Articles
SELF-COMPASSION DAN SELF-ESTEEM PADA EMERGING ADULTHOOD YANG PERNAH MELAKUKAN SELF-HARM
Sharron Dharmawati;
Riana Sahrani
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/jser.v5i2.213
Penelitian ini membahas tentang hubungan antara self-compassion dan self-esteem pada emerging adulthood yang pernah mengalami self-harm. Self-compassion merupakan perasaan tersentuh atas penderitaan yang dialaminya sendiri namun tidak berusaha untuk menghindarinya, sehingga memunculkan rasa untuk menyembuhkan diri sendiri. Pengertian dari Self-esteem adalah penilaian pribadi terhadap kemampuan dirinya sendiri yang menghasilkan harga diri. Self-harm merupakan perilaku yang disengaja untuk melukai diri sendiri, namun tidak ditujukan untuk mengakhiri hidup sendiri atau bunuh diri. Emerging adulthood adalah istilah yang digunakan untu menujuk masa transisi dari remaja menuju dewasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif korelasional dengan jumlah partisipan sebanyak 112 orang. Penelitian ini menggunakan alat ukur Self-harm inventory, self-compassion scale dan Rosenberg’s self-esteem sscale. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat hubungan antara self-compassion dengan self-esteem pada remaja yang pernah mengalami self-harm dengan nilai korelasi sebesar 0,758. Jadi jika self-compassion tinggi akan membuat self-esteem juga tinggi pada orang yang pernah melakukan self-harm.
HUBUNGAN STRES KERJA DAN KOMITMEN ORGANISASI PADA ANGGOTA BRIMOB POLDA X YANG DIMEDIASI DUKUNGAN SOSIAL
Fadila, Nurul;
Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27311.2024
Polri memiliki peran dalam menjaga keamanan hingga mengayomi masyarakat dan diharapkan memiliki komitmen organisasi yang tinggi dalam bekerja. Brimob memiliki tugas dan fungsi yang sama, yang membedakan tugas Brimob diharapkan mampu menangani kejahatan yang berpotensi tinggi seperti unjuk rasa, daerah rawan konflik, hingga terorisme. Dengan adanya komitmen organisasi, setiap personel menjadi lebih bertanggung jawab dan dapat meningkatkan kinerja. Bekerja sebagai personel kepolisian rawan terhadap stres karena harus siap sedia dalam mengorbankan kehidupan demi menjaga dan mengayomi negara. Terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi stres kerja, salah satunya adalah dukungan sosial. Dukungan sosial dapat meningkatkan kinerja, produktivitas, serta kesehatan mental maupun fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan stres kerja dengan komitmen organisasi pada anggota Brimob Polda X yang dimediasi dukungan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan 221 partisipan dengan menggunakan 3 alat ukur yaitu Organizational Commitment Questionnaire, Perceived Stress Scale serta The Multidimensional Scale of Perceived Social Support. Hasil analisis data utama diolah dengan uji regresi berganda dan menunjukkan terdapat pengaruh signifikan dukungan sosial dan stres kerja terhadap komitmen organisasi sebesar 46.3% dengan nilai F = 93.908, dan p = 0.000<0.05, serta hasil uji Sobel menunjukkan nilai z = -5.91>1.96 yang artinya dukungan sosial mampu memediasi stres kerja dengan komitmen organisasi.
PERANAN SELF-ESTEEM SEBAGAI MEDIATOR DALAM HUBUNGAN ANXIOUS ATTACHMENT DAN LIFE SATISFACTION PADA EMERGING ADULTHOOD
Amelia, Cindy;
Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27319.2024
Emerging adulthood melibatkan masa peralihan yang berliku-liku. Individu sering kali tidak siap menghadapi tugas-tugas kemandirian sehingga ada di antara individu yang masih mengandalkan kebergantungan terhadap orang lain. Hal ini membawa individu kepada kelekatan terhadap figur-figur kecemasan tertentu. Gaya kelekatan menjadi preferensi individu terhadap kemandirian yang terdiri dari secure attachment dan insecure attachment. Penelitian ini akan berfokus kepada salah satu dari dua dimensi insecure attachment, yakni anxious attachment. Anxious attachment merupakan gaya kelekatan yang berorientasi pada keinginan kuat untuk mendapat perhatian, dukungan, serta berhubungan dekat dengan figur. Sejumlah penelitian menemukan rendahnya life satisfaction pada individu yang memiliki gaya kelekatan anxious attachment, yang nantinya akan memengaruhi self-esteem individu. Life satisfaction merupakan penilaian individu secara positif terhadap pencapaian serta kualitas hidup mereka sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sementara itu, self-esteem merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang melibatkan proses verifikasi diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat peranan self-esteem dalam hubungan anxious attachment dengan life satisfaction pada emerging adulthood. Partisipan yang terlibat dalam penelitian terdiri dari 452 individu emerging adulthood berusia 18-25 tahun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur Anxious Attachment Scale Items, The Satisfaction With Life Scale, dan Rosenberg Self-Esteem Scale. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan antara anxious attachment dan life satisfaction (p = 0.593 > 0.05), adanya hubungan negatif pada anxious attachment dengan self-esteem (p = 0.027 < 0.05), dan adanya hubungan positif pada life satisfaction dan self-esteem (p = 0.000 < 0.05). Maka dari itu, dapat disimpulkan tidak ada peranan self-esteem sebagai mediator dalam hubungan anxious attachment dan life satisfaction pada emerging adulthood sehingga hipotesis dalam penelitian ini tidak dapat dibuktikan.
