p-Index From 2021 - 2026
8.838
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Persona: Jurnal Psikologi Indonesia Inspiratif Pendidikan Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Jurnal Psikologi Perseptual INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental Biopsikososial: Jurnal Ilmiah Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Jakarta Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat JURNAL PENDIDIKAN TAMBUSAI Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (JMPIS) CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Panjar: Pengabdian Bidang Pembelajaran Jurnal Psikologi Mandala International Journal of Science and Society (IJSOC) Psyche 165 Journal Journal of Social And Economics Research YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi) Eduvest - Journal of Universal Studies Innovative: Journal Of Social Science Research Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Riwayat: Educational Journal of History and Humanities PUSAKO : Jurnal Pengabdian Psikologi Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Jurnal Kesehatan Republik Indonesia El-Mujtama: Jurnal Pengabdian Masyarakat Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Merpsy Journal journal of social and economic research Jurnal Serina Abdimas Jurnal Intensi (Integrasi Riset Psikologi)
Claim Missing Document
Check
Articles

FEAR OF COVID-19 PADA KARYAWAN YANG BEKERJA SECARA LURING SELAMA PANDEMI Nelsen, Kevin Leo; Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.10940.2021

Abstract

The year 2020 begins with the COVID-19 pandemic, because of the sudden pandemic, many individuals are unable to adapt to the situation, moreover, the COVID-19 pandemic has an impact on many fields, from the health sector (medical) to the field. offices. COVID-19 spreads very quickly and caused panic. The government is doing its best to reduce the number of positive cases of COVlD19 in Indonesia. Some people are worried about the invisible threat of COVID-19. From this excessive anxiety, a new phenomenon has emerged, namely the fear of COVID-19. The purpose of this study is to provide an overview of the fear of COVID-19 among employees who work offline during the pandemic in the Jakarta area. Convenience sampling was used to collect data, and involved 173 participants who filled out questionnaires online. These participants are employees or workers from various professions who still have to work outside the home with an age range of 17-49 years. The results of data analysis in this study indicate that employees who work offline during the pandemic are 36 people (20.8%) classified as having a low level of fear of COVID-19, 109 people (63%) are classified as moderate, and 109 people are classified as high. 28 people (16.2%). So, it can be said that the level of fear of COVID-19 of employees working offline during the pandemic in the Jakarta area is fairly moderate. Tahun 2020 diawali dengan pandemi COVID-19, karena pandemi yang datang secara tiba-tiba, banyak sekali individu yang tidak dapat beradaptasi dengan situasi, terlebih, pandemi COVID-19 berdampak pada banyak sekali bidang, mulai dari bidang kesehatan (medis), hingga bidang perkantoran. COVID-19 menyebar dengan sangat cepat dan sempat membuat kepanikan. Pemerintah melakukan yang terbaik untuk menekan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia. Sebagian orang merasa cemas akan ancaman COVID-19 yang tidak terlihat. Dari rasa cemas yang berlebihan itu, munculah fenomena baru, yaitu fear of COVlD19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran umum fear of COVID-19 pada pegawai yang bekerja secara luring (luar jaringan) selama pandemi di daerah Jakarta. Teknik pengambilan data dilakukan dengan convenience sampling, dan melibatkan 173 partisipan yang mengisi kuisioner secara online. Partisipan ini adalah pegawai atau pekerja dari berbagai profesi yang tetapharus bekerja di luar rumah dengan rentang umur 17-49 tahun. Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukan bahwa pegawai yang bekerja secara luring selama pandemi yang tergolong memiliki tingkat fear of COVID-19 rendah berjumlah 36 orang (20.8%), partisipan yang tergolong sedang berjumlah 109 orang (63%, dan partisipan yang tergolong tinggi berjumlah 28 orang (16.2%). Jadi, dapat dikatakan bahwa tingkat fear of COVID-19 para pegawai yang bekerja secara luring selama pandemi di daerah Jakarta terbilang sedang.
PERAN SELF-EFFICACY TERHADAP SELF-REGULATED LEARNING PADA MAHASISWA YANG BEKERJA DI MASA PANDEMI COVID-19 Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.12704.2021

