Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Dampak Pernikahan Dini terhadap Kejadian Stunting Rosidin, Udin; Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i1.18190

Abstract

ABSTRAK Pernikahan dini merupakan fenomena sosial yang sering terjadi dewasa ini. Pelaksanaan pernikahan dini sering kali berakar dari kondisi ekonomi dan permasalahan keluarga. Salah satu dampak dari pernikahan dini bagi perkembangan anak yaitu anak berisiko stunting.  Keadaan ini dikarenakan pada usia remaja masih membutuhkan gizi maksimal hingga usia 21 tahun. Apabila dalam usia remaja sudah mengalami kehamilan, maka tubuh ibu akan berebut gizi dengan bayi di kandungannya sehingga jika nutrisi ibu tidak cukup selama kehamilan, bayi akan lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan sangat berisiko terkena stunting. Stunting diartikan sebagai kondisi pertumbuhan fisik anak yang terhambat akibat malnutrisi kronis, berpotensi memengaruhi perkembangan kognitif dan kesehatan jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja tentang bahaya pernikahan dini terhadap kesehatan anak. Metode kegiatan yang digunakan adalah penyuluhan kesehatan. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan remaja tentang dampak pernikahan dini terhadap kejadian stunting. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan jumlah remaja dalam katagori pengetahuan baik dan ada penurunan jumlah remaja yang dalam katagori pengetahuan kurang. Kesimpulan ada peningkatan pengetahuan remaja tentang dampak pernikahan dini terhadap kejadian stunting sebesar 20,86 poin. Kegiatan yang sudah dilaksanakan diharapkan dapat dilanjutan oleh masyarakat RW 17 dengan dukungan dari kelurahan Kotawetan dan Puskesmas Guntur. Sehingga pada akhirnya masyarakat dapat mencegah kejadian stunting. Kata Kunci: Pernikahan dini, Remaja, Stunting   ABSTRACT Early marriage is a social phenomenon that often occurs today. The implementation of early marriage is often rooted in economic conditions and family problems. One of the impacts of early marriage on children's development is that children are at risk of stunting.  This situation is because teenagers still need maximum nutrition until the age of 21 years. If a teenager experiences pregnancy, the mother's body will compete for nutrition with the baby in her womb so that if the mother's nutrition is inadequate during pregnancy, the baby will be born with a low birth weight (BBLR) and be at high risk of stunting. Stunting is defined as a condition where a child's physical growth is hampered due to chronic malnutrition, potentially affecting cognitive development and long-term health. Therefore, it is important to increase teenagers' knowledge and understanding of the dangers of early marriage on children's health. The activity method used is health education. The aim of the activity is to increase teenagers' knowledge about the impact of early marriage on the incidence of stunting. The results of the activity showed that there was an increase in the number of teenagers in the good knowledge category and a decrease in the number of teenagers in the poor knowledge category. The conclusion is that there is an increase in teenagers' knowledge about the impact of early marriage on the incidence of stunting by 20.86 points. It is hoped that the activities that have been carried out can be continued by the RW 17 community with support from the Kotawetan sub-district and the Guntur Community Health Center. So that in the end the community can prevent stunting.  Keywords: Early Marriage, Teenagers, Stunting
Upaya Peningkatan Cakupan Pelayanan Posbindu melalui Program Edukasi dan Kunjungan Rumah Rosidin, Udin; Shalahuddin, Iwan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i1.18064

