p-Index From 2021 - 2026
9.635
P-Index
This Author published in this journals
All Journal HAYATI Journal of Biosciences Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Jurnal Akuakultur Indonesia Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Jurnal Kebijakan Publik Jurnal Ilmu Komputer dan Agri-Informatika Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Jurnal Perikanan dan Kelautan Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Squalen Bulletin of Marine and Fisheries Postharvest and Biotechnology Indonesian Aquaculture Journal Jurnal Riset Akuakultur Media Akuakultur Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) Seminar Nasional Lahan Suboptimal Journal of Aquaculture and Fish Health Jurnal Abdi Insani Jurnal Syntax Transformation JAGO TOLIS : Jurnal Agrokompleks Tolis Jurnal Media Akuakultur Indonesia ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Journal of Fish Health Jurnal Pepadu Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Manfish Journal Jurnal Salamata Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Journal of Fisheries & Marine Jurnal Perikanan JARI : Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Berita Biologi Biodiversitas Journal of Biological Diversity
Claim Missing Document
Check
Articles

Control of Natural Food with Diazinon for Growth and Survival of Marbled Goby, Oxyeleotris marmorata (Bleeker) Nasir, M.; Sumawidjaja, K.; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.623 KB) | DOI: 10.19027/jai.3.19-24

Abstract

Dua percobaan telah dilakukan, yaitu tanpa dan dengan larva ikan. Percobaan pertama, yang menggunakan 3 konsentrasi diazinon 0. 2 dan 4 ppm dan 3 ulangan, mempelajari pertumbuhan rotifera, cladocera dan copepoda. Percobaan kedua mempunyai 2 perlakuan, yaitu diazinon 0 dan 4 ppm (yang terbaik dari percobaan pertama) serta 4 ulangan untuk mengevaluasi: 1) ketersediaan, pemanfaatan dan susunan jasad-jasad pakan, 2) pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva, serta 3) perkembangan larva ikan. Larva yang berumur satu hari ditebar pada saat kelimpahan rotifera tertinggi di hapa dengan kepadatan 40 larva/1 atau 3.200 larva/hapa. Hapa (mesh 0,8 mm) yang berukuran 50x40x50 cm ditempatkan dalam kolam-kolam beton yang berukuran 4,25x2,00x 0,65 m. Kolam-kolam ini mula-mula dikeringkan selama 2 hari, dipupuk dengan kotoran ayam 1.000 g/m3 dan diisi air setinggi 50 cm. Keesokan harinya kolam dipupuk dengan urea dan tripel superfosfat masing-masing 20 dan 30 g/m3. Dua hari kemudian air diberi diazinon sesuai perlakuan. Hasil percobaan pertama menunjukkan bahwa diazinon meningkatkan ketersediaan rotifera. Populasi rotifera tertinggi dicapai di kolam yang mendapat diazinon 4 ppm. Percobaan kedua memberikan laju pertumbuhan harian dan kelangsungan hidup larva ikan serta ketersediaan dan pemanfaatan rotifer tertinggi pada pemberian diazinon 4 ppm. Kata kunci: Pakan alami, larva. Oxyeleotris marmorata, diazinon. kelangsungan hidup, pertumbuhan   ABSTRACT Two experiments were conducted, without and with fish larvae. The first experiment, utilizing 3 concentrations of diazinon, i.e. 0, 2 and 4 ppm and 3 replications, evaluated the growth of rotifers, cladocerans and copepods. The second experiment had 2 treatments, i.e. 0 and 4 ppm diazinon and 4 replications evaluated: 1) the availability, utilization and composition of food organisms, 2) the growth and survival rates offish larvae, and 3) the development of larvae. One-day old larvae were stocked at times of highest rotifer concentrations in hapas at 40 larvae/1 or 3,200 larvae/hapa. Hapas (0,8 mm mesh) of 50x40x50 cm were placed in concrete ponds of 4.25x2.00x0,65 m. The ponds were dried for 2 days, fertilized with chicken manure 1.000 g/m3 and filled with water up to 50 cm deep. Next day, the ponds were fertilized with urea and triple superphosphate 20 and 30 g/m3 respectively. Two days later, the water was treated with diazinon according to treatments. The results of the first experiment showed that diazinon increased the availability of rotifers. The highest rotifer populations were obtained in ponds receiving 4 ppm diazinon. The second experiment gave highest daily growth and survival rates of fish larvae, te availability and utilization of rotifers at 4 ppm diazinon. Key words: Natural foods, larvae, Oxyeleotris marmorata, diazinon, survival, growth.
Parasites infestation on juvenile tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) nursed in net cage at Sea Farming Instalation Kepulauan Seribu, Jakarta Hadiroseyani, Yani; Effendi, Irzal; Rahayu, Agnis Murti; Arianty, Heni Sela
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.144 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.140-145

