Articles
The Effect of Progressive Muscle Relaxation on Blood Sugar Levels in Patients with Type 2 Diabetes Mellitus
Sani, Fakhrudin Nasrul;
Rayasari, Fitrian;
Anggraini, Dewi;
Agung, Rizki Nugraha;
Wahyuningsih, Retno Dyah
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 5 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37287/ijghr.v7i5.6969
One of the most complex chronic diseases is diabetes, which requires ongoing medical care aimed at reducing multifactorial risks beyond glycaemic control. Diabetes and stress are interrelated, where stress results in increased cortisol production, cortisol itself inhibits the work of insulin, this triggers an increase in blood sugar levels. One of the ways to control blood sugar levels by providing non-pharmacological therapy is to provide music therapy, relaxation and guided imagery. Progressive Muscle Relaxation (PMR) is one of the relaxations that can be applied to patients with diabetes mellitus. This relaxation technique can speed up the body's metabolism by physiologically increasing blood flow. This study aims to determine the effect of progressive muscle relaxation on blood sugar levels in patients with type 2 diabetes mellitus. This research is a quasi-experimental. The research design used is nonrandomised pretest - posttest with control group design. The research sample was divided into two groups, the intervention group and the control group. Blood sugar level measurements were carried out in the intervention group twice, namely before (pretest) and after (posttest) being given progressive relaxation therapy, while the control group did not receive any actions. The population in this study were patients with type 2 diabetes mellitus at Dr Moewardi Surakarta Hospital. Data analysis using the parametric paired t-test because the data is normally distributed. The blood sugar level in the control group before the relaxation intervention was an average of 237.90 mg/dl and after the relaxation intervention was an average of 218.57 mg/dl. The average blood sugar level in the control group before relaxation was 238.10 mg/dl and after relaxation was 231.43 mg/dl. The p-value for the intervention group based on the paired sample t-test statistic is 0.000 (p < 0.05) with an average decrease in blood sugar level of 19.33 mg/dl. These results indicate that progressive muscle relaxation exercises have an effect on changes in blood sugar levels in patients with type 2 diabetes mellitus. Based on the above description, it can be concluded that progressive muscle relaxation has an effect on changes in blood sugar levels in patients with type 2 diabetes mellitus.
PENERAPAN PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION (PMR) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II
Nur Kasanah, Nia;
Sani, Fakhrudin Nasrul;
Widiastuti, Agung
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48032
Diabetes tipe 2 adalah diabetes melitus yang tidak tergantung pada insulin (NIDDM), khususnya diabetes yang tidak bergantung pada insulin, akibat berkurangnya sensitivitas insulin (resistensi insulin) atau berkurangnya produksi insulin. Penatalaksanaan atau upaya penanganan ketidakstabilan glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe 2 dapat dilakukan secara nonfarmakologi yaitu dengan progressive muscle relaxation (PMR). Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil implementasi dari penerapan progressive muscle relaxation (PMR) terhadap penurunan kadar glukosa darah pasien diabetes mellitus tipe 2. Metode : Penelitian ini menggunakan one grup pre-test dan post-test. Pengambilan sampel dengan metode quasi eksperiment dengan jumlah 2 pasien diabetes mellitus tipe 2. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu SOP PMR, lembar observasi dan alat glucometer untuk mengukur kadar glukosa darah pasien. Hasil : Berdasarkan hasil penerapan ini didapatkan penurunan kadar glukosa darah setelah dilakukan PMR yang ditunjukkan dengan angka kadar glukosa tinggi menjadi menurun setelah diberikan penerapan PMR sebanyak 2 kali sehari (pagi dan sore) selama 3 hari berturut-turut . Perbandingan sebelum dan sesudah dilakukan penerapan PMR, sebelum diberikan penerapan PMR kadar gula darah tinggi pada klien I (Ny.S) yaitu 337 mg/dl, setelah diberikan penerapan PMR kadar gula darah menjadi 177 mg/dl. Pada klien II (Tn.S) sebelum diberikan penerapan PMR kadar glukosa darah yaitu 276 mg/dl , setelah diberikan penerapan PMR menjadi 183 mg/dl. Kesimpulan : Penerapan progressive muscle relaxation efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah pasien diabetes mellitus tipe 2.
