p-Index From 2021 - 2026
9.494
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Ulul Albab: Jurnal Studi Islam LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam Journal of Educational, Health and Community Psychology Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam AL-Fikr Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam JURNAL PENELITIAN KEISLAMAN An-Nuha : Jurnal Kajian Islam, Pendidikan, Budaya Dan Sosial MUSLIM HERITAGE: JURNAL DIALOG ISLAM DENGAN REALITAS Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial JURNAL PENELITIAN Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Syifa al-Qulub : Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik AL QUDS : Jurnal Studi Alquran dan Hadis Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism qolamuna : Jurnal studi islam Tasfiyah Jurnal al-Ulum : Jurnal Pemikiran dan penelitian ke-Islaman Tribakti: jurnal pemikiran keIslaman Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora AL-TANZIM : JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM AT-TURAS: Jurnal Studi Keislaman Aqlania TSAQAFAH Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Living Islam: Journal of Islamic Discourses RELIGIA Mutawasith: Jurnal Hukum Islam Studia Philosophica et Theologica Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Jurnal Filsafat Indonesia Jurnal Penelitian FiTUA : Jurnal Studi Islam Ulumuna Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam Psikobuletin: Buletin Ilmiah Psikologi TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Kutubkhanah Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Al-Qur'an Journal of Social Research COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Cakrawala: Jurnal Studi Islam Hunafa: Jurnal Studia Islamika ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin ROSYADA: Islamic Guidance and Counseling Jurnal Marital: Kajian Hukum Keluarga Islam Islamika Inside: Jurnal Keislaman dan Humaniora Muslim Heritage Religia : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Jurnal Konseling Pendidikan Islam JURNAL ILMIAH GEMA PERENCANA JOUSIP Dinika: Academic Journal of Islamic Studies. FATHIR: Jurnal Studi Islam Mu'asyarah El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin Dan Filsafat Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman MOMENTUM : Jurnal Sosial dan Keagamaan Journal of Education and Teacher Training Innovation (JETTI) Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah Jurnal Konseling dan Psikologi Indonesia
Claim Missing Document
Check
Articles

IMPLEMENTASI KLASIFIKASI ILMU AL-FARABI DALAM MATERI BIMBINGAN PERKAWINAN Asrori, Moh. Andi; Soleh, Achmad Khudori
Kodifikasia Vol 17 No 1 (2023)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kodifikasia.v17i1.5459

Abstract

Klasifikasi ilmu al-Farabi dalam materi bimbingan perkawinan penting untuk memastikan seluruh materi memiliki objek, tujuan, dan metode. Tujuan penelitian ini ialah untuk untuk mewujudkan efektifitas bimbingan perkawinan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah studi pustaka dengan menganalisis enam belas materi bimbingan perkawinan kemudian dikatagorikan dengan klasifikasi ilmu al-Farabi. Hasil dari penelitian ini ialah: Pertama, enam belas materi dalam bimbingan perkawinan ketika diklasifikasi menggunakan klasifikasi ilmu al-Farabi akan menjadi: (1) Ilmu lisan: Komunikasi Efektif dalam Pengelolaan Hubungan Keluarga. (2) Ilmu mantik: Nilai-nilai dalam Keluarga untuk Mewujudkan Muasyarah Bilma’ruf, Formulasi Sukses dalam Mengelola Kehidupan Perkawinan dan Keluarga, Faktor Penyebab Konflik, dan Solusi atau cara mengatasi konflik. (3) Ilmu matematika: Fungsi Ekonomi. (4) Ilmu fisik dan metafisik: Fungsi Kasih Sayang dan Afeksi. (5) Ilmu budaya atau peradaban, fiqih, teologi: Undang-undang Perkawinan dan KHI, Undang-undang KDRT, Undang-undang Perlindungan Anak, Fungsi Agama, Fungsi Perlindungan, Fungsi Pendidikan dan Sosialisasi Nilai, Fungsi Sosial Budaya, Uapaya Mencapai Keluarga sakinah, dan Membina Hubungan dalam Keluarga. Kedua, sumber yang digunakan al-Farabi untuk mengklasifikasi ilmu ialah ilmu agama dan filsafat, adapun metode yang dipakai ialah dengan mempertimbangkan keagungan materi, kedalaman bukti, dan besarnya manfaatnya yang kemudian ilmu-ilmu yang ada diklasifikasikan menjadi lima kategori
Epistemologi Bayani Tentang Childfree Di Indonesia Abdulloh, Mochammad Sayyid; Soleh, Achmad Khudori; Wahyu, Wahyu; Sayyidin Panatagama, Ahmad Dzulfikar Sayyidin Panatagama Sayyidin
MU'ASYARAH: Jurnal Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 2, No 2 (2023): Oktober
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mua.v2i2.5076

