Claim Missing Document
Check
Articles

EFEK SAMPING EKSTRAK ETANOL 96% DAN 70% HERBA KEMANGI (Ocimum americanum L.) YANG BERSIFAT ESTROGENIK TERHADAP KADAR ASAM URAT PADA TIKUS PUTIH Rina Siti Nurul Husna; E. Mulyati Effendi; Hera Maheshwari
EKOLOGIA Vol 16, No 2 (2016): JURNAL ILMIAH ILMU DASAR DAN LINGKUNGAN HIDUP
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.537 KB) | DOI: 10.33751/ekol.v16i2.745

Abstract

The aims of study was determine the effect of 70% and 96% ethanolic extracted of estrogenic herb basil on increasing or decreasing the level of uric acid in female rats. The animals used were 24 rats that were divided into six groups which consist of four animals each. Group I was animal that were given at a dose 0,7g/200g BW of 70% ethanolic extracted basil. Group II was the same concentration of basil extract at a dose 0,8g/200g BW. Group III was also the concentration of basil extract at a dose 0,9g/200g BW. Group IV was animals that were given at a dose 0,7g/200g BW of 96% ethanolic extracted basil. Group V was the same concentration of basil extract at a dose 0,8g/200g BW. Group VI was also the concentration of basil extract at a dose 0,9g/200g BW. The result showed that the ethanol extract of the basil herb had no significantly affected uric acid, there was even a tendency to decrease lower uric acid level after given during 15 days.Key words : Uric Acid, Estrogenic, Herb Basil
The Role of Fennel Infusion on Estrous Cycle and Follicles Development of White Rats HERA MAHESHWARI; ARYANI SISMIN SATYANINGTIJAS; EVA HARLINA; UMI CAHYANINGSIH; MULYATI EFFENDI; MUHAMMAD ADIB MUSTOFA; YENI KEZIA BEKALANI
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 14 No 1 (2016): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.513 KB)

Abstract

This study aims to describe the estrous cycle and follicles development in female rats given infusion of fennel fruit that known to have phytoestrogen compound. Twenty five of female rats were used in this research and were divided into 5 groups. Group I was negative control group (NC), given 1 mL/100g bw of distilled water, group II was positive control group (PC), given 0.0045 mg/100g bw of ethinyl estradiol, groups III, IV and V were treatment groups (TI, T2 and T3), given fennel infusion at 36.5; 73 and 146 mg/100g bw respectively. All treatments were conducted every morning for 20 days by oral route. Changes of vaginal epithelium were observed through vaginal swabs previously stained with Giemsa stain. Histopathological examination of ovarian swere examined to reveal follicles development. Results showed that fennel fruit infusion extended the duration of estrous and metestrous phases, while shortened the proestrous and diestrous phases. Eventhough the longest estrous phase was found in T3 group, there was no significant effect on the lengthening of estrous cycle. Moreover, infusion of fennel fruit had no effect on the development of ovarian follicles, except tended to increase the number of corpus luteum.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN NANOPARTIKEL KITOSAN-IOPAMIDOL MENGGUNAKAN NEBULIZER PADA SALURAN PERNAPASAN AYAM BROILER BERDASARKAN HASIL PENCITRAAN SINAR-X ikhwan wirahadikesuma; Koekoeh Santoso; Hera Maheshwari; Akhiruddin Maddu
JCPS (Journal of Current Pharmaceutical Sciences) Vol 3 No 1 (2019): September 2019
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.369 KB)

