Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Perbedaan Rerata Usia Kehamilan dengan Munculnya Onset Preeklamsi Ringan, Berat, dan Eklamsi pada Ibu Hamil Dinata, Freddy; Nathaniel, Fernando; Satyanegara, William Gilbert; Kurniawan, Joshua; Firmansyah, Yohanes
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11037

Abstract

ABSTRACT Preeclampsia is a serious problem in pregnancy that causes significant morbidity and mortality in maternal, fetal, and neonatal health. Eclampsia is one of the most serious non-obstetric complications. Preeclampsia often occurs in the third trimester of pregnancy, particularly after 32 weeks of gestation. However, in some cases, preeclampsia can occur in other trimesters. This cross-sectional study aims to determine the relationship between gestational age and the occurrence of mild preeclampsia, severe preeclampsia, and eclampsia using medical records from Ciawi Regional General Hospital from January to December 2020. The variables in this study consisted of basic characteristics of the respondents (maternal age and parity status), gestational age (in weeks), and maternal medical conditions divided into three groups (mild preeclampsia, severe preeclampsia, and eclampsia). Statistical analysis was performed using the Kruskal-Wallis test. Out of 190 respondents, the average age of the mothers was 32 years, and the average gestational age was 36.2 weeks, with severe preeclampsia being the dominant medical condition (85.3%). The research findings revealed no significant difference in the mean gestational age among the three groups of pregnant mothers (P-value: 0.235). Further clinical review revealed that eclampsia occurred at an earlier gestational age compared to mild preeclampsia, which generally occurs in the late stages of pregnancy. The findings from this study are expected to contribute to a deeper understanding of preeclampsia and eclampsia to improve the quality of healthcare services. Keywords: Eclampsia, Gestational Age, Preeclampsia  ABSTRAK Preeklamsi merupakan salah satu masalah pada kehamilan yang serius, kondisi tersebut menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada maternal, fetal, dan neonatal yang signifikan. Eklamsi merupakan salah satu komplikasi non-obstetrik yang paling serius. Preeklamsi seringkali terjadi pada trimester tiga kehamilan, khususnya usia gestasi >32 minggu. Namun pada beberapa kasus preeklamsi dapat terjadi pada trimester lainnya. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia kehamilan dengan kejadian preeklamsi ringan, preeklamsi berat dan eklamsi dengan menggunakan data rekam medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi pada periode Januari – Desember 2020. Variabel pada penelitian ini terdiri dari karakteristik dasar responden (usia ibu dan status paritas), usia kehamilan (minggu), serta kondisi medis ibu yang dibagi menjadi tiga kelompok (preeklamsi ringan, berat, dan eklamsi). Analisis statistik menggunakan uji Kruskall Wallis. Dari 190 responden, rata-rata usia ibu 32 tahun, rata-rata usia kehamilan adalah 36,2 minggu dengan kondisi medis didominasi oleh preeklamsi berat (85,3%). Hasil penelitian menemukan tidak ada perbedaan rerata usia kehamilan yang bermakna antara tiga kelompok ibu hamil (nilai P = 0,235). Peninjauan lebih lanjut secara klinis diketahui bahwa eklamsi terjadi pada usia kehamilan yang cenderung lebih awal dibandingkan preeklamsi ringan yang umumnya terjadi pada fase kehamilan aterm. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat membantu pemahaman yang lebih mendalam terkait preeklamsi dan eklamsi guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Kata Kunci: Eklamsi, Preeklamsi, Usia gestasi
Korelasi Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Air dan Sebum Kulit di Rukun Warga (RW) 008 Kelurahan Cipondoh Sutedja, Gina Triana; Tan, Sukmawati Tansil; Yogie, Giovanno Sebastian; Firmansyah, Yohanes; Wijaya, Dean Ascha; Satyanegara, William Gilbert; Nathaniel, Fernando; Kurniawan, Joshua; Moniaga, Catharina Sagita; Santoso, Alexander Halim; Mashadi, Fladys Jashinta
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i11.11612

