Claim Missing Document
Check
Articles

Divergent Jurisprudential Paradigms of Productive Zakat: A Madhhab-Based Comparative Study of Legal Reasoning in LAZISNU and LAZISMU Solehudin, Ending; Fautanu, Idzam; Ahyani, Hisam; Masuwd, Mowafg
Mazahibuna: Jurnal Perbandingan Mazhab VOLUME 8 ISSUE 1, APRIL 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/mazahibuna.vi.64628

Abstract

This study examines productive zakat not merely as a managerial instrument for economic empowerment, but as a manifestation of contemporary Islamic legal ijtihād (independent legal reasoning) shaped by divergent jurisprudential paradigms. Situated within the framework of comparative madhhab studies, this research analyzes how differences in legal reasoning between LAZISNU—rooted in the Shāfiʿī legal tradition—and LAZISMU—characterized by a reformist approach grounded in tajdīd (renewal) and tarjīḥ (legal preference)—influence the formulation and implementation of productive zakat practices in Indonesia. Employing a qualitative juridical-empirical method, the study draws on in-depth interviews with zakat administrators and institutional documents from LAZISNU and LAZISMU operating in Java and Bali. The findings reveal that the transformation of zakat from consumptive distribution to productive utilization is legitimized through distinct modes of istidlāl (legal reasoning or inferential deduction), wherein LAZISNU emphasizes adherence to authoritative Shāfiʿī doctrines, particularly concerning the principle of tamlīk (transfer of ownership to beneficiaries), while LAZISMU adopts a more flexible form of ijtihād that prioritizes maqāṣid al-sharīʿah (the higher objectives of Islamic law) and socio-economic outcomes. This divergence reflects an ongoing dialectic within contemporary Islamic legal thought regarding the boundaries of zakat utilization. By integrating empirical practices with cross-madhhab legal analysis, this study contributes to the development of comparative fiqh al-zakāt (Islamic jurisprudence of zakat) and demonstrates how modern philanthropic institutions negotiate classical legal doctrines within heterogeneous socio-legal contexts such as Java and Bali.
Ingkar Sunnah Dan Konsekuensinya Bagi Muslim Imam Sucipto; Oyo Sunaryo Mukhlas; Ending Solehudin; Aliyya Shauma Raffi’u
ISLAMICA Vol 7 No 1 (2023): ISLAMICA
Publisher : STAI Siliwangi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59908/islamica.v7i1.78

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah perkembangan golongan yang ingkar sunnah sampai dengan ajaran-ajaran yang dikembangkan dan didakwahkan kepada masyarakat serta konsikuensi penganut paham ingkar sunnah terkhususnya bagi muslim itu sendiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan penelaahan dokumen. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa ingkar sunnah merupakan bentuk kegagalan dalam memahami sunnah dan pemahaman ini juga sudah ada pada masa kenabian. Sehingga beberapa ulama menerangkan bahwa konsikuensi terhadap penganut paham ini dikategorikan kafir.
Telaah Tafsir Al Misbah Terhadap Tren Sedekah Di Media Sosial: Antara Amal dan Eksistensi Dwi Widiastuti; Ahmad Hasan Ridwan; Ending Solehudin
ISLAMICA Vol 8 No 2 (2024): ISLAMICA
Publisher : STAI Siliwangi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59908/islamica.v8i2.135

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tafsir Q.S. Al-Baqarah 271 dalam Tafsir Al-Misbah terkait fenomena sedekah di media sosial, dengan fokus pada keseimbangan antara keikhlasan dan eksistensi diri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur, mengkaji Tafsir Al-Misbah, hadis, serta fenomena sosial yang berkembang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana meningkatkan kesadaran untuk bersedekah, namun juga berpotensi menimbulkan niat yang tidak murni. Tafsir Al-Misbah menegaskan bahwa publikasi sedekah diperbolehkan jika dilakukan dengan niat yang benar. Studi ini memberikan kontribusi terhadap kajian Islam kontemporer dengan menghubungkan tafsir klasik dan praktik digital modern serta menawarkan panduan praktis menjaga keikhlasan dalam aktivitas sedekah daring.
Implementasi Sedekah Berbasis Teknologi Digital dalam Pemberdayaan Ekonomi Modern Berdasarkan Al-Qur'an Surah Al–Baqarah Ayat 271 Vanisa Camila; Ahmad Hasan Ridwan; Ending Solehudin; Jujun Jamaludin
ISLAMICA Vol 9 No 1 (2025): ISLAMICA
Publisher : STAI Siliwangi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59908/islamica.v9i1.146