PERANAN GRATITUDE SEBAGAI MODERATOR DALAM HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN LONELINESS PADA DEWASA MUDA
Kaseger, Gracia Emmanuelle Venezzia;
Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i2.27398.2024
Hadirnya media sosial dalam perkembangan teknologi memberikan kemudahan dan dampak bagi para penggunanya. Melalui perubahan pola interaksi dalam era digital, loneliness menjadi salah satu kondisi yang dirasakan oleh penggunanya. Loneliness merupakan sebuah perasaan yang muncul akibat pengalaman pribadi individu akan kehidupan sosialnya. Penelitian-penelitian terdahulu menunjukan hubungan antara loneliness dengan intensitas penggunaan media sosial. Gratitude merupakan sebuah perasaan bahagia serta cara pandang individu dalam memaknai kehidupannya. Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak loneliness pada pengguna, dibutuhkan gratitude. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan gratitude dalam hubungan intensitas penggunaan media sosial dengan loneliness. Penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasional non-eksperimental dengan mengumpulkan data dengan menyebarkan kuesioner online. Penelitian menggunakan tiga alat ukur, yaitu Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial, The Social and Emotional Loneliness Scale for Adults (SELSA-S) Indonesian Version, dan The 30-item Gratitude Scale Indonesian Version. Pengujian asumsi klasik ditemukan bahwa persebaran data pada 427 partisipan tidak normal, sehingga pengujian dilakukan dengan menggunakan metode non-parametrik. Data utama diolah dengan menggunakan uji regresi berganda. Hasil pengujian moderated regression analysis (MRA) menunjukan tidak terdapat peranan signifikan pada variabel gratitude dengan nilai t = 1.928; dan p = 0.055 > 0.05. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gratitude tidak memiliki peran moderasi terhadap hubungan intensitas penggunaan media sosial dengan loneliness.
Peran Maternal Self-Efficacy sebagai Mediator terhadap Mindfulness dan Postpartum Depression pada Ibu Primipara
Yantina, Maisi;
Roswiyani, Roswiyani;
Sahrani, Riana
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7 No 2 (2024)
Publisher : Jayapangus Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37329/ganaya.v7i2.3154
Primiparous mothers, women who are giving birth for the first time, face challenges in adapting to a new postpartum role as a mother. Due to the pressure they are under, they are more likely to suffer from psychological issues including anxiety and depression. The purpose of this study is to ascertain how maternal self-efficacy affects mindfulness and postpartum depression in primiparous mothers. This study utilized a correlational quantitative approach with 295 primiparous mothers ranging in age from 20 to 42 years. The Dinni-Difa Postpartum Scale (DDPS) from Ardiyanti and Dinni (2018), Tarumanagara Five Aspect Care Survey (TFFMQ) developed by Baer et al . (2006) and Perceived Maternal Parental Self-Efficacy (PMP S-E) from Barnes and Adamson-Macedo's (2007) were used to collect data on postpartum depression (PPD), mindfulness, and maternal self-efficacy (MSE) in primiparous mothers. When analyzing the data, the Pearson product moment correlation test was combined with the PROCESS by Hayes for SPSS regression test for hypothesis testing. According to the analysis's findings, PPD is predicted by mindfulness, therefore with a lower risk of mothers experiencing PPD associated with higher levels of mindfulness. Mindfulness also significantly predicts MSE. However, MSE has not been demonstrated to serve as a mediator in the relationship between mindfulness and postpartum depression in primiparous women (ab = 0.016, BootLLCI = -0.011, BootULCI = 0.032).