Abstract

ABSTRACT Skin is the largest organ in the human body and plays various important roles. Skin characteristics, including pigmentation, hydration, texture, and various other parameters, differ for each individual. Skin properties are influenced by various parameters, one of which is the body mass index (BMI). This cross-sectional study aimed to determine the description of skin hydration status and its correlation with BMI, among subjects in RW 08 Cipondoh. Skin hydration status was measured using the over the counter (OTC) skin analyzer. Body mass index was calculated and measured based on standard procedures. Out of 101 respondents, the average age was 51.38 years with 75.2% of respondents being female. The mean BMI was 26.12 kg/m², predominantly falling into obesity level 1 (41.6%). The mean oil and water hydration were 22.99% and 42.96%, respectively. The Spearman statistical test results showed a negative correlation between body mass index and water hydration, with a correlation coefficient power of 0.498 significantly, and oil hydration, with 0.107 insignificantly. This study concludes that the higher the BMI, the worse is the individual's skin hydration status. Keywords: Body Mass Index, Hydration Status  ABSTRAK Kulit merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia dan memiliki berbagai peranan penting. Karakteristik kulit mencakup pigmen, hidrasi, tekstur, dan berbagai parameter lainnya berbeda-beda pada setiap individu. Sifat kulit tergantung pada berbagai parameter, salah satunya adalah indeks massa tubuh (IMT). Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status hidrasi kulit dan korelasinya dengan IMT di RW 08 Cipondoh. Pengukuran status hidrasi kulit dilakukan dengan menggunakan alat over the counter (OTC) skin analyzer. Indeks masa tubuh dihitung dan diukur berdasar prosedur standar. Dari 101 responden, rata-rata usia adalah 51,38 tahun dengan 75,2% responden adalah perempuan. Rerata IMT didapatkan sebesar 26,12 kg/m2, didominasi oleh obesitas tingkat 1 (41,6%). Rerata hidrasi sebum dan air, masing-masing sebesar  22,99% dan 42,96%. Hasil uji statistik Spearman menunjukan hasil korelasi negatif antara indeks masa tubuh dengan hidrasi air dengan kekuatan korelasi 0,498 secara signifikan dan hidrasi sebum sebesar 0,107 secara tidak signifikan. Penelitian ini menyatakan bahwa semakin tinggi nilai IMT, maka semakin menurun status hidrasi kulit seseorang. Kata Kunci: Kadar Hidrasi, Indeks Masa Tubuh
Korelasi Usia, International Prostate Symptom Score, Benign Prostatic Hyperplasia Impact Index, Kualitas Hidup, dan Tingkat Keparahan Pada Penderita Benign Prostatic Hyperplasia di RSUD Ciawi Soni, Yulfitra; Firmansyah, Yohanes; Kurniawan, Joshua; Satyanegara, William Gilbert
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i10.11272

