p-Index From 2021 - 2026
9.494
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Ulul Albab: Jurnal Studi Islam LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Journal of Educational, Health and Community Psychology Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam AL-Fikr Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN An-Nuha : Jurnal Kajian Islam, Pendidikan, Budaya Dan Sosial MUSLIM HERITAGE: JURNAL DIALOG ISLAM DENGAN REALITAS Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial JURNAL PENELITIAN Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Syifa al-Qulub : Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism qolamuna : Jurnal studi islam Tasfiyah Jurnal al-Ulum : Jurnal Pemikiran dan penelitian ke-Islaman Tribakti: jurnal pemikiran keIslaman Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora AL-TANZIM : JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM AT-TURAS: Jurnal Studi Keislaman Aqlania TSAQAFAH Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Living Islam: Journal of Islamic Discourses RELIGIA Mutawasith: Jurnal Hukum Islam Studia Philosophica et Theologica Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Jurnal Filsafat Indonesia Jurnal Penelitian FiTUA : Jurnal Studi Islam Ulumuna Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam Psikobuletin: Buletin Ilmiah Psikologi TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Kutubkhanah Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Al-Qur'an Journal of Social Research COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Cakrawala: Jurnal Studi Islam Hunafa: Jurnal Studia Islamika ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin ROSYADA: Islamic Guidance and Counseling Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Islamika Inside: Jurnal Keislaman dan Humaniora Muslim Heritage Religia : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Jurnal Konseling Pendidikan Islam JURNAL ILMIAH GEMA PERENCANA JOUSIP Dinika: Academic Journal of Islamic Studies. FATHIR: Jurnal Studi Islam Mu'asyarah El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin Dan Filsafat Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman MOMENTUM : Jurnal Sosial dan Keagamaan Journal of Education and Teacher Training Innovation (JETTI) Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah Jurnal Konseling dan Psikologi Indonesia
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Komparasi Etika Islam Ibnu Miskawaih dan Modifikasi Perilaku dalam Psikologi Barat: A Comparative Analysis of Ibn Miskawaih’s Islamic Ethics and Behavior Modification in Western Psychology Hanifah, Nor; Soleh, Achmad Khudori; Bastomi, Riza
Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : University of Darussalam Gontor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tasfiyah.v9i1.12380

Abstract

This study aims to compare the concept of moral development according to Ibn Miskawaih with behavior modification in Western psychology. This topic is intriguing due to the similarities and differences between the two that can be scientifically explained. The research uses a qualitative method with a library research approach. The findings indicates that Ibn Miskawaih's moral development or ethics is based on the Al-Qur’an and philosophy, focusing on the soul’s drive to engage in good behavior without considering specific benefits, in order to achieve life perfection and happiness. According to him, the ethical hierarchy consists of al-khaiyr (goodness), al-sa‘ādah (happiness), and al-faḍīlah (virtue). In Ibn Miskawaih’s view, character formation is a potential for noble morality that can be achieved through the principle of the middle path (al-wasaṭ), influenced by internal factors such as the soul and external factors such as the environment. Meanwhile, behavior modification in Western psychology is based on theories by Western scholars that emphasize observable behavior resulting from stimulus-response and aim to shape planned behavior through learning and reinforcement processes. The comparison between the two reveals differences in basic thinking, characteristics, factors influencing behavior change, and goals. However, there are similarities in the strategies used to shape character, namely through training, habituation, reinforcement, and modeling roles within the environment. 
Reconceptualizing Qiwamah in the Dynamics of Contemporary Muslim Families: A Phenomenological Approach jafar, zulkifli; Soleh, Achmad Khudori
Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2025): MARITAL: Kajian Hukum Keluarga Islam
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/marital_hki.v3i2.4870

