p-Index From 2021 - 2026
4.865
P-Index
This Author published in this journals
All Journal MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Journal of Tropical Forest Management Jurnal Silvikultur Tropika (JST) Forum Pasca Sarjana Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan (Journal of Soil Science and Environment) Indonesian Journal of Geography Bumi Lestari Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Jurnal Ilmu Lingkungan Jurnal Agrista Journal of Tropical Soils Jurnal Kawistara : Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN Jurnal Agro Ekonomi Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Jurnal Penelitian Tanaman Industri Wacana, Jurnal Sosial dan Humaniora Jurnal Ilmu Ternak Veteriner Journal of Degraded and Mining Lands Management AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Journal of Regional and City Planning Indonesian Journal of Geospatial Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Ecogreen Jurnal Zeolit Indonesia Jurnal Tataloka Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan INTENSIF: Jurnal Ilmiah Penelitian dan Penerapan Teknologi Sistem Informasi JURNAL ILMIAH GEOMATIKA MAJALAH ILMIAH GLOBE Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Jurnal Segara International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri) Jurnal Agro Ekonomi Jurnal Tanah dan Iklim Science and Environmental Journals for Postgraduate Jurnal Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Amerta The International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES)
Claim Missing Document
Check
Articles

Kesesuaian Lahan Tambak Budidaya Udang Dengan Faktor Pembatas Kualitas Air, Tanah Dan Infrastruktur Di Teluk Banten Indonesia Mochammad Farkan; Daniel Djokosetiyanto; R. Sjarief Widjaja; Kholil -; Widiatmaka -
Jurnal Segara Vol 13, No 1 (2017): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1388.458 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i1.6378

Abstract

Budidaya udang di tambak yang kurang tepat akan menyebabkan in efisisen dan in efektif dalam operasionalnya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian lahan budidaya udang. Lokasi penelitian di pertambakan pesisir Teluk Banten, Provinsi Banten Indonesia. Parameter yang diukur (1). Kualitas air meliputi pH air, suhu, salinitas, kelarutan Oksigen (DO), BOD5, COD, TSS, Ammonia (NH₃), Fe, pasang surut. (2). Kualitas tanah meliputi pH tanah, tekstur tanah, potensial redoks, KTK, unsur hara (K,Ca, Mg, Fe), kemiringan lahan dan elevasi. (3) Pendukung budidaya udang meliputi infrastruktur (ketersediaan jalan dan listrik), jarak dari laut, jarak dari sungai dan curah hujan. Metoda yang digunakan adalah pembobotan dan skoring (weight linier combination). Pembobotan dilakukan dengan metode berpasangan (pairwise comparisons) untuk menentukan skala prioritas. Selanjutnya dilakukan tumpang susun (overlay) untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan. Hasil penelitian menunjukan luas total 5.028,3 ha dan dibagi dalam dua kelas yaitu sangat sesuai (S1) sebesar 141,7 ha (2,8 %); sesuai (S2) sebesar 4.886,6 ha (97,2 %).
Vegetation dynamics of Sangkub watershed in North Sulawesi Province indicated by NDVI of Landsat data Veybi Djoharam; Widiatmaka Widiatmaka; Marimin Marimin; Dyah Retno Panuju; Suria Darma Tarigan
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2022.101.3991

Abstract

Vegetation can be an important indicator of ecosystem change, the influence of anthropogenic and non-anthropogenic factors. Therefore, it is important to study the dynamics of vegetation changes. One technique that can be used for vegetation analysis is the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). NDVI is an indicator of the active biomass that helps distinguish vegetation from other land cover and can provide information about changes in Spatio-temporal vegetation dynamics, thus allowing for assessment of the ecological conditions. This study aimed to investigate the dynamic of vegetation in the Sangkub watershed area located in North Sulawesi Province. This analysis used geospatial technology with the NDVI method, utilizing Landsat 5 and Landsat 8 satellite imagery data in three periods the year 2000, 2015, and 2020. The results showed that vegetation cover of the Sangkub watershed decreased substantially, whereas the non-vegetated area increased gradually over time.
Skenario Lahan Pertanian Terlantar di Kabupaten Karawang Arief Samad; Widiatmaka; Irman Hermadi
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 4 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.4.622-632

