p-Index From 2021 - 2026
9.494
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Ulul Albab: Jurnal Studi Islam LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Journal of Educational, Health and Community Psychology Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam AL-Fikr Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN An-Nuha : Jurnal Kajian Islam, Pendidikan, Budaya Dan Sosial MUSLIM HERITAGE: JURNAL DIALOG ISLAM DENGAN REALITAS Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial JURNAL PENELITIAN Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Syifa al-Qulub : Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism qolamuna : Jurnal studi islam Tasfiyah Jurnal al-Ulum : Jurnal Pemikiran dan penelitian ke-Islaman Tribakti: jurnal pemikiran keIslaman Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora AL-TANZIM : JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM AT-TURAS: Jurnal Studi Keislaman Aqlania TSAQAFAH Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Living Islam: Journal of Islamic Discourses RELIGIA Mutawasith: Jurnal Hukum Islam Studia Philosophica et Theologica Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Jurnal Filsafat Indonesia Jurnal Penelitian FiTUA : Jurnal Studi Islam Ulumuna Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam Psikobuletin: Buletin Ilmiah Psikologi TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Kutubkhanah Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Al-Qur'an Journal of Social Research COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Cakrawala: Jurnal Studi Islam Hunafa: Jurnal Studia Islamika ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin ROSYADA: Islamic Guidance and Counseling Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Islamika Inside: Jurnal Keislaman dan Humaniora Muslim Heritage Religia : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Jurnal Konseling Pendidikan Islam JURNAL ILMIAH GEMA PERENCANA JOUSIP Dinika: Academic Journal of Islamic Studies. FATHIR: Jurnal Studi Islam Mu'asyarah El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin Dan Filsafat Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman MOMENTUM : Jurnal Sosial dan Keagamaan Journal of Education and Teacher Training Innovation (JETTI) Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah Jurnal Konseling dan Psikologi Indonesia
Claim Missing Document
Check
Articles

Teologi Antropomorfistik: Alternatif Pemikiran. Menyelesaikan Tindak Kekerasan Achmad Khudori Soleh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.569 KB) | DOI: 10.18860/el.v4i3.5167

Abstract

Normatively, none of the religions advocate us to encourage their followers to engage in violence against their different peers and followers of other religions. However, historically-factually, violence is often a religious community. This paper tries to see the root of the problem that can encourage the occurrence of violence and provide alternative thought. Theocentric theological thinking has caused people to be ignorant of factual-empirical conditions, not knowing others, not even knowing themselves. This has caused the people  blindly defend their religious conceptions. Therefore, theocentric theology should be overhauled and drawn into anthropocentric theology (theology of humanity), so that the faithful can understand it, understand its environment, and pervade the pluralistic empirical conditions. At the same time, it is necessary also between the sacred normative region and the profane historical territory, so as to see where the standard teachings and which products of thought are changing and can be criticized. Thus the community can dialog and can cooperate with others well, open and wholeheartedly Secara normatif, tidak ada satupun agama yang menganjurkan kita untuk mendorong pemeluknya untuk melakukan kekerasan, baik terhadap sesamanya yang berbeda pandangan maupun pada pengikut agama lain. Namun, secara historis-faktual, tidak jarang tindak kekerasan dilakukan komunitas yang agamis. Tulisan ini mencoba melihat akar persoalan yang bisa­ mendorong terjadinya tindak kekerasan dan memberikan pemikiran alternatifnya. Pemikiran teologis yang teosentris telah menyebabkan masyarakat tidak kenal kondisi faktual-empiris, tidak kenal orang lain, bahkan tidak kenal dirinya sendiri. Hal ini menyebabkan masyarakat pemeluknya secara membabi buta membela konsep-konsep keagamaaannya. Karena itu, teologi teosentris (ketuhanan) harus dirombak dan ditarik menjadi teologi antroposentris (teologi kemanusiaan), sehingga umat agama bisa memahami dlirinya, memahami lingkungannya clan mernahami kondisi empirik yang pluralistik. Bersamaan dengan itu, perlu pula antara wilayah normatif yang sakral dan wilayah historis yang profan, sehingga bisa melihat mana ajaran yang baku dan mana produk pemikiran yang berubah dan bisa dikritik. Dengan demikian masyarakat bisa berdialog clan bekerja sama clengan  orang lain  secara baik, terbuka clan lapang dada
Konsep Seni dan Keindahan M. Iqbal A. Khudori Soleh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.57 KB) | DOI: 10.18860/el.v10i1.4595

