Claim Missing Document
Check
Articles

SANTUN BERBAHASA DAN SIKAP TOLERANSI SEBAGAI CERMIN NILAI PANCASILA Virenna, Rachel; Meccabelfa, Nesha; Romansza, Hana Kameliana; Safarizkyra, Taqya Adisty; Tiatri, Sri
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9425

Abstract

In Indonesian society, Pancasila serves as the foundation, principle, and guideline for behavior and conduct. The values of Pancasila—such as humanity, unity, and social justice—should be reflected in the daily lives of Indonesians, including through the use of polite language and attitudes of tolerance toward others. This study aims to examine the values of Pancasila, particularly those related to politeness and tolerance, in order to foster a harmonious nation amid the diversity of Indonesian society. This research employs a literature review method by collecting, analyzing, and synthesizing various credible and relevant sources related to the topic. The study is expected to raise awareness of the importance of strengthening national character through the practical implementation of Pancasila values—especially in promoting polite speech and tolerance within various social settings such as family, school, and community. The findings of this research indicate that politeness in language and attitudes of tolerance are two essential and complementary aspects in shaping a harmonious social life. Moreover, strong digital literacy can help individuals think critically, act ethically, and remain emotionally balanced in interactions. Consequently, politeness and tolerance should not only be upheld in real-life situations but also become integral parts of responsible behavior in digital media environments. ABSTRAK Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, Pancasila merupakan dasar, prinsip dan pedoman dalam bersikap dan berperilaku. Nilai-nilai Pancasila, seperti kemanusiaan, persatuan, keadilan sosial harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Indonesia, salah satunya dalam penggunaan bahasa yang santun dan sikap toleransi antar sesama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pancasila khususnya pada nilai sopan santun dan toleransi sehingga menciptakan bangsa yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan mengumpulkan, menelaah, dan mensintesiskan berbagai sumber literatur yang kredibel dan relevan dengan topik. Kajian ini diharapkan dapat membangun kesadaran betapa pentingnya penguatan karakter bangsa melalui wujud nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam menerapkan dan mendidik supaya bertutur kata yang santun serta memiliki sikap toleransi di berbagai lingkungan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sopan santun dalam berbahasa dan sikap toleransi merupakan dua hal penting yang saling melengkapi dalam membentuk kehidupan sosial yang harmonis. Literasi digital yang baik akan membantu masyarakat untuk berpikir kritis, beretika, dan tidak mudah terbawa emosi saat berinteraksi. Dengan begitu, sopan santun dan toleransi tidak hanya hidup dalam kehidupan nyata, tetapi juga menjadi bagian dari perilaku bermedia yang bertanggung jawab.
PERAN SENSE OF BELONGING TERHADAP MOTIVASI BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN KOMUNITAS K-POP Aulia, Nazwa Rahma; Tiatri, Sri
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.8801

Abstract

The phenomenon of participation in K-pop fan communities in Indonesia indicates that individual involvement is not only driven by entertainment interests but also by psychological needs, particularly a sense of belonging. This study aims to analyze the role of sense of belonging in motivating members to participate in K-pop fan communities in the Greater Jakarta area. The study employed a quantitative approach with a correlational design. A total of 200 active members of K-pop fan communities aged 18–30 years were selected using purposive sampling. Data were collected online using two instruments, namely the Sense of Belonging Instrument (SOBI) and the Participation Motivation Questionnaire (PMQ). The data were analyzed using Pearson correlation and simple linear regression. The results showed a positive and significant relationship between sense of belonging and participation motivation (r = .741; p < .05). Furthermore, sense of belonging contributed 54.9% to participation motivation (R² = .549). These findings indicate that the higher the sense of belonging experienced by community members, the stronger their motivation to engage in various community activities. This study highlights the importance of psychological factors in shaping social engagement within fan communities in the digital era. ABSTRAK Fenomena partisipasi dalam komunitas penggemar K-pop di Indonesia menunjukkan bahwa keterlibatan individu tidak hanya didorong oleh ketertarikan terhadap hiburan, tetapi juga oleh kebutuhan psikologis, khususnya sense of belonging. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran sense of belonging terhadap motivasi berpartisipasi anggota dalam komunitas penggemar K-pop di wilayah Jabodetabek. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 200 orang anggota aktif komunitas K-pop berusia 18–30 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan dua instrumen, yaitu Sense of Belonging Instrument (SOBI) dan Participation Motivation Questionnaire (PMQ). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan regresi linier sederhana. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara sense of belonging dan motivasi partisipasi (r = .741; p < .05). Selain itu, sense of belonging memberikan kontribusi sebesar 54,9% terhadap motivasi partisipasi (R² = .549). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi rasa memiliki yang dirasakan anggota komunitas, semakin tinggi pula dorongan mereka untuk terlibat dalam berbagai aktivitas komunitas. Penelitian ini menegaskan pentingnya aspek psikologis dalam membentuk keterlibatan sosial dalam komunitas penggemar di era digital.
Transformasi Budaya Indonesia Di Era Modernisasi Virginia, Clarisa; Napouling, Debby; Yulinta, Helpani; Putri, Nurfathiyyah Farida; Tiatri, Sri
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13652

