Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN KEBIASAAN SARAPAN PAGI DAN KADAR HEMOGLOBIN TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI KEDOKTERAN ANGKATAN 2014 UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG Festy Ladyani Mustofa; Hetti Rusmini
Jurnal Medika Malahayati Vol 1, No 3 (2014): Volume 1 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.436 KB) | DOI: 10.33024/jmm.v1i3.1922

Abstract

Latar Belakang : Tumbuh kembang anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitasdan kuantitas yang baik serta benar. Sarapan adalah suatu kegiatan yang penting dilakukan sebelum melakukan aktivitasbelajar mengajar. Tanpa sarapan seseorang akan mengalami hipoglikemia atau kadar glukosa di bawah normal.Hipoglikemia mengakibatkan susah berkonsentrasi dalam belajar. Itu semua karena kekurangan glukosa yang merupakansumber energi bagi otak. Seseorang yang mempunyai kadar hemoglobin di dalam darah lebih rendah dari nilai normal,menyebabkan gangguan dalam berkonsentrasi. Untuk bisa mempertahankan daya ingat maupun kemampuanberkonsentrasi diperlukan energi yang tersedia dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari hubungankebiasaan sarapan pagi dan kadar hemoglobin terhadap konsentrasi belajar pada mahasiswi program studi kedokteranangkatan 2014 universitas malahayati bandar lampung.Metode : Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subjek berjumlah 146 responden pengukuran kadarhemoglobin menggunakan easy touch nesco GHb dan pengukuran konsentrasi menggunakan tes Wechsler AdultIntelligence Scale (WAIS) . Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Maret 2015. Analisis data menggunakan ujiSpearman dengan program SPSS versi 16.00.Hasil : Responden dengan katakteristik sarapan pagi tertinggi sebanyak 57 orang (39,0%), karakteristik kadarhemoglobin rendah paling banyak 84 orang (57,5%), konsentrasi belajar kurang paling banyak 81 orang (51,5%). Hasil ujiChi-square didapatkan ada hubungan antara kebiasaan sarapan pagi (p = 0,000) dan kadar hemoglobin (p = 0,000)terhadap konsentrasi belajar.Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan pagi (p = 0,000) dan kadar hemoglobin(p = 0,000) terhadap konsentrasi belajar pada mahasiswi program studi kedokteran angkatan 2014 universitas malahayatibandar lampung.
GAMBARAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN OSCE UKMPPD PADA MAHASISWA FIRST TAKER PENDIDIKAN PROFESI DOKTER UNIVERSITAS MALAHAYATI BATCH NOVEMBER 2019 Festy Ladyani Mustofa; Jordy Oktobiannobel; Sulesa Sulesa
Jurnal Medika Malahayati Vol 4, No 2 (2020): Volume 4 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.34 KB) | DOI: 10.33024/jmm.v4i2.2503

Abstract

Kecemasan adalah keadaan tegang berlebihan ditandai perasaan khawatir, tidak menentu, atau takut. Kecemasan sering di alami pada mahasiswa khususnya mahasiswa kedokteran yang akan melaksanakan Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) diantaranya ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dan Computer Based Test (CBT). OSCE merupakan instrumen penilaian keterampilan klinik pada mahasiswa kedokteran. Kecemasan apabila sudah mencapai tingkat kecemasan yang berat akan mengganggu proses jalannya ujian dan juga memungkinkan mempengaruhi hasil ujian pada mahasiswa program profesi dokter yang melaksanakannya. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif  dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Tujuannya untuk mengetahui gambaran kecemasan dalam menghadapi OSCE UKMPPD pada mahasiswa first taker pendidikan profesi dokter di Universitas Malahayati tahun 2019. Hasil penelitian didapatkan kecemasan paling tinggi yaitu sebesar 78 (56%) pada kecemasan ringan. Distribusi usia paling banyak mengikuti ujian OSCE UKMPPD adalah  usia 24 tahun 88 peserta (63,8%). Ditribusi jenis kelamin paling banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 99 peserta (71,7%). Distribusi masa studi paling banyak dari peserta OSCE UKMPPD yaitu Masa studi 6 tahun yaitu sebanyak 108 peserta (78,26%). Berdasarkan distribusi data terbanyak untuk gambaran kecemasan dalam menghadapi ujian OSCE UKMPPD pada mahasiswa first taker pendidikan profesi dokter di Universitas Malahayati Bandar Lampung tahun 2019 adalah kecemasan ringan, usia 24 tahun, jenis kelamin perempuan, dan dengan masa studi 6 tahun.
PENGARUH KONSUMSI BUAH PISANG AMBON (Musa paradisiaca) TERHADAP TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KIBANG BUDI JAYA KECAMATAN LAMBU KIBANG KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT Festy Ladyani Mustofa; Ade Maria Ulfa; Novita Putri; Ismalia Husna
Jurnal Medika Malahayati Vol 5, No 1 (2021): Volume 5 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.753 KB) | DOI: 10.33024/jmm.v5i1.4119