Gambaran Motivasi Belajar Piano Pada Middle Childhood Di Masa Transisi Endemi Covid-19
Milleny Caca;
Riana Sahrani
Jurnal Kesehatan Republik Indonesia Vol 1 No 8 (2024): JKRI - Agustus 2024
Publisher : PT. INOVASI TEKNOLOGI KOMPUTER
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Motivasi adalah latar belakang seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan ataupun hasil yang ingin didapatkan. Motivasi dalam kegiatan belajar dapat menumbuhkan semangat dan juga mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Pembelajaran musik pada middle childhood dapat mempengaruhi perkembangan Intelegent Quotion yaitu kecerdasan seseorang, dan juga dapat mempengaruhi Emotional Quotion yaitu kecerdasan emosional seseorang. Selain itu peranan musik bagi anak juga untuk melatih fungsi keseimbangan perkembangan otak kiri dan kanan. Musik yang dimaksud adalah musik yang memiliki irama dan nada-nada yang teratur seperti musik klasik, ataupun musik instrumental. Pentingnya motivasi sebagai penggerak untuk mencapai suatu tujuan di dalam proses belajar membuat peneliti ingin melihat secara spesifik gambaran motivasi middle childhood sewaktu belajar piano. Alat ukur yang digunakan dalam peneltian ini adalah Motivation for Learning Music (MLM) questionnaire. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 122 responden. Adapun responden dalam penelitian ini adalah anak-anak berumur 8-12 tahun yang sedang mengikuti kegiatan belajar piano di beberapa tempat les dengan masa belajar minimal enam bulan lamanya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner pada responden, dan juga memberikan informed consent kepada orang tua responden. Dari hasil olah data menunjukkan dimensi yang paling menonjol sebagai motivasi pendorong middle childhood dalam mengikuti pembelajaran piano adalah dimensi Intrinsic motivation (IM) dimana sesorang melakukan sesuatu kegiatan karena memang berminat dan senang dalam melakukannya. Hasil penelitian ini menunjukkan anak-anak yang mengikuti kegiatan belajar mempunyai motivasi dalam melakukan kegiatan belajar musik yang dilakukan
Peranan Self-Efficacy dan Social Support terhadap Career Indecision pada Siswa SMA di Sekolah X
Satriana, Dwi Puspita;
Sahrani, Riana
Merpsy Journal Vol 16, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Mercu Buana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22441/merpsy.v16i1.29526
Ketidakmampuan individu dalam menentukan pilihan pendidikan dan pekerjaan sesuai keinginannya merupakan masalah yang penting untuk diteliti, namun sedikit yang meneliti peran self-efficacy dan social support terhadap career indecision. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Sampel penelitian berjumlah 172 siswa kelas XI di Sekolah Menengah Atas yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan Career indecision Scale (CIS), New General Self- Efficacy Scale (NGSE), dan The Multidimentional Scale of Perceived Social support (MSPSS). Data dianalisis menggunakan teknik regresi berganda dengan bantuan SPSS 20.00. Hasil penelitian menemukan bahwa adanya hubungan simultan antara self-efficacy dan social support dengan career indecision (p value = 0,001, p < 0,05). Self-efficacy berperan negatif terhadap career indecision (r2= -0.162, p< 0.05) dan berkontribusi sebesar 16.2%. Sedangkan social support berperan negatif terhadap career indecision dan berkontribusi sebesar 17,7%. (r2=0.177, p< 0.05) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa self-efficacy dan social support berperan terhadap career indecision. Penelitian ini mengindikasikan pentingnya program career counseling yang terintegrasi dengan psikoedukasi untuk keluarga dan sekolah untuk memperkuat kemampuan siswa mengambil keputusan karir.
