Claim Missing Document
Check
Articles

Relevansi Konsep Insan Kamil dengan Tujuan Pendidikan Islam di Tengah Perubahan Sosial Modern Rohma, Allifatur; Khodijah Amatulloh Sholihat; Yanti Yuniarti; Mohammad Solihin; Rifqi Khairul Anam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.12983

Abstract

Perubahan sosial kontemporer ditandai oleh digitalisasi, konektivitas, dan tuntutan kompetensi global mendesak sistem pendidikan Islam untuk meninjau kembali tujuan dasarnya agar tetap relevan secara moral, intelektual, dan sosial. Penelitian ini bertujuan memetakan relevansi operasional konsep Insan Kamil yang berakar pada tasawuf Ibn ‘Arabī dan al-Jīlī dengan rumusan tujuan pendidikan Islam di tengah dinamika perubahan sosial modern Indonesia. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research), berfokus pada analisis konseptual dan filosofis terhadap sumber primer dan sekunder. Hasil temuan menegaskan bahwa Insan Kamil berfungsi sebagai matriks normatif dan operasional yang mengharmonikan dimensi intelektual, moral (adab/akhlaq), dan kemasyarakatan (‘amal) dalam kerangka tauhid. Konsep ini menuntut integrasi wahyu, akal, dan pengalaman, sehingga kualitas Ilahi tercermin dalam karakter dan praktik sosial. Secara praksis, hal ini meniscayakan empat poros: integrasi ilmu berbasis tauhid, pembentukan adab sebagai inti, tazkiyah dan tahqīq sebagai metode, serta etika kekhalifahan di ekologi digital. Kesimpulannya, Insan Kamil memberikan orientasi yang mampu menjawab krisis adab dan fragmentasi ilmu, serta membentuk profil lulusan yang kritis, beretika, dan berdaya cipta dalam masyarakat plural.
Implementasi Nilai-Nilai Tarbiyah dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Islam Fauzi Nurjaman; Abimanyu Panurat; Irawan, Wahyudi Saputra; Rifqi Khairul Anam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13010

Abstract

Penelitian ini menganalisis implementasi nilai-nilai Tarbiyah dalam proses pembelajaran Pendidikan Islam sebagai upaya fundamental membentuk peserta didik yang berkarakter dan berkepribadian Islami di tingkat dasar. Menggunakan metode studi kepustakaan kualitatif, kajian ini berfokus pada analisis konsep Tarbiyah, Ta’lim, dan Ta’dib serta relevansinya dengan tantangan kontemporer, terutama pengaruh budaya digital dan inkonsistensi guru. Hasil sintesis literatur menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan Islam terletak pada peran guru sebagai Murobbi Sejati, yang diwujudkan melalui keteladanan (uswah) dan pembiasaan disiplin (shabr). Selain itu, optimalisasi Ta’dib dalam kerangka Kurikulum Merdeka esensial untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual secara holistik, menjadikannya solusi untuk melawan problem rendahnya minat belajar dan kesulitan membaca Al-Qur'an pada siswa. Kesimpulannya bahwa Model Tarbiyah merupakan fondasi pedagogis yang paling efektif untuk mencapai Insan Kamil, menuntut adaptasi strategi pembelajaran yang didukung teori inovatif seperti Andragogi.
Penerapan Prinsip Maqasid Al-Shari'ah Dalam Kurikulum Untuk Menghadapi Tantangan Zaman Digital Ghozali, Imam; Suwadi Pranoto; Miswan; Rifqi Khairul Anam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13019