Abstract

ABSTRACT Benign prostatic hyperplasia (BPH) is one of the common diseases in old male and is the common cause of lower urinary tract symptoms. The prevalence of this disease is not to be underestimated, reaching up to 80% in the age of 90 years. This disease also affects the quality of life of the patients. To find out the correlation of age, International Prostate Symptom Score (IPSS), Benign Prostatic Hyperplasia Impact Index (BII), quality of life, and severity of BPH patients. The study is done in urology clinic in Ciawi General Hospital on the period of June-July 2023. The samples are gathered with total sampling method, covering all the male patients with BPH that fulfilled the criteria. Data gathered through interview. Normality of the data is tested with Shapiro-wilk test. The correlation is tested with Pearson Correlation test or alternative of Spearman Correlation test. The study found a correlation of IPSS and BII (p-value = 0.005; r = 0.495), but no significance of age with IPSS and BII (p-value > 0.05). Strong correlation is found from quality of life with BII (p-value: < 0,001; r: 0,629), quality of life with severity based from IPSS (p-value: < 0,001; r: 0,655), and correlation between severity with IPSS and BII (p-value: 0,006; r: 0,487). Using IPSS and BII scores in clinical practice is valuable for describing a patient's severity and quality of life. We can use the results to assess the effectiveness of the treatment and measure the results. Keywords : BII, BPH, IPSS, Quality of Life  ABSTRAK Pembesaran jinak prostat atau benign prostatic hyperplasia (BPH) adalah salah satu penyakit paling umum pada pria lanjut usia dan penyebab paling umum dari gejala saluran kemih bagian bawah. Angka prevalensi penyakit ini juga tidak dapat dipandang sebelah mata, mencapai 80% pada usia 90 tahun. Penyakit ini juga mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Mengetahui korelasi usia, skor International Prostate Symptom Score (IPSS), Benign Prostatic Hyperplasia Impact Index (BII), kualitas hidup, dan tingkat keparahan pada penderita BPH. Penelitian ini dilakukan di Poli Urologi RSUD Ciawi pada periode Juni – Juli 2023. Sampel pada penelitian ini diambil dengan metode total sampling, mencakup seluruh laki-laki yang menderita BPH yang memenuhi kriteria. Data diperoleh melalui wawancara. Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk. Uji korelasi pada penelitian ini menggunakan uji Pearson Correlation atau uji alternatif Spearman Correlation. Didapatkan bahwa terdapat korelasi cukup yang bermakna antara IPSS dengan BII (p-value : 0,005 dan r: 0,495), tetapi tidak terdapat korelasi yang bermakna secara statistik antara usia dengan IPSS dan BII (p-value > 0,05). Terdapat korelasi kuat yang bermakna secara signifikan antara kualitas hidup dengan BII (p-value: < 0,001; r: 0,629), kualitas hidup dengan tingkat keparahan menurut IPSS (p-value: < 0,001; r: 0,655), dan korelasi cukup pada tingkat keparahan menurut IPSS dengan BII (p-value: 0,006; r: 0,487).Penggunaan skor IPSS dan BII dalam praktik klinis membantu menggambarkan tingkat keparahan pasien, dan kualitas hidup pasien. Penelian ini membantu kita dalam mengobati dan mengevaluasi keberhasilan terapi. Kata Kunci: BII, BPH, IPSS, Kualitas Hidup
Analisa Penyakit Kandung dan Saluran Empedu serta Kaitannya dengan Usia dan Status Infeksi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres Periode 2018 - 2023 Purnomo, Yonathan Adi; Nathaniel, Fernando; Wijaya, Dean Ascha; Satyanegara, William Gilbert; Firmansyah, Yohanes
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i10.11321

Abstract

ABSTRACT Biliary system diseases are relatively common digestive conditions. Gallstones affect approximately 10-15% of the world's population and vary based on sociodemographic factors. This cross-sectional study aims to determine proportions of gallbladder and bile duct diseases, with or without gallstones and infections at Mitra Keluarga Kalideres Hospital, selected based on specific criteria using medical record data from the period between 2018 and June 2023, considering the final diagnoses of respondents. Variables in this study include gender, age, biliary anatomical abnormalities (gallbladder, bile duct, or nonspecific), gallstone incidence, and incidence of infections in biliary anatomical region. Statistical analysis used Independent T-Test. Out of 3916 respondents, the average age was 51.73 years, and majority were females (67.6%). 470 patients experienced infections in gallbladder and/or bile duct. There was a significant association between age groups and infection status (p<0.001) and anatomical location (p<0.001). The <45 age group had a 1.975 times higher risk of biliary system infection, while the >45 age group had a 2.165 times higher risk of bile duct disease compared to the <45 age group. The results of the Independent T-Test indicated a significant difference in the average age between the groups with and without biliary system infections (p-value < 0.001). Keywords: Bile duct, Infection, Gall bladder, Gallstones  ABSTRAK Penyakit sistem bilier merupakan kondisi digestif yang cukup sering. Batu empedu menyerang kurang lebih 10-15% populasi di dunia dan bervariasi dari faktor sosiodemografi. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui proporsi dari penyakit kandung empedu, saluran empedu, dengan atau tanpa batu empedu dan infeksi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres yang dipilih sesuai kriteria menggunakan data rekam medis pada periode waktu 2018 hingga Juni 2023 dengan melihat diagnosa akhir responden. Variabel dalam penelitian ini yaitu jenis kelamin, usia, anatomi kelainan empedu (kandung empedu, saluran empedu, atau tidak spesifik), insidensi batu empedu, dan insidensi infeksi daerah anatomi empedu. Analisis statistik menggunakan uji Independent T-Test. Dari 3916 responden, rerata usia adalah 51,73 tahun dan didominasi oleh perempuan (67,6%). 470 pasien mengalami infeksi pada kandung empedu dan atau saluran empedu. Didapatkan hubungan yang bermakna antara kelompok usia terhadap status infeksi (p<0,001) dan lokasi anatomis (p<0,001). Kelompok usia <45 tahun berisiko 1,975 kali untuk mengalami infeksi pada sistem bilier namun kelompok usia >45 tahun berisiko 2,165 kali untuk mengalami sakit di saluran empedu dibandingkan kelompok usia <45 tahun. Hasil uji Independent T-Test didapatkan bahwa terdapat perbedaan rerata usia yang bermakna antara kelompok dengan infeksi dan tanpa infeksi pada sistem bilier (p-value < 0,001). Kata kunci: Batu Empedu, Infeksi, Kandung Empedu, Saluran Empedu
Hubungan Asi Eksklusif dengan Kejadian Stunting di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi Emilda, Emilda; Satyanegara, William Gilbert; Kurniawan, Joshua; Rudi, Rudi; Pujiono, Sheryn; Samara, Trisha; Aribowo, Aretha Sarah; Mahaputera, Pramadio; Handayanti, Luthfi; Firmansyah, Yohanes; Nathaniel, Fernando
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11038