Abstract

Generally, art work is divided in two great sects: expressionism and functionalism. The first sect is based on the interest in the art itself, whereas the second sect links its work to others, such as social problem in the surroundings. The art concept of Iqbal seems to adopt two sects, expressionism and functionalism. With expressionism,-Iqbal asserted that an art must constitute a creation of creativities and be originally from the artist him/herself not from a repetition or imitation. On functionalism, Iqbal stated that an art is not free from the certain purposes which must be morally achieved.-Finally, based on his own concept, Iqbal maintains certain criteria and purposes which have to be in an art work. Those criteria are: 1) art must be a creative work, and 2) the creativities must be original and not the result of plagiarism. In addition, the purposes and the functions that must be guaranteed are: 1) to create the missing thing to the life in hereafter or immortality, 2) to give cultivation for human being in the world, and 3) to give motivation for people progression.  Umumnya, karya seni terbagi dalam dua sekte besar: ekspresionisme dan fungsionalisme. Sekte pertama didasarkan pada kepentingan dalam seni itu sendiri, sedangkan sekte kedua menghubungkan pekerjaannya dengan orang lain, seperti masalah sosial di sekitarnya. Konsep seni Iqbal tampaknya mengadopsi dua sekte, ekspresionisme dan fungsionalisme. Dengan ekspresionisme, -Iqbal menegaskan bahwa sebuah seni harus merupakan penciptaan kreativitas dan berasal dari seniman itu sendiri bukan dari pengulangan atau tiruan. Pada fungsionalisme, Iqbal menyatakan bahwa sebuah seni tidak terlepas dari tujuan tertentu yang harus dicapai secara moral.-Akhirnya, berdasarkan konsepnya sendiri, Iqbal mempertahankan beberapa kriteria dan tujuan yang harus ada dalam sebuah karya seni. Kriteria tersebut adalah: 1) seni harus menjadi karya kreatif, dan 2) kreativitas harus asli dan bukan hasil plagiarisme. Selain itu, tujuan dan fungsi yang harus dijamin adalah: 1) Menciptakan hal yang hilang bagi kehidupan di akhirat atau keabadian, 2) memberi kultivasi bagi manusia di dunia, dan 3) memberi motivasi bagi perkembangan orang. 
Mencermati Gagasan Islamisasi Ilmu Faruqi Achmad Khudori Soleh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1652.8 KB) | DOI: 10.18860/el.v4i2.4630

Abstract

Due to the secular paradigm, modern (Western) knowledge becomes dry, even apart from the monotheistic or theological values. Consequently, modern science sees nature and man as mere material and incidental existence without God's interference, so that it can be exploited without calculation. This paper reviews the idea of Faruqi bringing together the secular and Western paradigm in the birth of modern monotheistic scholarship. The Islamization program of Faruqi science emphasizes on the total overhaul of western social science because it is considered Eurocentric. The steps of Islamization of the given science and its criticism of the reality of Islamic education is a major contribution to the reform of the Islamic education system. The ideas that need to be conveyed are first, the relevance of Islam in every field of science. Second, the principle of the unity of truth and knowledge. Thirdly, objective criteria in providing an epistemological basis for the natural and social sciences today are mistaken. Fourth, the discipline of science is not regulated and appears immediately Akibat paradigma yang sekuler, pengetahuan modern (Barat) menjadi kering, bahkan terpisah dari nilai-nilai tauhid atau teologis. Akibatnya, sains modern melihat alam dan manusia hanya sebagai material dan insidental yang eksis tanpa interfensi Tuhan, sehingga ia bisa dieksploitir tanpa perhitungan. Tulisan ini mengulas gagasan Faruqi mempertemukan paradigma sekuler dan Barat dalam melahirkan keilmuan modern yang bertauhid. Program Islamisasi ilmu Faruqi menekankan perombakan total atas keilmuan sosial barat karena dianggap bersifat Eurosentris. Langkah-langkah Islamisasi ilmu yang diberikan dan kritiknya terhadap realitas pendidikan Islam merupakan sumbangan besar bagi perombakan sistem pendidikan Islam. Gagasan yang perlu di sampaikan adalah pertama, relevansi Islam di setiap bidang ilmu pengetahuan. Kedua, prinsip kesatuan kebenaran dan pengetahuan. Ketiga, kriteria objektif dalam memberikan basis epistemologi bagi ilmu alam dan sosial saat ini dirasa keliru. Keempat, disiplin ilmu tidak diatur dan muncul serta merta.
Konsep Seni Islam Sayyid Husein Nasr A. Khudori Soleh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.276 KB) | DOI: 10.18860/el.v0i0.441