Abstract

In December 2019, an outbreak of coronavirus or known as Coronavirus Diseases-19 (COVID-19) first occurred in Wuhan, China. The outbreak is affecting the entire world including Indonesia. Therefore, workers or employees who work in government and private sector carry out almost all work from home or known as work from home (WFH). Not spared with the world of education. Learning is usually done face-to-face, changing to a system in network (online) or online.This affects self-regulation as well as self-confidence that must adapt to the new environment. The purpose of this study was to examine the role of self-efficacy in self-regulated learning in students working during the COVID-19 pandemic. Self-regulated learning is a learning ability that uses aspects of metacognition, motivation, and behavior as persistently as possible, with their means and beliefs to achieve the goals set. Self-efficacy is a person's belief that he or she can carry out a task at a certain level that affects. This research was conducted at College X and the University of X Jakarta. This study involved 232 students who worked during the COVID-19 pandemic. The sampling technique used was the purposive sampling technique. Data analysis was performed using multiple regression (multiple regression) using Statistical Product and Service Solutions (SPSS). The results show that self-efficacy plays a role in self-regulated learning by 9,8 %. It can be concluded that there is a positive role of self-efficacy in self-regulated learning. The higher the self-efficacy, the higher the self-regulated learning. Pada bulan Desember 2019, terjadi sebuah wabah virus Corona atau yang dikenal dengan Coronavirus Diseases-19 (COVID-19) pertama kali terjadi di Wuhan, Cina. Wabah tersebut menyerang seluruh dunia termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, para pekerja atau karyawan yang bekerja di pemerintahan dan swasta melaksanakan hampir semua pekerjaan dari rumah atau yang dikenal dengan work from home (WFH). Tak luput dengan dunia pendidikan. Pembelajaran yang biasa dilakukan tatap muka, berubah ke sistem dalam jaringan (daring) atau online. Hal ini berpengaruh pada regulasi diri serta keyakinan diri yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat peran dari self-efficacy terhadap self-regulated learning pada mahasiswa yang bekerja di masa pandemi COVID-19. Self-regulated learning adalah kemampuan belajar yang menggunakan aspek metakognisi, motivasi, dan perilaku dengan sekuat dan segigih mungkin, dengan cara dan keyakinan sendiri untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Self-efficacy merupakan keyakinan seseorang bahwa dia dapat menjalankan suatu tugas pada suatu tingkat tertentu yang mempengaruhi tingkat pencapaian tugasnya. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Tinggi X, dan di Universitas X Jakarta. Penelitian ini melibatkan 232 mahasiswa yang bekerja di masa pandemic COVID-19. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengolahan data menggunakan regresi linear menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Hasil penelitian menunjukan bahwa self-efficacy berperan dalam self-regulated learning sebesar 9.8%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peran positif self-efficacy terhadap self-regulated learning. Semakin tinggi self-efficacy maka dapat meningkatkan self-regulated learning.
Gambaran Attachment Anak dengan Orangtua di Era Perkembangan Teknologi dilihat dari Persepsi Anak (Studi pada siswa-siswi SD X) Elizabeth Nasya; Riana Sahrani; Debora Basaria
Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Vol 14, No 2 (2021): Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/provitae.v14i2.13416

Abstract

 Attachment security is defined as a condition where an individual has a sense of security and is not disturbed by the availability of someone who is considered as an attachment figure (Ainsworth, Blehar, Waters, & Wall in Solomon & George, 2008). Ainsworth classifies the types of attachments into secure attachment and insecure attachment, where insecure attachment is further divided into ambivalent attachment and avoidant attachment (Solomon & George, 2008). This study analyzes data using two main dimensions, namely secure and insecure. The purpose of this study is to provide an overview of children’s attachment in today’s digital era seen from the perception of the children. The research data was collected in March 2020 using purposive sampling, which involved 72 participants who filled out the research questionnaire directly with paper-and-pencil tests. Criteria for participants in this study are children in the age range of 9-11 years who, at the time of the study, were elementary school level students. Based on the results of data collection, a percentage of 100% of the total of subjects were gadget users. Based on research data using descriptive techniques, it was found that there were more subjects in the study who showed a tendency to have secure attachment compared to insecure attachment.  
Intervensi Pelatihan Self-Regulated Learning dalam Mereduksi Prokrastinasi Akademik Siswa (Studi pada Siswa SMPN “X” di Jakarta Barat) Aulia Kirana; Riana Sahrani; Rahmah Hastuti
Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Vol 7, No 1 (2016): Provitae
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.522 KB) | DOI: 10.24912/provitae.v7i1.220