Abstract

The land plays a significant role in world life to continue its journey and fulfill living things’ needs. However, there is a noticeable increasing trend in farmland abandonment, directly affecting farmers’ livelihood and food security (Paudel et al. 2020). Remote sensing analysis reported that all the districts and subdistricts in Karawang Regency have abandoned land with varying numbers and more distributed more intensely in the hub of the region. The study has discovered that the total number of farmland abandonment is 28 times of the Central Beauaru Statistics has claimed. 75% producer accuracy, terminology, minimum unit data collected, land ownership, and the ability of remote sensing to read all earth reflectan are the possible answer to the disparity. Machine learning informed that the top three essential variables are the irrigation service, the hillside, and the spatial plan that drives farmland abandonment. Thus, developing a new irrigation service to access the remote farmland and reviewing the spatial that have more flavor to the agriculture are the scenario proposed by this study, while the hillside remains a constraint.
Pemetaan Perubahan Lahan Sawah Kabupaten Sukabumi Menggunakan Google Earth Engine Widia Siska; Widiatmaka Widiatmaka; Yudi Setiawan; Setyono Hari Adi
TATALOKA Vol 24, No 1 (2022): Volume 24 No. 1, February 2022
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.24.1.74-83

Abstract

Google Earth Engine (GEE) merupakan layanan pemrosesan geospasial yang telah banyak digunakan di berbagai bidang pemetaan. Tujuan penelitian ini adalah  identifikasi perubahan lahan sawah Kabupaten Sukabumi menggunakan GEE. Data citra landsat 5 dan landsat 8 yang digunakan di GEE merupakan data citra yang telah di pre-process dan terkoreksi. Klasifikasi penggunaan/tutupan lahan dibedakan menjadi 6 kelas yaitu sawah, badan air, pemukiman, bervegetasi, hutan dan tanah terbuka. Sampel acak penggunaan lahan dibuat sebanyak 394 titik di GEE menggunakan poin dan rectangular. Klasifikasi penggunaan lahan dianilisis menggunakan metode Random Forest (RF). Penilaian akurasi dihitung menggunakan confusion Matrix, sedangkan validasi lapang dilakukan dengan menggunakan metode stratified random sampling.  Uji akurasi analisis tutupan lahan tahun 2020 dengan confusion Matrix menghasilkan nilai Overall Accuracy (OA) 0,94 dan nilai kappa  0,91; tahun 2015 dengan nilai OA 0,93 dan nilai Kappa 0,91; sedangkan tahun 2010 memiliki nilai OA 0.96 dan nilai Kappa 0.94. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa luas lahan sawah Kabupaten Sukabumi mengalami penyusutan seluas 10,317.27  ha dalam kurun waktu sepuluh tahun (2010-2020). Klasifikasi penggunaan lahan menggunakan GEE dapat menghasilkan peta dengan akurasi tinggi dengan OA >85%, serta dapat mempersingkat waktu analisis.
SUBAK SEBAGAI BENTENG KONSERVASI PERADABAN BALI I Made Geria; Sumardjo; Surjono H. Sutjahjo; Widiatmaka; Rachman Kurniawan
AMERTA Vol. 37 No. 1 (2019)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Subak as Bali Civilization Fortress. The degradation of nature has potential to weaken the harmony between humans and their environment in a number of subak. Subak culture is only effective at the level of the superstructure, but the level of implementation is that subak have begun to be degraded due to land conversion, transfer of professions, poor economies, and young people who do not want to continue subak tradition. The purpose of this research is to see the existence of subak civilization then creates the policy strategy to develop Subak’s role as an ecological civilization tourism destination. The effectiveness method was used to see the existence of subak and AWOT Method as subak developing strategy to an ecoculture-tourism. Based on the results of effectiveness analysis and AWOT, it shows that subak culture as Bali civilization at the superstructure level is still exists and strong. However, at implementation level, there had been a weakening especially in urban areas. The implementation and preservation of the Sarbagita community based on the three components study was quite effective even for the superstructure component into a very effective category with an effectiveness value of 83.84%. So the components of the superstructure need to be maintained as a fortress of civilization in Sarbagita. However, the components of the social structure and infrastructure had quite low values, which are 59.55 percent and 50.32 percent respectively, which was included in the effective category but located in critical value. So it needs to improve level of social structure and infrastructure so that the three components of the subak civilization run effectively. Keywords: AWOT, subak civilization, effectiveness Abstrak. Degradasi alam berpotensi melemahkan harmonisasi antara manusia dan lingkungannya di sejumlah subak. Budaya subak hanya efektif pada tingkat suprastruktur, tetapi dalam implementasinya subak telah mulai terdegradasi karena konversi lahan, pengalihan profesi, ekonomi miskin, dan kaum muda yang tidak ingin melanjutkannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat keberadaan peradaban subak, kemudian strategi kebijakan dalam mengembangkan peran subak sebagai tujuan wisata peradaban ekologis. Metode efektivitas digunakan untuk melihat keberadaan subak dan metode AWOT sebagai strategi pengembangan subak untuk wisata peradaban ekologi. Berdasarkan hasil analisis efektifitas dan AWOT menunjukkan bahwa budaya subak sebagai peradaban Bali di tingkat suprastruktur masih ada dan kuat. Namun, pada level implementasi telah terjadi pelemahan, terutama di daerah perkotaan. Pelaksanaan dan pelestarian masyarakat Sarbagita berdasarkan tiga komponen (sebutkan komponennya) yang diteliti efektif bahkan untuk komponen superstruktur masuk kedalam kategori sangat efektif dengan nilai efektivitas sebesar 83.84%. Sehingga komponen superstruktur perlu dipertahankan sebagai benteng peradaban di Sarbagita. Namun untuk komponen struktur sosial dan infrastruktur mempunyai nilai cukup rendah yaitu berturut-turut 59.55 persen dan 50.32 persen yang termasuk dalam kategori efektif tetapi berada pada titik kritis. Sehingga perlu dilakukan perbaikan pada tataran struktur sosial dan infrastruktur agar ketiga komponen peradaban subak berjalan efektif. Kata Kunci: AWOT, peradaban subak, efektivitas
Food Crop Land Allocation: Integrating Land Suitability Analysis and Spatial Forestry, Study Case Katingan, Indonesia Ramdhani; Widiatmaka; Trisasongko, Bambang Hendro
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 29 No. 3 (2023)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7226/jtfm.29.3.187

