p-Index From 2021 - 2026
6.973
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal KALAM Jurnal Theologia Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam Potensia Jurnal Ushuluddin JIA (Jurnal Ilmu Agama) Jurnal Studi Islam Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah El-Mashlahah Holistik: Journal For Islamic Social Sciences Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis MAHKAMAH: Jurnal Kajian Hukum Islam Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur´an dan Tafsir Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Raheema Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits Islamika Inside: Jurnal Keislaman dan Humaniora Jurnal Studi Al-Qur'an MAGHZA: Jurnal Ilmu Al-Qur´an dan Tafsir Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur’an dan Tafsir Jurnal Ibn Abbas Tribakti: jurnal pemikiran keIslaman Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis Khatulistiwa: Journal of Islamic Studies Tarbawiyah Jurnal Ilmiah Pendidikan HUMANISMA : Journal of Gender Studies Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial EL-AFKAR : Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis Jurnal Ulunnuha Al-Fath Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah FiTUA : Jurnal Studi Islam Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences Waraqat : Jurnal Ilmu_Ilmu Keislaman Jurnal Studi Hadis Nusantara REVELATIA: Jurnal Ilmu al-Qur`an dan Tafsir Jurnal Perspektif SINDA: Comprehensive Journal of Islamic Social Studies Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an,Tafsirdan Pemikiran Islam Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur'an and Tafsir QOF: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir HUMANISMA : Journal of Gender Studies Jurnal Tafsere Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Al-Misykah: Jurnal Studi Al-qur'an dan Tafsir Aqwal: Journal of Quran and Hadies Studies Spiritualita : Journal of Ethics and Spirituality Islamika Inside: Jurnal Keislaman dan Humaniora Al-Karim: International Journal of Quranic and Islamic Studies Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis Al-Shamela : Journal of Quranic and Hadith Studies Islamic Thought Review Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Canonia Religia: Jurnal Studi Teks Agama dan Sosial Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences
Claim Missing Document
Check
Articles

REVITALISASI PERAN PEREMPUAN SEBAGAI IBU RUMAH TANGGA DALAM MENANGGULANGI COVID-19 PERSPEKTIF MAQASID AL-SYARIAH Eko Zulfikar; Aftonur Rosyad
Raheema Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/raheema.v8i1.1598

Abstract

Abstrak Tulisan ini berusaha mengintrodusir bagaimana peran perempuan dalam rumah tangga ketika dihadapkan pada wabah Covid-19 yang sedang marak terjadi. Dengan menggunakan studi pustaka dan observasi, penulis mencoba membacanya dari perspektif Maqasid al-Syariah dan pendekatan fenomenologi. Dengan demikian, hasil penelitian menyimpulkan bahwa perempuan mampu memelihara dan menjaga agama (hifdz al-din) dengan melakukan kegiatan yang bersifat religius, seperti shalat berjamaah di rumah dan membaca al-Qur’an secara kolektif dengan keluarga. Perempuan juga dapat memelihara akal (hifdz al-aql) dengan selalu mendidik angggota keluarga agar senantiasa menggunakan potensi akal-pikiran untuk selalu produktif. Terkait memelihara jiwa (hifdz al-nafs), perempuan telah mampu meng-handel keluarga agar tidak keluar rumah (stay at home dan social distancing), sesuai dengan instruksi pemerintah. Kemudian dalam hal memelihara harta (hifdz al-mal), perempuan bisa memanfaatkan peluang untuk berbisnis atau berjualan secara online, hidup sederhana dan hemat, tidak berfoya-foya, serta bersedakah semampunya. Sementara dalam memelihara keturunan (hifdz al-nasl), perempuan telah berusaha merawat dan melangsungkan kehidupan anak agar mampu menjalani kehidupan dengan nyaman, tentram dan damai. Abstract This paper tries to introduce how the role of women in the household when faced with the current outbreak of Covid-19. By using literature study and observation, the writer tries to read it from the perspective of Maqasid al-Shariah and the phenomenological approach. Thus, the results of the study concluded that women were able to preserve and preserve religion (hifdz al-din) by carrying out religious activities, such as praying in congregation at home and reading the Koran collectively with family. Women can also maintain reason (hifdz al-aql) by always educating family members to always use the potential of the mind to always be productive. Related to maintaining the soul (hifdz al-nafs), women have been able to handle the family so as not to leave the house (stay at home and social distancing), according to government instructions. Then in terms of preserving property (hifdz al-mal), women can take advantage of opportunities to do business or sell online, live simply and sparingly, not spree, and be as talented as they can. While in caring for offspring (hifdz al-nasl), women have tried to care for and carry on the lives of children to be able to live a comfortable, peaceful and peaceful life.
MAKNA ŪLŪ AL-ALBĀB DALAM AL-QUR’AN: Analisis Semantik Toshihiko Izutsu Eko Zulfikar
Jurnal Theologia Vol 29, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2018.29.1.2273

