p-Index From 2021 - 2026
4.176
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Buletin PSP Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Jurnal Komunikasi Pembangunan Jurnal Penyuluhan Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut MANAJEMEN IKM: Jurnal Manajemen Pengembangan Industri Kecil Menengah Jurnal Manajemen dan Agribisnis Farmaka KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian JAM : Jurnal Aplikasi Manajemen Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Journal of Rural Indonesia Indonesian Journal of Business and Entrepreneurship (IJBE) Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen (JABM) E-Journal Jurnal PIKOM (Penelitian Komunikasi dan Pembangunan) Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Jurnal Agribisnis Terpadu Albacore : Jurnal Penelitian Perikanan Laut Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Forest and Society Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Buletin Ilmiah Marina : Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Journal of Humanities and Social Studies JURNAL PANGAN Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jurnal Ekonomi dan Bisnis Terapan Jurnal Pustakawan Indonesia Journal Of Sustainability Perspectives Journal of Management, Accounting, General Finance and International Economic Issues (MARGINAL) Makara Human Behavior Studies in Asia Journal of Sustainability Perspectives Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Journal of Fisheries & Marine
Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Adaptasi Rumah Tangga Nelayan dalam Menghadapi Dampak Abrasi Annisa Wulandari; Mohamad Shohibuddin; Arif Satria
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v17i2.10364

Abstract

Kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim dapat memicu abrasi yang berdampak negatif pada kerentanan rumah tangga nelayan. Penelitian ini mengkaji tingkat kerentanan di antara rumah tangga nelayan dengan struktur nafkah berlainan dan hubungannya dengan strategi adaptasi yang diterapkan dalam menghadapi dampak abrasi. Kemampuan rumah tangga nelayan menerapkan berbagai strategi adaptasi diduga membuat mereka lebih mampu bertahan dalam menghadapi perubahan lingkungan. Untuk mengkaji hal ini, penelitian lapangan dilakukan pada satu komunitas pesisir di Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat. Data dikumpulkan melalui survei atas 34 responden dari rumah tangga terdampak abrasi yang dipilih dengan teknik proportional stratified random sampling dan diperkuat dengan observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan sejumlah informan.  Untuk melihat hubungan antarvariabel, secara statistik dilakukan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat kerentanan dan keragaman strategi adaptasi dengan arah hubungan negatif sebesar -0,508. Selanjutnya, terdapat hubungan signifikan antara struktur nafkah dan tingkat kerentanan dengan arah hubungan negatif sebesar -0,626 serta antara struktur nafkah dan tingkat keragaman strategi adaptasi dengan arah hubungan positif sebesar 0,682. Hal ini berarti makin tinggi tingkat kerentanan maka makin rendah tingkat keragaman strategi adaptasi, lantas makin beragam struktur nafkah maka makin rendah tingkat kerentanan dan makin tinggi tingkat keragaman strategi adaptasi. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar pemerintah melakukan upaya pencegahan abrasi yang akan menimbulkan kerentanan pada rumah tangga nelayan. Selain itu, pemerintah perlu mendorong diversifikasi mata pencaharian di antara rumah tangga nelayan dan dalam kaitan ini perlu membenahi tata ruang kawasan wisata bahari dan pengelolaannya secara inklusif agar manfaat ekonominya dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih merata..Title: Adaptation Strategies by Fishing Household toward the Impact of Coastal Erosion: A Case Study in West Pasaman Regency The rise of sea level as the impact of climate change may cause coastal erosion which will negatively induced vulnerabilities among fishing households. This study examines the level of vulnerability among fishing households having various livelihood structures and its relation to their adaptation strategies in dealing with the impacts of coastal erosion. It is assumed that the ability of the fishing households to exercise various adaptation strategies would make them more resilient in addressing environmental changes. To reveal this, a field work was carried out in a coastal community in West Pasaman Regency. Quantitative data was obtained through survey with 34 respondents, all of them are households affected by erosion, selected through proportional stratified random sampling technique, while qualitative data was obtained throuhg participant observations and in-depth interviews with several informants. To see the relation among variables statistically, this study uses Rank Spearman correlation test. The results of this study indicate that there is a significant relationship between level of vulnerability and variety of adaptation strategies with a negative value of -0,508. In addition, there is also a significant relationship between livelihood structure and level of vulnerability with a negative value of -0,626 and between livelihood structure and variety of adaptation strategies with a positive value of 0,682. These mean that the higher the level of vulnerability, the lower the variety of adaptation strategies; then, the more diverse the livelihood structure, the lower the level of vulnerability and the higher the variety of adaptation strategies. Based on these findings, it is recommended that the government should exercise some efforts to prevent coastal erosion which will create some vulnerabilities to fishers households. In addition, the government needs to encourage diversification of livelihoods among fishing households and in this regard, it is necessary to improve the spatial planning of marine tourism areas and their management in an inclusive manner so that the economic benefits can be felt by the community more evenly.. 
TRANSFORMASI PRANATA PATRONASE MASYARAKAT NELAYAN: DARI EKONOMI MORALITAS MENUJU EKONOMI PASAR -, Mirajiani; S.Wahyuni, Ekawati; Satria, Arif; -, Saharuddin; Kusumastanto, Tridoyo
Komunitas Vol 6, No 1 (2014): March 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v6i1.2950

