Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Diglosia

PENGGUNAAN GOOGLE CLASSROOM SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN READING COMPREHENSION DI UNIVERSITAS DARMA PERSADA Yoga Pratama; Fridolini Fridolini
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 4, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.697 KB)

Abstract

Kemajuan informasi dan teknologi telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan termasuk pendidikan. khususnya teknologi internet yang memberikan efek positif terhadap pendidikan khususnya dalam proses khususnya pembelajaran pemahaman membaca dalam Bahasa Inggris. Di masa lalu, pembelajaran membaca masih menggunakan metode konvensional seperti buku, modul, dan papan tulis, tetapi saat ini seiring dengan kemajuan zaman dosen dan mahasiswa dapat menggunakan teknologi multimedia interaktif seperti, smartphone, dan desktop computer yang dapat membuat pembelajaran menjadi lebih efektif, inovatif, kreatif dan interaktif. Dalam penelitian kualitatif ini penulis mencoba menganalisis teknologi baru yaitu google classroom sebagai solusi untuk masalah lama dalam pengajaran pemahaman membaca dalam Bahasa Inggris.Kata Kunci: mengajar, bahasa Inggris, membaca, google classroom, teknologi The Advances of information and technology have influenced many aspects of life including education. Especially the internet which has a very positive effect on education, especially in the process, especially reading comprehension in English. In the past, teaching Reading still used conventional methods such as books, modules, and blackboards, but nowadays in this digital era with the advancement of time lecturers and students can use interactive multimedia technologies such as smartphones and desktop computers that can make learning more effective, innovative, creative and interactive. In this qualitative study, the author tries to analyse the new technology, the Google classroom as a solution of the old problems in studying Reading comprehension.Keywords: teaching, English, Reading, Google classroom, technology
PENGARUH PENGGUNAAN METODE MIND MAPPING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR READING COMPREHENSION DI SMK KELAS XI Yoga Pratama
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 1, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.089 KB)

Abstract

Mind mapping is method they can help students in every subject. Mind mapping is a beneficial learning tool to help students brainstorm any topic and think creatively. Mind maps are particularly helpful in the writing and reading process and provide students with a natural way of thinking and building thoughts on a story plot or theme in reading comprehension. Mind maps also provide teachers with insight into their students’ thought process regarding a specific topic. By asking students to create mind maps demonstrating their comprehension of a concept, teachers are able to understand what a student’s prior knowledge was and how well the student understands the assignment or the material being taught. This is a very effective way of evaluating students’ understanding.Keywords: mind mapping, students, effective 
PERJUANGAN KARAKTER UTAMA MINTY MELAWAN DISKRIMINASI RASIAL DALAM NASKAH FILM "HARRIET" Yoga Pratama; Anna Al Adawiyah L
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 6, No 1 (2022): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.52 KB)