Abstract

Penyakit hipetensi tidak mengenal usia dikarenakan masih kurannya pengetahuan dan pola hidup yang tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi buah pisang terhadap tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental, dengan jumlah populasi dan sampel sebanyak 116 lansia yang terkena hipertensi. Dari beberapa diperoleh sampel sebanyak 30 sampel. Analisis data yang digunakan menggunakan Uji Paired Sample T Test. Tekanan darah sebelum mengkonsumsi pisang pada Lansia dengan Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kibang Budi Jaya Kecamatan Lambu Kibang Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2020 rata-rata tekanan darah sistolik 147,33 mmHg, sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik adalah sebesar 93,33 mmHg. Tekanan darah sesudah mengkonsumsi pisang pada Lansia dengan Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kibang Budi Jaya Kecamatan Lambu Kibang Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2020 mengalami penurunan rata-rata tekanan darah sistolik 138,83 mmHg, sedangkan rata-rata tekanan darah diastolik 84,83 mmHg. Konsumsi buah pisang ambon mempunyai pengaruh yang signifikan untuk menurunkan tekanan darah pada lansia yang menderita hipertensi.
HUBUNGAN PEMBERIAN MP-ASI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 6-24 BULAN DI PUSKESMAS KEDATON BANDAR LAMPUNG Nina Herlina; Festy Ladyani; Astri Pinilih; Ni Ketut Novita Yani
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 3 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v3i1.4069

Abstract

Penyakit diare menjadi salah satu masalah kesehatan sangat umum terjadi pada anak – anak, terutama pada balita usia di bawah 2 tahun. Kejadian diare pada balita salah satunya disebabkan oleh higienitas termasuk dalam pemberian makan pendamping ASI.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian makanan pendamping (MP-ASI) dengan kejadian diare pada balita 6-24 bulan di Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung.Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan metode potong lintang. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung pada bulan Januari – Februari 2022. Populasi pada penelitian adalah seluruh ibu-ibu yang memiliki balita usia 6 sampai 24 bulan dan jumlah sampel 127 balita. Variabel bebas pada penelitian adalah tekstur MP-ASI, frekuensi pemberian MP-ASI dan banyaknya MP-ASI per porsi, sedangkan variabel terikat adalah kejadian diare. Uji statistik dilakukan dengan uji chi kuadrat. Karakteristik responden paling banyak berusia 12 – 24 bulan (89%), pekerjaan orang adalah SMA (41,7%) dan pekerjaan orang tua adalah ibu rumah tangga (59,1%). Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan yang signifikan antara tekstur MP-ASI (nilai p = 0,001), frekuensi MP-ASI (nilai p = 0,018) dan banyaknya MP-ASI (nilai p = 0,011) dengan kejadian diare pada balita. Terdapat hubungan pemberian MP-ASI dengan kejadian diare pada balita.   Kata Kunci      : Balita, Diare, Pemberian MP-ASI
Hubungan Aktivitas Penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Berdasarkan Skor Mex Sledai Dengan Kualitas Hidup Di Komunitas Odapus Kota Bandar Lampung Rina Kriswiastiny; Festy Ladyani Mustofa; Woro Pramesti; Abdul Hafiz Azhari
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 Nomor 3 (2022)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.597 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v2i3.3960

