Claim Missing Document
Check
Articles

Penggunaan Citra Satelit Landsat ETM 7+ untuk Evaluasi Perubahan Garis Pantai di Wilayah Pantai Utara Jawa Timur ( Kab.Tuban, Kab.Lamongan dan Kab.Gresik) Hariyanto, Teguh; Wahyudi, Wahyudi; Artama , Putu; Suntoyo, Suntoyo
GEOID Vol. 5 No. 2 (2010)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v5i2.1299

Abstract

Citra satelit Penginderaan Jauh (Inderaja) Landsat ETM 7+ merupakan hasil dari perekaman data digital dengan menggunakan alat perekam (sensor) yang dapat membedakan obyek lahan, vegetasi dan air. Penggunaan data citra ini dapat memisahkan obyek lahan dan air di sekitar pantai atau garis pantai dengan baik dan jelas melalui klasifikasi dengan citra komposit dari 3 band/saluran. Teknik ini telah digunakan sebagai salah satu metoda untuk mengevaluasi perubahan garis pantai yang terjadi di Wilayah Pantai Utara Jawa Timur pada bagian Kabupaten Tuban, Lamongan dan sebagian Gresik. Wilayah ini merupakan bagian dari selat Madura yang berhadapan langsung dengan laut bebas, sehingga dinamika laut yang terjadi di wilayah ini dapat dirasakan langsung pada bagian daratannya yang merupakan bagian wilayah pesisir dan laut. Dinamika laut yang melalui perubahan garis pantai dapat dihasilkan dengan melakukan proses overlay antara garis pantai hasil citra Landsat ETM+7 tahun 2003 dengan Peta Topographi skala 1 : 25 000 tahun 1993. Didapat beberapa perubahan garis pantai di wilayah Kabupaten Tuban yang tersebar pada area desa Tanjung Awar Awar, Kabupaten Lamongan tersebar pada area desa Teluk Paciran sedangkan di Kabupaten Gresik tersebar di desa Campur Rejo. Di Area Desa Tanjung Awar Awar Kabupaten Tuban memiliki perubahan garis pantai yang terbesar dengan panjang maksimum 89,7 meter.
ANALISA PENINGKATAN RESOLUSI SPASIAL CITRA MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN PROSES PENGGABUNGAN DENGAN CITRA PANKROMATIK(Studi Kasus : Kecamatan Gresik –Kabupaten Gresik) Nisak, Nur Septylia Choirotun; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 6 No. 1 (2010)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v6i1.1307

Abstract

Penggunaan satu jenis data citra satelit saja terkadang belum cukup untuk mendapatkan output yang diinginkan karena adanya keterbatasan resolusi spektral maupun resolusi spasial. Terutama dalam pengamatan pada interpretasi citra digital secara visual, biasanya diperlukan gambar citra beresolusi tinggi dengan tampilan menarik (berwarna) untuk lebih dapat membedakan antar obyek pada gambar citra tersebut. Untuk meningkatkan resolusi spasial sebuah citra dapat dilakukan kombinasi antara citra beresolusi spasial rendah dengan citra beresolusi spasial tinggi. Hal tersebut disebut dengan image fusion, yaitu suatu kombinasi dua atau lebih gambar yang berbeda untuk membentuk suatu gambar baru dengan menggunakan algoritma tertentu. Konsep image fusion yaitu memadukan antara dua citra yang memiliki resolusi spasial, spektral, atau temporal yang berbeda. Salah satu dari sekian banyak bentuk dari aktifitas image fusion adalah pan-sharpen, yaitu produk hasil fusi dari citra multispektral beresolusi rendah dan pankromatik beresolusi tinggi. Keunggulan produk ini adalah citra yang dihasilkan akan memiliki sifat warna seperti multispektral dan resolusi maupun tekstur dari pankromatik.Dalam penelitian ini, data yang digunakan yaitu data citra satelit Quickbird multispektral tahun 2006 dan pankromatik tahun 2008. Kedua data citra tersebutdiambil di sekitar Kecamatan Gesik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwagambar hasil pan-sharpen dengan menggunakan metode IHS setelah dilakukan tiga kali zoom in, yaitu skala 1:3100, gambar citra terlihat jelas adanya perbedaan detil obyek. Pada citra awal (multispektral), detil obyek yang diamati tidak terlalu jelas, sedangkan pada citra hasil penggabungan dapat dilihat jauh lebih detil obyek yang telihat. Sedangkan untukhasil pengukuran planimetrik menunjukan rata-rata selisih ukuran obyek dilapangan dengan ukuran pada citra Quickbird pan-sharpen sebesar 1.037 meter dan pada Citra Quickbird multispektral sebesar 2.351 meter.
EVALUASI HASIL PEMANTAUAN LAND SUBSIDENCE DI AREA SEKITAR TANGGUL LUMPUR SIDOARJO DENGAN TEKNOLOGI SIG Cahyono, Amru Estu; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 6 No. 2 (2011)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v6i2.1309