Abstract

Globalisasi, modernisasi, dan digitalisasi menjadi salah satu sumber kekuatan utama yang memengaruhi kehidupan sosial-budaya masyarakat di Indonesia. Ketiganya mendorong keterbukaan, inovasi, serta promosi budaya melalui media digital, namun juga turut melemahkan nilai-nilai tradisional, menggeser interaksi sosial menjadi virtual, dan memunculkan hibridisasi budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak modernisasi terhadap transformasi budaya di Indonesia melalui metode scoping review. Data diperoleh dari artikel jurnal, laporan penelitian, dan sumber akademik lain yang terbit pada rentang tahun 2020–2025. Seleksi literatur mengikuti tahapan PRISMA-ScR, dari 57 artikel awal menjadi 8 artikel utama yang relevan untuk dianalisis. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan tematik, dengan fokus pada isu pergeseran interaksi sosial, perubahan identitas budaya, peran media digital, dan strategi pelestarian budaya lokal di tengah maraknya globalisasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa globalisasi, modernisasi, dan digitalisasi menyebabkan adanya perubahan nilai, perilaku, dan identitas sosial-budaya pada masyarakat di Indonesia, terutama generasi muda. Serta, berperan positif sebagai sarana revitalisasi budaya dan penguatan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Oleh karena itu, pelestarian budaya perlu difokuskan pada penguatan identitas lokal melalui kolaborasi berbagai pihak, agar warisan budaya tetap lestari dan relevan di era modern
GAMBARAN KULINER BETAWI DALAM MEMPERKUAT JATI DIRI BANGSA Jauharah, Hasna; Sutiawan, Sutiawan; Najmah Khairiyyah, Syarifah; Ansika Cecilia, Fausta; Rahmad Endarto, Urip; Tiatri, Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8066

Abstract

This study analyzes the role of traditional Betawi food in strengthening the national identity of Indonesia through a social and cultural approach. Traditional Betawi food not only fulfills physical needs but also serves as a symbol of identity, solidarity, and the inheritance of national values. This research uses a descriptive qualitative method with a narrative approach based on a literature review. The findings reveal that traditional Betawi food reflects cultural acculturation that embodies the values of togetherness, openness, and mutual cooperation. These dishes carry historical, social, and spiritual meanings that contribute to the formation of collective identity. In addition to being local culturales symbols, traditional Betawi food also functions as an educational tool and instrument of cultural diplomacy. Therefore, its preservation is not only about maintaining regional flavors but also reinforcing awareness of the national values that shape the character of the Indonesian nation. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis peran makanan tradisional Betawi dalam memperkuat jati diri bangsa Indonesia melalui pendekatan sosial dan budaya. Makanan tradisional Betawi tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga berfungsi sebagai simbol identitas, solidaritas, dan warisan nilai kebangsaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif berbasis studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional Betawi mencerminkan akulturasi budaya yang menggambarkan nilai kebersamaan, keterbukaan, dan gotong royong. Hidangan-hidangan tersebut mengandung makna historis, sosial, dan spiritual yang berkontribusi pada pembentukan identitas kolektif masyarakat. Selain sebagai simbol budaya lokal, makanan tradisional Betawi juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan diplomasi budaya. Oleh karena itu, pelestariannya tidak hanya menjaga cita rasa khas daerah, tetapi juga memperkuat kesadaran terhadap nilai-nilai kebangsaan yang membentuk karakter bangsa Indonesia.
PERAYAAN HARI BESAR NASIONAL SEBAGAI SARANA MEMPERKUAT TOLERANSI DAN SOLIDARITAS: PERSPEKTIF LITERATUR Veren, Karissa; Gaby Sie, Madeline; Aprillia, Aginta; Zahra, Maryam; Afsyari, Belva; Tiatri, Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8075