PENERAPAN TERAPI OKUPASI AKTIVITAS BERKEBUN UNTUK MENURUNKAN TINGKAT HALUSINASI PENDENGARAN DI RSJD DR. RM. SOEDJARWADI KLATEN
Mufarrohah, Mufarrohah;
Musta’in, Musta’in;
Sani, Fakhrudin Nasrul;
Pujianto, Sri Joko
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48061
Pasien skizofrenia sering mengalami gangguan persepsi sensori berupa halusinasi pendengaran yang dapat mempengaruhi perilaku dan fungsi sosial. Terapi okupasi aktivitas berkebun merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat membantu menurunkan intensitas dan frekuensi halusinasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan mengevaluasi efektivitas terapi okupasi aktivitas berkebun terhadap penurunan tingkat halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia di RSJD Dr. RM. Soedjarwadi Klaten. Desain penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari dua pasien yang mengalami gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran. Terapi diberikan dalam kurun waktu 4 hari berturut-turut dengan durasi waktu 30 menit setiap sesinya di pagi hari. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS). Hasil evaluasi pada pasien I menunjukkan penurunan skor AHRS dari 24 menjadi 18 dengan respons subjektif merasa lebih tenang dan mampu mengendalikan halusinasi, serta respons objektif berupa kontak mata yang terarah dan perilaku kooperatif. Pada pasien II, skor AHRS menurun dari 26 menjadi 16, pasien juga mengatakan halusinasi lebih jarang muncul dan merasa senang setelah mengikuti terapi. Evaluasi objektif menunjukkan pasien tampak rileks, antusias, dan kooperatif. Kedua pasien menunjukkan hasil bahwa masalah keperawatan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran teratasi sebagian. Dapat disimpulkan bahwa terapi okupasi aktivitas berkebun efektif membantu menurunkan tingkat halusinasi pendengaran dan dapat menjadi intervensi alternatif dalam praktik keperawatan jiwa.
PENERAPAN RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP KADAR GLUKOSA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI RUMAH SAKIT INDRIATI SOLOBARU
Retno Astuti, Sulistyaningsih;
Sani, Fakhrudin Nasrul;
Utomo, Endrat Kartiko
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48072
Diabetes Mealitus (DM) merupakan salah satu jenis penyakit metabolik yang terjadi akibat kelainan pada sekresi insulin, kinerja insulin atau gabungan keduanya. DM ditandai dengan adanya peningkatan kadar glokusa dalam darah (hiperglikemia). Relaksasi autogenik adalah suatu prosedur relaksasi yang membayangkan sensasi-sensasi yang menyenangkan pada bagian-bagian tubuh seperti kepala, dada, lengan, punggung, ibu jari kaki atau tangan dan pergelangan tangan. Sesansi yang dibayangkan seperti rasa hangat, lemas atau rileks pada bagian tubuh tertentu, juga rasa lega karena nafas yang dalam dan pelan Relaksasi bekerja dengan pengaturan hormon korisol dan hormon stress lainnya. Tujuan: untuk menerapkan relaksasi autogenik terhadap kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe II. Metode: penulis menggunakan metode deskritif dan studi kasus dalam pengelolaan asuhan keperawatan inovasi intervensi menggunakan relaksasi autogenik dilakukan penilaian dengan menggunakan lembar observasi pre test dan post test. Hasil: terdapat pengaruh meningkatkan penurunan kadar glukosa darah pada pasien 1 (Ny. W) didapatkan hasil sebelum dilakukan intervensi gula darah sewaktu hari pertama 245 mg/dL. Setelah dilakukan relaksasi autogenik 2 kali sehari selama 3 hari berturut-turut pagi dan sore didapatkan hasil gula darah sewaktu 124 mg/dL. Pada pasien 2 (Ny. S) didapatkan hasil sebelum dilakukan intervensi gula darah sewaktu hari pertama 316 mg/dL. Setelah dilakukan relaksasi autogenik 2 kali sehari slama 3 hari berturut-turut pagi dan sore didapatkan hasil gula darah sewaktu 144 mg/dL. Kesimpulan: Intervensi relaksasi autogenik efektif dalam menurunkan peningkatan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe II. Kata Kunci : Diabetes Melitus, Kadar Glukosa Darah, Relaksasi Autogenik