Abstract

Semburan lumpur yang terjadi sejak 29 Mei 2006 di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sudah termasuk dalam tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Semburan lumpur panas selama beberapa tahun ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Dengan mengacu pada volume lumpur yang terus bertambah, hal ini pasti menyebabkan terjadinya pengosongan massa yang diakibatkan oleh keluarnya lumpur secara terus-menerus, dan dikhawatirkan dapat menyebabkan terjadinya land subsidence atau penurunan tanah di Kecamatan Porong dan sekitarnya. Dengan melihat fenomena tersebut maka pemantauan secara berkala sangat diperlukan yang diharapkan dapat mengetahui arah dan besarnya penurunan permukaan tanah. Pemantauan Land subsidence dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya adalah dengan Global Positioning System (GPS). Data yang didapat dengan survei GPS selanjutnya akan diolah menjadi informasi pergeseran horisontal, pergeseran vertikal, kecepatan dan percepatan penurunan tanah. Dari informasi tersebut akan diproses dan dianalisa dengan teknologi Sistem Informasi Geografis untuk mengkaji dan menganalisa perubahan titik secara vertikal dan horisontal yang diintegrasikan dengan batas administrasi dari desa-desa setempat. Hal ini sangat bermanfaat sebagai Early warning System dalam penanganan bencana yang ditimbulkan oleh pergerakan tanah, terutama di desa sekitar tanggul lumpur Sidoarjo. Hasil dari survei GPS menunjukkan bahwa pergeseran subsidence terbesar dialami titik VK-08 (-0.632 m pada kala 6-7) dan DG-04 (-0.503 m pada kala 8-9). Sedangkan Titik yang mengalami kenaikan (uplift) antara lain Titik TTG-1304,TTG-1305, P01, VK09 dan TTG-1322 yang berkisar antara 0 cm s/d 61 cm.
PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK PEMBENTUKAN PROTOTIPE PETA DASAR PENGAIRAN (STUDI KASUS : KABUPATEN SIDOARJO) Setiawati , Danar Linsa; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 6 No. 2 (2011)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v6i2.1315