Abstract

Masyarakat nelayan  mengalami transformasi sosial ekonomi akibat penetrasi pembangunan dan pasar. Transformasi sosial ekonomi yang terjadi membawa perubahan signifikan pranata ekonomi nelayan, karena nelayan harus mengkonstruksikan  pranata ekonomi baru yang dianggap dapat mempertahankan penghidupan nelayan pada kondisi survival dan sesuai dengan perubahan yang terjadi. Penelitian ini mendalami bagaimana  transformasi pranata patronase  yang terjadi dan keterkaitannya dengan keterjaminan ekonomi pada masyarakat nelayan di Pesisir  Ujung Kulon.  Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat nelayan di Pesisir Ujung Kulon mengalami transformasi pranata ekonomi dari patronase  berbasis moralitas menjadi berbasis norma ekonomi pasar. Di era ekonomi pasar, patronase  merupakan suatu alternatif pranata ekonomi nelayan yang dibangun  untuk tetap bertahan dengan situasi krisis dan ketidakpastian ekonomi serta mata pencaharian yang bersifat fluktuatif.  Ditinjau  dari keterjaminan ekonomi, pranata patronase moralitas di masa lalu lebih memberikan jaminan  ekonomi nelayan pada situasi krisis daripada pranata patronase berbasis norma ekonomi pasar.  Pada situasi di mana pranata patronase tidak bisa sepenuhnya berfungsi sebagai pranata jaminan ekonomi nelayan,  maka untuk tetap bertahan  pada situasi ekonomi yang kurang terjamin  nelayan mengandalkan relasi ekonomi alternatif yang disediakan pasar  di luar patronase. Fishing communities experiencing socio-economic transformation as a result of development and market penetration. Socio-economic transformation is followed by significant change in economic institutions, as fishermen have to construct a new economic institutions which are supposed to maintain the livelihood in survival conditions and in accordance with the changes. This research was to explore how economic institution transformation happens and its effect on  economic security in coastal fishing communities in Ujung Kulon. The method uses a qualitative approach and the type of research uses a case study research. Results of the research showed coastal fishing communities in Ujung Kulon transformed economic institutions of patronage based morality becomes the norm based market economy. In the era of market economy, patronage remains an alternative economic institutions built to survive the crisis and uncertainty and livelihood fluctuated. The fact is related to economic security, institutional patronage morality in the past to provide security over the fishing economy in crisis situations rather than norm -based patronage institutions of the market economy. In situations where the institution of patronage can not fully function as economic security institutions of fishermen, then to survive on less secure economic situation of fishermen rely on alternative economic relations are provided markets outside patronage
Mekanisme dan Kunci Keberhasilan Pengelolaan Kolaborasi Ekowisata Bahari di Kawasan Konservasi Raja Ampat Nuraini, Nuraini; Satria, Arif; Wahyuni, Ekawati Sri; Bengen, Dietriech Geoffrey
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v10i1.13054

