot badan, ovarium, dan uterus serta mempertahankan titik implantasi yang terbentuk sebelum masa implantasi. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok tikus bunting kontrol dan tikus bunting yang mendapatkan purwoceng dengan dosis 25 mg/300 g bobot badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi purwoceng cenderung memiliki bobot ovarium dan uterus lebih berat dibandingkan kelompok kontrol. Purwoceng juga menyebabkan jumlah titik implantasi tikus hampir mendekati jumlah korpus luteum yang sudah terbentuk, dan ini menunjukkan bahwa keberhasilan implantasi lebih baik pada kelompok tikus yang diberi purwoceng.
EFEK PEMBERIAN HORMON PREGNANT MARES SERUM GONADOTROPIN (PMSG) SEBELUM KAWIN TERHADAP GAMBARAN DARAH MERAH INDUK DOMBA SELAMA PERIODE KEBUNTINGAN A, Andriyanto; Arif, Ridi; Darulfalah, Muhammad Darjat; Nugraha, Ganjar Maulana; Kusomorini, Nastiti; Maheshwari, Hera; Manalu, Wasmen
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.675

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian hormon PMSG sebelum kawin terhadap gambaran darah merah induk domba bunting. Sebanyak 14 ekor induk domba bunting dengan kisaran bobot badan antara 20-25 kg dikelompokkan ke dalam dua kelompok, masing-masing terdiri atas 7 ekor domba. Perlakuan pertama terdiri atas induk domba bunting hasil perkawinan alami tanpa diberikan hormon PMSG (P0) dan perlakuan kedua terdiri atas induk domba bunting yang diberikan 125 IU PMSG (PG 600, Intervet, Holland) sebelum dikawinkan (P1). Sebelum diberikan hormon PMSG, domba penelitian diserentakkan berahinya dengan menyuntikkan 10 mg/ekor prostaglandin (PGF2, LutalyseTM, Pharmacia Upjohn Company, Pfizer Inc.) sebanyak dua kali dengan interval sebelas hari. Penyuntikan hormon PMSG dilakukan bersamaan dengan penyuntikan hormon PGF2 yang kedua. Domba betina yang estrus dikawinkan secara alami dengan pejantan yang telah diseleksi. Pada hari ke-30 setelah dikawinkan, dilakukan pemeriksaan kebuntingan dan jumlah fetus dengan menggunakan ultrasonografi (USG). Sampel darah untuk pemeriksaan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit diambil pada periode kebuntingan bulan ke-1, 2, 3, 4, dan 5. Perlakuan hormon PMSG sebelum perkawinan meningkatkan jumlah sel darah merah, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin induk domba bunting. Peningkatan jumlah sel darah merah, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin terjadi pada periode awal kebuntingan dan menurun pada akhir masa kebuntingan.
PEMERIKSAAN PROFIL HORMON PROGESTERON SELAMA SIKLUS ESTRUS TIKUS (Rattus norvegicus) BETINA MENGGUNAKAN PERANGKAT INFRAMERAH Sjahfirdi, Luthfiralda; Gita P., Putri Krida; Astuti, Pudji; Maheshwari, Hera
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.562

Abstract

Penelitian ini bertujuan memperoleh profil fluktuasi kadar hormon ovari sepanjang siklus estrus. Sampel darah yang berasal dari sepuluhekor tikus betina diambil selama tiga siklus estrus dan dianalisis menggunakan perangkat inframerah. Kadar progesteron selama tiga siklus memiliki kisaran 6-11 ng/ml pada masa estrus dan meningkat menjadi 32-49 ng/ml pada saat non-estrus.
PENURUNAN KADAR PROGESTERON SERUM DAN KOMPONEN MATRIKS EKSTRASELULER DAN SELULER KULIT SEBAGAI INDIKATOR PENUAAN PADA TIKUS s, Safrida; Kusumorini, Nastiti; Manalu, Wasmen; Maheshwari, Hera
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.557

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar kolagen kulit (matriks ekstraseluler), jumlah sel (kadar DNA), aktivitas sintetik (kadar RNA) padajaringan kulit, serta kadar hormon progesteron pada berbagai tingkatan umur tikus, dan memperoleh umur tikus ovariektomi yang cocok digunakan sebagai hewan model penuaan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas sembilan kelompok percobaan masing-masing terdiri atas tiga ekor tikus, yaitu umur 12 bulan (K1), 18 bulan (K2), 24 bulan (K3), 30 bulan (K4), 36 bulan (K5), umur 12 bulan dalam kondisi 1 bulan pascaovariektomi (K6), 12 bulan dalam kondisi 3 bulan pascaovariektomi (K7 ), 18 bulan dalam kondisi 1 bulan pascaovariektomi (K8), dan umur 24 bulan dalam kondisi 1 bulan pascaovariektomi (K9). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Komponen matriks ekstraseluler dan matriks seluler menurun seiring dengan bertambahnya usia. Umur tikus normal yang cocok digunakan sebagai hewan model penuaan adalah tikus umur 24-36 bulan. Tikus ovariektomi yang cocok digunakan sebagai hewan model penuaan adalah tikus umur 12 bulan pascaovariektomi 3 bulan.
Phase-dependent effects of purwoceng (Pimpinella alpina KDS) on estrous cycle modulation in virgin female rats Santoso, Hera; Achmadi, Pudji; Ekastuti, Damiana Rita; Tarigan, Ronald; Bustamam, Isdoni; Santoso, Koekoeh; Maheshwari, Hera; Satyaningtijas, Aryani
ARSHI Veterinary Letters Vol. 9 No. 4 (2025): ARSHI Veterinary Letters - November 2025
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.9.4.117-118