Abstract

This study was aimed to identify fauna parasite of juvenile tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) on the two locations of floating net at Floating Net Sea Farming Center, Pulau Seribu Jakarta. A total of five tiger grouper fry from each location, checked every two weeks during the nursery period in August-September 2008 and June-August 2009. Parasites of young tiger grouper found were protozoa (Trichodina and myxosporea), monogenea Diplectanum, metaserkaria digenea, and isopods Alitropus. Diplectanum infestation was dominant with prevalence reached 100% and the average intensity of 2,87-72,8. Fish nursed in the Perairan Pulau Semak Daun was more susceptible compared to the fish nursed in Pulau Karang Congkak. Keywords: tiger grouper, parasite, infestation, Seribu Island. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit yang menyerang benih kerapu macan pada masa pendederan dalam karamba jaring apung di dua lokasi Karamba Jaring Apung Balai Sea Farming, Kepulauan Seribu, yaitu di Perairan Pulau Semak Daun dan Perairan Pulau Karang Congkak. Sebanyak 5 ekor benih kerapu macan dari masing-masing lokasi, diperiksa setiap minggu selama dua periode pendederan pada bulan Agustus-September 2008 dan bulan Juni-Agustus 2009. Fauna parasit benih kerapu macan pada masa pendederan dalam jaring apung tersebut meliputi protozoa (Trichodina dan myxosporea), monogenea Diplectanum, metaserkaria digenea, dan isopoda Alitropus. Diplectanum merupakan parasit yang mendominasi dengan prevalensi mencapai 100% dan intensitas rerata 2.87–72,8. Pada Perairan Pulau Semak Daun lebih banyak ditemukan jenis parasit dengan prevalensi dan intensitas yang cukup tinggi dibandingkan dengan Perairan Pulau Karang Congkak.Kata kunci: ikan kerapu macan, parasit, infestasi, Pulau Seribu.
Supplementation of Nodulisporium sp. KT29 induced by Vibrio harveyi as an immunostimulant for controlling vibriosis in vannamei white shrimp under marine culture system Wahjuningrum, Dinamella; Efianda, Teuku Reza; Tarman, Kustiariyah; Yuhana, Munti; Effendi, Irzal; Saputra, Fazril
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.95-105