Abstract

ABSTRACT: THE RELATIONSHIP OF LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) SYSTEMIC DISEASE ACTIVITIES BASED ON MEX SLEDAI SCORES AND QUALITY OF LIFE IN ODAPUS COMMUNITIES BANDAR LAMPUNG Background: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is an autoimmune rheumatic disease characterized by widespread inflammation that affects every organ or system in the body. The clinical manifestations of LES vary depending on the organs involved, which can involve many organs in the human body with a complex and varied clinical course.Research objectives: This study aims to determine the relationship between disease activity systemic lupus erythematosus (sle)based on the MEX SLEDAI score with the quality of life in the Odapus community, Bandar Lampung City in 2020.Research method: The type of research used in this study was analytic with design total sampling. The sample used in this study were all Systemic Lupus Erythematosus (SLE) patients in the Odapus community, Bandar Lampung City in 2020 who met the inclusion criteria as many as 40 people. Data analysis used correlation test Spearman's.Results: The results of the study were found in SLE patients based on the MEX SLEDAI score, namely 17 people (42.5%) of moderate activity and 23 people (57.2%) of poor quality of life also obtained p-value = 0.002 and correlation = -0.474 .Conclusion: There is a relationship between disease activity systemic lupus erythematosus (SLE)based on the MEX SLEDAI score with the quality of life in the Odapus community, Bandar Lampung city in 2020. Keywords: SLE disease activity, MEX SLEDAI score, Quality of life   INTISARI: HUBUNGAN AKTIVITAS PENYAKIT SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) BERDASARKAN SKOR MEX SLEDAI DENGAN KUALITAS HIDUP DI KOMUNITAS ODAPUS KOTA BANDAR LAMPUNG   Latar Belakang: Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit reumatik autoimun yang ditandai adanya inflamasi tersebar luas, yang mempengaruhi setiap organ atau sistem dalam tubuh. Manifestasi klinik dari LES beragam tergantung organ yang terlibat, dimana dapat melibatkan banyak organ dalam tubuh manusia dengan perjalanan klinis yang komplek dan bervariasi.Tujuan penelitian: Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan aktivitas penyakit systemic lupus erythematosus (SLE) berdasarkan skor MEX SLEDAI dengan kualitas hidup di komunitas Odapus Kota Bandar Lampung Tahun 2020.Metode penelitian: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan desain Total Sampling. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah seluruh pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di komunitas Odapus Kota Bandar Lampung Tahun 2020 yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 40 orang. Analisa data menggunakan uji korelasi Spearman’s.Hasil Penelitian: Didapatkan hasil penelitian pada pasien SLE berdasarkan skor MEX SLEDAI yaitu pada aktivitas sedang sebanyak 17 orang (42.5%) dan kualitas hidup yang buruk sebanyak 23 orang (57.2%), juga didapatkan nilai p-value =0.002 dan korelasi =-0.474.Kesimpulan: Ada hubungan aktivitas penyakit systemic lupus erythematosus (SLE) berdasarkan skor MEX SLEDAI dengan kualitas hidup di komunitas odapus kota Bandar Lampung Tahun 2020. Kata kunci: Aktivitas penyakit SLE, Skor MEX SLEDAI, Kualitas hidup
Hubungan Derajat Aktivitas Penyakit Dengan Status Kesehatan Pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Komunitas Odapus Lampung Dwi Sebtelia; Festy Ladyani; Rina Kriswiastiny; Firhat Esfandiari
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.526 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v2i4.5593