Abstract

Kepemimpinan keluarga dalam islam perspektif fenomenologi dipahami sebagai satu pendekatan bahwa kepemimpinan merupakan amanah dan tanggung jawab yang tidak hanya dipertanggung jawabkan kepada anggota-anggota yang dipimpinnya, tetapi juga akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Swt. Tujuan dari penelitain ini ialah ingin memahami lebih jauh konsepsi kepemimpinan dalam keluarga islam perspektif fenomenolgi. Metode penelitian ini adalah kajian Pustaka (library research) dengan Teknik analisis data, dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sumber data sekunder. Hasil dari penelitian ini adalah: 1. Kepemimpinan keluarga dalam islam dikenal dengan istilah qiwamah. yang merujuk kepada ayat al-Qur’an surat an-nis’ ayat 34 menyebutkan bahwa sebuah keluarga harus ada kepemimpinan yang baik untuk mewujudkan kehidupan yang harmoni penuh dengan keridhaan Allah swt. 2. dalam pendekatan fenemenologi dapat di uraikan berdasarkat tiga tahapan yakni Reduksi fenomenologis, reduksi eiditis, dan reduksi transendental. 3. kepemimpinan keluarga perspektif fenomenologi harus terintegrasi dan kolaboratif antara suami-istri demi mencapai keluarga Sakinnah mawadah warahmah
Reading the Qur’an at funerals between Custom and Worship in Libya (Descriptive-Analytical Study): قراءة القرآن على الجنائز بين العادة والعبادة في ليبيا (دراسة وصفية تحليلية ) Soleh, Achmad Khudori; Al-Sanhaji, Saleh Abdul Rahman Al-Senussi Youssef; Zainuddin, Zainuddin
Journal of Education and Teacher Training Innovation Vol. 2 No. 1 (2024): Journal of Education and Teacher Training Innovation (JETTI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/jetti.v2i1.74

Abstract

قراءة القرآن على الجنائز بين العادة والعبادة في ليبيا، هذا عنوان من العناوين التي لم يتم البحث فيها من قبل بحثا علميا بالنظر في إلى ظروف الناس وعاداتهم ونظرتهم إلى هذه المسألة في ليبيا، وذلك لما له من أهمية علمية للوقوف عن الأسباب الرئيسية وراء تمسك الناس بها. هل أهل ليبيا يعتبرون هذا الفعل من العادات أو هو من صميم العبادات، أو يتردد بين العادة والعبادة، وكيف أثر هذا في اختلاف الحكم الشرعي بسبب هذا التردد. إن هذه القضية من القضايا الفقهية القديمة، وهي محل نزاع بين الفقهاء في وصول الثواب للميت من عدمه، وهذا قد دونت به الكثير ممن المؤلفات والبحوث، ولكن الجديد هنا أنهم استخدموا القياس في الاستدلال على جواز من يرى ذلك، وركن إلى ظاهر النصوص من منعه، وأن هذه القضية في ليبيا تتردد بين العادة والعبادة، ومن حيث أنها مرتبطة بالقرآن والدعاء بعده والصدقة، فإن هذه عبادة من العبادات الشرعية، ومن حيث ارتباطها وتعاقها بالجنائز وتعد من مراسم العزاء فإنها تدخل في العادات، وعلى هذين التقسيمين يختلف الحكم، فمن يرى أنها للعادات أقرب حكم بجوازها انطلاقا من قاعدة الأصل في العادات الجواز إلا بدليل، وخلافه من يرى أنها من العبادات أخذ بتكملة القاعدة، الأصل في العبادات التوقف إلا بدليل.
IMPLEMENTASI KONSEP MAQAMAT DALAM MATERI TASAWUF PADA SISWA MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) INSAN CENDEKIA PASURUAN Fatmawati, Lailil; Soleh, Achmad Khudori
Tajdid Vol 9 No 1 (2025): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v9i1.4217

Abstract

Implementasi Konsep Maqamat dalam Materi Tasawuf pada Siswa Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Pasuruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi konsep maqamat dalam pembelajaran materi tasawuf di Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Konsep maqamat merupakan bagian integral dari studi tasawuf yang menggambarkan tingkat-tingkat spiritualitas dalam perjalanan menuju Tuhan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara terhadap guru-guru dan siswa-siswa di MAN Insan Cendekia Pasuruan. yang telah mengikuti pembelajaran tasawuf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi konsep maqamat dalam pembelajaran tasawuf di MAN Insan Cendekia Pasuruan melibatkan pendekatan holistik yang mencakup teori dan praktik spiritual. Guru-guru tasawuf menggunakan pendekatan yang beragam untuk mengajarkan maqamat, termasuk ceramah, diskusi kelompok, dan praktik langsung. Siswa-siswa menunjukkan pemahaman yang beragam terhadap konsep ini, dengan beberapa menunjukkan kemampuan untuk menerapkan prinsip-prinsip maqamat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana konsep-konsep kompleks seperti maqamat dapat diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan agama Islam di MAN. Insan Cendekia Pasuruan.
Konsep Manusia (Al-Insan) Dalam Al-Qur’an Sebagai Khalifatullah Dengan Perspektif Kepribadian Sigmund Freud Rohmatin, Ilma Nur; Soleh, Achmad Khudori
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v5i2.3163