Abstract

ABSTRAK. Penyakit pernapasan khususnya pada ayam, diperlukan penghantaran obat yang langsung ke organ target dengan cara diinhalasi menggunakan alat nebulizer. Alat ini menghasilkan aerosol mampu mencapai paru-paru dan langsung berefek, dengan berbasis nanopartikel dapat meningkatkan bioavaibilitas. Penelitian ini bertujuan melihat efektivitas inhalasi nebulizer termodifikasi dikombinasi dengan nanopartikel kitosan-iopamidol terhadap organ target di saluran pernapasan ayam broiler. Sintesis nanopartikel metode gelasi ionik, dipreparasi dengan kitosan 0,1% dan natrium tripolifosfat 0,1% dalam cup nozzle 0,3 mm, rasio volume 5:1, ditambah 150 ml iopamidol 30,6 mg/ml dan diaduk 1300-1500 rpm. Partikel diukur dengan alat: Particle Size Analizer dan Scanning Electron Microscope. Nebulizer ultrasonik dan kompresor dipasang pada chamber 35 cm x 24 cm x 29 cm. Pemeriksaan radiologi tujuh ekor ayam umur 2 minggu, enam ekor masing-masing diinhalasi satu dari dua nebulizer dengan satu dari tiga macam larutan (nanopartikel kitosan, nanopartikel kitosan-iopamidol, dan iopamidol konsentrasi 30,6 mg/ml) sebanyak 3 ml. Kemudian dilakukan pemindaian dengan sinar-x. Hasil pengukuran partikel didapat z-avarage: 409,3 nm, indek polidisperitas 0,53 dan bentuk cenderung bulat. Citra radiograf menunjukkan radiopaque pada saluran pernapasan terutama kantong hawa yang diinhalasi nanopartikel kitosan-iopamidol. Kesimpulan, aerosol yang dihasilkan kedua jenis nebulizer termodifikasi yang dikombinasi dengan media kontras formulasi nanopartikel dapat mencapai saluran pernapasan ayam broiler. Kata kunci: ayam broiler, inhalasi, nebulizer, nanopartikel, sinar-x ABSTRACT. Respiratory diseases, especially in chickens, need proper treatment to deliver drugs directly to the target organs by means of inhalation using a nebulizer. This tool produces aerosols capable of reaching the lungs and having a healer effect immediately, with nanoparticles-based administration which can increase bioavailability. This study aimed to look at the effectiveness of modified inhalation nebulizer in combination with chitosan-iopamidol nanoparticles on target organs in the respiratory tract of broiler chickens. The nanoparticle synthesis of ionic gelation method was prepared with 0.1% chitosan and 0.1% sodium tripolyphosphate in 0.3 mm cup nozzle, with volume ratio 5: 1, plus 150 mL iopamidol 30.6 mg / mL then centrifuged on 1300-1500 rpm. Particles were measured by means of: Particle Size Analizer and Scanning Electron Microscope. Ultrasonic Nebulizer and compressor were installed in chamber with the size of 35 cm x 24 cm x 29 cm. Radiology examination of seven chickens with 2-week-old age was conducted by inhaling one of two nebulizers with one of three solutions (chitosan nanoparticles, chitosan-iopamidol nanoparticles, and iopamidol with the concentrations of 30.6 mg / mL) in the amount of 3 mL to six chickens (1 chicken was the control). Then x-ray scanning was carried out. The results of particle measurement obtained z-avarage in the amount of 409.3 nm, index of polydisperity of 0.53 and form tend to be spherical. Radiographic images revealed the existance of radiopaque in the respiratory tract, especially the bag of air inhaled chitosan-iopamidol nanoparticles. Therefore, the aerosols produced by the two types of modified nebulizers in combination with the nanoparticle formulation contrast media can reach the respiratory tract of broiler chickens. Keywords: broiler chicken, inhalation, nanoparticles, nebulizer, x-rays
Profil Leukosit Burung Puyuh yang Mengalami Cekaman Panas setelah Pemberian Aspirin K. Santoso; F. B. Harlimawan; A. Wijaya; Isdoni Isdoni; H. Maheshwari; D. R. Ekastuti; P. Achmadi; R. Tarigan; A. S. Satyaningtijas; A. Suprayogi; W. Manalu
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 24, No 2 (2022): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.24.2.180-189.2022

Abstract

PENURUNAN KADAR PROGESTERON SERUM DAN KOMPONEN MATRIKS EKSTRASELULER DAN SELULER KULIT SEBAGAI INDIKATOR PENUAAN PADA TIKUS Safrida s; Nastiti Kusumorini; Wasmen Manalu; Hera Maheshwari
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.184 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.557