Abstract

Naskah film adalah cetak biru yang ditulis untuk film atau acara televisi. Naskah dapat dihasilkan dalam bentuk olahan asli atau adaptasi dari penulisan yang sudah ada seperti hasil sastra. Seperti jurnal ini mengangkat isu sosiologis diskriminasi rasial yang dialami oleh orang kulit hitam yang ditampilkan dalam naskah film Harriet. Dalam naskah ini mengangkat kisah nyata dari adanya isu diskriminasi ras yang dilakukan orang kulit putih pada era 1800. Karakter utama dalam skrip ini, Minty (Harriet), berjuang untuk menemukan kebebasannya dan melarikan diri dari perbudakan yang dia alami. Hal ini membuat Minty (Harriet) terus berjuang membantu dan juga membebaskan diri dari perbudakan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan melalui pendekatan teori Rasisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam naskah film Harriet karya Gregory Allan Howard ditemukan beberapa isu rasisme. Jenis rasisme seperti diskriminasi, ketidakadilan, warna kulit, segregasi dan perbudakan sebagian besar didominasi. Selain itu, orang kulit hitam juga mengalami tindakan rasis seperti penindasan, kematian, kelaparan, dan kematian yang membawa dampak buruk bagi kehidupan mereka. Dapat diasumsikan bahwa naskah ini menyajikan potret bagaimana kulit putih memperlakukan orang kulit hitam secara tidak adil.Kata kunci: Rasisme, Perbudakan, Pendekatan Sosiologi, Diskriminasi Ras A film script is a blueprint written for a film or television show. Manuscripts can be produced in the form of original processing or adaptations of existing writing such as literary results. For example, this journal raises the sociological issue of racial discrimination experienced by black people which is shown in the Harriet film script. This script is based on the true story of the issue of racial discrimination by white people in the 1800s. The main character in this script, Minty (Harriet), struggles to find her freedom and escape from the slavery that she experienced. This makes Minty (Harriet) continue to struggle to help other black people and also release herself from slavery. The method of research using qualitative method through a racism theory approach. The results showed that in the script for the film Harriet by Gregory Allan Howard, several issues of racism were found. Types of racism such as discrimination, injustice, skin colour, segregation and slavery are mostly dominated. In addition, black people also experience racist acts such as oppression, death, starvation, and death that have a negative impact on their lives. It can be assumed that this manuscript presents a portrait of how white people treated black people unfairly.Keyword: Racism, Slavery, Sociology Approach, Racial Discrimination
CERMINAN RASA BERSALAH KARAKTER UTAMA LEE CHANDLER DALAM NASKAH FILM “MANCHESTER BY THE SEA” Yoga Pratama; Karina Adinda; Maula Angisty
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 6, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakNaskah film adalah cetak biru untuk film atau acara televisi. Naskah film ditulis dengan format yang spesifik untuk membedakan karakter, aksi, dan dialog. Pada jurnal ini, membahas tentang permasalahan rasa bersalah yang dialami oleh tokoh utama yang terdapat pada naskah film Manchester by The Sea. Dalam naskah ini, karakter utama Lee Chandler (Manchester by The Sea) merasa bersalah atas kematian ketiga anaknya yang disebabkan oleh kebakaran yang tak disengaja. Rasa bersalah menghantuinya yang menyebabkan Lee Chandler tidak  mau berhubungan dengan apapun yang berkaitan dengan masa lalunya. Khususnya, ketika kakanya, Joe Chandler meninggal dunia, ia terpaksa harus kembali ke Manchester, namanya tertulis pada surat wasiat bahwa Lee akan menjadi wali bagi putra Joe, Patrick Chandler. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada naskah film Manchester by The Sea karya Kenneth Lonergan, Lee mengalami rasa bersalah subjektif. Rasa bersalah jenis subjektif ini yang mengakibatkan Lee terus-menerus menyalahkan dirinya, padahal apa yang dilakukannya belum tentu melanggar hukum yang berlaku di masyarakat.Kata kunci: Manchester by The Sea, psikologi sastra, rasa bersalahAbstrackThe film script is the blueprint for the film or television show. A film  script written in a specific format to distinguish between character, action, and dialogue. This journal discuss about the problem that arise in the main character who experiences guilty feeling in Manchester by The Sea film script. In this script, the main character Lee Chandler (Manchester by The Sea) feels guilty for the deaths of his three children caused by fire incident that accidentally he did in the past. The guilt that haunts Lee Chandler make him doesn't want to be tied to anything that related to his past. Especially when his older brother, Joe Chandler died, which forced Lee to return to Manchester. Lee’s name written on the will that he will be guardian for Joe’s son, Patrick Chandler. The method of research use  qualitative method with psychology of literature approach. The results of this research  indicate that in the Manchester by The Sea film script by Kenneth Lonergan, Lee experiences subjective guilt. This subjective guilt causes Lee to constantly blame himself, even though what he did is not necessarily a violation of the laws that apply in society.Keywords: Manchester by The Sea, psychology of literature, guilty feeling
KAJIAN KOMUNIKASI NONVERBAL: BERBICARA TANPA KATA DALAM BUKU BEYOND LANGUAGE KARYA DEENA R. LEVINE DAN MARA B. ADELMAN Pratama, Yoga; Afiyati, Alia; Yuniar, Eka; Hariyana, Agustinus
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 7, No 2 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v7i2.4762