Abstract

ABSTRACT Stunting is a global problem, especially for children below 5 years of age in low-middle income countries. Giving exclusive breastfeeding has important role in preventing stunting. This is an observational analytic study with cross-sectional design, was done in Ciawi Regional General Hospital in October 2021. Samples are the pediatric ward inpatients from 0 to 18 years of age, which were taken with total sampling method. Exclusive breastfeeding is defined as only giving breastmilk as the only source of nutrition for baby in the first 6 month of life. Stunting is defined as body length or height of the child below -2 SD of WHO standard curve of body length-age. For children above 59 month old, stunting defined as body height below 5 percentile on the standard Centers for Disease Control and Prevention (CDC) 2000 curve. Descriptive data presented in proportion (%). Statistical tests used in the study is Pearson Chi Square with Yates Correction and alternative test of Fischer Exact. Alternative test is based on the Expected Count of 5%. The significant value expected in the study is 5%. From the study, there are no significant relation found between exclusive breastfeeding and stunting for children 0-18 years of age (p-value: 0.916), but clinically found that children without exclusive breastfeeding has 1.167 times higher risk of having stunting compared to the children with exclusive breastfeeding in Ciawi Regional General Hospital. Keywords: Exclusive Breastfeeding, Stunting  ABSTRAK Stunting merupakan masalah kesehatan dunia khususnya pada anak dibawah 5 tahun di negara pendapatan rendah dan menengah. Menyusui ASI (Air Susu Ibu) eksklusif memiliki peran penting dalam pencegahan stunting. Studi ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian potong lintang yang dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi pada Bulan Oktober 2021. Sampel merupakan pasien rawat inap di bangsal anak berusia 0 hingga 18 tahun, yang diambil dengan menggunakan metode total sampling. ASI eksklusif didefinisikan sebagai hanya memberikan ASI sebagai satu-satunya sumber makanan bagi bayi selama enam bulan pertama kehidupan. Stunting didefinisikan sebagai panjang atau tinggi badan anak di bawah -2 SD pada kurva panjang badan-menurut-usia atau tinggi badan-menurut-usia pada kurva standar WHO 2006. Pada anak yang memiliki usia lebih dari 59 bulan, stunting didefinisikan jika tinggi badan kurang dari persentil 5 pada kurva standar Centers for Disease Control and Prevention (CDC) 2000. Data deskriptif disajikan dalam bentuk proporsi (%). Uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pearson Chi Square with Yates Correction dengan uji alternatif berupa Fischer Exact. Penentuan uji alternatif didasarkan pada nilai Expected Count sebesar 5%. Nilai kemaknaan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebesar 5%. Pada studi tidak ditemukan hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada anak usia 0-18 tahun (p-value: 0,916), tetapi secara klinis diketahui bahwa anak yang tidak diberikan ASI eksklusif memiliki risiko 1,167 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting bilamana dibandingkan dengan kelompok anak yang menerima ASI eksklusif di RSUD Ciawi. Kata Kunci: ASI Eksklusif, Stunting
PEMENUHAN KETENTUAN GULA TAMBAHAN DAN PERSENTASI GULA TERHADAP KALORI PADA MPASI KOMERSIAL SESUAI PERATURAN BPOM Satyanegara, William Gilbert; Pambudi, Wiyarni
Ebers Papyrus Vol. 28 No. 1 (2022): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v28i1.19426

