Articles
MEREDUKSI STIGMATISASI MISIOLOGI HANYA UNTUK PEMIMPIN GEREJA SEBAGAI MOTIVASI ORANG PERCAYA UNTUK MENGINJIL
Yonatan Alex Arifianto
Jurnal STT Gamaliel Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Gamaliel Vol. 3 No. 1 Maret 2021
Publisher : STT Gamaliel
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38052/gamaliel.v3i1.60
Abstrak: Kekristenan tidak lupu dari mandat AManat Agung Tuhan Yesus dalam emlakukan pekerjaan misi bagi seluruh dunia. Namun banyak kekristenan baik gereja maupun orang percaya enggan melakukan penginjilan karena bukan tugas dan tanggung jawabnya. Sehingga gereja terus mengalami kendala dalam melakukan misi bagi orang yeng belum mengenal Yesus sebagai juruselamat.Dengan melalui studi literatur dan pendekatan kualaitatif deskriptif tujuan penulisan ini menjadi pemahaman orang percaya untuk dapat melakukan misi. Yang dapat disimpulkan bahwa, mereduksi stigmatisasi perlu di ajarkan kepada orang percaya dengan memperkenalkan yang pertama, Misiologi dalam Mandat Amanat Agung Tuhan Yesus yang harus dikerjakan walaupun menghadapi tantangan namun motivasi penginjilan bagi orang percaya harus dikerjkan sebab hal itu adalah bagian dari orang percaya secara personal maupun korporat menjadi kawan sekerja Tuhan. Namun dalam mengaktualisasi misiologi harus mendapat pimpinan Roh Kudus yang menyertai proses misiologi itu sebagai rencana Tuhan bagi keselamatan manusia.Abstarct: Christianity does not escape from the mandate of the Great Commission of the Lord Jesus in carrying out missionary work for the whole world. However, many Christians, both churches and believers, are reluctant to do evangelism because it is not their duty and responsibility. So that the church continues to experience obstacles in carrying out missions for people who do not know Jesus as Savior.Through literature study and a descriptive qualitative approach, the purpose of this writing is to understand believers to be able to carry out missions. It can be concluded that reducing stigmatization needs to be taught to believers by introducing the first, Missiology in the Great Commission Mandate of the Lord Jesus which must be done even though it faces challenges, but evangelism motivation for believers must be done because it is part of the believer personally and the corporation becomes God's fellow workers. However, in actualizing missiology, the guidance of the Holy Spirit must be accompanied by the missiological process as God's plan for human salvation.
Mengembangkan Misi Gereja dalam Bingkai Moderasi Beragama
Carolina Etnasari Anjaya;
Yonatan Alex Arifianto
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v3i1.27
Religious moderation is a demand for all elements of society to carry it out, including churches and believers. The actualization of religious moderation that has been implemented by the church needs to fulfill the mission principle in accordance with the teachings of the Bible. This research aims to provide a new paradigm about religious moderation in the context of the church's mission and how the church practices it. The research method uses a qualitative descriptive model approach. Data collection was obtained through a study of the relevant literature. The research yields the result that religious moderation in the context of the church's mission is based on the main principle: peace. The church needs to carry out its mission within the framework of religious moderation by fulfilling the peacemaker principle. Its actualization can be applied in four ways. Act as a witness of God who dares to express his identity as a disciple of Christ amid a pluralistic society. Next, the church needs to rise to become a solution or a solution provider in social problems regardless of differences through collaboration. Therefore, the church formed various Christian communities to build a common culture in society. The community can synergize with other communities outside of