Abstract

Tantangan pengembangan pariwisata di kawasan konservasi muncul ketika kepentingan pembangunan ekonomi tidak selaras dengan pembangunan ekologi. Raja Ampat memiliki keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi. Di sisi lain, keanekaragaman hayati tersebut menjadi potensi wisata yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat menetapkan Kawasan Perairan Raja Ampat sebagai zona semiintensif, yakni kawasan yang dirancang untuk menerima kunjungan wisatawan dalam skala kecil dengan aktivitas wisata yang terbatas. Kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam pemanfaatan potensi wisata diperlukan untuk menghindari berbagai konflik kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan mekanisme dan hubungan dinamis yang kompleks antarpemangku kepentingan dan mengungkapkan kunci keberhasilan pengelolaan kolaborasi ekowisata di kawasan konservasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di Kampung Wisata Arborek, Yenbuba dan Sawinggrai Kabupaten Raja Ampat pada bulan Oktober 2020. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif dan focus group discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pengelolaan kolaborasi dilakukan melalui sinergi peran antara pemerintah, masyarakat, LSM, akademisi, dan swasta mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dengan tipe konsultatif. Tipe konsultatif ini ditandai dengan adanya mekanisme dialog antara pemerintah dan masyarakat, tetapi pengambilan keputusan masih dilakukan oleh pemerintah. Kunci keberhasilan pengelolaan kolaborasi ekowisata di kawasan konservasi meliputi (1) koordinasi antarpemangku kepentingan; (2) keterlibatan masyarakat lokal; (3) kesadaran dan komitmen bersama; (4) aturan pengelolaan disepakati bersama; (5) pembentukan kebijakan sesuai dengan kondisi lokal; (6) adanya pembagian kekuasaan dan tanggung jawab; (7) adanya mekanisme penyelesaian konflik; dan (8) berlakunya sanksi. Title: Mechanism and Keys to Successful Collaboration Management of Marine Ecotourism in The Raja Ampat Conservation Area   The challenge of developing tourism in conservation area arises when the interests of economic development are not aligned with ecological development. Raja Ampat has a biodiversity that needs to be protected. On the other hand, this biodiversity is a tourism potential utilized for economic interests. The Raja Ampat Regency Government has designated the Raja Ampat Waters Area as a semi-intensive zone, namely an area designed to receive tourist visits on a smaller scale with limited tourist activities. Collaboration among stakeholders in utilizing tourism potential is required to avoid various conflicts of interest. This research aims to elucidated complex dynamic mechanisms and relationships between stakeholders and revealed the keys to successful collaborative ecotourism management in conservation areas. This research used a qualitative approach with a case study method. Research was conducted in Arborek, Yenbuba, and Sawinggrai Tourism Villages, Raja Ampat Regency in October 2020. Data was collected through in-depth interviews, participatory observation, and focus group discussion. The study results showed that the mechanism collaborative management was carried out through the synergy of multi-party, namely government, communities, NGOs, academics, and the private sector, by forming a collaborative management strategy from planning to monitoring with a consultative type. This consultative type is characterized by the existence of a dialogue mechanism between the government and the community, but decision making is still carried out by the government. The keys to successful collaborative management of ecotourism in conservation areas include (1) coordination between stakeholders; (2) involvement of local communities; (3) awareness and commitment among stakeholders; (4) mutually agreed management rules; (5) local based policies and regulations; (6) a division of power and responsibility; (7) a conflict resolution mechanism; and (8) sanctions apply.
Evaluating the feasibility of oil palm agroforestry in Harapan Rainforest, Jambi, Indonesia Rahmani, Tabah Arif; Nurrochmat, Dodik Ridho; Hero, Yulius; Park, Mi Sun; Boer, Rizaldi; Satria, Arif
Forest and Society Vol. 5 No. 2 (2021): NOVEMBER
Publisher : Forestry Faculty, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/fs.v5i2.10375