Abstract

This study is based on a phenomenon that occurs in a class IX student of SMPN X in West Jakarta. Students are showing academic procrastination behavior. Other behaviors are, students have a low learning motivation, often doing homework in school and are less able to manage his time well, so they tend to play instead of learning. This study aims to examine the effectiveness of Self-regulated Learning Training, in reducing students academic procrastination. Self-regulated Learning Training in this research has several strategies, namely goal setting and planning, time management, self-monitoring, self-motivation, and concentration. This study used an experimental method with pretest-posttest control group design techniques. Participants were 14 students, divided into two groups. The experimental group trained in Self-regulated Learning modul.Measurement in this study used statistical analysis in the form of different test mean by Independent-Sample T Test. The measured data through the gain score, on the pretest and posttest student academic procrastination. Result shows that (p = 0.002 <0.05), so there is a difference between the two groups. Thus, Self-regulated Learning Training is effective in reducing academic procrastination of students at SMPN X in West Jakarta.Keywords: Self-regulated learning, academic procrastination, student
MOTIVASI BELAJAR BAHASA MANDARIN REMAJA AWAL: PERAN SELF-EFFICACY, PARENTAL INVOLVEMENT, DAN TEACHER STUDENT RELATIONSHIP Deasy Suparman; Riana Sahrani; Soemiarti Patmonodewo
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3560

Abstract

Untuk dapat bersaing dalam era globalisasi diperlukan penguasaan second language, seperti bahasa Mandarin. Bahasa Mandarin merupakan bekal kompetensi untuk berkomunikasi dengan mitra dagang dari Negara Tiongkok di abad ke-21 ini. Pada era globalisasi saat ini, Negara Tiongkok memiliki kekuatan di bidang ekonomi dan telah menguasai pasar, baik dalam skala kecil maupun skala besar (Yudono, 2012). Penelitian menunjukkan adanya peningkatan Bahasa mandarin sebagai kurikulum di beberapa sekolah di Amerika Serikat (Dillon, 2010). Demikian pula di Indonesia, baik sekolah nasional maupun internasional telah mengujicobakan Bahasa mandarin (Yudono, 2012). Beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar Bahasa mandarin adalah self-efficacy, parental involvelment, dan teacher-student relationship. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran self-efficacy, parental involvement, dan teacher-student relationship dalam motivasi belajar Bahasa mandarin pada siswa SMP X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif non-experimental dengan menggunakan teknik analisis regresi linier ganda. Partisipan penelitian adalah siswa SMP X sebanyak 174 orang. Teknik pengambilan sampel adalah convenience sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner self-efficacy, parental involvement, teacher-student relationship, dan motivation dengan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy, parental involvement, dan teacher-student relationship berperan dalam motivasi belajar Bahasa mandarin remaja awal (R=0,76; R2=0,577; F=67,33; p < 0,05). Peran seluruh variabel Self Efficacy, Parental Involvement, dan Teacher Student Relationship ke Motivation adalah sebesar 57,7%. Peranan terbesar diberikan oleh variabel Self Efficacy (55,02%), berikutnya Parental Involvement (1,95%), dan terakhir Teacher Student Relationship (0,74%). To be able to compete in the globalization era, mastery of second languages is needed, such as Mandarin. Mandarin is a provision of competence to communicate with trading partners from China in the 21st century. In the current era of globalization, the State of China has power in the economic field and has controlled the market, both on a small scale and large scale (Yudono, 2012). Research shows an increase in Mandarin as a curriculum in several schools in the United States (Dillon, 2010). Likewise in Indonesia, both national and international schools have tried Mandarin Language (Yudono, 2012). Some factors that influence motivation to learn Mandarin are self-efficacy, parental involvelment, and teacher-student relationship. The purpose of this study was to determine the role of self-efficacy, parental involvement, and teacher-student relationship in motivation to learn Mandarin in X students of junior high school. This study uses a non-experimental quantitative design using multiple linear regression analysis techniques. The research participants were 174 students of SMP X. The sampling technique is convenience sampling. Research instruments in the form of self-efficacy questionnaires, parental involvement, teacher-student relationships, and motivation with a Likert scale. The results showed that self-efficacy, parental involvement, and teacher-student relationship play a role in motivation to learn early Mandarin Mandarin language (R = 0.76; R2 = 0.577; F = 67.33; p <0.05). The role of all variables of Self Efficacy, Parental Involvement, and Teacher Student Relationship to Motivation is 57.7%. The biggest role was given by the variable Self Efficacy (55.02%), followed by Parental Involvement (1.95%), and finally Teacher Student Relationship (0.74%).
Psikoedukasi Kebijaksanaan (Wisdom) untuk Meningkatkan Pengetahuan Pemecahan Masalah pada Siswa Sekolah Rakyat Ancol (SRA) Riana Sahrani; Rahmah Hastuti; Andri Setia Dharma
Jurnal Panjar: Pengabdian Bidang Pembelajaran Vol 2 No 2 (2020): Pendidikan Karakter dalam Berbagai Perspektif dan Pendekatan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/panjar.v2i2.36594