Abstract

The Indonesian government strives to expand agricultural lands, primarily beyond Java, through food estate programs. However, there has been a strong likelihood that this endeavor might intersect with forests and forest designation areas. This study aims to determine land suitability and its potential allocation for food crops at the interface of forestry and agriculture in Katingan District. Paddy (Oryza sativa L) and sorghum (Sorghum bicolor L) were selected as the crop species being analyzed, employing a coupling of the analytical hierarchy process and GIS. Forest area designation and land cover maps were incorporated into land allocation scenarios. The results showed that there were 74.254 ha in the "highly suitable" (S1) class and 130.634 ha in the "moderately suitable" (S2) class for paddy. However, after applying the scenario, they decreased by 4% and 12%, respectively. Sorghum has S1 and S2 areas of 108.956 ha and 377.493 ha, which declined by 15% and 14%, respectively, after scenario. Based on the allocation scenario, we found potential deforestation of 67 thousand ha for paddy and 205 thousand ha for sorghum, respectively. We highlighted convertible production forests (HPK) and production forests (HP) as having considerable potential for the allocation of land for food production.
KEBIJAKAN MENUJU KEMANDIRIAN BERAS, KASUS DI KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH Widiatmaka, Widiatmaka; Machfud, Machfud; Ambarwulan, Wiwin; Bondansari, Bondansari; Munibah, Khursatul
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 11 No 1 (2024): April
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) dan Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v11i1.53470