Abstract

About 2.5 million hectares of a total of 15 million hectares of oil palm plantation in Indonesia are planted in, or conflict with, the forest zone. Oil palm plantations face a conflict between socio-economic and ecological issues. This study was conducted in the Harapan Rainforest, Jambi to evaluate the potential of oil palm-based agroforestry to reconcile economic and ecological interests, by considering socio-economic and financial feasibility as well as biodiversity and land cover. The financial feasibility of oil palm agroforestry is compared to oil palm monoculture, employing a discounted cash flow approach using three indicators: net present value (NPV), benefit-cost ratio (BCR), and internal rate of return (IRR). Two ecological indicators—biodiversity and land cover—are evaluated in an experimental plot of oil palm agroforestry in Jambi. This study indicates that the NPV, BCR, and IRR of oil palm monoculture are IDR 62,644,836 (US$ 4,476.84), 1.39, and 20.77%, respectively, while the oil palm agroforestry planted in the experimental plot potentially generates much better values of financial indicators with NPV, BCR, and IRR being IDR 209,221,212 (US$ 14,951.76), 1.79, and 24.42%, respectively.  Besides evaluating financial feasibility, we also found that the reviewed current studies indicate that the oil palm agroforestry provides positive ecological impacts, such as increased forest land cover, invertebrate fauna, and bird diversity.
Livelihood Diversity of Rural Communities Without Legal Access to Forest Resources: The Case of Kerinci Seblat National Park in Bengkulu Province Widiono, Septri; Wahyuni, Ekawati Sri; Kolopaking, Lala M.; Satria, Arif
Forest and Society Vol. 8 No. 1 (2024): JUNE
Publisher : Forestry Faculty, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/fs.v8i1.30947

Abstract

Kerinci Seblat National Park in Bengkulu, Indonesia, was gazetted by the Indonesian government, and its overlaps with forests occupied by most indigenous communities made their farming activities in the area illegal. People were prohibited from accessing and expanding their farming areas in the national park, threatening their livelihoods. The livelihood diversity index (LDI) and livelihood asset index (LAI) were used to explore the livelihood systems of these communities. This study also examines the effect of livelihood assets on livelihood diversity and analyzes livelihood strategy choices using Giddens’ structuration theory. A quantitative survey combined with in-depth interviews was conducted in two villages with different land types: wetlands (rice fields) and drylands (farmlands). This study found that the communities diversified their livelihoods into eight types of livelihood strategies. Almost all livelihood indicators were different, and the differences in livelihood asset indicators affected the LDI. As a process of structuration, communities have diversified their livelihoods into farm (e.g., annual and perennial crops), off-farm (e.g., farm wages), and non-farm (e.g., services and government transfer) activities. Rural households have modified their social and physical structures to secure their livelihoods by optimizing agricultural intensification technologies or by seeking non-agricultural income. Households decide whether to specialize or diversify their livelihoods based on factors such as the area of cultivated land, number of crops cultivated, distance of the farming location from the house, total household income, non-farm income, and reciprocal relationships.
Analisis Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Berbasis Co-Management. Kasus: Kadie Liya, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi Wibowo, Mochammad Faizal Arief; Satria, Arif
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.3.2.%p

