Claim Missing Document
Check
Articles

Environmental Health Risk Analysis of Exposure Carbon Monoxide (CO) on Traders in Manado City Self-Service Jumbo Area Sualang, Daniel Y; Sumampouw, Oksfriani Jufri; Sondakh, Ricky C
Asian Journal of Environmental Research Vol. 3 No. 1 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/ajer.v3i1.619

Abstract

Background: Motor vehicle activity in shopping mall areas is a primary source of carbon monoxide (CO) emissions, posing a potential long-term health risk for workers with sustained exposure. This study aimed to conduct an environmental health risk assessment of CO exposure for traders operating in the Jumbo Supermarket Area of Manado City. Methods: An observational study with a quantitative approach was conducted in July-August 2025. Ambient air CO concentration was measured in real-time using a CO meter at three location points, with purposive sampling of 30 traders. Respondent characteristics, including exposure parameters, were collected via questionnaire. Health risk analysis was performed by calculating the Average Daily Dose (ADD) and Risk Quotient (RQ), following the US EPA (2022) guidelines, where an RQ > 1 indicates an unacceptable non-carcinogenic risk. Results: The mean ambient CO concentration was 1,591.89 µg/m³, which is significantly below the national air quality standard (10,000 µg/m³) set by Indonesian Minister of Health Regulation No. 02 of 2023. The risk assessment yielded average RQ values of 8.38 x 10⁻⁵ for real-time exposure and 1.23 x 10⁻⁵ for lifetime exposure. All calculated RQ values were substantially below the safety threshold of 1. Conclusion: Current CO concentrations in the study area do not exceed regulatory standards and do not pose an unacceptable non-carcinogenic health risk to traders. However, implementing periodic air quality monitoring is recommended to ensure the continued protection of worker health in this environment.
The Correlation Between Housing Density and House Ventilation Area and the Incidence of Acute Respiratory Tract Infections in Toddlers in Tuminting Sub-District, Manado City Andolo, Winiarti M.; Joseph, Woodford B S.; Sumampouw, Oksfriani Jufri
Asian Journal of Environmental Research Vol. 3 No. 1 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/ajer.v3i1.620

Abstract

Background: Acute Respiratory Infections (ARI) remain the primary cause of morbidity among children under five in Indonesia, with the domestic physical environment being a significant determinant. Surveillance data from the Tuminting Health Center (2025) indicates an exceptionally high prevalence of ARI (79.0%) in toddlers within Tuminting District, Manado City. Objective: This study aimed to analyze the association between residential occupancy density and house ventilation area with the incidence of ARI in toddlers in this high-prevalence region. Methods: A cross-sectional study was conducted from July to November 2025. A purposive sample of 62 toddlers was enrolled. Primary data were collected via questionnaires, direct observation, and physical measurements of dwellings using a roller meter. Univariate analysis described variable characteristics, and the Fisher's Exact test was employed for bivariate analysis with a significance level of p < 0.05. Results: The majority of households had non-compliant occupancy density (83.9%), while most had adequate ventilation area (91.9%). The ARI prevalence was 79.0%. Bivariate analysis revealed a statistically significant association between high occupancy density and ARI incidence (p-value = 0.004). In contrast, no significant relationship was found between ventilation area and ARI (p-value = 0.280). Conclusion: Occupancy density is the dominant environmental risk factor contributing to the high incidence of ARI in toddlers in Tuminting District. These findings underscore that public health interventions must extend beyond improving physical housing quality (e.g., ventilation) to actively address overcrowding through healthy housing policies and targeted community education.
Efektivitas Edukasi Berbasis Health Belief Model terhadap Pengetahuan dan Sikap Tenaga Kesehatan dalam Pencegahan Infeksi Tuberkulosis Priscilia, Lumataw Fransisca; Kaseke, Martha Marie; Wahongan, Greta; Tuda, Josef Sem Berth; Sumampouw, Oksfriani Jufri
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 6 (2025): Desember 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i6.2503

