Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Agripet

The Effectiveness of Lugol on the Increasing of Pregnancy Rate in Aceh Cow with Endometritis Amalia Sutriana; Arman Sayuti; Budianto Panjaitan; Teuku Armansyah TR; Aisyah Fadillah Tunnisa; Juli Melia; Tongku Nizwan Siregar; Hafizuddin Hafizuddin; Dwinna Aliza
Jurnal Agripet Vol 21, No 2 (2021): Volume 21, No. 2, Oktober 2021
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v21i2.18513

Abstract

ABSTRACT. The objective of this study was to determine the effect of lugol on the increasing the pregnancy rate in repeat breeding (RB) Aceh cows due to endometritis. This study used six endometritiss cows, aged 5-7 years, weighed 150-250 kg which were divided into two groups (n=3), KI and KII. The cows in group 1 (K1) were injected with 5 ml PGF2, while the cows in group 2 (KII) were treated with 50 ml of 2% lugol intra-uterine and continued with an injection of 5 ml PGF2 after healing. The detection of estrus was performed twice a day following by artificial insemination (AI) about 10-16 hours after the onset of estrus. Determination of pregnancy was performed by ultrasonography (USG) on the 25th day after AI. The data obtained were analyzed descriptively. The results showed that all endometritis cows in KI and KII present estrous signs (100%). However, only one cow was recovered in K2, whereas in K1 did not. After AI, one pregnant cow was observed in KII (33.3%), while none of the pregnant cows was found in K1 (0.0%). It is concluded that the lugol treatment for endometritiss Aceh cows can improve the pregnancy rate.(Efektivitas larutan lugol untuk meningkatkan persentase kebuntingan pada sapi Aceh yang mengalami endometritis) ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian larutan lugol terhadap peningkatan persentase kebuntingan sapi Aceh yang mengalami RB. Dalam penelitian ini digunakan enam ekor sapi Aceh betina dewasa, umur 5-7 tahun, bobot badan 150-250 kg, sudah pernah beranak, dan didiagnosis mengalami endometritis. Seluruh sapi dibagi menjadi dua kelompok (n=3). Pada kelompok 1 (K1), sapi endometritis diterapi dengan 50 ml lugol 2% secara intra uteri dan setelah sembuh dilanjutkan dengan penyuntikan 5 ml PGF2. Sapi pada kelompok 2 (K2) hanya diinjeksi dengan 5 ml PGF2. Deteksi berahi dilakukan sebanyak dua kali per hari dan inseminasi buatan (IB) dilakukan sekitar 10-16 jam setelah awal berahi. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan dengan ultrasonografi (USG) pada hari ke-25 setelah IB. Data dianalisis secara deskriptif. Dari masing-masing kelompok, hanya satu ekor sapi pada K2 yang dinyatakan sembuh yaitu sapi pada kelompok kedua. Persentase sapi yang menjadi estrus pada kedua kelompok masing-masing adalah 100%. Dari tiga ekor sapi yang diinseminasi pada masing-masing kelompok, hanya satu ekor sapi pada K2 (33,3%) yang menunjukkan hasil positif bunting sedangkan pada K1 tidak terdapat sapi yang menunjukkan hasil positif (0,0%). Disimpulkan bahwa pemberian larutan lugol pada sapi Aceh yang mengalami endometritis dapat meningkatkan persentase kebuntingan sapi Aceh.
Efektivitas Pemberian Beberapa Preparat Hormon Prostaglandin Komersial terhadap Persentase Berahi Sapi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara Novika Ayuni Rambe; Tongku Nizwan Siregar; Teuku Armansyah TR; Gholib Gholib; Budianto Panjaitan; Mulyadi Adam; Dasrul Dasrul
Jurnal Agripet Vol 20, No 2 (2020): Volume 20, No. 2, Oktober 2020
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v20i2.16317