Abstract

Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan dan pembuangan air irigasi. Potensi Kabupaten Sidoarjo untuk pertanian dan perikananannya cukup tinggi, oleh karena itu untuk mempertahankan potensinya tersebut maka diperlukan suatu pengelolaan sumber daya air permukaan, yang berfungsi sebagai evaluasi, monitoring serta operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi tersebut. Pada penelitian ini akan dilakukan pembuatan Sistem Informasi Geografis berbasis Web (SIG Web) dalam pembentukan peta dasar pengairan dengan menggunakan peta topografi Kabupaten Sidoarjo dengan skala 1:25.000 sebagai peta dasar, peta pengairan dan data inventarisasi saluran irigasi dan saluran pembuang dari Dinas PU Pengairan Kabupaten Sidoarjo. Pengolahan data menggunakan software AutoCAD Land Desktop 2004 dan ArcGIS 9.3 untuk pengolahan peta, MySQL untuk pembuatan database, Apache untuk pembuatan program web server dan MapServer untuk menampilkan peta di web. Hasil yang diperoleh dari pembuatan SIG Web peta dasar pengairan ini adalah terdapat 2 saluran primer, 38 saluran sekunder (yang memiliki ID), dan 40 saluran pembuang yang tersebar di seluruh Kabupaten Sidoarjo. Dari jaringan irigasi Delta Brantas ini dapat digunakan untuk irigasi pertanian di wilayah Kabupaten Sidoarjo seluas 22.947 Ha tanah pertanian. SIG Web Prototipe Peta Dasar Pengairan dapat dikunjungi di website dengan alamat http://www.sigpengairan-sidoarjo.web.id/.
EVALUASI JUMLAH AREA DAN SEBARAN SEMBURAN LUMPUR DI WILAYAH BENCANA LUMPUR PORONG SIDOARJO DENGAN CITRA SATELIT MULTITEMPORAL Hariyanto, Teguh; Handayani , Hepi Hapsari
GEOID Vol. 7 No. 1 (2011)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v7i1.1322

Abstract

Pada tanggal 29 Mei 2006, di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, muncul semburan lumpur yang lokasinya berada sekitar 150 m dari lokasi eksplorasi sumur Banjarpanji #1. Semburan lumpur panas di lokasi sudah berlangsung 65 bulan, tetapi proses penutupan lubang semburan lumpur panas belum juga berhasil. Semburan lumpur ini tiap harinya semakin besar. Perhitungan volume lumpur yang keluar setiap harinya merupakan parameter penting dalam menentukan skenario jika lumpur tidak dapat dihentikan seterusnya. Dari data yang diambil pada tanggal yang berbeda dengan citra resolusi tinggi maka diharapkan dapat memonitoring sebaran lumpur serta prediksi yang tepat jumlah lumpur yang keluar setiap harinya dengan tepat dan pedugaan untuk waktu selanjutnya. Tahap pengolahan citra meliput proses koreksi geometrik, interpretasi citra, dan klasifikasi citra. Citra yang digunakan adalah citra multispektral Ikonos dan GeoEye dengan resolusi sekitar 2,4 m. Citra tersebut diambil multitemporal yaitu pada bulan Juni, Agustus, dan Oktober 2011. Proses koreksi geometrik menggunakan titik kontrol tanah hasil pengukuran GPS geodetik. Hasil dari koreksi geometrik yaitu RMSe rata-rata sebesar 0,078 piksel. Klasifikasi yang digunakan adalah supervised menggunakan metode mahalanobis dan maximum likelihood. Dari kedua metode tersebut tidak terdapat perbedaan signifikan pada luas area tiap-tiap kelas. Dari hasil klasifikasi ketiga citra tersebut, dapat disimpulkan bahwa luas area lumpur tidak mengalami penurunan yang berarti dan sebaran lumpur mengarah ke Barat dan Utara.
PERHITUNGAN VOLUME SEMBURAN DAN SEBARAN LUMPUR SIDOARJO DENGAN CITRA IKONOS BULAN JUNI, AGUSTUS, OKTOBER 2011 Akbari , Aulia Mustika; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v7i2.1343