Abstract

ABSTRAK Paradigma sehat merupakan cara pandang masyarakat yang lebih mengutamakan pelayanan promotif dan preventif dari pada pelayanan kuratif. Cara pandang ini  mendukung masyarakat untuk hidup sehat. Salah satu indikator hidup sehat yaitu penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur. Pengelolaan penyakit hipertensi merupakan tanggung jawab pemerintah, swasta dan masyarakat. Salah satu program pengelolaan penyakit hipertensi adalah program posbindu. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan mahasiswa program profesi ners angkatan 46 yang dilaksanakan di RW 17 Kelurahan Kotawetan  ditemukan data masih rendah kunjungan lansia ke posbindu. Rendahnya kunjungan posbindu tersebut dimungkinkan karena faktor pengetahuan dan keterbatasan fisik lansia. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan cakupan kunjungan posbindu melalui peningkatan pengetahuan lansia tentang hipertensi dan manfaat posbindu serta melakukan kunjungan rumah. Metode kegiatan berupa pelaksanaan penyuluhan kesehatan dan kunjungan rumah. Kegiatan diikuti oleh 35 orang lansia. Hasil kegiatan menunjukan ada peningkatan pengetahuan sebesar 13 poin dan peningkatan kunjungan posbindu sebanyak 20 orang. Kegiatan yang sudah dilaksanakan diharapkan dapat dilanjutan dengan dukungan dari kelurahan Kotawetan dan Puskesmas Guntur. Sehingga pada akhirnya lansia dapat melaksanakan pengelolaan penyakit hipertensi di posbindu secara mandiri.  Kata Kunci: Hipertensi, Kunjungan Rumah, Posbindu.   ABSTRACT The healthy paradigm is a society's perspective that prioritizes promotive and preventive services rather than curative services. This perspective supports people to live healthy lives. One indicator of a healthy life is that people with hypertension take regular medication. Management of hypertension is the responsibility of the government, private sector and society. One of the hypertension management programs is the posbindu program. Based on the results of a survey conducted by students of the 46th class of the nursing profession program which was carried out in RW 17, Kotawetan Subdistrict, it was found that data on elderly visits to posbindu was still low. The low number of posbindu visits is possible due to the knowledge and physical limitations of the elderly. The aim of this activity is to increase the coverage of posbindu visits by increasing the elderly's knowledge about hypertension and the benefits of posbindu as well as conducting home visits. The activity method is in the form of health education and home visits. The activity was attended by 35 elderly people. The results of the activity showed that there was an increase in knowledge by 13 points and an increase in posbindu visits by 20 people. It is hoped that the activities that have been carried out can be continued with support from the Kotawetan sub-district and the Guntur Community Health Center. So that in the end the elderly can manage hypertension at Posbindu independently.   Keywords: Hypertension, Home Visits, Posbindu.
Peningkatan Cakupan Imunisasi Bayi dan Balita Melalui Edukasi dan Program Imunisasi Kejar Rosidin, Udin; Amira, Iceu; Hendrawati, Hendrawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i3.18318

Abstract

ABSTRAK Kelompok balita merupakan kelompok rentan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan untuk tetap produktif. Masa balita disebut “Golden age” yaitu masa anak mengalami periode emas  di masa awal kehidupan. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa masa Golden Age sebagai masa kritis, hal ini dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan pada masa itu sangat pesat. Bagian penting yang harus diperhatikan dalam periode ini adalah perlu adanya daya tahan tubuh dan kekebalan terhadap berbagai penyakit, terutama penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi. Permasalahannya saat ini adalah cakupan pelayanan imunisasi bayi dan balita masih rendah. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang imunisasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang imunisasi serta mempermudah akses dan jadwal pelayanan yang fleksibel untuk mendapatkan pelayanan imunisasi. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang imunisasi. Metode kegiatan adalah penyuluhan kesehatan dan kunjungan rumah. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai pengetahuan masyarakat sebelum dilaksanakan edukasi sebesar 67,27 dan rata-rata nilai pengetahuan setelah melaksanakan edukasi sebesar  81,82.  Kesimpulan ada peningkatan pengetahuan masyarakat tentang imunisasi sebesar 14,55 poin. Kegiatan yang sudah dilaksanakan diharapkan dapat dilanjutan oleh masyarakat RW 18 dengan dukungan dari kelurahan Kotawetan dan Puskesmas Guntur. Sehingga pada akhirnya cakupan pelayanan imunisasi meningkat. Kata Kunci: Cakupan Pelayanan, Imunisasi, Bayi Dan Balita   ABSTRACT Toddlers are a group vulnerable to health problems that need to be considered to remain productive. The toddler period is called the "Golden Age", which is the period when children experience a golden period in early life. Previous research stated that the Golden Age period is a critical period, this is because growth and development at that time are very rapid. An important part that must be considered in this period is the need for endurance and immunity to various diseases, especially diseases that can be prevented by immunization. The current problem is that the coverage of infant and toddler immunization services is still low. This is due to the lack of public understanding of immunization. To overcome this problem, health education is carried out to increase public understanding of immunization and facilitate access and flexible service schedules to obtain immunization services. The purpose of the activity is to increase public knowledge about immunization. The activity method is health counseling and home visits. The results of the activity showed an increase in the average value of public knowledge before education was carried out by 67.27 and an average value of knowledge after education was carried out by 81.82. The conclusion is that there is an increase in public knowledge about immunization by 14.55 points. The activities that have been implemented are expected to be continued by the RW 18 community with support from the Kotawetan sub-district and Guntur Health Center. So that in the end the coverage of immunization services increases. Keywords: Coverage of Services, Immunization, Infants and Toddlers
Edukasi Penerapan Latihan Fisik sebagai Upaya Pencegahan Resiko Jatuh pada Ema Abah di Satuan Pelayanan Griya Lansia Garut Sumarni, Nina; Rosidin, Udin; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i5.18987

