Claim Missing Document
Check
Articles

Nilai-Nilai Pembelajaran Sejarah Masyarakat Adat Kajang: Studi Etnografi Nilai Falsafah Pasang Ri Kajang Amirullah, Amirullah; Ridha, Muh. Rasyid; Wati, Fitra Widya; Kabubu, Rusmala Dewi; Sumardin, Oschar
Jambura History and Culture Journal Vol 7, No 2 (2025): Juli
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jhcj.v7i2.31791

Abstract

Pasang ri Kajang is a philosophy of life embraced by the Ammatoa Kajang indigenous community in Bulukumba, South Sulawesi. This concept not only governs social and cultural aspects but also serves as a guideline for maintaining balance between humans and nature. This study employs a qualitative research method with an ethnographic approach to explore the meaning and practice of Pasang ri Kajang in the daily lives of the Kajang people. Data were collected through direct observation, in-depth interviews with traditional leaders, and analysis of relevant documents and literature. The findings reveal that Pasang ri Kajang plays a crucial role in shaping collective identity, customary legal systems, and environmental sustainability. Values such as simplicity, honesty, and harmony with nature form the core of this philosophy. This study provides insight into how traditional value systems persist amid modernization and their relevance in development planning based on local wisdom.
Pelatihan Platform Baamboozle untuk Evaluasi Hasil Belajar di SMAN 13 Makassar Amirullah, Amirullah; Patahuddin, Patahuddin; Wati, Fitra Widya; Kabubu, Rusmala Dewi; Sumardin, Oschar
Humanis Vol 24, No 1 (2025): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/humanis.v24i1.73183

Abstract

Abstrak: PKM ini bertujuan untuk menambah wawasan guru di SMAN 13 Makassar dalam memanfaatkan media pembelajaran berbasis teknologi dengan menggunakan media Baamboozle pada proses evaluasi belajar terhadap pesertadidik. Permasalahanyang dihadapi adalah : (1) Keterampilan digital guru di SMAN 13 tergolong masih rendah sehingga pelaksanaan evaluasi hasil pembelajaran lebih banyak dilakukan dengan pemberian tugas secara konvensionaldenganmenggunakankertas dan manual atauviawhatsapp.(2) GuruSMAN 13 belum menguasai penggunaan media Baamboozle dalam prosesevalusipembelajaran.Olehkarenaitu,dilakukanpengabdian kepada masyarakat berupa Pelatihan penggunaan media Baamboozle untuk evaluasi hasil belajar. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan metode ceramah, demonstrasi dan tanya jawab terhadap hasilworkshop.HasilnyamenunjukkanguruSMAN 13 Makassarmenguasai penggunaan Baamboozle dalam proses evaluasi pembelajaran  Abstract:ThisPKMaimstoaddinsighttoteachersofSMAN 13 Makassarinutilizingtechnology-basedlearning media byusingthe Quizizz application to the learning evaluation process for students. The problems faced are : (1) The digital skills of teachers at SMAN 13 Makassarl are still low, so that the evaluation of learning outcomes is mostlydonebygivingassignmentsconventionallyusingpaperorvia WhatsApp.(2)SMAN 13teachershavenotmasteredusingBaamboozle in the learning evaluation process. Therefore, community service is carriedoutintheformofworkshopsusingtheBaamboozleapplicationto evaluate learning outcomes. This community service is carried out using lecture methods, demonstrations and evaluation of the results of the workshop.Theresultsshowthat SMAN 13teachersmaster the use of Baamboozle in the learning evaluation process. 
PKM Pembuatan Denah Dusun Dojong Desa Gattareng Matinggi Kecamatan Mallawa Kabupaten Maros Aprilian, Nur Alam; H, Herman; Amirullah, Amirullah
Humanis Vol 24, No 1 (2025): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/humanis.v24i1.74000