Abstract

ABSTRACT Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is a complex systemic autoimmune disease characterized by increased production of autoantibodies, with inflammation of various organs.  To determine the relationship between the degree of disease activity and health status in Systemic Lupus Erythematosus (SLE) patients in the Lampung ODAPUS Community in 2020.  An analytic survey with cross-sectional, using total sampling. The subjects are 40 patients in the Lampung ODAPUS Community in 2020. The study found patients with a degree of mild disease activity were 5 respondents (12.5%), and severe 35 respondents (87.5%). Good health status 13 respondents (32.5%), bad 27 respondents (67.5%). The results of the Chi-Square test analysis showed a p-value=0.000 (p <0.015), which means that there is a significant relationship between the degree of disease activity and health status. There is a relationship between the degree of disease activity and health status in Systemic Lupus Erythematosus (SLE) patients in the Lampung ODAPUS Community in 2020 (p-value<0,05). Keywords: Degree of Disease, Health Status, SLE ABSTRAK Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun sistemik kompleks penandaannya pada peningkatan produksi autoantibodi dan inflamasi pada organ. Tujuan untuk mengetahui  hubungan derajat aktivitas penyakit dengan status kesehatan pada pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Komunitas ODAPUS Lampung tahun 2020. Metode bersifat analitik secara cross sectional, menggunakan total sampling. Responden penelitian seluruh pasien Lupus di Komunitas ODAPUS Lampung sebanyak 40 orang. Penelitian didapatkan pasien dengan derajat aktivitas penyakit ringan 5 responden (12,5%), berat 35 responden (87,5%). Status kesehatan baik 13 responden (32,5%), buruk 27 responden (67,5%). Hasil analisa uji Chi Square p-value=0,000 (p<0,015) terdapat hubungan bermakna derajat aktivitas penyakit dengan status kesehatan. Terdapat hubungan derajat aktivitas penyakit dengan status kesehatan pada pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Komunitas ODAPUS Lampung tahun 2020 (p-value<0,05). Kata Kunci : Derajat Penyakit, Status Kesehatan, SLE 
Analisis Tingkat Kecemasan Pada Pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Di Komunitas Odapus Lampung Pada Masa Pandemi Covid-19 Rina Kriswiastiny; Festy Ladyani Mustofa; Firhat Esfandiari; Jane Elvina
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 (2022)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.22 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v2i1.3985

Abstract

ABSTRACT Systemic lupus erythematosus (SLE) is an autoimmune disease that attacks the immune system. Patients with SLE who are immunologically and genetically compromised are predisposed to infection. Currently the world, including Indonesia, is being hit by the COVID-19 pandemic, which is a respiratory tract infection caused by the corona virus. Because of the easy and fast way of transmission, the community is no exception for SLE sufferers who are more susceptible to infection for fear of contracting this virus, this can cause psychological conditions that can be experienced, namely anxiety. To determine the analysis of anxiety levels in patients with Systemic Lupus Erythematosus Community ODAPUS Lampung during the COVID-19 Pandemic. This type of research is descriptive with a cross sectional approach using the Zung Self-rating Anxiety Scale online questionnaire. The sample of this study was all patients diagnosed with Systemic Lupus Erythematosus in the ODAPUS Lampung community as many as 40 people. Data analysis used univariate analysis by using tables in presenting the data. The results of the study of 40 patients showed that the characteristics of SLE patients based on age were mostly adults (65%), the most gender were women (97.5%), the last education was college. (60%), most of the jobs are at university level. IRT (42.5%), on the level of anxiety obtained normal anxiety (50%) and mild anxiety (50%). It is known that the analysis of the level of anxiety in patients with Systemic Lupus Erythematosus Community ODAPUS Lampung during the COVID-19 pandemic showed that there were 20 patients with normal anxiety levels, 20 patients with mild anxiety, and no patients with mild anxiety. moderate or severe anxiety levels of a total of 40 patients. Keywords: SLE, COVID-19, Anxiety Level  ABSTRAK Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah suatu penyakit autoimun, yang menyerang kekebalan tubuh. Pasien dengan SLE yang terganggu imunologi serta genetik menjadi predisposisi terjadinya infeksi. Saat ini, dunia termasuk Indonesia sedang dilanda pandemi COVID-19 yang merupakan infeksi saluran pernapasan oleh corona virus. Karena cara penularannya yang mudah dan cepat membuat masyarakat tidak terkecuali pasien SLE yang lebih rentan terkena infeksi takut tertular oleh virus ini, hal ini dapat menyebabkan satu keadaan psikologi yang bisa dialami yaitu rasa cemas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Analisis Tingkat Kecemasan pada pasien Systemic Lupus Erythematosus di Komunitas ODAPUS Lampung pada masa Pandemi COVID-19. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan Cross-sectional menggunakan kuesioner Zung Self-rating Anxiety Scale secara online. Sampel penelitian ini adalah seluruh pasien yang terdiagnosa Systemic Lupus Erythematosus di komunitas ODAPUS Lampung sebanyak 40 orang. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan menggunakan tabel dalam penyajian data. Hasil penelitian dari 40 pasien tersebut didapatkan karakteristik pasien SLE berdasarkan usia terbanyak yaitu pada dewasa (65%), jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan (97,5%), pendidikan terakhir terbanyak pada tingkat perguruan tinggi (60%), pekerjaan terbanyak pada IRT (42,5%), pada tingkat kecemasan didapatkan normal (50%) dan kecemasan ringan (50%). Diketahui analisis tingkat kecemasan pada pasien Systemic Lupus Erythematosus di Komunitas ODAPUS Lampung pada masa pandemi COVID-19 yaitu didapatkan tingkat kecemasan normal terdapat 20 pasien, kecemasan ringan 20 pasien dan tidak ditemukan pasien pada tingkat kecemasan sedang maupun berat dari total keseluruhan 40 pasien. Kata Kunci : SLE, COVID-19, Tingkat Kecemasan
Hubungan Aktivitas Penyakit SLE (Systemic Lupus Erythematosus) Berdasarkan Skor Mex Sledai Terhadap IMT (Indekd Masa Tubuh) Di Komunitas Odapus Kota Bandar Lampung Rina Kriswiastiny; Festy Ladyani Mustofa; Toni Prasetia; Muhammad Farid Wajdi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 (2022)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.28 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v2i2.3952

