This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dakwah Tabligh Jurnal Adabiyah Sulesana Jurnal Politik Profetik Al Ishlah Jurnal Pendidikan al-Afkar, Journal For Islamic Studies IQRO: Journal of Islamic Education Journal of Health Science and Prevention Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam MUHARRIK: JURNAL DAKWAH DAN SOSIAL Al-Qalam Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) IJGIE (International Journal of Graduate of Islamic Education) Tolis Ilmiah: Jurnal Penelitian Ulumuna Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) Jurnal Studi Islam Lintas Negara (Journal of Cross-Border Islamic Studies) Nusantara: Journal for Southeast Asian Islamic Studies Al-Mutsla: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman dan Kemasyarakatan Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Indo-MathEdu Intellectuals Journal Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf Pappasang Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi Palakka : Media and Islamic Coummunication Kumpulan Artikel Pendidikan Anak Bangsa : Journal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Journal of Health, Education, Economics, Science, and Technology (J-HEST) El-Fata: Journal of Sharia Economics and Islamic Education DIKTUM: JURNAL SYARIAH DAN HUKUM Innovative: Journal Of Social Science Research Madani: Multidisciplinary Scientific Journal Journal Education and Government Wiyata Journal of Innovative and Creativity Agency Journal of Management and Business Jurnal Pendidikan Refleksi Madania: Jurnal Kajian Keislaman ALFIHRIS: Jurnal Inspirasi Pendidikan
Claim Missing Document
Check
Articles

RADIKALISME DALAM ISLAM. MELACAK AKAR PERMASALAHAN RADIKALISME DAN BAGAIMANA PENCEGAHANNYA Iting, Andi; Harun, Hamzah; Aderus, Andi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.42454

Abstract

Berada di titik ekstrim atau melewati batas kewajaran dikenal sebagai radikalisme. Radikalisme dalam Islam dapat didefinisikan sebagai paham atau gerakan yang menginterpretasikan ajaran agama secara ekstrem dan kaku, sering kali tanpa memperhatikan konteks sosial, sejarah, atau kemanusiaan. Radikalisme muncul ketika ajaran Islam diterapkan secara literal dan menolak perbedaan, yang dapat mengarah pada tindakan intoleransi dan bahkan kekerasan terhadap pihak lain yang dianggap tidak sesuai atau "tidak murni" secara keagamaan. Faktor-faktor yang Memengaruhi Timbulnya Radikalismeadalah (a) Faktor Ekonomi dan Sosial, (b) faktor Politik dan Ketidakadila, (c) faktor Ideologis dan Pendidikan, (d) Faktor Globalisasi dan Pengaruh Media Sosia, (e)Faktor Psikologis dan Kebutuhan Akan Identitas, (f) faktor Sejarah dan Konflik Regional. Radikalisme memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan beragama dan bermasyarakat. Dampak ini tidak hanya memengaruhi stabilitas dan keamanan suatu negara, tetapi juga merusak nilai-nilai toleransi dan keberagaman yang seharusnya menjadi dasar kehidupan bermasyarakat. Cara mencegah radikalisme dalam Islam memerlukan kerja sama antara pemerintah, ulama, dan masyarakat karena setiap pihak memiliki peran strategis yang saling melengkapi. Kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat dalam mencegah radikalisme sangat penting. Pemerintah berperan melalui kebijakan dan program, ulama menyampaikan ajaran agama yang moderat, sementara masyarakat memperkuat ketahanan sosial. Kombinasi ini dapat menciptakan lingkungan yang tangguh terhadap radikalisme
Moderasi Beragama Pada Masyarakat Konawe Selatan (Studi Atas Toleransi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Kalosara Masyarakat Konawe Selatan) Awal , Awal; Aderus, Andi; Santalia, Indo
El-Fata: Journal of Sharia Economics and Islamic Education Vol. 2 No. 2: OKTOBER 2023
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Cokroaminoto Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61169/el-fata.v2i2.64