Abstract

Abstract: One of the words of the Qur’an which shows the meaning of the one who possesses knowledge is ūlū al-albāb. Ūlū al-albāb is the 16 terms mentioned in 10 letters in the Qur’an. Every verse contained in various letters certainly has a different meaning, so it requires a deep understanding. Disclosure of the meaning ūlū al-albāb will be analyzed by the author by using semantic al-Qur'an developed by Toshihiko Izutsu. The semantic of the Qur’an according to Izutsu is an attempt to expose the worldview of the Qur’an (weltanschauung) through semantic analysis of the vocabulary or key terms of the Qur’an. The process undertaken in this study is to examine the basic meaning and relational meaning of ūlū al-albāb by using syntagmatic and paradigmatic analysis, then to examine the use of vocabulary ūlū al-albāb in pre-Qur’anic, Qur’anic and post-Qur’anic.Abstrak: Salah satu kata al-Qur’an yang menunjukkan makna orang yang memiliki akal pengetahuan adalah ūlū al-albāb. Ūlū al-albāb merupakan istilah yang disebutkan sebanyak 16 kali yang terliput dalam 10 surah di dalam al-Qur’an. Di setiap ayat yang terdapat di berbagai surah tentunya memiliki makna yang berbeda, sehingga membutuhkan pemahaman yang mendalam. Peng­ungkapan makna ūlū al-albāb tersebut akan penulis analisa dengan meng­gunakan semantik al-Qur’an yang dikembangkan oleh Toshihiko Izutsu. Semantik al-Qur’an menurut Izutsu merupakan sebuah usaha menyingkap pandangan dunia al-Qur’an (weltanschauung) melalui analisis semantik terhadap kosakata atau istilah-istilah kunci al-Qur’an. Proses yang dilakukan dalam penelitian ini adalah meneliti makna dasar dan makna relasional kata ūlū al-albāb dengan menggunakan analisis sintagmatik dan paradigmatik, kemudian meneliti penggunaan kosakata ūlū al-albāb pada masa pra-Qur’anik, Qur’anik dan pasca-Qur’anik.
TUHAN DALAM FITRAH MANUSIA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MERUBAHNYA: KAJIAN TEMATIK AYAT-AYAT DAN HADIS KETAUHIDAN Abd Muqit; Eko Zulfikar
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v7i2.8019

Abstract

Tulisan ini berusaha mengupas tentang fitrah manusia dalam bertuhan dan faktor-faktor yang merubahnya sejauh yang dipandang ayat al-Qur’an dan hadis Nabi. Karena penjelasannya mengaitkan ayat al-Qur’an, hadis Nabi, dan penjelasan para ulama terkait suatu tema, maka metode yang digunakan adalah tematik. Dengan demikian, hasil penelitian secara tematisasi menunjukkan bahwa fitrah manusia dalam bertuhan adalah mengimani dan bersaksi atas ketuhanan Allah SWT bahwa Dia Maha Esa. Namun sejak manusia lahir ke dunia, fitrah tersebut dapat berubah disebabkan beberapa faktor, antara lain: (1) faktor nasab atau orang tua; (2) faktor pengaruh setan; (3) faktor keilmuan; (4) faktor mengikuti hawa nafsu; dan (5) faktor takdir. Dari kelima faktor ini, yang pertama, kedua, dan keempat, masih relatif dapat berubah seiring dengan kekuatan dan bertambahnya ilmu pengetahuan agama (baca: faktor ketiga). Sementara faktor kelima tergantung kehendak Allah, karena sudah termaktub sejak zaman azali di mana takdir manusia telah ditetapkan. 
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN AL-QUR’AN DI ERA INDUSTRI DALAM KONTEKS INDONESIA Dewi Ratnawati; Ahmad Zainal Abidin; Eko Zulfikar
POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam Vol 6, No 1 (2020): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/potensia.v6i1.8624