Abstract

ABSTRACT SLE (Systemic Lupus Erythematosus) is a chronic inflammatory disease of unknown etiology with various clinical manifestations as well as various clinical courses and prognoses. Approximately 1,250,000 Indonesians are affected by this disease. The clinical manifestations of LES vary depending on the organs involved, which can involve many organs in the human body with a complex and varied clinical course. This study aimed to determine the relationship between SLE (systemic lupus erythematosus) disease activity based on the MEX-SLEDAI score against BMI (Body Mass Index) in the Odapus community, Bandar Lampung City. The design in this study was correlative analytic using a cross-sectional design. The sample in this study was all patients SLE (systemic lupus erythematosus) who are members of the Lampung ODAPUS community in 2020 and 40 people who met the inclusion criteria. Data analysis used Spearman's correlation test. The results showed that of the 40 respondents with the most SLE disease activity value, it was the moderate category with 17 people (42.5%). Meanwhile, for BMI, the most number was in the normal category, namely 23 people (57.5%). There is a relationship between SLE disease activity based on MEX-SLEDAI scoring on BMI in the ODAPUS community in Bandar Lampung city. Keywords: SLE disease activity, SLEDAI MEX Score, BMI ABSTRAK SLE (Systemic  Lupus Erythematosus) merupakan penyakit kronik inflamatif yang belum diketahui etiologinya dengan manifestasi klinis yang beragam serta berbagai perjalanan klinis dan prognosisnya. Sekitar 1.250.000 orang Indonesia yang terkena penyakit ini. Manifestasi klinik dari LES beragam tergantung organ yang terlibat, dimana dapat melibatkan banyak organ dalam tubuh manusia dengan perjalanan klinis yang komplek dan bervariasi. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan  aktivitas penyakit SLE (systemic  lupus erythematosus)  berdasarkan skor MEX-SLEDAI skoring terhadap IMT (Indeks Masa Tubuh) di komunitas Odapus Kota Bandar Lampung. Rancangan dalam penelitian ini analitik korelatip menggunakan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah selutuh pasien SLE (systemic  lupus erythematosus) yang tergabung di komunitas ODAPUS Lampung Tahun 2020 dan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 40 orang. Analisa data menggunakan uji korelasi Spearman’s. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa dari 40 responden dengan nilai aktivitas penyakit SLE yang paling banyak yaitu kategori sedang dengan jumlah 17 orang (42,5%). Sedangkan untuk IMT angka yang paling banyak berada dikategori normal yaitu 23 orang (57,5%). Ada hubungan antara Aktivitas Penyakit SLE Berdasarkan MEX-SLEDAI skoring terhadap IMT di komunitas ODAPUS kota Bandar Lampung. Kata kunci : Aktivitas penyakit SLE, Skor MEX SLEDAI, IMT
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Serumen Obsturan Festy Ladyani Mustofa; Tria Yune; Muslim Kasim; Ega Eryzkia
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Volume 1 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.386 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v1i1.3731