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study is to evaluate the effectiveness of Nodulisporium sp. KT29 supplementation with variousVibrio harveyi induction in feed against vibriosis in vannamei white shrimp. The study design included KP (positivecontrol without supplementation Nodulisporium sp. KT29 and infected with V. harveyi), KN (negative controlswithout Nodulisporium sp. KT29 and infected with physiological solution), NT (treatment of supplementationNodulisporium sp KT29 20 mL/kg and infected with V. harveyi), NM (treatment of supplementation testNodulisporium sp. KT29 induction of V. harveyi dead cell 20 mL/kg and infected V. harveyi), NH (treatment ofsupplementation Nodulisporium sp. KT29 induction of V. harveyi live cell 20 mL/kg and infected with V. harveyi).The study parameters included inhibition zone, resistance, immune responses, and hemolim glucose. The resultsshowed Nodulisporium sp. KT29 with induction treatment raised antibacterial activity with best treatment of NMand NH (P<0.05). The results of V. harveyi infection resistance presented NM treatment of 20 mL/kg increasesurvival in vannamei shrimp reached 72.2% (P<0.05). In addition, the same treatment increase the immuneresponse activity and decrease the activity of hemolim glucose. It could be concluded that providing NM 20 mLtreatment boosted the resistance and the immune system in vaname shrimp to control vibriosis reared at the sea.Keywords: antibacterial, β-glucan, induced, Nodulisporium sp. KT29, Vibrio harveyi ABSTRAK Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi efektivitas suplementasi Nodulisporium sp. KT29 dengan berbagai perlakuaninduksi Vibrio harveyi dalam pakan terhadap pengendalian vibriosis pada udang vaname yang dibudidayakan dilaut. Rancangan penelitian meliputi KP (kontrol positif tanpa suplementasi Nodulisporium sp. KT29 dan diinfeksiV. harveyi), KN (kontrol negatif tanpa Nodulisporium sp. KT29 dan diinfeksi larutan fisiologis), NT (perlakuanuji suplementasi Nodulisporium sp. KT29 20 mL/kg dan diinfeksi V. harveyi), NM (perlakuan uji suplementasiNodulisporium sp. KT29 diinduksi sel mati V. harveyi 20 mL/kg dan diinfeksi V. harveyi), NH (perlakuan ujisuplementasi Nodulisporium sp. KT29 induksi sel hidup V. harveyi 20 mL/kg dan diinfeksi V. harveyi). Parameterpenelitian meliputi zona hambat, resistensi, respons imun, dan glukosa hemolim. Hasil penelitian menunjukkanNodulisporium sp. KT29 dengan perlakuan induksi dapat meningkatkan aktivitas antibakteri dengan perlakuanterbaik NM dan NH (P<0.05). Hasil pengamatan resistensi infeksi V. harveyi menunjukkan perlakuan NM 20 mL/kg dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada udang vaname mencapai 72.2% (P<0.05). Perlakuan yang samajuga meningkatkan respons imun dan menurunkan aktivitas glukosa hemolim. Disimpulkan bahwa pemberianNM 20 mL dapat meningkatkan resistensi dan sistem imun udang vaname terhadap pengendalian vibriosis di laut.Kata kunci : antibakteri, β-glucan, induksi, Nodulisporium sp. KT29, Vibrio harveyi,
The performance of gold-mouth turban Turbo chrysostomus larvae in different temperature and salinity media Hamzah, Aris Sando; Nirmala, Kukuh; Supriyono, Eddy; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.14-23

Abstract

Suhu dan salinitas merupakan parameter kualitas air yang berperan penting terhadap proses fisiologis siput mata bulan (T. chrysostomus) sehingga berdampak terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi pengaruh suhu dan salinitas terhadap perkembangan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva siput mata bulan (T. chrysostomus). Stadia pre-torsion veliger dicapai sekitar 11 jam 36 menit setelah fertilisasi atau sekitar 3 jam setelah trocophor. Stadia post-torsion veliger awal ditandai dengan cangkang yang telah terbentuk sempurna dan pada post-torsion veliger akhir, larva sudah mengembangkan operkulum, kaki, dan propodium. Hasil pengamatan menunjukan bahwa perlakuan A1B3 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir tercepat yaitu masing-masing 19 jam 36 menit dan 22 jam 36 menit setelah pembuahan. Sedangkan perlakuan A1B1 memberikan waktu pencapaian stadia post-torsion veliger awal dan post-torsion veliger akhir terlama yaitu masing-masing 20 jam 30 menit dan 23 jam 25 menit setelah pembuahan. Suhu tidak berpengaruh nyata sedangkan salinitas berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan harian larva siput mata bulan. Laju pertumbuhan harian tertinggi pada suhu 27±0.5oC (A1) tercatat pada perlakuan B3 dan menunjukan nilai yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan B2. Suhu dan salinitas memberikan pengaruh yang signifikan namun interaksi keduanya tidak menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kelangsungan hidup larva siput mata bulan. Perlakuan A1B3 memberikan persentase tingkat kelangsungan hidup tertinggi dan tidak menunjukan nilai yang berbeda nyata dengan perlakuan A1B2. Parameter kualitas air yang diperoleh masih mendukung performa larva siput mata bulan hingga mencapai stadia juvenil.
Improved performance of botia fish Chromobotia macracanthus with the utilization of blood clam shell in the recirculation system Rizki, Rani Ria; Diatin, Iis; Budiardi, Tatag; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.160-170