Abstract

Indonesia menempati peringkat kedua kasus Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia, dengan risiko penularan yang signifikan di fasilitas pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan merupakan kelompok berisiko tinggi sehingga penguatan pengetahuan dan sikap pencegahan menjadi sangat penting. Pendekatan edukasi berbasis Health Belief Model (HBM) berpotensi meningkatkan pemahaman dan motivasi tenaga kesehatan dalam menerapkan perilaku pencegahan TB. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas edukasi berbasis Health Belief Model terhadap pengetahuan dan sikap tenaga kesehatan mengenai pencegahan penularan Tuberkulosis Paru di RSUD Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan desain true experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group. Sebanyak 60 tenaga kesehatan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol melalui simple random sampling. Intervensi edukasi berbasis HBM dilaksanakan dalam tiga sesi terstruktur. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test, N-Gain score, dan ANCOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan pengetahuan dan sikap yang signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna. Edukasi berbasis HBM terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas kognitif dan afektif tenaga kesehatan terkait pencegahan penularan TB Paru. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi berbasis teori perilaku perlu diintegrasikan secara sistematis dalam kebijakan promosi dan pencegahan TB di fasilitas pelayanan kesehatan guna memperkuat kepatuhan tenaga kesehatan dan menurunkan risiko penularan nosokomial.
Tantangan Ketersediaan Dokter Spesialis dan Dampaknya terhadap Efektivitas Sistem Rujukan di Rumah Sakit Tipe D: Studi Kualitatif di Indonesia Siwi, Imelda Maria; Wariki, Windy Mariane Virenia; Manoppo, Jonesius Eden; Kaunang, Wulan Pingkan Julia; Sumampouw, Oksfriani Jufri
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 6 (2025): Desember 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i6.2519

Abstract

Ketersediaan dokter spesialis merupakan determinan penting dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan dan efektivitas sistem rujukan berjenjang, khususnya pada rumah sakit tipe D. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketersediaan dokter spesialis, mengidentifikasi tantangan pemenuhannya, serta menilai dampak keterbatasan dokter spesialis terhadap efektivitas sistem rujukan pasien di RSU GMIM Tonsea Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive sampling dan melibatkan 7 informan, terdiri atas unsur manajemen rumah sakit, tenaga kesehatan (dokter umum, dokter spesialis, dan perawat), serta pasien rujukan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen rumah sakit periode Januari–September 2025. Analisis data dilakukan secara tematik dengan menjaga validitas melalui triangulasi sumber dan metode, serta konfirmasi temuan utama (member checking). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan dokter spesialis masih terbatas dari sisi jumlah dan keragaman spesialisasi, sehingga mendorong rujukan dini, menurunkan kontinuitas pelayanan spesialistik, dan meningkatkan beban sosial ekonomi pasien. Studi ini menegaskan perlunya penguatan kebijakan rekrutmen dan retensi dokter spesialis serta optimalisasi sistem rujukan regional berbasis kebutuhan lokal.
Iklim Kerja di PT Pelindo Terminal Petikemas TPK Bitung: Implikasi Terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja Chasy Ester Mandalika; Oksfriani Jufri Sumampouw; Afnal Asrifuddin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1304

Abstract

Work climate, particularly high ambient temperatures, significantly affects workers’ health and productivity. Extreme heat exposure may increase the risk of health issues, including cardiovascular diseases. This study aimed to assess the work climate conditions at PT Pelindo Terminal Petikemas TPK Bitung and evaluate the potential health risks for workers. This was a descriptive study using a quantitative approach. The variable measured was work climate, assessed using a Heat Stress Monitor during daytime shifts (08:20–19:40 WITA) with measurements taken every 40 minutes. Univariate analysis was used to describe the distribution of temperature parameters. The average work climate temperature was 29°C, with a minimum of 26°C and a maximum of 35.5°C. Based on the Indonesian Ministry of Manpower Regulation No. 5 of 2018, a Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) of 29°C is within the safe threshold for light to moderate workloads but may exceed the Threshold Limit Value (TLV) under heavy physical exertion, especially under direct sunlight. The work climate at PT Pelindo Terminal Petikemas TPK Bitung presents varying levels of occupational health risk depending on the intensity and type of work performed. Preventive interventions are necessary to reduce the risk of heat stress.
Heat Strain pada Tenaga Kerja Bongkar Muat di Pelabuhan Kota Manado Yekaterina Sipa Danduru; Oksfriani Jufri Sumampouw; Fima Lanra Fredrik G. Langi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1305