Abstract

 ABSTRACT: ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING THE FORMATION OF CERUMENT OBTURANS Background : Factors that influence the high incidence of obsturan serumen are widely known theoretically, but have not been studied much. This study aims to find out and prove the factors that influence the formation of obsturan serumen.  Objective: To find out what factors are the risk factors for obsturan serumen in outpatients in Polyclinic ent hospital. Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Methods: Analytical observational research with cross-sectional design. Samples in the form of all outpatients who visited polyclinic ENT HOSPITAL. Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung, Dated 1 January – 1 December 2019 which meets the criteria for inclusion and excl.Results: Patients with obsturan serumen as many as 300 patients and who do not have obsturan serumen as many as 90 patients. The sexes were the most common in women with 156 respondents (51.5%) and obsturan serumen often occur in patients aged > 18 years as many as 196 respondents (59.5%)  in obsturan serumen education most occurred in low-educated patients, namely as many as 191 (61.8%) in obsturan serumen work was most common in patients working outdoors as many as 269 respondents (69%) and in ear cleaning behaviors most common in patients who frequently clean the ears as many as 180 respondents (69%) and in the history of earaches most found obsturan serumen in those who have a history of earaches as many as 188 respondents (60.3%). Conclusion : Analysis of age factors, occupation, and ear cleaning behavior affects the formation of obsturan serumen.  Keywords : Influence Factor, Serumen Obsturan. INTISARI: ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN SERUMEN OBSTURAN  Latar Belakang : Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya insidensi serumen obsturan sudah banyak diketahui secara teoritis, tapi belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan serumen obsturan.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi faktor risiko terjadinya serumen obsturan pada pasien rawat jalan di Poliklinik THT RS.Pertamina Bintang Amin Bandar LampungMetode Penelitian: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel berupa semua pasien rawat jalan yang berkunjung ke poliklinik THT RS.Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung, Ngawi tanggal 1 January – 1 Desember 2019 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan metode consecutive sampling. Sampel diambil melalui Rekam Medik.Hasil Penelitian: Pasien dengan serumen obsturan sebanyak 300 pasien dan yang tidak terdapat serumen obsturan sebanyak 90 pasien. Jenis kelamin yang paling banyak terdapat serumen obsturan pada perempuan 156 responden (51,5%) dan serumen obsturan sering terjadi pada pasien berusia >18 tahun sebanyak 196 responden (59,5%)  pada pendidikan serumen obsturan  paling banyak terjadi pada pasien yang berpendidikan rendah yaitu sebanyak 191 (61,8%) pada pekerjaan serumen obsturan paling banyak terjadi pada pasien yang bekerja di luar ruangan sebanyak 269 responden (69%) dan pada perilaku membersihkan telinga paling banyak terjadi pada pasien yang sering membersihkan telinga sebanyak 180 responden (69%) dan pada riwayat sakit telinga paling banyak ditemukannya serumen obsturan  pada yang memiliki riwayat sakit telinga sebanyak 188 responden (60,3%).Kesimpulan : Analisis faktor usia,pekerjaan, dan perilaku membersihkan telinga mempengaruhi pembentukan serumen obsturan. Kata Kunci: Faktor Pengaruh, Serumen Obsturan.
Gambaran Kualitas Fungsi Penglihatan Pasien Systemic Lupus Erythematosus Berdasarkan Kuesioner NEI VFQ-25 Di Komunitas Odapus Lampung Firhat Esfandiari; Festy Ladyani Mustofa; Rina Kriswiastiny; Dianing Ayu Yustika Ratu
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Volume 1 Nomor 4 Desember 2021
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.981 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v1i4.3991