Abstract

ABSTRACT Intermediate and holding rearing of botia face several problems such as the limited land, water quality, and decreased growth. The application of a recirculation culture system using the blood clam filter is increased to water quality and expected to solve the problems. This study aimed to analyze the production performance of botia fish on intermediate and holding rearing in the recirculation system by utilizing blood clams as the filter. This study used a factorial completely randomized design with two factors; clam particle sizes (1 mm, 2 mm, and 3 mm) and dosages (1.4 g/L, 1.8 g/L, and 2.2 g/L). Every experiment was conducted in three replication. The aquarium used in this study was 40×40×60 cm3. The size of fish samples was 3.5 ± 0.5 cm with the stocking density (3 fish/L, each test aquarium). The recirculation system was applied seven days before the fish were stocked. Every 15 days, weight and length of fish were measured (for 60 days). The results of physical (temperature) and chemical (pH, dissolved oxygen, ammonia dan nitrite) water quality in the recirculation system using the blood clam filter showed good conditions for botia fish. The stress response of botia blood glucose and TKO fluctuates with environmental changes. Mineral water and fish produced by calcium, magnesium, and phosphorus increase until the end of maintenance. There is an interaction at TKH between particle size and the dose of blood shells, whereas, LMPW, LMPL, and RKP significantly different only the use of dose 2.2 g/L. Keywords: Clamshells, botia fish, pH value, minerals, recirculation. ABSTRAK Permasalahan pada proses penampungan ikan botia yaitu keterbatasan lahan, kualitas air yang buruk dan pertumbuhan ikan botia yang lambat. Penerapan sistem resirkulasi menggunakan cangkang darah dapat meningkatkan kualitas air dan kinerja produksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja produksi budidaya ikan botia pada sistem resirkulasi dengan pemanfataan cangkang kerang darah sebagai bahan filter. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dua faktor, yaitu ukuran partikel cangkang kerang darah (1 mm, 2 mm, dan 3 mm) dan dosis cangkang kerang darah (1.4g/L, 1.8g/L dan 2.2g/L). Setiap perlakuan dilakukan dengan tiga kali ulangan. Akuarium yang digunakan dalam penelitian berukuran 40×40×60 cm3. Ikan yang digunakan berukuran 3.5 ± 0.5 cm dengan padat tebar 3 ekor/L. Sistem resirkulasi dioperasikan selama tujuh hari sebelum ikan ditebar. Bobot dan panjang ikan diukur setiap 15 hari selama 60 hari pemeliharaan. Penelitian dalam sistem resirkulasi menggunakan cangkang kerang darah pada media filter menghasilkan kondisi kualitas air suhu, pH, oksigen terlarut, amonia dan nitrit air. Respons stres ikan berupa glukosa darah dan tingkat konsumsi oksigen (TKO) berfluktuasi seiring dengan perubahan lingkungan. Mineral air dan ikan yang dihasilkan meliputi kalsium, magnesium dan fosfos meningkat hingga akhir pemeliharaan. Parameter tingkat kelangsungan hidup (TKH) memiliki interaksi antara ukuran partikel dan dosis cangkang kerang darah, sedangkan untuk laju pertumbuhan bobot mutlak (LPMB), laju pertumbuhan panjang mutlak (LPMP) dan rasio konversi pakan (RKP) berbeda nyata dengan penggunaan dosis 2.2 g/L. Kata kunci: Cangkang kerang darah, ikan botia, pH, mineral, resirkulasi.
The addition of calcium oxide with different doses in the recirculation system to improve the abalone Haliotis squamata seed production Supriyono, Eddy; Liubana, Debora Victoria; Budiardi, Tatag; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.199-206

