Claim Missing Document
Check
Articles

STANDARISASI PARAMETER SPESIFIK DAN NON SPESIFIK PADA SIMPLISIA KULIT BUAH MUNDAR (Garcinia forbesii) ASAL KALIMANTAN SELATAN Sari, Anna Khumaira; Rizki, Muhammad Ikhwan; Triyasmono, Liling; Alfandani, Gina
BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal Vol 2 No 01 (2023): BENZENA PHARMACEUTICAL SCIENTIFIC JOURNAL
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/benzena.v2i01.3111

Abstract

Latar bekalang : Mundar (Garcinia forbesii) merupakan tanaman khas asal Kalimantan Selatan yang berpotensi sebagai bahan obat. Tamanan diolah menjadi simplisia harus memenuhi persyaratan untuk dapat digunakan sebagai bahan obat. Simplisia yang digunakan akan melalui uji parameter standar simplisia meliputi parameter spesifik dan non spesifik. Parameter spesifik yang akan diuji yaitu golongan senyawa, senyawa spesifik yang menggambarkan efek farmakologis sedangkan pada parameter non spesifik yang akan diuji adalah sifat kimia, fisika dan mikrobiologi yang akan mempengaruhi stabilitas dan keamanan obat.Tujuan : Menetapkan parameter spesifik dan non spesifik simplisia kulit buah mundar asal Kalimantan SelatanMetode : Pengujian yang dilakukan yaitu penetapan parameter spesifik dan parameter non spesifik yang ditetapkan meliputi organoleptik, mikroskopik, kadar sari larut pelarut tertentu, susut pengeringan, kadar abu tidak larut asam, kadar abu total, dan  cemaran logam berat. Sampel simplisia tanaman Mundar yang akan diuji berasal dari dua Kecamatan yang berbeda yaitu dari Kecamatan Karang Intan dan Kecamatan Beruntung Baru Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.Hasil : Hasil analisis simplisia kulit buah mundar dari Kecamatan Karang Intan and Kecamatan Beruntung Baru masing-masing adalah organoleptik kedua sampel simplisia berupa serbuk coklat, asam, berbau khas. Hasil mikroskopik diperoleh terdapat epidermis, kolenkim dan parenkim mesocarp pada kedua simplisia. Kadar sari larut etanol kedua simplisia masing-masing 57,20±0,10% dan 58,57±0,49%, kadar sari larut air 66,93±0,23% dan 68,83±0,15%, susut pengeringan 5,40±0,26% dan 6,93±0,76%, kadar abu total 2,20±0,03% dan 2,49±0,02%, kadar abu tidak larut asam 0,04±0,02% dan 0,06±0,02%, cemaran logam berat Pb 0,007±0,000mg/kg dan 0,010±0,003mg/kg, Cd 0,006±0,001mg/kg dan 0,009±0,002 mg/kg.Kesimpulan : Hasil parameter spesidik dan non spesifik kedua sampel simplisia kulit buah G.forbesii memenuhi persyaratan standar.Kata kunci: Mundar, simplisia, spesifik, non spesifik.
Pemberdayaan Kader dan Lansia dalam Pengelolaan Serta Pemanfaatan Toga sebagai Upaya Dalam Mengatasi Hipertensi di Desa Sungai Batang Kabupaten Banjar Isnani, Nazhipah; Triyasmono, Liling; Rizki, Muhammad Ikhwan; Rahmatullah, Satrio Wibowo; Sandi, Dita Ayulia Dwi; Izma, Hayatun; Redanti, Hema Novita; Humaidy, Mizan; Amali, Dzikra Aulia
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i12.22551