Abstract

Artikel ini membahas tentang epistemologi bayani tentang childfree di Indonesia, epistemologi bayani merupakan pemikiran khas orang arab yang menekankan teks (nash) secara langsung atau tidak langsung. Tujuan artikel ini untuk memberikan pemahaman terkait konsep childfree di Indonesia dari epistemologi bayani. Obyek penelitian ini adalah epistemologi bayani tentang childfree di Indonesia, yang secara spesifik meneliti childfree di Indonesia. Metode penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian Pustaka (library research), karena sumber datanya hanya bersal dari bahan-bahan tulisan yang di publikasikan dalam bentuk buku, majalah, jurnal dan sumber lainnya yang dianggap representative dan relevan. Hasil penelitian ini memberikan pandangan diantaranya : (1) Epistemologi bayani adalah pemikiran yang menekankan terhadap teks, sumber bayani adalah al-Qur’an dan hadist. (2) fenomena childfree di indonesia di sebabkan ada bebreapa faktor, faktor lingkungan hidup, filosofis, pribadi, ekonomi, medis. (3) di dalam al-Qur’an, Hadist ataupun UU di Indonesia memang tidak dijelaskan hukum childfree, dan juga tidak dijelaskan dalam ayat-ayat Al-qur’an manapun, hanya menjelaskan anjuran untuk memiliki anak bagi seseorang yang telah menikah, karena itu merupakan fitrah manusia.
Implementation of ibn Miskawaih's Ethical Thought on Self-Meaning in the Social Environment Mujtahid, Mujtahid; Assidiqi, Ali Hasan; Sadiyah, Dini; Soleh, Achmad Khudori; Maulana, Hafidz Fajar
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v5i1.1067

Abstract

Belakangan ini, moralitas terhadap Tuhan dan manusia mulai menurun. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya berita terkait keseharian masyarakat yang menyimpang dari ajaran agama dan norma sosial, sehingga karena perbedaan menjadi pemicu kekerasan dan pembulian. Tujuan penelitian ini sebagai sebuah solusi bagi seseorang yang belum bisa mengendalikan dan menempatkan diri dengan memahami konsep etika Ibnu Miskawaih dan implementasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka, dengan pendekatan historis-kritis. Temuan penelitian menunjukkan pemikiran etika Ibnu Miskawaih didasarkan pada pandangan tentang jiwa manusia. Tempat dimana seseorang pertama kali mengenal jiwanya dengan menyucikannya dari penyakit hati, dusta, dengki dan cinta berlebihan terhadap dunia. Penyakit hati dan penyucian jiwa bisa dicapai dengan belajar untuk selalu  banyak beramal, menjauhi teman-teman yang serakah, hidup sederhana, belajar tentang agama dan mawas diri. Seseorang juga tidak boleh mempunyai ekstrim kelebihan dan ekstrim kekurangan, sehingga wajib memposisikan di tengah. Implementasi pemaknaan diri di lingkungan sosial dapat dilakukan dengan membersihkan hati, kemudian membiasakan diri berbuat baik sehingga nantinya menjadi kebiasaan yang mengarah pada kesehatan ilahi. Puncaknya adalah mampu berbuat baik secara langsung tanpa berpikir karena sudah menjadi kebiasaan untuk berbuat baik kepada siapapun walau berbeda keyakinan atau suku hinga negara. Penelitian  ini  memberikan  wawasan  tentang  kontribusi  pemikiran Ibnu Miskawaih  dalam pemaknaan diri di lingkungan sosial.   Recently, morality towards God and man has begun to decline. This is evidenced by the many news related to people's daily lives that deviate from religious teachings and social norms, so that differences trigger violence and bullying. The purpose of this research is as a solution for someone who has not been able to control and position themselves by understanding the concept of Ibn Miskawaih's ethics and its implementation. The research method used is literature study, with a historical-critical approach. The findings of the study show that Ibn Miskawaih's ethical thinking is based on a view of the human soul. A place where a person first knows his soul by purifying it from liver disease, lies, envy and excessive love of the world. Liver disease and purification of the soul can be achieved by learning to always do a lot of charity, stay away from greedy friends, live simply, learn about religion and introspection. One should also not have extreme advantages and extreme disadvantages, so it is mandatory to position in the middle. The implementation of self-meaning in the social environment can be done by cleansing the heart, then getting used to doing good so that later it becomes a habit that leads to divine health. The peak is being able to do good directly without thinking because it has become a habit to do good to anyone regardless of beliefs or tribes to countries. This research provides insight into the contribution of Ibn Miskawaih's thought in self-meaning in the social environment.
The Role of Patience in Coping Mental Problems: A Quranic Perspective Alfain, Shinta Nuriya Idatul; Soleh, Achmad Khudori; Yamani, Muhammad Rafi
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 34 No. 2 (2023): Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v34i2.3633