Abstract

Workers who are exposed to high temperatures while working indoors with hot environments or working outdoors with hot weather are conditions that have the potential to cause danger. One of the jobs that is directly exposed to the sun is the Loading and Unloading Workers (TKBM) at the port. Loading and unloading activities carried out under direct sunlight can increase the risk of heat strain. This study aims to determine the description of heat strain in TKBM at the Manado City Port. The study used a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. The sample in this study were all TKBM who were present and willing to be respondents with a total of 126 workers. Age data was obtained through interviews, pulse rate was measured using a pulse oximeter and heat strain was calculated using the Physiological Strain Index (PSI) which is based on body temperature and pulse rate measurements before and during work. Based on the results of the study, the average value of heat strain was 3.186 with a minimum value of 1.1 and a maximum of 5.4. Therefore, it can be concluded that TKBM at Manado City Port experienced an increase in heart rate and body temperature during loading and unloading activities, which reflects the presence of heat strain in most workers.
Iklim Kerja Di PT Pelindo Terminal Petikemas TPK Bitung: Implikasi Terhadap Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Chasy Mandalika; Oksfriani Jufri Sumampouw; Afnal Asrifuddin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1309

Abstract

Iklim kerja, khususnya suhu tinggi, berpengaruh signifikan terhadap kesehatan dan produktivitas pekerja. Paparan panas yang ekstrem dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi iklim kerja di PT Pelindo Terminal Petikemas TPK Bitung dan mengkaji potensi risikonya terhadap kesehatan pekerja. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Variabel yang dikaji adalah iklim kerja, yang diukur menggunakan Heat Stress Monitor selama shift siang (08.20–19.40 WITA) dengan interval pengukuran setiap 40 menit. Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi parameter suhu. Suhu rata-rata iklim kerja tercatat sebesar 29°C, dengan suhu minimum dan maksimum masing-masing 26°C dan 35,5°C. Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5 Tahun 2018, nilai Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) sebesar 29°C masih berada dalam batas aman untuk beban kerja ringan hingga sedang, namun dapat melebihi batas ambang bila dikaitkan dengan aktivitas kerja berat di bawah paparan sinar matahari langsung. Iklim kerja di PT Pelindo Terminal Petikemas TPK Bitung tergolong dalam kategori yang dapat berdampak pada kesehatan kerja, tergantung pada intensitas dan jenis aktivitas yang dilakukan. Intervensi preventif diperlukan untuk meminimalkan risiko stres panas.
HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PERAWAT DI RUANG UGD DAN RUANG RAWAT INAP DI RSU GMIM BETHESDA TOMOHON Montolalu, Mitha M. M.; Mantjoro, Eva M.; Sumampouw, Oksfriani J.
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.54308

Abstract

Kelelahan kerja tidak hanya dirasakan oleh para tenaga kerja yang bekerja dibidang industri, tetapi juga dibidang tenaga kesehatan merasakan hal serupa. Salah satu faktor yang diduga memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya burnout atau kelelahan adalah beban kerja atau workload. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada perawat di ruang UGD dan ruang rawat inap. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional study. Sampel penelitian berjumlah 61 responden dengan instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner NASA-TLX dan KAUPK2. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Hasil uji didapatkan p = 0,040 (<0,05) yang artinya terdapat hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada perawat di Ruang UGD dan Ruang Rawat Inap di RSU GMIM Bethesda Tomohon. Kesimpulan yang didapatkan yaitu adanya hubungan antara beban kerja dengan kelelahan kerja pada perawat di Ruang UGD dan Ruang Rawat Inap di RSU GMIM Bethesda Tomohon.
Implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Puskesmas: Studi Kualitatif di Puskesmas Kotabunan, Indonesia Abdul, Nurul Suciyanti; Posangi, Jimmy; Doda, Diana Vanda D.; Kristanto, Erwin Gidion; Sumampouw, Oksfriani Jufri
Jurnal Promotif Preventif Vol 9 No 1 (2026): Februari 2026: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v9i1.2581