Abstract

Sayyid Husein Nasr divided art into three parts: pure art, traditional art and religious art. Islamic art included on pure art, relates to the principle of cosmos unity and principle of individual life unity and society. Because of that, according to Nasr, thinking about Islamic art is not based on material and social political experience that scope on inner reality of al Quran. In other hand, Islamic art also based on wisdom or knowledge that inspired of spiritual values, therefore Islamic art can be made as a result of khazain al ghaib. Because of that, Islamic art always reflected on religious values and explained of spiritual qualities. Actually, there are four functions which carry out by Islamic art. (1) Aims a blessed as cause of spiritual relation with Islamic spiritual dimension; (2) Remembering presence of the God in everywhere peoples are; (3) As criteria to evaluate social movement, cultural or politic that really Islamic or not; (4) to determined step of intellectual relation and religious of society.Sayyid Husein Nasr membagi seni menjadi tiga bagian: seni murni, kesenian tradisional dan seni religius. Seni Islam termasuk seni murni, berkaitan dengan prinsip kesatuan kosmos dan prinsip persatuan kehidupan individu dan masyarakat. Karena itu, menurut Nasr, pemikiran tentang seni Islam tidak didasarkan pada pengalaman material dan sosial politik yang lingkup realitas batin al quran. Di sisi lain, seni Islam juga didasarkan pada hikmat atau pengetahuan yang mengilhami nilai-nilai spiritual, oleh karena itu seni Islam bisa dijadikan khazirah al ghaib. Karena itu, seni Islam selalu tercermin pada nilai-nilai agama dan menjelaskan kualitas spiritual. Sebenarnya ada empat fungsi yang dilakukan oleh seni Islam. (1) Bertujuan diberkati sebagai penyebab hubungan spiritual dengan dimensi spiritual Islam; (2) Mengingat keberadaan Tuhan di mana-mana orang-orang; (3) Sebagai kriteria untuk mengevaluasi gerakan sosial, budaya atau politik yang benar-benar Islami atau tidak; (4) menentukan langkah relasi intelektual dan religius masyarakat.
The concept of grave torment: A comparison of the thoughts of Ibn Qayyim Al-Jauziyah and Albert Bandura Nada Shobah; Achmad Khudori Soleh
Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/psikoislamika.v19i2.17187

Abstract

Abstract: The torment of the grave is the consequence and punishment for servants of every deed done in the world. The similarity of context related to grave torments between Ibn Qayyim al-Jauziyah's perspective and Albert Bandura's social theory of learning has gaps of difference that form the basis of this research, so the author conducts a comparative analysis from the point of view of the two characters. This article aims to find differences and similarities in the concept of strengthening from the comparative analysis of Ibn Qayyim al-Jauziyah's thoughts on the torment of the grave with Albert Bandura's thoughts. This study uses qualitative research methods with comparative analysis techniques. The results show that Ibn Qayyim al-Jauziyah's thoughts on grave punishment have the same concept as Albert Bandura's social learning theory, namely grave punishment as a form of reinforcement so that individuals do not repeat bad behavior. The difference lies in the form of reinforcement, the form of change, the timing of administration, behavioral patterns, the function of observation in modeling, model classification, and reinforcement success.Keywords: Torment of the Grave; Ibn Qayyim al-Jauziyah; Albert Bandura.Abstrak:Siksa kubur merupakan konsekuensi yang harus diterima dan seakan menjadi pusnishment bagi seorang hamba sebagai bentuk balasan dari setiap tingkah laku yang dilakukannya selama hidup di dunia. Kesamaan konteks terkait siksa kubur antara perspektif Ibnu Qayyim al-Jauziyah dengan teori sosial belajar Albert Bandura memiliki celah perbedaan yang menjadi dasar penelitian ini sehingga penulis melakukan analisis komparatif dalam sudut pandang kedua tokoh. Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah menemukan perbedaan dan persamaan konsep penguatan dari analisis komparatif pemikiran Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengenai siksa kubur dengan pemikiran Albert Bandura. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik analisa komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengenai siksa kubur memiliki kesamaan konsep dalam teori social learning milik Albert Bandura, yakni siksa kubur sebagai bentuk penguatan agar individu tidak mengulangi perilaku yang buruk. Perbedaannya terletak pada aspek bentuk penguatan, bentuk perubahan, waktu pemberian, pola perilaku, fungsi pengamatan dalam pemodelan, klasifikasi model, dan keberhasilan penguatanKata Kunci: Siksa Kubur; Ibn Qayyim al-Jauziyah; Albert Bandura.
IBNU SINA: JIWA DAN KEABADIAN JIWA Naila Shofia; Achmad Khudori Soleh
ROSYADA: Islamic Guidance and Counseling Vol 3, No 2 (2022): Rosyada: Islamic Guidance and Counseling
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/rosyada.v3i2.5450