Abstract

Mental health issues have become a growing concern in today's fast-paced and challenging world. In the quest for effective coping strategies, researchers and professionals are increasingly turning to ancient wisdom and religious scriptures for insights. This article explores the role of patience, as emphasized in the Quran, in addressing mental problems and promoting emotional well-being. The study delves into the Quranic verses and teachings that emphasize patience as a virtue and its potential impact on mental health. Drawing from the rich Islamic tradition, the article examines the concept of "Sabr" (patience) and its multifaceted dimensions, including perseverance, endurance, and emotional resilience. Furthermore, it explores how these qualities can be cultivated and practiced in dealing with various mental health challenges. The method used in this research is a content analysis with data in the form of verses from the Qur’an, and some researches related to patience. The findings of this study contribute to the growing body of literature on the intersection of spirituality and mental health, showcasing how religious teachings can offer a unique and valuable perspective on coping with mental problems. Moreover, it underscores the significance of embracing patience as a holistic approach to foster emotional well-being and promote resilience in the face of life's challenges, as emphasized in the Quranic teachings. The results of this study are 1) the word patient in the Qur’an is described more than a hundred times which generally explains that patience means self-restraint, emotion, and surviving in difficult conditions; 2) mental problems that are often experienced by people are anxiety, stress, depression, post-traumatic stress disorder, and behavioral disorders; 3) patience can be one of the treatments for mental disorders through self-control, self-acceptance, and resilience. The article concludes with implications for future research and clinical practice in the realm of mental health, emphasizing the need for a more comprehensive and culturally sensitive approach to address mental health issues in diverse populations.
Islamization of Science Ismail Raji al-Faruqi and Integration-Interconnection of Science Amin Abdullah: A Comparative Study Syihabuddin, Muhammad; Soleh, Achmad Khudori; Mursyid, Achmad Yafik
Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : University of Darussalam Gontor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tasfiyah.v8i1.11278

Abstract

The discourse on the dichotomy of modern science and Islamic science is an interesting topic of discussion and is always debated by Muslim scientists. Some of them, namely Ismail Raji al-Faruqi and Amin Abdullah, are trying to respond to and solve problems that occur in the scientific realm. Al-Faruqi initiated the Islamization of science which seeks to unify the two sciences (science and Islam). Likewise, Amin Abdullah with his integration-interconnection paradigm also offers an open dialogue between the two sciences. Then this research aims to look at the structure of thought between the two figures mentioned, as well as looking for common threads related to the similarities and differences in the ideas of science integration being promoted. This research uses library research methods through several textual sources related to the topic discussed, primarily in the form of books by the two figures studied, and secondary in the form of scientific articles that have related themes. The results of this article are: 1) The Islamization of al-Faruqi's knowledge leads to the relevance between science and Islam, science is Islamized through twelve concrete steps based on the concept of monotheism. 2) Amin Abdullah's ideas regarding integration-interconnection can be seen from the spider web framework which emphasizes mastery of various sciences, both modern science and Islamic science. 3) The similarities in thinking between the two can be seen through the spirit in answering scientific dichotomies. The difference is, that al-Faruqi emphasized mastery of modern knowledge (science) to then be converted to Islam to conform to the pattern of monotheistic teachings. Meanwhile, Amin Abdullah's ideas emphasized mastery of general science and Islam. So that each scientific group is aware of its limitations and shortcomings so that they can complement and complement each other
The RASIONALISME HUKUM ISLAM PERPEKTIF IBNU RUSYD FAHRUL KHARIS NURZEHA; AHMAD KHUDORI SOLEH
Raudhah - Proud To Be Professional مجلد 7 عدد 2 (2022): Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah-DESEMBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48094/raudhah.v7i2.187