Abstract

Penelitian ini membahas tentang moderasi beragama berbasis kearifan lokal kalosara pada masyarakat Konawe Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) Mendeskripsikan toleransi beragama masyarakat Konawe Selatan perspektif agama-agama, 2) Menjelaskan bagaimana implementasi toleransi beragama berbasis kearifan lokal Kalosara pada masyarakat Konawe Selatan. 3) Menjelaskan terkait faktor apa saja yang paling berpengaruh dalam implementasi toleransi beragama berbasis kearifan lokal kalosara. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui field research (penelitian lapangan) yaitu mengkaji dan menganalisa literatur-literatur yang berkaitan dengan objek penelitian. Penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan yaitu pendekatan fenomenologi, pendekatan sosiologis dan pendekatan teologis Adapun metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu melalui tahapan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Semua agama di Konawe Selatan sepakat bahwa toleransi beragama merupakan sebuah konsep yang menggambarkan sikap saling menghormati dan bekerja sama antar kelompok agama, 2) Implementasi toleransi beragama berbasis kearifan lokal kalosara dapat diterapkan dengan cara mengambil tiga unsur utama di dalam kalosara yaitu a) Lilitan rotan, mengajarkan kepada masyarakat untuk bisa hidup toleransi sesama agama kita harus mampu menerima perbedaan, dan menjaga rasa persaudaraa, b) Kain putih, melambangkan kesucian dan religius, hidup harus saling tolong menolong sesama manusia, dan hidup rukun dan damai sesama manusia dan c) Talam anyaman, melambangkan kesejaahteraan dan keadilan sosial, mengajarkan bahwa jika ingin hidup tentram dan damai terhadap agama lain maka di perlukan kebebasan dalam beragama, dan keadilan bagi seluruh agama, 3) Faktor yang paling berpengaruh dalam implementasi toleransi beragama berbasis kearifan lokal kalosara yaitu faktor agama dan faktor budaya yang memicu timbulnya sikap toleransi beragama. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa kearifan lokal kalosara mempunyai peran yang baik dalam memperkuat moderasi beragama di Konawe Selatan, maka hal tersebut harus tetap dilestarikan dan dijaga sebagai simbol pemersatu dan menjadi jembatan dalam menerima segala perbedaan yang ada serta menumbuhkan sikap toleransi antar penganut agama. Selain itu, dengan penelitian ini diharapkan menjadi bahan bacaan, rujukan dan pijakan agar mampu mengetahui kehidupan moderasi beragama yang ada di masyarakat Konawe Selatan.
Humanistic Education and the Concept of "Merdeka Belajar" in Indonesia: A Perspective of the Qur'an Ahmad Mujahid; Andi Aderus; Mirnawati Mirnawati; Firman Firman
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 14, No 4 (2022): AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v14i4.2181

Abstract

The discourse on the concept of "Merdeka Belajar" in the education system in Indonesia is still an exciting topic for discussion. One of the topics that become a question is whether the concept of "Merdeka Belajar" is in line with the concept of education that humanizes humans from the perspective of the Qur'an. This literature study aims to reveal and describe the concept of education that humanizes humans and its relevance to the concept of 'Merdeka Belajar,' which is currently applied in the education system in Indonesia based on the perspective of the Qur'an. The data were obtained through a literature review where the procedures and steps referred to several verses in the Qur'an relevant to the topic of discussion. The verses that are the subject of study in this paper include Al-Isra: 70, al-Mujādilah: 11: Al-Nahl: 125, An-Nisa": 1, and al-Hujurat: 13. Furthermore, the verses of the Qur "an are analyzed using the thematic methods (maudhu "i) with content analysis techniques. The results conclude that education is essential for human life; it can shape people and determine their social status. Education humanizes humans by understanding each individual as a natural human being. Therefore, it was in line with the concept of "Merdeka Belajar" which gives freedom to each individual to choose education to actualize himself.
Resepsi Hermeneutika dalam Penafsiran Teks sri mulyani; Hamzah Harun Al Rasyid; Andi Aderus Pasinringi
IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FTIK IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/iqro.v7i2.5240