Abstract

Humans are an important object of study to be studied, where humans have various traits and personalities. In this case, human beings become objects as caliphs who will convey scientific and spiritual knowledge to other humans. The purpose of this study is to correlate the teachings in the Qur'an with psychological science, especially in terms of human personality. The methods used are the literature study method and maudhu'i. The results of this research are (1) Al-Insan is positioned as a khalifatullah who will spread knowledge, spirituality and intellectual. (2) As a khalifatullah, human attitudes can be connected with Fredu's personality theory, namely that there is an Id that comes from the desire or desire of humans to do something. The ego that will make man realize his desires with a good or bad response as a leader in making Superego decisions that come from his morality habits, which will shape his ego.
Insan Kamil as Psychological Ideality in the Thought of Abdul Karim Al-Jilli and its Manifestation in the Prophet Muhammad SAW Anahdiah, Shofia; Soleh, Achmad Khudori
Syifa al-Qulub : Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik Vol. 8 No. 2 (2024): Syifa al-Qulub: Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/saq.v8i2.49294

Abstract

Abdul Karim Al-Jilli, a renowned figure in Sufism, developed the concept of Insan Kamil (the Perfect Human) by referring to the character of the Prophet Muhammad as the ideal example. This study aims to explore and understand Al-Jilli's concept of Insan Kamil in the context of psychology. In this regard, the study examines the concept of Insan Kamil and the emulation of Prophet Muhammad as the most perfect example of a human being. Al-Jilli’s book titled al-Insan al-Kamil fi ma’rifati al-‘Awakhir wa al-‘Awa’il serves as a primary reference for this research, which employs a qualitative descriptive method with data analysis through content analysis. The results of the study reveal several points: (1) According to Al-Jilli, Insan Kamil is a mediator between God (al-Haqq) and humanity (makhluq), a figure capable of connecting the physical world with the spiritual realm. (2) The emergence of Insan Kamil as a Divine manifestation consists of five stages: Uluhiyah, Ahadiyah, Wahidiyah, Rahmaniyah, and Rububiyah. The process for a servant to achieve Insan Kamil passes through three stages: al-Bidayah, al-Tawasuth, and al-Khitam. (3) According to Al-Jilli, Muhammad represents the ideal type for every human, as his being reflects the image of God in the most perfect form and possesses abilities beyond those of ordinary humans, both in terms of personality and knowledge.
Legal and Ethical Interpretation of Blasphemy Cases in Indonesia: A Ma'na-cum-Maghza Perspective Akbar, Irwan Ahmad; Zainuddin, M.; Soleh, Achmad Khudori
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 57 No 1 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.v57i1.1218

Abstract

The phenomenon of religious blasphemy cases in Indonesia, including the cases of Sukmawati and Meiliana, which are the focal points of this study, has raised concerns and garnered serious attention, even from academics. Accusations in cases of religious blasphemy are almost invariably based on interpretations of QS. al-Tauba [9]: 64-66. Therefore, this article aims to explore the alignment between these cases and the meanings contained within QS. al-Tauba [9]: 64-66 from legal and ethical perspectives. The data in this article are based on legal documents, books of Quranic exegesis, academic journal articles, reports from Human Rights Watch, and several national online news sources. Data collection techniques involved literature studies and case observations via the internet. The blasphemy cases accused against Sukmawati and Meiliana are described within the context of Indonesian law and analyzed using the ma’na-cum-maghza theory. This article concludes that the actions taken by Sukmawati and Meiliana were wrong and unethical. However, their actions cannot be categorized as criminal offenses. Based on the analysis of QS. al-Tauba [9]: 64-65, blasphemy does not fall into the category of criminal acts, but rather an ethical violation whose legal sanctions are in the hands of God, not humans. Thus, this article offers a new perspective on the interpretation and understanding of the term blasphemy. Kasus penistaan agama yang banyak terjadi di Indonesia, termasuk kasus Sukmawati dan Meiliana yang menjadi fokus kajian ini, telah menimbulkan kekhawatiran dan mendapatkan perhatian serius, bahkan dari akademisi. Tuduhan terhadap kasus penistaan agama tersebut hampir selalu didasarkan pada hasil penafsiran atas QS. al-Tauba [9]: 64-66. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi kesesuaian antara kasus-kasus tersebut dengan makna yang terkandung dalam QS. al-Tauba [9]: 64-66 dari sudut pandang hukum dan etik. Data-data dalam artikel ini didasarkan pada dokumen hukum, kitab-kitab tafsir Al-Quran, artikel jurnal, laporan organisasi Human Right Watch dan beberapa sumber berita daring nasional. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan observasi kasus melalui internet. Kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Sukmawati dan Meiliana dideskripsikan dalam konteks hukum Indonesia dan dianalisis menggunakan teori ma’na-cum-maghza. Artikel ini menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Sukmawati dan Meiliana merupakan suatu tindakan yang salah dan tidak beretika. Namun demikian, tindakan keduanya tidaklah bisa dikategorikan sebagai tindakan pidana. Sebab, berdasarkan analisis atas QS. al-Tauba [9]: 64-65, penistaan agama tidaklah masuk kategori tindakan pidana, melainkan sebuah pelanggaran etika yang sanksi hukumnya berada di tangan Tuhan, bukan manusia. Dengan demikian, artikel ini memberikan perspektif baru terkait penafsiran dan pemahaman terhadap istilah penistaan agama.
Selametan Sumber Water: Traditional Rituals and Local Wisdom of Muslims in the Hills of Watu Lumbung, Pasuruan Syamsuddini, M. Najich; Soleh, Achmad Khudori; Barizi, Ahmad
JURNAL ILMIAH GEMA PERENCANA Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Gema Perencana
Publisher : POKJANAS Bekerja Sama Biro Perencanaan dan Penganggaran, Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61860/jigp.v4i2.240