Abstract

Upaya menuju kemandirian beras menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pangan pada negara lain, namun ini merupakan tantangan yang berat. Kebutuhan lahan untuk pembangunan menyebabkan berkurangnya lahan pertanian. Kebijakan perlindungan lahan sawah yang ada dan peningkatan produksi padi menjadi sangat strategis dalam sistem pangan, karena mencetak lahan pangan baru dihadapkan pada berbagai kendala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peraturan Bupati tentang RTRW Kabupaten Banyumas 2011-2031 tidak mampu sepenuhnya mencegah konversi lahan sawah. Konversi lahan sawah ini menyebabkan pasokan beras domestik semakin menurun dan kemandirian beras di Kabupaten Banyumas diperkirakan hanya sampai tahun 2029. Kesinambungan implementasi antar variabel penting, menjadi kunci tercapainya tujuan sistem, yaitu: 1) penetapan Peraturan Bupati tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), 2) penetapan skema insentif perlindungan lahan, 3) membangun database spasial lahan sawah secara detail, dan 4) pengembangan akses air irigasi menjadi variabel yang harus dijalankan pada tahap awal sebagai prioritas pertama, kemudian tahap berikutnya pemberdayaan kelompok tani prioritas kedua, dan peningkatan produktivitas tanaman padi sebagai tahan selanjutnya. Aktor yang menjadi kunci penggerak sistem, yaitu Bupati beserta dinas terkait (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Bappeda Litbang, Dinas Pekerjaan Umum Bidang Pengairan, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman), DPRD, ATR/BPN.
DESAIN REGULASI SPASIAL LANSKAP LAHAN PERTANIAN UNTUK KEMANDIRIAN PANGAN KABUPATEN MAJALENGKA HINGGA TAHUN 2045 Widiatmaka, Widiatmaka; Munibah, Khursatul; Firmansyah , Irman; Adrian, Adrian
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 11 No 2 (2024): Agustus
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) dan Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v11i2.56379

Abstract

Konversi lahan pertanian menjadi lahan terbangun merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produksi padi di Kabupaten Majalengka dan Provinsi Jawa Barat. Sektor pertanian masih memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi lokal yang ditunjukkan dengan PDRB sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berada di urutan kedua setelah industri pengolahan. Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2011 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Majalengka 2011-2031 menetapkan luasan lahan pertanian pangan berkelanjutan minimal 39.190 ha. Namun, jumlah tersebut berkurang menjadi 30.966 ha dengan adanya Keputusan Bupati Majalengka Nomor 520/KEP.1279-DKP3/2021 tentang Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Untuk mengatasi dampak negatif dari pengurangan luasan lahan, perlu formulasi kebijakan yang mendukung pelestarian lahan pertanian dan penerapan praktik pertanian berkelanjutan oleh pemerintah daerah dan stakeholder terkait. Upaya ini bertujuan untuk mempertahankan luas lahan pertanian pangan dalam kerangka mewujudkan kemandirian pangan Kabupaten Majalengka. Studi yang dilakukan menunjukkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan (beras) hingga tahun 2045 sesuai arah Pembangunan RPJPN, diperlukan luasan lahan sawah dilindungi sebesar 48.235 ha dengan jumlah surplus beras sebesar 4.037 ton.
Pola Spasial Perubahan Tutupan Lahan/Penggunaan Lahan Menggunakan Google Earth Engine di Kabupaten Majalengka Adrian, Adrian; Widiatmaka, Widiatmaka; Munibah, Khursatul; Firmansyah, Irman
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 19, No 4 (2023): JPWK Volume 19 No. 4 December 2023
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v19i4.46254

Abstract

Pembangunan fisik di suatu wilayah memerlukan lahan, seperti sektor perumahan, pertanian, industri, pertambangan, serta transportasi. Pertambahan jumlah penduduk akan berimplikasi terhadap meningkatkan kebutuhan akan ruang yang menyebabkan perubahan Land Use Land Cover (LULC) di suatu wilayah. Kabupaten Majalengka merupakan bagian dari pengembangan Kawasan Segitiga Rebana (Cirebon-Patimban-Kertajati) yang telah direncanakan dan ditetapkan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis LULC perubahan di Kabupaten Majalengka (2011-2021) menggunakan data citra Sentinel 2A selama 10 tahun (2011-2021) diperoleh dari Google Earth Engine (GEE). Klasifikasi LULC menggunakan machine learning dengan pendekatan random forest dipadu dengan Analisa Normalized Difference Built-Up Index (NDBI), Normalized Difference Water Index (NDWI) dan peta lahan baku sawah untuk menghasilkan peta tutupan lahan.  Hasil pengolahan citra yang menghasilkan peta penggunaan lahan menggunakan alogaritma smile-Random Forest pada platform GEE dipadu dengan Analisa NDWI dan NDBI mengahasilkan peta tutupan lahan yang akurat dengan nilai OA sebesar 98.81% dan kappa sebesar 95.91%. Penurunan luasan lahan pertanian (sawah, ladang) di Kabupaten Majalengka mengalami penyusutan seluas 4457,36 ha dalam kurun waktu sepuluh tahun (2011-2021). Kelebihan Platform GEE dimana menyediakan akses cepat dan mudah ke berbagai data citra satelit tanpa harus mengunduh atau menyimpan data secara lokal.
Arahan Penggunaan Lahan untuk Perkebunan Tebu Rakyat Berkelanjutan di Provinsi Jawa Timur Artikanur, Salis Deris; Widiatmaka, Widiatmaka; Setiawan, Yudi; Marimin, Marimin
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 6 No 1 (2024): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0601.759-765