Abstract

Pendidikan Islam di era digital berada di persimpangan antara kemajuan teknologi dan krisis kemanusiaan. Kemajuan ini memicu disorientasi nilai, di mana tantangan utamanya bukanlah kekurangan pengetahuan, tetapi 'kehilangan kebijaksanaan' sebuah kondisi di mana akal berfungsi tanpa akhlak, dan ilmu berkembang tanpa ruh adab. Menjawab krisis ini, penelitian filosofis-kepustakaan ini menegaskan Maqasid al-Shari‘ah (hifz al-din, ‘aql, nafs, nasl, mal) sebagai paradigma alternatif yang integral. Maqasid direkonseptualisasi dari sekadar prinsip hukum menjadi 'fondasi filosofis' untuk kurikulum yang menjembatani teknologi dan kemanusiaan. Inti terapinya adalah integrasi ‘aql (akal), qalb (hati), dan adab (moralitas) untuk mendefinisikan ulang kecerdasan: berpikir kritis bukan lagi sekadar berpikir logis, melainkan 'berpikir dengan tanggung jawab moral dan spiritual'. Tujuan akhir kurikulum ini adalah membentuk insan kamil, sebuah upaya untuk tidak hanya mencerdaskan manusia, tetapi 'memanusiakan kecerdasan' itu sendiri
Prinsip Tauhid Sebagai Landasan Integrasi Ilmu Agama dan Sains dalam Kurikulum Fatoni Aziz; Darul Ihsan; Abbas, Ibnu Abbas; Sabaruddin Ado; Rifqi Khairul Anam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13020

Abstract

Penelitian ini didasari oleh sebuah renungan diagnostik atas krisis ontologis dalam pendidikan Islam modern, di mana dikotomi antara ilmu agama dan sains telah menyebabkan ilmu kehilangan jiwa spiritualnya dan berorientasi pada sekularisasi yang tidak utuh. Dengan mengadopsi pendekatan kajian pustaka kualitatif menelusuri gema pemikiran Al-Attas, Al-Faruqi, dan narasi kontemporer studi ini bertujuan untuk menegaskan kembali hakikat Tauhid sebagai fondasi filosofis dan epistemologis yang menautkan wahyu dan akal dalam satu kesatuan makna yang otentik (unity of knowledge). Hasilnya menunjukkan bahwa Tauhid bukan sekadar teori, melainkan sebuah kompas etis yang mengarahkan seluruh kurikulum pada tujuan aksiologis tertinggi: pembentukan Insan Kamil yang beriman, berilmu, dan beradab. Kesatuan ini menjadi perangkat spiritual yang esensial, memungkinkan peserta didik untuk tetap waspada dan berpihak pada kemaslahatan di tengah tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, sehingga ilmu dan teknologi tidak menjadi alat dehumanisasi, melainkan sarana untuk meraih ridha Ilahi.
Dialog Krisis Filsafat Pendidikan Islam dengan Pemikiran Pendidikan Progresif John Dewey Mada Yudha Sasana; Addinul Subhan; Roni Nuryusmansyah; Rifqi Khairul Anam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13033

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Transaksi (Transaction) antara Filsafat Pendidikan Islam dan Instrumentalisme John Dewey, dengan hipotesis bahwa sintesis keduanya dapat mengatasi Kesulitan yang Dirasakan (The Felt Difficulty) dalam pembentukan karakter adaptif di era modern. Dengan menggunakan metode komparatif-kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa kesamaan tujuan dalam mencapai Pertumbuhan (Growth) individu yang utuh dapat diwujudkan melalui Instrumentalisme pedagogis. Pendekatan berbasis Pengalaman Nyata ala Dewey berfungsi sebagai alat fungsional untuk menguji dan mengaplikasikan nilai-nilai normatif Islam, memindahkannya dari ranah kepatuhan pasif menjadi Berpikir Reflektif (Reflective Thinking) yang aktif. Hasilnya adalah sebuah model Rekonstruksi Pengalaman yang holistik, di mana spiritualitas diperkuat oleh Kecerdasan Sosial (Social Intelligence) siswa. Dengan demikian, integrasi ini menawarkan kerangka pendidikan yang relevan dan inklusif, yang siap membekali generasi mendatang dengan karakter moral yang berdaya guna dalam menghadapi dinamika sosial yang plural dan senantiasa berubah.
Studi Peran Keluarga Sebagai Institusi Pendidikan Pertama dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam Lina Alfiah; M.Azhari Rasyid; Ziaul Rahman Baihaqi; Rifqi Khairul Anam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.13085