Abstract

Penerapan sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di puskesmas sangat penting untuk memastikan keselamatan petugas kesehatan dan pasien. Studi ini bertujuan untuk menganalisis penerapan sistem manajemen K3 di Puskesmas Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Studi deskriptif kualitatif dilakukan dari November hingga Desember 2025. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan tinjauan dokumen yang melibatkan lima informan yang dipilih secara purposif, termasuk kepala puskesmas, kepala administrasi, koordinator mutu dan keselamatan, dokter, dan perawat. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puskesmas telah membentuk tim K3 dan menerapkan beberapa komponen sistem manajemen K3, termasuk kebijakan, identifikasi bahaya, pengendalian risiko, dan ketersediaan alat pelindung diri. Namun, beberapa kelemahan teridentifikasi, seperti tidak adanya anggaran K3 khusus, kurangnya personel K3 bersertifikat, tidak adanya prosedur formal untuk pelaporan kecelakaan kerja, dan mekanisme pemantauan dan evaluasi yang terbatas. Studi ini menyimpulkan bahwa implementasi sistem manajemen K3 telah dimulai tetapi belum optimal. Penguatan komitmen kelembagaan, penyediaan pelatihan berkala, dan peningkatan mekanisme pemantauan dan evaluasi direkomendasikan untuk meningkatkan implementasi K3.
HOT WORK CLIMATE AS AN OCCUPATIONAL ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSOCIATED WITH FATIGUE AMONG PARKING TICKET ATTENDANTS IN MEGAMAS AREA, MANADO Sunkudon, Thesalonika Elisabeth Loucianna; Sumampouw, Oksfriani Jufri; Danes, Vennetia Ryckerens
International Journal of Multidisciplinary Reseach Vol. 2 No. 2 (2026): April
Publisher : International Journal of Multidisciplinary Reseach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Work fatigue is an important problem in occupational health that can decrease productivity and increase the risk of work errors. One of the factors that plays a role is the hot work climate, especially in semi-enclosed workspaces with limited ventilation. This study aims to analyze the relationship between hot work climate and work fatigue in parking ticket officers in the Manado Megamas Area. The study used an analytical quantitative design with a cross-sectional approach on 63 respondents. Hot work climate was measured using a heat stress monitor (WBGT), while work fatigue was measured using the KAUPK2 questionnaire. Data analysis was carried out univariate and bivariate using the Pearson correlation test. The results showed that most respondents experienced moderate fatigue (57.1%) and the highest exposure to the hot work climate was found in the morning shift (29.8°C). There was a significant association between hot work climate and work fatigue (p = 0.001; r = 0.401), with moderate correlation strength. The study shows that even though heat exposure is still below the threshold value, working environment conditions still contribute to worker fatigue. Therefore, it is necessary to control the working environment through ventilation improvements, the provision of local cooling, and adaptive work-break arrangements.