Abstract

Komunikasi nonverbal telah didefinisikan sebagai komunikasi tanpa kata. Ini mencakup perilaku yang tampak seperti ekspresi wajah, mata, sentuhan, dan nada suara, serta pesan yang kurang jelas seperti pakaian, postur, dan jarak spasial antara dua orang atau lebih. Semuanya berkomunikasi, termasuk objek material, ruang fisik, dan sistem waktu. Meskipun output verbal dapat dimatikan, nonverbal tidak bisa. Bahkan diam pun berbicara. "Hal terpenting dalam komunikasi adalah mendengar apa yang tidak dikatakan." – Peter F. Drucker, Dalam berkomunikasi tidak semua bahasa di komunikasikan lewat berbicara, terkadang sesuatu diekspresikan dengan Bahasa tubuh atau gesture yang dapat membawa lebih banyak makna dan bobot daripada apa yang dikatakan, kata-kata itu sendiri. Disertai dengan senyuman atau cemberut, diucapkan dengan suara keras, memarahi atau lembut, isi komunikasi kita dibingkai oleh persepsi holistik kita tentang konteksnya. Komunikasi secara umum adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan yang memungkinkan manusia untuk berbagi pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Meskipun kita biasanya mengidentifikasi komunikasi dengan ucapan, komunikasi terdiri dari dua dimensi - verbal dan nonverbal. Kata Kunci: non verbal, komunikasi, holistic, berbicara, tanpa kata Nonverbal communication has been defined as communication without words. This includes visible behaviors such as facial expressions, eyes, touch, and tone of voice, as well as less obvious messages such as clothing, posture, and the spatial distance between two or more people. Everything communicates, including material objects, physical space, and time systems. Although verbal output can be turned off, but not in nonverbal. Even silence speaks. "The most important thing in communication is to hear what is not said." – Peter F. Drucker, In communicating not all languages are communicated through speaking, sometimes something is expressed with body language or gestures that can carry more meaning and weight than what is said, the words themselves. Accompanied by a smile or a frown, spoken aloud, scolding or soft, the content of our communication is framed by our holistic perception of its context. Communication in general is the process of sending and receiving messages that enable humans to share knowledge, attitudes, and skills. Although we usually identify communication with speech, communication consists of two dimensions - verbal and nonverbal. Keywords: non-verbal, communication, holistic, speaking, without words.
ANALISIS KECEMASAN DAN NALURI KEMATIAN PADA ANNA FOX DALAM NASKAH FILM THE WOMAN IN THE WINDOW Pratama, Yoga; Adinda, Karina; Firial, Jihan
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v7i1.4481

Abstract

Karya sastra pada dasarnya erat dengan kehidupan kita, dengan adanya karya sastra kita dapat belajar mengenai prilaku manusia terutama dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti pada penelitian ini yang berfokus dalam membahas aspek psikologi menggunakan karya sastra berupa naskah film The Woman In The Window karya Tracy Letts, mengenai prilaku Anna Fox sebagai karakter utama. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Penelitian ini menggunakan teori Sigmund Freud dalam konsep kecemasan dan naluri manusia. Hasil penelitian ini menunjukan kecemasan pada Anna berupa kecemasan realistik, neurotik, dan moral. Kecemasan pada dirinya berkaitan dengan agoraphobia yang dideritanya, Anna juga mendapat kenyataan baru yang menjadi penyebab dirinya menderita agoraphobia yang berkaitan dengan kejadian dimasa lalunya. Akibat gangguan cemas pada dirinya ini yang tanpa sadar memunculkan naluri kematian pada prilaku dalam setiap tindakannya.Kata Kunci: Kecemasan, Naluri Kematian, Psikologi Sastra, The Woman in The Window.AbstractLiterary works are basically close to our lives, with literary works we can learn about human behavior, especially in social life. As in this study which focus on discussing psychological aspects using literary works use movie script The Woman In The Window by Tracy Letts, regarding the behavior of Anna Fox as the main character. This study uses a qualitative descriptive method with a literary psychology approach. This study uses Sigmund Freud's theory on the concept of anxiety and human instincts. The results of this study indicate that Anna's anxiety is realistic, neurotic, and moral anxiety. Anxiety in herself is related to her agoraphobia, Anna also got a new reality which causes her has agoraphobia related to events in her past. As a result of this anxiety disorder in her which unconsciously raises the death instinct in her behavior in every action.Keywords: Anxiety, Death Instinct, Literary Psychology, The Woman in The Window.
ANALISIS WACANA KRITIS PIDATO PELANTIKAN JOE BIDEN VIS-À-VIS TERHADAP KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT Fridolini, Fridolini; Prasetio, Ade; Pratama, Yoga
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v8i1.5535