Abstract

Information about abalone growth is necessary to overcome the abalone culture sustainability. Water quality parameters are aspects that need to be reviewed, one of which is the calcium level in the water. The aim of this study was to determine the optimal calcium dose in recirculation system for abalone (Haliotis squamata) growth. The study was conducted with an experimental method with four treatments (calcium oxide with doses of 0, 15, 30, 45 mg/L) and three times replications. Abalone with 2.3 g body weight, 2.3 cm shell length, and 1.2 cm shell width was reared for 60 days in recirculation system and fed with Gracilaria verrucosa. The results showed that the best abalone treatment medium with the addition of calcium oxide to increase the abalone seed production was 15 mg/L CaO with 100% survival rate, 31.57±2.82% feed efficiency, and 0.56±0.06%/day specific growth rate. Keywords: Abalone, calcium, organ composition, production, recirculation ABSTRAK Informasi tentang pertumbuhan abalon diperlukan untuk mengatasi keberlanjutan budidaya abalon. Parameter kualitas air merupakan aspek yang perlu ditinjau. Kadar kalsium dalam air menjadi salah satu aspek yang dapat ditinjau.Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan dosis kalsium optimal melalui sistem resirkulasi untuk pertumbuhan abalon Haliotis squamata. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan empat perlakuan 3 ulangan penambahan CaO dengan dosis 0, 15, 30, dan 45 mg/L. Secara singkat, abalon dengan bobot badan 2,3 g, panjang cangkang 2,3 cm dan lebar cangkang 1,2 cm dipelihara selama 60 hari dengan sistem resirkulasi dan diberi makan dengan Gracilaria verrucosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media perlakuan abalon dengan penambahan kalsium oksida terbaik untuk meningkatkan produksi abalon adalah CaO 15 mg/L dengan tingkat kelangsungan hidup 100%, efisiensi pakan 31,57 ± 2,82 %, dan laju pertumbuhan spesifik harian 0.56 ± 0.06%/hari. Kata kunci: Abalon, kalsium, komposisi organ, produksi, resirkulasi
The recirculated aquaculture system (RAS) development with nanobubble application to improve growth performance of grouper fish fry culture Hanif, Iik Muslihul; Effendi, Irzal; Budiardi, Tatag; Diatin, Iis
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.181-190

Abstract

One of the aquaculture commodities with high economic value is grouper fish (Epinephelus sp.). RAS is known as one of superior and suitable aquaculture systems in juvenile fish culture. RAS installed with NBs is expected to increase the stocking density and production of hybrid brown-marbled grouper. This study aimed to analyze the system performance of grouper fish juvenile culture in high stocking density with water exchange system, RAS, and combination of RAS and NBs. This study used a factorial design with two factors, namely different stocking densities and cultivation systems. The densities were 500, 600 and 700 fish/m3, while the treatment systems were RAS without NBs, RAS installed with NBs, and control treatment with 200% water change. Each treatment was replicated three times. The total aquaria used for this study were 27 as each size was 1.5 m × 0.5 m × 0.5 m. The study results showed that the RAS installed with NBs and a stocking density of 600 fish/m2 showed the best results on fish production performance. Keywords: density, growth, grouper, nanobubble, RAS ABSTRAK Pendederan ikan kerapu meripakan salah satu segmen dalam usaha budidaya ikan kerapu (Epinephelus sp.). Salah satu sistem akuakultur yang cocok yang dapat digunakan dalam pendederan ikan kerapu ini adalah sistem recirculated aquaculture system (RAS). RAS dengan instalasi nanobubble (NBs) ini diharapkan bisa meningkatkan padat tebar dan kinerja produksi benih ikan kerapu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja sistem pendederan ikan kerapu dengan padat tebar tinggi berbasis sistem pergantian air, RAS, dan perpaduan antara RAS dan NBs. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah faktorial dengan dua faktor, yaitu padat tebar dan sistem budidaya berbeda. Padat tebar yang digunakan adalah 500, 600, dan 700 ekor/m3, sedangkan sistem budidaya terdiri dari RAS tanpa NBs, RAS dengan NBs dan kontrol (sistem pergantian air 200%), setiap perlakuan terdiri dari atas tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendederan menggunakan RAS dengan NBs dengan padat tebar 600 ekor/m2 menunjukkan kinerja produksi ikan kerapu yang terbaik. Kata kunci: ikan kerapu, kepadatan, nanobubble, pertumbuhan, RAS
Grouper nursery development in sea floating net cage through the application of meniran and garlic powder in feed Effendi, Irzal; Pratama, Ahmad Trio; Mulyadin, Aldy; Wahjuningrum, Dinamella
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.191-202