Abstract

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilakukan bertujuan untuk mengenalkan lebih jauh mengenai konsep wisdom (kebijaksanaan), khususnya pada para remaja. Kebijaksanaan diartikan kepandaian individu dalam menggunakan akal-budinya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, bersamaan dengan pengintegrasian pikiran, perasaan, dan tingkah laku, serta adanya kemauan untuk mengevaluasi diri, dalam menilai dan memutuskan suatu masalah, sehingga tercipta keharmonisan antara individu dan lingkungan. Maka penting sekali membekali remaja dengan pengetahuan mengenai pemecahan masalah, mengingat masa remaja adalah masa yang penuh dengan gejolak dan konflik, yang seringkali belum mampu diatasi dengan baik dan benar oleh para remaja itu sendiri. Apalagi hasil penelitian terdahulu menghasilkan temuan bahwa para remaja juga dapat bijaksana, karena mereka sekalipun sudah mempunyai ‘bibit-bibit kebijaksanaan’, yang apabila dikembangkan dapat menjadi suatu hal yang luar biasa. Adapun peserta PKM ini adalah siswa-siswi Sekolah Rakyat Ancol (SRA) yang berjumlah 44 orang, tingkatan SMP (Sekolah Menengah Pertama) dengan usia 12-18 tahun. Peserta diberikan soal cerita terlebih dahulu sebelum psikoedukasi, untuk melihat baseline pengetahuan mereka mengenai pemecahan masalah, yang merupakan indikator kebijaksanaan. Hasilnya adalah beberapa peserta mengalami peningkatan dalam hal pengetahuan dalam pemecahan masalah dengan psikoedukasi yang telah diberikan.
The Role of Social Support as A Moderator in the Relationship between Resilience and PTSD in Individuals Who are COVID-19 Survivors Who Have Comorbidities Dzahabiya, Farras Aisha; Roswiyani, Roswiyani; Sahrani, Riana
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 13, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v13i4.8894

Abstract

The COVID-19 pandemic has an impact on individual health conditions, especially COVID-19 survivors who have comorbidities. Therefore, to reduce PTSD experienced by COVID-19 survivors, resilience and social support are needed. This study aims to determine the role of social support as a moderator in the relationship between resilience and PTSD in COVID-19 survivors who have comorbidities. Participants in this study were 105 people aged 20-60 years, women and men with comorbid diseases who had been contaminated with the COVID-19 virus. By using quantitative research methods, this research uses the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC-25) measuring instrument to measure resilience, the Post Traumatic Stress Disorder Checklist DSM-5 (PCL-5) measuring instrument to measure PTSD, and the Multidimensional Scale Perceived of Social Support (MSPSS) to measure social support. Data analysis using MRA showed that social support did not act as a moderator in the relationship between resilience and PTSD but had a significant direct effect on PTSD.
Tantangan Digital: Prokrastinasi Akademik dan Penggunaan Smartphone pada Remaja SMA Tamala, Novi; Riana Sahrani; Fransisca Iriani R. Dewi
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 2
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i2.359