Abstract

Purwoceng (Pimpinella alpina KDS) merupakan tanaman obat tradisional yang telah banyak diteliti khasiat androgeniknya dalam penelitian reproduksi jantan. Namun, pengaruhnya terhadap kinerja reproduksi betina masih kurang dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh purwoceng terhadap durasi setiap fase estrus dan keseluruhan siklus estrus pada tikus betina. Empat puluh delapan tikus Sprague-Dawley betina perawan dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan fase estrus mereka pada awal perlakuan: proestrus, oestrus, metestrus, dan diestrus. Setiap kelompok terdiri dari enam ekor kontrol dan enam ekor tikus yang diberi Purwoceng. Ekstrak diberikan secara intragastrik selama sepuluh hari berturut-turut, sementara evaluasi apusan vagina dilanjutkan hingga hari ke-15 untuk memantau siklus estrus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian purwoceng selama dua siklus estrus umumnya memperpanjang fase proestrus dan estrus, dengan perpanjangan fase estrus yang signifikan secara statistik diamati ketika perlakuan diberikan selama estrus (P < 0,05). Sebaliknya, durasi fase metestrus dan diestrus berkurang, kecuali ketika Purwoceng diberikan selama metestrus, yang mengakibatkan peningkatan durasi metestrus. Kesimpulannya, purwoceng menunjukkan efek modulasi terbesar ketika diberikan selama fase estrus, menunjukkan responsivitas siklus reproduksi betina yang bergantung pada fase terhadap ekstrak herbal ini.
PREVALENCE OF mcr-1 COLISTIN-RESISTANT GENE IN Escherichia coli ALONG THE BROILER MEAT SUPPLY CHAIN IN INDONESIA Palupi, Maria Fatima; Wibawan, I Wayan Teguh; Sudarnika, Etih; Maheshwari, Hera; Darusman, Huda Shalahudin
BIOTROPIA Vol. 26 No. 2 (2019): BIOTROPIA Vol. 26 No. 2 August 2019
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11598/btb.2019.26.2.1054