Abstract

Untuk mendukung usaha budidaya ikan kerapu kini tengah digalakkan sistem pendederan intensif dalam keramba jaring apung (KJA) di laut. Salah satu cara untuk menjaga kondisi ikan tetap sehat dalam sistem tersebut yaitu dengan pemberian fitofarmaka seperti meniran-bawang putih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penambahan tepung meniran-bawang putih melalui pakan terhadap status kesehatan dan kinerja produksi benih ikan kerapu cantang pada pendederan dalam keramba jaring apung di laut. Benih ikan kerapu cantang (panjang 8.27 ± 0.16 cm dan bobot 10.89 ± 0.83 g) dipelihara dalam KJA berupa waring 1x1x1.5 m3 dan diberi pakan dengan penambahan tepung meniran-bawang putih 20 + 25 g/kg pakan selama 7 hari dan 14 hari pertama pemeliharaan, serta tanpa tepung meniran-bawang putih (kontrol) sebagai perlakuan. Ikan dipelihara selama 42 hari dan disampling setiap 2 minggu untuk diambil darah serta diukur bobot dan panjangnya. Penambahan tepung meniran-bawang putih selama 14 hari pada pakan ikan kerapu dapat meningkatkan status kesehatan dan kinerja produksi. Kata kunci: ikan kerapu cantang, kinerja produksi, meniran-bawang putih, status kesehatan.
The use of ambon banana (Musa paradisiaca var. sapientum) stems flour in grouper (Epinephelus lanceolatus ♂× Epinephelus fuscoguttatus ♀) floating net cage nursery Wahjuningrum, Dinamella; Lestari, Diah Ayu; Mulyadin, Aldy; Effendi, Irzal
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.1.22-31

Abstract

The study aimed to test the effectiveness of ambon banana stems flour through feeding on the health status and performance of the groupers reared in the sea floating net cages. The groupers (8.27 ± 0.20 cm length and 11.69 ± 0.50 g weight) were reared in 1 m × 1 m × 1.5 m floating net cages with a stocking density of 112 fish /m3 for 42 days. The feed was commercial feed with 46% and 48% protein, which was added with 30 g/kg of ambon banana stems flour with a coating method. This study consists of three treatments and three replications, i.e. feeding at the beginning of reared for 7 days (A), 14 days (B), and feeding without ambon banana stems flour (control). The observed parameters were production performance, morphometric, hematological test, and water quality. The results showed that the production performance between treatments was not significantly different (P>0.05). Based on the morphometric test the total length for treatment A increased significantly (P <0.05) compared to the control and B. On the 14th day of the hematological test, it was known that the highest total erythrocyte, hemoglobin, hematocrit, and total leukocyte was found in treatment B, however, the differential leukocyte did not differ significantly (P>0.05). The addition of Ambon banana stems flour in feed in the first 14 days (B) can improve health status but has not been able to increase production performance and morphometric grouper. Keywords: cantang grouper fish, production performance, health status, Ambon banana stems flour ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah menguji efektivitas tepung batang pisang ambon dalam pakan terhadap status kesehatan dan kinerja produksi ikan kerapu cantang yang didederkan dalam KJA di laut. Ikan kerapu cantang berukuran 8.27 ± 0.20 cm dengan bobot rata-rata 11.69 ± 0.50 g dipelihara dalam KJA berukuran 1 m × 1 m × 1.5 m (kedalaman air 2,5 m) dengan kepadatan 112 ekor/m2 dan dipelihara selama 42 hari. Pakan yang digunakan adalah pakan komersil dengan protein 46% dan 48%, yang selanjutnya ditambahkan tepung batang pisang ambon sebanyak 30 g/kg pakan dengan metode coating. Penelitian ini menggunakan tiga perlakuan dan tiga ulangan yakni pemberian pakan perlakuan di awal pemeliharaan selama 7 hari (A), 14 hari (B) dan tanpa pemberian pakan dengan tepung batang pisang ambon (kontrol). Parameter yang diamati adalah kinerja produksi, morfometrik, uji hematologi dan pengukuran kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan kinerja produksi antar perlakuan tidak berbeda signifikan (P>0.05). Berdasarkan pada uji morfometrik pada bagian panjang total untuk perlakuan A ditemukan peningkatan signifikan (P<0.05) dibandingkan perlakuan kontrol dan B. Pada uji hematologi hari ke-14 diketahui total eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan total leukosit tertinggi terdapat pada perlakuan B, sedangkan nilai diferensial leukosit antar perlakuan tidak berbeda signifikan (P>0.05). Penambahan tepung batang pisang ambon dalam pakan pada 14 hari pertama pemeliharaan (B) dapat meningkatkan status kesehatan, namun belum mampu meningkatkan kinerja produksi dan morfometrik ikan kerapu. Kata kunci: ikan kerapu cantang, kinerja produksi, status kesehatan, tepung batang pisang ambon
Availability of puerulus from natural catch for lobster panulirus spp. nursery culture Diatin, Iis; Effendi, Irzal; Hadiroseyani, Yani; Budiardi, Tatag; Hernanda, Virta Rizki; Nidwidyanthi, Nidwidyanthi; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.2.133-141

