Articles
Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Peredaran Narkoba di Rutan Kelas IIB Menggala
Indra Setiawan Rosandi;
Padmono Wibowo
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 1 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (222.792 KB)
|
DOI: 10.31004/innovative.v2i1.164
Ketentuan dalam Pasal 4 Angka 7 Permenkumham RI Nomor 6 Tahun 2013, bahwa setiap narapidana atau tahanan dilarang menyimpan, membuat, membawa, mengedarkan, dan/atau mengkonsumsi narkotika dan/atau prekursor narkotika serta obat-obatan lain yang berbahaya. Akan tetapi, selama menjalani hukuman dan dibina di dalam Lapas dan Rutan, terdapat narapidana yang mengulang melakukan perbuatan melanggar hukum, melakukan pelanggaran terhadap ketentuan tata tertib, seperti kembali menyalahgunakan dan mengedarkan narkotika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pencegahan peredaran narkotika di Rutan Kelas IIB Menggala Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode pendekatan yuridis empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan dalam penanggulangan peredaran narkotika di Rutan Kelas IIB Menggala yaitu upaya preventif, upaya represif dan upaya rehabilitasi sesuai dengan standar pencegahan gangguan keamanan dan ketertiban
Penerapan Pola Karier Berbasis Sistem Merit di Lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto
Delfi Kalwa Kurniawan;
Padmono Wibowo
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 1 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (240.556 KB)
|
DOI: 10.31004/innovative.v2i1.165
Pada hakekatnya sistem pemasyarakatan yang berjalan merupakan bagian yang tidak terlepas dari proses pembangunan di bidang hukum. Oleh karenanya, dibutuhkan unsur sumber daya manusia yang dijadikan penggerak utama dari adanya proses pembangunan ini. Pembangunan ini dapat berjalan dengan adanya manajemen karier yang jelas. Pola karier berbasis sistem merit digunakan untuk mengukur dan membandingkan antara kualifikasi, kompetensi, serta kinerja dari setiap Aparatur Sipil Negara dengan posisi yang akan ia tempati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan sistem merit di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pada penelitian ini menunjukan bawasannya penerapan sistem merit di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto berjalan sesuai dengan regulasi yang ada pada Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 8 Tahun 2021 tentang Manajemen Karier Pegawai Negeri Sipil Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Hal tersebut terlihat pada penempatan posisi kepada seorang Aparatur Sipil Negara yang sudah terkualifikasi melalui persyaratan administrasi, berkompeten dilihat dari pendidikan dan pelatihan yang diikuti, serta kinerja yang dibuktikan dengan masa kerja masing-masing individu yang sudah memenuhi batas minimum seseorang dalam menduduki jabatan tertentu.
Minimnya Pelayanan Kesehatan Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan Yang Sedang Hamil
Iqbal Al Farezi;
Padmono Wibowo
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 1 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (247.043 KB)
|
DOI: 10.31004/innovative.v2i1.166
Berdasarkan Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran rakyatnya. Narapidana berdasarkan Pasal 12, Pasal 1 (7) UU 1995 adalah narapidana yang kehilangan kemerdekaannya di lembaga pemasyarakatan Indonesia. Sebagai salah satu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan, narapidana harus memenuhi hak-haknya, salah satunya menyatakan bahwa narapidana berhak atas pelayanan kesehatan yang layak (Indonesia, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995) Pasal 14D Nomor 12). Tahanan wanita adalah salah satunya. Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah 4.444 survei lapangan, wawancara, dan survei kepustakaan. Berdasarkan hasil survey diketahui bahwa pelaksanaan pelayanan kesehatan di Lapas Bawah Tanah Klas IIA berjalan dengan lancar, namun pelaksanaan pelayanan medik di Lapas Bawah Tanah Klas IIA dengan fasilitas kesehatan yang mendukung. . Ruang perawatan ibu dan anak yang tidak memadai, serta ibu hamil, masih kekurangan vitamin, takaran klinik, kurangnya BPJS atau jaminan kesehatan.