Abstract

ABSTRACT: DESCRIPTION OF THE QUALITY OF VISION FUNCTION IN SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMA PATIENTS BASED ON THE NEI VFQ-25 QUESTIONNAIRE IN THE ODAPUS COMMUNITY OF LAMPUNGBackground: Systemic Lupus Erythematosus /Systemic Lupus Erythematosus (SLE) is a multisystem autoimmune disease that has characteristic manifestations or symptoms and varied clinical behavior. Eye involvement can be found in about one-third of cases of SLE, and sometimes occurs early in the disease. To assess and measure the quality of vision function in patients with Systemic Lupus Erythematosus, a measuring instrument that can be used is the National Eye Institute Visual Functioning Questionnaire-25  (NEI VFQ-25) questionnaire. Objective: To describe the quality of vision function in patients with systemic lupus erythematosus based on the NEI VFQ-25 questionnaire in the ODAPUS community in Lampung 2020. Research Methods: This research is a descriptive survey with an approach cross-sectional using primary data in the form of a questionnaire. The sample of this study was all 40 patients who joined the ODAPUS community in Lampung. Data analysis used univariate analysis using tables and graphs in data presentation. Results: The results of the study were 40 patients who met the criteria for inclusion in the study. Of the 40 patients, the patient characteristics were obtained based on the quality of vision function, namely 26-45 years (65.0%), female (97.5%), tertiary education (65.0 %), IRT (42.5%), quality of vision function is not good (90 , 0%), low-dose corticosteroids (85.0%). Conclusion: Given picture quality visual functions of patients with systemic lupus erythematosus-based questionnaire NEI VFQ-25 in the community of Lampung odapus 2020 is not good. Keywords: Quality Vision Function, SLE  INTISARI: GAMBARAN KUALITAS FUNGSI PENGLIHATAN PASIEN SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS BERDASARKAN KUESIONER NEI VFQ-25 DI KOMUNITAS ODAPUS LAMPUNG Latar Belakang: Lupus Eritematosus Sistemic/Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah suatu penyakit autoimun multisistem yang memiliki manifestasi atau gejala khas dan perilaku klinis yang sangat bervariasi. Keterlibatan mata dapat ditemukan pada kurang lebih satu per tiga kasus SLE,   dan  kadang  terjadi  pada  awal  penyakit. Untuk menilai dan mengukur kualitas fungsi penglihatan pada pasien Systemic Lupus Erythematosus,  alat ukur yang dapat digunakan yaitu dengan kuesioner National Eye Institute Visual Functioning Questionnaire-25 (NEI VFQ-25).Tujuan: Untuk mengetahui gambaran kualitas fungsi penglihatan pasien systemic lupus erythematosus berdasarkan kuesioner NEI VFQ-25 di komunitas ODAPUS Lampung 2020.Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif dengan pendekatan Cross- sectional menggunakan data primer berupa kuesioner. Sampel penelitian ini adalah seluruh pasien yang bergabung di komunitas ODAPUS Lampung sebanyak 40 orang. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan menggunakan tabel dan grafik dalam penyajian data.Hasil: Hasil penelitian terdapat 40 pasien yang memenuhi kriteria untuk dimasukkan dalam penelitian. Dari 40 pasien tersebut didapatkan karakteristik pasien berdasarkan kualitas fungsi penglihatan yaitu terbanyak pada usia 26-45 tahun (65,0%), jenis kelamin perempuan (97,5%), pendidikan perguruan tinggi (65,0%), pekerjaan IRT (42,5%), kualitas fungsi penglihatan tidak baik (90,0%), dan penggunaan kortikosteroid dosis rendah (85,0%). Kesimpulan: Gambaran kualitas fungsi penglihatan pasien systemic lupus erythematosus berdasarkan kuesioner NEI VFQ-25 di komunitas ODAPUS Lampung 2020 yaitu tidak baik. Kata Kunci : Kualitas Fungsi Penglihatan, SLE