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan PGF2 analog terhadap persentase berahi sapi di Labuhanbatu Selatan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil UPSUS SIWAB tahun 2017. Dalam penelitian ini digunakan data 2.547 ekor sapi yang memiliki variasi breed dan umur, dengan skor kondisi tubuh baik. Sapi-sapi dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan preparat sinkronisasi berahi yang digunakan. K1= kelompok sapi yang diinjeksi dengan 5 ml PGF2-1 (dinoprost tromethamine 5 mg/ml dan benzil alkohol 1,65%) berjumlah 1.300 ekor. K2= kelompok sapi yang diinjeksi dengan 5 ml PGF2-2 (dinoprost tromethamine 5,5 mg/ml dan benzil alkohol 12,0 mg/ml) berjumlah 600 ekor. K3= kelompok sapi yang diinjeksi dengan 2 ml PGF2-3 (cloprostenol 75 mg/ml dan chlorocresol 1,0 mg/ml) berjumlah 647 ekor. Penyuntikan dilakukan secara intramuskulus, dua kali dengan interval 10 hari. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann Withney. Hasil analisis menunjukkan persentase berahi pada kelompok 1; 2; dan 3 masing-masing 80,7%; 50% dan 61,8% (P0,01). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa PGF2-1 mempunyai efektivitas lebih baik dibandingkan PGF2-2 dan PGF2-3 dalam induksi sinkronisasi berahi pada sapi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara.(Effectiveness of different commercial prostaglandin hormone administration on the percentage of estrous in cattles in South Labuhanbatu, North Sumatera)ABSTRACT. The aim of this study was to determine the effect of differences PGF2 analogues on the percentage of estrus in cattles in South Labuhanbatu. The sample used in this study was the 2017 SIWAB UPSUS data. Data of 2,547 cattles with various breed and age as well as in good body condition scores were selected. The cattles were grouped into three data groups based on the hormone used for estrus synchronization. The cattles in data group I (1300 cows) were injected with 5 ml PGF2-1 (dinoprost tromethamine 5 mg/ml and benzyl alcohol 1.65%). The cattles in data group II (600 cows) were injected with 5 ml PGF2-2 (5.5 mg/ml dinoprost tromethamine and 12.0 mg/ml benzyl alcohol). The cattles in data group III (647) were injected with 2 ml of PGF2-3 (cloprostenol 75 g/ml and chlorocresol 1.0 mg/ml). Injections were carried out intramuscularly, twice at 10-day intervals. The data obtained were then analyzed Kruskal Wallis and continued with Mann Withney test. The results showed that the percentage of estrus in groups I; II; and III were 80.7%; 50% and 61.8% (P0.01). From the results of the study it can be concluded that Lutalyse has better effectiveness than Capriglandin and Sincrovall in the induction of synchronization estrus in cattle in South Labuhanbatu, North Sumatera.
Hubungan Kadar Progesteron pada Fase Awal Luteal dengan Kematian Embrio pada Sapi Aceh Budianto Panjaitan; Citra Chyntia Helwana; Nellita Meutia; Yusmadi Yusmadi; Tongku Nizwan Siregar; Dasrul Dasrul; Teuku Armansyah TR
Jurnal Agripet Vol 19, No 2 (2019): Volume 19, No. 2, Oktober 2019
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v19i2.14881