Abstract

Transformasi digital telah membuka peluang baru dalam praktik filantropi Islam, termasuk sedekah. Artikel ini mengkaji implementasi sedekah berbasis teknologi digital dalam pemberdayaan ekonomi modern, dengan telaah terhadap QS. Al-Baqarah ayat 271 sebagai dasar normatif. Latar belakang dari penelitian ini adalah meningkatnya kebutuhan akan sistem distribusi sedekah yang lebih transparan, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana digitalisasi sedekah dapat memperkuat peranannya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), analisis tafsir tematik terhadap ayat Al-Qur’an, serta studi kasus beberapa platform digital yang telah mengaplikasikan sedekah secara daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi teknologi digital dalam praktik sedekah meningkatkan partisipasi publik, akuntabilitas pengelolaan dana, dan efektivitas distribusi kepada penerima manfaat. Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam mengintegrasikan nilai-nilai spiritual Islam dengan sistem ekonomi modern berbasis teknologi, serta berkontribusi terhadap pengembangan model ekonomi Islam yang inklusif dan adaptif. Kesimpulannya, digitalisasi sedekah bukan hanya sebagai inovasi teknis, tetapi sebagai strategi pemberdayaan ekonomi yang relevan dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan kebutuhan zaman.
The Role and Application of 'Urf as a Source of Islamic Law: A Historical Review and Fiqhiyah Rules Muhammad Husni Abdulah Pakarti; Ending Solehudin; Maruf Maruf; Iqbal Saujan; Saeideh Shakibiciu
An-Nisa: Journal of Islamic Family Law Vol. 2 No. 3 (2025): September
Publisher : Yayasan Cendekia Gagayunan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63142/an-nisa.v2i3.300

Abstract

Urf or community customs have an important role in the development of Islamic law. As one of the sources of law, 'urf is recognized in fiqhiyah rules as long as it does not contradict the shar'i nash. This research aims to analyze the role and application of 'urf in Islamic law with a historical approach and examine the fiqhiyah rules related to its use. This research uses a qualitative approach with a literature study method. Data were collected from primary and secondary sources, such as classical fiqh books, academic journals, and Islamic legal literature. The analysis is done descriptively-critically to understand the historical development of 'urf and its relevance in fiqhiyah rules. The results show that 'urf has a significant role in the development of Islamic law, especially in the context of legal adaptation to social and cultural changes. Historically, 'urf has been used by scholars as a basis in determining laws that are relevant to the context of society, as long as they do not conflict with the principles of sharia. Fiqhiyah rules such as al-'ādah muhakkamah (customs can be made into law) and Al-maslahah al-mursalah (interests that are not mentioned by the nash) become the main basis for applying 'urf. This finding confirms that 'urf can be a valid source of Islamic law as long as it meets certain criteria, such as not contradicting shar'i arguments and being common in society. Understanding 'urf is also important in the context of fatwa and contemporary Islamic legal policy. 'Urf acts as a dynamic instrument in Islamic law that allows flexibility in the application of sharia in accordance with social reality. This study contributes to understanding how Islamic law can remain relevant by considering the customs of society that do not contradict the principles of sharia.
KONSEP TA’ĀWUN DALAM KRITIK TERHADAP PENETAPAN BATAS MAKSIMAL USIA KEPERSERTAAN PADA ASURANSI SYARIAH TA’ĀWUN Riva Abdillah Aziz; Ending Solehudin
Asy-Syari'ah Vol. 24 No. 2 (2022): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v24i2.16445

Abstract

The purpose of this study is to review the concept of ta’āwun taught by Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam and the reality of ta’āwun practice in the Islamic insurance industry in Indonesia. This research is also intended as a critique and input on the current practice of implementing ta’āwun. In contrast to conventional insurance, which uses a sale and purchase contract in its transactions, Sharia insurance uses the concept of ta’āwun in its transaction contracts. Qs. Al-Maidah verse 2 is the legal basis of this ta’āwun concept. This research used qualitative methods, the descriptive approach, and library research. The results of this study conclude that the concept of ta’āwun used by Islamic insurance currently needs to fully reflect the concept of ta’āwun in Qs Al-Maidah verse 2, which has been practised by Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam and his friends. In practice, Sharia insurance companies set a maximum age limit for prospective participants, while the maximum age for participation is 65 years. This maximum age limit for participation means that not all prospective Sharia insurance participants can be accepted as customers. It is undoubtedly different from the practice of ta’āwun that existed at the time of Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, where the concept of ta’āwun was carried out without knowing the conditions. It is fitting for Sharia insurance to adhere to the principle of monotheism properly and rely on Allah Subhanallahu Wata'ala to carry out the wheels of its Sharia insurance business by not limiting participation age. Sharia insurance practitioners naturally adhere to the principles of ta’āwun and monotheism and believe with certainty that to worship Allah Subhanallahu wa Ta'ala, even though there is no age limit for participation, the company will still get the benefits expected in other ways.
Maqāṣid al-Sharī‘ah Review of Government Policy on the Free Nutritional Meal Program (MBG): A Comparative Study in Uṣūl al-Fiqh Neng Yani Nurhayani; RR. Rita Erawati; Erika Rishan Adillah; Ending Solehudin; Syahrul Anwar
Jurnal Iman dan Spiritualitas Vol. 6 No. 3 (2026): Jurnal Iman dan Spiritualitas
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jis.v6i3.55940