Abstract

Ibn Sina adalah seorang dokter, ahli kimia, dan filsuf Islam. Ibnu Sina memiliki nama lengkap Abu Ali al-Husain Ibn Abdullah Ibn Hasan Ibn Ali Ibn Sina. Lahirkan di Afsyana, daerah dekat Bukhara, tahun 980 M. Memiliki konsep jiwa dengan membaginya menjadi 3, yaitu:jiwa tumbuhan, hewan dan manusia.  Selain konsep jiwa ia memiliki konsep tentang kemiuistahilan rengkarnasi yang di percaya sebaagian dari manusia. Metode kualitatif digunakan peneliti dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian ini menjabarkan tentang konsep keabadian jiwa dan kemustahilan rengkarnasi. Keabadian jiwa setelah kematian, dimana saat badan hancur maka jiwa tidak ikut hancur. Akan tetapi, tidak ikut hancurnya jiwa manusia bukan berari ia akan di bangkitkan dibumi. Karena ibnu sina memiliki pendat tentang kemustahil pada rengkarnasi pada makhluk ciptaan tuhan. Itukah mengapa ibnu sina menolak tentang konsep rengkarnasi dan mengikuti konsep- konsep filsuf –filsuf terdahulu tentang jiwa manusia.
Soul Dimension and Antithesis of Ibnu Sina’s Reincarnation Concept Naila Shofia; Achmad Khudori Soleh
Religia Vol 25 No 2 (2022): Author geographical coverage: Indonesia
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.vi.5958

Abstract

Ibn Sina, the father of modern medicine, has an unusual concept of psychology. His concept of soul is different from other characters. So is his view of reincarnation. This study examines Ibn Sina's concept of the soul and his views on reincarnation. The research is based on literature data and uses qualitative methods. The results showed that Ibn Sina divided the human soul into three parts: the plant, animal, and human. The human soul is eternal. The soul is not corrupted after death, after being separated from the body. The soul lives on in its nature. After death, the soul does not need a new body for its activities. Therefore, there is no reincarnation for the soul. Ibn Sina disagrees with the concept of soul reincarnation by Aristotle.
KONSEP MANUSIA SEBAGAI AL-BASYAR DALAM AL-QUR’AN Imroatus Sholikha Azzuhriyyah; Achmad Khudori Soleh
Qolamuna : Jurnal Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2023): Februari 2023
Publisher : STIS MIFTAHUL ULUM LUMAJANG PRESS (STISMU PRESS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/qolamuna.v8i2.740

Abstract

Abstract Al-basyar is one of the terms in the Qur'an in a physical context to refer to humans. Humans are objects whose existence can be directly observed by the five senses, have a physical image or a real form and a solid form. The purpose of writing the article is to analyze the human context as al-basyar in the Qur'an. The method used in this study is a qualitative research method with a library research approach in which the data sources come from integrated libraries, books and journals. The results of this study state that (1) The concept of human as al-basyar in the Qur'an shows that humans are biological creatures that can be physically seen by the eye (physical). (2) The word al-Basyar consists of the letters ba, syin and ra which in language mean human physicality, mentioned 36 times spread across 23 letters in the Koran with different meanings and variations of writing. (3) Prophets are humans who are the same as humans in general, but different from humans in general because they have several advantages given by Allah as a differentiator from ordinary humans. Keywords : Al-Basyar, Perspective of the Qur'an, Basic Human Needs, Prophethood
Seni Pegelaran Wayang dalam Perspektif Fikih dan Spiritualitas Seni Islam Seyyed Hossein Nasr Muhammad Riduwan Masykur; Achmad Khudori Soleh
Muslim Heritage Vol 8, No 1 (2023): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v8i1.5985