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep dasar hermeneutika, fungsi hermeneutika dalam sejarah perkembangannya, penerapan hemeneutika dalam penafsiran teks, dan pro-kontra terhadap penerapan hermeneutika dalam penafisran teks Al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan atau Library Research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara singkat hermeneutika adalah metode intepretasi terhadap teks yang ambigu agar dapat difahami dengan baik oleh pembacanya. Fungsi hermeneutika dalam sejarah perkembangannya terbagi mejadi 6 kategori yaitu: 1) hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab klasik, (2) heremeneutika sebagai metode filologi, (3) hermeneutika sebagai suatu pemahman linguistik, (4) hermeneutika sebagai pondasi ilmu humaniora, (5) humaniora sebagai pemahaman eksistensial, dan (6) hermeneutika sebagai sistem intepretasi. Pendekatan hermeneutika dalam Al-Qur’an bedasarkan pada tiga asumsi dasar dalam penafsirannya, yaitu: (1) penafsir adalah manusia, (2) Penafsiran tidak dapat lepas dari bahasa, sejarah dan tradisi, (3) Setiap teks memiliki nuansa sosio-historis dan linguistik. Kehadiran hermeneutika sebagai metode interpretasi Al-Qur'an menuai reaksi pro dan kontra dari cendekiawan Muslim di Indonesia.
The Theory of Balance in Physics and Islamic Governance: Exploring the Convergence of Natural Equilibrium and Social Balance within an Islamic State Context Handayani, Yusri; Aderus, Andi; Santalia, Indo
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 12 (2026): January
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18102702

Abstract

This research examines the relationship between the concept of equilibrium in physics and the implementation of Islamic governance, and how the two concepts relate to each other in the context of an Islamic state. In physics, equilibrium is achieved through the interaction of various forces within a system that continuously strives for stability, both in static and dynamic systems. This parallels the efforts of Islamic governments to maintain a balance between state authority, individual rights, and social obligations. Islamic governments emphasize the importance of social justice, reflected in state policies based on Sharia law, which aim to ensure social welfare by equitably considering individual rights and societal interests. In this study, the authors found that Islamic governance must be able to adapt to changing times and social dynamics, similar to the principle of equilibrium in physics, which always strives to achieve a stable state despite change. Socio-economic policies such as zakat and waqf serve to reduce social inequality, while the moral and ethical principles of sharia play a crucial role in maintaining this balance. This study concludes that the concept of equilibrium in physics provides a useful perspective for understanding the dynamics of Islamic governance, which is not merely static but also dynamic and adaptive to the demands of the times and the needs of society.
Esensi Tuhan dan Manusia dalam Berkehendak dan Berbuat: Otoritas Kun Fayakun dan Sunnatullah Rahmah, Jabal; Aderus, Andi; Santalia, Indo
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 12 (2026): January
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18127610

Abstract

The debate concerning the relationship between divine will and human freedom is a classic theme in Islamic thought that remains relevant to this day. On the one hand, Islam affirms the absoluteness of God’s will, as reflected in the concept of kun fayakun as a symbol of divine authority. On the other hand, the Qur’an also emphasizes human responsibility for actions and efforts through the principles of ikhtiar (human endeavor) and sunnatullah (divine laws). This study aims to critically examine the essence of God’s will and the position of human freedom from the perspective of Islamic thought, while positioning sunnatullah as a framework that bridges the two. This research employs a qualitative approach with a library research design, analyzing primary and secondary sources in the field of Islamic theology. The findings indicate that God’s will is absolute and unlimited, whereas human beings possess a limited yet accountable freedom. Sunnatullah functions as a divine law that enables humans to strive rationally without negating the supremacy of God’s will. Thus, the relationship between divine will and human freedom is complementary, in which human endeavor and divine decree mutually reinforce one another in shaping an ethical and meaningful life.
Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan: Perbandingan Perspektif Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah H, Hartinawanti; Santalia, Indo; Aderus, Andi
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 11 (2025): December 2025
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the two largest patterns of Islam in Indonesia, namely Nusantara Islam initiated by Nahdlatul Ulama (NU) and Progressive Islam developed by Muhammadiyah. Both represent the face of Indonesian Islam as moderate, inclusive, and adaptive to the socio-cultural context of the Nusantara. The study focuses on historical background, theological characteristics, da'wah approaches, points of similarity and methodological differences, as well as their relevance to national life. This research method uses a qualitative approach based on literature studies, analyzed descriptively and analytically with a comparative approach. This research method uses a qualitative approach based on literature studies, analyzed descriptively and analytically with a comparative approach.
Konsep Ketuhanan Dalam Tiga Mazhab Teologi Islam Klasik dan Kaitannya dengan Kalimat Tauhid: Analisis Komparatif Mu'tazilah, Asy'ariyah, Dan Maturidiyah Muthmainnah Muthmainnah; Indo Santalia; Tabhan Syamsu Rijal; Andi Aderus
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.1916