Abstract

Keluarga saat ini menghadapi krisis fungsi edukatif akibat dominasi modernitas dan teknologi, yang berimplikasi pada munculnya krisis moral dan degradasi karakter di masyarakat. Penelitian ini bertujuan menelaah secara filosofis peran tak tergantikan keluarga sebagai institusi pendidikan pertama dalam perspektif Filsafat Pendidikan Islam (FPI), serta implikasinya terhadap pembentukan manusia yang bermoral, rasional, dan berkarakter. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan kualitatif dengan analisis isi terhadap sumber-sumber primer dan sekunder FPI, melibatkan pandangan dari filsuf klasik seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali, hingga tokoh kontemporer seperti Al-Attas dan Fazlur Rahman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran keluarga dalam FPI bersifat aksio-ontologis. Secara ontologis, keluarga adalah lokus fundamental tempat fitrah anak dijaga dan diarahkan, menjadikan pendidikan sebagai bagian integral dari tatanan tauhid. Secara aksiologis, keluarga adalah arena utama penanaman akhlak karimah melalui ta’dib dan keteladanan (uswah), yang bertujuan membentuk insan kamil dan mencapai sa‘adah (kebahagiaan hakiki). Kesimpulan singkatnya, penguatan peran keluarga merupakan solusi teologis dan pedagogis untuk melawan arus sekularisasi nilai, memastikan Pendidikan Karakter memiliki fondasi spiritual yang kokoh, dan menjamin keberlanjutan peradaban yang beradab.
Dampak Orientasi Kurikulum Berbasis Standar terhadap tujuan Spiritual Pendidikan islam Dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara Imam Sholihin; Handoko; Sigit Sugiarto; Rifqi Khairul Anam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i1.14566

Abstract

Kajian ini mendiagnosis kegagalan hakikat dalam Pendidikan Islam kontemporer, di mana orientasi kurikulum berbasis standar mewujudkan rasionalitas teknokratis yang secara sistemik mereduksi keutuhan manusia (budi pekerti). Latar belakang penelitian ini adalah ketercerabutan spiritual yang nyata, ditandai oleh dominasi pengukuran kognitif yang mengabaikan dimensi rasa dan karsa. Tujuan fundamental penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dampak instrumental standar terhadap tujuan spiritual, serta merumuskan terapi filosofis berbasis Pendidikan yang Memerdekakan. Menggunakan metode studi kepustakaan analitis-kritis (content analysis mendalam), hasil pembahasan mengungkap bahwa hegemoni standar membelenggu inisiasi batin peserta didik dan mengkhianati peran pemimpin spiritual guru (Ing Ngarsa Sung Tuladha). Rekomendasi teoretis yang diajukan adalah revitalisasi Tri Sentra Pendidikan dan tuntutan agar kebijakan bergeser dari visi kuantitatif (angka) menuju visi kualitatif (watak). Implikasi utama dari temuan ini adalah kebutuhan mendesak untuk mengembalikan budi pekerti sebagai sumbu sentral guna menghindari kelahiran generasi yang cerdas akal namun miskin secara jiwa, sebuah tragedi bagi peradaban.
Pendidikan Sebagai Pembentuk Karakter Bangsa: Analisis Konsep Negara Ideal Al-Farabi Neneng Nurhayati; Ahmad Yakin; Yopi Ardila; Rifqi Khairul Anam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.15725

