Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DALAM MENDUKUNG KETAHANAN EKOSISTEM PESISIR Andik Isdianto; Ilham Maulana Asyari; Muchamad Fairuz Haykal; Faradhilah Adibah; Muhammad Javier Irsyad; Supriyadi Supriyadi
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 6, No 2 (2020): SEPTEMBER 2020
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v6i2.9260

Abstract

Total luas Clungup Mangrove Conservation (CMC) adalah 177,24 ha, terdiri dari 71 ha mangrove, 10 ha terumbu karang dan 96,24 ha hutan lindung. Pada tahun 2020, selain pandemi COVID-19, wilayah Malang Selatan juga mengalami bencana lain yaitu banjir rob pada tanggal 26 Mei 2020. Hal tersebut mempengaruhi banyak hal termasuk perubahan garis pantai. Untuk mendukung ketahanan ekosistem pesisir, terutama perubahan garis pantai, perlu dilakukan penelitian tentang perubahan garis pantai selama 12 tahun terakhir (2008-2020). Perhitungan Net Shoreline Movement (NSM), Linear Regression Rate (LRR), dan End Point Rate (EPR) merupakan metode perhitungan perubahan garis pantai dalam metode Digital Shoreline Analysis System. Perhitungan regresi liner digunakan untuk mengukur tingkat perubahan garis pantai, metode yang digunakan adalah Linear Regression Rate (LRR) . Akresi tertinggi terjadi di pantai Tiga Warna dengan laju pertambahan rata-rata 0,11 meter / tahun dan jarak perubahan rata-rata 1,28 meter. Sedangkan abrasi tertinggi terjadi di Pantai Mini dengan laju abrasi rata-rata -0,33 meter / tahun dan jarak perubahan rata-rata -5,84 meter. Di pantai Gatra, abrasi dan akresi sama-sama tinggi. Informasi mengenai perubahan garis pantai dan prediksi perubahan garis pantai untuk kedepannya merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan sebagai upaya awal untuk perlindungan Kawasan pesisir untuk mendukung ketahanan ekosistem pesisir. Kata kunci : Abrasi, akresi, digital shoreline analysis system, end point rate, net shoreline movement.  The total area of Clungup Mangrove Conservation (CMC) is 177.24 ha, consisting of 71 ha of mangroves, 10 ha of coral reefs and 96.24 ha of protected forest. In 2020, apart from the COVID-19 pandemic, the South Malang region also experienced another disaster, namely the tidal flood on May 26, 2020. This affected many things including changes to the coastline. To support the resilience of coastal ecosystems, especially changes in shorelines, it is necessary to conduct research on changes in coastlines over the last 12 years (2008-2020). Calculation of Net Shoreline Movement (NSM), Linear Regression Rate (LRR), and End Point Rate (EPR) is a method of calculating shoreline changes in the Digital Shoreline Analysis System method. Liner regression calculations are used to measure the rate of change in the shoreline, the method used is the Linear Regression Rate (LRR). The highest accretion occurs at Tiga Warna beach with an average growth rate of 0.11 meters / year and an average change distance of 1.28 meters. Meanwhile, the highest abrasion occurred at Pantai Mini with an average abrasion rate of -0.33 meters / year and an average change distance of -5.84 meters. At Gatra beach, abrasion and accretion are both high. Information about shoreline changes and predictions of changes in coastlines in the future is one of the efforts that can be used as an initial effort to protect coastal areas to support the resilience of coastal ecosystems. Keywords: Abrasion, Accretion, Digital Shoreline Analysis System, End Point Rate, Net Shoreline Movement.
PENGELOLAAN KAWASAN REKLAMASI YANG BERKELANJUTAN: STUDI KASUS REKLAMASI DI TELUK TERING PULAU BATAM INDONESIA Management of sustainable coastal reclamation areas: A case study of the reclamation of Tering bay in Batam Island, Indonesia Rudianto Rudianto; Andik Isdianto
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 9 No. 1 (2020): JAFH Vol. 9 no. 1 February 2020
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.489 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v9i1.15379