Abstract

Membatasi gula tambahan menjadi salah satu cara untuk hidup sehat. WHO merekomendasikan konsumsi gula tambahan pada anak <10% dari total energi dari karbohidrat. Metode penelitian menggunakan deskriptif pada produk yang beredar di Jakarta Selatan tahun 2019-2020. Variabel dari penelitian ini adalah kesesuaian produk dengan aturan mengenai gula tambahan dan persentase gula terhadap kalori. Berdasarkan data dari BPOM, peneliti mengikutsertakan 65 responden, yang terdiri dari 40 produk bubuk dan 25 produk biskuit. Dari hasil penelitian mengenai kesesuaian gula tambahan, produk MP-ASI bentuk biskuit yang sesuai sebanyak 8 (12,3%) produk dan yang tidak sesuai sebanyak 17 (26,2%) produk. Untuk produk bubuk yang sesuai sebanyak 31 (47,7%) produk, dan yang tidak sesuai sebanyak 9 (13,8%) produk. Dalam hal kesesuaian persentase gula terhadap kalori, MP-ASI bentuk biskuit yang sesuai aturan sebanyak 3 (0,05%) produk dan MP-ASI bentuk bubuk sebanyak 19 (29,2%) produk. Produk MP-ASI komersial bentuk biskuit yang tidak memenuhi sebanyak 22 (33%) produk dan produk bentuk bubuk sebanyak 21 (32,3%) produk. Dari hasil penetilian, dapat disimpulkan bahwa masih terdapat produk MP-ASI komersial yang belum memenuhi peraturan mengenai gula tambahan dan persentase gula terhadap kalori
PENYULUHAN DAN PEMERIKSAAN UNTUK MENCEGAH KERUSAKAN KULIT AKIBAT PAPARAN SINAR MATAHARI Wijayadi, Linda Yulianti; Kurniawan, Joshua; Satyanegara, William Gilbert
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i2.26453

Abstract

Paparan sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan kulit yang serius. Penyuluhan mengenai kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko yang terkait dan langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil. Kegiatan penyuluhan memberikan informasi yang akurat dan ilmiah mengenai efek buruk sinar UV pada kulit, termasuk penuaan dini, bintik-bintik gelap, kanker kulit, dan gangguan pigmen. Selain itu, penyuluhan juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan tabir surya, pakaian pelindung, penghindaran paparan sinar matahari pada jam-jam terik, dan perawatan kulit yang tepat. Pencegahan kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari melalui penyuluhan juga melibatkan pengenalan gaya hidup sehat, seperti menghindari penggunaan tanning bed dan merokok, serta mengadopsi pola makan yang kaya antioksidan. Dengan adanya penyuluhan yang tepat, masyarakat dapat mengambil tindakan pencegahan yang efektif untuk melindungi kulit mereka dari kerusakan yang disebabkan oleh paparan sinar matahari. Penyuluhan ini memiliki implikasi penting dalam mengurangi insiden kerusakan kulit dan mempromosikan kesehatan kulit yang optimal dalam masyarakat secara keseluruhan.
PENYULUHAN DAN PEMERIKSAAN UNTUK MENCEGAH KERUSAKAN KULIT AKIBAT PAPARAN SINAR MATAHARI Wijayadi, Linda Yulianti; Kurniawan, Joshua; Satyanegara, William Gilbert
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i2.26464

Abstract

Paparan sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan kulit yang serius. Penyuluhan mengenai kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko yang terkait dan langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil. Kegiatan penyuluhan memberikan informasi yang akurat dan ilmiah mengenai efek buruk sinar UV pada kulit, termasuk penuaan dini, bintik-bintik gelap, kanker kulit, dan gangguan pigmen. Selain itu, penyuluhan juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan tabir surya, pakaian pelindung, penghindaran paparan sinar matahari pada jam-jam terik, dan perawatan kulit yang tepat. Pencegahan kerusakan kulit akibat paparan sinar matahari melalui penyuluhan juga melibatkan pengenalan gaya hidup sehat, seperti menghindari penggunaan tanning bed dan merokok, serta mengadopsi pola makan yang kaya antioksidan. Dengan adanya penyuluhan yang tepat, masyarakat dapat mengambil tindakan pencegahan yang efektif untuk melindungi kulit mereka dari kerusakan yang disebabkan oleh paparan sinar matahari. Penyuluhan ini memiliki implikasi penting dalam mengurangi insiden kerusakan kulit dan mempromosikan kesehatan kulit yang optimal dalam masyarakat secara keseluruhan.
KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT MENGENAI EDUKASI DAN DETEKSI DINI GULA DARAH DAN ANEMIA DALAM RANGKA MENJAGA KESEHATAN HIDRASI KULIT PADA POPULASI DEWASA DI SMP KALAM KUDUS, JAKARTA Tan, Sukmawati Tansil; Satyanegara, William Gilbert; Wijaya, Dean Ascha; Edbert, Bruce; Kasvana, Kasvana; Setia, Nicholas
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i2.27423