Christianity. The latter conduct dialogue word between church denominations to create unity of heart in conveying the truth of God.AbstrakModerasi beragama menjadi tuntutan bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjalankannya, termasuk gereja dan umat percaya. Aktualisasi moderasi beragama yang selama ini diterapkan oleh gereja perlu memenuhi prinsip misi yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Riset ini bertujuan memberikan paradigma yang baru mengenai moderasi beragama yang dipandang dari konteks misi gereja dan bagaimana gereja mempraktikannya. Metode riset mempergunakan pendekatan kualitatif model deskriptif. Pengumpulan data didapatkan melalui studi literatur yang relevan. Riset memberikan hasil yaitu bahwa moderasi beragama dalam konteks misi gereja dilandasi oleh prinsip utama: kedamaian. Gereja perlu menjalankan misi dalam bingkai moderasi beragama dengan memenuhi prinsip pembawa damai. Aktualisasinya dapat diterapkan melalui empat hal. Bertindak sebagai saksi Tuhan yang berani mengekspresikan identitas sebagai murid Kristus di tengah-tengah kemajemukan masyarakat. Selanjutnya gereja perlu bangkit menjadi solusi atau pemberi solusi dalam permasalahan sosial tanpa memandang perbedaan melalui kolaborasi. Oleh karena itu, gereja membentuk pelbagai komunitas Kristen untuk membangun budaya bersama dalam masyarakat. Komunitas dapat bersinergi dengan komunitas lain di luar Kristen. Yang terakhir melakukan dialog antar denominasi gereja agar tercipta kesatuan hati dalam menyampaikan kebenaran firman Tuhan.
Tinjauan Roma 15: 5-6 untuk Meningkatkan Kerukunan Intern Orang Percaya Masa Kini
Asih Rachmani Endang Sumiwi;
Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v3i2.78
Harmony in Christianity is the teaching of Jesus that must be applied in loving others because the love taught by the Lord Jesus is a love that brings peace that can bring good to all people. Perspective review of Romans 15: 5-6 to increase the internal harmony of believers today. By using the Literature literature method, harmony that is built in the community and intern of religious communities can be seen and reviewed from the Bible in Romans 15: 5-6. Because as a basis and understanding and knowledge of harmony, believers unite the voice, heart and all religious components to be a blessing. The theme of perspective is Romans 15: 5-6 to enhance the internal harmony of believers today. It is a study that can be applied to believers how important it is to be light in harmony in the internal religion, so it is hoped that believers must understand and apply the Theological Review of Rome 15: 5-6, then believers have a role, that is, believers must bring harmony and finally believers making harmony among congregations a priority taught in Christian Education.Kerukunan dalam kristenan adalah ajaran Yesus yang wajib diterapkan dalam mengasihi sesama karena kasih yang diajarkan Tuhan Yesus adalah kasih yang membawa damai yang dapat membawa kebaikan bagi semua orang. Tinjauan Roma 15:5-6 untuk meningkatkan kerukunan intern orang percaya masa kini. Dengan menggunakan metode literature pustaka Kerukunan yang dibangun dalam komunitas maupun intern umat beragama dapat dilihat dan ditinjau dari Alkitab dalam Kitab Roma 15:5-6. Karena sebagai dasar dan pemahaman dan pengetahuan tentang kerukunan maka orang percaya menyatukan suara, hati dan seluruh komponen keagamaan untuk dapat menjadi berkat. Tema Tinjauan Roma 15: 5-6 untuk meningkatkan kerukunan intern orang percaya masa kini. Adalah kajian yang dapat diterapkan bagi orang percaya bagaimana pentingnya menjadi terang dalm kerukunan di intern agama mak diharapkan orang percaya harus memahami dan mengaplikatifkan Tinjaun Teologi Roma 15:5-6, lalu orang percaya memiliki Peran yaitu orang percaya harus membawa kerukunan dan yang terakhir orang percaya menjadikan kerukunan antar jemaat menjadi prioritas yang diajarkan dalam Pendidikan Kristen.