IMPLEMENTASI PEMBERIAN PURSED LIPS BREATHING DENGAN POSISI FOWLER TERHADAP PENINGKATAN SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)
Wahyuni, Dini Tri;
Widiastuti, Agung;
Sani, Fakhrudin Nasrul
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48235
PPOK adalah penyakit kronis yang ditandai dengan terbatasnya aliran udara di saluran napas dimana sesak napas merupakan keluhan utama pasien PPOK. Global Initiatives for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) 2023, menyatakan bahwa PPOK juga menjadi salah satu dari tiga penyebab kematian tertinggi di dunia. Prevelensi PPOK secara global sekitar 251 juta angka mortalitas di tahun 2021 di perkirakan sekitar 3,75 orang meninggal akibat penyakit PPOK. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan saturasi oksigen pada pasien PPOK yaitu dengan melakukan intervensi nonfarmakologi pemberian tehnik Pursed Lips Breathing dengan posisi Fowler merupakan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan saturasi oksigen pada pasien dengan PPOK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penerapan Implementasi Pemberian Pursed Lips Breathing Dengan Posisi Fowler Terhadap Peningkatan Saturasi Oksigen Pada Pasien Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Metode penelitian observasional dengan menggunakan rancangan studi kasus pada dua responden dengan kasus PPOK. Hasil penelitian ini didapatan peningkatan saturasi oksigen pada pasien satu dan pasien dua. Pada pasien satu terdapat peningkatan saturasi oksigen dari 96% menjadi 100%, sedangkan pasien dua terdapat peningkatan saturasi oksigen dari 95% menjadi 98%. Dari hasil penerapan pada dua pasien PPOK, implementasi Pursed Lips Breathing dengan posisi Fowler efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen.
KOMBINASI SENAM LANSIA DAN AROMATERAPI LEMON BERPENGARUH TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA HIPERTENSI
Fakhrudin Nasrul Sani;
Mursudarinah;
Muzaroah Ermawati Ulkhasanah;
Annisa Cindy Nurul Afni;
Diva Agustinaningrum;
Noor Sari Aditiya
Prosiding Seminar Informasi Kesehatan Nasional 2021: SIKesNas 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta Bangsa Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (312.23 KB)
|
DOI: 10.47701/sikenas.v0i0.1269
Latar belakang: Hipertensi merupakan penyakit multifaktorial yang muncul oleh karena interaksi berbagai faktor. Peningkatan umur dapat menyebabkan beberapa perubahan fisiologis, pada lanjut usia terjadi peningkatan resistensi perifer dan aktivitas simpatik. Penatalaksanaan hipertensi bertumpu pada pilar pengobatan standar dan merubah gaya hidup yang meliputi mengatur pola makan, mengatur koping stress, mengatur pola aktivitas, menghindari alkohol, dan rokok. Salah satunya terapi non-farmakologis untuk menurunkan tekanan darah tinggi dengan senam lansia dan aromaterapi lemon. Tujuan: pengaruh kombinasi senam lansia dan aromaterapi lemon terhadap penurunan tekanan darah pada penyakit hipertensi. Metode: Rancangan dalam penelitian ini quasi experiment dengan menggunakan pre and post test without control grou pdesign. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah sampel 32 responden. Analisa data ini menggunakan uji wilcoxon dengan tingkat kesalahan 0,005. Hasil: Hasil uji wilcoxon signed rank test pre test dan post test tekanan darah sistol didapatkan nilai signifikansi (p-value) 0,000 < 0,05 sehingga keputusan uji Ho ditolak. Kemudian pada diastol pre test dan post test didapatkan nilai signifikansi (p-value) 0,000 < 0,05, sehingga keputusan uji Ho ditolak. Kesimpulan: pemberian kombinasi senam lansia dan aromaterapi lemon dapat menurunkan tekanan darah pada lansia.Kata Kunci : hipertensi, lansia, pemberian kombinasi senam lansia dan aromaterapi lemon.