Abstract

Penelitian ini menganalisis urgensi reorientasi pendidikan nasional di tengah krisis karakter yang diakibatkan oleh reduksi pendidikan menjadi sekadar fungsi ekonomi dan politik. Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi visi pembentukan karakter bangsa dengan menelusuri fondasi filosofis dalam konsep Negara Utama (Al-Madīnah al-Fāḍilah) yang diusung oleh Al-Farabi. Melalui metode kualitatif dan pendekatan analisis filosofis, penelitian ini menggali bagaimana Al-Farabi menempatkan pendidikan sebagai jalan tunggal menuju Kebahagiaan Paripurna (Sa‘ādah), bukan hanya sebagai instrumen teknis. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembentukan karakter bangsa harus berakar pada hierarki intelektual dan moral, di mana pemimpin pendidikan (al-ra’īs al-awwal) berfungsi sebagai akal (‘aql) yang membimbing warga menuju kesempurnaan. Kesimpulan: Model pendidikan yang otentik menuntut integrasi tujuan etis dan epistemologis Al-Farabi untuk menciptakan warga negara yang tidak hanya fungsional tetapi juga terpadu secara moral dan intelektual, sehingga mampu mewujudkan tatanan sosial yang stabil dan bijaksana
Relevansi Konsep Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs) Al-Ghazali untuk Pendidikan Karakter di Abad ke-21 Imam Abdimullah Al Ishaq; Fajaruddin Himmawan; Fa’izah Hanifah; Rifqi Khairul Anam
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.15734

Abstract

Akselerasi digital Abad ke-21 menghasilkan diskrepansi antara capaian kompetensi teknis (4C dan literasi digital) dengan ketangguhan karakter moral-spiritual peserta didik. Ketimpangan ini termanifestasi dalam rapuhnya regulasi diri, krisis identitas, dan literasi digital yang belum beradab. Penelitian ini bertujuan merumuskan kerangka konseptual untuk mengintegrasikan Tazkiyatun Nafs Al-Ghazali dengan kerangka kompetensi modern. Menggunakan studi kepustakaan dan analisis filosofis, penelitian ini menyintesis Tazkiyatun Nafs melalui poros takhalli (pelepasan sifat negatif), tahalli (penanaman kebajikan), dan tajalli (aktualisasi nilai) sebagai arsitektur nilai yang ko-evolutif dengan 4C. Hasilnya, takhalli memperkuat critical thinking sebagai disiplin batin; tahalli menopang collaboration dan communication berbasis adab; sementara tajalli mengarahkan creativity pada kemaslahatan publik (maqashid). Penelitian ini menawarkan novelty dalam pemadanan eksplisit Tazkiyatun Nafs dengan indikator kompetensi abad ke-21 secara operasional, menghasilkan kerangka kurikulum-pedagogi-asesmen yang dapat diturunkan menjadi praktik pembelajaran holistik, alih-alih sekadar moralitas tambahan. Kesimpulan menegaskan bahwa Tazkiyah adalah mekanisme integratif yang mengikat domain intrapersonal, interpersonal, dan transpersonal untuk merespons krisis etis generasi modern.
Fungsi Sosial Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di dalam Lingkungan Masyarakat Zumrotul Badiah; Fitria Fardiani; Rahmatullah; Rifqi Khairul Anam
AL-Qiyadah Vol 2 No 1 (2025): Al-Qiyadah
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam STAIRUA Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/f9hj9c38