Abstract

Pembuatan denah suatu dusun merupakan proses menggambarkan tata letak dan pendistribusian ruang dalam suatu wilayah dusun secara rinci. Denah adalah suatu gambarantentangtataletaktempatyangberfungsiuntukmembantumenemukanberbagai tempat tanpa bertanya pada orang lain. Namun, denah yang ada di dusun Dojong tidak terpasang dan sudah usang sehingga tidak dapat difungsikan dengan baik karena terbuat daribahanyangmudahrusak.Sebagaisolusiataspermasalahantersebut,mahasiswaKKN PPL Terpadu Angkatan XXIX Universitas Negeri Makassar merancang sebuah program pembuatan denah dusun yang lebih besar, tahan terhadapcuaca panas maupun hujan, dan diletakkanditempatyangmudahdijangkauolehmasyarakatsehinggadenahdusuntersebut tidak hanya sekedar sebagai kelengkapan profil dusun tetapi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan orang lain yang berkunjung ke dusun Dojong. Adapun tahapan kegiatan yang dilakukan, yaitu, tahap koordinasi, tahap observasi langsung, tahap plotting lokasi, tahap desain, tahap cetak, tahap pemberian bingkai, dan tahap pemasangan / finishing. HasilnyadenahdusunDojongtelahterpasangdenganbaikdidepantugumasukdusundam memberikan gambaran yang jelas mengenai fasilitas umum dan lokasi penting di dusun Dojong. Program ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dan pengunjung mengenai kondisi geografis dusun dan mendukung pengambilan keputusan untuk pengembangan wilayah secara berkelanjutan.
Mewujudkan Karakter Murid Rabbani Melalui Program Ramadhan Mengaji di SMA 09 Kota Makassar Saifuddin, Saifuddin; Mario, Mario; Wahda, Muhammad Aksa; Amandaria, Riri; Amirullah, Amirullah
Humanis Vol 24, No 1 (2025): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/humanis.v24i1.73496

Abstract

This program aims to instill and develop good values in order to humanize humans, to improve character and train the intellectuals of students, and also to create a knowledgeable generation with character that can provide benefits to the surrounding environment. The important points taught to students are: (1) Education of faith/belief; to produce a young generation of the future who are strong in imtaq. (2) Education of worship; to be taught to children in order to create a young generation who have commitment and are accustomed to carrying out worship, such as praying, fasting, and reading the Koran. (3) Education of akhlakul karimah; to produce a rabbani generation, or a generation that is pious, intelligent and has noble morals. The methods used in this activity are lecture and practice methods. This activity takes place for 7 days during the month of Ramadan at SMA 09 Makassar City. The results of the activity show the high spirit and enthusiasm of students in following the entire series of learning until the end of the Ramadhan Mengaji Program. Through the method of practicing ablution, praying, and reading the Quran, students can strengthen their faith and have Islamic morals among other students. Abstract. Program ini bertujuan menanamkan dan m
Development of the Blended Learning AMIR Model Based on the Edu Virtual Laboratory History Amirullah, Amirullah; Manda, Darman; A Kamaruddin, Syamsu
Ceddi Journal of Education Vol. 4 No. 1 (2025): June
Publisher : Yayasan Cendekiawan Digital Indonesia (CEDDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56134/cje.v4i1.124

Abstract

This study aims to develop and validate the Blended Learning AMIR (Augmentation, Modification, Interactive, and Reflection) model for history education. The AMIR model represents an innovative integration of key elements from various established learning models, reconstructed to address the pedagogical demands of 21st-century learners. A distinctive feature of this model is its foundation in digital pedagogy, specifically through the utilization of the Edu Virtual Laboratory for History, which facilitates interactive and immersive learning experiences. The validation process yielded an average score of 3.69, indicating that the BL-AMIR model is considered valid by expert reviewers across all core components. These components include (1) syntax, (2) social system, (3) principles of reaction, (4) support system, and (5) instructional and nurturant effects, which collectively define the model’s structure and expected learning outcomes. The findings reveal that the BL-AMIR model enhances student engagement with authentic historical content, promotes problem-focused learning, and encourages meaningful collaboration. Furthermore, students demonstrated increased awareness of the benefits of combining online and face-to-face learning environments. The study concludes that the BL-AMIR model offers a significant pedagogical innovation for enhancing historical thinking and collaborative learning in blended educational settings.
Sukarni Kartodiwirjo: Pemuda Pribumi Nasionalis Pada Masa Pendudukan Jepang Afdinal, Muhammad Noor; Amirullah, Amirullah
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 2, Agustus 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i2.54473