Abstract

Lokasi Batam sangat strategis karena terletak di rute perdagangan internasional dan terletak di pusat segitiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura (IMS-GT). Mempertimbangkan meningkatnya permintaan lahan di Pulau Batam, Pemerintah Kota Batam telah memperluas area melalui proses reklamasi untuk kawasan industri dan komersial lainnya. Proses reklamasi secara signifikan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan di Pulau Batam. Kondisi kerusakan akan semakin parah sehingga akan menyebabkan buruknya kualitas perairan akibat pencemaran perairan pesisir dan laut. Salah satu area reklamasi adalah Tering bay. Reklamasi teluk Tering saat ini dalam kondisi dengan kualitas air yang sangat buruk. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengelolaan kawasan teluk Tering yang berkelanjutan, mengingat reklamasi merupakan kegiatan yang menjadi kebutuhan masyarakat.Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Partial Least Square (PLS) dan Analytical Hierarchy Process (AHP). PLS digunakan untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara variabel laten dalam reklamasi pantai, serta membentuk model konstruktif. Sementara itu, metode AHP berguna untuk menentukan skala prioritas penanganan pengelolaan kawasan reklamasi pesisir yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai reklamasi berkelanjutan diperlukan pengelolaan yang baik. Manajemen meliputi: peningkatan peran masyarakat, pemerintah daerah, sektor swasta dan pengetatan peraturan. Namun, manajemen harus memperhatikan proses erosi dan abrasi dengan mempertimbangkan bahwa wilayah ini memiliki gelombang laut yang cukup kuat. Abstract Batam's location is very strategic as it lies on international trade routes and is located in the center of Indonesia-Malaysia-Singapore (IMS-GT) growth triangle. Considering the increasing land demand in Batam Island, Batam City government has expanded the area through reclamation process for industrial and other commercial area. Reclamation process has significantly impacted the deterioration of environmental quality in Batam Island. The condition of the damage will become more severe so that it will cause the poor quality of waters due to pollution of coastal and marine waters. One of the reclaimed areas is Tering bay. The reclamation of the Tering bay is currently under conditions with very poor water quality. The purpose of this research  is to study the management of Tering bay area which is sustainable, considering the reclamation is an activity that become the society need.The method used in this research using Partial Least Square (PLS) and Analytical Hierarchy Process (AHP) method. PLS is used to determine whether or not there is a relationship between latent variables in coastal reclamation, as well as forming a constructive model. Meanwhile, AHP method is useful to determine the priority scale of handling management of coastal reclamation area sustainable.The results show that to achieve sustainable reclamation requires good management. The management includes: increased role of community, local government, private sector and tightening of rules. However, the management should pay attention  to the process of erosion and abrasion with  considering that this region has a strong enough sea waves.  
INDEKS KERENTANAN PESISIR DITINJAU DARI GEOMORFOLOGI, ELEVASI, DAN ANCAMAN GELOMBANG UNTUK MEWUJUDKAN KETAHANAN EKOSISTEM PESISIR Andik Isdianto; Faradhillah Adibah; Muchamad Fairuz Haykal; Muhammad Javier Irsyad; Ilham Maulana Asyari; Supriyadi Supriyadi
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 8, No 2 (2022): SEPTEMBER 2022
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v8i2.14912