Abstract

Co-management is an alternative model of coastal resources management requires multi-stakeholder integration and collaboration to maintain the sustainability of resources. This research aims to analyze implementation of Wakatobi collaborative coastal resource management and influence of internal and external factors to participation level of Liya community. This research is taking place on Kadie Liya, Wangi-Wangi Selatan district, Wakatobi. Method that used in this research is mix methods, combining qualitative and quantitative approach. Quantitative data analysis used simple linear regression test that tested to 45 respondents. The result of this research showed that implementation of Wakatobi collaborative coastal resource management has instructive type, both in decision making, implementation, monitoring and evaluation.  Generally, internal factors have no influence to Liya community level of participation. External factors have influence to community level of participation, especially in PAAP Kadie Liya program.Keywords: co-management, community participation, resources management, stakeholderABSTRAKCo-management merupakan sebuah model alternatif dari pengelolaan sumberdaya pesisir yang mensyaratkan adanya integrasi dan kolaborasi multipihak untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pengelolaan kolaboratif sumberdaya pesisir Wakatobi dan pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap tingkat partisipasi masyarakat Liya. Penelitian ini berlokasi di Kadie Liya, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mix methods, menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kuantitatif menggunakan uji regresi linear sederhana yang diujikan pada 45 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pengelolan kolaboratif sumberdaya pesisir Wakatobi memiliki tipe instructive baik dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Secara umum, faktor internal tidak memiliki pengaruh nyata terhadap tingkat partisipasi masyarakat Liya. Faktor eksternal berpengaruh nyata terhadap tingkat partisipasi masyarakat, khususnya dalam Program PAAP Kadie Liya.Kata kunci: co-management, pengelolaan sumberdaya, partisipasi masyarakat, stakeholder
Pengetahuan Lokal dan Keberlanjutan Pengelolaan Sumber Daya Ikan Sungai (Kasus: Lubuk Larangan di Nagari Barung-Barung Balantai Tengah, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat): Local Knowledge and the Sustainability of River Fish Management (Case: Lubuk Larangan in Central Barung-Barung Balantai Village, Koto XI Tarusan District, Pesisir Selatan Regency, West Sumatra Province) Masri , Rahmi Vivri; Satria, Arif; Purwandari , Heru
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 7 No. 2 (2023): Juli
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v7i2.1157

Abstract

Manusia sangat bergantung pada sumber daya alam seperti sungai sebagai penunjang kehidupan. Pemanfaatan yang berlebihan terhadap sumber daya sungai menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem mulai dari penurunan populasi ikan hingga pencemaran air. Lubuk Larangan merupakan salah satu bentuk pengetahuan lokal yang digunakan untuk menjaga dan melestarikan sumber daya ikan sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis unsur-unsur pengetahuan lokal yang tergambarkan dalam mekanisme transfer pengetahuan pada masyarakat di sekitar Lubuk Larangan, menganalisis mekanisme transfer pengetahuan yang digunakan untuk mendukung praktik pengelolaan Lubuk Larangan secara nyata, dan menganalisis tingkat keberlanjutan pengelolaan sumber daya ikan sungai di Lubuk Larangan melalui pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Teknik analisis data menggunakan uji regresi dan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur pengetahuan lokal berpengaruh terhadap mekanisme transfer pengetahuan. Sementara itu, terdapat pengaruh antara mekanisme transfer pengetahuan terhadap praktik pengelolaan Lubuk Larangan secara nyata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan lokal yang telah berhasil ditransfer ternyata dalam praktiknya belum benar-benar mampu dilaksanakan. Walaupun demikian, nilai indeks keberlanjutan pengelolaannya tergolong cukup baik yang mengindikasikan bahwa ada faktor pendukung lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.
Strategi Pemasaran Lele Sangkuriang Organik Surya Kencana Farm Kota Bogor Rabilla, Raissa Rahmaditya; Satria, Arif; Yuliati, Lilik Noor
MANAJEMEN IKM: Jurnal Manajemen Pengembangan Industri Kecil Menengah Vol. 13 No. 2 (2018): Manajemen IKM
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.884 KB) | DOI: 10.29244/mikm.13.2.137-142