Co-Authors Aaltje Ellen Manampiring Abdul, Nurul Suciyanti Adam, Jeanne d’arc Zafera Afnal Asrifuddin Andolo, Winiarti M. Anisa T Lubis Anneke Tahulending Arlin Debora Tongkotou Awuy, Stiffany Clara Bawole, Belliani B. Blessy Ezra Dompas Boky, Harvani B. Bryan Rawung Budi Tamardy Ratag Butarbutar, Risca Natalia Cahya Kamila Sugiarta Chasy Ester Mandalika Chasy Mandalika Cicilia Pali Cindy Meisy Kairupan Dajoh, Ireine Norma Danes, Vennetia Ryckerens Diane M. Tengker Doda, Diana V.D. Duhupo, Dewinta Dwi Istanti Elshaday Mangembulude Ester, Sangian Farikah, Tetris Ferika Sumerah Fima Lanra Fredrik G. Langi Fince L. Sambeka Fione, Vega Roosa Gebby Gabriele Tania Walujo Gidion Kolondam Greta Wahongan Harvani Boky, Harvani Henry Palandeng Hitipeuw, Michelle Regina Christanty I Ketut Harapan Jacobs, Rivald Semuel Jeana Lydia Maramis Jeanne d’arc Zafera Adam Jeanne d’Arc Zafera Adam Jeineke Ellen Ratuela Jeineke Ellen Ratuela Jimmy Posangi Jonesius Eden Manopo Jootje M. L. Umboh Jootje M.L. Umboh Jootje M.L. Umboh Jos Narande Josefien Rolita Tiwow Josep, Woodford h B. S. Joseph, Woodford B S. Joseph, Woodford Baren Soleiman Juergen Geovane Rambing Jusuf Ondang Kaparang, Leticia Wulandari Kasenda, Jeniffer Febriyanti Kaunang, Wulan P.J Kawatu, Paul A.T Kesek, Mutiara Kolibu, Febi K. Kristanto, Erwin Gidion Kuhon, Frelly Valentino Laura Wulandary Kaeng Lidya Streisand Leiwakabessy Linoe, Ribka Gloria Logor, Fione Vesty Lombogia, Orianly Lowing, Van Grayen Lumantow, Marfil Lumi, Christi Natalia Maddusa, Sri Seprianto Mamusung, Nicia Indira Manayang, Yubilarisa Mandas, Grifith Vanesa Mantjoro, Eva M. Maramis, Franckie R.R. Maramis, Jeana Lydia Maria Sophia Muaja Martha Marie Kaseke Mondoringin, Dyna C. Montolalu, Mitha M. M. Musa, Ester Candrawati Musfanto, Cheren P. Mutiara Kesek Nelwan, Ester Jeini Ni Wayan Dimkatni Nova Hellen Kapantow Novarita M. Koch Novie Homenta Rampengan Oddi R Pinontoan Odi Roni Pinontoan Odi Roni Pinontoan Odi Roni Pinontoan Pangau, Rianne Rollin Pangerapan, Sinthia Brigyta Pasolang, Gloriya Bida Paul A. T. Kawatu, Paul A. T. Paul A.T. Kawatu Pinontoan, Odi Pinontoan, Odi Roni Pinontoan, Odie Roni Pola, Priska Karla Ponga, Fine Claudia Pontororing, Maria E.I Priscilia, Lumataw Fransisca Punusingon, Axel Brayen Rabia Ani Ohoirat Rahayu H. Akili, Rahayu H. Rany, Pongkorung Desi Ratuela, Jeineke Ellen Ribka Elisabeth Wowor Ribka Gloria Linoe Ricky C. Sondakh Ronald Alexander Wenas Ronald Imanuel Ottay Ronald Immanuel Ottay Roya, Jisia Natasia Runtuwene, Kurviasni S. Sapulete, Ivonny Melinda Sapulete, Margareth Rosalinda Sapulete, Margaretha Rosalinda Sasiang, Evani Sekeon, Sekplin A.S Sekeon, Sekplin Steven Sindy Naomi Kasenda Siwi, Imelda Maria Sondakh, Ricky C Sopacua, Victoria Greimar Sri Seprianto Maddusa Sri Seprianto Maddusa Sualang, Daniel Y Sumual, Agatha E.G Sunkudon, Thesalonika Elisabeth Loucianna Syahlan, Vioni L. G. Syalom Mikha Tiwa Tahulending, Anneke A. Tangkilisan, Sharon Laurenzi Mariabie Ticoalu, Eliza Rolanda Ticoalu, Jansje Vera Tolondang, Andre Stif Trivena Mantow Tuda, Josef Sem Berth Vania Sartika Putri Lahinda Wariki, Windy M. V. Warouw, Finny Wenny Tilaar Wewengkang, Militia Christy Woodford B. S. Joseph Woodford B.S. Joseph, Woodford B.S. Wowor, Ribka Elisabeth Wulan Pingkan Julia Kaunang Yekaterina Sipa Danduru Yenni Wahani Yunus, Yasero Lazarus