Claim Missing Document
Check
Articles

The Determination of Best Fishing Gear for Small Pelagic Fisheries at Central Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province Dareen Nadya Rema; Mulyono Sumitro Baskoro; Mohammad Imron; Muhammad Johar Rudin
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 13 No. 2 (2022): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmf.v13i2.37642

Abstract

The potential condition of fishery sector is indeed quite large in Central Bangka Regency. The majority of fishermen in Central Bangka Regency still use traditional fishing gear and simple fishing technology. The number of fishing units used in Central Bangka Regency consists of 370 units of lift net, 1,085 units of gillnets, 129 units of bubu, 60 units of sero, 125 units of fishing rods and 4 beach seines with a fleet of 1,767 (DKP Central Bangka Regency 2019). These types of fishing gear need to be assessed for performance and selected for superior fishing units as a form of optimizing to find out the strategy for developing appropriate and superior fishing units for the fisheries sector in the mining sector in Central Bangka Regency. The method of collecting data on fishing units was carried out by accidental sampling. The number of samples taken according to the category of fishing units were 20 units of lift net, 58 units of gill nets, 8 units of bubu, 3 units of sero, 10 units of fishing rods and 1 beach seines. Based on the results of standardization of technical aspects, environmental aspects, social aspects and economic aspects, the analysis of fishing gear gillnets is the most appropriate fishing gear to be developed in Central Bangka Regency with VA = 13.26 which makes gillnets gear priority I. Priority fishing gear II is a fishing rod with VA = 12.87 and priority III is a lift net with VA = 11.56. Keywords: superior fishing gear, sustainable fishing, Central Bangka Regency
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH (UKM) PENGOLAHAN IKAN ASAP YANG BERORIENTASI PASAR DI KABUPATEN BONE Rafi Ohorella; Mulyono S. Baskoro; Sri Harijati
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol. 23 No. 2 (2022)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/jmst.v23i2.2030.2022

Abstract

This study aims to examine the conditions of, and formulate a strategy for, developing smoked fish processing in small and medium enterprises (SMEs) in Bone Regency. Methods of data collection include interviews, field observations, and documentation with questionnaires. Method of data analysis include descriptive analysis of the conditions and characteristics of smoked fish processing SMEs, SWOT (Strength-Weakness-Opportunities-Threat) analysis and QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) methods to formulate priority strategies for developing smoked fish processing SMEs. The results show the following conditions of smoked fish processing in Bone Regency: 100% of the SMEs use simple technologies, 79% have low education, 91.94% of the workforce was of productive age. The SMEs development strategies that can be learned include strategies for establishing cooperative relationships and government support in promoting smoked fish processed products, strategies for developing smoked fish processing SMEs with training and counseling programs from relevant agencies, strategies for implementing the latest processing technological innovations by renewing infrastructures of facilities, as well as strategies for completing business permits and legalities.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi dan merumuskan strategi pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) pengolahan ikan asap di Kabupaten Bone. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi dengan kuesioner sebagai alat bantu.  Analisis dilakukan secara deskriptif terhadap kondisi dan karakteristik UKM pengolah ikan asap. Analisis iSWOT dan metode QSPM untuk merumuskan prioritas strategi pengembangan UKM pengolahan ikan asap. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi pengolah ikan asap di Kabupaten Bone 100% menggunakan teknologi sederhana, 79% memiliki pendidikan rendah, serta umur tenaga kerja produktif sebanyak 91,94% dan strategi pengembangan UKM yang dapat di ambil adalah strategi menjalin hubungan kerjasama dan dukungan pemerintah dalam mempromosikan produk olahan ikan asap, strategi peningkatan/pengembangan UKM pengolahan ikan asap dengan program pelatihan dan penyuluhan dari dinas terkait, strategi penerapan inovasi-inovasi teknologi pengolahan terkini dengan pembaharuan sarana prasarana, serta strategi penyelesaian perizinan dan legalitas usaha.
TEKNIK PENANGANAN KOMPONEN SISA PADA OPERASI INDUSTRI PENANGKAPAN IKAN YANG BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI BLANAKAN Mustaruddin; Diana Agustina; Gondo Puspito; Mulyono S. Baskoro; Syifa Nurul Aini
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 7 No. 1 (2023): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.7.1.063-073