PENGARUH KOMPRES HANGAT TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PENDERITA GOUT ARTHRITIS
Siti Nur Indah;
Muzaroah Ermawati Ulkhasanah;
Fakhrudin Nasrul Sani;
Fina Putri Ansari;
Riko Bayu Satria Putra
Prosiding Seminar Informasi Kesehatan Nasional 2021: SIKesNas 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta Bangsa Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (562.896 KB)
|
DOI: 10.47701/sikenas.v0i0.1274
Latar belakang: Salah satu gangguan penyakit sendi yang banyak dialami oleh kalangan masyarakat adalah arthitis gout. Arthitis gout terjadi pada sekitar sendi yang membentuk monosodium urate dapat mengakibatkan kerusakan lokal pada persendian sehingga menimbulkan nyeri. Kompres hangat menimbulkan efek vasodilatasi pembuluh darah dan peningkatan aliran sehingga kemungkinan dapat menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. Tujuan: Literatur review ini bertujuan untuk membahas tentang pengaruh kompres air hangat terhadap penurunana nyeri pada penderita gout artritis. Metode: Metode penelitian ini adalah studi literatur. Studi ini diperoleh dari 3 database yaitu E-resources perpustakaan nasional, Google Scholar, dan Artikel dari Media Massa dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: berdasarkan beberapa artikel penelitian yang telah diterbitkan menggambarkan bahwa kompres hanta terbukti mampu menurunkan nyeri pada pasien gout artritis. Kesimpulan: Dengan dilakukan terapi kompres air hangat respon fisiologi tubuh akan meningkatkan aliran darah keseluruh tubuh terutama pada lokasi nyeri sehingga tingkat nyeri berkurang, disamping itu selain mudah juga tidak memerlukan biaya mahal.Kata Kunci : Kompres hangat, nyeri, gout arthritis
EFEKTIVITAS TERAPI KOMPRES HANGAT JAHE PADA PASIEN GOUT ARTHRITIS : LITERATURE REVIEW
Rani Risma Krisnandari;
Fakhrudin Nasrul Sani;
Yunia Renny Andhikatias;
Anggie Pradana Putri
Prosiding Seminar Informasi Kesehatan Nasional 2022 : SIKesNas 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta Bangsa Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (265.421 KB)
|
DOI: 10.47701/sikenas.vi.2061
Latar belakang: Akhir-akhir ini penyakit gout arthritis menunjukkan peningkatan yangcukup signifikan diseluruh dunia, hal tersebut diduga karena adanya peningkatan prevalensi danpenggunaan obat-obatan dalam jangka waktu yang lama. Nyeri yang dirasakan penderita goutdiakibatkan adanya penumpukkan kristal asam urat yang menyebabkan nyeri sendi. Untukmenurunkan intensitas nyeri pada penderita gout dapat diberikan terapi kompres hangat jahe,karena kandungan didalam jahe mengandung enzim gingerol mampu meredakan rasa nyeri.Tujuan: Literatur review ini bertujuan untuk membahas tentang pengaruh kompres hangat jaheterhadap penurunana nyeri pada penderita gout artritis. Metode: Metode penelitian ini adalahstudi literatur. Studi ini diperoleh dari Google Scholar, PubMed dan ScienceDirect sesuai kriteriainklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Hasil: Berdasarkan 8 penelitian yang telah dilakukanmenggambarkan bahwa kompres hangat jahe terbukti mampu menurunkan nyeri pada pasiengout artritis. Kesimpulan: 8 penelitian yang dilakukan dengan kompres hangat jahe padapenderita gout arthritis dapat menurunkan nyeri.