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang jelas mengenai definisi teologi Islam, serta ruang lingkup dan pentingnya dalam konteks pemikiran Islam. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan konsep aspek ketuhanan yang dipahami oleh tiga mazhab besar dalam teologi Islam, yaitu Mu'tazilah, Asy'ariyah, dan Al-Maturidiyah, serta perbedaan pandangan mereka mengenai sifat-sifat Allah dan keesaan-Nya. Selain itu, penelitian ini menggali keterkaitan antara perdebatan teologis mengenai aspek ketuhanan dengan kalimat tauhid ("Lā ilāha illā Allāh"), serta bagaimana masing-masing mazhab menginterpretasikan kalimat tersebut dalam konteks ajaran mereka. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research)Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam pandangan ketiga mazhab mengenai aspek ketuhanan, semua mazhab sepakat bahwa tauhid adalah inti dari ajaran Islam. Perdebatan teologis ini tidak hanya memperkaya khazanah pemikiran Islam, tetapi juga memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana umat Islam memahami hubungan mereka dengan Tuhan. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang kontribusi pemikiran teologi dalam sejarah Islam dan dampaknya terhadap pemahaman umat Islam tentang ketuhanan dan praktik keagamaan mereka. Akhirnya, penelitian ini bertujuan untuk mendorong diskusi lebih lanjut dan penelitian lanjutan mengenai aspek-aspek ketuhanan dalam teologi Islam, serta relevansinya dalam konteks modern.
Kajian Epistemologis Komparatif: Filsafat Sains Modern dan Al-Qur’an dalam Konteks Pengembangan Paradigma Fisika Kontemporer Ana Dhiqfaini Sultan; Andi Aderus; Indo Santalia
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5824

Abstract

Perkembangan fisika modern menghadirkan tantangan epistemologis mendalam tentang hakikat kebenaran ilmiah. Penelitian ini mengkaji persamaan, perbedaan, dan potensi integrasi epistemologis antara filsafat sains modern dan epistemologi Al-Qur'an dalam konteks fisika melalui studi kepustakaan dengan analisis komparatif konseptual. Sumber data mencakup literatur peer-reviewed (2020-2025), Al-Qur'an, dan tafsir kontemporer, dengan sampel 40-50 sumber dipilih purposif. Data dianalisis menggunakan analisis konten kualitatif dengan koding tematik pada tiga dimensi epistemologis: sumber pengetahuan, metode perolehan, dan konsep kebenaran. Hasil menunjukkan filsafat sains modern menekankan kebenaran provisional berbasis empirisme dan rasionalitas yang dinamis, sedangkan epistemologi Al-Qur'an memposisikan wahyu sebagai kebenaran mutlak terintegrasi dengan akal dan pengamatan dalam kerangka etis-spiritual. Meskipun berbeda, kedua epistemologi memiliki convergence signifikan: keduanya menghargai pengamatan empiris, rasionalitas, dan komitmen pencarian kebenaran. Analisis mengungkapkan potensi integrasi sinergis di mana metodologi ilmiah sains modern menjamin kepastian pengetahuan, sementara epistemologi Al-Qur'an menyediakan orientasi etis-spiritual yang melindungi sains dari relativisme. Implikasi mencakup pembukaan subfield comparative epistemology, pengembangan model pembelajaran fisika holistik yang meningkatkan motivasi dan scientific citizenship bertanggung jawab, dan kemungkinan penelitian yang dipandu nilai-nilai etis-spiritual. Studi ini mengisi kekosongan literatur tentang dialog epistemologis sistematis antara sains modern dan wahyu, dengan rekomendasi riset lanjutan mencakup implementasi empiris, eksplorasi multidisiplin, dan integrasi epistemologi klasik.
Puncak-Puncak Capaian Sufistik Dalam Perspektif Metodologis Andi Hasriani Asfar; Andi Aderus; Indo Santalia; Yasser Mulla Shadra
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5858