Abstract

Di era digitalisasi saat ini, remaja SMA memiliki fasilitas internet yang memadai terutama dalam penggunaan smartphone. Remaja SMA khususnya memiliki kecenderungan menggunakan smartphone secara berlebihan dan tak terkendali sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari (problematic smartphone use). Penggunaan smartphone yang berlebihan ini merupakan salah satu konsekuensi negatif yang muncul dari prokrastinasi akademik di era digital. Prokrastinasi akademik merupakan kecenderungan remaja untuk menunda dalam mengerjakan tugas akademik, dan dapat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi akademik. Penelitian ini akan mengkaji fenomena tersebut dengan mengeskplorasi keterkaitan antara prokrastinasi akademik dengan penggunaan smartphone pada remaja SMA. Dengan menggunakan teknik convenience sampling method, penelitian ini menggunakan 265 remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berusia 17 hingga 19 tahun. Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengna skala Smartphone Addiction Scale-Short Version (α=0,803), dan skala Prokrastinasi Akademik (α=0,631). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimental. Pengambilan data dengan menggunakan google form yang akan disebarkan pada remaja SMA melalui media sosial seperti whatsapp dan instagram. Dengan menggunakan analisis regresi sederhana ditemukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara prokrastinasi akademik dengan problematic smartphone use, yang berarti semakin tinggi tingkat prokrastinasi akademik maka semakin tinggi tingkat problematic smartphone use dan semakin rendah tingkat prokrastinasi akademik, maka semakin rendah tingkat problematic smartphone use (r=0,406, P<0,05). Sumbangan efektif variabel prokrastinasi akademik terhadap variabel problematic smartphone use sebesar 16,5%.
EFEKTIVITAS PELATIHAN SELF-TALK UNTUK MENINGKATKAN HARGA DIRI REMAJA KORBAN BULLYING (Studi pada Siswa SMP X Pasar Minggu) Marhani, Isnaeni; Sahrani, Riana; Monika, Sesilia
Inspiratif Pendidikan Vol 7 No 1 (2018): Jurnal Inspiratif Pendidikan
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ip.v7i1.4929

Abstract

Abstract: Adolescents who are unable to adapt in school environments are more likely to get bullying from other, more dominant or more popular students. Bullying makes teenagers difficult to actualize themselves, concentrate on learning, always feel insecure, and have low self-esteem. Teenagers with low self-esteem will believe that what the bully says about him is true and start blaming himself for being weak, not beautiful, or useless. Low self-esteem can be increased one of them through self-talk techniques that aim to deny irrational thinking and encourage the emergence of healthy thinking by saying positive sentences. Bullying behavior by peers is still common in junior high school, so some students become more quiet, crying in school, avoiding bullying, asking to move classes, to choose to change schools. This research was conducted to find out the effectiveness of self-talk training to increase the self-esteem of bullying students in SMP X. This study used experimental design involving 10 participants aged 14 to 16 years. The researchers used the Self-Estimation tool developed by Utomo (2011) as a pre-test and post-test. Based on different test with paired sample t-test on gain score of self esteem obtained mean value 14.80 (SD = 3.271) and t = 7.020, p <0.01. Thus, self-talk training is effective to increase the self-esteem of bullying teenagers.
MENGIDENTIFIKASI PERAN CELEBRITY WORSHIP TERHADAP IDENTITAS DIRI REMAJA AKHIR PENGGEMAR K-POP DI JABODETABEK Farren Septania Audrey; Riana Sahrani; Bianca Marella
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.149