Abstract

Banjir lumpur panas Sidoarjo adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc. di Dusun Balongnongo Desa Renoenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak 29 Mei 2006. Sudah lima tahun sejak terjadinya kerusakan alam lumpur Lapindo di kabupaten Sidoarjo, tetapi luapan lumpur belum juga dapat dihentikan. Genangan Lumpur terus bertambah terutama di sekitar pusat semburan Lumpur. Sehingga tanggul penahan lumpur sudah beberapa kali jebol akibat luapan lumpur yang tidak dapat lagi dibendung. Pengamatan volume dan arah semburan lumpur diharapkan dapat membantu memprediksi penanggulangan lumpur Sidoarjo. Dalam penelitian ini citra satelit Ikonos yang memiliki resolusi tinggi dan ditunjang dengan data pengukuran tinggi volume semburan dengan metode trigonometris maka akan dihasilkan perhitungan langsung volume semburan lumpur Sidoarjo. Dengan citra satelit Ikonos bulan Juni, Agustus, dan Oktober 2011 selanjutnya dilakukan analisa perubahan dan sebaran lumpur Sidoarjo untuk memberikan informasi terkini mengenai kondisi tutupan dan sebaran lumpur Sidoarjo. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa prediksi volume lumpur hasil dari pengamatan langsung sebesar 63.813,053 meter kubik per hari dan hasil volume lumpur pengamatan tak langsung sebesar 51.143,585 meter kubik per hari dengan arah sebaran lumpur dominan mengarah kearah barat dan selatan tanggul. Kondisi tutupan lumpur sampai dengan bulan oktober 2011 di dominasi oleh lumpur mengering.
INVENTARISASI LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN SIDOARJO MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MULTITEMPORAL Pribadi , Wisnu; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 8 No. 1 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v8i1.1360

Abstract

Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu penyangga Ibukota Propinsi Jawa Timur merupakan daerah yang mengalami perkembangan pesat. Keberhasilan ini dicapai karena berbagai potensi yang ada di wilayahnya seperti industri pertanian dan perdagangan, pariwisata, serta usaha kecil dan menengah dapat dikemas dengan baik dan terarah. Kabupaten Sidoarjo memiliki luas daerah 71,424.3 km2 dengan luas sawah 23,566 dimana sektor pertanian selalu menjadi komoditas yang diunggulkan. Penelitian dilakukan secara multitemporal dengan menggunakan kemampuan sensor pada citra untuk melakukan pengambilan data pada daerah yang sama pada tempo yang telah ditetapkan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah aplikasi penginderaan jauh dengan pengolahan citra untuk memperoleh luas lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo. Data yang digunakan adalah citra satelit Landsat ETM 7 dan ALOS AVNIR-2. Proses pengolahan citra menggunakan metode klasifikasi terbimbing dengan alghoritma Normalized Difference Vegetation Index (NDVI).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa luas tutupan lahan pertanian tahun 2000 sebesar 15.858 ha dan tahun 2005 sebesar 15850,44 ha. Sehingga terjadi penyusutan luas tutupan lahan pertanian sebesar 7,56 ha. Sedangkan luas tutupan lahan pertanian tahun 2010 sebesar 11.337,55 ha. Dibandingkan dengan luas tutupan lahan tahun 2005, telah terjadi penyusutan luas sebesar 4512.89 ha pada tahun 2010.
ANALISA POTENSI SUMUR-SUMUR TUA MIGAS UNTUK KEGIATAN PRODUKSI ULANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : LAPANGAN KAWENGAN, BOJONEGORO) Fitryana, Rina; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 8 No. 1 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v8i1.1367

Abstract

Lapangan Kawengan merupakan lahan tidur yang tidak dimanfaatkan keberadaannya karena dinilai tidak ekonomis. Namun ternyata lapangan merupakan Lapangan yang ternyata termasuk lapangan yang memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan (Lemigas,2007). Lapangan Kawengan merupakan lapangan migas tua yang memiliki titik sumur terbanyak. Semakin menipisnya cadangan migas dan langkanya penemuan lapangan migas baru, membuka peluang untuk revitalisasi beberapa lapangan tua.Analisa potensi sumur tua migas di Lapangan Kawengan Bojonegoro ini menggunakan data yang diperoleh dari Dinas ESDM Prov. Jatim berupa peta dijital adiministrasi dan peta tematik dengan skala 1:25000, serta data tabular pendukung lainnya. Untuk menganalisa potensi produksi, diperlukan beberapa parameter, diantaranya aksesibilitas jalan, kondisi tutupan lahan, dan volume sisa cadangan minyak. Setelah dilakukan analisa parameter, lalu melakukan pembagian kelas kesesuaian berdasarkan nilai jarak terdekat.Hasil yang diperoleh dari analisa potensi migas ini adalah bahwa sumur yang memiliki aksesibilitas jalan yang paling terjangkau yaitu KW-50 yang terletak di kawasan Blok-4 dengan nilai 0,520m dengan kawasan terdiri dari pemukiman dan tanah ladang. Namun, dari segi volume sisa cadangan minyak, blok 4 memiliki volume sisa dengan kriteria sedang, yaitu 14131,25 MSTB dengan produksi rata-rata harian sebesar 99,86 BPOD.
KALIBRASI KAMERA NON-METRIK DIGITAL DENGAN METODE SELF CALIBRATION Saktia, Bayu Angkusprana; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1372