Abstract

Indonesia is a country rich in cultural, linguistic, and religious diversity. This diversity can be both a strength and a source of conflict if not managed properly. National holiday celebrations go beyond mere ceremonial functions; they serve as collective spaces that facilitate social interactions across different identities. This study aims to explore how national holiday celebrations contribute to strengthening tolerance and solidarity among citizens in a multicultural society. A systematic literature review was conducted on scholarly articles published between 2020 and 2025 that met the inclusion criteria. The findings indicate that participation in national holiday celebrations fosters shared spaces that enhance the values of mutual cooperation, appreciation of differences, and social cohesion. Based on the distress intolerance theory, the study shows that active involvement in social activities helps reduce emotional tension arising from differences and strengthens individuals' capacity to tolerate diversity. This theory is relevant to the Indonesian context, as the social interactions created in national celebrations can reduce tensions between groups and strengthen tolerance towards differences, which is essential for maintaining social cohesion in a pluralistic society. This study makes a significant contribution to the existing literature by filling a gap in research on national holiday celebrations as a means of strengthening social solidarity, using a systematic literature review approach to examine its social contributions in Indonesia. ABSTRAK Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya, bahasa, dan agama. Keberagaman ini dapat menjadi kekuatan maupun sumber konflik jika tidak dikelola dengan tepat. Perayaan hari besar nasional lebih dari sekadar seremonial; ia berfungsi sebagai ruang kolektif yang memfasilitasi interaksi sosial antaridentitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana perayaan hari besar nasional dapat berkontribusi dalam memperkuat toleransi dan solidaritas antarwarga di masyarakat multikultural. Sistematic literature review dilakukan terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipasi dalam perayaan hari besar nasional memperkuat ruang bersama yang meningkatkan nilai gotong royong, penghargaan terhadap perbedaan, dan kohesi sosial. Berdasarkan teori distress intolerance, penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dalam aktivitas sosial membantu mengurangi ketegangan emosional yang timbul akibat perbedaan, serta meningkatkan kapasitas individu untuk mentoleransi keberagaman. Teori ini relevan dengan konteks Indonesia, karena interaksi sosial yang tercipta dalam perayaan nasional dapat mengurangi ketegangan antar kelompok dan memperkuat toleransi terhadap perbedaan, yang esensial dalam menjaga kohesi sosial di masyarakat yang majemuk. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur yang ada, dengan mengisi celah penelitian mengenai perayaan hari besar nasional sebagai sarana penguatan solidaritas sosial, menggunakan pendekatan systematic literature review untuk mengkaji kontribusi sosialnya di Indonesia.
Peran Self-Esteem sebagai Mediator pada Hubungan Parental Rejection dan Internet Gaming Disorder di Kalangan Remaja Wijaya, Odilia Angeline Jofan; Soetikno, Naomi; Tiatri, Sri
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v15i1.9961