Abstract

Artikel ini membahas hukum islam kaitannya dengan rasionalisme menurut perspektif Ibnu Rusyd, rasionalis seringkali mencampuradukkan pemahaman antara nilai nilai agama kepercayaan dengan pemikiran akal rasional. Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan pemahaman rasionalaisme pada koridornya, antara ranah pokok ajaran agama Islam dan ranah rasional dalam berfikir, memberikan porsi, posisi dan kegunaan akal dan rasional pada tempatnya menurut perspektif Ibnu Rusyd. Metode penelitian ini mempergunakan deskriptif kualitatif melalui pendekatan filosofis (philosophical approach) riset pustaka. Hasil dari penelitian menunjukkan Ibn Rusyd berhasil memposisikan filsafat sebagai hal yang tidak terpisah dari agama, faktanya Ibnu Rusyd selalu mengunggulkan wahyu daripada filsafat dan rasionalisme, namun pada konsepnya logika juga harus digunakan sebagai dasar untuk semua penilaian kebenaran. Ini juga berlaku untuk studi agama dalam filsafat Ibnu Rusyd, bisa jadi: menemukan beberapa ciri-ciri rasionalisme dalam teologi Islam, yakni: (1) membantah fatalism pikiran dan kepercayaan; (2) menyatukan risalah (agama) dan rasio (filsafat); (3) mengedepankan pola/sistematika takwil untuk merampungkan berbagai masalah; (4) percaya pada keabadian akaluniversal (al-'ql al-fa'al). Kitab bidayat al-Mujtahid kaya Ibnu Rusyd merupakan kitab analisis ilmiah hukum Islam ynag dianggap sebagai karya representatif dari mazhab Maliki dan pemikirannya dalam filsafat, sehingga menjadi kekhasan pemikiran Ibnu Rusyd yaitu penggunaan ra'y dalam beristimbath hokum islam.
Perbandingan Akal, Nafsu, dan Qalbu Dalam Tasawuf Asti Amelia; Rika Dwi Indrawayanti; Achmad Khudori Soleh
Raudhah - Proud To Be Professional مجلد 8 عدد 1 (2023): Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah-APRIL 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48094/raudhah.v8i1.289

Abstract

Kesadaran telah mengilhami manusia untuk merasakan tasawuf. Kesadaran beragama dan berkeyakinan akan membawa manusia untuk mengenali dirinya sendiri. Allah SWT. Telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Tujuan artikel ini adalah untuk membedakan antara akal, nafsu dan hati dalam tasawuf. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan Content Analysis sedangkan pengumpulan datanya adalah studi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa ada tiga konsep perbandingan yang dibahas dalam artikel ini, yaitu : (1) Akal yang berbicara tentang pengertian adalah daya pikir yang ada pada manusia, berbagai macamnya terdiri dari akal praktis dan teoritis serta fungsi akal akal, yaitu sebagai alat untuk mengetahui kebenaran. (2) Nafsu juga berbicara tentang pengertian, jenis dan fungsi,(3) Hati adalah bagian ruhani manusia untuk mengenal Tuhannya, hati ada tiga macam, yaitu qalbun salim (hati yang sehat), qalbun maridh (hati yang sakit), dan qalbun mayyit (hati yang mati). Fungsi hati adalah sebagai tempat bertakwa, santun dan penuh kasih sayang, sombong, iri hati, tunduk dan pemarah. Kata kunci: Konsep Akal, Nafsu, dan Hati
THE ORIENTALIST OPINION TASAWUF PENDAPAT ORIENTALIS TENTANG TASAWUF Rihlatuz Zakiyah; Achmad Khudori Soleh
Raudhah - Proud To Be Professional مجلد 8 عدد 1 (2023): Raudhah Proud To Be Professionals: Jurnal Tarbiyah Islamiyah-APRIL 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48094/raudhah.v8i1.295