Abstract

This study examines the alignment of Indonesia’s Free Nutritious Meals (MBG) policy with the principles of Maqāṣid al-Sharī‘ah through a normative juridical and comparative uṣūl al-fiqh approach. Focusing on hifẓ al-nafs and hifẓ al-māl, it finds that although MBG supports the preservation of life, its technocratic implementation has yet to embody maqāṣid values comprehensively, particularly regarding distributive justice, prioritization of benefits across ḍarūriyyāt, ḥājiyyāt, and taḥsīniyyāt, and long-term social welfare. The study highlights gaps such as unequal distribution, budget constraints, and weak monitoring, and argues for more adaptive, welfare-oriented policy formulation that integrates both classical emphases on basic needs and contemporary concerns for structural justice and sustainable welfare.
The Ijtihad Methodology of the Persatuan Islam Hisbah Council In the Determination of Islamic Law Mugni Muhit; Jajang Herawan; Ending Solehudin
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 6 No. 4 (2023)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v6i4.823

Abstract

This research examines and studies the Ijtihad of the Persatuan Islam Hisbah Council in determining Islamic Law. Persatuan Islam is one of the renewal movements that was established in 1923 AD. Persatuan Islam conducted ijtihad through the Persis Ulama Council which later changed its name to the Persatuan Islam Hisbah Council. The Hisbah Council is an Persatuan Islam Legal Institution that functions as a council of consideration, sharia studies, and fatwas in the Persatuan Islam jam'iyyah. The legal studies of the Persatuan Islam Hisbah Council have produced many Islamic legal thoughts, including the law of prayer in two languages, the law of Friday prayer for travelers, raising hands when praying, the position of zakat and taxes, and waqf money, as well as inheritance from non-Muslims. The method of the Hisbah Council in making legal decisions is to base it on the Qur'an and Sahih Hadith, as the main reference and reference for determining Islamic law, and to make ijtihad on issues that are not found in the Qur'an and Hadith of the Prophet.
Analisis Pembentukan Persentase Ambang Batas Parlemen Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 116/PUU-XXI/2023 Perspektif Siyasah Dusturiyah Wijdan Daurut Tazakka; Ending Solehudin; Syahrul Anwar
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.2099

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembentukan persentase ambang batas parlemen dalam sistem pemilu proporsional di Indonesia berdasarkan Putusan MK Nomor 116/PUU-XXI/2023 dengan perspektif siyasah dusturiyah. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dengan analisis terhadap peraturan perundang-undangan yang mengatur penerapan ambang batas di Indonesia, serta kajian atas putusan Mahkamah Konstitusi yang mengonfirmasi ambang batas 4%. Penelitian ini menggunakan data sekunder, yang meliputi dokumen resmi, literatur hukum, jurnal, dan hasil penelitian terdahulu. Analisis difokuskan pada evaluasi dampak dari ambang batas 4% terhadap representasi politik dan keterwakilan suara rakyat di parlemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ambang batas ini bertujuan untuk menyederhanakan sistem partai dan meningkatkan efisiensi legislatif, hal tersebut berisiko menimbulkan ketidakadilan representasi bagi partai kecil yang memiliki dukungan lokal yang signifikan. Penelitian ini juga mengusulkan alternatif penggunaan Single Transferable Vote (STV) untuk meningkatkan keadilan representasi dan mengurangi suara terbuang. Evaluasi ambang batas oleh DPR dengan metode yang transparan dan berbasis kajian ilmiah diperlukan untuk menciptakan sistem pemilu yang lebih inklusif dan proporsional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun ambang batas 4% sah, perlu ada penyesuaian agar sistem pemilu tetap mencerminkan keadilan distributif dan pluralitas politik di Indonesia
Konsep Akad Tabarru dalam Bentuk Menjaminkan Diri dan Memberikan Sesuatu Haris Maiza Putra; Sofian Al-Hakim; Ending Solehudin; Nanang Naisabur
Jurnal Hukum Ekonomi Syariah Vol. 5 No. 1 (2022): April
Publisher : Prodi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jhes.v5i1.12141