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis keragaan komponen sisa dan menyusun teknik penanganannya pada operasi industri penangkapan ikan yang berbasis di PPP Blanakan. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi, model PPA, dan analisis porsi tertimbang. Komponen sisa dari kelebihan stok perbekalan pada operasi industri penangkapan ikan adalah sisa BBM (rata-rata 38,5 l/kapal), sisa air tawar (rata-rata 117,5 l/kapal), dan sisa es balok (rata-rata 5,3 balok/kapal). Adapun komponen sisa dari dampak aktivitas operasi kapal adalah tumpahan BBM dan oli, serta sampah melaut, terutama kemasan plastik. Teknik produksi bersih untuk penanganan komponen sisa pada operasi industri penangkapan ikan yang berbasis di PPP Blanakan adalah (a) memberi pelatihan perencanaan cermat perbekalan BBM (rethink), (b) mengurangi perbekalan es balok (reduce), (c) penggunaan kembali sisa air tawar untuk membersihkan peralatan (reuse), (d) memperbaiki instalasi yang bocor (refine) dan memberi pelatihan peningkatan kesadaran akan dampak tumpahan BBM dan oli (rethink), dan (e) mengurangi perbekalan berkemasan plastik (reduce). Kata kunci: air tawar, industri penangkapan ikan, komponen sisa, model PPA, pelabuhan perikanan, produksi bersih
PENGARUH PERUBAHAN INTENSITAS CAHAYA LED-RGB TERHADAP KEBERADAAN IKAN PADA BAGAN TANCAP Sumardi Sadi; Sri Mulyati; Adi Susanto; Sugeng Hari Wisudo; Wazir Mawardi; Mulyono S Baskoro
Simposium Nasional Mulitidisiplin (SinaMu) Vol 2 (2020): Simposium Nasional Multidisiplin (SinaMu)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.148 KB) | DOI: 10.31000/sinamu.v2i0.3493

Abstract

Bagan tancap adalah salah satu alat untuk menangkap ikan, dengan alat utama adalah cahaya lampu. Permasalahan yang ada pada saat ini adalah dalam mematikan dan menyalakan lampu dengan cara manual, sehingga menyebabkan ikan keluar dari catablearea, dan kurang efektif. Salah satu pendekatan dan solusi  adalah menyalakan dan mematikan lampu dengan otomatis dan bergantian secara halus, sehingga ikan tidak terkejut, tidak keluar dari catablearea, sehingga efektif dan efisien yaitu menggunakan LED-RGB sistem modulasi lebar pulsa atau Pulse Width Modulation (PWM). Hasil penelitian menunjukkan tingkah laku ikan dipengaruhi oleh perubahan intensitas cahaya dari warna biru ke hijau (B-H) ataupun dari warna hijau ke merah (H-M). Perubahan tingkah laku ikan dapat mendekat, berkumpul dan terkonsentrasi membentuk kawanan ikan. Selama terjadi perubahan warna B-H dan H-M keberadaan ikan tetap berada pada zona pencahayaan LED-RGB (catchablearea). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian LED RGB berpengaruh untuk mempertahankan keberadaan ikan tetap berada di catablearea dan terjadi penurunan sekitar 4%. Kata Kunci: LED-RGB, Remote-control, Intensitas-cahaya, PWM, Attraktor-Ikan AbstractThe step-on chart is one of the tools to catch fish, with the main tool being the light. The problem that exists at this time is in turning off and turning on the lights manually, causing the fish to come out of the catable area, and less effective. One approach and solution is to turn the lights on and off automatically and alternately smoothly, so that the fish are not surprised, do not come out of the catable area, so that it is effective and efficient, namely using the LED-RGB pulse width modulation system or Pulse Width Modulation (PWM). The results showed that fish behavior was influenced by changes in light intensity from blue to green (B-G) or from green to red (H-M). Changes in fish behavior can approach, gather and be concentrated to form a school of fish. During the B-H and H-M color changes, the fish remains in the LED-RGB (catchablearea) lighting zone. The results showed that the use of RGB LEDs had an effect on maintaining the presence of fish in the catable area and decreased by about 4%. Keywords: RGB-LED, Control-remote, Light-intensity, PWM, Fish-attractor
Strategi Pengembangan Penangkapan Rajungan (Portunus pelagicus) dengan Bubu di Muara Gembong Kabupaten Bekasi Achmad Indar Wijaya; Chandra Nainggolan; Mulyono Baskoro
Buletin Jalanidhitah Sarva Jivitam Vol 5, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bjsj.v5i1.11392