Abstract

AbstractThe function of wayang in the context of ancient times was a means of worship and an intermediary in worshiping God. Whereas in Islam, it is not permissible to worship God by means of means or media, so this becomes a shirk to Allah, over time wayang changes its function, which is contrary to the past, and becomes more adaptive to the times. The purpose of writing this article is to discuss the art of wayang from the perspective of Islamic law or fiqh and in the study of the spirituality of Islamic art Seyyed Hossein Nasr. The writing of this article uses the library research method and literature sources that are in line with the discussion. This research resulted in findings that 1) wayang is an indigenous culture of the archipelago, which at first glance contradicts the views of Islamic jurisprudence and art by Seyyed Hossein Nasr 2) Wayang is an archipelago culture that has a great influence, in the perspective of fiqh, wayang performances are a form of Islamic art based on culture because of their use value today as art without associating partners with Allah., 3) From the perspective of Islamic art Seyyed Hossein Nasr Wayang is classified as a traditional Islamic art as its function is used in educational media through stories that are interesting and seem unique, the existence of wayang that can bring people to their goals Islamic art makes wayang used by walisongo as an effective preaching medium. AbstrakFungsi wayang dalam konteks zaman dahulu menjadi sarana ibadah dan perantara dalam menyembah Tuhan. Sedangkan dalam islam tidak diperkenankan menyembah Tuhan dengan menggunakan sarana atau media, sehingga hal tersebut menjadi syirik kepada Allah, seiring berjalannya waktu Wayang beralih fungsi yang bertolak belakang dengan zaman dahulu, dan menjadi lebih adaptif dengan perkembangan zaman. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membahas seni rupa wayang dalam kacamata hukum islam atau fiqih dan dalam kajian spiritualitas seni islam Seyyed Hossein Nasr. Penulisan artikel ini menggunakan metode library research dan sumber literatur yang selaras dengan pembahasan. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa 1) wayang merupakan budaya asli Nusantara yang sekilas bertentengan dengan pandangan fiqih dan seni islam Seyyed Hossein Nasr 2) Wayang merupakan budaya Nusantara yang memiliki pengaruh yang besar, dalam perspektif fiqih, pagelaran Wayang merupakan salah satu bentuk seni islam berlandaskan budaya karena nilai kegunaannya pada zaman sekarang sebagai seni tanpa unsur menyekutukan Allah, 3) Dari perspektif seni islam Seyyed Hossein Nasr Wayang diklasifikasikan sebagai seni tradisional islam sebagaimana fungsinya yang digunakan dalam media pendidikan melalui cerita yang menarik dan terkesan unik, eksistensi wayang yang dapat membawa manusia kepada tujuan seni islam menjadikan wayang digunakan walisongo sebagai media berdakwah yang efektif.
Seni Pegelaran Wayang dalam Perspektif Fikih dan Spiritualitas Seni Islam Seyyed Hossein Nasr Muhammad Riduwan Masykur; Achmad Khudori Soleh
Muslim Heritage Vol 8, No 1 (2023): Muslim Heritage: Jurnal Dialog Islam dengan Realitas
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/muslimheritage.v8i1.5985