Abstract

There are at least two factors that trigger problems in the Qur`an learning in the industrial era 4.0: the rejection of changes that occur in educators and acceptance of changes, but the available technological infrastructure cannot support learning of the Qur`an into the realm of education in the era industry 4.0. This resulted in failure in learning the Qur`an. The manifestations of this failure are in the form of unsuccessful character building for students to have Qur`anic characters, fading love of students for the Qur`an, loss of students' polite behavior, and limited material received only limited to cognitive knowledge without performance abilities. By using the descriptive-explorative method, this paper produces findings that the problems of learning the Qur`an in the industrial era, namely: the use of the Qur`an learning method which is monotonous, the learning strategy of the Qur`an is not yet right, the lack of facilities. infrastructure that supports learning Qur`an, there has not been any transformation and innovation of the Qur`an learning that takes advantage of technological sophistication, the lack of professional educators, and lack of support from the environment for the realization of a triple education center.
Tradisi Halal Bihalal dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis Eko Zulfikar
Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 14 No 2 (2018): Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FIS UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JSQ.014.2.03

Abstract

Abstrak Merayakan hari raya ‘Idul fitri setelah melaksanakan puasa di bulan Ramadhan bersama keluarga besar merupakan sebuah rutinitas bagi sebagian masyarakat Indonesia. Di dalam hari raya ‘Idul fitri ini terdapat suatu tradisi yang sudah membudaya, yaitu halal bihalal. Halal bihalal merupakan momen yang tepat untuk bersilaturahim dan saling meminta maaf antar sesama. Halal bihalal juga dianggap sebagai ajang komunikasi produktif antar berbagai komponen bangsa yang dilaksanakan dengan suka cita dan dibentuk secara seremonial yang diikuti oleh sekelompok warga dari berbagai macam agama, ras dan suku. Suasana halal bihalal yang penuh dengan nuansa religius, kekeluargaan dan keterbukaan membuat semua orang yang hadir tidak memiliki beban psikolgis tertentu. Pada saat itulah komunikasi sehat bisa terbangun dengan baik. Pada gilirannya muncul keinginan untuk saling membantu dan saling membesarkan yang akhirnya membawa dampak positif bagi keberlangsungan hubungan mereka dalam bermasyarakat dan terciptanya sikap plural dengan agama lain.
THE CONTEMPORARY THOUGHT ON THE QUR’AN: The Discourse of Muhammad Syahrûr’s al-Kitâb wa al-Qur’ân Eko Zulfikar
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v7i1.2542