Abstract

Penelitian ini bertujuan mencari strategi dan mengambil prioritas strategi yang dapat dilakukan dalam upaya mengembangkan perikanan rajungan di perairan Teluk Jakarta, khususnya bagi nelayan Muara Gembong Kabupaten Bekasi. Bubu rajungan  dari beberapa aspek internal dan eksternal menunjukan bahwa alat tangkap ini adalah alat tangkap yang ramah lingkungan  di bandingkan dengan alat penangkap rajungan lainya seperti  payang dan arad. Penelitian dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan yaitu pada bulan Januari - Februari 2021 di Kec. Muara Gembong, Kabupaten Bekasi - Provinsi Jawa Barat. Metode strategi yang digunakan adalah analisis SWOT dengan pendekatan Strength, Weakness, Opportunity, Threats (SWOT) serta menggunakan metode Quantitative Strategic Planing Matrix (QSPM) dalam memilih prioritas strategi. Strategi terpilih adalah Stength Opportunity (SO), prioritas strateginya adalah Modernisasi alat tangkap dengan nilai Total Attractive Score (TAS) 4,2439, pengendalian jumlah alat tangkap (4,0715), peningkatan kapasitas SDM nelayan (3,6098) serta peningkatan sarana dan prasarana pendukung (3,317).
Komposisi dan distribusi ukuran hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu Mokhamad Dahri Iskandar; Sugeng Hariwisudo; Budi Hascaryo Iskandar; Mulyono S Baskoro
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.249 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.3.18580

Abstract

Bycatch is non-target species which mostly caught at fishing operation. High quantity of bycatch mortality was predicted as one factor of fish stock depletion. Additionally, the high demand to improve fisheries production will be able to lead over fishing. This situation will affect improvement of bycatch and discarded species which will endanger the fish stock. The objective of this research was to identify bycatch composition, ratio between target species and bycatch and size distribution of dominant bycatch at yellow tail fishing operation in Seribu Islands. The research was carried out at Seribu Islands on July-August 2020. The fishing activity used pot with size length x width x height : 100 x 75 x 32.5 cm. Result of research indicated that yellow tail pot bycatch was dominated by brownstripe snapper (Lutjanus vitta) with catch amount of 330 fishes ( 15.9% of total catch) and weight of 50,861 kg (11.5% of total catch weight) followed by squirrelfishes (Sargocentron rubrum) with catch amount of 324 fishes (15.6 % of total catch) and weight of 51,181 kg (11.6%). Another dominant bycatch was striped spinecheek (Scolopsis margaritiferus) with catch amount of 289 fishes (13.9% of total catch) and weight of 40,042 kg (9.1% of total weight). Ratio of target of catch : bycatch in weight was 42.6% : 57.4%. It means, to catch 1 kg of yellow tail there will be caught 1.7 kg bycatch. Total length size of brownstripe snapper at range of 12-27 cm, squirrelfishes at range of 9-27 cm and striped spinecheek at range of 11-29 cm.Keywords:BycatchPotDiscard speciesYellow tailCatch compositionABSTRAKHasil tangkapan sampingan merupakan spesies hasil tangkapan non target yang relatif tinggi tertangkap pada operasi penangkapan. Tingginya jumlah kematian hasil tangkapan sampingan diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya stok sumberdaya ikan di seluruh penjuru dunia. Adanya permintaan yang tinggi untuk meningkatkan produksi perikanan dapat memicu peningkatan upaya penangkapan secara berlebihan. Kondisi ini mengakibatkan hasil tangkapan sampingan akan meningkat dengan meningkatnya upaya penangkapan sehingga membahayakan stok dan populasi sumberdaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi hasil tangkapan sampingan, rasio antara hasil tangkapan utama dengan hasil tangkapan sampingan dan ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada operasi penangkapan ikan ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu. Penelitian dilakukan di Perairan Kepulauan Seribu pada bulan Juli-Agustus 2020 dengan menggunakan bubu ekor kuning (ukuran p x l x t : 100 x 75 x 32,5 cm). Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning didominasi oleh ikan kakap (Lutjanus vitta) dengan total jumlah hasil tangkapan mencapai 330 ekor ( 15,9%) dengan total bobot mencapai 50.861 kg (11,5%) disusul oleh ikan swanggi (Sargocentron rubrum) mencapai 324 ekor (15,6 %) dengan total bobot hasil tangkapan sebesar 51.181 kg (11,6%) dan ikan serak (Scolopsis margaritiferus) dengan jumlah hasil tangkapan mencapai 289 ekor (13,9%) dan bobot sebesar 40.042 kg (9,1%) dari total bobot hasil tangkapan bubu ekor kuning. Proporsi bobot hasil tangkapan utama dibanding dengan hasil tangkapan sampingan adalah 42,6% : 57,4%. Hal ini berarti untuk menangkap 1 kg ekor kuning maka akan tertangkap 1,354 kg hasil tangkapan sampingan. Ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada bubu ekor kuning meliputi ikan kakap yang tertangkap pada selang ukuran panjang total 12-27 cm, ikan swanggi dengan selang ukuran panjang total berkisar 9-27 cm dan ikan serak dengan selang ukuran panjang total berkisar antara 11-29 cm.Kata kunci:Hasil tangkapan sampinganBubuDiscard spesiesIkan ekor kuningKomposisi hasil tangkapan
Efektivitas low light emitting diode sebagai lampu pengumpul ikan untuk perikanan bagan tancap Adi Susanto; Sugeng Hari Wisudo; Mulyono Sumitro Baskoro; Mochammad Riyanto; Fis Purwangka
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.419 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.2.15582