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemaknaan atas makna pidato yang disampaikan oleh setiap presiden yang berpotensi dipengaruhi oleh hal-hal subjektif yang dapat menimbulkan kegaduhan di suatu negara. Salah satu metode ilmiah yang digunakan untuk menemukan makna tersembunyi dari komentar tentang masalah sosial politik, kebijakan, dan gaya kepemimpinan adalah analisis wacana kritis. Dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis Van Dijk pada Pidato Pelantikan Presiden Joe Biden, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kebijakan Amerika Serikat. Analisis tersebut menunjukkan secara ilmiah bahwa Presiden Joe Biden memprioritaskan pemulihan masalah domestik daripada masalah internasional, dengan rasio persentase 70 persen : 30 persen. Persatuan, keamanan dalam negeri, dan keseimbangan terhadap masalah demokrasi adalah masalah pertama yang harus diperbaiki, diikuti dengan masalah internasional. Dalam pidatonya, Joe Biden menggunakan sosiokognitif superstruktur untuk menunjukkan pendekatan humanistik. Selain itu, Presiden Joe Biden lebih sering menggunakan pengulangan dan aliterasi sebagai kiasan untuk menekankan pesannya daripada Barack Obama, dan gaya bahasanya lebih sistematis dan lugas. Kata kunci: Analisis Wacana Kritis, Van Dijk, Joe Biden; Barack Obama; PidatoThe aims of the research is undermined by an absorption of the meaning of speeches delivered by any president who is potentially influenced by subjective things that can trigger a nation's agitation. One of the scientific methods used to find the hidden meaning of comments on social-political issues, policies, and styles of leadership is critical discourse analysis. Using Van Dijk's Critical Wacana Analysis on President Joe Biden's Appointment Speech, this study aims to uncover US policy. The analysis demonstrates scientifically that President Joe Biden prioritizes the recovery of domestic problems over international problems, with a 70 percent to 30 percent ratio. Unity, domestic security, and the balance of issues of democracy are the first issues to be fixed, followed by international issues. In his speech, Joe Biden used superstructured sociocognitive to demonstrate a humanistic approach. Besides, President Joe Biden is more likely to use repetition and aliteration as a pretext to emphasize his message than Barack Obama, and his style of speech is more systematic and coherent. Keywords: Critical Discourse Analysis, Van Dijk, Joe Biden; Barack Obama; Speech;
IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA DIALOG DALAM NOVEL THE KING’S CURSE KARYA PHILIPPA GREGORY Fitriani, Nurul; Pratama, Yoga; Fridolini, Fridolini
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 8, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/diglosia.v8i2.5711