Abstract

Catfish is one of the most widely cultivated freshwater fish. Bogor is a district and a city that has considerable potential for Catfish farming. This is because the consumption of Catfish is pretty much absorbed by the DKI Jakarta and Bogor city become penyedianya. In 2016 alone, the level of consumption of Catfish in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi (Jabodetabek) is very high. The needs of Jabodetabek community will Catfish reaches 120 tons per day. As quoted from an article, from the amount of these needs, Bogor can only produce Catfish as much as 30 tons per day. This of course becomes an opportunity and a prospect for Catfish farming. This study aims to identify the condition of internal environment and external environment in Surya Kencana Farm. Formulate alternative marketing strategies for Surya Kencana Farm. Determining priority marketing strategy for Surya Kencana Farm. This study uses SWOT analysis to determine alternative choice of marketing strategy for Surya Kencana Farm. Then proceed with QSPM to determine the best strategy that Surya Kencana Farm can do. The results of the analysis with the SWOT and QSPM matrices, obtained alternative strategies that can be implemented, namely utilizing IT progress, such as websites and the internet to inform Lele Sangkuriang product quality, and informing about organic Sangkuriang Catfish produced by SKF is a priority strategy that can be done by SKF.
Campus Setting as Living Labs: Lessons from IPB University, Bogor, Indonesia Satria, Arif; Slamet, Alim Setiawan; Kosasih, Akhmad; Purwito, Agus; Siregar, Iskandar Z; Putra, Heriansyah
Journal of Sustainability Perspectives Vol 3: Special Issue 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jsp.2023.20712

Abstract

IPB University in Bogor, Indonesia, has developed its campuses as living laboratories for education, research, community outreach, innovation, and business. The university's infrastructure under the living lab concept, such as forestlands, farmlands, wetlands, teaching factories, and business units, offer real-life opportunities for students and staff to create greater impacts to societies from their academic activities. This paper presents the lessons learned from IPB's campus setting as a living lab, focusing on how students and stakeholders can learn from the existing infrastructure and facilities, how research can benefit from a natural setting, and how the campus can serve as a model for sustainable living. Implementing living lab concept faces challenges as other new initiatives, particularly on the aspects of effective interdisciplinary works, formalizing the community of practices in which pool of experts are organized and knowledge management system is developed. In conclusion, in the era of emancipated learning implementation in Indonesia, IPB University's campus setting could provide a platform for facilitating activities related to science-practices/policy interface.
Campus Setting as Living Labs: Lessons from IPB University, Bogor, Indonesia Satria, Arif; Slamet, Alim Setiawan; Kosasih, Akhmad; Purwito, Agus; Siregar, Iskandar Z; Putra, Heriansyah
Journal of Sustainability Perspectives Vol 3: Special Issue 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jsp.2023.20712