Co-Authors Abdul Hafiz Azhari Abdurrohman Izzudin Aditya Aditya Agustina, Rita Ajeng Larasati Ajeng Larasati Akbar, Rizky Akhmad Kheru Alex Leo Saputra Alfarisi, Ringgo Alif Rizky Hafizhdillah Amanda, Adisa Tria Andayani, Heny Tri Anggiani, Julia Anggunan, Anggunan Anisa, Putri Apri Lyanda Arti Febriyani Arti Febriyani Arti Febriyani Hutasuhut Arti Febriyani Hutasuhut Asisah, Sahra Nur Astri Pinilih Aziza Bagyayani, Salman Alfarisy Bambang Kurniawan Bambang Rudito Bonita Megamelina Dalfian, Dalfian Dellylah Nurmawati Devi Nilam Laila Safitri Dianing Ayu Yustika Ratu Dwi Sebtelia Dzikra, A Farhan Adz Ega Eryzkia Eko Purnanto Eksa, Dwi Robbiardy Esfandairi, Firhat Fachrurazi Fadilla, Mirafzur Haris Farich, Achmad Febriani Putri, Devita Femina Susanti Fidati Hanifa Firhat Esfandiari Firhat Esfandiari Fitra Editama Fitriani, Dita Fitrihanny, Leona Ferdha Fitriyani Fitriyani Fonda Octarianingsih Fonda Octarianingsih Fonda Octarianingsih Shariff Gayatri Putri Kinasih Ghina Salsabilla Hasbie, Neno Fitriyani Hasbie, Neno Fitriyani Hermawan, Dessy Hernowo Anggoro Wasono Hetti Rusmini Hidayat Hidayat Hidayat Hidayat Hifta Faradilla Ica Berliana Ika Artini Indra Kumala Ine Ahyar Hasriza Irawan, I Ketut Candra Ismalia Husna Ismalia Husna Jane Elvina Jhonet, Aswan Jimbris Kristianto Mombilia Jordy Oktobiannobel Karya, M Ali Afan Kawalis, Yuni Vita Khaerunisa, Hana Nadya Khairunisa Firdani Kurniawan, Agnes Novena Lestari, Sri Maria Puji Lestrari, Sri Maria Puji Maria Ulfa, Ade Mega, Mega Mohamad Rheza Firmansyah Zamzami Muhamad Ibnu Sina Muhammad Dwi Roynaldo Muhammad Farid Wajdi Muhammad Furqan Satriadi Muhammad Rifky Illahi Muhammad Syobri Muhammad, Miqdad Muslim Kasim Mutia Hoirunnisah Nabella Putri Munggaran Nabila Aurelia Hidayat Nabilah Tarisa Nada Irmilia Sari Nadya Putri Amany Nahlah Fathin Nabilah Nengah Budiarta Ni Ketut Novita Yani Ni Putu Sudiadnyani Nia Trisnawati Nia Triswanti Nia Triswanti Nina Herlina Nina Herlina Novita Putri Nur Fitria Dewi Nur Rohmah Nurmaasari, Yesi nurmalasari, yesi Nusri, T. Marwan Octa Reni Setiawati Paranggai, Elhi Andi Pebriyani, Upik Pinilih, Astri Prambudi Rukmono Pratama, Sigit Purwaningrum, Ratna Putri, Siti Fhatima Novariani Rafie, Rakhmi Rakhmi Rafie Rakhmi Rafie Ratna Purwaningrum Ratna Purwaningrum Renaldy Firdaus Resti Arania Resti Arania, Resti Reychan Gustiawan Putra Ricky Darmawan Rima Nurbaiti Rina Kriswiastiny Rina Kriswiastiny Rina Kriswiastiny Rina Kriswiastiny Rina Kriswiastiny Rina Kriswiastiny Rina Kriswiastiny Rita Agustina Rival, Adrian Rubby Sacieferra Sahara, Nita Sani, Nopi Saniyyah Army Gariana Saputri, Eka Cisilia Sari Rahmada Mulyani Selvia Anggraeni, Selvia Silvia, Eka Siswandi, Andi Siti Sarah Langki Sjahriani, Tessa Slamet Widodo Sri Maria Puji Lestari Sudiadyani, Ni Putu Sulesa Sulesa Sulistio, Muhammad Supriyati Supriyati Suriadi, Ghulam Muharam Syuhada Syuhada Tiara Dwi Mulyani Toni Prasetia Toni Prasetia Toni Prasetia Tria Yune Triswanti, Nia Tusy Triwahyuni Utami, Githa Erizki Widayanti, Adia Putri Rahma Ayu Woro Pramesti Woro Pramesti Woro Pramesti Wulandari Wulandari Wulandari, Amelia Rizka Yessy Nurmalasari Yulyani, Vera Zeni Reviza Safta Firlanda Zulfian Zulfian Zulfian Zulfian Zulhardi, Zulhardi Zulkifli, Dede Rifki