Strategi Guru PAK dalam Membangun Pancasila sebagai Paradigma Integrasi Bangsa terhadap Peserta Didik di Era Milenial
Reni Triposa;
Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.166
Abstract: Without realizing it, the millennial era with technological sophistication brings students to be influenced by wrong associations which will unconsciously bring about the disintegration of the nation. Therefore, teachers of Christian religious education can have strategies in bringing students to build their nationality through the paradigm of national integration based on Pancasila. through technological advances. and having used descriptive qualitative methods with a literature study approach, it can be concluded that the PAK teacher's strategy in building Pancasila as a paradigm of Nation integration towards students in the millennial era is to understand the degradation or moral decadence in the millennial era which continues to increase. For this reason, Christian Religious Education Teachers actualize the view of Pancasila as the basis for developing the integration of the Nation and also see that there is no theological debate on the value of Pancasila in the theological ethical perspective. From this, teachers have the basis to play a role in Guru Pak's strategy in the Actualization of National Integration in the millennial era, with the following steps: First, they are able to grow the faith of students who are increasingly mature. Second, it teaches to love each other and get rid of all bullying and improper behavior of students in respecting their nation's leaders. Third, provide an example in using social media and everything related to the internet of think. Abstrak: Tanpa disadari era milenial dengan kecanggihan teknologi membawa peserta didik terpengaruh dengan pergaulan yang salah yang secara tidak sadar akan membawa disintegrasi bangsa. Oleh karena itu guru pendidikan agama kristen dapat memiliki strategi dalam membawa peserta didik membangun kebangsaannya melalaui paradigma integrasi bangsa yang berlandaskan Pancasila. Melalui kemajuan teknologi dan memiliki menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dapat disimpulkan bahwa strategi guru PAK dalam membangun Pancasila sebagai paradigma integrasi bangsa terhadap peserta didik di era milenial adalah memahami degradasi atau dekadensi moral di era milenial yang terus meningkat. Untuk itu Guru Pendidikan Agama Kristen mengaktualisasikan pandangan Pancasila sebagai dasar pembangunan integrasi bangsa dan juga melihat tidak ada perdebatan teologis dalam nilai Pancasila dalam perspektif etis teologis. Dari hal tersebut guru memiliki dasar untuk berperan dalam strategi Guru Pak dalam aktualisasi integrasi bangsa di era milenial dengan langkah: Pertama, mampu menumbuhkan iman peserta didik yang semakin dewasa. Kedua, mengajarkan untuk saling mengasihi dan membuang segala perundungan, dan prilaku yang tidak benar peserta didik dalam menghormati pemimpin bangsanya. Ketiga, memberikan keteladan dalam mengunakan sosial media dan segala berhubungan dengan internet of things.
Aktualisasi Pancasila dalam PAK: Penguatan Bela Negara dan Jati diri Bangsa Menghadapi Superioritas dan Fundamentalisme atas Nama Agama
Tan Lie Lie;
Yonatan Alex Arifianto;
Reni Triposa
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v4i2.249
Persoalan deskriminasi dan intoleransi yang diakibatkan pemahaman agama di ruang publik tidak memprioritaskan kebersamaan. Bahkan faham fundamentalisme yang mencoba memengaruhi anak bangsa untuk keluar dari marwah hidup yang pluralisme, sebagai ancaman yang nyata bagi generasi kedepannya. Peran penting dalam mereduksi superioritas agama melalui aktulisasi pancasila menjadi tujuan dalam penelitian ini. Mengunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka dapat menjawab aktualisasi pancasila bagi kekristenan menjadikan umat Kristen sadar pentingnya menjaga jati diri bangsa dengan prioritas bela negara melawan perkembangan superioritas dan fundamentalisme mengatasnamakan agama. Kesimpulan dari hasil pembahasan artikel ini adalah aktualisasi Pancasila dalam PAK: sebagai penguatan terhadap bela Negara dan sebagai Jati diri Bangsa dalam menghadapi Superioritas dan Fundametalisme atas Nama Agama. Diperlukan pemahaman bahwa Pancasila merupakan dasar hukum yang harus diterapkan bagi kehidupan bermasyarakat. Untuk itu sebagai bagian dari makluk sosial dan beragama, Kekristenan dalam peran pendidikan agama Kristen turut membela bangsa dan negaranya dari berbagai ancaman termasuk sesama anak bangsa yang menginginkan perubahan ideologi negara. Kekristenan juga dapat memprioritaskan bela negara dan pentingnya jati diri Bangsa sebagai bagian dari kerinduan Yesus bagi umatNya untuk menjadi terang dan garam. Maka diperlukan sinergi Pancasila dan PAK sebagai upaya mereduksi superiotas dan fundamentalisme agama. Sehingga penelitian ini dapat memberikan wawasan dan sikap yang mengedepankan jati diri bangsa dan bela negara dalam bermasyarakat sebagai bagian mereduksi superioritas atas nama agama dan fundamentalisme.