Abstract

Colistin is the last drug of choice for dealing with carbapenem-resistant Enterobacteriaceae bacteria; hence, this drug is very crucial to human health. The discovery of a plasmid-mediated colistin-resistant gene, the mobilized colistin resistance-1 (mcr-1), signals a significant global health threat. Colistin sulfate is an antimicrobial agent which has been approved for use in broilers in Indonesia. Thus, this study aimed to measure the prevalence of colistin-resistant Escherichia coli and to detect the mcr-1 colistin-resistant gene in E. coli and E. coli O157:H7 in the entire supply chain of broilers in Bogor Regency, West Java Province, Indonesia. Samples were taken from 47 flocks that used colistin sulfate (47 pools of cloacal swabs, 47 pools of drinking water, and 47 pools of litter), seventy fresh meat samples and seven plucker swab samples from seven small-scale poultry slaughterhouses, seventy fresh meat samples from seven traditional markets, and seventy cooked meat samples from seven small restaurants. The isolation of E. coli was done on each of the 358 samples, and 493 isolates were obtained. All the E. coli isolates were then tested for their susceptibility to colistin sulfate by using the agar dilution method. The detection of the mcr-1 gene from the colistin-resistant isolates (minimum inhibitory concentration > 2 µg/mL) was conducted using the polymerase chain reaction (PCR). The prevalence value of colistin-resistant E. coli in all the isolates was 11.76% (CI 95%; CL 9.21–14.91), and the prevalence of the mcr-1 gene was 10.55% (CI 95%; CL 8.13–13.57%). A very good agreement correlation existed between the colistin-resistant phenotype and the mcr-1 gene (κ = 0.939). The mcr-1 gene was found in 89.66% of colistin-resistant E. coli isolates. Two colistin-resistant and mcr-1 carrying isolates were identified as E. coli O157:H7 serotype. This research was the first study attempt on the mcr-1 gene in Indonesia, covering the entire supply chain of broiler meat from farms to consumers. The results indicated the necessity to reduce the use of colistin sulfate in broiler management and to improve biosecurity measures, not only in farms but also in the entire supply chain of broiler meat production.
Co-Authors . Herdis . Safrida . Yulnawati A. Suprayogi A. Wijaya A.S. Satyaningtijas ACHMAD FARAJALLAH Agik Suprayogi Agus Wijaya Ainul Khadija Saleema Akhiruddin Maddu Amelia Hana Amelia Ramadhani Anshar Anak Agung Gede Sugianthara Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Andhika Yudha Prawira Andre, Daniel Latief Andriyanto Andriyanto Arief Boediono Asmarani Kusumawati Bambang Kiranadi Bambang Kiranadi Bambang Kiranadi Bambang Purwantara Claude Mona Airin D. R. Ekastuti Damhuri Damhuri Damiana Rita Ekastuti Danang Dwi Cahyadi David Anwar Dawanto, Jirfan Debby Jacqualine Jochebed Rayer Desrayni Hanadhita Desrayni Hanadhita Desrayni Hanadhita Diah Nugrahani Pristihadi Diani, Yusias Hikmat Dirwan Rahman Divo Jondriatno Divo Jondriatno Dondin Sajuthi Dwi Nurhidayah Zubaidah E Mulyati Effendi, E Mulyati Ekowati Handharyani Elok Budi Retnani ERIC HAYES Ernes Andhesfa Etih Sudarnika Eva Harlina Evi Juliati Evi Juliati Gani F. B. Harlimawan Faisal Tanjung Fitri, Arni Diana Fredi Kurniawan Gandasari, Ira Agustina Dewi Ganjar Maulana Nugraha Ganjar Maulana Nugraha Gilang Kala Maulana, Gilang Kala Hadi S Alikodra Hardiansyah, Muhamad Evans Hendry, Altaff heny Nitbani Herdis - Huda Salahuddin Darusman Huda Salahudin Darusman Huda Shalahudin Darusman Husna Husna, Mar’atul Husna, Rina Siti Nurul I wayan Teguh Wibawan ikhwan wirahadikesuma Ikhwan Wirahadikesuma Irfan Nurhidayat, Irfan Irwan Oktoni Isdoni Bustaman Jefri Naldi Julianto . Juliati Gani, Evi Juliati, Evi Jumadin, La Kasiyati Kasiati koekoeh santoso Kusdiantoro Mohamad Kusuma, Rini Anjarwati La Jumadin Lili Darlian Listya M.I, Mega LUTHFIRALDA SJAHFIRDI Luthfiralda Sjahfirji Luthfiralda Syahfirdi Maneewong, Sattabongkoch Mar’atul Husna Maria Fatima Palupi Maria Fatima Palupi Maria Fatima Palupi Maria Fatima Palupi Maria Prihtamala Omega Maryce Agusthinus Walukou Mega Listya M.I Meta Levi Kurnia Mirnawati Bachrum Sudarwanto Mokhamad Fakhrul Ulum, Mokhamad Mozes R. Tolihere MUHAMMAD ADIB MUSTOFA Muhammad Darjat Darulfalah Muhammad Darjat Darulfalah Muhammad Gunawan Muhammad Rizal Muhammad Zhaahir Mulyati Effendi MULYATI EFFENDI Nambut, Yohanes Baptisto Nastiti Kusomorini Nastiti Kusomorini Nastiti Kusumorini NASTITI KUSUMORINI NASTITI KUSUMORINI Niken Ulupi Nikki Aldi Nikki Aldi, Nikki Nugroho, Setyo Widi Nuri Ardiani Ong Huey, Lynette P. Achmadi Perdhana, Ika Satya Permana, Nadine Hanifa Pudji Achmadi Pudji Astuti Pudji Astuti PUDJI ASTUTI Pudji Astuti Pudji Astuti Purnomo, Rachmatullah Hadi Putri Indah Ningtias Putri Krida Gita P. Putri Krida Gita P. Putri, Fatimatus Sa’diyah Putri, Maritrana R. Tarigan Rachmatullah Hadi Purnomo Rahma Anisa Rahman, Muhammad Luthfi Reviany Widjajakusuma Reviany Widjajakusuma Reviany Widjajakusuma Ridi Arif Rina Siti Nurul Husna Risa Tiuria Rivany Widjajakusuma Rosdianto, Aziiz Mardanarian Rosdianto, Aziiz Mardanarian Rudramurti, Win Satya Safrida Safrida Sandra Hapsari Sandra Hapsari Santoso, Hera Sarmin - Sasmita, Annissa Nuridfi Satvika, Fadhila Siagian, Forman Erwin Slamet Widiyanto Srihadi Agungpriyono Sumiaty Aiba Supratikno . Tarigan, Ronald Teguh Budipitojo Trini Suryowati, Trini Tuty Laswardi Yusuf Umi Cahyaningsih Utami, Dian Maulia W. Manalu Wasmen Manalu Wisnugroho Agung Pribadi Wisnugroho Agung Pribadi Yan, Teo Qin YENI KEZIA BEKALANI Yulnawati - Yulvian Sani Yusfiati Yusfiati Zora, Nelda Fliza