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang melakukan ekspor lobster ke negara Hongkong, Vietnam, China, dan Singapura, dengan nilai ekspor lobster Indonesia mengalami rata-rata pertumbuhan 3,54% pertahun. Produksi lobster tersebut masih mengandalkan hasil tangkapan, karena budidaya lobster belum banyak dilakukan di Indonesia. Pantai Barat Provinsi Lampung dikenal sebagai daerah tangkapan lobster yang dimanfaatkan oleh nelayan setempat sebagai sumber pendapatan utama. Untuk mengetahui potensi ekonomi dari budidaya lobster, maka dilakukan penelitian dengan tujuan menganalisis ketersediaan benih bening lobster (BBL) dan rantai pasok lobster sebagai suplai benih untuk kebutuhan budidaya lobster. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode survei di Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Responden dalam penelitian adalah para nelayan penangkap BBL dan pengepul BBL. Penentuan responden dilakukan dengan metode snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis lobster utama yang ditangkap adalah jenis lobster pasir dan lobster Mutiara. Hasil tangkapan nelayan lobster pada bulan gelap yaitu rata-rata 121 340 ekor BBL/bulan, sedangkan pada bulan terang rata-rata 4 680 ekor BBL/bulan, sehinnga dalam setahun benih yang dihasilkan mencapai 1.500.000 ekor BBL. BBL hasil tangkapan nelayan akan dijual pengepul kecil, selanjutnya ke pengepul besar, distributor dan eksportir. BBL terdistribusi ke berbagai wilayah mencakup Lampung, Bengkulu, Jambi, Palembang dan Jakarta. Marjin pemasaran yang diperoleh pengepul kecil dan besar mencapai 15 %. Produksi benih lobster yang melimpah di perairan Pantai Pesisir Barat Lampung sangat berpotensi untuk pengembangan budidaya pendederan lobster sebagai sumber ekonomi baru.
Co-Authors . Enywati A.I. Nirwana Achmad Fahrudin Achmad Putra Adiguna, Ipong ADNI OKTAVIANA Agnis Murti Rahayu Agus Oman Sudrajat Agustinus Tri Aryanto, Agustinus Tri Aji Fajar Nugraha Akbar Marzuki Tahya Aldi Huda Verdian Aldy Mulyadin Ali Mashar Alimuddin Alimuddin Alimuddin Amalia E. Maulana Apriana Vinasyiam Aprianta, I Ketut Bimbo Ardana Kurniaji Asep Sopian Astari, Belinda Asterika Prawesti Atul Hayati, Mira Auzi Asfarian Awaluddin, Muhammad Iswan Bagus Ansani Takwin Barnabas Bara&#039;padang Betutu Senggagau, Betutu Brata Pantjara Budidardi, Tatag D. Augustine Daffa Nuradzani Dea Fauzia Lestari, Dea Fauzia DEDI JUSADI Dendi Hidayatullah, Dendi Dharmadi, , Diah Ayu Lestari, Diah Ayu Dian Febriani Diana Putri Renitasari Dinamella Wahjuningrum Dinamella Wahyuningrum