Abstract

IPB University in Bogor, Indonesia, has developed its campuses as living laboratories for education, research, community outreach, innovation, and business. The university's infrastructure under the living lab concept, such as forestlands, farmlands, wetlands, teaching factories, and business units, offer real-life opportunities for students and staff to create greater impacts to societies from their academic activities. This paper presents the lessons learned from IPB's campus setting as a living lab, focusing on how students and stakeholders can learn from the existing infrastructure and facilities, how research can benefit from a natural setting, and how the campus can serve as a model for sustainable living. Implementing living lab concept faces challenges as other new initiatives, particularly on the aspects of effective interdisciplinary works, formalizing the community of practices in which pool of experts are organized and knowledge management system is developed. In conclusion, in the era of emancipated learning implementation in Indonesia, IPB University's campus setting could provide a platform for facilitating activities related to science-practices/policy interface.
Co-Authors Abbas, Ria Renita Abdul Haris, Abdul Haris Aceng Hidayat Adeni, Susri Adiguna, Mohamad Ady Candra Agus Purwito Akhmad Solihin Alfedri Alfian Helmi Aminah Swarnawati Amir Mahmud Amir Mahmud Amir Mahmud Amiruddin Saleh Andini Regi Khania Anna Fatchiya Annisa Wulandari Anwarudin, Oeng Ardito Atmaka Aji Ari Purbayanto Ari Wibowo Arya Hadi Dharmawan Bachtiar, Willy Basita Ginting Basita Ginting Sugihen Budhi Hascaryo Iskandar Budi Hariono Budiarto, Tri Budy Wiryawan Christian, Yoppie Cindy Pricilla Muharara Dedi Budiman Hakim Deni Achmad Soeboer Deni Achmad Soeboer Dietrich G. Bengen Dietriech Geoffrey Bengen Djuara P Lubis Dodik R Nurrochmat Dodik Ridho Nurrochmat Dwi Retno Hapsari, Dwi Retno Edi H.S Sulistyo Edi H.S Sulistyo, Edi H.S Ekawati S.Wahyuni Ekawati S.Wahyuni Ekawati Sri Wahyuni Elva Lestari Endriatmo Soetarto Enik Afri Yanti Eriyatno . Eva Anggraini Eva Royandi Fatriyandi Nur Priyatna Fevi Rahma Dwi Putri Fevi Rahma Dwi Putri Fevrina Leny Tampubolon Fidyani, Citra Fini Lovita Gendut Suprayitno Gendut Suprayitno Gendut Suprayitno Gendut Suprayitno Gun Gumelar Somantri Harnoli Rahman Hartoyo Hartoyo Hendra Kurniawan Heru Purwandari Humayra Secelia Muswar, Humayra Husain, Aryanto I Gusti Agung Komang Diafari Djuni Hartawan Idqan Fahmi Iin Sulis Setyowati Ika Citra Sari Imam Habibi Elhaq Imam Teguh Saptono Irwan Irwan ISKANDAR ZULKARNAEN SIREGAR Iskandar, Abdul Halim Iwan Setiawan Kamil, Fathan Kartodihardjo, Hariadi Khoirunnisa Khoirunnisa Kirbrandoko Kirbrandoko Kosasih, Akhmad Lala M Kolopaking Liky Ledoh Lilik Noor Yuliati Lilly Aprilya Pregiwati Luki Setyawan Luki Setyawan, Luki Lukman M. Baga Lukmi Ati Luluk Annisa Masbantar Sangadji Masri , Rahmi Vivri Mirajiani - Mirajiani, Mirajiani Mohamad Adiguna Mohamad Shohibuddin Mony, Ahmad Mony, Ahmad Muh. Asri, Muh. Muharara, Cindy Pricilla Mulyono S. Baskoro Musa Hubeis Muslim Muslim Myrna A. Safitri, Myrna A. Nendah Kurniasari Nimmi Zulbainarni Ninuk Purnaningsih Nunung Nuryartono Nur Aini Nur Hannah Muthohharoh Nuraini Nuraini Nurmala Katrina Pandjaitan Park, Mi Sun Patriana, Ratna Prabowo Tjitropranoto Putra, Heriansyah Putri, Fevi Rahma Dwi Qomardiansyah, Qomardiansyah Rabilla, Raissa Rahmaditya Rachmat, Eko Prasetyadi Raditya Machdi Rachman Rahayu, Rehastidya Rahmani, Tabah Arif Rahmat Hidayat Ratna Patriana Retna Mutiar, Indria Riana Riana rici pranata Rici Tri Harpin Pranata Rillus A Kinseng Rilus Kinseng Riska Dwi Firmiyanti Rizaldi Boer Royandi, Eva Ruddy Suwandi Rudiyanto, Arifin Saharuddin Saharuddin Saharuddin Saharuddin Saharuddin Said Rusli Sambas Basuni SANJIV MENON A/L JOTHINATHAN Satyawan Sunito Septi Agusning Kuwandari Septri Widiono Siti Aisa Lamane Slamet, Alim Setiawan Soeryo Adiwibowo Suhendra Suhendra Sumardjo Syarifah Amaliah Taryono Taryono Taryono Taryono, Taryono Tevi Karuniawati, Tevi Thita Moralitha Mayza Tina Rahmawati Titania Aulia Titik Sumarti Tjahjo Tri Hartono Tridoyo Kusumastanto Wibowo, Mochammad Faizal Arief Widyastutik Wisnu Putra Prihantoro Yeni Marlina Yolla Rahmi Yossika Tantri Wandan Sari, Yossika Yulius Hero Zaldy Adrianto Zulkarnain Zulkarnain