Abstract

ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi dan menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Salah satu upaya pencegahan yang dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat dengan edukasi dan pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader serta lansia dalam pencegahan hipertensi di Desa Sungai Batang. Kegiatan ini dilakukan dengan metode ceramah interakif, diskusi, pemerian edukasi dan pelatihan pengolahan TOGA. Evaluasi pengetahuan peserta dilakukan menggunakan pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil dari kegiatan ini didapatkan peningkatan rata-rata pengetahuan peserta dari 87,14% pada pre-test menjadi 100% pada post-test, dengan nilai p=0,0001 yang menunjukkan perbedaan siginifikan. Selain itu, peserta juga memperoleh keterampilan dalam meracik ramuan herbal antihipertensi dari TOGA. Edukasi hipertensi dan pelatihan TOGA efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader serta lansia dalam mendukung upaya promotif dan preventif pada penyakit hipertensi di Desa Sungai Batang. Kata Kunci: Hipertensi, Edukasi Kesehatan, Tanaman Obat Keluarga, Pemberdayaan Masyarakat.  ABSTRACT Hypertension is a non-communicable disease with a high prevalence and a significant risk factor for cardiovascular disease. One preventative measure is community empowerment through education and the use of Family Medicinal Plants (TOGA). This activity aims to improve the knowledge and skills of community health workers and the elderly in preventing hypertension in Sungai Batang Village. The activity used interactive lectures, discussions, educational presentations, and TOGA processing training. Participants' knowledge was evaluated using pre- and post-tests, then analysed descriptively using quantitative data. This activity showed an increase in average participant knowledge from 87.14% in the pre-test to 100% in the post-test, with a p-value of 0.0001 indicating a significant difference. Furthermore, participants also gained skills in preparing antihypertensive herbal concoctions from TOGA. Hypertension education and TOGA training effectively improved the knowledge and skills of community health workers and the elderly in supporting promotive and preventive efforts for hypertension in Sungai Batang Village. Keywords: Hypertension, Health Education, Family Medicinal Plants, Community Empowerment
Nutritional Content, Subchronic Toxicity, and Antidysmenorrhea Activity of Instant Herbal Medicine Mixture of Red Ginger and White Ginger Dewi, Vonny Khresna; Kirana, Rita; Rizki, Muhammad Ikhwan
Medical Laboratory Technology Journal Vol. 11 No. 2 (2025): December
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Analis Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/mltj.v11i2.685

Abstract

Dysmenorrhea is menstrual pain that occurs in 69.8% of women. Ginger (Zingiber officinale) contains various secondary metabolites with anti-inflammatory properties. This study aims to determine its characteristics, including nutritional value and stability, product safety through toxicity testing, and product efficacy. The research stages include research ethics testing and the production of instant powder from a mixture of red and white ginger. Nutritional content analysis included total fat, saturated fat, protein, and carbohydrates. Physical and chemical stability testing was carried out for three months. Subchronic toxicity testing used Wistar rats for 28 days by drawing blood before and after treatment, accompanied by liver delivery. Blood samples were analyzed for SGPT and SGOT levels. The test was conducted on 10 women aged 18-20, divided into two groups. The treatment group was given 20 grams of instant ginger in the morning and evening for 10 days, and compared with the control group without treatment. Pain was measured using a Visual Analog Scale (VAS) before and after the study. The study showed that instant ginger herbal medicine contained 0.83% total fat, 0.17% saturated fat, 3.73% total protein, and 35.42% total carbohydrates. The stability test results showed no changes in the physical and chemical parameters of the test. The results of the subchronic toxicity test showed that the body weight of mice, liver weight, SGOT levels, and SGPT levels of mice were normal. The activity test showed a decrease in pain from before to after administration of instant ginger, with an average VAS value of 7.8 to 4.2. This study concluded that instant ginger, a mixture of red and white ginger, has good nutritional content, is physically and chemically stable, is non-toxic, and is effective in reducing dysmenorrhea.
EVALUASI KEPUASAN ANGGOTA PD IAI KALIMANTAN SELATAN TERHADAP PENGGUNAAN APLIKASI SIAP MENGGUNAKAN METODE EUCS (END USER COMPUTING SATISFACTION) Muhammad Ikhwan Rizki; Surya Wahyudi; Herningtyas Nautika Lingga
Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51352/jim.v8i1.512