Abstract

Xerosis kutis (kulit kering) merupakan kondisi kulit yang disebabkan oleh berkurangnya hidrasi pada stratum korneum dan ditandai dengan gejala klinis seperti kulit yang kasar, bersisik, dan terkelupas. Penyebabnya melibatkan 2 faktor, yaitu faktor internal seperti penuaan, penyakit internal (diabtes dan anemia) dan faktor eksternal seperti paparan sinar matahari, durasi mandi yang lama, cuaca, dehidrasi, serta penggunaan obat tertentu. Diabetes melitus dapat meningkatkan risiko terjadinya kulit kering dan pruritus kronik. Kadar glukosa yang tidak terkontrol dengan baik dapat merusak barrier kulit dan menyebabkan kerusakan saraf yang berdampak pada hidrasi dan kelembaban kulit. Anemia defisiensi zat besi juga dapat menyebabkan kulit kering dan gatal. Kulit kering dapat meningkatkan risiko gatal, yang memicu tindakan menggaruk sehingga menyebabkan kulit menjadi luka dan rentan terhadap infeksi, yang mempengaruhi kualitas hidup individu. Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah masalah kulit kering dengan memberikan edukasi dan skrining kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga hidrasi kulit. Kegiatan yang dilakukan di SMP Kalam Kudus ini diikuti oleh 127 peserta dengan rerata usia 39 tahun. Rerata kadar gula darah sewaktu, hemoglobin, hematokrit, kadar hidrasi tangan kanan dan tangan kiri peserta masing-masing adalah 90 mg/dL, 12,9 g/dL, 38%, 40%, dan 45%. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta dapat memahami faktor risiko kulit kering, terutama dampak gula darah dan anemia terhadap kulit kering, serta memahami cara merawat kulit agar tetap terhidrasi dengan baik.
PENYULUHAN SEBAGAI UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEJADIAN DEMAM TIFOID DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LEGOK Atzmardina, Zita; Darmawan, Reagan; Satyanegara, William Gilbert; Natasya
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i1.24540