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran sosial guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk karakter dan nilai-nilai moral peserta didik di tengah dinamika sosial, budaya, dan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Dalam konteks masyarakat modern yang ditandai oleh globalisasi dan keterbukaan informasi, peserta didik dihadapkan pada berbagai pengaruh nilai dan budaya yang tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, guru PAI tidak hanya dituntut berperan sebagai pengajar materi keagamaan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan moral yang mampu mengaitkan nilai-nilai Islam dengan realitas kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis berbagai sumber ilmiah berupa jurnal akademik, buku, dan artikel yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa efektivitas peran sosial guru PAI dipengaruhi oleh faktor internal, seperti motivasi pribadi, komitmen profesional, dan kompetensi sosial, serta faktor eksternal, seperti pandangan masyarakat, kondisi sosial budaya, dan perkembangan teknologi. Selain itu, tantangan globalisasi, pengaruh budaya asing, dan kemajuan media digital menuntut guru PAI untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan kontekstual. Kolaborasi antara guru PAI, orang tua, dan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam memperkuat pembentukan karakter peserta didik. Kesimpulannya, peran sosial guru PAI tetap sangat relevan dalam membangun karakter dan moral peserta didik, namun perlu terus diperkuat melalui adaptasi terhadap perubahan sosial dan kerja sama lintas lingkungan pendidikan.
Co-Authors Abbas, Ibnu Abbas Abdelmajid Idris Mohammad Khalil Abdul Adhim, M. Abdul Ghofur Abimanyu Panurat Adam Rasuli, Moh. Addinul Subhan Adytia Maulana Zidqi , Muhammad Ahmad Yakin Alamsyah Halim Ali, Mahfud Alif Haidir Aziz, M. Alifatur Rodziah, Dinda Almas Kistina, Sabila Alvina, Tahta Amelia, Fita Anam, Saipul Andri Yanto Athar Abdullatif Husain Ayu Kumala, Firda Ayu Saputri, Dinda Basir Hanif, Ahmad Choiriyah, Mahmadatul Choirul Umam, Choirul Darul Ihsan Dasuki, Marum Eka pratiwi, Aisyati Fajar Mustakhim Fajaruddin Himmawan Fareed Ahmad Obaidy Faruq Fadhlillah, Fatin Fatahillah, M. Fathy ubaidillah, M. Fatoni Aziz Fauzi Nurjaman Fa’izah Hanifah Firliatul Ilahi, Rani Fitria Fardiani Fitria, Habibatul Fitria, Lailatul Fitriana, Rohmatun Gafur, Abd Habibi , Achmad Habibullah Handoko Hardiansyah, Yayak Holis Majid, Nur Hulwa, Febriana Hisana Huwaida, Nisrina Ilahiyah, Athiyah Imam Abdimullah Al Ishaq Imam Ghozali Imam Sholihin Imam Solihin Intan Fitriani Irawan, Wahyudi Saputra Irfan Ali, Irfan Jannah, Royanatul Karimah, Milla Khodijah Amatulloh Sholihat Khoiriyah Khoiriyah Komariya, Lailatul Lailatul Aulia, Nurul Laili Rohmadhoni Novita Fitri, Noer Lailiyah, Miradatul Lilik Noer Laili Lina Alfiah Ludfi Robiatul Adawiyah M Jadid Khadavi M.Azhari Rasyid M.Fathy ubaidillah Mada Yudha Sasana Mariyatul Kifiyah, Sarifah Maulana Ihsan, Maulana Miswan Mochammad Zainul Arifin Mochammad Zainul Arifin Mohammad Solihin Mufthi Azizah, Aulia Muhammad Al Haariz Muhammad As’ad Humam Muhammad Ghufron Mukarromah, Nafilatul Mutammimah, Siti Nailul Izzah Neneng Nurhayati Nisak, Choirun Nurhayati Nurhayati Nuril Maulida Alfianti, Najwa Nurwahid, Nurwahid Pri Astutik, Imama Putri Nabila, Vania Putriana, Eka Rahmatullah Robiatul Adawiyah Rohma, Allifatur Rohmatin Ramadhani Rohmatun Fitriana Roni Nuryusmansyah Rudianto Rully Agung Firmansyah Sa'adah, Karomatus Sabaruddin Ado Salsabila Makadina, Resfia Samsul Huda Sariroh, Toyiba Sarmita Shofiatul Ulul Hikmah, Fitri Sigit Sugiarto Siti Aisyah Siti Maimunah Sunarsih Suwadi Pranoto SYAIFUL, MOHAMMAD Verawati, Tanti Waahsturi Yanti Yuniarti Yopi Ardila Zahro Maulidiya, Luluk Zahro, Lutfiatuz Zahro, Rofiatus Zaini , Ahmad Ziaul Rahman Baihaqi Zumrotul Badiah