Abstract

ABSTRAK Lansia sangat erat kaitannya dengan penuaan. Penurunan kekuatan akibat penuaan dapat menyebabkan berbagai perubahan, seperti hilangnya massa tulang, kelemahan otot punggung bawah, kekakuan sendi, gangguan penglihatan, serta kehilangan keseimbangan saat berjalan yang dapat meningkatkan risiko lansia terjatuh. Risiko jatuh yang tinggi adalah salah satu faktor yang menyebabkan orang tua menjadi lebih lemah dan dapat mengakibatkan cedera serius serta penurunan kualitas hidup. Penanganan khusus seperti latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan keseimbangan dan koordinasi, yang merupakan faktor kunci dalam pencegahan jatuh diperlukan untuk mengurangi dampak resiko jatuh pada lansia. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan edukasi mengenai penerapan latihan fisik sebagai strategi dalam upaya pencegahan resiko jatuh pada lansia ‘ema’ ‘abah’ di satuan pelayanan griya lansia Garut. Metode yang digunakan ceramah dan penerapan latihan fisik, dengan menggunakan pendekatan Evidence-Based Practice (EBP sehingga memudahkan para peserta dapat memahami Latihan fisik yang dilakukan sebagai upaya pencegahan resiko jatuh. Edukasi dan penerapan latihan fisik dilakukan pada 30 peserta ema abah di panti. Sosialisasi yang diberikan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat sebelum dan sesudah edukasi, dimana sebelum edukasi sebanyak 22 responden (73,33%) memiliki tingkat pemahaman cukup dan 8 responden (26,67%) memiliki pengetahuan yang kurang. Sedangkan setelah pemberian edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan Dimana sejumlah 27 responden (90%) memiliki pengetahuan yang baik, dan 3 orang responden (10%) memiliki pengetahuan yang cukup. Hasil kegiatan pengabdian ini berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan. Peserta yang awalnya tidak tahu menjadi tahu dengan diberikannya edukasi yang dilakukan. Dari edukasi ini para peserta dapat mengetahui dan memahami Latihan fisik yang dilakukan sebagai upaya pencegahan resiko jatuh. Kata Kunci: Edukasi, Latihan Fisik, Upaya Pencegahan, Resiko Jatuh  ABSTRACT Elderly is closely related to aging. Decreased strength due to aging can cause various changes, such as loss of bone mass, weakness of lower back muscles, joint stiffness, visual impairment, and loss of balance when walking which can increase the risk of elderly people falling. A high risk of falling is one of the factors that causes elderly people to become weaker and can result in serious injuries and decreased quality of life. Special handling such as regular physical exercise can improve balance and coordination, which are key factors in preventing falls needed to reduce the impact of fall risk in the elderly. This activity aims to provide education regarding the application of physical exercise as a strategy to prevent the risk of falls in the elderly 'ema' 'abah' in the Garut elderly housing service unit. The method used is lectures and application of physical exercise, using the Evidence-Based Practice (EBP) approach so that it is easier for participants to understand the physical exercise carried out to prevent the risk of falls. Education and application of physical exercise were carried out on 30 ‘ema’ ‘abah’ participants in the shelter. The socialization provided can increase community understanding before and after education, where before education as many as 22 respondents (73.33%) had a sufficient level of understanding and 8 respondents (26.67%) had insufficient knowledge. While after education, there was an increase in knowledge where 27 respondents (90%) had good knowledge, and 3 respondents (10%) had sufficient knowledge. The results of this community service activity went well and in accordance with the objectives. Participants who initially did not know became aware by being given the education that was carried out. From this education, participants can learn and understand the physical exercises carried out to prevent the risk of falling. Keywords: Education, Physical Exercise, Prevention Efforts, Risk of Falls
Senam Kaki Diabetes Dalam Upaya Mencegah Ulkus Diabetik Pada Lansia di RW 19 Kelurahan Kota Wetan Garut Sumarni, Nina; Rosidin, Udin; Shalahuddin, Iwan; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i4.18586

