Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan sosial memiliki struktur aktivitas yang semakin kompleks seiring berkembangnya fungsi ekonomi dan kemasyarakatan. Kondisi ini menuntut kemampuan akuntabilitas keuangan yang lebih baik, terutama melalui penerapan Pedoman Akuntansi Pesantren (PAP). Namun di lapangan, banyak pesantren belum menerapkan PAP secara optimal akibat keterbatasan pemahaman dan belum adanya sistem pencatatan yang baku. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola pesantren melalui pelatihan, simulasi kasus, dan pendampingan. Metode kegiatan meliputi asesmen kebutuhan, lokakarya interaktif, penyusunan laporan keuangan berbasis kasus, dan evaluasi berbasis umpan balik. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan peserta dalam mengidentifikasi transaksi, menerapkan pencatatan double-entry, memahami akun spesifik pesantren, hingga menyusun laporan keuangan sesuai PAP. Kegiatan ini menjadi model efektif dalam meningkatkan tata kelola keuangan pesantren dan dapat direplikasi untuk wilayah lain.