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar kolagen kulit (matriks ekstraseluler), jumlah sel (kadar DNA), aktivitas sintetik (kadar RNA) pada jaringan kulit, serta kadar hormon progesteron pada berbagai tingkatan umur tikus, dan memperoleh umur tikus ovariektomi yang cocok digunakan sebagai hewan model penuaan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas sembilan kelompok percobaan masing-masing terdiri atas tiga ekor tikus, yaitu umur 12 bulan (K1), 18 bulan (K2), 24 bulan (K3), 30 bulan (K4), 36 bulan (K5), umur 12 bulan dalam kondisi 1 bulan pascaovariektomi (K6), 12 bulan dalam kondisi 3 bulan pascaovariektomi (K7 ), 18 bulan dalam kondisi 1 bulan pascaovariektomi (K8), dan umur 24 bulan dalam kondisi 1 bulan pascaovariektomi (K9). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Komponen matriks ekstraseluler dan matriks seluler menurun seiring dengan bertambahnya usia. Umur tikus normal yang cocok digunakan sebagai hewan model penuaan adalah tikus umur 24-36 bulan. Tikus ovariektomi yang cocok digunakan sebagai hewan model penuaan adalah tikus umur 12 bulan pascaovariektomi 3 bulan.
PEMERIKSAAN PROFIL HORMON PROGESTERON SELAMA SIKLUS ESTRUS TIKUS (Rattus norvegicus) BETINA MENGGUNAKAN PERANGKAT INFRAMERAH Luthfiralda Sjahfirdi; Putri Krida Gita P.; Pudji Astuti; Hera Maheshwari
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.153 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.562

Abstract

Penelitian ini bertujuan memperoleh profil fluktuasi kadar hormon ovari sepanjang siklus estrus. Sampel darah yang berasal dari sepuluh ekor tikus betina diambil selama tiga siklus estrus dan dianalisis menggunakan perangkat inframerah. Kadar progesteron selama tiga siklus memiliki kisaran 6-11 ng/ml pada masa estrus dan meningkat menjadi 32-49 ng/ml pada saat non-estrus.
KINERJA REPRODUKSI TIKUS BUNTING AKIBAT PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL PURWOCEN Aryani Sismin Satyaningtijas; Hera Maheshwari; Pudji Achmadi; Wisnugroho Agung Pribadi; Sandra Hapsari; Divo Jondriatno; Isdoni Bustaman; Bambang Kiranadi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.496 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1253

Abstract

Pada penelitian ini, purwoceng diberikan pada tikus betina bunting umur 1-13 hari dengan tujuan mengetahui bobot badan, ovarium, dan uterus serta mempertahankan titik implantasi yang terbentuk sebelum masa implantasi. Penelitian ini menggunakan 2 kelompok yaitu kelompok tikus bunting kontrol dan tikus bunting yang mendapatkan purwoceng dengan dosis 25 mg/300 g bobot badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang diberi purwoceng cenderung memiliki bobot ovarium dan uterus lebih berat dibandingkan kelompok kontrol. Purwoceng juga menyebabkan jumlah titik implantasi tikus hampir mendekati jumlah korpus luteum yang sudah terbentuk, dan ini menunjukkan bahwa keberhasilan implantasi lebih baik pada kelompok tikus yang diberi purwoceng.
APLIKASI FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR) DAN PENGAMATAN PEMBENGKAKAN GENITAL PADA SPESIES PRIMATA, LUTUNG JAWA (Trachypithecus auratus) UNTUK MENDETEKSI MASA SUBUR Luthfiralda Sjahfirdi; Nikki Aldi; Hera Maheshwari; Pudji Astuti
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.927 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2837

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gugus fungsi penanda yang merepresentasikaan hormon metabolit E1C dan PdG serta bilangan gelombangnya pada urine yang didukung dengan pengamatan genitalia untuk memastikan pendeteksian masa subur pada lutung jawa (Trachypithecus auratus). Sampel urine dan pengamatan genitalia diperoleh dari 2 (dua) ekor lutung jawa betina di Pusat Primata Schmutzer, Kebun Binatang Ragunan, Jakarta. Sampel urin diambil setiap hari dan dilengkapi dengan pengamatan genitalia. Hasil menunjukkan bahwa gugus fungsi penanda yang merepresentasikan E1C dan PdG pada lutung jawa sama dengan yang teridentifikasi pada tikus namun dengan bilangan gelombang berbeda.  Hormon metabolit E1C direpresentasikan melalui gugus fungsi alkil, aromatik, dan hidroksil pada bilangan gelombang 596 cm-1, 698 cm-1, 3599 cm-1, dan PdG direpresentasikan melalui gugus fungsi alkil dan aldehid pada bilangan gelombang 1450 dan 1699 cm-1. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gugus fungsi penanda yang teridentifikasi oleh fourier transform infrared (FTIR) dapat berlaku secara universal, namun bilangan gelombang yang merepresentasikannya bersifat spesifik spesies.
EFEK PEMBERIAN HORMON PREGNANT MARE’S SERUM GONADOTROPIN (PMSG) SEBELUM KAWIN TERHADAP GAMBARAN DARAH MERAH INDUK DOMBA SELAMA PERIODE KEBUNTINGAN Andriyanto A; Ridi Arif; Muhammad Darjat Darulfalah; Ganjar Maulana Nugraha; Nastiti Kusomorini; Hera Maheshwari; Wasmen Manalu
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.377 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.675