Abstract

Fenomena Korean Wave/Hallyu bertumbuh secara signifikan beberapa tahun terakhir, khususnya di kalangan generasi muda. Sebanyak 56% penggemar k-pop menghabiskan waktu 1-5 jam, 28% bahkan menghabiskan lebih dari 6 jam di internet melalui berbagai Sosial media untuk mempelajari segala hal terkait idola mereka. Celebrity Worship adalah segala tindakan atau emosi yang timbul oleh kebutuhan untuk mengagumi seorang idola demi kesenangan, kepuasan atau mengisi kekosongan dalam diri. Sangat umum bagi remaja ketika memiliki seseorang idola, karena cenderung masih dalam pencarian jati diri dan melihat selebriti sebagai sosok role model selain orang tua mereka. Identitas Diri adalah pengakuan dan kesadaran yang memerlukan waktu dan proses pemikiran untuk mendapatkan ciri khas, peranan, komitmen, orientasi dan tujuan hidup sehingga membuat diri kita berbeda dengan orang lain. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengidentifikasi peran Celebrity Worship terhadap Identitas Diri. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling serta memakai alat ukur Celebrity Attitude Scale (α=900) dengan 34 butir item, dan The Social and Personal Identities Scale (α=.957) dengan 16 butir item. Penyebaran kuesioner dilakukan melalui Sosial media Instagram dan mendapat 462 responden yang sesuai dengan kriteria. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tidak ada peran Celebrity Worship terhadap Identitas Diri.
Co-Authors Anastasia Putri Leleng Wilis Andri Setia Dharma Anyelir, Nanda Putri Ari Kristiyanto, Andreas Audy, Ervina Aulia Kirana Basel, Wiwin Charolina Putri Bianca Marella Chandra, Callista Christy, Christy Cindy Amelia, Cindy Deasy Suparman Debora Basaria Dewanto, Hajar Dwi Puspita Satriana, Dwi Puspita Dzahabiya, Farras Aisha Edlyn, Jovita Ekawardhani, Nadya Puspita Elizabeth Nasya Fadila, Nurul Farren Septania Audrey Febriani, Oki Kartika Febriyanti, Cindy Fernanda , Brigitta Nicola Fidrian, Natasha Febriani Fransisca I. R. Dewi Fransisca Iriani R. Dewi Fransisca Iriani Roesmala Dewi Harto, Ivania Rachel Hendra Heng, Pamela Heryanti Satyadi Hody Denilson Hungsie, Olivia Grace Imanuel , Dastin Intania Mutiasari, Argea Iriani Roesmala Dewi, Fransisca Isnaeni Marhani Jessica Jessica Kaseger, Gracia Emmanuelle Venezzia Khou, Meryl Adelyn Kirana, Liuciana Handoyo Koesma, Rismiyati E. Kristiana, Dessy Lahdji, Mona Lianna, Amanda Lidwina Priscilia Listanto, Melvin Lukman, Agnes Victoria Mailani, Indah Mar’at, Samsunuwiyati Marella, Bianca Marfine Margaretha, Ineke Putri Mathilda V. Bolang, Caroline Milleny Caca Mona Lahdji Monika, Sesilia Monty P Satiadarma Muis, Jecika Aprillia Mursalim, Tania Nadine, Nadine Febrina Nelsen, Kevin Leo Novita*, Regina Sharen P. Tommy Y. S. Suyasa Pamela Hendra Heng Pebrianti, Sarah Phung, Mulan Prihardini, Irni Putri, Raisya Anaya Rahmah Hastuti Rasyidi, Ahmad Wahyu Roswiyani Roswiyani, Roswiyani Saputra, Mikhael Adam Saraswati, Laksmiari Sartica, Tasya Satyadi, Heryanti Senjani, Dita Permata Setiawan, Cherry Delfina Sharron Dharmawati Sholihah, Dinda Nabila Soemiarti Patmonodewo Sri Tiatri Stefanny, Stefanny Stephanie Angelina Stephanie Angelina Sudrajat, Zahra Kayla Sulaeman, Budi Tamala, Novi Tasdin, Willy Theodora, Michelle Tiofani, Fionelyssa Tommy Y. S. Suyasa, P. Tumanggor, Raja Oloan Vandhika, Samuel Viani, Theresia Patria Victory, Joan Widiasih, Triani Widiasih Willy Tasdin Willy, Angelina Yantina, Maisi Yohanes Budiarto Yunithree, Meiske