Abstract

The effectiveness of the artificial lights on fishing activity with a fixed lift net is significant influences on the success of fishing operations. The used of color and intensity must be adjusted to the preferences, response and behavior of the target fish, due to the fish can be more quickly attracted and concentrated in the catchable area. The development of LED technology as an energy-saving lamp has a great opportunity to be applied as a fishing lamp for fixed lift net fisheries. The purpose of this study is to determine the effectiveness of low power LEDs as a fishing lamp based on fish behavioral response. The study was conducted on a research field laboratory that was built in the waters of the Banten Bay in July - August 2018. Test fish were collected from catches of the guiding barrier around the research vehicle. Data on response and behavior of fish to fluorescent lights, blue, green and white LEDs were recorded using 360 ° sonar and side imaging sonar. The results showed the green LEDs had better effectiveness in attracting, focusing and concentrating fish in the main zone than other types of lights. The fish gather more quickly, form groups and have a stable and consistent swimming pattern in the main lighting zone. Green LED is more appropriate to be used as a fishing lamp on fixed lift net fishing with an optimum intensity range of 4-20 μW cm².Keywords: Light, Intensity, Optimum, Response, BehaviorABSTRAKEfektivitas lampu yang digunakan pada proses penangkapan dengan bagan tancap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasi penangkapan ikan. Intensitas dan warna yang digunakan harus disesuaikan dengan preferensi, respons dan tingkah laku ikan target sehingga ikan lebih cepat terkumpul dan terkonsentrasi pada catchable area. Perkembangan teknologi LED sebagai lampu hemat energi berpeluang besar digunakan sebagai fishing lamp untuk perikanan bagan tancap. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas low power LED sebagai lampu pemikat ikan berdasarkan aspek respons dan tingkah laku ikan. Penelitian dilakukan pada wahana penelitian yang dibangun di perairan Teluk Banten pada bulan Juli - Agustus 2018. Ikan uji diperoleh dari hasil tangkapan sero yang berada di sekitar wahana penelitian. Data respons dan tingkah laku ikan terhadap lampu neon, LED biru, hijau dan putih direkam menggunakan sonar 360° dan side imaging sonar. Hasil penelitian menunjukkan LED hijau memiliki efektivitas yang lebih baik dalam memikat, mengumpulkan dan mengkonsentrasikan ikan pada main zone dibandingkan jenis lampu lainnya. Ikan lebih cepat berkumpul, membentuk kelompok serta memiliki pola renang yang stabil dan konsistem di zona utama pencahayaan. LED hijau lebih tepat digunakan sebagai fishing lamp pada bagan tancap dibandingkan jenis lampu lainnya dengan intensitas optimum antara 4-20 μW/cm².Kata kunci: Cahaya, Intensitas, Optimum, Respons, Tingkah laku
Komposisi dan distribusi ukuran hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu Mokhamad Dahri Iskandar; Sugeng Hariwisudo; Budi Hascaryo Iskandar; Mulyono S Baskoro
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.3.18580