Abstract

New methodologies and approaches in the study of the Qur’an are very much carried out by contemporary reviewers. This is actually influenced by the understanding of the Qur’an which always experiences dynamics in the times. This paper specifically addresses Muhammad Syahrûr’s contemporary thinking about the Qur’an in al-Kitâb wa al-Qur’ân. By descriptive-analytical study, the writer concludes understanding the Qur’an according to Syahrûr can be done by contextualizing the Quranic verses with a linguistic structure and scientific, philosophical, historical, psychological, and sociological approaches. He wants the content of the Qur’an to be in harmony with current social dynamics, the readers always actualize themselves extensively by not resting on the products of classical thought that have been considered established and sacred, and the Qur’an as if it had just been revealed, so that it can deconstruct and reconstruct the scientific knowledge of the Qur’an which has been considered final.[Metodologi dan pendekatan baru dalam studi Al-Qur’an marak dilakukan oleh para pengkaji kontemporer. Hal ini sejatinya dipengaruhi pemahaman tentang Al-Qur’an yang selalu mengalami dinamika dalam perkembangan zaman. Artikel ini secara spesifik mengulas pemikiran kontemporer Muhammad Syahrûr tentang Al-Qur’an dalam al-Kitâb wa al-Qur’ân. Dengan telaah deskriptif-analitis, penulis menyimpulkan bahwa pemahaman Al-Qur’an menurut Syahrûr dapat dilakukan dengan cara mengkontekstualisasikan Al-Qur’an dengan struktur linguistik serta pendekatan saintifik, filosofis, historis, psikologis, dan sosiologis. Dia menginginkan kandungan Al-Qur’an selaras dengan dinamika sosial kekinian, para pembaca senantiasa mengaktualisasikan diri secara ekstensif dengan tidak berpijak pada produk pemikiran Islam klasik yang telah dianggap mapan dan sakral, dan memosisikan Al-Qur’an seakan-akan baru saja diwahyukan, sehingga dapat mendekonstruksi sekaligus merekonstruksi tradisi keilmuan Al-Qur’an yang selama ini telah dianggap final]
ETIKA BERDAKWAH DI ERA INDUSTRI 4.0 (Tinjauan Dalam Normativitas Al-Qur’an Dan Hadis) Eko Zulfikar; Ahmad Zainal Abidin
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.1418

Abstract

AbstrakSetiap umat Islam pada dasarnya memiliki kewajiban untuk berdakwah. Namun dalam mengemban dakwah ini, berbagai problema muncul di era industri 4.0 sebagai tuntutan perkembangan zaman, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, globalisasi, dan informasi. Oleh karena itu, dalam berdakwah dibutuhkan sebuah kode etik demi suksesnya kegiatan dakwah yang dilakukan para da’i. Tulisan ini akan mengintroduksi bagaimana etika dalam berdakwah yang disarikan al-Qur’an dan hadis dalam mengarungi perkembangan zaman di era industri 4.0. Dengan menggunakan metode tematik, didapati kesimpulan bahwa paling tidak ada lima etika dalam berdakwah, yaitu; niat ikhlas karena mengharap ridha Allah, menjadi uswatun hasanah, menggunakan retorika jelas dan lemah-lembut, berperilaku sabar, dan bersedia melakukan dakwah secara berjamaah.AbstractEvery Muslim basically has an obligation to preach. But in carrying out this da’wah, various problems emerged in the industrial era 4.0 as the demands of the times, such as science, technology, globalization, and information. Therefore, in da’wah a code of ethics is needed for the success of preaching activities carried out by preachers. This paper will introduce how ethics in da’wah summarized by the Qur’an and hadith in navigating the development of the times in the industrial era 4.0. By using thematic methods, it was concluded that there are at least five ethics in da’wah, namely; sincere intentions because he hopes for God’s pleasure, becomes uswatun hasanah, uses clear and gentle rhetoric, behaves patiently, and is willing to preach in congregation.ETIKA BERDAKWAH DI ERA INDUSTRI 4.0(Tinjauan Dalam Normativitas Al-Qur’an Dan Hadis)
PERAN PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA PERSPEKTIF ISLAM: Kajian Tematik Dalam Alquran Dan Hadis Eko Zulfikar
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 7, No 01 (2019): Juni
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.54 KB) | DOI: 10.24235/diyaafkar.v7i01.4529

Abstract

Parents are a family component consisting of father (husband) and mother (wife). They are the result of a sacred bond commonly called marriage. Each of them has an important role, especially in the mother (wife) because it is generally the most authoritative mother in forming a good household (sakinah). This paper will introduce how the role of women in the household perspective of the Islam. By using a thematic approach, this paper focused on the role of women as a wife and as a mother in the eyes of Alquran and hadith. Thus, it was found that the role of women as wives is at least three points; become husband’s partner biologically and psychologically, and become manager in managing the household. While the role of women as a mother at least there are three points as well; containing children, childbirth and breastfeeding, and nurturing and educating children.
TINJAUAN TAFSIR AHKAM TENTANG HUKUM PERNIKAHAN DALAM AL-QUR’AN SURAT AL-NUR AYAT 32-33 Eko Zulfikar
Mahkamah : Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/mahkamah.v5i2.6857