Abstract

ABSTRAKPantai Clungup merupakan kawasan konservasi dari hutan mangrove. Bentuk substrat di Pantai Clungup cukup beragam mulai pantai berpasir hingga bertebing. Kerentanan pesisir merupakan tingkatan suatu sistem yang mudah terdampak bencana atau tidak. Penelitian dilakukan menggunakan perhitungan indeks kerentanan pesisir (CVI) didukung dengan pembagian wilayah konsep sel sedimen. Konsep sel sedimen dilakukan dengan membagi 5 sel menurut bentuk geomorfologi pesisir. Variabel yang digunakan yaitu Geomorofologi pesisir, Nilai elevasi ketinggian, dan tinggi gelombang signifikan. Data geomorfologi merupakan hasil survei lapang, Data elevasi berupa data Tiff BIG, dan data tinggi gelombang dari European centre for medium-range weather forecasts (ECMWF). Berdasarkan penelitian Pantai Clungup memiliki indeks kerentanan yang berbeda pada setiap lokasi sel. Hasil nilai kerentanan pesisir pada sel 1 yaitu 1,83 dikategorikan rentan. Sel ini rentan karena berada di mulut teluk. Selanjutnya pada sel 2 senilai 2,89 dikategorikan cukup rentan. Sel 3 didapatkan hasil senilai 2,89 kategori yang dihasilkan yaitu cukup rentan. Pada sel 4 didapatkan nilai 1.73 yang berarti masuk kedalam kategori kurang rentan, hal ini di karenakan memiliki elevasi yang lebih tinggi. Kemudian sel 5 didapatkan nilai kerentanan senilai 3,16 sel ini dapat di kategorikan dalam golongan cukup rentan. Nilai kerentanan yang rendah menunjukkan indikator ketahanan ekosistem pada wilayah tersebut tinggi.Kata kunci: CVI, ECMWF, Nilai Kerentanan, Perhitungan Indeks, Sel Sedimen.ABSTRACT Clungup Beach is a conservation area. It has quite a variety of substrate forms ranging from sandy beaches to cliffs. Coastal vulnerability is the level of a system that is easily affected by disasters or not. The research was conducted using the calculation of the coastal vulnerability index supported by the concept of sediment cells. The concept of sediment cells is carried out by dividing 5 cells according to the form of coastal geomorphology. The variables used are coastal geomorophology, elevation values, and significant wave heights. Geomorphological data is the result of field surveys, elevation data in the form of Tiff BIG data, and wave height data from the European center for medium-range weather forecasts. The results of the Clungup Beach research have different vulnerability indexes. The value of coastal vulnerability in cell 1, namely 1.83, is categorized as vulnerable, because it is located at the mouth of the bay. Furthermore, in cell 2, the value of 2.89 is categorized as quite vulnerable. In cell 3, the resulting 2.89 categories were quite vulnerable. In cell 4, it is obtained 1.73, which means it is included in the less vulnerable category, this is because it has a higher elevation. Then cell 5 got the value of 3.16 these cells can be categorized as quite vulnerable. A low vulnerability value indicates a high indicator of ecosystem resilience in the area.Keywords: CVI, ECMWF, Index calculation, Sediment cells, Vulnerability index.
Local and Migrant Fishermen Marine Cultures in the Atapupu Coastal Area in Supporting the Blue Economy in Maritime Security Supriyadi Supriyadi; Muh. Afrisal; Raymundus Putra Situmorang; Kristera Tesa Bere Mau; Ari Widodo; Andik Isdianto; Intan Dwi Puspitasari
Jurnal Pertahanan: Media Informasi ttg Kajian & Strategi Pertahanan yang Mengedepankan Identity, Nasionalism & Integrity Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : The Republic of Indonesia Defense University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33172/jp.v9i1.1864

Abstract

Atapupu is a coastal area that has a strategic location because it is directly adjacent to the country of Timor Leste. This study aims to analyze the differences in marine culture at Atapupu Beach in supporting the blue economy in maritime security. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. The data source comes from primary data by interviewing local and migrant fishermen and secondary data comes from journals. Data analysis in this study used descriptive qualitative. This study found that the differences between the local and migrant fishermen could be differentiated based on their time to go to sea, the fishing gear, and the type of boat used by the fishermen. The migrant fishermen, which come from Buton, are Muslim, so they do not go to sea on Fridays due to Fridays Prayers. They use fishing rods as gear and bigger boats than the local fishermen. Meanwhile, the local fishermen have no special days to go to sea, they go to sea depending on the weather conditions. The local fishermen only use nets as fishing gear and their boats are smaller compared to the migrant fishermen’s boats. These conditions are affecting their range of fishing areas, the type of fish caught, and the average income per month. Cultural differences at sea between local and migrant fishermen will certainly affect maritime security in the blue economy sector. The existence of differences in types and income from catches can lead to less optimal utilization of fishery resources.
Pemetaan batimetri sebagai informasi dasar untuk penempatan fish apartment di perairan Bangsring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Bathymetry mapping as basic information for fish apartment placement in Bangsring waters, Banyuwangi, East Java) M. Arif Zainul Fuad; Abu Bakar Sambah; Andik Isdianto; Awalrush Andira
Depik Vol 5, No 3 (2016): December 2016
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.58 KB) | DOI: 10.13170/depik.5.3.5655