Abstract

Zona pengembangan perkebunan di Provinsi Jawa Timur perlu lebih didetailkan untuk setiap komoditas dengan memperhatikan kesesuaian dan ketersediaan lahan serta aspek keberlanjutan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, zona pengembangan untuk perkebunan tebu rakyat di Jawa Timur dapat mengacu pada arahan penggunaan lahan untuk perkebunan tebu rakyat berkelanjutan yang terdiri dari aspek spasial yaitu Rencana Penggunaan Lahan (RPL) dan strategi kebijakan prioritas. Rencana penggunaan lahan terdiri dari RPL1 (11 kabupaten), RPL2 (13 kabupaten/kota), dan RPL3 (11 kabupaten/kota) dengan luasan sebesar 223.199,24 ha (4,65%). Rencana penggunaan lahan ini telah memperhatikan kesesuaian dan ketersediaan lahan dan beberapa aspek keberlanjutan antara lain sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan. Lahan yang termasuk ke dalam RPL kurang dari 5% sehingga penggunaan lahan untuk perkebunan tebu rakyat di Jawa Timur dapat lebih difokuskan pada upaya intensifikasi dan konservasi supaya lahan perkebunan tebu tidak dikonversi menjadi penggunaan lahan yang lain. Penguatan kelembagaan dan kemudahan akses modal menjadi prioritas utama dalam strategi kebijakan untuk perkebunan tebu rakyat berkelanjutan di Jawa Timur karena kelembagaan yang kuat dapat menjadi jembatan bagi petani tebu rakyat untuk mendapatkan manfaat dari program pemerintah maupun swasta seperti bantuan modal, subsidi pupuk, subsidi bibit, penyuluhan, hingga insentif harga.
Co-Authors - Bondansari A M Fuah A. M. Fuah, A. M. A.A. Ketut Agung Cahyawan W Aceng Hidayat Achmad Yamani Adil, Adityawarman Adrian Adrian Agus, Fahmuddin Akhmad Mediranto Alwan Rafiuddin Aminah, Mimin Anas Miftah Fauzi Andi Massoeang Abdillah Ardiansyah Muhamad Arief Samad Arifin, Hadi S Artikanur, Salis Deris Asdar Iswati Asep Anwar Nugraha Asep Sapei Asnath Maria Fuah, Asnath Maria Astiana Sastiono Atang Sutandi Auliya, Izhar B. Pramudya Baba Barus Bambang Hendro Trisasongko Bambang Pramudya Bambang Pramudya Bambang Setio Budianto Benar Darius Ginting Soeka, Benar Darius Ginting Benar Darius Ginting-Soeka Bintoro, Mochamad H Boedi Tjahjono Bondansari Bondansari, Bondansari Budi Hadi Narendra Budi Mulyanto Budi Susetyo Cece Sumantri Cecep Kusmana Chaida Chairunnisa Chandrasa E Sjamsudin Daniel Djokosetiyanto Dharma Agustinus Sirait Didik Suharjito Didit Okta Pribadi Dudung Darusman Dwi Putro Tejo Baskoro Dyah R Panuju Dyah Retno Panuju Dyah Retno Panuju Eka Intan Kumala Putri Eko Wahyudi Budhi Utomo ELLYA REVOLINA, ELLYA Ema Suhaema Endang Hilmi Endang Suhendang Ermawaty - Maradhy Ernan Rustiadi Erni Johan Fahri Setiawan Fahrizal Kreshna Yudichandra Fatmawaty Fatmawaty, Fatmawaty Firmansyah , Irman Firyadi Firyadi Fransiscus Xaferius Herwirawan Hans Moravia Hartono, Arif Hefni Effendi Hendri Purnama Hermanu Widjaja, Hermanu Hotland Sihotang I Made Geria I Made Geria, I Made I Wayan Rusastra I Wayan Rusastra I Wayan Rusastra Irman Firmansyah Irman Firmansyah