Abstract

The Indonesian Pharmacists Association or Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) is a professional organization of pharmacists in Indonesia. IAI has management at Central, Regional, and Branches. Organizational services for each IAI member use the Pharmacist Information System Application or Sistem Informasi Apoteker (SIAp). Evaluation of satisfaction in the Information System can use the EUCS (End User Computing Satisfaction) method. The purpose of this study was to determine the level of satisfaction of South Kalimantan pharmacists on the use of the SIAp application and management services. The research method uses an analytical survey with a cross sectional design. The instrument used is a questionnaire that has been tested for validity and reliability. This research has been submitted to the Research Ethics Commission. The population of this research is 1.151 pharmacists in South Kalimantan. Respondents who filled out the questionnaire were 540 pharmacists (95% confidence level). Questionnaires were distributed using a Google form that assessed the SIAP application from the aspects of Content, Accuracy, Format, Easy of User, and Timeliness. The results of the questionnaire were analyzed using a Likert scale, then the percentage of satisfaction levels interpreted with the categories very high (75.01 - 100%), high (58.34-75), less (41.65-58.33), low (24.98 -41.66), and very low (0-24.99). The results showed that members' satisfaction with the SIAp application from the aspect of Content 79.83% (very high), Accuracy 81.47% (very high), Format 82.32% (very high), Easy of Use 78.36% (very high), and Timeliness 75.52% (very high). Member satisfaction with Branches is 79.07% (very high), Regional is 77.93% (very high), and Central is 75.27% (very high). Conclusion: The level of satisfaction of PD IAI South Kalimantan Pharmacists with the SIAp Application is very high. Branch, Regional, and Central Services are very high.
Penentuan Kadar Flavonoid Total dan Uji Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kasturi (Mangifera casturi Kosterm.) dengan Metode DPPH Alifni Adha Bakti; Liling Triyasmono; Muhammad Ikhwan Rizki
Journal of Pharmascience Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i1.5762

Abstract

ABSTRAK Bahan alam dapat dijadikan bahan obat baru karena mengadung metabolit sekunder. Di Indonesia terdapat lebih kurang 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan yang mengandung metabolit sekunder, lebih kurang 7.500 jenis diantaranya termasuk tanaman berkhasiat obat. Salah satunya adalah tanaman kasturi (Mangifera casturi Kosterm.). Tanaman M. casturi merupakan tumbuhan khas Kalimantan Selatan yang hanya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dikonsumsi, tidak untuk pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol daun M. casturi. Penelitian ini bersifat non-eksperimental. Sampel yang digunakan adalah daun M. casturi yang berasal dari Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Penentuan Kadar flavonoid total dilakukan secara spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi kompleks AlCl3 sedangkan aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Hasil penelitian diperoleh kadar flavonoid total ekstrak etanol daun M. casturi sebesar 9,31 ± 0,08 %b/b dan aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 34,558 ppm sehingga termasuk dalam kategori antioksidan yang sangat aktif. Kata kunci: Antioksidan, DPPH, Flavonoid Total, Mangifera casturi. ABSTRACT Natural resources can be used as the new medicine ingridients because it has second metabolite. In Indonesia, there are more than 30.000 kinds of plants that contain second metabolite, more or less than 7.500 kinds of those are medicinal plants. One of those plants is Kasturi (Mangifera casturi Kosterm.). M. casturi is a typical plant from South Kalimantan that be used as a food not as a medicine. The purpose of this research is to determine the total of flavonoid content and anti-oxidant activity from ethanol extract of M. casturi leaves. This study is a non-experimental research. Sample which used in this research is M. casturi Leaves from Banjar Region, South Kalimantan. The research for total Flavonoid content is done by UV-Vis spectrophotometric with AlCl3 reagent complex while the anti-oxidant activity is determined by DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) method. The result of this research are extract of M. casturi leaves obtains 9,31 ± 0,08 %b/b of total flavonoid and the antioxidant activity result with IC50 value is 34,558 ppm, so it can be categorized as a very active anti-oxidant. Keywords: Antioxidant, DPPH, Total Flavonoid, Mangifera casturi.
Daya Reduksi Ekstrak Etanol Biji Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, dan Aquilaria beccariana Terhadap Ion Ferri (Fe3+) dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) Liling Triyasmono; Beny Rahmanto; Wawan Halwany; Fajar Lestari; Muhammad Ikhwan Rizki; Khoerul Anwar
Journal of Pharmascience Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i1.5764