Abstract

Penggunaan kamera dijital non metrik untuk aplikasi fotogrametri makin berkembang, dengan didukung oleh perkembangan perangkat lunak yang tersedia dan harga kamera dijital non metrik yang relatif murah dengan spesifikasi yang bagus. Hal ini membuat penggunaan teknologi fotogramteri rentang dekat untuk pekerjaan pemetaan semakin diminati karena memiliki keuntungan dapat menjangkau daerah yang sulit dijangkau atau memiliki dimensi yang kecil. Namun kekurangannya kamera jenis ini memiliki kualitas geometrik yang kurang baik sehingga mengakibatkan posisi pada foto yang dihasilkan kurang akurat. (Afriyanti, 2005)Dalam penelitian ini akan dilakukan proses kalibrasi pada kamera yang akan digunakan yaitu Canon IXUS 115HS dengan resolusi 12megapixel dan panjang fokus yang digunakan 11mm. Metode kalibrasi yang digunakan yaitu Self Calibration. Perbandingan akurasi yang dihasilkan diketahui berdasar pergeseran titik hasil proyeksi terhadap Ground Control Point (GCP) yang terukur di lapangan.Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses kalibrasi menghasilkan parameter eksternal yang stabil, karena dalam proses iterasi yang keempat hingga seterusnya nilai yang dihasilkan tidak berubah. Distorsi hasil proyeksi arah pergeserannya mendekati posisi ideal serta nilai reprojection error tidak melebihi 0.5mm dari bacaan maksimal mistar 1mm. Parameter internal tidak menghasilkan nilai yang stabil karena dalam setiap proses iterasinya nilainya selalu berubah, panjang fokus terkalibrasi mengalami perubahan signifikan sebesar -99mm dari nilai acuan 11mm, dan nilai parameter external terkalibrasi berbeda jauh dari nilai awal yang diberikan.Meskipun demikian, dapat digambarkan pola distorsi dan arah pergeseran titik-titik hasil proyeksi pada proses penentuan Exterior Orientation Parameter (EOP) serta dapat dilihat bahwa titik yang mengalami pergeseran terbesar yaitu titik 7 dengan nilai kesalahan 0.019mm ke arah X dan -0.0672mm ke arah Y. Titik yang mengalami pergeseran terkecil yaitu titik 8 yang berada di pusat foto dengan nilai kesalahan -0.0026mm ke arah X dan 0.0071mm ke arah Y.
EVALUASI PENGGUNAAN KAMERA NON METRIK PADA FOTOGRAMETRI JARAK DEKAT Pratama, Dimas Ricky; Hariyanto, Teguh
GEOID Vol. 8 No. 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v8i2.1377