Abstract

ABSTRAK Penderita diabetes mellitus sering mengabaikan aktivitas fisik atau pergerakan tubuh karena berbagai alasan. Kurangnya aktivitas yang dilakukan oleh penderita diabetes mellitus akan menyebabkan tingginya gula darah dalam tubuh. Salah satu komplikasi yang terjadi pada penderita diabetes mellitus adalah terjadinya luka pada permukaan kulit yang dapat disertai dengan kematian jaringan. Pasien diabetes melitus beresiko 15–20 persen mengalami ulkus kaki diabetik dalam waktu lima tahun, dengan tingkat kekambuhan 50–70%, dan 85% akan menjalani amputasi. Pengelolaan diabetes melitus yang efektif dan terkendali dapat dilakukan dengan pengelolaan non farmakologis yaitu berupa kegiatan jasmani dan aktivitas fisik. Senam kaki diabetes adalah latihan yang dirancang khusus untuk pasien diabetes mellitus dengan tujuan utama meningkatkan sirkulasi darah atau aliran darah ke bagian kaki serta mencegah terjadinya luka dan komplikasi lainnya. Tujuan kegiatan adalah memberikan edukasi mengenai pendidikan kesehatan tentang senam kaki diabetes dalam upaya mencegah ulkus diabetik pada lansia di RW 19 Kelurahan Kota Wetan Garut.Metode yang digunakan pada aktivitas ini adalah lektur, diskusi dan interview. Nilai Tengah yang didapat peserta pada pre-test ialah 66 dan nilai Tengah yang didapat peserta setelah post test ialah 76 yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yaitu sebesar 10 poin setelah dilakukannya diskusi “Senam Kaki Diabetes Dalam Upaya Mencegah Ulkus Diabetik Pada Lansia”. terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 10 poin setelah diberikan edukasi kesehatan tentang senam kaki diabetes dalam upaya mencegah ulkus diabetik pada lansia Di RW 19 Kelurahan Kota Wetan, Kabupaten Garut dan diharapkan setelah dilakukan edukasi pendidikan kesehatan, para peserta mengetahui dan memahami tentang senam kaki dalam upaya mencegah ulkus diabetic dan mau aktif di kegiatan senam diabetes yang diselenggarakan di Posbindu RW 19. Kata Kunci: Senam Kaki Diabetes, Mencegah, Ulkus Diabetik ABSTRACT People with diabetes mellitus often ignore physical activity or body movement for various reasons. Lack of activity by people with diabetes mellitus will cause high blood sugar. One of the complications that occurs in people with diabetes mellitus is the occurrence of wounds on the surface of the skin which can be accompanied by tissue death. Patients with diabetes mellitus are at risk of 15-20 percent experiencing diabetic foot ulcers within five years, with a recurrence rate of 50-70%, and 85% will undergo amputation. Effective and controlled management of diabetes mellitus can be done with non-pharmacological management, namely physical activity and physical activity. Diabetic foot exercise is an exercise specifically designed for patients with diabetes mellitus with the main aim of increasing blood circulation or blood flow to the feet and preventing wounds and other complications. The purpose of the activity is to provide health education about diabetic foot exercise to prevent diabetic ulcers in the elderly in RW 19, Kelurahan Kota Wetan Garut. The methods used in this activity are reading, discussion, and interview. The median score obtained by participants in the pre-test was 66 and the median score obtained by participants after the post-test was 76, indicating an increase in knowledge of 10 points after the discussion "Diabetic Foot Exercises to Prevent Diabetic Ulcers in the Elderly" was conducted. There was an increase in knowledge of 10 points after being given health education about diabetic foot exercises to prevent diabetic ulcers in the elderly in RW 19, Kota Wetan Village, Garut Regency and it is hoped that after health education, participants will know and understand about foot exercises to prevent diabetic ulcers and want to be active in diabetic exercise activities held at Posbindu RW 19. Keywords: Diabetic Foot Exercises, Preventing, Diabetic Ulcers
Pelatihan Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular pada Kader Kesehatan Rosidin, Udin; Shalahuddin, Iwan; Sumarni, Nina
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i5.19642