Abstract

The objective of the present research was to map the bathymetry of the Bangsring coastal area, Banyuwangi. Depth data obtained are used to consider the suitable location for fish apartment placement. The depth of the water was measured using a single beam echosounder with a frequency of 50 Hz. The data obtained by sounding process corrected by Tidal data. The tidal data measured during sampling with the observation interval of 30 minutes. The tidal correction was performed to get the depth value relative to lowest Water Surface (LWS). The results showed the depth of the Bangsring coastal area ranged from 2-49 meters. The deepest region is in the southeast of the research area. Based on the depth of the waters, the locations that can be an alternative placement of fish apartment is located by distance of 200- 250 meters in front of Bangsring coastal area with total area  approximately 30 HaPenelitian ini bertujuan untuk memetakan kedalaman perairan Bangsring, Banyuwangi. Data kedalaman yang didapat dari pemeruman selanjutnya digunakan sebagai pertimbangan untuk mencari alternatif lokasi penempatan fish apartment. Kedalaman perairan di ukur menggunakan Single Beam Echosounder dengan frekuensi 50 Hz. Pemeruman dilakukan selama 2 hari yaitu pada tanggal 17 dan 18 Maret 2016 dengan metode zig zag . Hasil pengukuran kedalaman selanjutnya di koreksi terhadap pasang surut. Pasang surut diukur selama pelaksanaan pemeruman dengan interval pengamatan 30 menit. Koreksi pasang surut dilakukan untuk mendapatkan nilai kedalaman relatif terhadap Lowest Water Surface (LWS). Hasil penelitian menunjukkan kedalaman Perairan Bangsring Berkisar antara 2-49 meter. Wilayah terdalam berada dibagian tenggara area penelitian. Berdasarkan kedalaman perairan tersebut, maka lokasi Perairan di Bangsring yang dapat dijadikan alternatif penempatan fish apartment adalah di perairan depan pantai bagian timur dengan jarak sejauh 200-250 meter dari garis pantai Bangsring dengan luas 30 Ha
Geochronology of Cadmium (Cd), Cuprum (Cu), and Arsenics (As) in Annual Band of Coral Porites lutea at Pantai Kondang Merak, Malang Oktiyas Muzaky Luthfi; Sigit Rijatmoko; Andik Isdianto; Daduk Setyohadi; Alfan Jauhari; Ali Arman Lubis
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 11, No 2 (2019): August 2019
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v11i2.19991

Abstract

Coral reef is a massive natural building block that mainly composed of hard coral. In ecological view coral reef is the center of biological activity for shelter, foraging and feeding place. Porites lutea is a common coral in reef flat area such as in Pantai Kondang Merak. This coral can form a massive with hillocky colony surface and has a slow linear extension rate, that made this coral has long longevity. The annual growth band of coral skeleton provide information of pollutants in the coastal extending back over several years ago due to ability of coral aragonite traped trace metal from environment. The aim of this research was to determine the concentration of trace metals of Cd, Cu and As along with the coral annual banding. The heavy metals detection was performed using ICP-OES (iCAP 7400 Series). The concentration of Cd, Cu and As in sample 1 (KM1) were 2.236 mg/kg, 9.726 mg/kg, and 2.474 mg/kg, while sample 2 (KM2) were 1.989 mg/kg, 19.157 mg/kg, and 2,064 mg/kg respectively. Two ways mechanism of trace metals to be trapped in the coral skeleton are by direct mechanism when trace metals in a form dissolved ion that were uptaken by coral then stored into coral skeleton and by indirect mechanism when particulate metals ingested by plankton then eaten by coral through coral tissue. The tracing of heavy metal in coral is provided important information of environment condition of the sea from 2009 - 2015 that may be used for authority decision regarding pollutant ambient in the sea environment.
Pemetaan batimetri sebagai informasi dasar untuk penempatan fish apartment di perairan Bangsring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Bathymetry mapping as basic information for fish apartment placement in Bangsring waters, Banyuwangi, East Java) M. Arif Zainul Fuad; Abu Bakar Sambah; Andik Isdianto; Awalrush Andira
Depik Vol 5, No 3 (2016): December 2016
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.5.3.5655