Abstract

Abstrak Ilmu yang bertujuan untuk menggapai kebahagiaan akhirat adalah Tasawuf. Tasawuf, dalam dunia Islam baru akhir-akhir ini dipelajari sebagai ilmu, sebelumnya dipelajari sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Manusia pada dasarnya adalah suci, maka kegiatan yang dilakukan oleh sebagian manusia untuk mensucikan diri merupakan naluri manusia. Usaha yang mengarah kepada pensucian jiwa terdapat di dalam kehidupan tasawuf. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui dan mengulas berbagai pendapat asal dan usul filsafat dari orientalis. Metode penelitian ini menggunakan kulitatif dengan pendekatan Historical Reseach dengan pengumpulan data literature review yakni pengumpulan data melalui penelaahan buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan perkembangan tasawuf Islam. Hasil penelitian menyatakan bahwa. 1. Awal kemunculan orientalisme sebagian menyebutkan orientalisme telah lahir sejak tahun 1000-an Masehi. Hal ini didasarkan pada minat Barat terhadap masalah ketimuran sudah berlangsung sejak abad pertengahan. Kalaupun pada masa ini sudah muncul sejumlah orientalis, kajian-kajian yang mereka lakukan masih terbatas pada pengkajian seputar ketimuran yang didasari motivasi keilmuan. 2. Pendekatan Orientalis dalam Tasawuf ada dua macam, Literatur dan Studi kasus (empiris). Beberapa teori orientalis yang menyebutkan bahwa tasawuf merupakan ajaran dari luar Islam. Seperti pendapat Friedrich August Deofidus Tholuck,Ignaz Goldziher, Alsin Palacios, Alfred von Kremer dan R. A. Nicholson. 3. Tanggapan pendapat orientalis tentang tasawuf. Keywords: Ilmu Tasawuf, asal usul Tasawuf, Orientalis
The Concept of Religion-Science Integration: A Comparative Study of Naquib Al-Attas and Nidhal Guessoum Fahmi, Muhammad; Soleh, Achmad Khudori; Cahyati, Lia
DINIKA : Academic Journal of Islamic Studies Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/dinika.v9i2.8555

Abstract

The integration of religion and science has garnered significant attention, as evidenced by the contributions of prominent Muslim thinkers such as Naquib Al-Attas, Ismail Al Faruqi, Mehdi Golshani, Ziauddin Sardar, and Nidhal Guessoum. This study aims to compare the perspectives of Naquib Al-Attas and Nidhal Guessoum regarding the integration of religion and science, using a literature review with a comparative descriptive approach and content analysis techniques. The findings reveal that Naquib Al-Attas’s concept of integration emphasizes three key aspects: a paradigm shift from Westernization to Islamization, a focus on language, and fostering ethical-moral values through ta’dīb. In contrast, Nidhal Guessoum highlights three distinct elements: the non-conflictual nature of science and religion, a layered interpretation of the Qur'an, and a theistic-falsification principle. The study identifies common ground between the two thinkers, including critical analysis of the origins of science, layered identification, and the incorporation of religious values. However, their differences lie in Naquib’s critique of the emergence of science versus Nidhal’s critique of the Islamization model, Naquib’s language-based approach versus Nidhal’s multilevel Qur'anic interpretation, and Naquib’s emphasis on Islamic ethics-morals versus Nidhal’s integration of sacred texts and reason under a theistic framework. The study concludes that Muslims should Islamize Western science by embedding ethical-moral ta’dīb, facilitating a harmonious dialectic between religion and science, wherein religion provides foundational values and science incorporates theistic principles.
Epistemologi Islam Irfani : Komparasi Al-Ghazali dan Al-Jabiri Akbar, Yogi Muhammad; Soleh, Achmad Khudori
Kutubkhanah Vol 24, No 1 (2024): Januari - June
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v24i1.29549