Abstract

Nama Sukarni Kartodiwirjo tidak bisa dilepaskan dari pergerakan pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sukarni merupakan sosok yang konsekuen dengan ucapan dan tindakannya. Inilah yang menjadikan dirinya berbeda dari tokoh-tokoh pemuda lainnya. Dalam penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah. Pertama, bagaimana pemikiran Sukarni tentang konsep kemerdekaan. Kedua, bagaimana aktualisasi perjuangan politik Sukarni menuju kemerdekaan Indonesia. Ketiga, bagaimana kontribusi Sukarni pada masa kependudukan Jepang. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan empat tahapan yang terdiri atas heuristik, verifikasi, interpretasi, dan histiog rafi. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan. Pertama, pemikiran Sukarni mengenai konsep kemerdekaan dimulai ketika Sukarni berusia 18 tahun. Pemikiran-pemikiran Sukarni dipengaruhi oleh faktor keturunan. Melihat dari garis keturunannya menjadikan Sukarni sebagai sosok yang kuat, militan, kreatif, berani melawan penjajah, dan berani mendobrak status quo untuk kemerdekaan Indonesia. Kedua, aktualiasasi perjuangan politik Sukarni menuju kemerdekaan Indonesia dimulai dari Indonesia Muda pada tahun 1931, Asrama Pemuda Menteng Raya 31 pada tahun 1934, dan terlibat dalam aksi Rengasdengklok pada tahun 1945. Ketiga, kontribusi Sukarni pada masa kependudukan Jepang terlihat dalam keterlibatannya ketika menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, mengusulkan naskah proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta, dan membentuk Committee van Actie. The name Sukarni Kartodiwirjo cannot be separated from the youth movement that fought for Indonesian independence. Sukarni was a figure who was consistent with his words and actions. This is what makes him different from other youth leaders. In this research there are three problem formulations. First, how Sukarni thought about the concept of independence.  Second, how was the actualization of Sukarni's political struggle towards Indonesian independence. Third, how Sukarni's contribution during the Japanese occupation. The method used is the historical method with four stages consisting of heuristics, verification, interpretation, and histiography. This research produced three findings. First, Sukarni's thoughts on the concept of independence began when Sukarni was 18 years old. Sukarni's thoughts were influenced by heredity. Seeing from his lineage makes Sukarni a strong, militant, creative, brave figure against the colonizers, and dare to break the status quo for Indonesian independence. Second, the actualization of Sukarni's political struggle towards Indonesian independence began with Indonesia Muda in 1931, Asrama Pemuda Menteng Raya 31 in 1934, and was involved in the Rengasdengklok action in 1945. Third, Sukarni's contribution during the Japanese occupation was seen in his involvement in kidnapping Soekarno and Hatta to Rengasdengklok, proposing the proclamation script to be signed by Soekarno and Hatta, and forming the Committee van Actie. Keywords : nationalist; national movement; sukarni kartodiwiryo
Monumen Perjuangan di Makassar sebagai Media Pembelajaran Sejarah dan Penguatan Nasionalisme Peserta Didik Amirullah, Amirullah
Jurnal Pattingalloang Vol. 12, No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v12i1.68601

Abstract

Monumen perjuangan di Makassar menyimpan memori kolektif mengenai perjuangan rakyat Sulawesi Selatan dalam mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran monumen perjuangan sebagai media pembelajaran sejarah dan instrumen penguatan nasionalisme bagi peserta didik SMA Negeri di Kota Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan pada Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat dan Monumen Korban 40.000 Jiwa, wawancara mendalam dengan lima guru sejarah, serta penyebaran angket kepada 60 peserta didik dari tiga SMAN (SMAN 1, SMAN 5, dan SMAN 8 Makassar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan monumen dalam pembelajaran sejarah meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap konteks sejarah lokal sebesar 72%, meningkatkan ketertarikan belajar sebesar 81%, serta memperkuat rasa nasionalisme peserta didik. Monumen terbukti menjadi sumber belajar autentik yang memungkinkan siswa mengalami pembelajaran kontekstual, reflektif, dan bermuatan nilai patriotisme. Penelitian ini merekomendasikan integrasi pembelajaran berbasis situs sejarah ke dalam kurikulum sekolah menengah serta penguatan kerja sama antara sekolah dan pengelola monumen. Kata Kunci: monumen perjuangan, pembelajaran sejarah, nasionalisme, pendidikan sejarah lokal, Makassar.AbstractThe struggle monuments in Makassar preserve collective memories of the people of South Sulawesi in defending Indonesia’s independence. This study aims to analyze the role of these monuments as learning media in history education and as instruments to strengthen nationalism among students of public senior high schools in Makassar. This research employed a descriptive qualitative approach, including field observations at the Mandala Monument for the Liberation of West Irian and the 40,000 Lives Monument, in-depth interviews with five history teachers, and questionnaires distributed to 60 students from three public high schools. The findings reveal that monument-based learning increases students’ understanding of local history by 72%, enhances learning engagement by 81%, and strengthens students’ nationalism. Monuments function as authentic learning sources that promote contextual and value-based historical learning. The study recommends integrating site-based learning into the curriculum and enhancing collaboration between schools and monument administrators.Keywords: struggle monuments, history learning, nationalism, local history education, Makassar.
Upaya Peningkatan Pemahaman Museum Melalui Sosialisasi Sebagai Wadah Edukasi Kultural Untuk Generasi Muda Saifuddin, Saifuddin; Amirullah, Amirullah; Usman, Alwi Usra; Nisa, Fadhilah Ainun; Muis, Nurhasni
Humanis Vol 24, No 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/humanis.v24i2.77195