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian hormon PMSG sebelum kawin terhadap gambaran darah merah induk domba bunting. Sebanyak 14 ekor induk domba bunting dengan kisaran bobot badan antara 20-25 kg dikelompokkan ke dalam dua kelompok, masing-masing terdiri atas 7 ekor domba. Perlakuan pertama terdiri atas induk domba bunting hasil perkawinan alami tanpa diberikan hormon PMSG (P0) dan perlakuan kedua terdiri atas induk domba bunting yang diberikan 125 IU PMSG (PG 600, Intervet, Holland) sebelum dikawinkan (P1). Sebelum diberikan hormon PMSG, domba penelitian diserentakkan berahinya dengan menyuntikkan 10 mg/ekor prostaglandin (PGF2α, LutalyseTM, Pharmacia Upjohn Company, Pfizer Inc.) sebanyak dua kali dengan interval sebelas hari. Penyuntikan hormon PMSG dilakukan bersamaan dengan penyuntikan hormon PGF2α yang kedua. Domba betina yang estrus dikawinkan secara alami dengan pejantan yang telah diseleksi. Pada hari ke-30 setelah dikawinkan, dilakukan pemeriksaan kebuntingan dan jumlah fetus dengan menggunakan ultrasonografi (USG). Sampel darah untuk pemeriksaan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit diambil pada periode kebuntingan bulan ke-1, 2, 3, 4, dan 5. Perlakuan hormon PMSG sebelum perkawinan meningkatkan jumlah sel darah merah, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin induk domba bunting. Peningkatan jumlah sel darah merah, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin terjadi pada periode awal kebuntingan dan menurun pada akhir masa kebuntingan.
Uji potensi faloak pada kondisi imunosupresif heny Nitbani; Hera Maheshwari; Koekoeh Santoso
Jurnal Veteriner Nusantara Vol 2 No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Program Studi Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jvn/vol2iss2pp170-178