Abstract

The objective of the present research was to map the bathymetry of the Bangsring coastal area, Banyuwangi. Depth data obtained are used to consider the suitable location for fish apartment placement. The depth of the water was measured using a single beam echosounder with a frequency of 50 Hz. The data obtained by sounding process corrected by Tidal data. The tidal data measured during sampling with the observation interval of 30 minutes. The tidal correction was performed to get the depth value relative to lowest Water Surface (LWS). The results showed the depth of the Bangsring coastal area ranged from 2-49 meters. The deepest region is in the southeast of the research area. Based on the depth of the waters, the locations that can be an alternative placement of fish apartment is located by distance of 200- 250 meters in front of Bangsring coastal area with total area  approximately 30 HaPenelitian ini bertujuan untuk memetakan kedalaman perairan Bangsring, Banyuwangi. Data kedalaman yang didapat dari pemeruman selanjutnya digunakan sebagai pertimbangan untuk mencari alternatif lokasi penempatan fish apartment. Kedalaman perairan di ukur menggunakan Single Beam Echosounder dengan frekuensi 50 Hz. Pemeruman dilakukan selama 2 hari yaitu pada tanggal 17 dan 18 Maret 2016 dengan metode zig zag . Hasil pengukuran kedalaman selanjutnya di koreksi terhadap pasang surut. Pasang surut diukur selama pelaksanaan pemeruman dengan interval pengamatan 30 menit. Koreksi pasang surut dilakukan untuk mendapatkan nilai kedalaman relatif terhadap Lowest Water Surface (LWS). Hasil penelitian menunjukkan kedalaman Perairan Bangsring Berkisar antara 2-49 meter. Wilayah terdalam berada dibagian tenggara area penelitian. Berdasarkan kedalaman perairan tersebut, maka lokasi Perairan di Bangsring yang dapat dijadikan alternatif penempatan fish apartment adalah di perairan depan pantai bagian timur dengan jarak sejauh 200-250 meter dari garis pantai Bangsring dengan luas 30 Ha
Identification of Types and Production Volume of Catched Fish at Pondokdadap Beach Fishing Port (PPP), Malang Regency Muhammad Fikri Ariefandi; Andik Isdianto
Journal of Marine and Coastal Science Vol. 12 No. 3 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmcs.v12i3.42923

Abstract

The fisheries sector is a sector with great potential for the Indonesian economy. East Java has a large fishing business, this is due to the spread of fish landing bases and playing an active role in promoting local fishery production, one of which is the Pondokdadap Coastal Fishing Port (PPP). The purpose of this study was to obtain information about the type and volume of fish caught landed at PPP Pondokdadap in May and June 2022. The method used by the author in conducting this research is through a qualitative descriptive approach. Based on the results of the research, during on May 2022 the production of fish caught landed at PPP Pondokdadap amounted to 1,813.2 tons. Whereas in June the catch amounted to 1,605.9 tons. There were 10 types of fish caught, dominated by tuna. There was a decrease in production volume of 207 tonnes or around 11%.
Zonasi Wilayah Pesisir Akibat Kenaikan Muka Air Laut Andik Isdianto; Wahyudi Citrosiswoyo; Kriyo Sambodho
Jurnal Permukiman Vol 9 No 3 (2014)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2014.9.148-157

Abstract

Isu pemanasan global membawa dampak pada terjadinya kenaikan muka air laut. Kenaikan muka air laut akan menjadi masalah apabila air laut tersebut telah mencapai daratan dan menimbulkan kerusakan di wilayah pesisir. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis dampak kenaikan muka air laut terhadap penggunaan lahan dan tingkat kerentanan bencana kenaikan muka air laut di wilayah pesisir. Studi kasus dilakukan di wilayah Tuban, Jawa Timur. Berdasarkan hasil analisis, penggunaan lahan di wilayah penelitian pada tahun 2001 hingga 2010, sebagian besar berupa lahan pertanian dan perkebunan, dan sebagian besar dari wilayah permukiman dan perkotaan berada di wilayah pesisir. Kenaikan muka air laut di wilayah penelitian, menyebabkan wilayah dengan potensi tergenang pada tahun 2100 (1.021 mm) seluas 566 ha, sehingga wilayah yang memiliki kerentanan sangat tinggi terhadap bencana kenaikan muka air laut terdapat di wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan pantai. Arahan zonasi penggunaan lahan pada wilayah pesisir terkait dampak kenaikan muka air laut di wilayah pesisir Pantai Utara Kabupaten Tuban terbagi menjadi 3 zonasi umum wilayah pesisir, yaitu : zona pemanfaatan umum, konservasi dan alur pelayaran, dengan penetapan strategi akomodatif dan proteksi yang sistematis.
Pemetaan Kerentanan Tsunami untuk Mendukung Ketahanan Wilayah Pesisir Andik Isdianto; Diah Kurniasari; Aris Subagiyo; Muchamad Fairuz Haykal; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Permukiman Vol 16 No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2021.16.90-100