Studi Deskriptif Teologis Pembangunan Bait Suci Orang Samaria di Gunung Gerizim
Yonatan Alex Arifianto;
Joseph Christ Santo
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 3, No 1 (2020): September 2020 (Studi Intertestamental)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v3i1.61
One of the elements of the contention that arose between the Samaritans and the Jews mentioned in John 4 was about the center of worship. The Samaritans recognized the Temple on Mount Gerizim as a center of worship, while the Jews recognized the Temple in Jerusalem. The existence of the Temple on Mount Gerizim is not widely recorded in the Bible. That is why research is needed to describe this Samaritan place of worship which causes conflict between the Samaritan and the Jew. The problem in this research is how the construction of the Temple on Mount Gerizim so that it becomes an element of contention between the Samaritans and the Jews. To answer these questions, the authors used the literature method with a descriptive qualitative approach. The results showed that the temple on Mount Gerizim was not the center of worship that God intended it to be. In New Testament times, what God wanted was for worshipers who were not focused on the temple on Mount Gerizim or in Jerusalem, but worshipers who worshiped God in spirit and in truth.Salah satu unsur pertikaian yang muncul di antara orang Samaria dan orang Yahudi yang disebutkan dalam Yohanes 4 adalah mengenai pusat ibadah. Orang Samaria mengakui Bait Suci di Gunung Gerizim sebagai pusat ibadah, sementara orang Yahudi mengakui Bait Suci di Yerusalem. Keberadaan Bait Suci di Gunung Gerizim tidak banyak dicatat oleh Alkitab. Itu sebabnya dibutuhkan penelitian untuk mendeskripsikan tempat ibadah orang Samaria ini sehingga menimbulkan konflik di antara orang Samaria dan orang Yahudi. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pembangunan Bait Suci di Gunung Gerizim sehingga menjadi salah satu unsur pertikaian antara orang Samaria dan orang Yahudi. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis menggunakan metode pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bait suci di Gunung Gerizim bukanlah pusat ibadah yang dikehendaki Tuhan. Pada masa Perjanjian Baru, yang dikehendaki Tuhan adalah penyembah yang tidak terfokus kepada bait suci di Gunung Gerizim ataupun di Yerusalem, melainkan penyembah yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.
Balaam and Motivation of Contemporary Church Leaders
Yonatan Alex Arifianto;
Daniel Supriyadi;
Kharisda Mueleni Waruwu;
Johanes Paryono
PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 18 No 1 (2022): PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46494/psc.v18i1.198
The life of a pagan prophet from Moab named Balaam is an exciting lesson about leadership to study. This prophet represents a materialistic lifestyle, disobedience to God, and disobedience of service in the name of God. His ministry was in a historical setting where Israel also experienced severe moral decadence as God's people. This article will reveal and analyze how Balaam's role as a reflection of contemporary leadership in the church is strongly influenced by the concepts of materialism, hedonic lifestyle, and highly pay-oriented leadership. Through a qualitative descriptive approach, this study uses some works of literature as the main study. Through Balaam's life, contemporary church leaders could learn about the importance of integrity and genuine ministry motivation. The exemplary aspect is an essential factor that leaders must own. We also found that leaders need to serve with a servant spirit, as Jesus had shown. Only in this way can a leader have an honorable and consistent life in the values of the truth of God's word.