Abstract

AbstractThe function of wayang in the context of ancient times was a means of worship and an intermediary in worshiping God. Whereas in Islam, it is not permissible to worship God by means of means or media, so this becomes a shirk to Allah, over time wayang changes its function, which is contrary to the past, and becomes more adaptive to the times. The purpose of writing this article is to discuss the art of wayang from the perspective of Islamic law or fiqh and in the study of the spirituality of Islamic art Seyyed Hossein Nasr. The writing of this article uses the library research method and literature sources that are in line with the discussion. This research resulted in findings that 1) wayang is an indigenous culture of the archipelago, which at first glance contradicts the views of Islamic jurisprudence and art by Seyyed Hossein Nasr 2) Wayang is an archipelago culture that has a great influence, in the perspective of fiqh, wayang performances are a form of Islamic art based on culture because of their use value today as art without associating partners with Allah., 3) From the perspective of Islamic art Seyyed Hossein Nasr Wayang is classified as a traditional Islamic art as its function is used in educational media through stories that are interesting and seem unique, the existence of wayang that can bring people to their goals Islamic art makes wayang used by walisongo as an effective preaching medium. AbstrakFungsi wayang dalam konteks zaman dahulu menjadi sarana ibadah dan perantara dalam menyembah Tuhan. Sedangkan dalam islam tidak diperkenankan menyembah Tuhan dengan menggunakan sarana atau media, sehingga hal tersebut menjadi syirik kepada Allah, seiring berjalannya waktu Wayang beralih fungsi yang bertolak belakang dengan zaman dahulu, dan menjadi lebih adaptif dengan perkembangan zaman. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membahas seni rupa wayang dalam kacamata hukum islam atau fiqih dan dalam kajian spiritualitas seni islam Seyyed Hossein Nasr. Penulisan artikel ini menggunakan metode library research dan sumber literatur yang selaras dengan pembahasan. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa 1) wayang merupakan budaya asli Nusantara yang sekilas bertentengan dengan pandangan fiqih dan seni islam Seyyed Hossein Nasr 2) Wayang merupakan budaya Nusantara yang memiliki pengaruh yang besar, dalam perspektif fiqih, pagelaran Wayang merupakan salah satu bentuk seni islam berlandaskan budaya karena nilai kegunaannya pada zaman sekarang sebagai seni tanpa unsur menyekutukan Allah, 3) Dari perspektif seni islam Seyyed Hossein Nasr Wayang diklasifikasikan sebagai seni tradisional islam sebagaimana fungsinya yang digunakan dalam media pendidikan melalui cerita yang menarik dan terkesan unik, eksistensi wayang yang dapat membawa manusia kepada tujuan seni islam menjadikan wayang digunakan walisongo sebagai media berdakwah yang efektif.
Co-Authors Abdillah, Muhammad Hanif Abdulloh, Mochammad Sayyid Ahmad Barizi Ahmad Hidayat Buang Akbar, Rizamul Malik Akbar, Yogi Muhammad Al-Sanhaji, Saleh Abdul Rahman Al-Senussi Youssef Alfain, Shinta Nuriya Idatul Alfiesyahrianta Habibie Alfikri, Ahmad Faiz Shobir Amalia, Novi Husnatul Amaliya, Risma Nailul Amelia, Asti Anahdiah, Shofia Asrori, Moh. Andi Assidiqi, Ali Hasan Asti Amelia Azzuhriyyah, Imroatus Sholikha Basid, Abd. Bastomi, Riza Bidayatul Mutammimah Cahyati, Lia Camila, Humaida Ghevira Syavia Cholili, Abd Hamid Erik Sabti Rahmawati FAHRUL KHARIS NURZEHA Fatmawati, Lailil Fazary, M Fakhry Asa Hakim, M Aunul Hanifah, Nor Hannani, Rohmatul Hidayatulloh, Muhammad Mahbub Imroatus Sholikha Azzuhriyyah Indrawayanti, Rika Dwi Irwan Ahmad Akbar Isnaini, M. Agus jafar, zulkifli Joko Kristanto M. Zainuddin Magfiroh, Norma Hasanatul Manggala, Kayan Marsuki Marsuki, Marsuki Maulana, Hafidz Fajar Miftahul Huda Moh. Andi Asrori Morinawa, Salsabilla Muhammad Riduwan Masykur Mujtahid Mujtahid Mulyadi Mulyadi Mursyid, Achmad Yafik Mutammimah, Bidayatul Muwafiqi, Erny Fitroh Nabila Nada Shobah Nada, Alfaini Zulfa Naila Shofia Naila Shofia Nur Fatimah Pamukti, Aryani Pratama, Moch Yusuf Syakir Rahmat Rahmat Raya, Moch Khafidz Fuad Rihlatuz Zakiyah Rika Dwi Indrawayanti Rohmatin, Ilma Nur Rosyida Nurul Anwar Sa'adah, Nailis Sadiyah, Dini Salim Al Idrus Sayyidin Panatagama, Ahmad Dzulfikar Sayyidin Panatagama Sayyidin Sofia, Naila Sugeng Santoso Syamsuddini, M. Najich Syihabuddin, Muhammad Tajuddin, M. Reivanut Taufiqurrahman, Muh. Urgenadila, Aulia Wafi, Hasan Abdul Wahda, Maziya Rahma Wahyu Wahyu Wajdi, Muhammad Fasih Wardani, Azmi Putri Ayu Waty, Dwi Septiana Khofida Yamani, Muhammad Rafi Zainuddin, M Zainuddin, Zainuddin Zakiyah, Rihlatuz