Abstract

ABSTRAK. Progesteron merupakan hormon yang berperan penting dalam proses pemeliharaan kebuntingan dan dihasilkan oleh corpus luteum. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kadar hormon progesteron pada fase awal luteal dengan kematian embrio pada sapi Aceh. Dalam penelitian ini digunakan empat ekor sapi betina dewasa berumur 3-5 tahun, bobot badan 150-250 kg, sehat secara klinis, dan memiliki reproduksi normal. Sapi disinkronisasi menggunakan 5ml prostaglandin F2 alfa (PGF2) dengan pola penyuntikan ganda berinterval 11 hari. Koleksi sampel darah untuk pengukuran konsentrasi progesteron dilakukan pada hari ke-5, 6, dan 7 pasca inseminasi. Pengukuran konsentrasi progesteron dilakukan menggunakan metode enzymelinked-immunoassay (ELISA), pemeriksaan kebuntingan dan kematian embrio menggunakan metode transrektal ultrasonografi pada hari ke-25 pasca inseminasi. Pemeriksaan diulang setiap 10hari sampai hari ke-55 pasca inseminasi. Puncak sekresi progesteron pada sapi bunting dengan embrio yang bertahan hidup terdapat pada hari ke-7 (2,082 ng/ml), pada sapi Late Embryonic Mortality (LEM) di hari ke-5 (8,209 ng/ml) dan pada sapi tidak bunting di hari ke-7 (3,0511,157 ng/ml). Sekresi progesteron sapi LEM pada hari ke-5 sampai dengan ke-7 cenderung menurun sedangkan pada sapi yang bertahan hidup cenderung meningkat.(Correlation between progesterone levels in early luteal phase and embryonic death in Aceh cattle)ABSTRACT. Progesterone is an important hormone that functions to maintain pregnancy and is produced by the corpus luteum. The aim of this study was to see a correlation between progesterone and the incidence of embryonic death in Aceh cattle. This study used four adult female cows, 3-5 years old, 150-250 kg body weight, clinically healthy, and have a normal reproduction. The synchronized with 5 ml prostaglandin F2 alfa hormone, and double injection pattern with 11-day intervals. The blood was collected for progesterone measurements on 5th, 6th, 7th day post artificial insemination. Measurement of progesterone concentration was carried out using an enzymelinked-immunoassay (ELISA), while pregnancy and embryo mortality was performed using the trans-rectal ultrasonography method on the 25th day after insemination. The examination was repeated every 10 days until day 55th after insemination. Progesterone secretion peaks in pregnant cows were on day 7th (2.082 ng/ml), in cattle Late Embryonic Mortality (LEM) on day 5th (8.209 ng/ml) and in cattle not pregnant on day 7th (3.0511.157 ng/ml). The pattern of LEM progesterone secretion on days 5th to 7th tends to decrease while those that survive tend to increase.
Co-Authors A, Aulanniam Abdul Harris Aisyah Fadillah Tunnisa Akrom A, Akrom Aldyza, Nadya Amalia Sutriana Amiruddin A Amiruddin Amiruddin Amiruddin Amiruddin Andi Widjaya Anwar A Anwar A, Anwar Aris munandar Aris Munandar Arman Sayuti Arman Sayuti Ayu Agita Ginting Azhar A, Azhar Azhari A Azhari A Azuryati Basuki B. Purnomo budianto panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Budianto Panjaitan Citra Chyntia Helwana Cut Dahlia Iskandar Cut Mentari Fatihah Amran Cut Nila Thasmi, Cut Nila Danil, M Dasrul Dasrul Desita, Ella Dwinna Aliza Dwinna Aliza Erdiansyah Rahmi Fauziah Fauziah Fitra Aji Pamungkas Fitra Aji Pamungkas, Fitra Fitriani Fitriani Gholib G, Gholib Gholib Gholib Ginta Riady Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin Hafizuddin, H Hamdan h Hamdan h Hamdan Hamdan Hamdan Hamdan Hamdani Budiman Hamdani Budiman Hamny Sofyan Hanum Harfinda Harizqi Fatwa Lingga Herri alfian Husnur rizal Husnur rizal Husnurrizal . Idayani, Vera Indriany, Sudi Isa, M Ismail Ismail Juli Melia Juli Melia Justika, Wulan Khalifah, Hadid Lingga Surya Maret Daulay M Nur Salim M. Aris Widodo Mahdi Abrar Muhammad Hambal Muhammad Hanif Muhammad Hasan Muhammad Rifki Muhammad Rifki Muhibuddin Mulyadi Adam Mulyadi Adam, Mulyadi Muslim Akmal Muslim Akmal Mustafa Sabri Mutiasari, Intan Nellita Meutia Nellita Meutia Nellita Meutia, Nellita Novika Ayuni Rambe Nuzul Asmilia Nuzul Asmilia Okta Hilda Kadar, Okta Hilda R Roslizawaty, R Rahmandi r Rahmandi r Rasmaidar Rasmaidar Razali R Razali R Razali Razali Rinidar Rinidar Roslizawaty Roslizawaty, Roslizawaty Rosmaidar Rosmaidar Rosmaidar Rosmaidar, Rosmaidar Saddat Nasution Saddat Nasution, Saddat Silvana, Sartika Siregar, Tongku N. Siti Aisyah Siti Rizki Hardyana Siregar Sri Wahyuni Sudi Indriany Sugito Sugito Sulasmi Sulasmi Susanti, Yenni Sutiman B. Sumitro Syafruddin s Syafruddin S Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin Syafruddin, S T. Fadrial Karmil Taufiq Purna Nugraha, Taufiq Purna Teuku Reza Ferasyi Teuku Reza Ferasyi, Teuku Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Triva Murtina Lubis Ummu Balqis Winaruddin Winaruddin Yulia Santi Yuliana Yuliana Yusmadi Yusmadi Yusniah Zainuddin Zainuddin