Abstract

Tradisi Selametan Sumber Air di perbukitan Watu Lumbung, Pasuruan, Jawa Timur, merupakan bentuk kearifan lokal Muslim dalam pengelolaan sumber daya air yang terus berkembang di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Secara ideal (das sollen), pengelolaan sumber daya air seharusnya mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, ekologis, dan sosial secara harmonis. Namun, dalam kenyataannya (das sein), banyak praktik tradisional yang semakin terkikis oleh kepentingan ekonomi jangka pendek dan menurunnya partisipasi generasi muda, yang dapat mengancam keberlanjutan tradisi tersebut. Penelitian ini penting karena mengkaji praktik budaya yang menyelaraskan dimensi agama dan ekologi, serta menawarkan pendekatan alternatif dalam menghadapi krisis lingkungan dan erosi identitas budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus (juru kunci), dan pemuda setempat, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif selama ritual, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian naratif, dan penarikan kesimpulan, dengan berpanduan pada teori konstruksi sosial oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi Selametan Sumber Air merupakan suatu sinkretisme antara kepercayaan pra-Islam dan ajaran Islam, yang terintegrasi melalui sosok Mbah Sumpil, seorang tokoh karismatik lokal. Tradisi ini bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan sumber air, tetapi juga memiliki makna spiritual, sosial, dan ekonomi yang mendalam bagi masyarakat. Generasi muda memainkan peran strategis dalam transmisi budaya tradisi ini, baik melalui partisipasi langsung dalam ritual maupun melalui pemanfaatan inovasi media digital.
Komparasi Makna Baṣara dalam Al-Qur’an dengan Extra Sensory Perception Pamukti, Aryani; Soleh, Achmad Khudori
Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. 22 No. 1 (2023): Refleksi
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ref.v22i1.29831

Abstract

People who experience phenomena that cannot be explained logically are usually said to have a sixth sense and are able to see through their inner eyes or scientifically known as extrasensory perception. In some cultures, and beliefs, someone who has abilities beyond the senses usually gets a high position in society and is trusted to provide consideration in deciding a problem. The ability to see through the eyes of the heart is mentioned in the Qur’an through the Baṣara verse. The purpose of this research is to find out the meaning of Baṣara in the Qur’an and extrasensory perception. The method used in this research is a qualitative approach which is library research and the data analysis used is descriptive analysis. The results of this study indicate that Baṣara verses and their istiqaq in the Qur’an contain 148 verses. Baṣara is an obligatory attribute of Allah that we must believe in, but it is also a human trait. Extra sensory perception is a person’s ability to perceive a stimulus that is present not from the main senses originating from the soul and is responded to through the soul, while the extra forms of sensory perception are telepathy, clairvoyance, precognition, and retrocognition. Baṣara’s view is obtained based on a person’s high faith, while extra sensory perception can be owned by everyone, but you need to be vigilant. Someone who gets karomah from Allah is called having the ability baṣirah.
THE RELATIONSHIP BETWEEN RELIGION AND SCIENCE IN POLICIES ON EARLY MARRIAGE IN INDONESIA: The Perspective Of Ian G Barbour Taufiqurrahman, Muh.; Soleh, Achmad Khudori; Hakim, M Aunul
Jurnal Al-Ulum : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ke-Islaman Vol 12 No 4 (2025): al-Ulum: Jurnal Pendidikan, Penelitian dan Pemikiran Keislaman
Publisher : Universitas Islam Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31102/alulum.12.4.2025.359-374