Abstract

Museum merupakan lembaga yang menyimpan, merawat, dan menyajikan warisan budaya serta sejarah bangsa. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pemahaman generasi muda tentang permuseuman. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, pemutaran museum sebagai wadah edukasi kultural video edukatif, diskusi kelompok, serta kunjungan langsung ke museum terdekat. Hasil evaluasi untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sosialisasi museum, menunjukkan pengetahuan peserta meningkat dari 65 (pre-test) menjadi 85 pada saat post-test. Sebanyak 90 persen peserta menyatakan tertarik untuk kembali mengunjungi museum secara mandiri. Dalam diskusi juga menunjukkan munculnya kesadaran baru tentang pentingnya museum sebagai ruang belajar, bukan sekedar tempat menyimpan benda-benda lama atau benda bersejarah. Abstract. Museums are institutions that preserve, maintain, and present the nation's cultural and historical heritage. This community service activity aims to increase the insight and understanding of museums among the younger generation. Methods used include interactive lectures, screenings of museums as a cultural education platform, educational videos, group discussions, and direct visits to nearby museums. Evaluation results to measure the level of knowledge of museum socialization participants showed an increase in participants' knowledge from 65 (pre-test) to 85 in the post-test. As many as 90 percent of participants expressed interest in returning to the museum independently. The discussion also showed a new awareness of the importance of museums as learning spaces, not just places to store old or historical objects.
Edukasi Pelestarian Lukisan Prasejarah Gua Leang-Leang Kepada Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNM Subair, Ahmad; Khaerunisa, Khaerunisa; Amirullah, Amirullah; Asmunandar, Asmunandar; Patahuddin, Patahuddin
Humanis Vol 24, No 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/humanis.v24i2.78603

Abstract

Kegiatan pengabdian ini dilatarbelakangi oleh ancaman degradasi lukisan prasejarah cap tangan dan babi rusa berusia 35.000–45.000 tahun di Gua Leang-Leang, Maros, serta rendahnya pemahaman mahasiswa Pendidikan Sejarah UNM terhadap nilai sejarah, seni, dan ekologi situs tersebut. Metode yang digunakan adalah blended learning selama dua hari, mengintegrasikan seminar daring, kunjungan lapangan, simulasi praktik pelestarian, dan workshop penyusunan modul pembelajaran. Pelaksanaan diawali seminar oleh arkeolog BPCB Sulsel dan dosen UNM, dilanjutkan observasi langsung 45 mahasiswa di gua dengan pemetaan GIS, dokumentasi non-invasif, replika cap tangan, serta diskusi kearifan lokal; ditutup penyusunan 9 modul edukasi berbasis Leang-Leang yang siap diintegrasikan ke kurikulum sekolah menengah, guna menjadikan mahasiswa agen pelestarian warisan prasejarah.Abstract: This community service activity is motivated by the degradation threats to prehistoric hand stencil and babirusa paintings aged 35,000–45,000 years in Leang-Leang Caves, Maros, as well as the low understanding among History Education students at Universitas Negeri Makassar (UNM) regarding the historical, artistic, and ecological values of the site. The method employed is a two-day blended learning approach, integrating an online seminar, field visit, conservation practice simulations, and a learning module design workshop. Implementation began with a seminar delivered by BPCB Sulsel archaeologists and UNM lecturers, followed by direct observation of 45 students at the caves involving GIS mapping, non-invasive documentation, eco-friendly hand stencil replicas, and discussions on local wisdom; it concluded with the development of 9 Leang-Leang-based educational modules ready for integration into secondary school curricula, transforming students into agents of prehistoric heritage preservation.
Pameran Galeri Karya Mahasiswa Berbasis Etnografi Sulawesi Selatan sebagai Ruang Edukasi dan Pelestarian Budaya Lokal Amirullah Amirullah
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan Vol. 13, No.1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v13i1.86030