Abstract

ABSTRAK Saat ini hampir semua negara menghadapi permasalahan akibat penyakit tidak menular. Kondisi tersebut kerap kali tidak dirasakan karena tidak menimbulkan keluhan. Hal ini menyebabkan penyakit tidak menular dijumpai pada tingkat yang lebih lanjut sehingga sulit untuk dipulihkan yang pada akhirnya menyebabkan cacat atau kematian. Upaya mengatasi permasalahan tersebut diperlukan pengetahuan kader kesehatan dalam deteksi dini penyakit tidak menular.  Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader kasehatan dalam deteksi dini penyakit tidak menular. Dengan kegiatan ini diharapkan kader kesehatan memiliki kemampuan yang baik dalam deteksi dini penyakit tidak menular. Metode kegiatan yang digunakan adalah pelatihan pada kader kesehatan tentang deteksi dini penyakit tidak menular. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 60 kader kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan rata rata nilai hasil prestest sebesar 75 poin dan rata rata nilai posttest sebesar 90 poin. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah  adanya peningkatan pengetahuan kader kesehatan tentang penyakit tidak menular dan pengelolaan posbindu sebesar 15 poin. Kegiatan yang sudah dilaksanakan diharapkan dapat berkelanjutansecara mandiri oleh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Guntur. Selain itu setiap kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Guntur diharapkan dapat melaksanakan pelatihan kader kesehatan secara rutin dalam melaksanakan deteksi dini penyakit tidak menular melalui anggaran kelurahan. Kata Kunci: Deteksi dini, Pelatihan, Penyakit Tidak Menular  ABSTRACT Currently, almost all countries are facing problems due to non-communicable diseases. This condition is often not felt because it does not cause complaints. This causes non-communicable diseases to be found at more advanced levels making it difficult to recover which ultimately causes disability or death.. Efforts to overcome these problems require the knowledge of health cadres in early detection of non-communicable diseases. The purpose of this activity is to increase the knowledge of health cadres in early detection of non-communicable diseases. With this activity it is hoped that health cadres will have good skills in early detection of non-communicable diseases. The activity method used is training for health cadres on early detection of non-communicable diseases. The number of participants who attended was 60 health cadres. The results of the activity show an average pretest result of 75 points and an average posttest score of 90 points. The activity conclude that there is an increase in the knowledge of health cadres about non-communicable diseases and posbindu management by 15 points. The activities that have been carried out are expected to be sustainable independently by the community in the working area of the Guntur Health Center. In addition, each sub-district in the working area of the Guntur Health Center is expected to carry out routine health cadre training in carrying out early detection of non-communicable diseases through the sub-district budget. Keywords: Early detection, Training, Non-Communicable Diseases
Hubungan Jenis Kelamin dengan Sikap Siswa tentang Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Remaja Awal di SDN Dayeuhkolot Putri, Dea Sephia; Solehati, Tetti; Rosidin, Udin
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i4.19298