Abstract

ABSTRAK Daya reduksi merupakan salah satu indikator potensi aktivitas suatu senyawa sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daya reduksi ekstrak etanol biji Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, dan Aquilaria beccariana terhadap Ion Ferri (Fe3+). Serbuk kering biji A. microcarpa, A. malaccensis, dan A. beccariana dimaserasi menggunakan etanol 70%. Daya reduksi ditentukan dengan metode FRAP (ferric reducing antioxidant power) yang didasarkan atas kemampuan senyawa dalam mereduksi senyawa besi(III)-tripiridil-triazin menjadi besi(II)-tripiridil triazin pada pH 3,6. Absorbansi diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 598 nm. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol biji A. microcarpa, A. malaccensis, dan A. beccariana mempunyai daya reduksi berturut-turut sebesar 6,39±1,58; 119,95±28,04; dan 62,12±6,57 µM ekivalen troloks/g ekstrak. Kata kunci: biji, Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, Aquilaria beccariana, FRAP ABSTRACT Reducing power is one indicator of potential antioxidant activity of a compound. This study aims to determine the reduction power of the ethanol extract of the seeds of Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, and Aquilaria beccariana against Ferric ion (Fe3+). Dry powder of A. microcarpa, A. malaccensis, and A. beccariana seeds was macerated using 70% ethanol. Reducing power determined using FRAP (ferric reducing antioxidant power) that is based on the ability of the compounds in reducing iron compounds (III) -tripiridil-triazine to iron (II) -tripiridil triazine at pH 3.6. The absorbance was measured using a UV-Vis spectrophotometer at a wavelength of 598 nm. The results showed ethanol extract of seeds of A. microcarpa, A. malaccensis, and A. beccariana have reducing power of 6.39 ± 1.58; 119.95 ± 28.04; and 62.12 ± 6.57 µM troloks equivalents / g extract respectively. Key words: seeds, Aquilaria microcarpa, Aquilaria malaccensis, Aquilaria beccariana, FRAP
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Akar Kalakai (Stenochlaena palustris Bedd) Asal Kalimantan Tengah Rabiatul Adawiyah; Muhammad Ikhwan Rizki
Journal of Pharmascience Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i1.5788

Abstract

ABSTRAK Tanaman khas Kalimantan yang banyak digunakan sebagai tanaman obat adalah kalakai atau sering juga disebut paku haruan (Stenochlaena palustris Bedd) atau pakis. Kalakai mengandung beberapa senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid, alkaloid dan keluarga terpenoid yang telah terbukti sangat efektif sebagai antioksidan. Kalakai merupakan tumbuhan yang tumbuh subur di tanah gambut dan juga ditemukan tumbuh baik di tanah berpasir. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan dari akar kalakai (Stenochlaena palustris) yang tumbuh pada tanah gambut dan tanah berpasir berdasarkan parameter Inhibitory Concentration 50 (IC50). Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil) dan kuersetin sebagai pembanding. Nilai IC50 untuk ekstrak akar kalakai pada tanah gambut yaitu sebesar 19,06 ppm dan pada ekstrak akar kalakai pada tanah pasir didapat IC50 sebesar 24,40 ppm. Hasil uji aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol akar kalakai yang tumbuh pada tanah pasir dan tanah gambut memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Kata Kunci : Akar, Antioksidan, Kalakai, Stenochlaena palustris Bedd ABSTRACT Borneo plants that are widely used as medicinal plants are kalakai or often also called paku Haruan (Stenochlaena palustris Bedd). Kalakai contains several bioactive compounds such as phenolics, flavonoids, alkaloids and terpenoid that have been shown to be very effective as antioxidants. Kalakai is a plant that thrives on peat soils and is also found to grow well in sandy soils. This study aims to determine the antioxidant activity of kalakai root (Stenochlaena palustris) that grows on peat soil and sandy soil based on Inhibitory Concentration 50 (IC50). Antioxidant activity was tested using DPPH method (2,2-diphenyl-1-picryl-hydrazil) and quercetin as a comparison. IC50 value for kalakai root extract on peat soil that is 19,06 ppm and at kalakai root extract on sand soil obtained IC50 that is 24,40 ppm. The results of antioxidant activity test on kalakai root extract that grow on sand and peat soil have very strong antioxidant activity. Keywords: Antioxidant, Kalakai, Root, Stenochlaena palustris Bedd
Tanaman dengan Aktivitas Anti-Asma Muhammad Ikhwan Rizki; Lutfi Chabib; Akhmad Nabil; Baharudin Yusuf
Journal of Pharmascience Vol. 2 No. 1 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i1.5807