Abstract

Akad tabarru dalam bentuk memberikan sesuatu atau menjaminkan sesuatu adalah akad yang tujuannya untuk tolong menolong antar sesama. Akad tabarru ini bertujuan mencari keuntungan akhirat, bukan untuk keperluan komersil seperti akad tijarah. Akan tetapi dalam perkembangannya akad ini sering berkaitan dengan kegiatan transaksi komersil, karena akad tabarru ini bisa berfungsi sebagai perantara yang menjembatani dan memperlancar akad tijarah, sehingga terjadi banyak perbedaan persepsi tentang akad tabarru yang di komersilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan konsep akad tabarru dalam bentuk menjaminkan diri dan memberikan sesuatu. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berhubungan dengan akad tabarru dari sumber buku, artikel, jurnal dan laporan penelitian, dan teknik analisis data menggunakan metode analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akad tabarru dalam hal menjaminkan diri dalam praktik kafalah dan wakalah telah tumbuh berkembang di Indonesia, perlu adanya kehati-hatian dalam melakukan akad kafalah mengenai rukun dan syaratnya, karena praktik kafalah kontemporer sudah berkembang pesat dengan berbagai bentuk dan jenisnya. Terkait akad tabarru dalam hal memberikan sesuatu dalam praktik hibah, hadiah, wakaf, zakat, infak dan shadaqah tidak ada perdebatan ulama mazhab akan ketidakbolehannya, yang dibutuhkan di Indonesia adalah kesadaran masyarakat untuk melakukannya. Implikasi dari penelitian ini adalah semua pihak diharapkan berhati-hati dalam melakukan akad tabarru, jangan sampai mengambil keuntungan dari akad tabarru yang tujuannya adalah untuk tolong menolong antar sesama.
Co-Authors AA Sudharmawan, AA Abd Khafidz, Hasanah Adi Susandi Adnan, Nurul Ilyana Muhd Agus Munjirin Mukhotib Lathif Ahmad Damiri Ahmad, Md Yazid Aliyya Shauma Raffi’u Athoillah, Mohammad Anton Azmi, Nofan Nurkhafid Berizi, Ahmad Bhatti , Muhammad Safdar Camila, Vanisa Cicin Suryati Dede Sudrajat Dwi Widiastuti Dwi Widiastuti, Dwi Eko Budiono Encep Taufik Rahman Erika Rishan Adillah Fahmi, Ahmad Zulfi Fariz, Luthfi Ahmad Gómez, José Manuel Naranjo Hani Hani Hasan Bisri Hasanah Abd Khafidz Hasanudin Hasanudin Hidayat, Moh. Syarif Hisam Ahyani Huda , Miftakhul Ibnu Rusydi Idzam Fautanu Imam Sucipto Iqbal Saujan Irni Sri Cahyanti Iwan Setiawan Jajang Herawan Jamaludin, Jujun Jubaedah, Dedah Jujun Jamaludin Lutfi Fahrul Rizal, Lutfi Fahrul M. Rifqi Al-Ghifari Madani, Farid Maman Suryaman Maruf Maruf Maulani Salsabila Miftakhul Huda Moh. Asep Zakariya Ansori Mowafg Abrahem Masuwd Mudzakkir, Muhammad Mugni Muhit Muhammad Furqon Almurni Muhammad Husni Abdulah Pakarti Muharir, Muharir Mukhlas, Oyo Sunaryo Mulyana, Indra Mustofa Mustofa Mustopa Mutakin, Ali Mutmainah, Naeli Naeli Mutmainah Naisabur, Nanang Nasrudin Nasrudin Neng Yani Nurhayani Niska Shofia, Niska Ni’mawati Ni’mawati Noradin, Muhammad Farhan Bin Mat Nur Hafizhatul Khairi Nur Irmandi Nur Tahiyat Nurhasana, Nurhasana Nurhikmah, Aulia Nurul Ilyana Muhd Adnan Nurwijayanti Parhan, Parhan Putra, Haris Maiza Rani Mariana Ridwan, Ahmad Hasan Ridwansah, Asep Ahmad Riva Abdillah Aziz Rosihon Anwar, Rosihon Royani Rozikin, Opik RR. Rita Erawati Saeideh Shakibiciu Saepudin Saepullah, Usep Sartono Sartono, Sartono Shauma Raffi’u, Aliyya Sofian Al Hakim, Sofian Sucipto, Imam Sumiati Sumiati Syahrul Anwar Syahrul Anwar Syifa Mardhiah Hanifah Syukron Suwardi Taufik Rahman, Encep Titing Oting Supartini Vanisa Camila Wahyudi Wahyudi Wijdan Daurut Tazakka Yadi Janwari Yana Sutiana