Strategi Penerapan Sistem Keamanan Pada Desain Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Ngawi Strategi Penerapan Sistem Keamanan Pada Desain Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Ngawi
Muhammad Fahdanu Lathif;
Padmono Wibowo
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 1 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (175.009 KB)
|
DOI: 10.31004/innovative.v2i1.167
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan siswa remedial. Kondisi keamanan di lembaga pemasyarakatan merupakan acuan mendasar untuk pelaksanaan latihan yang berbeda di lembaga pembinaan, terutama yang berkaitan dengan isu-isu yang mengidentifikasi dengan peningkatan tahanan penjara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem Keamanan Lapas Kelas IIB Ngawi. Jenis penelitian yang penulis pergunakan adalah lapangan deskriptif, populasi dalam penelitian ini adalah Kepala KPLP Lapas Kelas IIB Ngawi, Pejabat Pengembangan Keamanan Organisasi Perbaikan Kelas IIA Bollangi-Sungguminasa, Petugas keamanan Penjara Lapas Kelas IIB Ngawi. Teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan, observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Sistem pengamanan di lembaga pemasyarakatan dilengkapi dengan kerangka pengamanan bawaan dan menarik yang bergantung pada Pedoman Pengamanan Lapas (PPLP) Ditjen Perikanan pada Dinas Pemerataan No. DP.3.3/17/1. Dimana dalam penerapannya belum bersifat memaksa. Dan terdapat beberapa hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan security framework tersebut, khususnya: SDM sebenarnya harus ditingkatkan kepercayaannya, petugas keamanan yang kurang, dan kantor/kantor keamanan yang kurang
Analisis Faktor-Faktor Resistensi Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Metro
Mirhandika Febytry;
Padmono Wibowo
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 1 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (197.732 KB)
|
DOI: 10.31004/innovative.v2i1.168
Dalam penelitian ini membahas tentang Resistensi yang dilakukan oleh Narapidana di Lembaga Pemayarakatan kelas IIA Metro. Sering terjadinya kasus kerusuhan sampai pembakaran Lapas di Indonesia serta kondisi lapas yang penuh sesak karena kelebihan kapasitas yang disebabkan oleh tingginya tingkat kejahatan di indonesia. Seseorang yang melakukan tindak kejahatan kosekuensinya dipidana di Lembaga Pemasyarakatan dan akan mengalami hilangnya kemerdekaan kebebasan bergerak dan pesakitan-pesakitan lainya akibat pemenjaraan sehingga narapidana akan berusaha mengurangi pesakitan-pesakitan ini dengan melakukan resistensi terhadap pihak Lapas khususnya di lokus penelitian yakni Lapas Metro. Sehingga penulis mengambil rumusan masalah bagaimana bentuk-bentuk resistensi yang dilakukan Narapidana dalam menjalani kehidupan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Metro. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan menemukan secara jelas bagaimana bentuk-bentuk resistensi yang dilakukan Narapidana di Lapas Metro. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori Resistensi oleh James C Scott dan Teori pola adaptasi oleh Robert K merton dengan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif dan teknik pengumpulan data yang dipergunakan yaitu kepustakaan dan penelitian lapangan berupa wawancara dan observasi serta dokumentasi. Bentuk resistensi yang dilakukan oleh Narapidana di Lapas Metro terbagi atas resitensi terbuka dan resistensi tertutup. Bentuk resistensi terbuka berupa penyerangan terhadap petugas, protes, kerusuhan, lobi-lobi 86, berbohong/alibi, tidak mengikuti pembinaan, penghormatan semu dan berpurapura. Sedangkan bentuk resistensi tertutup berupa pergunjingan, penyeludupan,peredaran dan menyembunyikan barang terlarang, penyimpangan seksual sampai upaya pelarian. Resistensi ini merupakan bagian daripada pola adaptasi yang kebanyakan bersifat menyimpang.
Analisis Upaya Meminimalisir Gangguan Keamanan Dan Ketertiban Melalui Tamping Di Lembaga Pemasyarakatan
Ferdinand Novereo Sebayang;
Padmono Wibowo
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 1 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (198.464 KB)
|
DOI: 10.31004/innovative.v2i1.169
Penelitian ini bertujuan mengetahui seberapa efektif tamping di Lembaga Pemasyarakatan dalam upaya meminimalisir gangguan keamanan dan ketertiban serta menganalisis kekuatan dan kelemahan (lingkungan internal) serta peluang dan ancaman (lingkungan eksternal) di Lembaga Pemasyarakatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi kepustakaan dan internet. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat beberapa kendala/kelemahan internal maupun peluang/ancaman eksternal yang dihadapi lembaga pemasyarakatan dalam meminimlisir gangguan keamanan dan ketertiban sehingga didapatkan beberapa kesimpulan yaitu : Dari hasil temuan di lapangan menunjukkan peran tamping tidak berbeda dengan peran pekerja. Tamping sifatnya membantu petugas dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Tamping tidak memiliki otorita lebih selain melaksanakan apa yang telah diperintahkan untuk menjadi tugasnya. Tamping memiliki tanggungjawab lebih daripada pekerja dalam hal sebagai penanggungjawab/kordinator
Analisis Implementasi Hak Kesehatan Narapidana Sakit di Lapas Narkotika Purwokerto
Akbar Priambodo;
Padmono Wibowo
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 1 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (217.786 KB)
|
DOI: 10.31004/innovative.v2i1.171
Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas merupakan lembaga yang dalam hal ini memiliki tugas dan pokok yaitu dapat melakukan program pembinaan terhadap pelaku pelanggar kejahatan atau narapidana. Dalam Undang – Undang No 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, pada pasal 14 telah diatur mengenai hak – hak narapidana yaitu tentang Hak Pelayanan Kesehatan di Lapas atau Rutan. Berdasarkan peraturan tersebut telah mengatur segala hak tentang kesehatan khususnya untuk narapidana. Penulisan artikel ini dilakukan dikarenakan untuk mempelajari dan mengetahui bagaimanakah implementasi pemenuhan untuk hak kesehatan narapidana sakit dan bagaimana mekanismenya di lapas Narkotika Purwokerto. Metode penulisan dalam artikel ini yaitu dengan cara metode penelitian kualitatif deskriptif dimana teknik pengumpulan data yaitu melalui penelitian pustaka selain itu juga pengamatan langsung dan wawancara pada lokus penelitian yaitu Lapas Narkotika Purwokerto. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwasanya pemenuhan hak kesehatan narapidana di Lapas Narkotika Purwokerto ini belum sepenuhnya terpenuhi dikarenakan beberapa faktor.