Abstract

Bycatch is non-target species which mostly caught at fishing operation. High quantity of bycatch mortality was predicted as one factor of fish stock depletion. Additionally, the high demand to improve fisheries production will be able to lead over fishing. This situation will affect improvement of bycatch and discarded species which will endanger the fish stock. The objective of this research was to identify bycatch composition, ratio between target species and bycatch and size distribution of dominant bycatch at yellow tail fishing operation in Seribu Islands. The research was carried out at Seribu Islands on July-August 2020. The fishing activity used pot with size length x width x height : 100 x 75 x 32.5 cm. Result of research indicated that yellow tail pot bycatch was dominated by brownstripe snapper (Lutjanus vitta) with catch amount of 330 fishes ( 15.9% of total catch) and weight of 50,861 kg (11.5% of total catch weight) followed by squirrelfishes (Sargocentron rubrum) with catch amount of 324 fishes (15.6 % of total catch) and weight of 51,181 kg (11.6%). Another dominant bycatch was striped spinecheek (Scolopsis margaritiferus) with catch amount of 289 fishes (13.9% of total catch) and weight of 40,042 kg (9.1% of total weight). Ratio of target of catch : bycatch in weight was 42.6% : 57.4%. It means, to catch 1 kg of yellow tail there will be caught 1.7 kg bycatch. Total length size of brownstripe snapper at range of 12-27 cm, squirrelfishes at range of 9-27 cm and striped spinecheek at range of 11-29 cm.Keywords:BycatchPotDiscard speciesYellow tailCatch compositionABSTRAKHasil tangkapan sampingan merupakan spesies hasil tangkapan non target yang relatif tinggi tertangkap pada operasi penangkapan. Tingginya jumlah kematian hasil tangkapan sampingan diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya stok sumberdaya ikan di seluruh penjuru dunia. Adanya permintaan yang tinggi untuk meningkatkan produksi perikanan dapat memicu peningkatan upaya penangkapan secara berlebihan. Kondisi ini mengakibatkan hasil tangkapan sampingan akan meningkat dengan meningkatnya upaya penangkapan sehingga membahayakan stok dan populasi sumberdaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi hasil tangkapan sampingan, rasio antara hasil tangkapan utama dengan hasil tangkapan sampingan dan ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada operasi penangkapan ikan ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu. Penelitian dilakukan di Perairan Kepulauan Seribu pada bulan Juli-Agustus 2020 dengan menggunakan bubu ekor kuning (ukuran p x l x t : 100 x 75 x 32,5 cm). Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning didominasi oleh ikan kakap (Lutjanus vitta) dengan total jumlah hasil tangkapan mencapai 330 ekor ( 15,9%) dengan total bobot mencapai 50.861 kg (11,5%) disusul oleh ikan swanggi (Sargocentron rubrum) mencapai 324 ekor (15,6 %) dengan total bobot hasil tangkapan sebesar 51.181 kg (11,6%) dan ikan serak (Scolopsis margaritiferus) dengan jumlah hasil tangkapan mencapai 289 ekor (13,9%) dan bobot sebesar 40.042 kg (9,1%) dari total bobot hasil tangkapan bubu ekor kuning. Proporsi bobot hasil tangkapan utama dibanding dengan hasil tangkapan sampingan adalah 42,6% : 57,4%. Hal ini berarti untuk menangkap 1 kg ekor kuning maka akan tertangkap 1,354 kg hasil tangkapan sampingan. Ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada bubu ekor kuning meliputi ikan kakap yang tertangkap pada selang ukuran panjang total 12-27 cm, ikan swanggi dengan selang ukuran panjang total berkisar 9-27 cm dan ikan serak dengan selang ukuran panjang total berkisar antara 11-29 cm.Kata kunci:Hasil tangkapan sampinganBubuDiscard spesiesIkan ekor kuningKomposisi hasil tangkapan
Efektivitas low light emitting diode sebagai lampu pengumpul ikan untuk perikanan bagan tancap Adi Susanto; Sugeng Hari Wisudo; Mulyono Sumitro Baskoro; Mochammad Riyanto; Fis Purwangka
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.15582

Abstract

The effectiveness of the artificial lights on fishing activity with a fixed lift net is significant influences on the success of fishing operations. The used of color and intensity must be adjusted to the preferences, response and behavior of the target fish, due to the fish can be more quickly attracted and concentrated in the catchable area. The development of LED technology as an energy-saving lamp has a great opportunity to be applied as a fishing lamp for fixed lift net fisheries. The purpose of this study is to determine the effectiveness of low power LEDs as a fishing lamp based on fish behavioral response. The study was conducted on a research field laboratory that was built in the waters of the Banten Bay in July - August 2018. Test fish were collected from catches of the guiding barrier around the research vehicle. Data on response and behavior of fish to fluorescent lights, blue, green and white LEDs were recorded using 360 ° sonar and side imaging sonar. The results showed the green LEDs had better effectiveness in attracting, focusing and concentrating fish in the main zone than other types of lights. The fish gather more quickly, form groups and have a stable and consistent swimming pattern in the main lighting zone. Green LED is more appropriate to be used as a fishing lamp on fixed lift net fishing with an optimum intensity range of 4-20 μW cm².Keywords: Light, Intensity, Optimum, Response, BehaviorABSTRAKEfektivitas lampu yang digunakan pada proses penangkapan dengan bagan tancap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasi penangkapan ikan. Intensitas dan warna yang digunakan harus disesuaikan dengan preferensi, respons dan tingkah laku ikan target sehingga ikan lebih cepat terkumpul dan terkonsentrasi pada catchable area. Perkembangan teknologi LED sebagai lampu hemat energi berpeluang besar digunakan sebagai fishing lamp untuk perikanan bagan tancap. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas low power LED sebagai lampu pemikat ikan berdasarkan aspek respons dan tingkah laku ikan. Penelitian dilakukan pada wahana penelitian yang dibangun di perairan Teluk Banten pada bulan Juli - Agustus 2018. Ikan uji diperoleh dari hasil tangkapan sero yang berada di sekitar wahana penelitian. Data respons dan tingkah laku ikan terhadap lampu neon, LED biru, hijau dan putih direkam menggunakan sonar 360° dan side imaging sonar. Hasil penelitian menunjukkan LED hijau memiliki efektivitas yang lebih baik dalam memikat, mengumpulkan dan mengkonsentrasikan ikan pada main zone dibandingkan jenis lampu lainnya. Ikan lebih cepat berkumpul, membentuk kelompok serta memiliki pola renang yang stabil dan konsistem di zona utama pencahayaan. LED hijau lebih tepat digunakan sebagai fishing lamp pada bagan tancap dibandingkan jenis lampu lainnya dengan intensitas optimum antara 4-20 μW/cm².Kata kunci: Cahaya, Intensitas, Optimum, Respons, Tingkah laku
Komposisi dan distribusi ukuran hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu Mokhamad Dahri Iskandar; Sugeng Hariwisudo; Budi Hascaryo Iskandar; Mulyono S Baskoro
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.3.18580

Abstract

Bycatch is non-target species which mostly caught at fishing operation. High quantity of bycatch mortality was predicted as one factor of fish stock depletion. Additionally, the high demand to improve fisheries production will be able to lead over fishing. This situation will affect improvement of bycatch and discarded species which will endanger the fish stock. The objective of this research was to identify bycatch composition, ratio between target species and bycatch and size distribution of dominant bycatch at yellow tail fishing operation in Seribu Islands. The research was carried out at Seribu Islands on July-August 2020. The fishing activity used pot with size length x width x height : 100 x 75 x 32.5 cm. Result of research indicated that yellow tail pot bycatch was dominated by brownstripe snapper (Lutjanus vitta) with catch amount of 330 fishes ( 15.9% of total catch) and weight of 50,861 kg (11.5% of total catch weight) followed by squirrelfishes (Sargocentron rubrum) with catch amount of 324 fishes (15.6 % of total catch) and weight of 51,181 kg (11.6%). Another dominant bycatch was striped spinecheek (Scolopsis margaritiferus) with catch amount of 289 fishes (13.9% of total catch) and weight of 40,042 kg (9.1% of total weight). Ratio of target of catch : bycatch in weight was 42.6% : 57.4%. It means, to catch 1 kg of yellow tail there will be caught 1.7 kg bycatch. Total length size of brownstripe snapper at range of 12-27 cm, squirrelfishes at range of 9-27 cm and striped spinecheek at range of 11-29 cm.Keywords:BycatchPotDiscard speciesYellow tailCatch compositionABSTRAKHasil tangkapan sampingan merupakan spesies hasil tangkapan non target yang relatif tinggi tertangkap pada operasi penangkapan. Tingginya jumlah kematian hasil tangkapan sampingan diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya stok sumberdaya ikan di seluruh penjuru dunia. Adanya permintaan yang tinggi untuk meningkatkan produksi perikanan dapat memicu peningkatan upaya penangkapan secara berlebihan. Kondisi ini mengakibatkan hasil tangkapan sampingan akan meningkat dengan meningkatnya upaya penangkapan sehingga membahayakan stok dan populasi sumberdaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi hasil tangkapan sampingan, rasio antara hasil tangkapan utama dengan hasil tangkapan sampingan dan ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada operasi penangkapan ikan ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu. Penelitian dilakukan di Perairan Kepulauan Seribu pada bulan Juli-Agustus 2020 dengan menggunakan bubu ekor kuning (ukuran p x l x t : 100 x 75 x 32,5 cm). Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning didominasi oleh ikan kakap (Lutjanus vitta) dengan total jumlah hasil tangkapan mencapai 330 ekor ( 15,9%) dengan total bobot mencapai 50.861 kg (11,5%) disusul oleh ikan swanggi (Sargocentron rubrum) mencapai 324 ekor (15,6 %) dengan total bobot hasil tangkapan sebesar 51.181 kg (11,6%) dan ikan serak (Scolopsis margaritiferus) dengan jumlah hasil tangkapan mencapai 289 ekor (13,9%) dan bobot sebesar 40.042 kg (9,1%) dari total bobot hasil tangkapan bubu ekor kuning. Proporsi bobot hasil tangkapan utama dibanding dengan hasil tangkapan sampingan adalah 42,6% : 57,4%. Hal ini berarti untuk menangkap 1 kg ekor kuning maka akan tertangkap 1,354 kg hasil tangkapan sampingan. Ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada bubu ekor kuning meliputi ikan kakap yang tertangkap pada selang ukuran panjang total 12-27 cm, ikan swanggi dengan selang ukuran panjang total berkisar 9-27 cm dan ikan serak dengan selang ukuran panjang total berkisar antara 11-29 cm.Kata kunci:Hasil tangkapan sampinganBubuDiscard spesiesIkan ekor kuningKomposisi hasil tangkapan