Abstract

Abstrak            Asma merupakan gangguan inflamasi kronis pada saluran pernafasan ditandai episode berulang mengi, sesak nafas, sesak dada, dan batuk.  Berbagai sel inflamasi berperan terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel. Masyarakat di Indonesia turun temurun secara tradisional menggunakan bahan alam dalam mengatasi berbagai penyakit. Tanaman dapat menghasilkan metabolit sekunder yang memiliki banyak khasiat dalam mengatasi berbagai penyakit disebabkan adanya efek sinergisme antar senyawa metabolit sekunder dan polivalent activity, sehingga memungkinkan mengatasi berbagai penyakit. Berdasarkan hal tersebut, asma dapat diatasi dengan menggunakan bahan alam diantaranya Putri Malu (Mimosa pudica, Linn.), Kelor (Moringa oleifera), Jintan Hitam (Nigella sativa L.), Rumput Fatimah (Labisia pumila), Ciplukan (Physalis minima L), Senggugu (Clerodendrum  serratumat), Jeringau (Acorus gramineus), dan Sirih (Piper betle Linn.). Kata Kunci: Tanaman, Anti-Asma AbstractAsthma is a chronic inflammatory disorder of the airways characterized by recurrent episodes of wheezing, breathlessness, chest tightness, and coughing. Various inflammatory cells play a role, especially mast cells, eosinophils, T lymphocytes, macrophages, neutrophils and epithelial cells. Indonesia people used natural materials to overcome various diseases. Plants can produce secondary metabolites that have many benefits in addressing a variety of diseases caused by the synergism between the effects of secondary metabolites and polivalent activity, making it possible to overcome various diseases. Based on this, asthma can be overcome by using natural medicines including Putri Malu (Mimosa pudica, Linn.), Kelor (Moringa oleifera), Jintan Hitam (Nigella sativa L.), Rumput Fatimah (Labisia pumila), Ciplukan (Physalis minima L), Senggugu (Clerodendrum  serratumat), Jeringau (Acorus gramineus), Sirih (Piper betle Linn.) Keywords: Asthma, Plants
Formulasi Tablet Effervescent Ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera) Lutfi Chabib; Oktavia Indrati; Muhammad Ikhwan Rizki
Journal of Pharmascience Vol. 2 No. 1 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i1.5816

Abstract

Abstrak            Lidah buaya (Aloe vera) mengandung komponen seperti  acetylated mannans, polymannans, anthraquinone C-glycosides, anthrones, anthraquinones dan  berbagai jenis lectins. Komponen dalam lidah buaya yang bermanfaat sebagai laksatif adalah anthraquinon glycoside. Salah satu sediaan farmasi yang menarik adalah tablet effervescent, dimana bentuk sediaan ini mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya adalah mudah untuk dikonsumsi dan bisa dikembangkan variasi rasa, sehingga diharapkan masyarakat dapat tertarik untuk mengkonsumsi sediaan lidah buaya dalam bentuk tablet effervescent. Tujuan penelitian ini yaitu mendapat formulasi optimum dari  tablet effervescent ekstrak lidah buaya. Lidah buaya dihaluskan lalu dimaserasi. Ekstrak lidah buaya diformulasi dalam empat bentuk formula yang berbeda dengan metode peleburan. Dilakukan pemeriksaan sifat fisik granul dan tablet yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan lidah buaya (Aloe vera) dapat diformulasikan kedalam sediaan tablet  effervescent. Dari data evaluasi formulasi sediaan tablet effervescent lidah buaya (Aloe vera) yang paling baik untuk dibuat tablet effervescent yaitu formula I yang berisi granul ekstrak 150 mg, laktosa 1890 mg, asam sitrat 100 mg, asam tartat 300 mg, natrium bikarbonat 400 mg, PEG 6000 60 mg, aspartame 100 mg, dan pengaroma secukupnya. Kata Kunci: Aloe vera, tablet effervescent, formulasi AbstractAloe vera containing components such as acetylated mannans, polymannans, anthraquinone C-glycosides, anthrones, anthraquinones and various types of lectins. Components in aloe vera useful as laksatife is anthraquinon glycoside. One of the interesting pharmaceutical preparations is effervescent tablets, where has several advantages, is easy to take the variation flavors, so hopefully people can be interested to consume aloe vera preparations in the form of effervescent tablets. The purpose of this study was to get optimum formulation of Aloe vera effervescent tablets. Aloe vera is pulverized and then macerated. Aloe vera extract was formulated in six different formulas with fusion method. Then, physical properties of the granules and tablets were examinated. Results showed aloe (Aloe vera) could be formulated into effervescent tablets. The best formula for Aloe vera effervescent tablets was formula I which containing 150 mg of granule extract 150 mg, 1890 mg of lactose, 100 mg of citric acid, 300 mg of tartat acid, 400 mg of sodium bicarbonate, 60 mg of PEG 6000, 100 mg of aspartame, and flavor to taste. Keywords: Aloe vera, effervescent tablets, formulation  
Skrining Fitokimia dan Uji Kualitatif Aktivitas Antioksidan Tumbuhan Asal Daerah Rantau Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan Sutomo Sutomo; Arnida Arnida; Muhammad Ikhwan Rizki; Liling Triyasmono; Agung Nugroho; Evi Mintowati; Salamiah Salamiah
Journal of Pharmascience Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i1.5836