Peran Kepemimpinan Misi Paulus dan Implikasinya bagi Pemimpin Misi Masa Kini
Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 4 No. 1 (2020): Jurnal Amreta Vol. 4 No. 1 (2020). Theme: Mission in the Spirit
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54345/jta.v4i1.41
Abstrak Gereja pada zaman ini mulai kehilangan esensi dan tujuan utamanya untuk memberitakan Injil. Salah satu faktor yang menyebabkan gereja kurang optimal dalam pemberitaan Injil adalah lemahnya kepemimpinan misi yang dimiliki. Kepemimpinan misi adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi dan menggerakan orang supaya terlibat aktif dalam misi Allah. Salah satu tokoh besar dalam kegerakan misi di dunia adalah Rasul Paulus. Oleh sebab itu, penilitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter kepemimpinan misi yang dilakukan oleh Paulus dan menghubungkan menjadi implikasi bagi pemimpin pada misi kini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah adanya 5 prinsip kepemimpinan misi Paulus yang dapat diimplikasikan bagi pemimpin masa kini, yaitu berdoa dan terlibat aktif dalam pengabaran Injil (Integritas). Lalu mendidik jemaat dan mencetak pemimpin lokal. Dan menentukan standar misionaris.serta mempersiapkan misionaris untuk diutus. Dan yang selanjutnya mendukung misionaris melalui doa, motivasi, dan pencarian solusi atas setiap persoalan. Lalu yang terakhir di atas semua strategi yang Paulus lakukan, Paulus selalu bergantung kepada Allah. Abstract The church today begins to lose its essence and main purpose to preach the gospel. One of the factors that causes the church to be less than optimal in preaching the gospel is the weakness of its mission leadership. Mission leadership is a person's ability to influence and move people to be actively involved in God's mission. One of the great figures in the missionary movement in the world was the Apostle Paul. Therefore, this study aims to determine the character of mission leadership carried out by Paul and link it to the implications for leaders on current missions. The research method used is a qualitative method with a literature study approach. The result of this research is that there are 5 principles of Paul's mission leadership that can be implicated for today's leaders, namely praying and being actively involved in preaching the gospel (Integrity). Then educate the congregation and produce local leaders. And setting missionary standards and preparing missionaries to be sent. And that further supports missionaries through prayer, motivation, and finding solutions to every problem. Then the last, above all the strategies that Paul did, Paul always depended on God
Memahami Efesus 5:1-21 dalam Upaya Hidup Berpadanan dengan Panggilan Orang Percaya di tengah "Serigala"
Kristien Oktavia;
Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 4 No. 2 (2021): Pentecostalism, Worship & Ecclesiology
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54345/jta.v4i2.56
Kesadaran akan identitas sebagai orang Kristen harus dipertahankan sebab setiap orang percaya mendapat tantangan untuk mengabdi dan hidup dalam ketaatan kepada Allah. Pola hidup orang percaya juga berkaitan dengan posisi. Sebagaimana banyak orang percaya lupa akan identitas dirinya sebagai pembawa terang dan anak-anak Allah. Melalui kualitatif deskriptif dapat menemukan kajian biblikal tentang pola hidup yang berpadan dengan posisi orang percaya sebagai tujuan dari penulisan ini yang mana dapat disimpulkan sebagai berikut: Posisi sebagai anak kekasih yang diaplikasikan berjalan dalam kecintaan kepada ilahi atau berjalan dalam pengabdian kepada Allah secara terus-menerus. Kedua posisi sebagai orang kudus berarti tidak bisa disesatkan karena tidak bergaul atau berkawan untuk mengabdosi pangajaran sesat. Selanjutnya posisi sebagai anak terang dimana orang percaya berjalan dalam kehendak Tuhan sehinga orang percaya semakin mencintai Tuhan dan berdampak bagi sesama. Lalu