Abstract

ABSTRACT The incidence of sexual abuse among adolescents had been increasing each year, with female adolescents being more likely to experience sexual abuse compared to their male counterparts. To reduce the occurrence of sexual abuse, it was essential to foster preventive attitudes among adolescents. This study aimed to analyze the relationship between gender and students' attitudes toward preventing sexual abuse among early adolescents. The study employed a quantitative analytic method with a cross-sectional approach. Data collection was conducted using questionnaires distributed to 43 students in grades 4-6 from an elementary school in Dayeuh Kolot, Bandung Regency, during August to December 2024. The data were analyzed using univariate and bivariate methods. The research findings showed that the majority of respondents were female (53.5%) and had a positive attitude (83.7%). Bivariate analysis using the Chi-Square test revealed a p-value of 0.678. These results indicated no significant influence between gender and early adolescent students' attitudes toward preventing sexual abuse. Based on the research results, there was no significant relationship between gender and early adolescent students' attitudes toward preventing sexual abuse. This could be due to other factors influencing these attitudes. Nevertheless, efforts to enhance positive attitudes toward sexual abuse prevention need to be promoted among both male and female students, considering the ongoing increase in sexual abuse incidents and the significant harm it causes to victims.  Keywords: Attitudes, Early Adolescents, Gender, Sexual Abuse Prevention  ABSTRAK Angka kejadian kekerasan seksual pada remaja dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dengan prevalensi korban kekerasan seksual pada remaja perempuan lebih banyak daripada remaja laki – laki. Sikap pencegahan kekerasan seksual pada remaja diperlukan untuk mencegah kejadian kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan sikap siswa tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak remaja awal. Penelitian menggunakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan data dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan kepada siswa kelas 4-6 dari salah satu SDN di Dayeuh Kolot Kabupaten Bandung sebanyak 43 responden pada bulan Agustus-Desember 2024. Analisa data menggunakan univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden berjenis perempuan (53,5%) dan memiliki sikap positif (83,7%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square didapatkan p-value 0,678. Haisl tersebut menunukan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara jenis kelamin dengan sikap siswa remaja awal terkait pencegahan kekerasan seksual.  Berdasarkan hasil penelitian tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dan sikap siswa remaja awal terhadap pencegahan kekerasan seksual. Hal ini dimungkinkan karena ada factor lain yang mempengaruhi sikap tersebut. Walaupun demikian, peningkatan sikap positif terhadap kekerasan seksual perlu ditingkatkan pada siswa berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki, mengingat masih terus meningkatnya akan kekerasan seksual pada kedua jenis kelamin dan dampak yang sangat merugikan bagi korbannya. Kata Kunci: Jenis Kelamin, Pencegahan Kekerasan Seksual, Remaja Awal, Sikap
PENINGKATAN KOGNITIF SISWA TENTANG KESEHATAN GIGI PADA SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH AL-QOMAR GARUT Sumarna, Umar; Rosidin, Udin; Shalahuddin, Iwan; Sumarni, Nina
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2023): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v6i1.41491