Abstract

Pameran galeri karya mahasiswa berbasis etnografi Sulawesi Selatan merupakan bentuk implementasi pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan penelitian lapangan, dokumentasi budaya, dan ekspresi akademik dalam ruang publik. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi budaya mahasiswa sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya lokal melalui pendekatan etnografi. Berbagai karya yang ditampilkan merupakan hasil observasi, wawancara, dokumentasi visual, dan kajian budaya yang dilakukan mahasiswa pada berbagai komunitas budaya di Sulawesi Selatan. Pameran ini tidak hanya menjadi media presentasi hasil pembelajaran, tetapi juga menjadi sarana edukasi masyarakat dalam memahami nilai-nilai budaya lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong menjadi agen pelestari budaya yang mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan realitas sosial budaya masyarakat AbstractThis gallery exhibition of student works based on ethnography from South Sulawesi is a form of project-based learning that integrates field research, cultural documentation, and academic expression in a public space. This activity aims to improve students' cultural literacy while strengthening efforts to preserve local culture through an ethnographic approach. The various works displayed are the result of observations, interviews, visual documentation, and cultural studies conducted by students in various cultural communities in South Sulawesi. This exhibition not only serves as a medium for presenting learning outcomes but also serves as a means of educating the public about local cultural values that exist and thrive within their communities. Through this activity, students are encouraged to become agents of cultural preservation, able to connect academic knowledge with the socio-cultural realities of the community.Keywords: ethnography, local culture, student work exhibition, cultural literacy, South Sulawesi.
Co-Authors A Kamaruddin, Syamsu Abdul Wahid Afdinal, Muhammad Noor Ahmad, M. Ridwan Said Ahmadin Ahmadin Ahmadin Ahmadin Amin, Fatimah Hidayahni Amiruddin Amiruddin Andi Aco Agus Aprilian, Nur Alam Asfah, Indrawaty Asmaul Husnah Amiruddin Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar Asmunandar, Asmunandar Astuti Astuti Azrianti Azrianti Babra Kamal Bahri Bahri Bahri Bahri Bahri Bahri Bakhtiar Bakhtiar Bosra, Mustari Bustan Bustan Bustan Bustan Dalilul Falihin Darman Manda Darman Manda Manda Dewi Liesnoor Setyowati Fachry Abda El Rahman Fadli Fadil Fadliah Mubakkira Fatimah Hidayahni Amin Fatimah Hidayahni Amin Fatmawati M Fatmawati Fitra Widya Wati Fitrah Widyahwati Haerianty Rezky Sani Halim, Didin Hanafie, Nurharsya Khaer Hanafie, Nurharsyah Khaer Hariyati Arifin Hasni Hasni Herman H Herman H, Herman Ibrahim Arifin Ilham Samudra Sanur Ishak, Muh. Ishaq Ishaq Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Jumadi Sahabuddin Jumadi Sahabuddin Jumadi Sahabuddin, Jumadi Junaedy Junaedy Kabubu, Rusmala Dewi Kamaruddin, Syamsu A. Khaeruddin Khaeruddin Khaeruddin Khaeruddin Khaerunisa Khaerunisa, Khaerunisa M. Ridwan Said M. Yunasri Ridhoh Madjid, Muh Saleh Madjid, Saleh Malihu, La MARIA BINTANG Mario Mario Mario Mario Mega Fatimah Rosana Muazzinul Hair Muh Rasyid Ridha Muh Rasyid Ridha Muh Rasyid Ridha Muh. Said Ramadhan Muh. Summung Awar Muhammad Aksha Wahda Muhammad Ikbal Muhammad Syukur Muhammad Syukur Muhammad Takwa Muhammad Zulfadli Muis, Nurhasni Najamuddin Najamuddin, Najamuddin Nengsi Nengsi Nirwana Nirwana Nisa, Fadhilah Ainun Nugra - Widarni Nurhaedah Nurhaedah Nurharsya Khaer Hanafie Nurhasni Muis Nurhasya Khaer Hanafi Nurlinda Nurlinda Nurul Dwiayu S Padli, Feri Palayukan, Kurniati Mana' Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuddin Patahuuddin Qaidah, Nur Rahmat Azhari Haeruddin Randiawan Randiawan Reski ayu Lestari Rifal, Rifal Riri Amandaria Ririn N RISKA WAHYUNI SAHABUDDIN SAHABUDDIN Saifuddin Saifuddin Saifuddin Sakmawati Sakmawati Saleh Madjid Salma Salma Sanur, Ilham Samudra Sari, Suci Indah Seny Luhriyani Sunusi Siti Nurjannah Ashari Sri Indarwati Mansur Subair, Ahmad Sumardin, Oschar Supriadi Torro Tengku Riza Zarzani N Torro, Supriadi Ugo Chuks Okolie Ulul Azmi Mustari Usman, Alwi Usra Wahyu Wardana Yulia, Irma Denada