p-Index From 2021 - 2026
8.776
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Pendidikan Bahasa Bali Undiksha Sosiohumaniora Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL) BAHASA DAN SASTRA Jurnal Penelitian Pendidikan LOKABASA Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas Jurnal Sains Teh dan Kina Journal Of Vocational Health Studies EDUCARE Tawarikh : Journal of Historical Studies Jurnal SOLMA Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus Jaladri : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Adabiyyat: Jurnal Bahasa dan Sastra Abdimas Umtas : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Waca Cipta Ruang: Jurnal Ilmiah Desain Interior Media Karya Kesehatan Magistra Andalusia : Jurnal Ilmu Sastra Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Loa : Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Jurnal Syntax Imperatif : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Kalatanda : Jurnal Desain Grafis dan Media Kreatif Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat Jurnal Pengabdian Seni Daengku: Journal of Humanities and Social Sciences Innovation Komitmen : Jurnal Ilmiah Manajemen eProceedings of Art & Design DIMASATRA MODERAT: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan International Journal of Multidisciplinary Sciences Jurnal Ilmiah Farmasi Simplisia Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Daerah Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda International Journal of Language and Culture
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search
Journal : LOKABASA

KALIMAT BAHASA SUNDA DALAM TEKS PROSA SUNDA KUNO ABAD KE-16 (Analisis Struktur dan Semantis) Nurwansah, Illam; Sudaryat, Yayat; Ruhaliah, Ruhaliah
LOKABASA Vol 8, No 2 (2017): Vol. 8, No. 2, Oktober 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i2.14199

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis struktur kalimat dengan menggunakan pendekatan tagmémik. Sumber data diambil dari transliterasi teks Carita Parahiyangan yang memakai berbahasa Sunda kuno. Penelitian ini dilakukan karena belum ada analisis mengenai struktur kalimat bahasa Sunda kuno secara mendalam, sebagai informasi linguistik bahasa Sunda temporal. Metode yang dipakai yaitu analisis deskriptif. Bentuk kalimat yang terdapat dalam bahasa Sunda kuno berupa kalimat lengkap dan kalimat ringkasan. Kalimat tunggal sederhana yang ditemukan memiliki tiga pola yaitu (1) S-P, (2) S-P-O, (3) S-P-Pel, sedangkan kalimat tunggal perluasan terdapat empat pola yaitu (1) S-P-K, (2) K-S-P-K, (3) S-P-O-K, dan (4) S-P-Pel-K. Kalimat majemuk setara yang ditemukan berupa kalimat asindetis dan sindetis. Kalimat majemuk asindetis tersusun dari dua klausa, tiga klausa dan empat klausa, sedangkan kalimat sindetis tersusun dari dua klausa. Pola kalimat majemuk bertingkat yaitu berupa kalimat majemuk bertingkat subjektif dan adverbial. Hubungan makna unsur kalimat yang ditemukan yaitu berdasarkan peran semantis subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Hubungan makna antarklausa dalam kalimat majemuk setara terdapat dua jenis yaitu (1) kalimat pertentangan, dan (2) kalimat lanjutan. Hubungan makna antarklausa kalimat majemuk bertingkat terdapat enam jenis, yaitu (1) kalimat waktu, (2) kalimat syarat, (3) kalimat penyebab, (4) kalimat akibat, (5) kalimat pernyataan, dan (6) kalimat guna.AbstractThis research has purpose to analyze sentence structure by using tagmémik approach. Sources of data are taken from Carita Parahiyangan transliteration text that uses ancient Sundanese. This research is conducted because there is no analysis about ancient Sundanese sentence structure deeply, as temporal linguistic information of Sundanese. The method used is descriptive analysis. The sentence forms contained in ancient Sundanese consists of complete sentences and summary sentences. Simple sentences found have three patterns i.e. (1) S-P, (2) S-P-O, (3) S-P-C, while single sentences extension have four patterns i.e. (1) S-P-A, (2) A-S-P-A, (3) S-P-O-A, and (4) S-P-C-A. Compound sentences are found in the form of asindetis and syndetic sentences. Asindetis compound sentences are composed of two clauses, three clauses, and four clauses, while the syndetic sentences are composed of two clauses. Multilevel compound sentence pattern that is in the form of compound sentences with subjective and adverbial level. Relation of the sentence meaning found is based on the role of semantic subject, predicate, object, complement and adverb. The meaning relation between clauses in equal compound sentences consist two types i.e. (1) conflicting sentences, and (2) advanced sentences. The meaning relation between clauses in different degree compound sentences consist of six types i.e. (1) temporal sentence, (2) requirement sentence, (3) causal sentence, (4) effect sentence, (5) statement sentence, and (6) order sentence.
TRADISI NYALIN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SUNDA (Kajian Struktur dan Etnopedagogik) Yanuariska, Yogi Yogaswara; Sudaryat, Yayat; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 8, No 2 (2017): Vol. 8, No. 2, Oktober 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i2.14204