Psikoedukasi Digital Parenting: Pola Asuh Baru Menyiapkan Anak untuk Era Digital
Prihardini, Irni;
Sahrani, Riana;
Iriani Roesmala Dewi, Fransisca
PUSAKO : Jurnal Pengabdian Psikologi Vol. 3 No. 2 (2024): PUSAKO : Jurnal Pengabdian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24036/pusako.v3i2.94
Tingginya penggunaan internet dan perangkat digital oleh anak-anak di Indonesia, secara umum tidak diiringi dengan pendampingan dan aturan dari orang tua. Hal ini dapat menumbuhkan adanya potensi kesenjangan antara pengasuhan dari orang tua, dan apa yang diterima oleh anak melalui penggunaan perangkat dan media digital. Dalam mengatasi fenomena ini, sikap pengasuhan digital menjadi kebutuhan orang tua untuk menerapkan strategi pola asuh yang tepat terkait tuntutan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua di era perkembangan digital. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, sebagai pemenuhan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), penulis berinisiatif melakukan kegiatan seminar psikoedukasi mengenai sikap pengasuhan digital. Seminar psikoedukasi bertujuan menyampaikan hasil penelitian pada orang tua siswa sekolah. Orang tua dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang sikap pengasuhan digital yang bijak, sehingga orang tua dan anak dapat memaksimalkan manfaat teknologi bagi anak. Pelaksanaan psikoedukasi dilakukan secara daring melalui zoom meeting. Efektivitas kegiatan psikoedukasi diukur melalui pre-test dan post-test untuk melihat adanya peningkatan pengetahuan dan persepsi perubahan sikap orang tua terhadap pengasuhan digital setelah mengikuti seminar. Hasil psikoedukasi menunjukan peningkatan signifikan pada pemahaman dan motivasi peserta dalam menerapkan pengasuhan digital. Luaran wajib dan tambahan dari psikoedukasi adalah prosiding dalam temu ilmiah dan artikel ilmiah populer.Kata kunci : Efikasi Diri Pengasuhan Digital, Iklim Keluarga, Sikap Pengasuhan Digital
Kontrol Diri sebagai Moderator Hubungan Kesepian dan Kekerasan Siber Remaja Perempuan
Basel, Wiwin Charolina Putri;
Dewi, Fransisca Iriani Roesmala;
Sahrani, Riana
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 4
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35134/jpsy165.v17i4.459
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti media sosial telah mengalami perkembangan yang signifikan, sehingga membawa dampak kompleks terhadap kehidupan. Media sosial berfungsi sebagai akses berkomunikasi dalam konektivitas sosial dan perangkat untuk mencari hiburan. Pada sisi lain, media sosial merupakan platform dimana kekerasan siber dapat terjadi kepada penggunanya. Berbagai kasus kekerasan siber dalam media sosial dialami remaja perempuan, diantaranya menjadi korban penyebaran konten pornografi, pengancaman dan pelecehan seksual secara daring. Prevalensi Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di Indonesia mengalami kenaikan dan sering kali tidak dianggap serius. Tujuan penelitian ini untuk menguji kontrol diri sebagai moderator dalam hubungan antara kesepian dan kekerasan siber pada remaja perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional non-eksperimental. Metode analisis yang digunakan yaitu uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas dan uji regresi. Partisipan penelitian merupakan remaja perempuan sebanyak 113 orang, berusia 17-24 tahun, aktif menggunakan media sosial dan pernah mengalami kekerasan digital dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Instrumen penelitian adalah Experiencing Cyber Violence Scale terdiri dari 34 pertanyaan, Loneliness Scale terdiri 20 pertanyaan dan Self-control Scale terdiri dari 10 pertanyaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kontrol diri, kesepian dan kekerasan siber. Peran kontrol diri tidak memoderasi kesepian dan kekerasan siber, namun dari uji korelasi mengindikasikan bahwa kontrol diri berperan atau berkontribusi dalam terjadinya kesepian dan kekerasan siber.
GAMBARAN LOVE LANGUAGE PADA DEWASA AWAL KORBAN BROKEN HOME
Phung, Mulan;
Sahrani, Riana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i3.27239.2024
Love language merupakan konsep yang dijelaskan oleh Chapman (1992) sebagai ekspresi cinta yang memiliki lima bentuk yaitu: (a) word of affirmation, (b) quality time, (c) receiving gifts, (d) act of service, dan (e) physical touch. Pertama kali love language terbentuk di lingkungan keluarga dengan pengalaman kasih sayang dari orang tua. Chapman dan Campbell (2016) menyebutkan bahwa anak yang kurang mendapatkan kasih sayang juga mengembangkan love language namun dalam bentuk yang menyimpang. Tidak ada penjelasan lebih lanjut akan bentuk love language yang menyimpang tersebut. Jika menyebutkan keluarga yang kurang kasih sayang salah satu contohnya adalah broken home yaitu keluarga dengan keretakan. Anak dalam keluarga broken home mengalami dampak buruk karena kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Anak korban broken home jadi diliputi dengan perasaan negatif dan sulit mengekspresikan perasaannya. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif dan alat ukur love language scale hasil adaptasi Surijah dan Septiarly (2016). Teknik purposive sampling digunakan untuk mendapatkan responden dengan kriteria khusus yaitu berusia 20-40 tahun dan pernah mengalami broken home di usia 1-19 tahun. Peneliti mendapatkan 380 responden yang menunjukkan love language scale berada pada kategori sedang dengan bentuk love language terbanyak adalah word of affirmation. Responden dengan bentuk love language word of affirmation mengekspresikan kasih sayang dengan kata-kata seperti apresiasi, pujian, dan dukungan. Ditemukan juga bahwa tidak ada perbedaan signifikan hasil skor love language berdasarkan jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan.