Claim Missing Document
Check
Articles

ASPEK BIOLOGI HASIL TANGKAPAN PANCING ULUR PADA RUMPON PORTABLE Mulyono S Baskoro; Roza Yusfiandayani; Sutia Yuningsih
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.603 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i2.19577

Abstract

Rumpon portable merupakan rumpon yang tidak diletakkan secara tetap di perairan, tetapi diletakkan pada saat akan melakukan kegiatan penangkapan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkat kematangan gonad, menganalisis hubungan isi perut hasil tangkapan dengan kelimpahan plankton yang tertarik pada rumpon portable, menganalisis indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominan plankton yang terdapat pada isi perut ikan dengan plankton yang terdapat pada perairan, menganalisis trofik level jenis ikan di sekitar rumpon portable. Metode penelitian dilakukan dengan cara experimental fishing dan uji laboratorium. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis tingkat kematangan gonad, stomach content analysis, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi, serta analisis trofik level. Total hasil tangkapan ikan sebanyak 165 ekor didominasi oleh jenis ikan kembung dan ikan tongkol. Ikan-ikan lainnya yang tertangkap yaitu jenis ikan todak, barakuda dan selar kuning. Hasil analisis menunjukkan bahwa hasil tangkapan didominasi oleh ikan dengan TKG II sebanyak 53%, dan disusul ikan dengan TKG I sebanyak 38% dari total hasil tangkapan. Ikan-ikan yang tertangkap pada penelitian ini terdiri dari ikan pemakan plankton atau plankton feeders dan ikan karnivora. Organisme yang ditemukan dalam isi perut ikan yaitu ikan kecil, cumi-cumi, fitoplankton yang terdiri dari 7 genus, serta beberapa genus dari zooplankton. Hasil tangkapan ikan terbanyak ditangkap pada pengamatan hari ke-2 dengan jumlah tangkapan sebanyak 34 ekor.
KARAKTER MORFOMETRIK DAN ASOSIASI TUNA SIRIP KUNING Thunnus albacares DAN TUNA BAMBULO Gymnosarda unicolor (Ruppell) DI PERAIRAN SIMEULUE, PROVINSI ACEH Burhanis Burhanis; Dietriech Geoffrey Bengen; Mulyono Sumitro Baskoro
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.521 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.19607

Abstract

Pulau Simeulue yang dikelilingi oleh terumbu tepi, secara geografis termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Simeulue yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tuna sirip kuning Thunnus albacares dan tuna bambulo Gymnosarda unicolor merupakan jenis epipelagik yang potensial di perairan Simeulue. Kedua jenis tuna ini belum banyak dipelajari karakter bio-ekologinya. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui karakter morfometrik dan mengkaji asosiasi spesifik tuna di perairan Simeulue. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2017, dengan metode pengamatan dan pengukuran langsung tuna hasil tangkapan nelayan yang menggunakan alat tangkap pancing ulur, dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis komponen utama (principal component analysis) dan analisis cluster. Hasil tangkapan tuna sirip kuning sebanyak 85 ekor dengan kelas ukuran 35-105 cm dan sebanyak 189 ekor tuna bambulo dengan kelas ukuran 40-110 cm. Karakter morfometrik tuna sirip kuning dan tuna bambulo yang didominasi ukuran besar terdapat di stasiun Teupah Selatan, dan dominasi ukuran kecil di stasiun Simeulue Timur. Asosiasi spesifik tuna sirip kuning dan tuna bambulo pada tingkat similaritas 80,0% membentuk 3 (tiga) kelompok.
ASOSIASI IKAN KARANG PADA ATRAKTOR CUMI-CUMI BERBAHAN PIPA PVC Danu Sudrajat; Mulyono S. Baskoro; Zulkarnain; Roza Yusfiandayani
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.532 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i2.21738

Abstract

Atraktor cumi-cumi berbahan pipa PVC terbukti sangat efektif sebagai sarana menempelnya telur cumi-cumi, dan sebagai artificial reef yang menjadi daerah baru bagi tempat ikan, karang lunak dan makroalga sehingga menjadi suatu ekosistem baru di suatu perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah ikan yang berasosiasi dengan atraktor cumi-cumi serta mengetahui tipe atraktor yang memiliki kinerja yang paling baik. Penelitian ini menggunakan 2 buah tipe atraktor yaitu Tipe 1 (T1), dan Tipe 2 (T2). Metode pengumpulan data ikan yang berasosiasi dengan atraktor cumi-cumi menggunakan metode sensus dengan menggunakan televisi sirkuit tertutup (CCTV) bawah air “SENU”. Individu yang diamati adalah yang berada di dalam dan di sekitar atraktor cumi-cumi dalam setiap jamnya, dengan jarak terluar yang diamati dari atraktor cumi-cumi sekitar 50 cm. Rata-rata ikan yang berasosiasi setiap jamnya dengan atraktor cumi-cumi T1 sebanyak 298 individu dan atraktor cumi-cumi T2 sebanyak 281 individu dari 67 spesies dari 25 Famili. Kelompok ikan target (target species) yang memiliki nilai persentase terbesar yang berasosiasi dengan atraktor cumi-cumi, dan kelompok ikan indikator (incdicator species) memiliki nilai persentase yang cukup besar pada atraktor T1 dibandingkan dengan atraktor T2.
SISTEM PENGEMBANGAN PERIKANAN IKAN TERBANG DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA TUAL Yanto Anwar; Tri Wiji Nurani; Mulyono Sumitro Baskoro
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.809 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i2.24248

Abstract

Flying fish eggs are one of the fisheries commodities that have important economic value in the waters of Tual City. Based on the Decree of the Minister of Maritime Affairs and Fisheries Number 69 of 2016 concerning the Plan for the Management of Flying Fish Fishery, several priority issues that are the problem of flying fish are; (1) fish resources and habitat; (2) social and economic; (3) governance. The flying fish fisheries management plan is expected to support policies in the management of flying fish and flying fish eggs in the Fisheries Management Region of the Republic of Indonesia. The purpose of this study is to analyze the system problem situation and build a model for the development of flying fish egg fisheries. This research method uses system approach. The four-step system approach starts from needs analysis, problem formulation, system identification and system modeling. The results showed that the root problems in flying fish egg fisheries were many ships that did not have permit documents, the availability of data on potential fish resources, the use of fishing gear that were considered environmentally unfriendly, low human resources, high fuel prices and access to capital for fishermen. The model of developing flying fish eggs consists of submodel use of environmentally friendly fishing gear and submodel of the development of flying fish egg fishing business. The problem of flying fish egg fisheries in Tual PPN can be solved by the solution of the use of environmentally friendly fishing gear for flying fish resources and the development of the fly fish egg fishing business.
STRATEGI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP TERPADU BERBASIS SUMBERDAYA UNGGULAN LOKAL: STUDI KASUS PERIKANAN CUMI DI KABUPATEN BANGKA SELATAN Mulyono S Baskoro; Mustaruddin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 3 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.57 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i3.24978

Abstract

Squid resources are the fisheries potention has important economic value in South Bangka Regency. Demand for this commodity in both fresh and processed forms is estimated to continue to increase in the future. This study aims to analyze the contribution of squid fisheries, analyze their development bases, and formulate development strategies in South Bangka Regency. This study used descriptive method, LQ analysis, and AHP method. During the period of 2009-2016, the production of squid fisheries in South Bangka Regency averaged 4187.87 tons with a contribution value of Rp87,736,058,000.00 annually. This squid production follows a polynomial pattern y = -192.1x2 + 1624.x + 1745 (R² = 0.289). The base area for squid fisheries development uses: (1) liftnet is Tukak Sadai District, Lepar Pogok District, and Toboali District, (2) boat liftnet is Pongok Islands District, and (3) squid fishing is Simpang Rimba District, Batu Betumpang District, Toboali District, and Lepar Pongok District. While the priority development strategy is the coaching of human resources for squid fisheries (priority I) and improved management of the squid fisheries business (priority II) in each base area.
PERBANDINGAN HASIL TANGKAPAN PADA RUMPON TALI RAFIA DAN RUMPON TRADISIONAL DI PERAIRAN ACEH BARAT Zuriat; Muhammad Agam Thahir; Mulyono S. Baskoro; Mohamad Gazali
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.246 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i2.25031

Abstract

Kabupaten Aceh Barat memiliki panjang garis pantai sekitar 50,55 km, dengan luas perairan lautnya sekitar 80,88 km2. Kondisi ini tidak terlepas dari letaknya yang menghadap langsung ke Samudera Hindia yang kaya akan sumberdaya ikan. Rumpon adalah suatu alat bantu pengumpul ikan yang menggunakan atraktor, seperti daun kelapa, daun pinang dan daun nipah serta benda padat lainnya yang berfungsi sebagai pemikat berkumpulnya ikan. Rumpon hanyut merupakan rumpon yang tidak menetap dan tidak dilengkapi dengan jangkar sehingga hanyut mengikuti gerakan dan arah arus, sedangkan rumpon menetap adalah rumpon yang dilengkapi dengan jangkar atau pemberat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis komposisi jenis, jumlah dan berat ikan hasil tangkapan. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Juli 2018, bertempat di perairan Aceh Barat. Data yang dikumpulkan berupa data primer, dimana pengumpulannya menggunakan metode experimental fishing. Selanjutnya, data tersebut dianalisis secara statistik menggunakan uji t. Pengamatan terhadap hasil tangkapan dilakukan hingga 18 trip terhadap rumpon tali rafia dan rumpon tradisional. Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah komposisi jenis, jumlah dan berat ikan hasil tangkapan pada kedua rumpon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpon tradisional memperoleh hasil tangkapan ikan sebanyak 7.538 ekor (61,5%) lebih banyak sebanyak daripada rumpon tali rafia sebanyak 4.821 ekor (38,5 %), dengan komposisi jenis ikan hasil tangkapan terdiri dari 7 jenis yang didominasi oleh ikan kembung. Hal ini menunjukkan bahwa rumpon tradisional lebih efektif daripada rumpon tali rafia.
TINGKAT KERAMAHAN BUBU EKOR KUNING YANG DIOPERASIKAN NELAYAN DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU Dahri Iskandar; Yudha Bimasakti; Zulkarnain .; Mulyono S Baskoro; Sugeng Hariwisudho; Budhi H Iskandar
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/maspari.v13i2.14574

Abstract

Bubu merupakan alat tangkap yang banyak digunakan untuk menangkap berbagai jenis ikan demersal dan ikan karang. Bubu memiliki keunggulan dan kelemahan dalam menangkap ikan. Adanya kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh alat tangkap bubu maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan keramahan bubu yang dioperasikan oleh nelayan di Perairan Kepulauan Seribu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bubu yang terbuat dari kawat dengan ukuran p x l x t : 87,5 x 62,5 x 27,5 cm. Data berupa ukuran, jumlah, bobot dan jenis ikan hasil tangkapan, dikumpulkan dari hasil penangkapan dan dianalisis untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukan total jumlah hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian sebanyak 624 ekor terdiri dari 23 spesies. Spesies yang dominan tertangkap adalah ikan ekor kuning (Caesio cuning) sebanyak 213 ekor, ikan ini termasuk famili Caesionidae. Distribusi ukuran ikan yang dominan tertangkap pada bubu selama penelitian memiliki panjang cagak berkisar antara 10-34 cm. Hasil tangkapan utama yang tertangkap selama penelitian memiliki bobot 83,003 gram dengan persentase 71,35%, sedangkan hasil tangkapan sampingan memiliki bobot 33,334 gram dengan proporsi 28,65%. Proporsi hasil tangkapan utama berupa ikan ekor kuning yang berukuran layak tangkap dan tidak layak tangkap adalah 48,36% : 51,64%. Bubu Ekor Kuning merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan ditinjau dari indikator alat tangkap ramah lingkungan.Kata kunci: Alat tangkap, bubu, ikan ekor kuning, Kepulauan Seribu, ramah lingkungan.
FISHING CAPACITY OF THE SMALL-PELAGIC FISHERY AT BANDA SEA, MOLUCCAS Johanis Hiariey; Mulyono S Baskoro
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 14, No 2 (2011): Volume 14, Number. 2, Year 2011
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.946 KB)

Abstract

Excessive fishing capacity is a core issue in marine capture fisheries. In relation with the capacity issue, this study was conducted to determine annual changes of fishing capacity of the small-pelagic fishery at FMA-714 Banda Sea using time-series data of 1985 until 2006 which was analyzed using data envelopment analysis (DEA) approach. The small-pelagic fishery was found to be excess capacity in 17 out of 22 DMU. And there was indication of overcapacity in the period of 1989 until 1998. The fishery had a tendency to be not efficient with the highest score of 23.7% at DMU-1998. Consequently, alternative fishery management policies are needed to reduce fishing inputs of the fishery at the FMA-714 Banda Sea.
Perubahan Kedalaman & Ketebalan Termoklin pada Variasi Kejadian ENSO, IOD & Monsun di Perairan Selatan Jawa Hingga Pulau Timor ( Charge of Thermocline Thickness & Depth on the Variation of ENSO & IOD Events in the Waters of the Southern Java to Timor Isl) Kunarso Kunarso; Safwan Hadi; Nining S Ningsih; Mulyono S Baskoro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.796 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.17.2.87-98

Abstract

Lapisan termoklin berperan dalam identifikasi kedalaman lapisan renang dari ikan tuna. Identifikasi perubahan kedalaman termoklin pada variabilitas ENSO (El Nino Southern Oscilation), IOD (Indian Oscillation Dipole Mode) dan Monsun, dikaji berdasarkan data CTD(Conductivity-Temperature-Depth) dan argofloat yang terakumulasi dalam Word Ocean Data (WOD) dari tahun 1985–2011. Data angin dari National Centre for Environmental Prediction (NCEP), data-data intensitas hujan dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan data-data indek anomali iklim global (SOI SouthOscillation Index), NINO3.4 dan IOD) digunakan untuk melengkapi analisis permasalahan. ENSO, IOD dan Monsun ditemukan semuanya berpengaruh terhadap kedalaman batas atas, batas baw ah, dan ketebalan termoklin. Secara umum ditemukan kedalaman batas atas pada musim timur lebih dalam daripada saat musim barat. Berdasarkan variasi antar tahunan iklim global ditemukan bahwa batas atas pada kejadian El Niño umumnya lebih dangkal (rerata 50,9–51,7 m) daripada saat La Niña (rerata 58,4–60,2 m). Sebaliknya batas bawah termoklin pada saat El Niño ditemukan lebih dalam (rerata 262,9–281,8 m) daripada saat La Niña (rerata 204,5–259,6 m). Ketebalan termoklin pada saat El Niño ditemukan umumnya lebih tebal (rerata 211,2–230,9 m) daripada saat La Niña (rerata 144,4–201,2 m). Faktor tingginya curah hujan sebagai indikator besarnya tutupan awan berpengaruh terhadap batas bawah termoklin, semakin tinggi curah hujan maka semakin dangkal batas bawah termoklin. Disamping faktor tersebut faktor tingginya anomali SST (seawater surface temperature) di NINO3.4 dan besarnya nilai IOD berpengaruh terhadap variabilitas kedalaman batas atas dan batas bawah termoklin. Semakin tingginya nilai anomali SST di NINO3.4 dan semakin besar nilai IOD (+) maka batas atas termoklin akan semakin dangkal dan batas bawahnya makin dalam. Kata kunci: Termoklin , ENSO, IOD, Monsun, perairan selatan Jawa, Timor   Thermocline layer is needed on depth identification of tuna-like fish swimming area. Identification of thermocline depth changes due to ENSO (El Nino Southern Oscilation), IOD (Indian Oscillation Dipole Mode) and monsoon variability were determined based on CTD(Conductivity-Temperature-Depth) and argofloat data accumulated in the Word Ocean Data (WOD) from 1985–2011. The wind data was collected from National Centre for Environmental Prediction (NCEP), rainfall intensity (from Indonesian Meteorology and Climatology Agency), and climate anomaly index of global climate change (SOI (SouthOscillation Index), NINO3.4 and IOD) were also used to support problem analysis. ENSO, IOD and monsoon determined as influencing upper and lower threshold and thermocline thickness. In general the depth of upper threshold in the eastern monsoon was deeper compare to in the western monsoon. It was also identified that, based on global climate annual variation, the upper threshold during El Niño fenomenon was shallower (average range of 50.9 m–51.7m) compare to the threshold during La Niña (58.4 m–60.2 m). On the other side the lower threshold during El Niño was deeper (262.9m–281.8 m) compare to the threshold during La Niña (204.5 m–259.6 m). The thermocline thickness itself during El Niño was found thicker (211.2 m–230.9 m) compare to La Niña (144.4 m–201.2 m). Heavy rainfall precipitation, as an indicator of cloud coverage, was determined as influencing the thermoc line lower threshold where the bigger rainfall precipitation the shallower lower threshold found. The high anomaly of Sea Surface Temperature (SST) in NINO3.4 and high value of IOD was also significantly influenced the thermocline upper and lower threshold variability. The higher anomaly value of SST in NINO3.4 and the bigger IOD(+) value resulting shallower upper threshold and deeper lower threshold. Key words: Thermocline, ENSO, IOD, Monsoon, southern waters of Java, Timor
Studi Tingkah Laku Ikan pada Proses Penangkapan dengan Alat Bantu Cahaya : Suatu Pendekatan Akustik Muhammad Sulaiman; Indra Jaya; Mulyono S Baskoro
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.426 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.1.31-36

Abstract

Makalah ini menguraikan tentang hasil penelitian tingkah laku ikan di sekitar daerah pencahayaan selama proses penangkapan melalui pendekatan akustik. Tujuan studi adalah mengidentifikasi pola tingkah laku ikan yang berhubungan dengan operasi penangkapan ikan yang menggunakan cahaya. Secara khusus akan dianalisis pola sebaran ikan sebelum dan setelah proses penangkapan, pola kedatangan ikan dan pola tingkah laku ini di sekitar sumber pencahayaan. Penelitian dilakukan di perairan Kabupaten Barru, Selat Makassar (4° 19’ 19,9" Lintang Selatan – 119° 16’ 201" Bujur Timur) dengan menggunakan instrumen side scan sonar. Analisis deskriptif dilakukan untuk menjelaskan pola tingkah laku ikan pada daerah yang disinari. Hasil penelitian menunjukkan kawanan ikan akan ada yang langsung menuju ke sumber cahaya dan ada yang tidak, dan datang pada berbagai kedalaman tergantung pada kedalaman renangnya masing-masing. Kecepatan gerak kawanan ikan mendekati bagan  berkisar 0,57 m/detik dan di sekitar pencahayaan sebesar 0,21 m/detik. Kawanan ikan cenderung bergerak dalam pola yang teratur mengelilingi sumber cahaya, dan akan semakin terkonsentrasi di sekitar daerah tangkapan  pada saat lampu yang berada di bawah bingkai bagan dipadamkan. Di dalam daerah pencahayaan, pola distribusi ikan cenderung berbentuk bola (spherical) dan berbentuk pita (ribbon) secara vertikal di luar daerah pencahayaan Kata kunci: pendekatan akustik, tingkah laku ikan This paper describes the results of fish behavior study  around illuminated area during capture process through acoustic approach. The objective of this study is to identify the pattern of fish behavior related to the operation of fishing gear using light. This research specifically aims to analyze the pattern of fish distribution before and after the capture process, to analyze the arrival pattern and to analyze fish behavior around the light source. This research was conducted in Barru Regency waters, Makassar Strait (4° 19’ 19,9" S. Lat. – 119° 16’ 201" E. Lon.) using Side Scan Sonar Instrument. Descriptive analysis was employed to examine the behavioral pattern around the given illumination area. The result shows that there are some fish came directly to the light source and  stay in the vicinity of the illuminated area while others are outside of that area. The fish school  approaching the illuminated area was found at the depth of 5-10 meters and 20-30 meters. The fish school movement speed approaching the Bagan Rambo reached 0.57 m/s and 0.21 m/s when fish school was around the illuminated area. The fish school tends to move in regular pattern encircling the light source and became concentrated once the light is turned off. In the illuminated area the shape of the fish school tend to be spherical, while outside of the area is tend to be in the shape of ribbon. Key words: acoustic approach, fish behaviour
Co-Authors A. Fauzi A. Fauzi A. Purbayanto Abdul Hanan Abdul Kohar Mudzakir Achmad Indar Wijaya Adi Saputra Adi Susanto Adi Susanto Adi Susanto Ady Candra Agnes P. Sudarmo Agus Atmadipoera Agus Santoso Agus Suherman Agus Wahyu Santoso Agustinus Tupamahu Akhmad Fauzi Aksa Azhari Aminullah Alberth Ch Nanlohy Ali Muqsit Am Azbas Taurusman Am Azbaz Taurusman Anggraini, Atika Anjaya Purwa Wiyastra Anwar Bey Pane Anwar, Yanto Arfani Mukrim Ari Purbayanto Arif Satria Aristi Dian Arzali Asep Ma'mun Ateng Supriatna Axeline Estherina Simanjuntak Ayu Wulandari Azis, Ravy Nur Aziz, Ravy Nur Bambang Murdiyanto Bambang Murdiyanto Bambang Murdiyanto Bambang Murdiyanto Bartho, Seldi Benaya M. Simeon Bimasakti, Yudha Budhi H Iskandar Budhi H Iskandar Budhi H Iskandar Budhi H. Iskandar Budhi H. Iskandar Budhi H. Iskandar Budhi Hascaryo Iskandar Budi Hascaryo Budi Hascaryo Budi Hascaryo Iskandar Budi Nugraha Budiman, M. Syarif Budy Wiryawan Bunasor Sanim Burhanis Burhanis Chandra Nainggolan D Manurung Dahri Iskandar Dahri Iskandar Daniel Monintja Daniel R Monintja Daniel R Monintja Daniel R. Monintja Daniel R. Monintja Daniel R. Monintja Daniel Rezki Danu Sudrajat Dareen Nadya Rema Dedi Soedharma Dedy H. Sutisna Deni Achmad Soeboer Deselina M.W. Kaleka Diana Agustina Didik Santoso Didik Santoso Dietriech Geoffrey Bengen Diniah Diniah Djodie Rizky Prima Domu Simbolon Drama Panca Putra Dwi A. Gautama Eko Sri Wiyono Erfind Nurdin Erfind Nurdin Erna Almohdar Ernani Lubis Estu Nugroho Fadlt Syamsudin Firdaus Basbeth Firman Kurniawan Fis Purwangka Fonny J.L. Risamasu Fuad Gentio Harsono Gondo Puspito Hafinuddin Hafinuddin Hanifa, Irfan Hansje Matakupan Hariwisudho, Sugeng Herie Saksono Hiariey, J. Hiariey, Johanis Hutagalung, Bronx Andar Iin Solihin Iin Solihin Ilham Fajri, Ilham Indra Ambalika Syari Indra Ambalika Syari Indra Jaya Indra Jaya J Hiariey Jabbar, Meuthia Aula Jaliadi - Jeti Pulu Johanis Hiariey Johanis Hiariey John Haluan John Haluan John Haluan John Haluan John Haluan Joko Santoso Karman, Amirul Karnan Karnan Khrisna Samudra Krishna Samudra Kunarso Kunarso Kurman, Mathilda Kurnia, Triono Aries Kusnandar Kusnandar La Anadi Laitupa, Jufri Pachri Lilik Muzayanah Luh Putu Ratna Sundari M Yasin U.P Olii M. Fedi A. Sondita M. Fedi A. Sondita M. Fedi A. Sondita M. Nizar Dahlan M. Nizar Dahlan Mahiswara Mahiswara Matakupan, Hansje Mochammad Riyanto Mohamad Gazali Mohammad Imron Mokhamad Dahri Iskandar Muhamad Fedi Alfandi Sondita Muhamad Fedi Alfiadi Sondita Muhammad Agam Thahir Muhammad Agam Thahir Muhammad Ihsan Muhammad Imron Muhammad Imron Muhammad Johar Rudin Muhammad Sulaiman Muhammad Sulaiman Muhammad Wildy Kamaali Mujizat Kawaroe Mulyati, Sri . Mulyono Partosuwirjo Mulyono Partosuwirjo Mustaruddin Nasruddin Nasruddin Nasruddin Nasruddin Nining S Ningsih Nining Sari Ningsih Nopriyanti Nur Lina Maratana Nabiu Nurhasanah Oktariza, Wawan Picaulima, Simon M. Pipih Suptijah Posundu, Ronald S A Prasetiyo, Shidiq Lanang Prihatin Ika Wahyuningrum Putra, Demo Buana Rafi Ohorella Rahmad, Adrul Rahmat Kurnia Raihan, M. Reza Raihan, Muhamad Reza Raihanah Raihanah Ratih Kusumastuti Ridwan Mulyana Ridwan Mulyana Riena F. Telussa Rinda Noviyanti Rizqi Ramadhan Putra Romelus Far Far Ronny I. Wahju Roza Yusfiandayani Roza Yusfidanayani RR. Ella Evrita Hestiandari Runtu, Noriko Sadarun Sadarun Safwan Hadi Salsabila Nafri Saputra, Bonis Andrei Tri Siahainenia, Stevanus M Siti Radarwati Siti Radarwati Soehadi, Imam Soepanto Soemakaryo Soepanto Soemokaryo Soepanto Soemokaryo Sri Harijati Sri Harijati Sudrajat Danu Sudrajat, Danu Sugeng H. Wisudo Sugeng Hariwisudho Suharyanto Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Sumardi Sadi Supartono Supartono Sutia Yuningsih Syifa Nurul Aini Taeran, Imran Taufiq Taufiq Taufiq Taufiq Taufiq Tirtana, Denta Tri Hariyanto Tri Wiji Nurani Triadhi, Joko Triono Probo Pangesti Tupamahu, A. Uju Vatria, Belvi Victor Nikijuluw Vita Rumanti Kurniawati Wahdati, Fajriyah Cahyani Wardani, Puti Wazir Mawardi Welem Waileruny, Welem Wilma Amiruddin Wudianto Wudianto Yopi Novita Yudha Bimasakti Yusfiandayani, S.Pi., Dr. Roza Yusviandayani, Roza Zulkarnain Zulkarnain Zulkarnain . Zulkarnain . Zulkarnain Zulkarnain Zuriat