STRETCHING EXERCISE UNTUK MENGURANGI NYERI PADA LANSIA PENDERITA GOUT ARTHRITIS DI TAWANGSARI SUKOHARJO
Muzaroah Ermawati Ulkhasanah;
Agung Widiastuti;
Fakhrudin Nasrul Sani;
Mustain
Prosiding Seminar Informasi Kesehatan Nasional 2022 : SIKesNas 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta Bangsa Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (426.099 KB)
|
DOI: 10.47701/sikenas.vi.2063
Latar belakang: Masalah Kesehatan pada lansia yang dialami sangat bervariasi.Keterbatasan lansia hingga tidak mampunya melakukan aktivitas fisik membuat lansia merasasakit. Masalah fisik yang sering dialami oleh lansia seperti gout arthritis yang ditandai dengangejala nyeri pada sendi disertai bengkak, peradangan pada area tersebut. Penyebab utama adalahtingginya kadar asam urat dalam darah, jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan komplikasiseperti kelainan bentuk tulang sampai komplikasi pada ginjal dan osteoporosis. Penatalaksanaanyang dapat diberikan untuk penderita Gout arthritis untuk mengurangi nyeri salah satunyaStretching exercise. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan merekomendasikanpraktik bagi perawat mengenai intervensi yang dapat diterapkan untuk mengontrol danmenurunkan nyeri pada penderita Gout arthritis. Metode: Desain penelitian menggunakan preeksperimental dengan 31 responden lansia dengan Teknik purposive sampling dan dianalisisdengan menggunakan Wilcoxon Matched Test. Hasil: implementasi stretching exercise yangdiberikan kepada responden mengalami penurunan, yang ditunjukkan melalui uji Analisa statisticdengan menggunakan Wilcoxon, dengan tingkat signifikan dengan nilai p value=0,000.Kesimpulan: stretching exercise efektif dalam menurunkan nyeri pada lansia penderita goutarthritis
Efektivitas Terapi Bekam Terhadap Control Gula Darah Pada Pasien DM Tipe II: A Literature Review
Ady Irawan AM;
Anggie Pradana Putri;
Fakhrudin Nasrul Sani;
Maria Julieta Esperanca Naibili;
Annisa Yuli Kartikasari
Prosiding Seminar Informasi Kesehatan Nasional 2022 : SIKesNas 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Duta Bangsa Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (428.834 KB)
|
DOI: 10.47701/sikenas.vi.2076
Latar Belakang: Diabetes militus merupakan suatu penyakit kronis berupa gangguanmetabolik dimana tubuh tidak mampu memproduksi hormon insulin yang ditandai dengan kadargula melebihi batas normal. Diabetes Tipe II menyebakan disfungsi endokrin sertaketidakmampuan untuk menggunakan insulin secara efektif sehingga mengakibatkan glukosadarah menjadi meningkat. Terapi bekam merupakan salah satu terapi kuno yang bergantung padapembuatan local suction yang berfungsi sebagai tempat mobilisasi aliran darah kotor yangberada dalam tubuh. Hal ini dilakukan dengan membuat beberapa sayatan kecil, kemudiandilakukan pegekopan untuk mengeluarkan darah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan efektivitas terapi bekam terhadap kontrol gula darah pada pasien DM Tipe II.Metode: Penelitian ini merupakan litetature review. Sumber penelitian diambil dari beberapaonline database (Garuda, PubMed, Science Direct, google scholar); dengan kata kunci “bekamâ€OR “bekam basah OR “cupping therapy†OR “wet cuping therapy†AND “glucose level†OR“level kadar gula darah†AND “diabetes mellitus type II†OR “diabetes mellitus tipe 2â€. PRISMAguideline digunakan sebagai panduan pencarian literatur. Literatur yang ditemukan kemudiandinilai kualitasnya menggunakan panduan dari Joanna Briggs Institute critical appraisal. Hasil:Terapi bekam basah efektif untuk menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes tipe 2.