Abstract

Dalam kehidupan sehari-hari, peran kita sebagai pengguna bahasa adalah hal yang tak bisa terlepas dari diri kita. Di segala lini kehidupan, kita membutuhkan bahasa guna berkomunikasi dengan orang lain: dengan keluarga, teman, tetangga, rekan kerja, dan lainnya. Kajian pragmatik selalu tertarik dalam menggali lebih dalam mengenai fenomena penggunaan bahasa tersebut. Salah satu hal yang disorot dalam kajian ilmu ini adalah mengenai ujaran yang kita sampaikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam suatu percakapan. Artinya, kita tidak selamanya menyampaikan sesuatu secara terang-terangan, bahwa dalam konteks tertentu, terdapat maksud tersembunyi yang kita sisipkan dalam ujaran. Pragmatik menyebut hal itu dengan implikatur. Studi ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai penggunaan implikatur dalam suatu karya sastra. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Teknik pemercontohan bertujuan digunakan sebagai teknik pengumpulan data, dan data yang digunakan untuk analisis adalah ujaran yang disampaikan tokoh dalam novel. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam novel The King’s Curse, yang ditulis oleh Gregory, ditemukan dua jenis implikatur yang digunakan oleh para tokoh di novel ini. Jenis implikatur tersebut adalah implikatur percakapan umum dan khusus. Dua jenis itu digunakan secara berbeda, bergantung kepada konteks situasi tertentu yang melatarbelakangi percakapan yang dilakukan tokoh dalam novel ini.Kata kunci: konteks, implikatur percakapan umum, implikatur percakapan khusus, novel. In daily life, our role as language user is something that is inseparable. In every part of our life, we need language to help us communicating to other people: to your family, friends, neighbors, co-workers, and others. Pragmatics is always interested to dig deeper on the phenomenon of the language use in our daily conversation. One of the things highlighted in this linguistics branch is that how people, in fact, utter something both directly and indirectly in their conversation. It means that, we do not only say something straightforward, but, in some particular context, our hidden intention is being inserted in our utterance. Pragmatics calls it implicature. This study aims to give a comprehensive outline of the use of implicature found in a literary work. The study used qualitative approach, with content analysis method. The researchers used purposive sampling as the data collection technique, and the data used in this study are utterances of the characters found in the novel. The result of the study shows that in The King’s Curse novel written by Gregory, there are two types of implicature used by the characters of the novel. They are generalized and particularized conversational implicature. Both types are used differently, as there is particular situational context as the backstory.Keywords: context, generalized conversational implicature, particularized conversational implicature, novel.
Co-Authors Adinda, Karina Aditya Arnola Afiyati, Alia Al Hamid, Maksum Alfazri, Muhamad Fahri Alia Afiyati Anang M Legowo Andang Saehu, Andang Anjar Prawesti Anna Al Adawiyah L Ari Wijaya Saputra, I Komang Arifin, Oki Aristya, Irma Sendy Arrum Dwi Wahyuni Arsy, Muhammad Artini, Kusumaningtyas Siwi Ayassy, Bayu Maulana Bulan Nayla, Amanda Danny Faturachman, Danny Dharmawan, Mohamad Rizky Dharmawan, Muhammad Robby Dhian Eka Wijaya Dhiyaulhaq, Ahmad Divya Widyastuti Dwirgo Sahlinal, Dwirgo Edwin Permana Efendi, Muh Rizqi Ema Nur Amalia Fadhilah, Tami Nurul Fadilah, Muh Faujani, Zidan Ahmad Febri Nur Salamah Feriza, Firman Fine Reffiane Firial, Jihan Fitriani, Nurul Fitriani, Nurul Fridolini Fridolini Fridolini Fridolini Fridolini Fridolini, Fridolini Haliza, Nurul Hanifa, Amalia Hariyana, Agustinus Herdiansyah, M. Izman Hidayat, Ali Nurdin Hidayatullah, Cahyo Hilman, Moh Hilmi, Den Imam Muhamad Husnul Khatimah Ilhamni, Ilhamni Imam Cholissodin Indri Ayu Lestari Ise Fitrilia Juliansyah Juliansyah - Juliansyah Jupiyandi, Sisco Kania Widyawati, Dewi Karina Adinda Kartinah Kartinah, Kartinah Kurnia Idawati Laisya Okta Preyera Leilani Eka Putri, Irma Lestari, Reza Listyani, Tiara Ajeng Lusha Natasya Malik, Kamil Masrofi, Ali Maula Angisty Maulini, Rima Maya Sari Melliana Mesias, Inish Chris MUCHAMMAD FAIZIN Mulyani , Sri Nadia Putri Neni Lismareni, Neni Niken ananda Nisa', Khoirun Nopitasari, Nopitasari Novi Susanti Noviana Noviana Nurul Fitriani Pitaloka, Roro Meifi Prasetio, Ade priyoto, priyoto Rahman, Cecep Kholip Ar Resmiwati, Resmiwati Rifda Afifah Rina Kurniawati Rinta Alfiana Rizki Ramadani Rohani, Tri Ruruh Andayani Bekti, Ruruh Andayani Sahroini, Halifah Sandrina Dwi Melany Saniputra, Fadhil Rizqullah Saputra, Gilang Slamet Shofy Ilaina Sigit Nugroho Sinaga, Frans Putra Siti Susanti, Siti Sopian, Diman Sri Mulyani Sri Wahyuni Sugiharti, Rr. Retno Suranto Susanti Susanti Syahrul R, Syahrul Syarif Hidayat Tamimi, Masagus Haidir Tata Sutabri Umi Kalsum Utami, Fajryah Valina Julia Cahyani Vegi Sandika Widya Cholil Widya Rizky Pratiwi, Widya Rizky Yoke Pribadi Kornarius Yuniar Ernawati, Eka Yuniar, Eka Yupiter, Piju Zufri, Fauzi Zuriati, Zuriati Zy, Ahmad Turmudi