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji puncak-puncak capaian sufistik dalam tradisi tasawuf melalui pendekatan metodologis yang komprehensif. Fokus kajian diarahkan pada konsep-konsep sentral seperti ma‘rifat, fana’, baqa’, ittihad, hulul, dan wihdat al-wujud, serta bagaimana konsep tersebut berkembang dalam konteks historis, epistemologis, dan teologis. Penelitian ini juga menelaah bagaimana pengalaman puncak sufistik dipahami, diinterpretasi, dan dipersoalkan dalam wacana kontemporer, khususnya terkait otoritas spiritual, validitas pengetahuan mistik, serta implikasi etis dan sosialnya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis isi yang dipadukan dengan pendekatan historis-kritis, hermeneutis, dan fenomenologis. Karya-karya klasik tokoh sufi seperti Al-Ghazali, Al-Qusyairi, dan Ibn Arabi, serta literatur akademik kontemporer tentang tasawuf, dijadikan sumber utama dalam merumuskan gambaran metodologis yang utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puncak capaian sufistik merupakan konstruksi multidimensional yang tidak dapat dipahami hanya melalui kerangka teologis, tetapi juga menuntut pembacaan psikologis, sosial, dan epistemologis. Pendekatan fenomenologis mengungkap sifat subjektif namun terstruktur dari pengalaman mistik, sementara pendekatan historis menyoroti konteks sosial-politik yang membentuk kontroversi seputar konsep seperti ittihad atau wihdat al-wujud. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemahaman terhadap capaian sufistik harus diletakkan dalam kerangka metodologis yang integratif agar mampu menjelaskan kompleksitas pengalaman spiritual, sekaligus menilai relevansinya dalam menjawab persoalan spiritual modern. Tasawuf tetap memiliki signifikansi kontemporer sejauh dipahami secara kritis, etis, dan berbasis pada otentisitas tradisi.
Co-Authors A. Adriana Amal A.Qadir Gassing Abul Khair Achmad Abubakar Agung Raharjo, Muhammad Ahmad Mujahid Ali Halidin ALI HALIDIN, ALI Amri Rahman Amri, Muh. Amrin Amrin Ana Dhiqfaini Sultan Andi Anugrah Nur Hidayat M Andi Eki Dwi Wahyuni Andi Hasriani Asfar Andi Syahrul Anis Abd Rahman Anwar Abu Bakar Aqsha, Adly Arif Sukino Ashari Ananda, Iva Awal , Awal Aydi Syam, Aydi Ayu Oktoviasari, Vera Baehaqi Barsihannor Annur Basri, Syamsuriana Deni Irawan Ernawati Fachry Abda El Rahman Firdaus Muhammad Firman Firman Firman Firman Ghalib Mattola H, Hartinawanti Hadari Hamzah Harun Al-Rasyid Hasyim, Jusniati Idrus, Husni Ilham Iskandar Ilyanti Hasirah Nurgas Indo Santalia Indosantalia, Indosantalia Iting, Andi Jayawarsa, A.A. Ketut Juliasti, Evin Kartini Kartini M, M. Galib M. Napis Djuaeni Mahmuddin Mahmuddin Mahmudin Mahmudin, Mahmudin MARIA BINTANG Mayani Mayani Mirnawati Mohammad Subaeh, Syekh Toha Nasir Mudzakkir, Ahmad Muh. Amri Muh. Natsir Muhammad Amri Muhammad Hudain Muhammad Irfan Hasanuddin Muhammad Najmuddin Muhammad Saleh Tajuddin Muliaty Amin Muqsith, Awal Muthmainnah Muthmainnah Mutmainnah, Inayatul Nafis, Andi Ahmad Zahri Nawas, Kamaludin Abu Nazarudin Nur Apriyani Nur As’ad HL, Muh Nur Hidayah Nur, Zulfikah Nurman Said Nurul Mawaddah Purniadi Putra Putriany, Putriany Rahmah, Jabal Rahman Ambo Masse Rahman, Rahmat Rahmi D Ramli Ramli Roslan Roslan Santalia, Indo Santalia Siar Nimah Solly Aryza Sri Mulyani Sri Mulyani Sri Nilawati sudianto Suharmin Syukur Suharmin Syukur Sulaiman Ibrahim Sulkifli Idrus Syahruddin Usman Syamsiah Rauf Syamsu Rijal, Tabhan Syamsuddin, Darussalam Syaridawati Tabhan Syamsu Rijal Taufani Taufani Ta’wil, Ta’wil Usman Jafar Veithzal Rivai Zainal Yasser Mulla Shadra Yusawinur Barella Yusri Handayani