Abstract

Faloak (Sterculia quadrifida R. Br.) is an endemic plant in the Province of Nusa Tenggara Timur especially Kupang City and surrounding areas. This plant is used by local people as a traditional medicine to treat various diseases. This plant contains polyphenolic compound that have potential as an immunomodulators. This study aims to explore the potential of faloak bark ethanol extracts as an immunomodulator in adult quail (Coturnix coturnix japonica) on immunosuppression condition by measuring the leukocytes, leukocytes differential (lymphocytes, heterophils, monocytes, eosinophils, basophils). This study used a Completely Randomized Design that devided into four groups. The control group (K0) was not given faloak extracts, group KF were only given faloak extract 250 mg/kg BW orally for 28 days. Group D were given dexamethasone 0,54 mg/kg BW orally for 28 days. Groups D1 were given dexamethasone 0.54 mg/kg BW for 28 days and D2 were given dexamethasone 0.54 mg/kg BW for 14 days followed by faloak doses of 250 mg/kg BW for 14 days. Vaccination was done on day 29. Leukocytes and differential leukocytes value measured on day 14th before vaccination and day 25th after vaccination. Faloak bark ethanol extracts have potential as an immunomodulatory in adult quail on immunosuppression condition. It was indicated by increased of leukocytes, lymphocytes, heterophils and monocyte
Co-Authors . Herdis . Safrida . Yulnawati A. Suprayogi A. Wijaya A.S. Satyaningtijas ACHMAD FARAJALLAH Agik Suprayogi Agus Wijaya Ainul Khadija Saleema Akhiruddin Maddu Amelia Hana Amelia Ramadhani Anshar Anak Agung Gede Sugianthara Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Andhika Yudha Prawira Andre, Daniel Latief Andriyanto Andriyanto Arief Boediono Asmarani Kusumawati Bambang Kiranadi Bambang Kiranadi Bambang Kiranadi Bambang Purwantara Claude Mona Airin D. R. Ekastuti Damhuri Damhuri Damiana Rita Ekastuti Danang Dwi Cahyadi David Anwar Dawanto, Jirfan Debby Jacqualine Jochebed Rayer Desrayni Hanadhita Desrayni Hanadhita Desrayni Hanadhita Diah Nugrahani Pristihadi Diani, Yusias Hikmat Dirwan Rahman Divo Jondriatno Divo Jondriatno Dondin Sajuthi Dwi Nurhidayah Zubaidah E Mulyati Effendi, E Mulyati Ekowati Handharyani Elok Budi Retnani ERIC HAYES Ernes Andhesfa Etih Sudarnika Eva Harlina Evi Juliati Evi Juliati Gani F. B. Harlimawan Faisal Tanjung Fitri, Arni Diana Fredi Kurniawan Gandasari, Ira Agustina Dewi Ganjar Maulana Nugraha Ganjar Maulana Nugraha Gilang Kala Maulana, Gilang Kala Hadi S Alikodra Hardiansyah, Muhamad Evans Hendry, Altaff heny Nitbani Herdis - Huda Salahuddin Darusman Huda Salahudin Darusman Huda Shalahudin Darusman Husna Husna, Mar’atul Husna, Rina Siti Nurul I wayan Teguh Wibawan ikhwan wirahadikesuma Ikhwan Wirahadikesuma Irfan Nurhidayat, Irfan Irwan Oktoni Isdoni Bustaman Jefri Naldi Julianto . Juliati Gani, Evi Juliati, Evi Jumadin, La Kasiyati Kasiati koekoeh santoso Kusdiantoro Mohamad Kusuma, Rini Anjarwati La Jumadin Lili Darlian Listya M.I, Mega LUTHFIRALDA SJAHFIRDI Luthfiralda Sjahfirji Luthfiralda Syahfirdi Maneewong, Sattabongkoch Mar’atul Husna Maria Fatima Palupi Maria Fatima Palupi Maria Fatima Palupi Maria Fatima Palupi Maria Prihtamala Omega Maryce Agusthinus Walukou Mega Listya M.I Meta Levi Kurnia Mirnawati Bachrum Sudarwanto Mokhamad Fakhrul Ulum, Mokhamad Mozes R. Tolihere MUHAMMAD ADIB MUSTOFA Muhammad Darjat Darulfalah Muhammad Darjat Darulfalah Muhammad Gunawan Muhammad Rizal Muhammad Zhaahir Mulyati Effendi MULYATI EFFENDI Nambut, Yohanes Baptisto Nastiti Kusomorini Nastiti Kusomorini Nastiti Kusumorini NASTITI KUSUMORINI NASTITI KUSUMORINI Niken Ulupi Nikki Aldi Nikki Aldi, Nikki Nugroho, Setyo Widi Nuri Ardiani Ong Huey, Lynette P. Achmadi Perdhana, Ika Satya Permana, Nadine Hanifa Pudji Achmadi Pudji Astuti PUDJI ASTUTI Pudji Astuti Pudji Astuti Pudji Astuti Purnomo, Rachmatullah Hadi Putri Indah Ningtias Putri Krida Gita P. Putri Krida Gita P. Putri, Fatimatus Sa’diyah Putri, Maritrana R. Tarigan Rachmatullah Hadi Purnomo Rahma Anisa Rahman, Muhammad Luthfi Reviany Widjajakusuma Reviany Widjajakusuma Reviany Widjajakusuma Ridi Arif Rina Siti Nurul Husna Risa Tiuria Rivany Widjajakusuma Rosdianto, Aziiz Mardanarian Rosdianto, Aziiz Mardanarian Rudramurti, Win Satya Safrida Safrida Sandra Hapsari Sandra Hapsari Santoso, Hera Sarmin - Sasmita, Annissa Nuridfi Satvika, Fadhila Siagian, Forman Erwin Slamet Widiyanto Srihadi Agungpriyono Sumiaty Aiba Supratikno . Tarigan, Ronald Teguh Budipitojo Trini Suryowati, Trini Tuty Laswardi Yusuf Umi Cahyaningsih Utami, Dian Maulia W. Manalu Wasmen Manalu Wisnugroho Agung Pribadi Wisnugroho Agung Pribadi Yan, Teo Qin YENI KEZIA BEKALANI Yulnawati - Yulvian Sani Yusfiati Yusfiati Zora, Nelda Fliza