Abstract

The relationship between religion and science is a complex issue that often arises. In the context of early marriage, religion and science have different paradigms in responding to the age of marriage. The relationship between religion and science from Barbour's perspective is considered important to study in understanding and addressing the dynamics of early marriage age policies in Indonesia. This study aims to explore the relationship between religion and science in formulating marriage age policies in Indonesia. The method used in this study is library research. The results of this study explain that, (1) Ian G. Barbour categorizes the relationship between religion and science into four typologies: conflict, independence, dialogue, and integration. (2) Although early marriage practices still occur due to social, economic, and cultural factors, integrative efforts between religious views and scientific data (reproductive health, child psychology) show that the dialogue and integration approaches are effective bridges between religious values and modern scientific findings. (3) In the context of marriage age policies in Indonesia, the relationship between religion and science tends to move from conflict toward a model of dialogue and even integration. This is reflected in the alignment between state policy, through the revision of Law No. 1 of 1974 into Law No. 16 of 2019, and the MUI fatwa supporting marriage age restrictions for the greater good.
Co-Authors Abdillah, Muhammad Hanif Abdulloh, Mochammad Sayyid Ahmad Barizi Ahmad Hidayat Buang Akbar, Rizamul Malik Akbar, Yogi Muhammad Al-Sanhaji, Saleh Abdul Rahman Al-Senussi Youssef Alfain, Shinta Nuriya Idatul Alfiesyahrianta Habibie Alfikri, Ahmad Faiz Shobir Amalia, Novi Husnatul Amaliya, Risma Nailul Amelia, Asti Anahdiah, Shofia Asrori, Moh. Andi Assidiqi, Ali Hasan Asti Amelia Azzuhriyyah, Imroatus Sholikha Basid, Abd. Bastomi, Riza Bidayatul Mutammimah Cahyati, Lia Camila, Humaida Ghevira Syavia Cholili, Abd Hamid Erik Sabti Rahmawati FAHRUL KHARIS NURZEHA Fatmawati, Lailil Fazary, M Fakhry Asa Hakim, M Aunul Hanifah, Nor Hannani, Rohmatul Hidayatulloh, Muhammad Mahbub Imroatus Sholikha Azzuhriyyah Indrawayanti, Rika Dwi Irwan Ahmad Akbar Isnaini, M. Agus jafar, zulkifli Joko Kristanto M. Zainuddin Magfiroh, Norma Hasanatul Manggala, Kayan Marsuki Marsuki, Marsuki Maulana, Hafidz Fajar Miftahul Huda Moh. Andi Asrori Morinawa, Salsabilla Muhammad Riduwan Masykur Mujtahid Mujtahid Mulyadi Mulyadi Mursyid, Achmad Yafik Mutammimah, Bidayatul Muwafiqi, Erny Fitroh Nabila Nada Shobah Nada, Alfaini Zulfa Naila Shofia Naila Shofia Nur Fatimah Pamukti, Aryani Pratama, Moch Yusuf Syakir Rahmat Rahmat Raya, Moch Khafidz Fuad Rihlatuz Zakiyah Rika Dwi Indrawayanti Rohmatin, Ilma Nur Rosyida Nurul Anwar Sa'adah, Nailis Sadiyah, Dini Salim Al Idrus Sayyidin Panatagama, Ahmad Dzulfikar Sayyidin Panatagama Sayyidin Sofia, Naila Sugeng Santoso Syamsuddini, M. Najich Syihabuddin, Muhammad Tajuddin, M. Reivanut Taufiqurrahman, Muh. Urgenadila, Aulia Wafi, Hasan Abdul Wahda, Maziya Rahma Wahyu Wahyu Wajdi, Muhammad Fasih Wardani, Azmi Putri Ayu Waty, Dwi Septiana Khofida Yamani, Muhammad Rafi Zainuddin, M Zainuddin, Zainuddin Zakiyah, Rihlatuz