Irman Firmansyah Irman Firmansyah Irman Hermadi Irmansyah, Firman Iskandar Lubis Iswandi Umar Janthy T Hidayat Juwarin Pancawati, Juwarin K MURTILAKSONO Kadarwan Soewardi Kadarwan Soewardi Katili, Hidayat Arismunandar Kholil Kholil Khursatul Munibah Koeswara, Dieta Arbaranny Komarsa Gandasasmita Kristini, Wanda Kukuh Murtilaksono Kukuh Murtilaksono Kukuh Nirmala Kurniawan, Rachman Kurniawan, Rachman Lailan Syaufina Leonarda Sofiani Rame LILIK BUDIPRASETYO Lina Karlinasari M Ardiansyah, M M Hendrisman, M M S Engel M Yanuar J. Purwanto M. Bagus Pangestu M. Fedi Alfiadi Sondita M. Yanuar J. Purwanto M. Yanuar J. Purwanto M. Yanuar J. Purwanto M. Yanuar J. Purwanto Machfud Machfud Machfud Machfud Machfud Machfud Machfud Machfud Machfud Marenda Ishak S Marianus Komanik Keratorop Marimin , Marimin Marimin Marwan Hendrisman Meika Syahbana Rusli Meyliana Mey Lisanti Miranti Anisa Tejaningrum Mochammad Farkan Muflih, Rizaldi Muhammad Amir Solihin Muhammad Amir Solihin Muhammad Ardiansyah Muhammad Firmawan Muji Esti Wahyudi Mukhammad Najib, Mukhammad Murod, Mamun Nandi Kusmaryandi Naoto Matsue Nata Suharta Nazam M. nFN Machfud Nia Rachmawati Nurhalis Soentpiet Nurhayati H.S. Arifin Nurlailita . Nurul Amaliyah Tanjung Nurul Khumaida Nurwadjedi Nurwadjedi Nurwadjedi Nurwadjedi, Nurwadjedi Omo Rusdiana Paulus B.K. Santoso Pramudya, Bambang Prima Jiwa Osly Purwanto, Moh Yanuar Jarwadi Purwanto, Muhammad Yanuar J. Purwanto, Yanuar Jarwadi R. Sjarief Widjaja R.P. Santun Sitorus Rachman kurniawan Rachman, Noer F Rakhman Adhiatma Ramadhan, Risky Ramdhani Retno Panuju, Dyah Ridwan Adi Surya Rizal Syarief Nazriel Rudi P Tambunan Rudi P Tambunan, Rudi P Rusli Anwar S H Sutjahjo S H Sutjahjo S Kahono S Sabiham S Sabiham S. Sabiham S.D. Tarigan S.P. Mulia, S.P. Sahara Saida Saida Saida, Saida Saksono Raharjo Salatnaya, H. Salis Deris Artikanur Sambas Basuni Santun R. P. Sitorus Santun R.P. Sitorus Santun R.P. Sitorus Santun Risma Pandepotan Sitorus Sarwono Hardjowigeno Setiardi P. Mulya Setyardi Pratika Mulya, Setyardi Pratika Setyono Hari Adi Sigit Santosa Siti Nurisjah Sri Lestari Munajati, Sri Lestari Sudarsono Sudarsono Sudarsono Sudirman Yahya Sumardjo Supiandi Supiham Suprajaka Suprajaka Suprajaka Suprajaka Suratman, Suratman Suria Darma Tarigan Surjono H. Sutjahjo Surjono H. Sutjahjo Surjono Hadi Sutjahjo Suwardi Suwardi Suwarli . Suwarno Suwarno Syaifuddin, Zubair Syaiful Anwar Syamsul Arifin Syarif Budhiman Syarif, Rizal Syartinilia . Taryono Taryono Teti Arabia Tivianton, Tommy Andryan Untung Sudadi Varian Triantomo Veybi Djoharam Veybi Djoharam Wening Sri Wulandari Widia Siska Winny Dian Wibawa Wiwik Yuniarti Wiwin Ambarwulan Wiwin Ambarwulan Wiwin Ambarwulan Wiwin Ambarwulan Wiwin Ambarwulan Wiwin Ambarwulan Wiwin Ambarwulan Wiwin Ambarwulan Ambarwulan Wuri Cahyaningrum Wuri Cahyaningrum, Wuri Yudi Setiawan Yudi Setiawan Yunandar Yunandar Yuniar, P. S. Yusanto A Nugroho Yusanto A Nugroho, Yusanto A Yuwono, Probo Zaenal Abidin