Abstract

Citra yang ideal adalah citra yang merepresentasikan obyek secara sempurna tanpa terjadi degradasi kualitas. Namun tidak ada lensa yang dapat memnuhi hal tersebut. Kemampuan lensa dikatakan maksimum apabila sebuah lensa mereproduksi citra dari sebuah obyek hingga mencapai titik di mana detail citra sudah tidak dapat lagi direproduksi dari obyek. MTF (modulation transfer function) diukur sebagai patokan kemampuan lensa untuk membedakan antara daerah gelap dan terang pada obyek. Standar optik untuk pengukuran MTF menggunakan unit frekuensi spasial disebut ”line pair per millimeter” atau lp/mm. Dengan mengetahui nilai MTF, sebuah citra dengan degradasi kualitas dapat ditingkatkan kualitasnya. Kecerahan merupakan salah satu faktor penting dalam hasil MTF. Peningkatan kontras dengan meningkatkan perbedaan kecerahan antara obyek dan latar belakang benda dapat memberikan perbedaan informasi yang didapat. Manipulasi kontras dilakukan sebagai peregangan kontras dengan meningkatkan perbedaan kecerahan yang seragam di seluruh dynamic range dari citra. Dari informasi MTF suatu lensa dan perubahan nilai kontras dengan teknik contrast stretching akan menghasilkan sebuah citra dengan peningkatan kualitas sehingga interpretasi citra tersebut lebih fleksibel untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan.Sebuah citra digital harusnya memiliki tingkat kecerahan yang optimum yaitu mulai dari gelap sampai terang. Hal tersebut ditandai dengan nilai digital number citra yang memiliki range 0 – 225. Dari hasil penelitian penggunaan kamera Canon Powershot A2200 menunjukkan perubahan digital number pada citra hasil perekaman yang sebelumnya memiliki rentang 10 - 255 untuk band merah dan biru menjadi 0 – 255 pada semua band dengan peningkatan nilai mean untuk tiap – tiap band : Red(115.2 menjadi 127.1), Green(111.4 menjadi 126.9) dan Blue(93.9 menjadi 129.5). Peningkatan nilai digital number tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan kecerahan dari citra sebelumnya sehingga daerah yang sebelumnya gelap menjadi relatif terang.
Co-Authors Achmad Frandik Achmad Frandik, Achmad Adelia Grafitasari Aditya Nugraha ADITYA NUGRAHA Agung Budi Cahyono Ahmad Yani Akbar Kurniawan Akbar Kurniawan Akbari , Aulia Mustika Al Amin, Rizkulloh Nurfauzi Alhadir Lingga Amriana, Yessherly Amriana, Yessherly Anak Agung Sagung Ratih Prameswari Andie Setiyoko Anindito, Raka Anindito, Raka Anindityo Budi Suryo Anindityo Budi Suryo, Anindityo Budi Anita Dwijayanti Anita Dwijayanti, Anita Anwar, Nadjadji Arief Darmawan Arief Yusuf Effendi Arifin, Bambang Samsul Artama , Putu Asep Karsidi, Asep Assalam, Sunan Hanif Ihsan Atik Indra Puspita Atsilah, Inas Safitri Aulia Mustika Akbari Badriya Hisniati, Sally Badrudin Bagas Tri Widodo Bagas Tri Widodo Bambang Ismanto Bangun Muljosukojo Bayu Angkusprana Saktia Bayu Angkusprana Saktia, Bayu Angkusprana Beta Rohana Budisusanto, Yanto Cahyono, Amru Estu Cheri Bhekti Pribadi Cherie Bekti Pribadi Cherie Bhekti Pribadi, Cherie Bhekti Chomia Nilam