Abstract

Kajian tentang irfani sangat penting untuk dibahas sehingga masyarakat tidak hanya mendengar kata irfani diucapkan namun tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan irfani tersebut, maka disini peneliti berusaha memaparkan beberapa pemahaman tentang irfani diantaranya yakni irfani dalam pandangan Al-Ghazali dan Irfani dalam pandangan Al-Jabiri yang merupakan tokoh penting dalam pemikiran irfani ini. Tujuan dari penelitian ini adalah agar para pembaca dapat mengetahui bagaimana irfani dalam pandangan Al-Ghazali dan Al-Jabiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini sepenuhnya didasarkan pada kajian pustaka atau yang biasa disebut dengan studi literatur. Dengan sumber data primer berasal dari buku dan jurnal yang relevan dengan apa yang sedang dibahas. Hasilnya adalah 1). AlGhazali juga berpendapat bahwa ilmu kerohanian berasal dari Allah sedang ilmu intelektual bersumber dari akal manusia. Sedangkan 2). Al-Jabiri mengatakan bahwa irfani terbagi menjadi dua yakni secara sikap yaitu menghiraukan keadaan dunia namun lebih contong kepada keadaan manusia dan cenderung individual dan teori yang mana ini dianut oleh Islam yang terbagi menjadi 2 yaitu irfani dalam i’tiba dan qiyas yang mana diungkapkan dengan kasyf tentang yang tampak dalam teks dan kemudian Irfani disampaikan secara syathahat suatu pengungkapan lisan tentang kemaha kuasaan Tuhan.
Co-Authors Abdillah, Muhammad Hanif Abdulloh, Mochammad Sayyid Ahmad Barizi Ahmad Hidayat Buang Akbar, Rizamul Malik Akbar, Yogi Muhammad Al-Sanhaji, Saleh Abdul Rahman Al-Senussi Youssef Alfain, Shinta Nuriya Idatul Alfiesyahrianta Habibie Alfikri, Ahmad Faiz Shobir Amalia, Novi Husnatul Amaliya, Risma Nailul Amelia, Asti Anahdiah, Shofia Asrori, Moh. Andi Assidiqi, Ali Hasan Asti Amelia Azzuhriyyah, Imroatus Sholikha Basid, Abd. Bastomi, Riza Bidayatul Mutammimah Cahyati, Lia Camila, Humaida Ghevira Syavia Cholili, Abd Hamid Erik Sabti Rahmawati FAHRUL KHARIS NURZEHA Fatmawati, Lailil Fazary, M Fakhry Asa Hakim, M Aunul Hanifah, Nor Hannani, Rohmatul Hidayatulloh, Muhammad Mahbub Imroatus Sholikha Azzuhriyyah Indrawayanti, Rika Dwi Irwan Ahmad Akbar Isnaini, M. Agus jafar, zulkifli Joko Kristanto M. Zainuddin Magfiroh, Norma Hasanatul Manggala, Kayan Marsuki Marsuki, Marsuki Maulana, Hafidz Fajar Miftahul Huda Moh. Andi Asrori Morinawa, Salsabilla Muhammad Riduwan Masykur Mujtahid Mujtahid Mulyadi Mulyadi Mursyid, Achmad Yafik Mutammimah, Bidayatul Muwafiqi, Erny Fitroh Nabila Nada Shobah Nada, Alfaini Zulfa Naila Shofia Naila Shofia Nur Fatimah Pamukti, Aryani Pratama, Moch Yusuf Syakir Rahmat Rahmat Raya, Moch Khafidz Fuad Rihlatuz Zakiyah Rika Dwi Indrawayanti Rohmatin, Ilma Nur Rosyida Nurul Anwar Sa'adah, Nailis Sadiyah, Dini Salim Al Idrus Sayyidin Panatagama, Ahmad Dzulfikar Sayyidin Panatagama Sayyidin Sofia, Naila Sugeng Santoso Syamsuddini, M. Najich Syihabuddin, Muhammad Tajuddin, M. Reivanut Taufiqurrahman, Muh. Urgenadila, Aulia Wafi, Hasan Abdul Wahda, Maziya Rahma Wahyu Wahyu Wajdi, Muhammad Fasih Wardani, Azmi Putri Ayu Waty, Dwi Septiana Khofida Yamani, Muhammad Rafi Zainuddin, M Zainuddin, Zainuddin Zakiyah, Rihlatuz