Abstract

Kesehatan gigi dan mulut dapat menimbulkan komplikasi serius pada masalah kesehatan bagi organ tubuh lainnya. Permenkes Menteri Nomor89 Tahun 2015menyatakan bahwa kesehatan gigi dan mulut adalah bagian  integral dari kesehatan seluruh tubuh. Maka, agar programini dapat berjalan secara optimal, Kemenkes membentuk Komite Kesehatan Gigi dan Mulut yang akan membantu Kemenkes dalam menyusun rencana strategi upaya kesehatan gigi dan mulut, sehingga dapat mencapai target nasional. Riskesdas tahun 2018 menyatakan bahwa proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi rusak/berlubang/sakit, sedangkan masalah kesehatan mulut yang mayoritas dialami penduduk Indonesia adalah gusi bengkak dan/atau keluar bisul. Jawa Barat memiliki permasyalahan gigi dan mulut sebesar 28% lebih tinggi dari nasional, yaitu 25,9%. Sementara  itu, Kabupaten Garut memiliki prevalensi masalah gigi dan mulut lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 36,7%, sebagian besar banyak diderita anak usia sekolah. Pengabdian ini dilakukan pada Madrasah Ibtidaiyah Al-Qomar yang terdapatdiKabupaten Garut dengan tujuan meningkatkan kognitifnya pada pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif yang diawali dengan pre-testdan diakhiri dengan post-test. Hasil yang didapatkan terdapat peningkatan kognitif pada tiap-tiap item pertanyaan, yaitu : pengertian kesehatan gigi dan mulut (57,14%), ciri-ciri gigi yang sehat (26,78%), fungsi gigi (12,5%), manfaat menggosok gigi (23,21%), cara membersihkan gigi dan mulut (30,36%), cara menggosok gigi yang benar (33,93%), lamanya menggosok gigi (35,71%), dan penyebab kerusakan gigi (25%). Kesimpulannya adalah kognitif siswa bertambah, tapi ada beberapa jawaban benar yang belum mencapai 100%.
Socialization About The Benefits Of Using BPJS Kesehatan In 15th Hamlet Sukamentri Urban Village Garut Kota District, Garut Regency Sumarna, Umar; Rosidin, Udin; Sumarni, Nina; Shalahuddin, Iwan; Noor, Rohmahalia M.; Ariyani, Anggi Putri; Luthfiyani, Nida
ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2023): ABDIMAS UMTAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35568/abdimas.v6i2.3215

Abstract

BPJS Kesehatan is the legal entity administering social security in the health sector. The health program is undertook the National Health Insurance. The entity was a replacement for Askes for civil servants and Jamsostek for non-civil servants. All Indonesian citizens are required to set aside their income for future health insurance. Thus all governments in all regions in Indonesia formed BPJS Kesehatan. It is recorded that up to 2021, 83.89% have been registered as participants of BPJS Kesehatan. So this program is also running in West Java, including Garut Regency where the participants in 2022 have reached 85%. However, there are problems in its implementation, that is awareness in paying dues as evidenced by the large number of participants who are in arrears. The PPM team decided to do community service in one of the downtown areas of Garut Regency, namely in 15th Hamlet, Sukamentri Urban Village, Garut Kota District. The results of the initial review, the participants of BPJS Kesehatan here are classified as low. The PPM team assumed that cause was the low level of community knowledge. So the purpose of this service is increasing the knowledge level of the people in 15th hamlet, Sukamentri Urban Village, Garut Kota District about BPJS Kesehatan. The method is counseling to the community and its leaders. The result is an average pretest of 42.58 and average posttest of 63.81. The conclusion that there was increase the knowledge level of the 15th Hamlet Sukamentri Urban Village community about BPJS Kesehatan. Keyword: BPJS Kesehatan, Health Insurance, Knowledge level
Education about School Health at SDN Sukamenteri 1-2 Garut Kota District Shalahuddin, Iwan; Rosidin, Udin; Sumarna, Umar; Sumarni, Nina; Lukman, Mamat
ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2023): ABDIMAS UMTAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35568/abdimas.v6i2.3226