Abstract

Tsunami merupakan bencana yang jarang terjadi namun cukup memberikan kerusakan yang parah terhadap daerah pesisir yang terkena dampaknya. Banyaknya korban jiwa dan juga harta benda disebabkan oleh kurangnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana tsunami, sehingga perlu adanya studi tentang ketahanan wilayah pesisir dalam menghadapi bencana tsunami. Langkah awal untuk membangun ketahanan bencana tsunami adalah mengidentifikasi karakteristik ancaman, kerentanan dan resiko bencana tsunami. Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan dalam memetakan kerentanan suatu daerah terhadap bencana tsunami, dengan parameter kerentanan antara lain kemiringan lahan, tingkat elevasi daratan, penggunaan lahan  dan jarak dari garis pantai, dan diolah dengan metode Weighted Overlay Analysist. Hasil dari identifikasi variabel kerentanan tsunami menunjukkan bahwa nilai kemiringan lahan antara 2- 6% tergolong rentan, elevasi daratan  antara 5 – 10 meter tergolong rentan, penggunaan lahan yang didominasi pertanian tergolong rentan, dan jarak dari garis pantai yang memiliki kerentanan sangat besar apabila semakin dekat dengan pantai. Hasil pengolahan data dengan Weighted Overlay Analysist dari beberapa parameter kerentanan menunjukkan bahwa sebagian besar daerah di Kabupaten Cilacap memiliki kerentanan tsunami dalam kategori Cukup Rentan hingga Rentan, sehingga perlu adanya tindakan penyadaran masyarakat akan bahaya tsunami, penetapan jalur evakuasi tsunami, serta upaya relokasi, adaptasi, dan proteksi di wilayah pesisir.
Co-Authors A Alfan Jauhari Abu Bakar Sambah Ade Yamindago Adriani Sunuddin Agus Tumulyadi Agus Tumulyadi Aisyiyah Nurmarina Bestari Al Indunissy, Nuruddin Al Maky, Nuril Huda Alfi Nur Rusydi Alfiana, Silvina Sita Ali Arman Lubis Ali Arman Lubis Aliviyanti, Dian Aliyah, Nada Rahma Amanda Rifan Fathoni Ammara, Laya Anda Putra R. Sirait Angga Wira Perdana Anthon Andrimida, Anthon Aprilia, Maulydiana Afrina Arbiansyah, Moh Junit Ari Widodo Arief Setyanto Arief Setyanto Ariefandi, Muhammad Fikri Arif , Abdul Hamid Arif, Abdul Hamid Arifianti, Dwi Nurjanatin Aris Subagiyo Arsad, Sulastri Asadi, M. Arif Ash S, Muhammad Hasbiy Asmirijal, Amrey Syahnur As’adi, M. Arif Atmaja, Albertus Aldo Danar Atminenggar, Alinda Najma Aulia Lanudia Fathah Awalrush Andira A’yun, Qurrota Bambang Semedi Bayu Kusuma Berlania Mahardika Putri Citra Satrya Utama Dewi Daduk Setyohadi Darmawan Ockto Sutjipto Defa Rizqi Machfuda Defri Yona Dewa Gede Raka Wiadnya Dewa Gede Raka Wiadnya Dewi, Citra Satrya Utama Dhea, Luthfia Ayu Dhiana Puspitawati Diah Kurniasari Dina Andriani Djoko Lelono, Tri Edi Susilo Ekwan Nofa Wiratno El Rahimi, Sayyid Afdhal Eziah Ika Lubada Fajariadi, Thry Harry Fan Puji Ananda Musalima Faradhilah Adibah Faradhillah Adibah Faradhillah Adibah Faradhillah Adibah Fathah, Aulia Lanudia Fetriyani Fetriyani Fitrianti , Novariza Fitrianti, Novariza Fuad, Muhammad Arif Zainul Fuaidi, Jirjis Ahmad Nur Gatot Ciptadi Gatut Bintoro Ghatfan, Reiky