Pendidikan di abad ke-21 mengalami transformasi karena perkembangan teknologi yang pesat, sehingga membutuhkan proses pembelajaran yang melampaui buku teks konvensional. Augmented Reality (AR) berfungsi sebagai instrumen inovatif untuk memvisualisasikan konsep ilmiah abstrak melalui model 2D dan 3D interaktif. Studi ini menggunakan metodologi Tinjauan Literatur Sistematis (SLR) sesuai dengan standar PRISMA 2020-2025, dengan meneliti publikasi yang diterbitkan antara tahun 2020 dan 2025 yang bersumber dari Google Scholar, SINTA, DOAJ, dan Garuda. Tinjauan tersebut menunjukkan bahwa siswa sering kesulitan memahami materi abstrak, sementara metode pengajaran konvensional dan kesiapan digital yang terbatas semakin menghambat pembelajaran. Temuan dari 15 studi terpilih secara konsisten menunjukkan bahwa AR meningkatkan hasil belajar, pemahaman konseptual, motivasi, dan keterlibatan siswa di berbagai tingkat pendidikan. Media AR, terutama yang dikembangkan melalui platform seperti Assembler Edu, secara signifikan meningkatkan skor pretest-posttest, menghasilkan nilai N-Gin sedang hingga tinggi, dan menciptakan pengalaman belajar yang mendalam. Hasil penelitian Augmented Reality (AR) meningkatkan persepsi, imersi, dan interaksi siswa dengan mengintegrasikan objek virtual dua atau tiga dimensi ke dalam dunia nyata secara real-time, sehingga memperkaya lingkungan belajar tanpa menggantikannya seperti pada Virtual Reality (VR). Teknologi ini dapat dimanfaatkan guru untuk membantu siswa memahami konsep sains yang bersifat abstrak, khususnya dalam pembelajaran fisika dan IPA. Secara keseluruhan, AR terbukti sebagai media pembelajaran yang efektif, interaktif, dan adaptif yang mendukung tuntutan pendidikan modern dan mengatasi tantangan dalam pembelajaran sains, khususnya di tingkat sekolah menengah pertama.