Abstract

ABSTRAK  Kalimantan selatan merupakan salah satu kawasan tropis dengan sumber keanekaragaman hayati yang melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan ekstraksi dan skrining fitokimia terhadap beberapa tumbuhan yang secara etnis digunakan sebagai pengobatan. Metode ini sangat penting untuk mendapatkan gambaran terhadap golongan senyawa yang terkandung dalam tumbuhan obat. Tumbuhan yang diteliti  adalah rimpang patiti, kulit batang ambaratan, batang carikang habang, daun puspa, kulit batang balik anngin, daun bilaran tapah, dan daun karamunting. Hasil ekstraksi menggunakan etanol 70% rendemen terbanyak adalah daun puspa (30,76%) diikuti secara berturut-turut kulit batang balik angin (27,05%), daun bilaran tapah (23,53%), daun karamunting (10,88%), rimpang patiti (8,48%), batang carikang habang (3,56%), dan kulit batang ambaratan (2,04%). Skrining fitokimia menunjukkan bahwa rimpang patiti mengandung senyawa golongan flavonoid, fenol, tanin, saponin, dan terpenoid. Kulit batang ambaratan mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, fenol, tanin dan antrakinon. Batang carikang habang mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, saponin, steroid, dan antrakuion. Daun puspa mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, dan terpenoid. Kulit batang balik anngin mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, terpenoid, dan antrakuinon. Daun bilaran tapah mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonois, fenol, tanin, saponin, terpenoid, dan antrakuinon. Daun karamunting mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonois, fenol, tanin, saponin, dan terpenoid. Hasil uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH melalui kromatpgrafi lapis tipis menunjukkan bahwa ketujuh tumbuhan yang diuji mengandung senyawa yang bersifat antioksidan.  Kata kunci : eksplorasi, ekstraksi, skrining fitokimia, antioksidan.    ABSTRACT Kalimantan Selatan is a province in the southern of Borneo island. As one of the tropical areas, this province  has a high biological diversity. The recent study aims to identify the secondary metabollites through screening test and evaluate the antioxidative capacities of several medicinal plants growing in Tapin regency. Seven plants used in this study were: the rhizome of Patiti (RP), the bark of Ambaratan (BA), the stem of Carikang Habang (SC), leaves of Puspa (LP), the bark of Balik Angin (BB), leaves of Bilaran Tapah (LB), and leaves of Karamunting (LK). Arranged from the highest to the lowest, the yield of 70% ethanol extracts were 30.76% (LP), 27.05% (BB), 23.53% (LB), 10.88% (LK), 8.48% (RP), 3.56% (BC), and 2.04% (BA). The phytochemical screening test shown that flavonoid, phenolic, tanin, saponin,  and terpenoid were detected in RP. In BA, alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, and antraquinon were identified. SC possessed alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, saponin, steroid, and antraquinon. LP had alkaloid, flavonoid, phenolic, saponin, and