Co-Authors A. Fauzi A. Fauzi A. Purbayanto Abdul Hanan Abdul Kohar Mudzakir Achmad Indar Wijaya Adi Saputra Adi Susanto Adi Susanto Adi Susanto Ady Candra Agnes P. Sudarmo Agus Atmadipoera Agus Santoso Agus Suherman Agus Wahyu Santoso Agustinus Tupamahu Akhmad Fauzi Aksa Azhari Aminullah Alberth Ch Nanlohy Ali Muqsit Am Azbas Taurusman Am Azbaz Taurusman Anggraini, Atika Anjaya Purwa Wiyastra Anwar Bey Pane Anwar, Yanto Arfani Mukrim Ari Purbayanto Arif Satria Aristi Dian Arzali Asep Ma'mun Ateng Supriatna Axeline Estherina Simanjuntak Ayu Wulandari Azis, Ravy Nur Aziz, Ravy Nur Bambang Murdiyanto Bambang Murdiyanto Bambang Murdiyanto Bambang Murdiyanto Bartho, Seldi Benaya M. Simeon Bimasakti, Yudha Budhi H Iskandar Budhi H Iskandar Budhi H Iskandar Budhi H. Iskandar Budhi H. Iskandar Budhi H. Iskandar Budhi Hascaryo Iskandar Budi Hascaryo Budi Hascaryo Budi Hascaryo Iskandar Budi Nugraha Budiman, M. Syarif Budy Wiryawan Bunasor Sanim Burhanis Burhanis Chandra Nainggolan D Manurung Dahri Iskandar Dahri Iskandar Daniel Monintja Daniel R Monintja Daniel R Monintja Daniel R. Monintja Daniel R. Monintja Daniel R. Monintja Daniel Rezki Danu Sudrajat Dareen Nadya Rema Dedi Soedharma Dedy H. Sutisna Deni Achmad Soeboer Deselina M.W. Kaleka Diana Agustina Didik Santoso Didik Santoso Dietriech Geoffrey Bengen Diniah Diniah Djodie Rizky Prima Domu Simbolon Drama Panca Putra Dwi A. Gautama Eko Sri Wiyono Erfind Nurdin Erfind Nurdin Erna Almohdar Ernani Lubis Estu Nugroho Fadlt Syamsudin Firdaus Basbeth Firman Kurniawan Fis Purwangka Fonny J.L. Risamasu Fuad Gentio Harsono Gondo Puspito Hafinuddin Hafinuddin Hanifa, Irfan Hansje Matakupan Hariwisudho, Sugeng Herie Saksono Hiariey, J. Hiariey, Johanis Hutagalung, Bronx Andar Iin Solihin Iin Solihin Ilham Fajri, Ilham Indra Ambalika Syari Indra Ambalika Syari Indra Jaya Indra Jaya J Hiariey Jabbar, Meuthia Aula Jaliadi - Jeti Pulu Johanis Hiariey Johanis Hiariey John Haluan John Haluan John Haluan John Haluan John Haluan Joko Santoso Karman, Amirul Karnan Karnan Khrisna Samudra Krishna Samudra Kunarso Kunarso Kurman, Mathilda Kurnia, Triono Aries Kusnandar Kusnandar La Anadi Laitupa, Jufri Pachri Lilik Muzayanah Luh Putu Ratna Sundari M Yasin U.P Olii M. Fedi A. Sondita M. Fedi A. Sondita M. Fedi A. Sondita M. Nizar Dahlan M. Nizar Dahlan Mahiswara Mahiswara Matakupan, Hansje Mochammad Riyanto Mohamad Gazali Mohammad Imron Mokhamad Dahri Iskandar Muhamad Fedi Alfandi Sondita Muhamad Fedi Alfiadi Sondita Muhammad Agam Thahir Muhammad Agam Thahir Muhammad Ihsan Muhammad Imron Muhammad Imron Muhammad Johar Rudin Muhammad Sulaiman Muhammad Sulaiman Muhammad Wildy Kamaali Mujizat Kawaroe Mulyati, Sri . Mulyono Partosuwirjo Mulyono Partosuwirjo Mustaruddin Nasruddin Nasruddin Nasruddin Nasruddin Nining S Ningsih Nining Sari Ningsih Nopriyanti Nur Lina Maratana Nabiu Nurhasanah Oktariza, Wawan Picaulima, Simon M. Pipih Suptijah Posundu, Ronald S A Prasetiyo, Shidiq Lanang Prihatin Ika Wahyuningrum Putra, Demo Buana Rafi Ohorella Rahmad, Adrul Rahmat Kurnia Raihan, M. Reza Raihan, Muhamad Reza Raihanah Raihanah Ratih Kusumastuti Ridwan Mulyana Ridwan Mulyana Riena F. Telussa Rinda Noviyanti Rizqi Ramadhan Putra Romelus Far Far Ronny I. Wahju Roza Yusfiandayani Roza Yusfidanayani RR. Ella Evrita Hestiandari Runtu, Noriko Sadarun Sadarun Safwan Hadi Salsabila Nafri Saputra, Bonis Andrei Tri Siahainenia, Stevanus M Siti Radarwati Siti Radarwati Soehadi, Imam Soepanto Soemakaryo Soepanto Soemokaryo Soepanto Soemokaryo Sri Harijati Sri Harijati Sudrajat Danu Sudrajat, Danu Sugeng H. Wisudo Sugeng Hariwisudho Suharyanto Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Sumardi Sadi Supartono Supartono Sutia Yuningsih Syifa Nurul Aini Taeran, Imran Taufiq Taufiq Taufiq Taufiq Taufiq Tirtana, Denta Tri Hariyanto Tri Wiji Nurani Triadhi, Joko Triono Probo Pangesti Tupamahu, A. Uju Vatria, Belvi Victor Nikijuluw Vita Rumanti Kurniawati Wahdati, Fajriyah Cahyani Wardani, Puti Wazir Mawardi Welem Waileruny, Welem Wilma Amiruddin Wudianto Wudianto Yopi Novita Yudha Bimasakti Yusfiandayani, S.Pi., Dr. Roza Yusviandayani, Roza Zulkarnain Zulkarnain Zulkarnain . Zulkarnain . Zulkarnain Zulkarnain Zuriat