Naufal Gibran, Khalil Gilang Rusrita Aida Gilang Rusrita Aida Ginting, Meliani Ananda Br. Guntur Hadiyah, Lisa Nur Hagus Tarno Hamdallah, Dika Puja Hamzah Hamzah Hartati Kartikaningsih Hasyim, Bunga Ashluna Haykal, Muchamad Fairuz Herandarudewi, Sekar Mira Humairi, Nasywa Anargya Ilham Maulana Asyari Ilham Maulana Asyari Intan Dwi Puspitasari Irawan, Muhammad Fathir Irwan Jatmiko Ishaq, Syafrial Yanuar Jati Batoro Kamilatunnisa, Kamilatunnisa Khurniawan, Dhira Kristera Tesa Bere Mau Kristina Marsela Kriyo Sambodho Kryk, Adryan Kudrati, Amelinda Vivian Kurniasari, Diah Kurniasari, Reni Dyah Yuni Kusumawardhani, Dinda Ayu Lanudia Fathah, Aulia Lisa Nur Hidayah Lutfi Ni`'Matus Salamah Lutfia Fahimatul Ilmi Luthfi, M. Azurea Bahri Mahardika Putri, Berlania Maheno Sri Widodo, Maheno Sri Maisa Maisa, Maisa Marsela, Kristina Maulana Fikri Mayshita Yonar Mercyska Suryandari Mochamad Arif Zainul Fuad Mohammad Arif Asadi Muchamad Fairuz Haykal Muchamad Fairuz Haykal Muchamad Fairuz Haykal Muchamad Fairuz Haykal Muh. Afrisal Muhammad Arif Asadi, Muhammad Arif Muhammad Fikri Ariefandi Muhammad Javier Irsyad Muhammad Javier Irsyad Muhammad Javier Irsyad Nasrudin, Abdul Rohman Nasution, Fakhri Zakariyah Nezya Pramudya Wardani Nico Rahman Caesar Niken Hendrakusma Wardani Nisrina, Aliyya Nizery, Sefhanissa Puspa Retno Novariza Fitrianti Nuddin Harahab Nur Hidayah, Lisa Oktiyas Muzaky Lutfi Oktiyas Muzaky Luthfi Oktiyas Muzaky Luthfi Oktiyas Muzaky Luthfi oktiyas muzaky Luthfi, oktiyas muzaky Oktiyas Muzaky Muzaky Luthfi Pangestu, Wanda Suryani Pattisahusiwa, Annisa Shafira P. Permata, Titanora Lintang Puspitasari, Intan Dwi Putra, Muhammad Naufal Eka Putri, Berlania Mahardika Rafif Zul Fahmi Rahma, Annisa Maulidina Rahmadhani, Aida Rahmah Ramadhanti, Nur Fa'izah Fitri Rarasrum Dyah Kasitowati Rarasrum Dyah Kasitowati Raymundus Putra Situmorang Rihmi, Mihrobi Khalwatu Rijatmoko, Sigit Rijatmoko, Sigit Rudianto Rudianto Rudianto Rudianto Rudianto Sambodho, Kriyo Saputra, Dhira Kurniawan Saputra, Tedy Eko Seftiawan Samsu Rijal Seftiawan Samsu Rijal, Seftiawan Samsu Septi Fandinata, Selly Septiandi, Adrian Rahman Septiansyah, Moch. Rafli Setyanto, Arif Setyawan, Fahreza Okta Shafa Thasya Thaeraniza Shofian Nanda Adiprayoga Sigit Rijatmoko Slamet Wahyudi Sucianingsih, Ni Komang Diah Sukandar Sukandar Sulkhani Yulianto, Eko Supriatna Supriatna Supriatna Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Syarief, Salsabila Nazmie Putri Tri Djoko Lelono Tumulyadi, Agus Tyas, Herlin Widi Aning Umi Zakiyah Umi Zakiyah, Umi Utama, Andria Ansri Valessa Senshi Moira Vian Dedi Pratama Vivian Kudrati, Amelinda Wahida Kartika Sari Wahyudi Citrosiswoyo Wahyudi Citrosiswoyo Wardana, Fitri Candra Wardhani, Mentari Puspa Wiadnya , Dewa Gede Raka Widada , Wahyudi Widada, Wahyudi Wijaya, Sony Wildan Alfarizi Wirastika Adhihapsari Wirastika Adihapsari Yanuar, Adi Tiya Yanuhar, Uun Yeni Kartika Sari, Yeni Kartika Yorarizka, Putri Devi Yumna, Orryza Nayla Zainal Abidin Zulqi Fahreza Akbar