Abstract

Tulisan ini berusaha mengupas hukum pernikahan dalam al-Qur’an Surat al-Nur [24] ayat 32-33. Analisis penafsiran dilakukan berdasarkan pada beberapa kitab tafsir ahkam, seperti Tafsir Munir karya Wahbah al-Zuhaili, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurthubi, Rawa’i’ al-Bayan karya ‘Ali al-Shabuni, Tafsir Ayat al-Ahkam karya al-Jashshash, ‘Ali al-Sayis, Kiya’ al-Harrasi, Ibnu al-‘Arabi, dan masih banyak lagi. Dengan menggunakan pendekatan analisis isi (content analysis) terhadap QS. al-Nur [24] ayat 32-33, didapati temuan bahwa: hukum pernikahan dengan melihat asal kondisi orang yang melakukannya terbagi menjadi tiga; bisa wajib, sunnah, dan mubah. Dari ketiga hukum ini, mayoritas ulama lebih dominan memilih hukum nikah sebagai yang sunnah. Sementara hukum menikah menurut situasi dan kondisi orang yang melakukannya bisa menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Bila seseorang khawatir akan terjerumus ke dalam perbuatan zina, sementara ia mampu untuk menikah maka hukum nikah adalah wajib tanpa ada perdebatan. Abstract This paper seeks to examine the law of marriage in al-Qur'an Surah al-Nur [24] verses 32-33. Analysis of interpretation is based on several ahkam interpretation books, such as Tafsir Munir karya Wahbah al-Zuhaili, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya al-Qurthubi, Rawa’i’ al-Bayan karya ‘Ali al-Shabuni, Tafsir Ayat al-Ahkam karya al-Jashshash, ‘Ali al-Sayis, Kiya’ al-Harrasi, Ibnu al-‘Arabi, and many more. By using a content analysis approach to content analysis al-Nur [24] verses 32-33, found that: the law of marriage by looking at the origin of the conditions of people who do it is divided into three; can be wajib, sunnah, and mubah. From these three laws, the majority of ulama are more dominant in choosing marriage law as the sunnah. While the law of marriage according to the situation and conditions of people who do it can be wajib, sunnah, mubah, makruh and haram. If someone is worried that he will fall into adultery while he is able to get married then the marriage law is wajib without debate.
INTERPRETASI MAKNA RIYA’ DALAM AL-QUR’AN: Studi Kritis Perilaku Riya’ Dalam Kehidupan Sehari-hari Eko Zulfikar
Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Qur’anic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.056 KB) | DOI: 10.15575/al-bayan.v3i2.3832

Abstract

AbstrakAllah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumiuntuk mengemban sebuah amanat dengan dibekalidua perangkat canggih: akal pikiran dan hati perasaan. Sebagai makhluk yang memiliki akal dan hati, manusia tidak bisa terlepas begitu saja dari kobaranhawa nafsu yang dapat menyesatkan pelakunya pada akhlak dan sifat tercela. Tulisan ini membahas intrerpretasi perilaku Riyadalam perspektif Alquran. Metode yang digunakan penulis ialah tematik, yakni menjadikan ayat-ayat yang berbicara tentang Riyasebagai kajian utama tanpa mengenyampingkan literatur-literatur lainnya. Selain itu,tulisan ini murni studi pustaka dengan analisa data intertekstualitas,dengan harapan dapat memberikan kontribusi ilmiah pada setiap personal-individual untuk senantiasa muhasabah diri, serta dapat melengkapi kajian wacana tentanginterpretasi perilakuRiyadalam perspektif Alquran.Sejauh penelusuran penulis, selain sifat Riya merupakan salah satu sifat orang munafik, ia jugatermasukdalam perilakusyirik ashghar yang menjadi palang pintu bagi masuknya syirik akbar. Tulisan ini menunjukkan bahwaRiya merupakan suatu sikap dalam melakukan amal salehyang tidak berdasarkan pada niat ibadah kepada Allah, namun ditujukan kepadamanusia amal saleh yang dilakukan sebagai cara untuk mendapatkan pujian dan popularitas, serta berharap agar orang lain tersebut memberikan kedudukan dan penghormatan kepadanya.