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah tradisi nyalin sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya dan belum terungkapnya niali-nilai kebaikan dalam tradisi nyalin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) struktur (teks dan ko-teks) dan fungsi (konteks) tradisi nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda, (2) ciri kelisanan yang tampak dalam tradisi nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda, (3) nilai etnopedagogik dalam tradisi nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda. Metode penelitian yang digunakan adalah paradigma kualitatif dalam kajian tradisi lisan. Hasil penelitiannya, yaitu (1) struktur tradisi nyalin yang mencakup tahapan tradisi nyalin, tatahar ngawengku gempungan, kukumpul, majang, jeung riungan, ngukusan, sanduk-sanduk, mitembeyan mipit paré, dan ngaarwahan. Unsur-unsur tradisi nyalin mencakup nama kegiatan, pelaku kegiatan, barang-barang dalam kegiatan, makanan dalam kegiatan, gerakan, tempat berlangsungnya kegiatan, dan waktu berlangsungnya. Teks dalam tradisi nyalin adalah kapamalian, dongeng, mantra, diksi dan ungkapan. Fungsi tradisi nyalin sebagai (1) wujud rasa sukur pada Tuhan atas hasil panen yang didapat, (2) ciri kelisanan dalam tradisi nyalin, yaitu pemikiran lisan, ekspresi lisan, dan naratif lisan, 3) nilai etnopedagogik dalam tradisi nyalin, yaitu (1) pandangan hidup manusia dengan dirinya, (2) pandangan hidup manusia dalam lingkungan masyarakat, (3) pandangan hidup manusia dengan alam, (4) pandangan hidup manusa dengan Tuhan, (5) manusia dalam mengejar kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. Kesimpulan dari penelitian ini, setelah diteliti secara struktur dan etnopedagogik memiliki nilai-niali luhur yang sudah ada di masyarakat sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai teladan dalam bidang pendidikan formal dan kehidupan masyarakat umum.AbstractThe background of this research is Nyalin tradition that has begun to be abandoned by the society and the values in Nyalin traditions that have not been revealed yet. The purpose of this study is to describe (1) the structure (text and co-text) and the function (context) of the nyalin tradition in the Sundanese life, (2) the visible oral features of the tradition in the Sundanese life, (3) the ethnopedagogic value in Nyalin tradition in the Sundanese society’s life. The research method used is a qualitative paradigm in the study of oral tradition. The results of his research are the structure of nyalin tradition includes its stages i.e. tatahar ngawengku gempungan, kukumpul, majang, riungan, ngukusan, sanduk-sanduk, mitembeyan mipit paré, and ngaarwahan. Elements of Nyalin tradition include the name of the activity, the performer, the goods, the food, the movement, the place, and the time it takes place. The texts in Nyalin tradition are kapamalian, dongeng, mantra, diction and idiom. The functions of Nyalin tradition are (1) a form of gratefulness to God over the results of harvesting, (2) the verbal characteristic of Nyalin tradition i.e.oral thought, oral expression, and oral narrative, 3) ethnopedagogic values in Nyalin tradition i.e.(1) the perspective of human life with themselves (2) the perspective of human life in the society, (3) the perspective of  human life with nature, (4) the perspective of human life with God, (5) the effort of human to reach physical and spiritual satisfaction. The conclusion of this study, after being structurally studied by using ethno pedagogic approach, Nyalin tradition has noble values that already exist in the community that can be used as an example in the field of formal education and public life.
UNSUR PELESAPAN KALIMAT DALAM BUKU SISINDIRAN JEUNG WAWANGSALAN ANYAR KARYA DÉDY WINDYAGIRI UNTUK BAHAN AJAR MENULIS SISINDIRAN DI SMP KELAS VIII Nugraha, Triya; Sudaryat, Yayat; Hernawan, Hernawan
LOKABASA Vol 9, No 2 (2018): Vol. 9, No. 2, Oktober 2018
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v9i2.15685