terpenoid. BB contained alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, terpenoid, and antraquinon. LB shown the presence of  alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, saponin, terpenoid, and antraquinon. Meanwhile, LK indicated the presence of alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, saponin, and terpenoid. Antioxidant analyis of the seven extracts using DPPH showed that all the tested plants possessed the active compounds with antioxidative effects. Keywords: exploration, extraction, phytochemical screening, antioxidant.
Co-Authors Abda Abda Aghna Mafruha Zahrah, Aghna Mafruha Agung Nugroho Agustina, Ni Kadek Ayu Akbar, Nabila Hadiah Akhmad Nabil Akhmad Nabil, Akhmad Akhsanul Rahmatullah Alfandani, Gina Alifni Adha Bakti Amali, Dzikra Aulia Amalia Khairunnisa Amalia Khairunnisa Amalia Khairunnisa, Amalia Amalia Khirunnisa Ana Ulfah Anna Humaira Anna Khumaira Sari Anna Khumaira Sari Aprianto . Arnida Arnida Arnida Arnida Aulea Rahmawati Ayulia Dwi Sandi, Dita Azhara, Desiya Damayanti Baharuddin Yusuf Baharudin Yusuf Barkinah, Tut Beny Rahmanto Beny Rahmanto Beny Rahmanto Buih, Putri Helena Junjung Cut Nadia Anne Sanha Devi Eka Pratama Dewi Kartika Dewi Sari Mulia Dewi, Anita Ratna Difa Intannia Dinna Fitria Kumala Dinna Fitria Kumala Dyah Anggraeni Effendi, Ibrahim Rully Evi Mintowati Evi Mintowati, Evi Evi Mulyani Fadlilaturrahmah Fadlilaturrahmah, Fadlilaturrahmah Fadlillaturahmah Fadlillaturahmah Fajar Lestari Fajar Lestari Fajar Lestari Fariz, Abshar Fauzi, Rakhmat Gina Alfandani Hayatun Izma Helmina Wati Hema Novita Rendati Heri Budi Santoso Herningtyas Nautika Lingga Hilneser Simamora Humaidy, Mizan Inatsa Dwi Tatsbita Ira Qadariah Izma, Hayatun Khalifah, Sefa Nur Khoerul Anwar Khoerul Anwar Khoerul Anwar Khumaira Sari, Anna Kirana, Rita Laura Sarwo Liling Triyasmono Lukman Mahdi Lutfi Chabib, Lutfi Madani, Al Malahayati, Siti Maman Turjaman Maman Turjaman Ma’shumah Ma’shumah Metty Amperawati Mia Fitriana Mohammad Rizki Fadhil Pratama Muhammad Rusydi Taufik Mutia Mawaddah Naning Kisworo Utami Nashrul Wathan Nazhipah Isnani Normaidah, Normaidah Novia Fahrina Purnama Sari Nur Mahdi Nurlely, Nurlely Okta Muthia Sari Oktavia Indrati, Oktavia Putra, Aditya Maulana Perdana Rabiatul Adawiyah Rahma, Salsabila Fadiya Rahmanto, Beny Rahmatullah, Satrio Wibowo Rahmawati, Aulea Ramadhan, Fery Ramadhani , Syahrizal Ratnapuri, Prima Happy Redanti, Hema Novita Rina Astiyani Jennah Risa Susanti Rorry Adivrio Rizky Salamiah . Salamiah Salamiah Samsul Hadi Saragih, Triando Hamonangan Sari , Anna Khumaira Sari, Fitri Novita Sholihin, Muhammad Aditya Silviana, Mega Siswadi Siswadi Sofia Suratno Suratno Surya Wahyudi Susiani, Eka Fitri Susy Andriani Sutomo Sutomo Sutomo Sutomo Sutomo Sutomo Syifa Auliani Syifa Auliani Titin Nor Tjitradi, Sukhito Yohanes Totok Wianto Valentina Meta Srikartika Vonny Khresna Agung Suhadi Mohammad Hakimi Dewi Wawan Halwany Wawan Halwany Wawan Halwany Wawan Halwany, Wawan Yuni Kartika Yuniarti Suryatinah