Pengaruh Work-Life Balance Terhadap Kinerja Pegawai Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Brebes
Ading Rifaldi;
Padmono Wibowo
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 1 No. 1 (2023): Oktober: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61722/jssr.v1i1.51
In the modern era, work pressure and work demands are getting higher, making it difficult for many employees to balance their work life and personal life (work-life balance). This study aims to determine the effect of work-life balance on job performance in Class IIB Brebes Penitentiary. This research is a type of quantitative research. In this study, the locus of Class IIB Brebes Correctional Institutions was taken. This research has a population of 59 employees and 30 employees of Class IIB Brebes Correctional Institution were taken as a sample. Data was collected using a questionnaire with a Likert scale of 1 to 4 and processed using IMB SPSS. The results obtained are r = 0.819 and r2 = 0.671 which means that the relationship between variables is a strong positive. It is also known that the significance level is 0.000 <0.05. So that the Work-life balance variable and the job performance variable have a significant relationship. This means that work-life balance has an influence on improving employee performance.
Efektivitas Pembinaan Kesadaran Berbangsa Dan Bernegara Terhadap Narapidana Dalam Menyadari Kesalahannya: (The Effectiveness of National and State Awareness Building Against Prisoners in Realizing Their Errors)
Aditya Rafif Widyardi;
Padmono Wibowo
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 1 No. 1 (2023): Oktober: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61722/jssr.v1i1.59
become a better society is very important, material and spiritual guidance must be carried out in a balanced manner, because this is a major thing in supporting prisoners easily in living their lives after completing their criminal period. The criminal treatment is considered to have a deterrent effect on perpetrators of criminal acts. However, in reality, providing a deterrent effect is not effective, this is evident from the many repetitions of criminal acts (recidive) in the community. This study discusses the implementation of the development of prisoners in the Correctional Institution and the effectiveness of the implementation of national and state awareness development for prisoners in the Class IIA Salemba Prison. Based on the articles in PP No. 31 of 1999 concerning the Guidance and Guidance of Correctional Inmates, the stages of coaching for prisoners are Early Stage Development, Advanced Stage Development, and Final Stage Coaching. In the Class IIA Salemba Prison, the factors that support the successful implementation of the process of Correctional Inmates at the Class IIA Salemba Prison are the condition of the employees and the condition of the occupants. Guidance at the Class IIA Salemba Prison is not effective due to overcapacity and limited facilities and infrastructure.
Apakah Pembinaan Intelektual bisa Membuat Warga Binaan Pemasyarakatan dapat Memperbaiki Diri Khususnya di Lapas Kelas IIb Gunungsitoli.
Erwin Romi Satrianus Nazara;
Padmono Wibowo
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 1 No. 1 (2023): Oktober: Jurnal Sains Student Research
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61722/jssr.v1i1.60
The correctional system is a constructions based system, one of which is intellectual development which aims to realize the goals of correctional. Because intellectual intelligence is closely related to good attitudes and behavior. The research method used is a qualitative method. Intellectual development really needs to be done to prisoners, because with good intellectuals, someone can think abstractly, examine and act effectively and efficiently when carrying out their activities. However, the implementation of intellectual development in prisons in Indonesia is still lacking, which is constrained by several factors such as the lack of direction of guidance, inadequate facilities and also obstacles from the prisoners themselves, so that the intellectual development that has been carried out so far has not had an impact on the realization of the goals penitentiary system.