Abstract

The perspective in school health nursing is how to integrate the concept of health in the school curriculum through efforts in early discovery related to health problems, health maintenance efforts and the school environment. School health nurses play a role in implementing EPSDT (Early and Periodic Screening, Diagnosis and Treatment of health problems). According to the Ministry of Health, UKS is an integrated effort in order to improve the ability to live a healthy life which then forms healthy behaviors of school-age children who are in school. UKS plays a role in providing knowledge related to health problems to students / children so that in the future it is hoped that they can practice a healthy lifestyle anywhere. The purpose of education is to provide and improve students' understanding of the importance of preventing health problems and to identify the importance of early detection to avoid health problems. The method used is the lecture method, question and answer, discussion and demonstration. The results of the health counselling activities were approximately 323 students. The counseling participants looked enthusiastic when the material was given. Participants participated in the counselling happily because the counselling was carried out in a fun way. The counselling activity was conducive because the participants paid attention to the material presented well. This is evidenced by the number of participants who are interested in answering questions during the question and answer session. Participants participated in the counselling happily because the counselling was carried out with a pleasant face-to-face method. The counselling activity was conducive because the participants paid attention to the material presented well about degree of school health.
Co-Authors Aat Sriati Adelse Prima Mulya Ahmad Yamin Ahmad Yamin Ajeng Fajriati Nurul Fatimah Alam, Ismailah Amira, Iceu Anggi Putri Ariyani Anggi Putri Ariyani Anggi Putri Ariyani Ariyani, Anggi Putri Astiani, Santi ati surya mediawati Aulia, Syifa Nurul Cah Soniman Nitema Gea Cecep Eli Kosasih Citra Sari Citra Windani M.S Dadang Purnama Dadang Purnama Desy Indra Yani Ema Arum R. Erna Herawati Fatmaningsih, Nurul Khotimah Fauziyah, Shafira Fitri Furkon Nurhakim Furkon Nurhakim Habsyah Saparidah Agustina Haelena Wibowo, Gita Amoria Hartiah Haroen Harun, Hasniatisari Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hendrawati Iceu Amira Iceu Amira Iceu Amira DA Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana, Indra Iqbal Pramukti Iwan Shalahhudin Iwan Shalahuddin Iwan Sholahhudin Iwan Sholahuddin Iwan Suhendar Iyus Yosep Jatiningtyas, Kurnia Jemi Rahmani A Juniarti, Neti Kosim Kosim Kusman Ibrahim Laili Rahayuwati Luthfi, Wazirul Luthfiyani, Nida M Noor, Rohmahalia Mamat Lukman Mamat Lukman, Mamat Maziyya, Nur Mediawati, Ati Surya Mira Trisyani Koeryaman Mohammad Abdul Mubaroq, Bagja Al Nida Luthfiyani Nida Luthfiyani Nida Luthfiyani Nina Sumarni Nina Sumarni Nina Sumarni Noor, Rohmahalia M. Noor, Rohmahallia M Pristasari, Sheizi Putri, Dea Sephia R, Ema Arum Rahmawati, Sephia Raini Diah Susanti, Raini Diah Rohmahalia M Noor Rohmahalia M Noor Rohmahalia M Noor Rohmahalia M Noor Rohmahalia M Noor Rohmahalia M. Noor Rohmahalia M. Noor Rohmahalian M. Noor Rohman Hikmat Ryan Hara Permana Sandra Pebrianti Sandra Restuti Sena Yudipaty Senjaya, Sukma Setiawan Setiawan Setiawan Setiawan Setiawan Setiawan, Sobur Shalahhudin, Iwan Sholahudin, Iwan Sobur Setiawan Sopia Marlina Sri Amanda Sri Hendrawati Sukma Senjaya Sukma Senjaya Sukmawati Sukmawati Sumarna, Umar Sumarna, Umar Sumarna, Umar Taty Hernawaty Tetti Solehati Tetti Solehati Theresia Eriyani Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Umar Sumarna Windani, Citra Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati Witdiawati, Witdiawati Witdiawati, Witidiawati Yudianto, Kurniawan Yuli Yani