Dinar Tri Soelistyowati Eddy Supriyono Efianda, Teuku Reza Enang Harris Surawidjaja Eva Prasetiyono Fadlilah, Rizqy Aditya Fauzan, Agung Lutfi Fauzan, Agung Luthfi Febrianto, Muhammad Riza Hanief Fery Kurniawan Fredinan Yulianda Gloria I. Satriani Gloria Ika Satriani Gloria Ika Satriani Hamzah, Aris Sando Hanif, Iik Muslihul Haris luthfi Harton Arfah Hary Krettiawan Helena Sahusilawane Heni Sela Arianty Herdhata Agusta Hernanda, Virta Rizki Hylda Khairah Putri I Wayan Nurjaya Iis Diatin Irman Hermadi Isti'anah, Ismi Isti'anah, Ismi - Ita Apriani Jannah, Uthary Rahmathul Joni Haryadi, Joni Jr., Muhammad Zairin K. Sumawidjaja Kevin Dony Kesuma Khairah, Hylda Khoirul Umam Kholidin, Edy Barkat Kukuh Nirmala Kusman Sumawidjaja Kustiariyah Tarman Lastriliah, Mira Lee, Wen-Chien Ligaya I. T. A. Tumbelaka Liubana, Debora Victoria M. Idham Shilman M. Nasir M. Zairin Junior Manja Meyky Bond, Manja Meyky Martinez, Stepahnie J. Maulana, Fajar Meri Alvina Taufik MIA SETIAWATI Mia Setiawati Mochamad Tri Hartanto Mohammad Aghistni Rahman Muhammad Abduh MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Arif Mulya Muhammad Iswan Awaluddin MUHAMMAD QUSTAM SAHIBUDDIN Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhlis Muhlis MUNTI YUHANA Muzahar N. Suhenda Nidwidyanthi, Nidwidyanthi Nina Nurmalia Dewi Novitasari, Septi Liana Nur Bambang Priyoutomo Nurbayasari, Rodiah Nuri Muahiddah Nurul Fatimah Pratama, Ahmad Trio Puradiredja, Sena Pasha Putri Utami, Putri Raismin Kotta Rangga Idris Affandi Rastina Renitasari, Diana Putri RIDWAN AFFANDI Riska Puluhulawa Risma Amelia Putri Riyan Maulana Riza Rahman Hakim Rizki, Rani Ria Rizky Regina Kawirian Roni Nugraha Ruku Ratu Borut Rumondang, Anne Salsabila, Afviya Santi Susanti, Santi sapanli, kastana Shavika Miranti Sophia N. M. Fendjalang Sri Hariati Sri Nuryati Sri Warastuti Sugeng Heri Suseno Sukenda, Sukenda, Suko Ismi Sumarwan, Zatricia Yustiresta Salsabila Sunarti Suprianto, Dedi Supryady Supryady Supryady, Supryady Surya Saputra, Surya Suwarto Suwarto T. Prasetya T. Yusdiana T.M. Haja Almuqaramah Tanbiyaskur, Tanbiyaskur Tatag Budiardi Tatag Budidardi Taufiq Abdullah, Taufiq Thavasimuthu Citarasu Toto Haryanto TRI ASTUTI Tri Prartono Tridoyo Kusumastanto Tulas Aprilia Vinasyam, Apriana Wahjuni, Sri Wahyudin Wahyudin WIDANARNI WIDANARNI Wijianto Wijianto Wildan Nurussalam Wini - Trilaksani Wiyoto Wiyoto Y. Hadiroseyani Yani Haderoseyani Yogi Al Munji Yonvitner - Yunarty Yunarty Yunarty Yunarty, Yunarty Yuni Puji Hastuti Yusuf, Muh. Amri Zaki, Nurul Hidayah Mat