Abstract

Typhoid fever is a digestive disease with risk factors for lack of knowledge and inadequate hand washing. Typhoid fever cases in the world reach 11-20 million cases per year. The incidence of Typhoid fever in Asia is 267.6 cases per 100,000 per year. According to the RI Ministry of Health, Typhoid fever in Indonesia reached 41,081 cases. At the Puskesmas Legok there was an increase in typhoid fever visits of 550% in August compared to the average number of visits each month. The purpose of holding this activity is to increase public knowledge about typhoid fever and how to wash hands properly and correctly in the Puskesmas Legok. A community diagnostic approach is used to determine causes and interventions. Collecting data using a mini-survey and identifying the causes of problems through the Blum paradigm. The problem priority is determined from the Delphi non-scoring method. The root cause of the problem is determined using a Fishbone diagram. Intervention by counseling about Typhoid fever, training on proper and proper hand washing as well as distributing leaflets and placing posters. Monitoring uses the Plan-Do-Check-Action (PDCA) method and evaluation uses a systems approach. The results obtained at the counseling regarding Typhoid fever along with the pre-test and post-test, obtained a post-test value of > 70 in 85% of respondents. The results of good and correct hand washing activities were found to be 80% washing hands properly and correctly. It was concluded that one of the reasons for the increase in Typhoid fever cases at the Legok Health Center was the lifestyle aspect. After the intervention, there was an increase in knowledge about Typhoid fever and how to wash hands properly and correctly. Demam Tifoid merupakan penyakit pencernaan dengan faktor risiko kurangnya pengetahuan dan mencuci tangan yang tidak adekuat. Kasus demam Tifoid di dunia mencapai 11-20 juta kasus per tahun. Insiden demam Tifoid di Asia sebesar 267,6 kasus per 100.000 per tahun. Menurut Kemenkes RI, demam Tifoid di Indonesia mencapai 41.081 kasus. Pada Puskesmas Legok terdapat peningkatan kunjungan demam Tifoid sebesar 550% di bulan Agustus dibandingkan dengan jumlah kunjungan rerata tiap bulannya. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai demam Tifoid dan cara mencuci tangan yang baik dan benar di wilayah kerja Puskesmas Legok. Pendekatan diagnosis komunitas digunakan untuk menentukan penyebab serta intervensinya. Pengumpulan data menggunakan minisurvey dan mengidentifikasi penyebab masalah melalui paradigma Blum. Prioritas masalah ditentukan dari metode non-scoring Delphi. Akar penyebab masalah ditentukan menggunakan diagram Fishbone. Intervensi dengan penyuluhan mengenai demam Tifoid, pelatihan cuci tangan yang baik dan benar serta pembagian leaflet dan pemasangan poster. Monitoring menggunakan metode Plan-Do-Check-Action (PDCA) dan evaluasi menggunakan pendekatan sistem. Hasil yang didapatkan pada penyuluhan mengenai demam Tifoid disertai pre-test dan post-test, didapatkan nilai post-test > 70 pada 85% responden. Hasil kegiatan cuci tangan yang baik dan benar didapatkan 80% melakukan cuci tangan dengan baik dan benar. Disimpulkan bahwa salah satu penyebab peningkatan kasus demam Tifoid di Puskesmas Legok adalah aspek lifestyle. Setelah intervensi didapatkan peningkatan pengetahuan mengenai demam Tifoid dan cara mencuci tangan yang baik dan benar.
Co-Authors Adjie, Eko Kristanto Kunta Agustina Alifa, Tosya Putri Amimah, Ranindita Maulya Ismah Angtoni, Miranda Aribowo, Aretha Sarah Atzmardina, Zita Averina, Friliesa Baroto, Radian Tunjung Chua, Jimmy Darmawan, Reagan Destra, Edwin Dinata, Freddy Edbert, Bruce Emilda, Emilda Ernawati Ernawati Ernawati Ezra, Pasuarja Jeranding Fransisca I. R. Dewi Frisca Frisca Gaofman, Brian Albert Goh, Daniel Gracienne, Gracienne Gunaidi, Farell Christian Handayanti, Luthfi Hartono, Vincent Aditya Budi Hendsun, Hendsun Herdiman, Alicia Jap, Ayleen Nathalie Jaya, I Made Satya Pramana Kaminto, Eric Raditya Kasvana Kasvana Kasvana, Kasvana Kosasih, Robert Kurniawan, Joshua Kusuma, Kanaya Fide Linda Yulianti Wijayadi, Linda Yulianti Lumintang, Valentino Gilbert Mahaputera, Pramadio Mandalika, Astin Marcella, Agnes Mashadi, Fladys Jashinta Moniaga, Catharina Sagita Natasya Nathaniel, Fernando Normala, Ajeng Pambudi, Wiyarni Pati, Vanessa Irenea Peter Ian Limas Pujiono, Sheryn Purnomo, Yonathan Adi R Dewi, Fransisca Iriani Ranonto, Steve Vallery Rayhan, Naufal Rudi Rudi Ruslim, Welly Hartono S, Donatila Mano Saerang, Stefanus Hnady Samara, Trisha Santoso, Alexander Halim Satyo, Timothy Setia, Nicholas Shirly Gunawan Sidarta, Erick Siufui Hendrawan Soebrata, Linginda Soni, Yulfitra Su, Ernawati Sugiharto, Hans Suros, Angel Sharon Sutedja, Gina Triana Syachputri, Rifi Nathaznya Syarifah, Andhini Ghina Tamaro, Anggita Tan, Sukmawati Tansil Teguh, Stanislas Kotska Marvel Mayello Tiranda, Wisasti Gladys Chantika Triyana Sari Waltoni, Bobby Marshel Ancheloti Warsito, Jonathan Hadi Widjaja, Yoanita Wijaya, Christian Wijaya, Dean Ascha Wijaya, Dean Ascha Wijaya Yogie, Giovanno Sebastian Yohanes Firmansyah Yudhitiara, Novia