Safitri Darminto , Mohammad Rohmaneo Dena Prapanca Wardhani Dewi Nur Indah Sari Dewi Nur Indah Sari, Dewi Nur Indah Dewi, Maura Sahara Dimas Ricky Pratama Dimas Ricky Pratama, Dimas Ricky DWI RAMADHANI Dwi Ramadhani Edvin Aldrian Ekaprathama, Sri Aditya Elon Fadilah Setiawan Elon Fadilah Setiawan, Elon Fadilah Elya, Herfina Evri, M Fahmi, Dede Ropi Farrel Narendra Robawa Fasya, Nizar Muhammad Fauzano Nikomaru Fendra Dwi Ramadhan Filsa Bioresita Filsa Bioresita, Filsa Fitria Rahma Frida Sidik Frida Sidik, Frida Gaina , Pretty Angelia Haidar Rizqi Krisananda Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Handayani , Hepi Hapsari Handayani, Hapsari Hariyanto, Irena Hana Harmasdiyono, Rino Hartatiati, Sri Suprapti Helmy Mukti Wijaya Hendayani , Hendayani Hendayani Hendayani Hepi Hapsari Handayani Hepi Hapsari Handayani Hepi Hapsari Handayani, Hepi Hapsari Herfina Elya Hery Setiawan Purnawali Hidayat, Husnul Hidayat, Vlado Yusyanda Hidayatul Ummah, Nida Ihsan Pakaya Ihsan Pakaya Inas Safitri Atsilah Ipah Latipah Jardini, Agdya Rifananda Jerry, Dennis Khomsin Khomsin Khomsin Khomsin Khomsin, Khomsin Kosim, Rijal Muhamad Krisananda, Haidar Rizqi Kukuh Prakoso Sudarsono Kukuh Prakoso Sudarsono Kurniawan , Akbar Kurniawan, Akbar Kusumah, Rifqi Rabbani Laksono Trisnantoro Latri Wartika Latri Wartika, Latri Luki Indeswari Maila Zumita Maulida, Putra Maulyna Sri Agustia Maura Sahara Dewi Miftahurrahman, Miftahurrahman Mohamad Erihadiana, Mohamad Mohammad Rohmaneo Darminto Mohammad Rohmaneo Darminto Muammar Muzayyin Ramadlon Muammar Muzayyin Ramadlon, Muammar Muzayyin muhamad sadly Muhammad, Rio Mukhtar, Mutia Kamalia mulyono, Sidik Mutia Kamalia Mukhtar Nadirah, Nadirah Nadjadji Anwar Nadya Rizky Dahlia Nadya Rizky Dahlia, Nadya Rizky Napisah, Nina Nisak, Nur Septylia Choirotun Noorlaila Hayati, Noorlaila Nur Septylia Choirotun Nisak Nurin Hidayati Nurjaman, Irman Nurwatik , Nurwatik Nurwatik Nurwatik Nusantara, Candida Aulia De Silva Permata Prasindya Prameswari , Anak Agung Sagung Ratih Prasindya, Permata Pratomo, Danar Guruh Pratomo, Danar Guruh Pretty Angelia Gaina Pribadi , Wisnu Pribadi, Cheri Bhekti Pribadi, Cherie Bhekti Puissant, Anne Puspita, Atik Indra Putu Artama Ramadhan, Alfi Syahril Ramadhan, Fendra Dwi Ramadhani, Alita Tri Utami Rina Fitryana Rina Fitryana, Rina Rino Harmasdiyono Rio Muhammad Robawa, Farrel Narendra Rochman, Asep Saepul Ropi Fahmi, Dede Rozaqi, Muhammad Abduh Sadly, M Safitri, Chomia Nilam Sarmuji Sarmuji Sarmuji, Sarmuji Setiaji, Wahyu Soleh Setiawati , Danar Linsa Solihin, Dadin Sri Aditya Ekaprathama Sri Utami Sri Utami Srimulyarini, Yenny Sudarsono, Kukuh Prakoso Sukojo, Bangun Muijo Sunu Tikno, Sunu Syaiful Budianto Syaiful Budianto Syariz, Muhammad Aldila Tamlekha, Tamlekha Trismono C. Krisna Ummah, Muftiyyatul Vera Ramandany Wahyu Soleh Setiaji Wahyudi Wahyudi Wahyudi Wahyudi Wardhani, Dena Prapanca Widodo, Bagas Tri Wijaya, Helmy Mukti Wisnu Pribadi Yanto Budisusanto, Yanto Yuwono Zahra Rahma Larasati Zakiyah, Qiqi Yuliati Zumita, Maila