Abstract

Internet gaming is the recreational medium most commonly used by society today but it can be developed into one of the disorders with the term internet gaming disorder. It is noted that the prevalence of IGD among adolescents is 19.9% in England and 17% in China. Indonesia's media covers news of violations related to excessive internet gaming, including stealing, dropping out of school, causing fires, and stealing money from orphanages. One of the protective factors of IGD is the role of parents. Rejection from parents can have an impact on a person's low self-esteem. Lower self-esteem makes a person vulnerable to engage in risky behavior such as internet gaming disorder (IGD). This study aims to look at the role of self-esteem as a mediator in the relationship between parental rejection (PR) and indications of internet gaming disorder (IGD) among adolescents. This research is a correlational quantitative study with 116 participants aged 18-20 years, actively playing internet gaming in the past year, and having an IGD indication based on the cut-off score of the measuring instrument. PR was measured using the Adult Parental Acceptance-Rejection Questionnaire (Adult PARQ): Father and Mother-Short Form, self-esteem using the Rosenberg Self-Esteem Scale, and IGD using the Ten-Item Internet Gaming Disorder Test (IGDT-10). The research model uses the Process Macro statistical analysis. The results showed that parental rejection predicts the IGD, so the higher the rejection, the greater the IGD owned by the participants. In addition, self-esteem was not proven as a mediator in the relationship between parental rejection and IGD.
Co-Authors Afendi, Jelien Afsyari, Belva Andriona, Joan Andy Surya Putra, Andy Surya Angela, Felice Angelia, Mikha Anisa Husnul Khotimah Ansika Cecilia, Fausta Anugrah, Chitta Aprilia Putri, Sherly Amanda Aprillia, Aginta Arumsari, Chysanti Audy, Ervina Aufa, Rahmatul Aulia, Nazwa Rahma Aulia, Shafira Anggun Aurelia, Verena Ayesha Desfitrianie Azzuhruf, Naura Reisya Bellany, Miranda Caroline, Gabriella Dinna Darmawan, Natalia W. Davira S, Carelene Denilson, Hody Desi Arisandi Dewi, Fransisca I.R. Dewi, Tita Tri Utami Dhiyaashafa, Keisya Azzura Dinatha, Vienchenzia Oeyta Dwitama Duarsa, Naraya Kinastrian Siniddhikara Edo, Gavriella Ceacilia Christie Ratu Ery Dewayani Fatiha, Salsabila Zahrani Febriani, Oki Kartika FELICIA Fransisca I. R. Dewi Gaby Sie, Madeline Graciela, Evelyn Gregorio, Keanen Handayani, Ani Hannandira, Rosa Hanuna, Fatimah Harsoyo, Tania Talitha Heni Mularsih Hervanny Zisli Hutagaol, Alice Shizuka Irene, Joe Iriani R. Dewi, Fransisca Jap Tji Beng Jap, Bernard Amadeus Jaya Jauharah, Hasna Johan, Hani Rahmawati Juliana, Sarah Gracyntia Junisah, Bunga Ayu Kurnia, Angelica Nathania Larasati, Kirey Latupono, Sania Alikha Rahmadira Lawrence, Valerie Lie, Audrey Felicia Liesera, Novita Limbor, Ellen Gabriel Lunzaga, Ele Lusiana, Fenny Mar'at, Samsunuwiyati Mar’at, Samsunuwijati Mar’at, Samsunuwiyati Margareta Margareth Natalia Meccabelfa, Nesha Mei Ie Merdiasi, Danella Michelle Friscilia Najmah Khairiyyah, Syarifah Naomi Soetikno, Naomi Naomi Sutikno, Naomi Napouling, Debby Nathashia, Kyara Nichlah, Naila Hullatun Nisa, Adilatun Nivia, Nivia Norita Margareth Berta, Norita Margareth Nugraheni, Angelia Prasastha Widi Nurkholiza, Rahmiyana Oeyta, Vienchenzia Pamela Hendra Heng Panatra, Valeria Pandumpi, Shania Krisan Pertama Henerges, Anakita Prasetyo, Sylvia Rosiana Putri, Arsy Febrianti Putri, Handyta Tiara Putri, Herviana Haruko Tadia Putri, Latifah Liwanti Putri, Monica Tri Putri, Najwa Nabila Rigusha Putri, Nurfathiyyah Farida Putriadi, Harvi Wahyu Rahmad Endarto, Urip Rahmadani, Putri Alifia Rahmah Hastuti Rahmiyana Nurkholizah Riana Sahrani Romansza, Hana Kameliana Safarizkyra, Taqya Adisty Salsabila, Tasya Mulia Sania Alikha Rahmadira Latupono Santi Yudhistira Saputra, Mikhael Adam Saraswati, Laksmiari Sefira, Fasia Meta Shalisha, Gabriella Shalsa Dea Purnama Shantya Viratama, Dwi Nurmatin Sharon, Michelle Silky Goswara Simon, Sevilla Soemiarti Patmonodewo Stephanie Stephanie Sucitra, Eric Sugeng Astanggo Susanto, Jessica Elena Sutarman, Merryn Oktavia Sutiawan, Sutiawan Suzanna Juwita, Suzanna Syarif, Shavira Hasanah Putri A. Tarigan, Julia Rostaulina Tasya Mulia Salsabila Tji Beng, Jap Tucunan, Byosvelma Michelle Blessya Vebiyan, Amanda Diva Veren, Karissa Vincent Suryawidjaja Virenna, Rachel Virginia, Clarisa Wasino Wasino Widiastuti, Niken Wijaya, Angeline Carolina Wijaya, Odilia Angeline Jofan Wijaya, Yohannes Yulindasari, Adelia Yulinta, Helpani Yuniawati, Elisa Ika Zahra Shafira Zahra, Maryam ZAHRO, TIARA Zheng, Margareta