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa sisindiran merupakan susunan kalimat. Kalimat-kalimat yang terdapat pada sisindiran merupakan kalimat majemuk dan terdapat unsur yang dilesapkan. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan unsur pelesapan dan bentuk pelesapan yang terdapat pada kalimat sisindiran serta pamakaiannya pada pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan menggunakan teknik studi dokumentasi untuk mengumpulkan data. Data dianalisis menggunakan analisis unsur langsung. Sumber data didapatkan dari buku Sisindiran jeung Wawangsalan Anyar karya Dédy Windyagiri. Hasil penelitian menemukan dua hal, yaitu unsur lesapan dan bentuk lesapan kalimat. Unsur lesapan meliputi 1) pelesapan tunggal yang mencakup pelesapan unsur S, P, O, dan Konj.; 2) pelesapan majemuk yang mencakup pelesapan unsur S+P, S+O, S+K, S+Pel., S+Konj., O+Konj., S+P+Konj., S+O+Konj., dan S+Pel.+Konj. Bentuk pelesapan kalimat berdasarkan prosesnya yang ditemukan adalah 1) delisi tékstual; 2) delisi situasional; dan 3) delisi struktural. Delisis situasional dan unsur lesapan subjek paling banyak ditemukan. Hal ini berhubungan dengan cara penyebarannya yang secara lisan, dalam obrolan langsung si pembicara jarang mengucapkan semua maksudnya secara lengkap karena pasti bisa dimengerti oleh lawan bicaranya dengan dibantu isyarat dari pembicara. Hasil penelitian pelesapan kalimat ini dapat dipakai untuk bahan pengajaran menulis sisindiran. AbstractThe background of this study is because of the reality that sisindiran consists of sentence. Sisindiran sentences is a compound sentence and there are deletion elements. This study aimed to describe deletion elements and the type of deletion contained in sisindiran sentence and its use in learning. This study used a descriptive method with documentation study techniques to collect data. A data analyzed with direct element analysis. Data  sourced in Dedy Windyagiri’s book, Sisindiran jeung Wawangsalan Anyar. The findings show there are two things, deletion elements and type of deletion elements. Deletion elements are: 1) single deletion are include deletion S, P, O, and Konj.. element; 2) plural deletion are include S+P, S+O, S+K, S+Pel., S+Konj., O+Konj., S+P+Konj., S+O+Konj., dan S+Pel.+Konj. elements. Deletion type based on the process that found are 1) textual deletion; 2) situational deletion; and 3) structural deletion. Situational deletion and subject deletion elements are the most found. That is related to the way they are spread orally. Results of this study is can be used for writing study material.
Frasa Eksosentrik dalam Novel Kembang Kembang Petingan Karya Holisoh M.E Maryanika, Leni; Sudaryat, Yayat
LOKABASA Vol 11, No 1 (2020): Vol. 11 No. 1, April 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i1.25198

Abstract

The research aims to analyze and describe exocentric phrase that include the form, stucture, and semantics (the relation between grammatical elements) that contained in the novel Kembang Kembang Petingan by Holisoh M.E. In this study used descriptive method with a qualitative approach. Technique used in collecting data is a literature study. The data analysis technique used in this study is direct elemental analysis techniques. The data source used in this study is Novel Kembang Kembang Petingan by Holisoh M.E. The results of this research have 1133 phrase with 1658 frekuesi and describe three things, (1) exocentric phrase divided into two types of phrase, direktif phrase and relative phrase, (2) stucture of exocentric phrase have four general stucture and eleven substucture, and (3) semantics (the  relation between grammatical elements) have twelve relation gramatical of direktif phrase and two relation gramatical of relative phrase in the Kembang novel Kembang Petingan by Holisoh ME. Based on research can be concluded phrase exocentric in Kembang Kembang Petingan novel by Holisoh M.E can be examined in aspects form, stucture, and relation grammatical elements. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan frasa eksosentrik yang meliputi bentuk, struktur, dan semantik (hubungan antarunsur gramatikal) yang terdapat dalam novel Kembang Kembang Petingan karya Holisoh M.E. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah tehnik studi pustaka, dan teknik analisis yang digunakan yaitu teknik analisis unsur langsung. Sumber data yang digunakan adalah novel Kembang Kembang Petingan karya Holisoh M.E. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat 1133 frasa eksosentrik dengan frekuensi 1658 kali, lalu mendeskripsikan tiga hal yaitu (1) bentuk frasa eksosentik yang terdiri atas data 2 jenis frasa yaitu frasa direktif dan relatif, (2) struktur frasa eksosentrik yang memiliki 4 pola utama dan 11 subpola, dan (3) semantik (hubungan makna antarunsur gramatikal) yang terdiri atas 12 hubungan makna antarunsur gramatikal frasa direktif dan 2 hubungan makna antarunsur gramatikal frasa relatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa frasa eksosentrik mempunyai bentuk, struktur, dan hubungan gramatikal antarunsurnya yang berkaitan dengan kajian struktur dan semantik.
Struktur Wacana Percakapan dalam Program Obrolan Televisi Fitriah, Nurul Aeni; Sudaryat, Yayat; Hernawan, Hernawan
LOKABASA Vol 11, No 2 (2020): Vol. 11 No. 2, Oktober 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i2.29149

Abstract

Destructive activities in conversations such as interrupting the speech of an opponent can be negative habits of the speaker and are considered as one of the less ethical attitudes. The aims of the research are to describe the adjacency pairs, the interaction pattern of speaker, and turn-taking distribution markers in television talk show program. The method of this research is descriptive method with observes and record technique, and analysed by using an immediate constituent analysis in four episodes of “Milang Béntang” AKTV program. From the results of the research, the adjacency pair has been found are 379 data including eight standard pairs and four new pairs. The most common form of adjacency pairs is pairs of question-answers with 57% dominance. The interaction pattern of speaker found in 217 data including chain sequence patterns and circular circuit patterns. The interaction pattern of speakers is mostly a pattern of chain sequences with 93% dominance. Turn-taking distribution markers found in 401 data including the questions, orders, and statements. The most marker has been found is the questions marker with 54% dominance. From the results of the research, there has been found four new adjacency pairs including pairs of complain-recognition, praise-acceptance, praise-nonacceptance, and hope-acceptance.AbstrakKegiatan destruktif dalam percakapan seperti menyela atau memotong pembicaraan mitra tutur dapat menjadi kebiasaan negatif para pelaku tuturan dan dianggap sebagai salah satu sikap yang kurang etis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pasangan berdekatan, pola interaksi penutur, dan penanda distribusi giliran berbicara dalam program obrolan televisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik simak catat serta studi pustaka yang dianalisis menggunakan teknik analisis unsur langsung pada empat episode acara “Milang Béntang” AKTV. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 379 data pasangan berdekatan yang meliputi delapan bentuk pasangan baku dan empat pasangan baru. Bentuk pasangan berdekatan paling banyak ialah pasangan pertanyaan-jawaban dengan dominasi 57%. Pola interaksi penutur yang ditemukan sebanyak 217 data mencakup pola rangkaian berantai dan pola rangkaian melingkar. Pola interaksi penutur paling banyak merupakan pola rangkaian berantai dengan dominasi 93%. Penanda distribusi giliran berbicara yang ditemukan sebanyak 401 data mencakup penanda dalam bentuk pertanyaan, perintah, dan pernyataan. Penanda distribusi giliran berbicara paling banyak merupakan penanda dalam bentuk pertanyaan dengan dominasi 54%. Dari hasil penelitian, ditemukan empat pasangan berdekatan khusus dalam kegiatan percakapan masyarakat Sunda yang meliputi pasangan keluhan-pengakuan, pujian-penerimaan, pujian-penolakan, dan harapan-persetujuan.
Perbandingan Penggunaan Bahasa Sunda Baku di Daerah Majalengka dan Ciamis Rama Kurnia Santosa; Tri Indri Hardini; Dadang Sunendar; Yulianeta Yulianeta; Yayat Sudaryat; Hernawan Hernawan
LOKABASA Vol 13, No 2 (2022): Vol. 13 No. 2, Oktober 2022
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v13i2.49694

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk menjelaskan perbandingan penggunaan bahasa Sunda di daerah Ciamis dan Majalengka, Jawa Barat. Sebagai sebuah fenomena bahasa, bahasa Sunda memiliki kekhasan yang berbeda di setiap daerahnya. Meski begitu, bahasa Sunda hanya memiliki satu bahasa lulugu yang dirancang sebagai alat komunikasi antar banyak penutur berbeda. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik angket, yaitu menyebarkan angket ke 39 mahasiswa UPI yang berasal dari daerah Majalengka dan Ciamis. Hasil penelitian ini, menjelaskan penutur bahasa Sunda di daerah Ciamis dan Majalengka ternyata masih menggunakan bahasa Sunda lulugu di dalam situasi dan kondisi tertentu; lalu ditemukannya beberapa kosakata yang sama namun maknanya berbeda (homonim) dengan bahasa Sunda lulugu pada umumnya.
Kedwibahasaan dan Diglosia dalam Pembelajaran Bahasa Sunda di SMA Kota Bandung Deni Abdul Ghoni; Tri Indri Hardini; Dadang Sunendar; Yulianeta Yulianeta; Yayat Sudaryat; Hernawan Hernawan
LOKABASA Vol 13, No 2 (2022): Vol. 13 No. 2, Oktober 2022
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v13i2.55719

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kontak masyarakat Kota Bandung dengan masyarakat luar yang menyebabkan masyarakatnya bilingual, bahkan multilingual, termasuk pelajarnya di lingkungan sekolah yang kemudian memengaruhi timbulnya fenomena kedwibahasaan dan diglosia dalam pembelajaran bahasa termasuk bahasa Sunda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran kedwibahasaan dan diglosia terhadap pemahaman siswa dalam pembelajaran bahasa Sunda di SMA Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan dengan teknik survei angket dan wawancara. Sumber data dijaring sebanyak 129 responden siswa SMA di Kota Bandung dan 3 orang guru pelajaran bahasa Sunda. Hasilnya menunjukan bahwa kedwibahasaan dan diglosia berperan dalam menentukan bahan ajar, memilih metode ajar, serta dalam mempertegas materi yang kurang dipahami dengan data bahwa 84% siswa lebih mengerti ketika guru menjelaskan menggunakan bahasa Sunda-Indonesia untuk mempertegas materi.
Representasi Identitas dalam Yel-yel Viking Persib Club: Sebuah Kajian Semantik Kognitif Sandya, Cathleen; Sudaryat, Yayat; Hernawan, Hernawan
LOKABASA Vol 16, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i2.88972

Abstract

Yel-yel Viking Persib Club (VPC) bukan hanya sebagai ekspresi semangat dalam budaya sepak bola, tetapi juga berperan dalam pembentukan identitas kelompok yang mencerminkan nilai-nilai lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna dalam yel-yel Viking Persib Club melalui pendekatan semantik kognitif, khususnya dalam penggunaan metafora konseptual. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi terhadap enam lirik yang dinyanyikan di stadion. Selain itu, juga didukung dengan teknik wawancara semi-terstruktur yang dilakukan terhadap 12 informan, baik anggota maupun non-anggota VPC. Enam yél-yél tersebut memuat total 40 frasa metaforis yang diklasifikasikan menjadi metafora struktural, orientasional, dan ontologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora dalam yél-yél mencerminkan ungkapan emosi, nilai, dan identitas kolektif dari para suporter. Dengan demikian, sepak bola tidak hanya diposisikan sebagai olahraga, melainkan juga sebagai ruang perjuangan, kebanggaan, dan keterikatan sosial. Studi ini mengisi kekosongan teoretis melalui sudut pandang linguistik kognitif dalam kajian ekspresi suporter di Indonesia, sekaligus menegaskan peran metafora sebagai mekanisme pembentuk makna dan identitas dalam praktik verbal di masarakat.The chants of the Viking Persib Club (VPC) serve not only as expressions of enthusiasm within football culture but also as a means of constructing group identity that reflects local values. This study aims to analyze the meanings in the VPC chants through a cognitive semantic approach, particularly focusing on conceptual metaphors. The research uses a qualitative descriptive method with documentation of six chant lyrics performed in the stadium, supported by semi-structured interviews with 12 informants, both VPC members and non-members. The six chants contain a total of 40 metaphorical phrases, classified into structural, orientational, and ontological metaphors. The findings show that metaphors in the chants reflect emotional expression, values, and the collective identity of the supporters. Consequently, football is not merely viewed as a sport, but also as a space for struggle, pride, and social attachment. This study fills a theoretical gap by employing a cognitive linguistic perspective in examining supporter expressions in Indonesia, while also emphasizing the role of metaphor as a mechanism for meaning and identity formation in verbal practices within society.
Co-Authors , R.Didi Djadjuli A Rustamsyah A Rustamsyah, A ADE SUTISNA, ADE Afifah Rahmawati Agus Suherman Ahmad Juliarso AI PARIDAH, AI Ainun Nadhifah, Ainun Alaida Maharani, Nazwa Alamsyah, Zulfikar Ammirulhaz, Moch Dhymas Andika Putra, Hanif Akbar Ardi Rustamsyah Ardi Rustamsyah Ayu Puspitasari, Annisya Dyah Ayuni, Rhea A’dhawiah, Ira Robbaitul Baharsyah, Sang Balakosa, Zhafif Belliny Manullang, Tryastuti Irawati Citra Ratu Pelangi Citra Ratu Pelangi, Citra Ratu Dadan Rohdiana Dadang Sunendar Danan Darajat Dea Widiari, Ni Kadek Dede Farhan Mubarok Dede Kosasih Dedi Koswara Deni Abdul Ghoni Dhani Rahman, Mahendra Rama Dharmawan, Aliefki Pradithya Dicki Bakhtiar Purkon Dingding Haerudin Dwi Lisyana Aufa Rahmadhia Eet Saeful Hidayat Elvi Trinovani, Elvi Faizah Min Fadhlillah Fatimah, Cucu Fitriah, Nurul Aeni Ghoni, Deni Abdul Haq, Razzan Dhiya Ul Haris Santosa Nugraha Hendrayana, Dian Herawati, Auliana Herdiana, Irfan Herlina, Yeni Hermawan Hermawan Hernawan Hernawan Hernawan Hernawan Hernawan Hidayat, Neng Tanti Septiani Hotimah, Alni Khusnul I Gusti Bagus Wiksuana Imas Diana Aprilia Iskandar, Muhammad ISKANDARWASSID ISKANDARWASSID, ISKANDARWASSID Isti Agnia Lutfiah Isti Agnia Lutfiah, Isti Agnia Kusumah, Raden Minda Lina Marliani Maigoda, Tonny Cortis Maria Immaculata Iwo Maryanika, Leni Mimin Kusmiyati, Mimin Mohammad Roseno Mulyani, Noni Nainggolan, Aurelya Veny Kurnia Nia Kurniasih nia kurniasih Ningsih, Padmasari Diah Ayu Kumala Noni Mulyani Nonong Rowiyah Novelia, Chelsy Nugraha, Triya Nunuy Nurjanah Nurhadi, Jatmika Nurhuda, Denny Adrian Nursolah, Mila Nurwansah, Illam O. SOLEHUDIN, O. Pratama, Krisna Setya Prawira, Naufal Lukita Putra, Putu Raka Setya Putri, Shafa Shafira Adinda Rabiussani, Rani Rahmadhia, Dwi Lisyana Aufa Rahmah, Firda Aulia Rahman Rahmatuloh, Gani Raihan Fadhilah, Sania Rama Kurnia Santosa Retty Isnendes Rhamadianto, Muhamad Iqbal Riky Taufik Afif Rila Muspita Roseno, Mohammad Rostika Srihilmawati RUHALIAH Dr., RUHALIAH Sabarudin, Yudistira Fitra Sabarudin Salma Atsriya Setiani Sandiansyah, Sandri Sandya, Cathleen Setiani, Puspa Endah Shakina, Intan Nazla SISKA PERTIWI, SISKA SITI MARYAM MAULIDA, SITI MARYAM Soemardji, Adreanus Andaja Sofia, Poppy Sofyan, I Wahyudi Sondari, Dea Srihilmawati, Rostika Srinati, Ine Sufa, Hafizah Ilmi Syihabuddin Syihabuddin Syihabuddin Syihabuddin Tanika Miatul Hadid Temmy Widyastuti Temmy Widyastuti TIANAWATI, YANTI Tri Agustini Gandaresmi Tri Indri Hardini Tri Widyastuti Tryastuti Irawati Belliny Manullang Usep Kuswari Usep Kuswari Wafi, Abdurrahman Widyastiwi Widyastiwi Wikramaditya, I Made Phalguna Winci Firdaus Wiwin Setiawati Wulandari, Sri Rizki YANTI TIANAWATI Yogi Yogaswara Yosa Fiandra Yulianeta Zahra Anggraeni Zaini Ramdhan Zuhdi, Hafidz Ali