posisi sebagai orang arif memiliki makna harus memperhatikan karakter hidup yang berjalan dengan kebenaran Tuhan. Posisi tersebut harusnya melekat kepada Orang percaya sebagai pertanggungjawaban hidup yang berpadan dengan posisi. Abstract: The awareness of identity as a Christian must be maintained because every believer is challenged to serve and live in obedience to God. The lifestyle of the believer also has to do with position. As many believers forget their identity as a light bearer and children of God. Through descriptive qualitative one can find a biblical study of life patterns that are compatible with the position of believers as the purpose of this writing which can be concluded as follows: The position as a lover's child that is applied runs in love to the divine or walks in continuous devotion to Allah. The second position as a saint means that he cannot be misled by not associating or making friends to abstain from heretical teachings. Furthermore, the position of being a child of light is where believers walk in God's will so that believers love God more and have an impact on others. Then the position as a wise person has the meaning of having to pay attention to the character of life that runs with God's truth. This position should be attached to the Believer as a life accountability that matches the position
Seni memuridkan yang bermakna dan berbuah berdasarkan 2 Timotius 2:1-2
Tri Astuti Yeniretnowati;
Yonatan Alex Arifianto;
Yakub Hendrawan Perangin Angin
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 5 No. 1 (2021): How the Holy Spirit help churches to respond today issues
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54345/jta.v5i1.64
Abstrak Pemuridan adalah harga mati dari seorang murid Yesus. Murid Yesus yang sejati harus menghasilkan murid lainnya bagi Yesus. Pola pemuridan yang benar dan efektif yang diteladankan Yesus, dan dicontoh Rasul Paulus dalam pelayanan dan kehidupannya yang dalam 2 Timotius 1:2 dipercayakan dan diwariskan kepada Timotius untuk diteruskan kepada generasi murid-murid Yesus terus sampai kesudahan akhir zaman sungguh terbukti ampuh. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka melalui buku-buku dan artikel-artikel yang berkualitas dalam membahas pemuridan Kristen. Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa implikasi kehidupan yang bermakna dari seorang murid Kristus yang memuridkan lagi yang harus nyata diperagakan dalam kehidupan kekristenannya sebagai pribadi dan gereja sebagai kehidupan komunitas murid-murid Yesus, yaitu: Pertama, Tetap tinggal di dalam Kristus. Kedua, Hidup dengan tujuan menghasilkan buah. Ketiga, Memiliki hasrat untuk regenerasi dan pelipatgandaan murid. Keempat, Meneladani Yesus yang memuridkan murid. Kelima, Gereja dan pemimpin rohani yang memuridkan. Keenam, Menjadikan pemuridan sebagai gaya hidup. Abstract Discipleship is the fixed price of a disciple of Jesus. A true disciple of Jesus must produce other disciples for Jesus. The pattern of true and effective discipleship that Jesus imitated, and was imitated by the Apostle Paul in his ministry and life which in 2 Timothy 1:2 was entrusted and passed on to Timothy to be passed on to generations of Jesus' disciples until the end of the age had really proven effective. The method in this study uses a qualitative method with a literature study approach through quality books and articles in discussing Christian discipleship. The results of this study conclude that the implications of a meaningful life of a disciple of Christ who make disciples again that must be manifested in his Christian life as a person and the church as a community life of Jesus' disciples, namely: First, Remain in Christ. Second, live with the aim of producing fruit. Third, have a desire to regenerate and multiply disciples. Fourth, Imitate Jesus who made disciples. Fifth, the Church and spiritual leaders who make disciples. Sixth, Make discipleship a lifestyle.